Sakura tak habis pikir. Seberapa banyak sebenarnya harta karun keluarga Uchiha itu? Bukankah beberapa waktu lalu mobil mewah Sasuke masuk bengkel karena beradu cipok dengan mobil Ayahnya? Lalu lalu,

"Err—Uchiha-sama, maaf sebelumnya. Aku—"

"Sasuke."

Keningnya mengkerut, catat satu fakta bahwa Haru—oh lupa—Uchiha Sakura sangat benci orang yang memotong ucapannya. Karena baginya itu tidak sopan, catat! Ayo catat! Dasar sinting!

"Panggil aku Sasuke-kun mulai dari sekarang, dan jika perlu panggil 'Suamiku' dengan nada manis."

Cuih,

Amit-amit cabang olahraga. Lebih baik Sakura memanggil tukang martabak langganannya dengan sebutan 'abang ganteng' dari pada memanggil pria disebelahnya dengan sebutan 'suamiku' tidak tidak! Sakura akan muntah darah nanti. Pokoknya najis.

"Sasuke." Sakura memijat pelan pelipisnya yang nyut-nyutan, "bukannya mobilmu sedang di bengkel? Lalu mobil siapa ini?" ia tahu betul mobil yang sekarang mereka tumpangi bukan mobil yang kemarin ditabrak mesra Ayahnya, jika mobil kemarin adalah Koenigsegg CCXR Trevita. Sakura sebenarnya tidak tahu merk mobil ini tapi kalau tidak salah—

"Buggatti Veyron." seolah membaca pikiran lewat telepati, Sasuke menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari arah jalan. "harganya tiga koma empat juta dollar Amerika, kenapa? Mau kau hancurkan juga?"

"Sombong!" Sakura melipat kedua tangannya didepan dada, "kau merampok bank ya bos?" Sasuke mendelik so sinis, Sakura masa bodoh. "mudah sekali berganti mobil antik. Jika kau masih punya banyak mobil kenapa kau minta ganti rugi hanya karena satu mobil yang bahkan kerusakannya hanya secuil?!" ia mulai naik darah, dan sekali lagi. Sakura masa bodoh.

"Secuil jidatmu hah! Aku membeli mobil bukan dengan daun! Tapi dengan uang, aku menabungnya dan Koenigsegg itu adalah kesayanganku! Lalu ayahmu dengan santainya mencium bokong mobilku yang bahkan tidak salah apa-apa! Kalau aku meminta ganti rugi dengan uang lagi, maka kupastikan Haruno menjadi gembel jalanan. Berterimakasihlah." Sasuke ikutan sewot.

Cukup, Sakura murka!

BRAK! BRAK! BRAK!

"O-o-oi! Hei berhenti! Kau membuat dashboardnya rusak!"

Sakura berhenti memukuli dashboard didepannya dengan kekuatan Sumo andalan keluarga Haruno. "Kau ternyata sangat menyebalkan Sasuke..."

"Ganti."

What—

"APA?!"

—the...

"Lihat! Bagian itu bonyok, karena aku tahu kau tidak bisa membayar deng—"

Pelit, brengsek, anak ayam sialan. "Hanya bonyok sedikit! Oh my god! Kau bahkan mencuri ciuman pertamaku dengan penuh nafsu saat dialtar!"

"...sekedar informasi itu juga ciuman pertamaku." Sasuke menyeringai seksi, oh jantung Sakura nyut-nyutan. "maka sebagai gantinya saat kita sampai nanti di rumah baru. Kau harus rela aku apa-apakan."

"Maksudmu?!"

"Untuk malam pertama ini, BDSM, Sex toys, dan semacamnya akan aku lakukan..."

EH?!

Sakura shock.

Tidak. Tidak. TIDAK! TIDAAAKKKKK!

"...dan asal kau tahu, aku ini tipe sadistic. Jadi, ratapilah nasibmu sekarang." ucap Sasuke diakhiri tawa jahat khas pemeran antagonis dalam film 90-an.

Wajah cantiknya memucat, Sakura menggedor-gedor pintu mobil disampingnya frustasi.

"AYAAHH! IBUU! ANAKMU BENAR-BENAR AKAN MATI!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Married? No!

Chapter 2—[Be a wife?]

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Nah, ini rumah baru kalian!"

Sakura membatin dalam hati, ini rumah atau tempat kost-an? Buset besar banget. Serius, dirumah ini ada lebih dari dua kamar, satu dapur extra besar, berlantai dua, juga ruangan tambahan lainnya yang baru saja ia lihat semacam ruang kerja, perpustakaan, kolam renang, juga halaman belakang.

Ini lumayan untuk Sakura jadikan tempat rekreasi umum, pundi-pundi uang menunggu—bruh.

"Sakura?"

"Eh—y-ya?" terlalu banyak berkhayal, Sakura tak sadar ia jadi sorotan keluarga—uhuk—barunya. Uchiha tentu saja, jika kalian bertanya kemana Ayah dan Ibunya? Kenapa tidak mengantar Sakura menuju kehidupan barunya? Sederhana—

'Bagaimana ayah dan ibu bisa ikut? Keadaan mobil sekarang lagi kritis, itu karena kamu pukul sana-sini tanpa ampun dengan sadis. Mana duit lagi tipis, derita punya anak sumo kurang ajar ya begini. Miris.'

—intinya, mobil keluarga Haruno sedang dalam masa kritis, untung tidak masuk rumah sakit dan dirawat intensif. Hanya butuh perawatan kecantikkan dibengkel dalam waktu yang lama. Itu karena ulah Sakura.

Dasa anak durhaka.

"Ahem." Itachi, selaku CEO a.k.a orang dengan jabatan tertinggi di perusahaan Uchiha berdeham kalem. Sejujurnya, kalau Sakura boleh memilih ia lebih baik menikah dengan Itachi—walau itu keriput dipipi sudah bagai tatto permanen, susah ilang—Sakura rela, demi Tuhan. Dibandingkan dengan Sasuke—

"Apa liat-liat?"

—percaya diri nyari mati. Sakura ngelus dada. "Tidak ada."

"Kami hanya bisa mengantar kalian sampai sini." suara lembut Mikoto—ibu mertuanya membuat Sakura rindu sang Ibu, ia baru sadar walaupun ibunya tukang bogem, tidak ada yang bisa menggantikan Mebuki dihatinya. Sakura jadi galau.

Fugaku menepuk bahu Sasuke pelan, "Lakukan dengan perlahan nak."

"Ya, jangan buat dia takut Sasuke."

"Hn."

"Ingat, mama ingin tujuh yang lucu."

"Nganu perlahan tapi pasti saja Sas, kalian masih pemula."

Tunggu,

Kok ambigu ya. Apa maksud Mikoto dengan tujuh yang lucu? Dan bahasa mana itu 'nganu' yang Itachi pakai? Apa keluarga ini punya kata sandi sendiri disetiap kata?

"Err, maaf." Sakura menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba nyeri, "nganu itu... Apa ya?"

Itachi menoleh, lalu tertawa. "Nganu itu bahasa yang hanya dipakai Uchiha, artinya melakukan itu."

JDER!

Demi b*h Ino yang dua bulan tidak dicuci.

"Ha—"

Kenapa Sakura harus berurusan dengan sekumpulan makhluk absurd yang bernama Uchiha?

"Hahaha."

"Loh Sakura-chan kenapa tertawa?"

"T-tidak Bi—"

"Ibu."

"—Ibu, Aku hanya senang."

"Begitu." Fugaku ikut menjawab.

Lalu semuanya ikut tertawa—minus Sasuke.

Kenapa mereka tertawa? Itu hanya Uchiha yang tahu.

.

.

.

.

.

Wanita Uchiha baru itu masih diam ditempatnya berdiri, lebih tepatnya ditengah ruang tamu rumah barunya. Baru, ya iyalah segala baru. Ia—Sakura—sekarang resmi jadi istri, ia sudah ada yang punya, ia menjadi pendamping hidup seseorang. Tapi sayang seribu sayang, pria yang menjadi suaminya adalah orang yang paling menyebalkan dan paling Sakura hindari dan yang paling paling disayangkan adalah kenapa suaminya begitu—begitu...

"Pakai kembali bajumu Sasuke."

Oh bahkan suaranya ikut gugup.

Tenang Sakura, tenang cantik, oke suamimu—dia hanya telanjang dada. Bukan berarti bugil sepenuhnya. Tapi—tapi... aduh baloknya, kue cubitnya, urat tangannya. Mantap jiwa. Inner Sakura mulai tumbang, iman yang kurang kuat pemirsa.

"Kenapa? Aku lelah, jalanan tadi macet, pegal, tubuhku mati rasa sepertinya. Andai saja ada yang berbaik hati memijat punggungku."

Kode.

Sakura memutar kedua bola matanya bosan, "Tidak sudi."

Sasuke menggadah, ia melempar baju yang semula ia pegang pada meja ruang tamu, sedangkan dirinya sendiri berdiri kemudian berjalan mendekat kearah Sakura.

Alarm pertanda bahaya mati berdering keras dalam diri Sakura. Ia menciut, oh oke oke baiklah Sakura tadi bercanda sebenarnya ia mau saja memijat Sasuke kalau saja pria itu tidak berbahaya. Dan Sakura baru tahu bahwa mantan bosnya ternyata sangat—

"Istriku yang cantik melawan ya? Mau ku perkosa hn? Ah iya aku lupa, kita malam ini harus melakukan malam pertama 'kan?"

—buas.

"H-ha-hahah—" Sakura mulai mundur, bagaimanapun ia harus kabur. Emeraldnya bergerak liar mencari tempan aman. Ketemu! Oke Haru—Uchiha cepat lari, atau keperawananmu benar-benar akan lenyap. "KYAAAAAAAAA!"

Sasuke gelagapan, "O-oi—OI JIDAT JANGAN LARI!"

"TIDAKK!" Sakura menoleh kebelakang, emeraldnya membulat. "SUAMI GILAA! JANGAN MENGEJARKU! PERGI SANAAAA!"

"ISTRI DURHAKA KEMARI KAU!"

Oh my,

Oh my,

Oh my,

'INI GARA GARA AYAH! INI GARA GARA AYAH! SEHARUSNYA... SEHARUSNYA DIA SAJA YANG MENIKAH! DASAR AYAH TIDAK SAYANG ANAAAKKK!' Inner Sakura menangis meraung-raung.

.

.

.

.

.

Disisi lain...

"Hacchhiiii—!"

Mebuki menaruh kopi hitam pesanan sang suami diatas meja, "Ada apa? Apa kau sakit?"

"Hm em." Kizashi mengusap-usap lubang hidungnya yang sedikit berair—baca: berlendir—lalu beralih pada lengan atasnya. "tidak, hanya saja aku merasa ada hawa hawa setan sedang mengelilingiku."

Mebuki mengangkat kedua bahunya masa bodoh, "Oh iya, ini malam pertama Sakura dengan hmmm siapa nama anak muda tampan itu?"

"Sasuke."

"Nah iya Sasuke." Ibu rumah tangga yang menjuluki dirinya sendiri dengan sebutan si awet muda—dengan kata lain still younger—itu tersenyum misterius. "apa kau sudah menaruh semua kebutuhan malamnya kedalam koper anata?"

Jari jempol Kizashi teracung keatas, dengan semangat ia berucap sedikit berteriak. "Tentu saja hahaha! Dan malam ini kita bebas berpesta tanpa ada penceramah! Cepat undang para tetangga untuk berpesta darling!"

"Ayayay captain!"

Lalu kedua Haruno tak sadar umur itu tertawa puas—diatas penderitaan putri sulung mereka.

Poor Sakura.

.

.

.

.

.

Lalu disisi Sakura...

BRUK BRUK BRUK!

"HEI SAKURA CEPAT KELUAR!"

"TIDAK MAU!"

"KELUAR KALAU TIDAK KU DOBRAK PINTU INI!"

"C-C-C-COBA SAJA KALAU BISA! KAU KAN LEMAH!"

..

..

Hening.

..

..

Sakura menempelkan daun telinganya pada pintu kamar mandi, memastikan tidak ada setan ganteng yang nangkring diluar sana. "M-mungkin dia sudah pergi?" tidak mau menyesal belakangan, ia mengetuk pelan pintu tersebut dari dalam. "Sasuke?"

..

"Bos?"

..

"Ayam?"

..

"Bagus! Kurasa dia sudah pergi."

Mengendap bagaikan maling, perlahan Sakura membuka pintu tersebut dan menemukan ruang kamar—uhuk—mereka yang kosong. Fiuh, kemana Sasuke? Apakah dia kebelet pup sampai akhirnya minggat ketoilet yang ada dilantai satu? Itu bisa jadi, mengingat rumah baru mereka disini mempunyai dua lantai.

"Oke... Tinggal mengunci kamar ini dari dalam, maka hantu dengan pantat ayam itu tidak akan bisa masuk hahahaha!"

Sakura menepuk kedua tangannya bangga setelah melihat pintu kamar tersebut terkunci, menjaga bahaya masuk... atau—

"Wah, kau mengunci kita dari dalam? Nakal sekali."

—mengundang bahaya agar tetap didalam.

Detik berikutnya, yang Sakura rasakan adalah tubuhnya yang melayang, ia digendong oleh Sasuke dengan ala karung beras, dan...

"KYAAAAA LEPASKAN AKU!"

...dibawa kearah ranjang yang diatasnya sudah dihiasi bunga-bunga, menambah kesan ahn untuk mereka berdua nganu—seperti kata Itachi.

TIDAK TIDAK TIDAK! SAKURA BELUM SIAP! DEMI—

BRUK!

"Aww! Punggungku—hei lembut sedikit kau ini! Dasar gil—ummh!"

'GAWAT ENAM SEMBILAN! LAPORAN DISINI TERJADI PEMERKOSAAN SUAMI TERHADAP ISTRI! TOLONG SEGERA DIKONDISIKAN! SATPAM! TNI! POLISI SIAPAPUN! TOLOONNGG!' Inner Sakura mulai menggila. Sekali lagi, Sakura yang asli susah bernafas karena bibirnya disumpal oleh sesuatu yang manis, kenyal, basah bagai agar agar jeli yang sering Sakura jadikan cemilan. Tapi ini bukan cemilan! KAMI-SAMA! INI BIBIR SUAMINYA!

Tapi—tapi kok enak sih?

TIDAAAKKK SAKURA SADARLAH!

"Engh—ah! Lepaskan..." Kedua halis Sakura mengkerut dalam ketika bibir bawahnya digigit keras lalu sesuatu yang lebih memasuki rongga mulutnya. Setan ganteng diatasnya benar-benar liar, ini gila gila gila! "to—tolong! Henti—ahhn!"

"Ck, berhentilah melawan. Dasar tsundere, aku tau kau juga menginginkan ini Sakura."

Emeraldnya melotot galak, "MAU MAU JIDATMU HAH?! DEMI TUHAN AKU MASIH MAU PERAWAN!"

"Perawan jidatmu hah?! Aku suamimu sekarang! Menurut dan jangan jadi istri durhaka! Paham?!"

"TIDAK MAU!"

"HARUS MAU!"

"TIDAK!"

"Grrr—"

Lakukan sesuatu, ayolah Sakura kau ini pintar! Pikirkan sesuatu untuk membuat singa buas diatasmu mau menyingkir dan melepaskanmu dari kungkungannya. Oke, tapi apa? APA? APA?!

"Uh uh—oke oke! Maafkan aku, a-aku berjanji akan menjadi istri yang berbakti! T-ta-ta-ta-tapi jangan sekarang! Kumohon biarkan aku menjadi gadis sampai beberapa waktu kedepan, tolong... Huweee!"

Sekali lagi, Sasuke gelagapan. Sakura dibawahnya mulai menangis bombay. Sedikit tidak tega, akhirnya Sasuke menghela nafas cukup panjang, "Baiklah..."

Tangisan—palsu—Sakura berhenti.

"...tapi jika terlalu lama, jangan salahkan aku jika nanti aku memaksamu, deal? Bagaimanapun juga aku laki-laki, punya nafsu birahi, kadang-kadang lepas kendali. Dan jangan pasang tampang minta diserang seperti tadi!"

"Ap-a-apa?!" Kedua tangan Sakura memukul dada bidang diatasnya main-main, "kapan aku pasang tampang minta diserang hah?! Aku takut tahu!"

"Takut padaku?"

"Iya!"

"Kenapa?" Sasuke mulai merasa tidak enak.

"Karena tadi kau bagaikan om om mesum yang ingin memperkosa anak gadis yang tidak berdosa! Sadarlah wahai Uchiha! Kalian memang kandang setan!"

DZIG!

Rasa tidak enak itu hilang seketika.

"Kau juga Uchiha bodoh!"

Pipinya memerah. "Y-y-ya—ya aku tahu! Tapi aku kan member Uchiha baru! Kau member lama!"

"Member member kau pikir kami sebuah organisasi hah?"

"Terserahlah! Sekarang—" Sakura menggigit bibir bawahnya sendiri gugup. Tangannya, menyentuh permukaan kulit halus dada bidang Sasuke. Oh dirinya bahkan lupa bahwa Sasuke masih setengah bugil diatasnya. "p-pakai bajumu dan menyingkir dari atasku!"

"Kenapa? Aku suka seperti ini."

"Ini t-terlalu dekat..."

"Sudah kubilang jangan pasang tampang minta diserang!"

"Aku tidak pasang minta diserang! Dasar nafsuan!"

"Nafsu itu manusiawi, sayang."

BLUSH BLUSH BLUSH!

Tenang Sakura, oke cantik. Abaikan tadi Sasuke memanggilmu apa, abaikan juga tadi gerakan Sasuke menjilat bibirnya sendiri. Jangan sampai imanmu goyah! FIGHT SAKURA! "Oke baiklah terserah! Tapi apa kau tidak pegal terus menahan kedua tanganmu seperti ini?"

"Pegal sih."

"Yasudah! Cepat berdiri!"

"Ck, cerewet!" Sasuke mendecak kesal namun akhirnya tetap menurut juga, bersabar sedikit Uchiha, diwaktu yang akan datang nanti kau akan bisa menjinakkan kucing cantik galak didepanmu sekarang. Yah, bersabar. Sasuke berdeham sejenak, "Baik kita lupakan soal yang tadi. Sekarang, aku akan membuat beberapa peraturan dirumah ini."

"WHAT?!"

"Jangan membantah, ikuti peraturanku jika kau tidak ingin tidur didepan pertokoan dengan beralaskan koran atau kardus."

"Kau ingin aku jadi gembel jalanan hah?!"

"Aku tidak bilang seperti itu."

"TAPI MAKSUDMU JELAS JELAS KESANA!"

"Jangan teriak atau kau kucium?"

Sakura bungkam.

Sasuke menyeringai, satu senjata jitu untuk membuat istri cerewetnya diam. Boleh juga. "Peraturan pertama, kau harus kembali bekerja diperusahaanku—sebagai sekretaris pribadiku—tanpa bantahan."

"AP—"

"Kedua, karena kau tidak mau melakukan anu denganku sampai entah kapan itu. Maka sebagai gantinya kau harus memberiku enam kali ciuman perhari, french kiss tanpa perlawanan."

"W-W-WHA—"

"Ketiga, meskipun mungkin kau tidak menyukaiku—karena pernikahan ini berawal dari pembayaran hutang, tapi aku serius menyukaimu. Jadi jangan berani dekati lelaki lain selain aku."

Krik

..

Krik

..

Krik

..

Kau masih hidup 'kan. Sakura?

..

..

.

"HAAAHHHH?!" Kedua tangannya berkibas-kibas kesana kemari, Sakura jadi doki-doki. Apa-apaan maksud Sasuke tadi?! KATAKAANN! "a-a-apa, APA MAKSUDMU?!"

"Aku menyukaimu, sejak pertama kali kau melamar kerja ditempatku. Bodoh tidak pekaan sekali sih!"

Pipi Sasuke juga memerah, walau tidak semerah wajah Sakura.

Tarik nafas, hembuskan, tenang Sakura. Hari ini terlalu banyak kejutan, jangan terbuai oleh akting Sasuke! Jangan terbuai! "J-jika kau hanya berpura-pura kumohon jangan sampai berlebihan seperti ini bos! Ini—"

"Berapa lama kau mengenalku? Pernah kau melihat aku berbohong atau menipu seseorang?"

Sakura diam—lagi. Sial, dia jadi makin doki-doki. Apalagi ekspresi Sasuke yang... Aduh mz, mukanya biasa aja bisa ga? Seksi banget si—EH?! "T-TIDAK! PO-POKOKNYA AKU TIDAK PERCAYA!"

"Terserah." Sasuke mendengus melihat kedua pipi Sakura—yang masih memerah—mengembung lucu, ah dia menang jackpot sepertinya menikahi titisan dewi yang Tsundere ini. "dan yang terakhir, kau harus melakukan semua pekerjaan layaknya istri. Membersihkan rumah, mengurusi kebutuhanku, dan lain lain."

Ia memalingkan wajahnya kearah samping, "Kalau itu aku juga tahu."

"Pintar." Sasuke memajukan wajahnya, dan berbisik tepat ditelinga kiri Sakura. "akan kubuat kau bahagia sebisaku, Sakura..."

DEG!

"Eh?"

"Sudah ya, aku mau mandi." Pria—uhuk—tampan itu berdiri dan berjalan kearah kamar mandi yang semula Sakura jadikan benteng persembunyian, meninggalkan Sakura yang membatu diatas ranjang dengan wajah yang tak berhenti memerah.

Ia menutup bibirnya sendiri dengan kedua telapak tangan, lalu menjerit tertahan. 'APA APAAN ITU?! APA MAKSUDNYA?! KENAPA SASUKE BEGITU—BEGITU—AARRGGHHH SADARLAH SAKURAA! JANGAN PINGSAN SEKARANG!'

.

.

.

.

.

Didalam kamar mandi, Sasuke sedikit membuka pintunya untuk mengintip kearah Sakura yang kini membenamkan wajahnya pada bantal dengan kedua tangan yang tak henti memukul ranjang mereka.

Sial, tadi itu dia kelepasan bilang. Tapi yasudahlah,

Satu senyuman manis terukir dibibirnya.

Semoga kedepannya berjalan baik, ya Sasuke.

.

.

.

.

.

Cit cit cit.

"Sakura."

Hm? Siapa yang memanggil?

"Hei sampai kapan kau mau tidur?"

Ibu? Sejak kapan suaranya jadi gentleman begini?

"Masih tidak mau bangun.."

Ah, apakah—

"Emh."

Apa yang menempel dibibirnya?

EH!

Emeraldnya terbuka lebar. Didepannya, dua buah kelopak mata terpejam yang Sakura sangat tahu milik siapa.

"K-K-K—KYAAAAAAAAAAA!"

PLAK! PLAK! PLAK!

"Aduh!"

.

.

.

.

.

"Pipiku masih sakit..."

Sakura mendelik tajam, sebuah senyuman setan terpatri dibibirnya, "Salah sendiri main cium cium. Berdoa saja semoga tulang pipimu tidak patah karena tamparanku, bos."

Kini Sasuke yang mendelik, "Monster."

"APA?!"

"Tidak ada."

Ia menghela nafas, tatapannya berubah melunak melihat Sasuke terus menggerutu seraya mengelus-elus pipinya yang memerah sejak tadi pagi. Sakura mendekat dengan dua piring sarapan pagi mereka, perlahan ia mengangkat sebelah tangannya menuju pipi kiri Sasuke. "Maaf ya."

Tubuh Sasuke menegang bagai terkena sengatan cinta—maksudku listrik, ia menoleh kearah samping dan mendapati Sakura yang menatapnya penuh penyesalan. Sekarang Sasuke yang jadi doki-doki.

"Habisnya, kalau mau cium itu bilang. Aku 'kan kaget, kukira kau ibuku, aku lupa sekarang sudah jadi istri orang."

Sasuke tersenyum geli saat Sakura memajukan bibirnya dengan pipi yang merona. Pemandangan indah pagi hari, lumayan cuci mata liat yang manis manis—cuy. "Hm, ya ya. Aku mengerti, lain kali bilang ya? Baiklah, sekarang aku ingin ciuman lagi. Boleh?"

"EH?! T-T-TIDAK!"

"Kenapa? Aku sudah baik meminta izinmu."

"K-k-karena se-sekarang kita harus kekantor! Kau ini sekarang menjadi atasanku lagi!"

"Tapi dirumah aku ini suamimu."

"T-terserah! Habiskan sarapanmu dan jangan meminta yang macam-macam!"

"Baiklah."

Sakura menghela nafas lega, tidak sulit juga menjinakkan setan ganteng disebelahnya. HAHAHAH—

Chu~!

"Tapi kecupan dipipi tidak dilarang 'kan?"

—Sakura menoleh kilat dengan memegangi sebelah pipinya yang terkena tembakan mendadak barusan, disampingnya Sasuke menyeringai seksi dengan kedipan sebelah mata nakal.

PLETAK!

"TIDAK BOLEH!"

Masih saja Tsundere.

"Sakitt!" Sasuke mendelik sinis, mengabaikan kepalanya yang nyut-nyutan. Sasuke menarik pergelangan tangan Sakura agar mendekat, menahan tengkuk sang gadis agar tidak menjauh.

"M-mau apa?!"

Ia menyeringai—lagi. Oh Kami-sama! Kenapa ada manusia dengan bentuk yang sangat menggoyahkan iman seperti Sasuke?!

"Mau ini."

"E-ee—ummh! Tu—nghh!"

'Lihat saja nanti, apa yang akan aku lakukan padamu saat kita tiba dikantor Sakura.' Inner Sasuke ikut-ikutan menyuarakan bisikkan iblisnya.

Sekarang, nikmati dulu jatah french kiss pertama sebagai sarapan pagi fufu.

.

.

.

.

.

.

.

To be continued...

.

.

.

.

.

.

.

A/N:

Oke, pertama aku mau ngucapin makasih banyak buat kalian yang mau baca fic ini. MIAPAH GANYANGKA FIC RETJEH INI SAMPE DAPET 100FAV :"""" KU—KUTERHARU ASHDKSLALHS /jangan mulai oi/ alesan enapa fic ini lumayan lama diupdatenya cause;

Pertama, karena aku ga nyangka respon readers baik semua :"))) sampe author sekece chocoaddicted, dan author kece lainnya baca juga heueheu :"))

Kedua, karena diawal buat chapter satunya aku ketik tanpa pikiran kedepannya mau kaya gimana, (niatnya mau oneshoot lol)

Ketiga, AKU GAMAU BUAT KALIAN KECEWA KARENA TERNYATA LANJUTANNYA MENGECEWAKAN HUWEE :""""

Semoga ini ga garing dan melenceng dari ekspetasi kalian ya kwkw, sumpah kebayakan dari review bilang kocak, ngakak, lucu dll padahal niat awalnya gabikin humor x'D karena aku gapandai bikin humor (walau rlnya rada geser) SUMPAH BIKIN HUMOR LEBIH SUSAH KETIMBANG ANGST ASDGJAL BUT, MAKASIH BANGET HUAHAHAHAHA /SLAPPED! Semoga juga chapter depannya ga lama hehe xD maaf gabisa bales review satu satu, tapi aku baca semua sampe beberapa kali balikan LOLL

Review kalian adalah penyemangat buatku :") (ex: flame) sampai ketemu dific selanjutnya! Dan selamat malam minggu HAHAHAHA MOGA HUJAN GEDE YA GENGS! /ggg

Salam ketjup,

Mil