Omengski Proudly Present

DISTANCE

Disclaimer : Semua tokoh dalam cerita ini mutlak milik Masashi Kishimoto. Hanya plotnya saja yang mutlak dari pemikiran saya

Genre : Drama bisa, romance bisa, friendship bisa, family pun bisa

Warn : AU, Typos, aneh, abal-abal, dan kekurangan yang lainnya

Tinggal pencet 'X' kalau tidak suka

Happy reading miina-san^^

.

.

.

.

Chapter 2

"Selamat pagi Sasuke-san.." sapa Yuuhi Kurenai ramah saat matanya menangkap sosok Sasuke yang tengah berjalan di pelataran Konoha Gakuen. Pria itu hanya mengangguk sekilas sebagai balasannya. Kurenai tersenyum maklum.

Kedua guru berbeda perangai itu berjalan bersisihan menuju ruang guru di lantai dua. Sasuke baru saja menapaki dua tangga menuju gedung utama, saat sekelebat warna merah muda bergerak menjauh dari sudut matanya. Menyusul warna merah dan pirang pucat.

'Haruno?'

"Sasuke-san? Anda tidak mendengarku?" suara Kurenai menyela diantara pikiran Sasuke. Pria itu menaikkan sebelah alisnya. "Besok ada rapat dengan komite sekolah dan wali murid tentang libur musim dingin nanti. Anda sudah mendengarnya?"

"Hn, aku sudah mendengarnya."

Sasuke masih terdiam di depan gedung utama. Mengabaikkan Kurenai yang mengajaknya untuk masuk bersama. Matanya hanya fokus pada jejak merah muda yang hilang di balik tembok.

.

.

.

.

Lagi. Sakura merasakannya lagi. Kebas menelingkupi tubuhnya yang meringkuk. Bibirnya bergetar menahan gejolak tekanan dari ketiga gadis yang cekikikan di hadapannya. Ia sudah bosan menangis. Hal bodoh yang hanya akan mengundang tatapan remeh dan puas bagi Karin, Tayuya, dan Shion. Melihat Sakura saat ini seperti melihat anak rusa penyakitan saat terkepung oleh kawanan singa betina yang kelaparan.

"Apa kau sengaja berangkat pagi-pagi supaya bisa berdekatan dengan Gaara-kun,ya? Whoa, kau cukup berani juga, Haruno!" sentak Tayuya keras. Satu tamparan dilayangkan di pipi gadis merah muda. Seringainya mengembang saat gadis lemah itu ambruk ke lantai toilet.

"Kau seharusnya cukup pintar untuk belajar dari pengalaman,"

"Akh!" Sakura memekik saat rambutnya dijambak tanpa ampun oleh Karin.

Gadis berkacamata itu semakin menarik helaian rambut Sakura, seolah-olah dia belum akan puas jika kepala itu belum putus dari lehernya. "Kau hanya membuang-buang tenagaku! Dasar jalang! Jangan pernah menampakkan wajahmu yang menjijikkan itu di depan Gaara-kun atau kau akan mati di tanganku!"

BYUR!

Tubuh Sakura mengejang saat air sedingin es itu diguyur ke arahnya. Ketiga pelaku penyiksaan itu langsung tertawa puas dan keluar dari toilet itu dengan langkah yang dilenggak-lenggokkan. Suara tawa mereka masih terdengar, bahkan kini mulai menggaung di benak Sakura.

"Hiks.."

Sakura menggigit keras bibir bawahnya agar tidak ada isakan lain yang lolos. "Jangan menangis.. hiks.. jangan menangis.. hiks.. hiks.. j-jangan hiks.." jebol sudah pertahanannya. Air mata yang keluar semakin deras di setiap hembusan napasnya. Dalam hati ia bertanya-tanya, kapan semua ini akan berakhir? Kapan ia akan terbebas dari cengkraman Karin dan teman-temannya? Kapan ia bisa lari dari siksaan Kabuto? Kapan ia akan menemukan tempatnya bersandar, berlindung, dan mengadu? Ia tidak sanggup. Ini semua terlalu berat untuk gadis yang baru menginjak 17 tahun. Sakura ingin kehidupan SMA nya berjalan dengan wajar. Mempunyai teman yang selalu ada untuknya, kekasih yang ada ketika ia butuh sandaran, dan keluarga yang akan menyambutnya hangat ketika ia pulang ke rumah. Lalu hawa dingin menyentak pikirannya. Setidaknya ia tidak boleh mati di sini.

Melihat sepinya halaman sekolah, Sakura tahu, jam pelajaran sudah di mulai. Ia tidak menyangka kalau diakhir masa sekolahnya, ia akan sering membolos. Cukup hari ini saja. Mungkin besok ia akan kembali tertib seperti biasanya.

Tapi bagaimana dengan seragamnya yang basah kuyup begini? Sepertinya Karin tidak membiarkan Sakura keluar dengan tenang-tenang saja. Angin yang berhembus kembali membuatnya tersentak. Apa yang harus dilakukannya? Ia harus mengeringkan- tunggu dulu, satu ide gila melintas di otaknya. Tampaknya Tayuya tadi terlalu keras menamparnya, hingga otak gadis itu jadi sedikit mengalami pergeseran.

Sakura mengendap-endap menuju halaman di dekat gudang lama, di sebelah pojok timur sekolahan. Kepalanya celingukkan memantau keadaan sekitar. Ia menghela napas lega saat tidak ada tanda-tanda orang di sekitar sini.

Jemari lentiknya membuka satu per satu kancing kemejanya dengan perlahan. Hawa dingin yang dari tadi selalu mengikutinya, kini menjadi berkali-kali lipat saat ia telah menanggalkan seragam atasnya. Seutuhnya. Baju basah itu digantung disalah satu dahan pohon di dekatnya. Kedua lengannya bergerak sendiri mencari kehangatan. Gadis bodoh mana yang nekad membuka bajunya di luar ruangan, saat angin musim gugur sedang gencar-gencarnya? Dan tentu saja, Sakura adalah pelopornya.

Gadis itu hanya mengenakan tanktop hitam yang sangat kontras dengan kulit pucatnya. Rok lipit yang juga basah itu sebenarnya sangat mengganggunya. Tapi apa ia harus melepasnya juga? Sekali lagi diamatinya keadaan sekitar. Aman. Ia bisa menanggalkan rok hitam itu sebelum suara seseorang menahan gerakannya.

"Apa yang sedang kau lakukan di sana, Haruno?"

Sakura tercekat saat suara berat itu tepat berada di belakang punggungnya. Tangannya reflek menyilang di depan dadanya, seakan tengah melindungi 'sesuatu'. Perlahan ia memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan pria yang ia ketahui adalah Sasuke.

"A-ano, s-saya.."

"Apa kau sedang melakukan hal vulgar, Haruno?"

"A-apa?!" Sakura kaget saat Sasuke bertanya dengan begitu frontalnya. Kedua tangannya semakin mengerat seiring dengan tatapan Sasuke yang terus menatap 'sesuatu'. Sakura menghela napasnya, "T-tidak sensei.. S-saya tadi terjatuh di toilet, makanya bajuku jadi basah semua. S-saya tidak bisa masuk kelas kalau basah bagini.." ucapnya dengan kepala tertunduk.

Sakura merasa pria di depannya itu bergerak maju. Matanya melotot saat ia bisa melihat ujung sepatu Sasuke yang mengkilap hampir menyentuh ujung sepatu kusamnya. Ia semakin dalam menunduk. Punggungnya menegang saat jemari dingin milik Sasuke menyentuh lengan polosnya. Sakura sedikit terhuyung saat Sasuke menyentak tangannya. Gadis itu bungkam. Begitu juga Sasuke.

"Kau melepas perbannya?" tanya Sasuke tajam.

Sakura tidak menjawabnya, karena ia tahu bahwa Sasuke sendiri tahu jawabannya. Matanya dialihkan kemana saja asal tidak bertaut dengan jelaga milik Sasuke.

Sasuke melepaskan lengan Sakura. Lebam keunguan semakin jelas terlihat di kulit Sakura yang pucat. Hati pria itu tegeletik, ingin tahu siapa yang telah menganiaya gadis ringkih macam Sakura ini. Melihat muridnya yang hampir mati kedinginan itu membuat sisi kelaki-lakian Sasuke bangkit. Ia segera melepas jasnya dan menyampirkannya pada kedua bahu Sakura yang terbuka.

"Segeralah masuk kalau urusan mu sudah selesai." Ucap Sasuke sambil melirik baju Sakura yang masih tergantung di dahan.

Sakura hanya bisa tertegun ketika punggung gurunya itu berlalu meninggalkannya. Tangannya menyentuh jas milik Sasuke yang kebesaran. Hangat. Ia merasa kehangatan yang dulu pergi, kini seperti datang kembali.

.

.

.

.

Kalau ada hal yang membuat gaduh kelas 3 B, berarti ada dua penyebabnya. Jam kosong dan Namikaze Naruto. Kenapa Naruto? Karena laki-laki itu luar biasa berisiknya. Ia adalah tipe yang tidak bisa diam, selalu kelebihan energi dan ceroboh. Tapi karena itulah seorang Hyuuga Hinata, murid kebanggaan para guru dan gadis dari keluarga konglomerat, tertarik dengannya.

Hinata mencuri-curi pandang ke arah Naruto yang sedang melempar guyonan pada teman se-geng-nya di pojok belakang kelas. Laki-laki pirang itu tertawa dengan kerasnya saat Inuzuka Kiba menunjukkan sesuatu di ponselnya. Hinata ikut tersenyum dari tempatnya duduk.

Suara pintu yang dibuka membungkam tawa meledak dari kelompok Naruto dan tawa cekikikan dari meja Karin. Semunya langsung kelabakan duduk di tempatnya masing-masing. Sasuke diam sebentar di ambang pintu, menelisik muridnya satu-satu, sebelum berjalan menuju mimbar di depan kelas. Lee memberi aba-aba penghormatan, tetapi Sasuke menahannya. "Siapa yang duduk di pojok?"

Semua menoleh ke belakag. Tempat dimana hanya ada tas biru langit tanpa sang empunya. "Itu meja Haruno, sensei.." jawab Shion dengan nada meremehkan. Karin dan Tayuya menahan kekehannya agar tidak kelepasan.

"Buka halaman 56, kita lanjutkan-"

TOK! TOK! TOK!

Sasuke mengalihkan tatapannya dari buku di hadapannya pada pintu yang tertutup rapat. "Masuk." Ucapnya memberi izin bagi siapa pun yang hendak masuk ke dalam kelas.

Kelompok Karin menyeringai puas, Naruto dan kawan-kawannya menahan napas, Hinata terperangah, dan Sasuke hanya menatap datar, pada Sakura yang berdiri di ambang pintu kelas dengan kepala tertunduk. Tangan kanannya bersembunyi di balik punggungnya. Menyembunyikan jas Sasuke dari pengelihatan teman-teman sekelasnya. Gadis itu menyadari bahwa semua yang ada di dalam sana menatapnya dengan arti yang berbeda-beda. Namun, ia tak berani menyimpulkan apa artinya.

"Ada yang ingin kau jelaskan, Haruno?" suara Sasuke membelah kesunyian yang sempat membelenggu suasana kelas.

"S-summimasen, sensei.. s-saya tadi-"

"Berdiri di koridor sampai pelajaran selesai." Tukas Sasuke tanpa melihat ke arah Sakura yang kini mulai menjauh dari ambang pintu. Karin berusaha meredam tawa kemenangannya. Tangannya menengadah di samping meja, siap menerima tos dari Tayuya dan Shion.

Sakura mati-matian menahan tangisannya. Suara tajam Sasuke barusan, entah mengapa seperti sebilah pisau yang mengoyak kehangatan yang sempat pria itu tawarkan padanya waktu di halaman belakang tadi. Membayangkan kehangatan yang sempat dirasakannya tadi hanyalah semu belaka, membuat Sakura ketakutan. Baru saja ia mulai merasakannya lagi, tapi belum ada apa-apa, semua itu hilang dalam sekejap mata. Betapa bodohnya ia yang terlalu cepat mengambil kesimpulan. Tangan kanannya tanpa sadar mencengkram jas biru dongker milik Sasuke.

Terlalu fokus pada pikirannya, membuat Sakura tidak sadar kalau Sasuke tengah berjalan ke arahnya dengan langkah panjang-panjang. "Ikut aku." Katanya tanpa berhenti atau menoleh sekalipun. Sakura langsung mendongak pada senseinya yang sudah berlalu itu, tanpa bergerak sedikitpun.

Sasuke menghentikan langkahnya saat sadar bahwa Sakura tidak kunjung mengikutinya. "Apa aku perlu mengulanginya lagi?" tanya Sasuke tanpa menoleh.

Sakura langsung mengekori Sasuke dengan langkah kikuk. Pandangannya setia pada garis-garis lurus di lantai. Tidak tahu bahwa senseinya itu membimbingnya menuju ruang konseling. Sakura baru sadar ketika ia disuruh duduk di salah satu sofa. Ia mencuri pandang pada Sasuke dari balik bulu matanya. Pria itu duduk di seberangnya, dengan kaki menyilang. Tangannya bersidekap di depan dada bidangnya. Matanya menatap lurus pada Sakura yang masih setia dengan ujung sepatunya.

Sasuke menghela napas gusar. Muridnya ini tidak akan pernah bicara kalau tidak ia pancing terlebih dahulu. Tapi ia menelan kembali ucapan yang akan keluar saat Sakura mengulurkan jas yang ia pinjamkan tadi pada gadis itu.

"A-arigatou, sensei.. maaf jasnya jadi kotor," cicit Sakura.

Mata kelam itu menatap bergantian antara Sakura dan jas yang masih terulur. "Apa begini caramu berbicara pada orang lain, Haruno?"

Gelenyar aneh selalu timbul saat Sasuke memanggil nama marganya. Gadis itu perlahan-lahan mendongak tapi belum berani menatap wajah Sasuke.

"Setidaknya tatap matanya. Jangan menunduk seperti orang yang lemah."

Kini mata sehijau daun muda di musim semi itu bertaut pada manik malam Sasuke. Kontak mata yang terjadi di antara keduanya itu membawa sesuatu yang tidak pernah mereka sangka-sangka. Sakura baru menyadari bahwa kedua mata sensinya itu seperti lubang hitam yang mampu menariknya menuju dimensi tanpa batas, sedangkan Sasuke baru menyadari bahwa manik hijau Sakura lebih jernih dari yang ia duga. Ada kesejukkan yang ditawarkan lewat sorotannya. Entah sudah berapa lama kedua orang itu saling menyelami netra lawannya. Yang terjadi selanjutnya hanyalah Sakura yang kembali menunduk dengan canggung.

"Aku masih menunggumu untuk bicara yang sebenarnya." Sasuke berkata setelah keheningan terjadi di antara keduanya.

Berbeda dengan yang lalu-lau, kini Sakura menjawabnya dengan cepat. "A-aku tidak bisa memberitahu sensei.."

"Aku sudah tahu apa yang terjadi. Tapi aku ingin kau sendiri yang mengatakannya."

"Tolong jangan membahas hal ini lagi, sensei.. aku-" napasnya tercekat saat air mata menuruni pipinya, "a-aku terlalu lelah,"

"Kau tahu, sikapmu saat ini membuatmu terlihat begitu menyedihkan."

"Sensei tahu apa!"

Sasuke hanya terdiam saat muridnya itu menyentakknya. Ia membiarkan gadis itu tergugu. Membiarkan Sakura menumpahkan beban yang selama ini ia pikul seorang diri.

"A-aku tidak pernah mengharapkan semua ini terjadi! Hiks, memangnya apa salahku? Aku bahkan tidak tahu di mana letak kesalahan ku, tapi kenapa tidak ada yang mau mengerti? Hiks!" Sakura berusaha meredam tangisnya, tapi gagal. Bahunya bergetar seiring dengan tangis yang semakin menjadi. "A-aku tidak pernah menggoda Gaara-san seperti yang mereka bicarakan.. A-aku juga tidak pernah membantah perkataan paman.. tapi kenapa mereka selalu memukulku? Kenapa mereka selalu berteriak padaku? Kenapa mereka merendahkanku seperti sampah? Kenapa.."

Sakura tidak sanggup meneruskannya. Seluruh tenaganya habis terkuras oleh air mata yang deras mengalir dari pelupuknya. Wajahnya merah padam dan basah. Sakura tidak peduli lagi akan jas Sasuke yang menjadi pelampiasannya.

Tebakan Sasuke tidak meleset. Gadis Haruno itu menjadi korban bully teman sekolahnya sendiri. Tapi ternyata ia mendapat fakta lain. Orang yang disebut Sakura sebagai 'paman' juga melakukan kekerasan padanya. Sasuke tidak menyangka kalau Sakura sanggup menanggung semua ini sendirian.

"Apa kau mau seperti ini terus? Tidak melakukan perlawanan? Merasa puas menjadi orang yang selalu ditindas?"

"A-apa maksud sensei?"

"Aku tahu kau tidak bodoh, Haruno." Tukas Sasuke. Tubuhnya condong kedepan, hingga jarak antara ia dan Sakura tidak lebih dari setengah meter. "Datang dan temui aku, jika kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan."

.

.

.

.

"Sakura-chan!" sapa Naruto saat ia melihat gadis merah muda itu keluar dari kelas. Dari seluruh murid yang ada di Konoha Gakuen, hanya Naruto lah yang memanggilnya dengan nada seakrab itu.

Sakura menoleh pada Naruto yang bersandar di dekat papan pengumuman. Gadis itu sedikit terkejut saat tahu bahwa ia bukanlah satu-satunya yang pulang paling akhir. Ia hanya berdiam diri saat Naruto berjalan ke arahnya. Membiarkan sahabat sejak taman kanak-kanaknya itu berjalan bersisihan dengannya.

"Ibu menanyakan tentang kabarmu, Sakura-chan! Dia kelihatan murung kalau tidak mendengar tentangmu sehari saja!" sungut bocah pirang itu. Persahabatan yang sudah terjalin sejak lama itu, membuat Sakura mengenal baik keluarga Naruto. Apalagi bibi Kushina, ibu Naruto, yang sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri.

"Katakan pada bibi kalau kabarku baik-baik saja, Naruto." Sahut Sakura diiringi dengan senyum tipis.

Naruto diam-diam meringis melihat cara Sakura tersenyum. Sejak kematian kedua orangtuanya, gadis itu tidak pernah benar-benar tersenyum. Yang selama ini ia tampilkan hanyalah senyum sekedarnya saja. Hanya sebuah tameng untuk melindungi apa yang sebenarnya tengah ia rasakan.

"Kau bisa datang ke rumah kalau kau mau. Ingat, Sakura-chan! Keluargaku adalah keluargamu juga!" kata Naruto dengan semangatnya.

'Keluarga, ya? Lama sekali aku tidak mendengar kata itu.' batin Sakura miris.

Dari kejauhan tampak gadis Hyuuga berjalan mendekat ke arah mereka berdua. Sakura menghentikan langkahnya, sedangkan Naruto yang masih nyerocos ikut berhenti karenanya. "Kenapa berhenti, Sakura-chan?"

Hinata berhenti tepat di depan keduanya. Mata lavendernya melirik sekilas pada Naruto, sebelum mengalihkan atensinya pada Sakura. Tangannya terulur memberikan sebuah undangan pada gadis itu. "Ini undangan untuk rapat wali murid besok. Sampaikan pada walimu." Hinata langsung berbalik meninggalkan mereka berdua, begitu selesai dengan ucapannya.

"Sakura-chan kau bisa-"

"Gomen ne Naruto-kun," Sakura menyela perkataan Naruto, "aku pulang duluan. Jaa ne,"

'Sakura-chan kau bisa meminta ibuku untuk menjadi walimu besok!' perkataan itulah yang paling dihindari Sakura. Ia tidak mau menjadi beban bagi orang yang disayanginya dengan keadaannya yang menyedihkan ini. Ia tidak mau terus bergantung pada kebaikan keluarga Naruto.

Tapi siapa yang akan ikut rapat besok? Apa ia punya nyali kalau harus minta Kabuto yang datang sebagai walinya? Ia pernah mencobanya sekali waktu rapat pengambilan nilai murid di sekolah dasar, dan yang terjadi hanyalah kekacauan yang diperbuat oleh Kabuto. Tapi membayangkan bahwa bibi Kushina yang selama ini selalu repot-repot datang menjadi walinya, membuat keberanian Sakura mencuat. Ia akan mencoba untuk berbicara dengan Kabuto tentang ini. Namun begitu melihat Kabuto yang tengah bercumbu mesra dengan seorang wanita yang nyaris telanjang, memupuskan semua keberanian yang sempat berkobar. Persetan dengan rapat apalah itu, karena yang Sakura butuhkan saat ini hanyalah kabur dari sana secepat mungkin.

.

.

.

.

Sebuah Porsche boxster hitam mengkilap tengah melaju konstan, menyusuri jalanan kota Konoha yang begitu tenang malam ini. Pengendaranya duduk sendirian di dalam mobil mewah itu, seakan menegaskan bahwa pria itu masih 'sendiri'. Ya, dan Sasuke memang benar-benar masih 'sendiri'. Pekikan tertahan terdengar dari sebuah mobil di sebelahnya saat tengah dihadang lampu merah, membuat Sasuke memutar bola mata malas. Kenapa wanita selalu menyebalkan? Sasuke hanya menyayangi satu wanita di dunia ini dan itu adalah ibunya sendiri, Nyonya Uchiha Mikoto. Tapi wanita idolanya itu pun menyebalkan karena akhir-akhir ini gencar menyuruh Sasuke untuk segera mencari pasangan hidup. Jangan anggap remeh urusan mencari pasangan, apalagi tipe pemilih seperti Sasuke ini.

Mansion megah bergaya vintage berdiri kokoh menyambut kedatangan Sasuke. Ia mengklakson pintu gerbang dan munculah seorang penjaga yang dengan sigap membuka lebar jalan untuk sang tuan muda.

Setelah memasukkan mobil yang jarang dipakainya itu masuk ke dalam garasi, Sasuke segera beranjak menuju ruang keluarga, di mana seluruh anggota keluarganya tengah berkumpul. Langkahnya bertahap menapaki satu per satu tangga menuju lantai dua. Tiba di ruangan mewah yang dipenuhi barang-barang kelas atas, sosok Sasuke langsung menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sana. "Paman Sasuuuu!" seru si kembar Haru dan Hikari. Kedua anak kembar berbeda gender itu segera berlari dan menerjang kaki kokoh Sasuke.

"Paman Sasu kenapa lama sekali? Hikali-chan kan mau main dengan paman Sasu!" gadis berambut panjang hitam yang dikuncir dua itu merajuk sambil mengerucutkan bibir mungilnya. Berbeda dengan kakaknya yang malah tidak menunjukkan raut merengut sama sekali.

"Ayo kita main helikoptel,paman Sasu! Halu punya yang baru lhooo!"

"Paman Sasu maunya main sama Hikali-chan! Iya kan, paman?"

Duo kembar itu segera dilerai oleh sang ibu yang berkata kalau mereka akan makan malam dulu sebelum bermain. Kedua bocah yang baru berusia lima tahun itu langsung menurut dan dengan tertibnya masuk beriringan menuju ruang makan. Sasuke tersenyum tipis pada Konan yang telah menyelamatkannya dari serangan kembar Uchiha itu.

Dan perasaan janggal Sasuke mulai berakar saat dirinya sudah duduk di ruang makan. Ia sedikit melirik sebelah kirinya, di mana sang ibu tengah menyantap makan malamnya. Tapi tiba-tiba suara Itachi menyita perhatian semua pasang mata yang ada di sana, kecuali si kembar yang asik dengan sayuran mereka.

"Kudengar putri dari Danzou-san baru saja pulang dari London kemarin."

Mikoto segera menghentikan acara makannya yang memang telah selesai. Matnya langsung berbinar. "Sara? Benarkah ia sudah berada di Konoha?"

Itachi mengangguk sedangkan Sasuke meliriknya tajam. Ternyata sumber kejanggalan tadi bukan dari ibunya, melainkan dari Itachi.

"Apa kita perlu mengundanya untuk makan malam di sini? Ah, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan gadis cantik itu. Bagaimana menurutmu Sasuke?" tanya Mikoto melibatkan Sasuke yang masih anteng ditempatnya.

"Hn." Gumamnya tidak jelas.

"Jadi apa? Iya atau tidak?" desak ibunya.

Sasuke menghela napas dulu sebelum menjawab, "Terserah ibu saja." Walaupun terkesan agak malas-malasan, tapi Sasuke sedikit antusias.

Wanita awal 50an itu tersenyum puas. Ia segera mendiskusikan menu apa yang sebaiknya mereka masak dengan Konan dan diselingi ocehan si kembar.

"Bagaimana kabarmu, Sasuke?" tanya Itachi saat ia dan kakaknya itu tengah bersantai di ruang tv. Haru dan Hikari diantar ke kamar mereka setelah puas bermain dengan paman idola mereka. Kini keadaan rumah jadi lengang saat Uchiha senior sudah undur istirahat sekitar 15 menit yang lalu.

"Kita baru saja bertemu tadi pagi." Dengus Sasuke.

Itachi mengangguk-anggukan kepalanya seperti seorang filsuf. "Seorang bujangan sepertimu harus sering-sering ditanyai kabarnya, Sasuke. Takut ada hal yang terlewatkan." Kedipan jenaka ia layangkan pada sang adik, tapi Sasuke terlalu malas untuk menanggapinya. "Ne, Sasuke, kau masih ingat saat kita pertama kali kita pindah ke Konoha?"

"Kenapa tiba-tiba tanya tentang itu?" tanya Sasuke curiga.

"Entahlah, aku juga tidak tahu," seperti Itachi yang biasanya, ucapannya selalu tenang, "aku hanya tiba-tiba teringat saja. Kau tahu, semua itu masih sangat jelas diingatanku."

"Itachi," sahut Sasuke dingin, "Kita sudah sepakat untuk tidak pernah mengungkit lagi masalah itu."

Kedua kakak beradik itu terdiam. Tenggelam dalam pikiran dan kenangan masing-masing.

.

.

.

.

KLAK!

"Tadaima!" seru Sakura riang setelah menutup pintu geser di belakangnya. Sepatunya yang masih lembab dilepas dan disandarkan pada papan kayu di samping pintu.

"Okaeri, Saki-chan!" seorang wanita awal 50an keluar dari sekat diantara ruang utama dengan dapur. Kedua tangannya sibuk mengelap mangkok yang terlihat masih basah. Namun diantara kesibukannya itu, terselip senyum hangat khas seorang ibu. Dialah bibi Shizune, seorang wanita paruh baya pemilik onsen yang sudah Sakura anggap sebagai ibu ketiganya, tentunya yang pertama adalah sang ibu kandung dan yang kedua adalah bibi Kushina.

Awal dari kedekatan mereka adalah saat Sakura menolong Shizune yang menjadi korban pencopetan. Wanita itu kehilangan dompetnya serta mendapat luka sayat di lengan kirinya. Kejadian empat tahun yang lalu itu terlalu mengerikan untuk diingat, tetapi menyimpan seklumit kebahagiaan untuk keduanya. Sakura yang mendapat satu lagi figur seorang ibu, sedangkan Shizune mendapat figur seorang anak perempuan yang selama ini selalu diidamkannya. Mereka kerap menghabiskan waktu bersama seperti berendam di onsen, pergi berbelanja, ataupun hanya sekedar duduk berhadapan di meja makan, dengan dua cangkir teh dan obrolan ringan di sore hari. Sakura selalu menyukai waktu kebersamaannya dengan Shizune. Karena hal-hal yang ia lakukan dengan wanita itu adalah sebagian kecil hal yang ingin Sakura lakukan bersama ibunya.

Dan usapan lembut di lengannya membangunkan Sakura dari lamunan panjangnya. "Apa yang sedang kau pikirkan, Saki? Bibi merasa kalau kau semakin kurus saja.. kau makan dengan baik? pamanmu selalu memperhatikanmu, kan?"

Sakura tersenyum menenangkan walaupun batinnya miris. Perhatian apanya? Namun ia tidak memberitahu perlakuan Kabuto yang buruk pada Shizune. Ia hanya tidak mau membebani wanita itu dengan aduannya. "Iya," satu tarikan napas dihela perlahan, "Paman Kabutomemperlakukanku dengan baik.. terlalu baik malah,"

"Ah, syukurlah kalau begitu, bibi khawatir kalau ia tidak memperhatikanmu dengan baik. Gadis seusiamu ini memang perlu kasih sayang yang banyak. Bagaimana dengan sekolahmu? Kapan-kapan ajaklah temanmu untuk berendam di sini, nanti akan bibi beri diskon, lho.."

Dan Sakura nyaris menangis mendengarnya. Tidak ada yang berjalan dengan baik satupun bagi gadis itu. Entah itu rumahnya maupun sekolahnya. Semuanya sama saja.

Sakura berkilah kalau ia tengah kelaparan, lalu melesat menuju dapur, menghindari pertanyaan-pertanyaan berbahaya lainnya dari Shizune. Sudah cukup ia berbohong pada Shizune yang baik hati itu. Biarkanlah ia, untuk malam ini saja, berlindung di bawah kepak kasih sayang Shizune.

.

.

.

.

Sasuke memperhatikan satu per satu wali murid yang mulai berdatangan di aula besar Konoha Gakuen. Sedikit-sedikit ia akan mengalihkan pandangannya dari buku absen wali murid ke pintu depan. Saat waktu menunjukkan pukul sembilan tepat, Tsunade sensei, selaku kepala sekolah, berjalan menuju podium untuk memberi sambutan.

Sasuke menghela napas panjang saat rapat telah bertemu ujungnya. Dua jam berlalu. Buku absen wali murid di hadapannya masih menyisakan ruang kosong. Murid atas nama Harnuo Sakura. Tiga kolom kosong berturut-turut. Itu artinya tiga tahun ini, setiap rapat yang diadakan tiap tahun itu, wali Sakura tak pernah hadir. Sasuke semakin curiga, apalagi setelah ia mendengar sendiri pengakuan gadis itu kemarin. Seberapa burukkah perlakuan yang Sakura terima di rumah, jika gadis itu sampai tak berani membawa walinya untuk datang ke sekolah? Banyak yang ingin Sasuke tanyakan pada Sakura, selaku seorang guru tentu saja. Tapi sisi lain hatinya menolak. Apa yang ia rasakan saat ini murni hanya karena empati seorang guru terhadap muridnya atau karena hal lain?

Decakan kesal keluar dari mulutnya. Ia tak mau repot-repot memikirkan apa yang tengah ia rasakan, karena itu sama sekali tak penting. Ia hanya ingin mengetahui apa yang sebenarnya dialami oleh Sakura, muridnya. Memangnya apa ia pantas dipanggil seorang guru kalau sampai salah seorang muridnya menjadi korban kekerasan saja ia tak tahu? Dan pada akhirnya Sasuke menamai persaannya itu sebagai empati.

"Sasuke-san? Bisa aku meminta buku absen wali muridnya? Aku harus segera membuat laporannya,"

Sasuke menoleh pada Kurenai yang tampak buru-buru. Ia mengangsurkan buku tebal itu tanpa banyak bicara. Wanita yang enam tahun lebih tua darinya itu membaca sekilas pada halaman terakhir. Wajahnya nampak jengkel begitu ia selesai. "Haruno lagi, Haruno lagi. Mau sampai kapan walinya bolos rapat begini?"

Kurenai merupakan wali kelas Sakura selama tiga tahun berturu-turut. Ia sudah hapal bagaimana keseharian gadis yang pendiam itu. Hampir di setiap pertemuan wali murid, Sakura tidak pernah membawa walinya. Ia sudah menegur gadis itu saat ia berada di tahun keduanya, tapi Sakura berdalih kalau walinya sangat sibuk sampai tidak sempat datang ke pertemuan wali murid.

"Apa Haruno tidak tinggal dengan kedua orangtuanya?" Sasuke mencoba memancing Kurenai untuk menceritakan masalah keluarga Sakura.

"Orangtuanya sudah lama meninggal," jawab Kurenai, "sekarang Sakura tinggal bersama adik dari ayahnya, Haruno Kabuto. Hanya itu yang kuketahui. Ia bahkan tidak menuliskan secara lengkap alamat rumahnya. Aku merasa ada yang tidak beres di sini.."

Sasuke masih diam saja, bahkan setelah Kurenai pergi dari aula besar, menyisakan Sasuke yang tenggelam dengan pikirannya.

.

.

.

.

Suara bisik-bisik terdengar di depan kelas 3-B, tepat saat jam makan siang baru saja mulai. Pintu depan maupun belakang tertutup rapat, tak membiarkan orang di luar sana merengsek maju dan ikut campur urusan empat orang yang berada di dalamnya.

Sakura, seperti yang sudah-sudah, selalu diam menunduk, tatkala hujaman tajam mengarah padanya. Ia tak sanggup menentang manik ruby milik Karin. Karena matanya hanya berjodoh dengan ujung sepatu kusamnya. Tidak kemanapun.

Karin, dengan angkuhnya, berjalan mendekat ke arah Sakura yang masih duduk di bangkunya. "Aku dapat kabar dari ibuku kalau ada satu murid di kelas kita yang walinya tidak datang ke pertemuan wali murid tadi pagi. Kalian tahu siapa orangnya?"

"Oh!" seru Tayuya dengan ekspresi mirip orang yang menang lotre. "Aku tahu! Aku tahu! Pasti dia hanyalah seorang murid pengecut! Sama seperti walinya!"

Tawa meremehkan saling sahut menyahut dari ketiga gadis itu. Shion yang tepat berada di sebelah kanan Sakura, memainkan helaian rambut merah muda itu. "Ne, Haruno, kau tahu siapa orang itu? Beri tahu kami, siapa murid yang pengecut itu," lama kelamaan tarikan pada rambut Sakura mengencang, hingga membuatnya mendongak. Shion kembali menderai tawa puasnya, "Hei, lihat! Seperti inilah wajah murid pengecut itu!"

Sakura mengerang saat ia merasakan kebas di kulit kepalanya. Ia tidak bisa menghitung berapa helai rambutnya yang tercabut akibat ulah Shion itu. Suara di luar sana semakin menjadi. Bahkan banyak di antaranya ikut menimpali tawa ketiga gadis yang asik dengan 'mainannya'.

"Aku jadi bertanya-tanya.. apa sifat pengecutmu ini berasal dari orangtuamu? Ah, atau jangan-jangan mereka juga sama jalangnya dengan-"

PLAK!

Telapak tangan Sakura terayun begitu saja, bahkan sebelum Karin merampungkan omongannya. Baik Karin, Shion, Tayuya, bahkan penonton di luar kelas, sama-sama terkejut akan kejadian yang berlangsung cepat itu. Terlalu cepat, bahkan hanya untuk menyadari perubahan dalam diri Sakura. Yang mereka tahu saat ini adalah Sakura yang berdiri tegap di depan Karin dan kawan-kawannya dengan raut wajah yang tidak pernah mereka bayangkan. Marah. Ya, gadis Haruno yang sering mereka bully itu menampakkan kemarahannya.

"K-kau.."

"Jangan pernah mengatai orangtuaku jalang!" teriak Sakura kembali memotong ucapan Karin. Gadis merah itu yang paling terkejut diantara dua yang lainnya. Sudah ditempar, omongannya pun terpotong dua kali. Dan yang melakukannya adalah Haruno Sakura. Gadis yang menjadi objek tindasannya. "Terserah kalian mau menghajarku sampai puas, tapi jangan pernah berkata buruk tentang kedua orangtuaku! Aku tidak akan pernah diam jika salah satu dari kalian sampai mengatai orangtuaku dengan mulut kotor kalian!"

Entah kekuatan dari mana yang mampu menggerakkan bibir Sakura agar mengucapkan kata-kata perlawanan tadi. Semua itu terjadi begitu saja. Saat nama kedua orangtuanya disandingkan dengan kata terburuk, amarahnya seketika bangkit. Ia tak pernah sebegini meledaknya, bahkan ketika mereka menghajar serta mencacinya habis-habisan. Ia hanya tidak terima saat kedua orangtua yang selama ini ia sayangi, dicela di hadapannya. Sakura pernah berjanji pada dirinya sendiri kalau ia akan menjadi orang terdepan yang akan membela kedua orangtuanya, tak peduli apa kata orang lain dan tak peduli siapa yang ia hadapi.

Muak dengan keadaan kelas yang menghimpitnya, Sakura memilih pergi dari sana sekarang juga, bertepatan dengan bel masuk. Ia berlari di koridor dengan penampilan yang acak-acakan. Masa bodo dengan bisikan miring tentangnya, ia sama sekali tidak peduli. Naruto yang berpapasan dengannya saja ia abaikan. Bahkan panggilan dari pemuda pirang itu seperti tak pernah tertangkap telinganya.

"Sakura-chan!"

Naruto berniat menyusul Sakura, tapi tiba-tiba sosok Hinata menghadang jalannya. Gadis itu menyodorkan sebuah buku ke arahnya. "Kita harus segera ke laboratorium, Naruto-san. Ingat, kita satu kelompok." Ucapan Hinata membuat Naruto mengerang. Ia hanya bisa melihat arah kemana perginya Sakura, tanpa bisa mengikutinya.

.

.

.

.

Tempat yang tinggi selalu menjadi pelipur tersendiri bagi Sakura. Ia menyukai angin yang memainkan helaian rambutnya. Ia merasa tenang saat deru benda tak kasat mata itu saling berbisik. Ia seperti tengah berada di dunianya sendiri.

Perlahan-lahan kelopak mata yang sedari tadi menyembunyikan emerald cerah itu terbuka. Meloloskan setetes air mata yang menggantung di pelupuknya. Sudah berapa kali ia menangis selama sepuluh tahun terakhir ini? Kira-kira berapa liter yang ia keluarkan? Apa cukup untuk membuat kolam renang sendiri?

Sakura tersenyum miris. Padahal ia sudah berjanji untuk tidak menangis lagi. Tapi janji itu hanya bualan saja, karena nyatanya, matanya selalu berkhianat. Namun untuk saat ini saja, biarkan ia menangis sepuas-puasnya, hanya untuk dirinya sendiri.

Koak burung gagak terdengar jelas ditelinga Sakura. Semburat kejinggaan mewarnai langit ufuk barat. Sore yang telah menjemput sang mentari untuk undur dari tempatnya berpijar seharian ini, membuat Sakura kebingungan. Ia tidak tahu pasti seberapa lama waktu yang telah ia gunakan untuk menangis tadi. Dilihat dari warna langit, mungkin sekarang sudah pukul lima atau lebih. Sakura melongok ke bawah, untuk mengetahui apakah masih ada siswa atau siwi yang berseliweran. Tapi ternyata tidak ada.

Jantung Sakura nyaris loncat dari tempatnya saat ada seseorang yang menyentak lengannya keras. Tubuhnya diseret menjauh dari pagar pembatas. Jantungnya malah semakin tak karuan begitu ia di hadapkan dengan wajah sangar milik Sasuke. Gadis itu tak berani mnyimpulkan apa yang sekiranya tengah dipikirkan oleh senseinya itu.

Tapi perkataan Sasuke setelahnya, menjawab teka-tekinya. Dengan suara dalamnya, Sasuke berkata, nyaris berteriak, "Apa yang sedang kau lakukan?! Kalau mau bunuh diri, jangan lakukan di sekolahan!"

Suara Sasuke yang teredam oleh kencangnya angin itu tak sedikitpun menyurutkan rasa terkejut Sakura. Ia menatap Sasuke yang tampak frustasi, namun tak kentara. Lalu matanya melirik ke arah tangannya yang masih di cekal oleh jemari kokoh Sasuke.

"Saya bukan mau bunuh diri!" teriak Sakura agar tidak kalah dengan deru angin, "Saya hanya mencari ketenangan!"

Malas karena harus berteriak terus, akhirnya Sasuke menuntun Sakura turun dari rooftop. Keduanya saling membisu selama perjalanan menuju ruang kelas Sakura. Gadis itu hanya menatap punggung Sasuke yang terbalut sweater navy dengan dalaman kemeja putih. Entah kenapa ia merasa terlindungi hanya dengan melihat punggung kokoh itu. Lalu tangan yang masih di genggam oleh Sasuke itu merasakan kehangatan yang asing.

Sasuke melepas genggamannya begitu mereka telah berada di dalam kelas yang sudah lengang. Ia mengambil tas milik Sakura dan segera memberikannya pada yang empunya.

"Walimu tidak datang ke rapat tadi pagi."

Sakura tidak bereaksi apa-apa atas ucapan Sasuke itu. Ia masih terdiam di tempatnya, memandang ke arah lain, bukan pada Sasuke yang berdiri bersidekap di hadapannya.

Pada dasarnya, Sasuke bukanlah orang yang suka diabaikan begitu saja oleh lawan bicaranya. Merasa bahwa Sakura tengah mengabaikannya, ia segera mengintimidasi gadis itu dengan merapatkan tubuhnya pada si gadis musim semi. Sakura tersentak kaget, namun ia segera menghindar dari Sasuke. Ia hampir memekik saat pinggangnya menubruk sisi meja di belakangnya.

"S-sensei.." cicit Sakura saat melihat Sasuke masih terus berjalan maju, sedangkan dirinya sudah tersudut. Hasratnya untuk kabur dari ruangan kelas itu semakin besar tatkala matanya menangkap seringai tipis terpeta di wajah rupawan Sasuke.

Sebenarnya Sasuke ingin terkekeh melihat gerak-gerik Sakura yang menurutnya lucu itu. Matanya tak lepas dari kedua mata Sakura yang bergerak liar ke sana ke mari mencari peraduan. "Apa yang sedang kau lakukan di atap kalau bukan mau bunuh diri?"

"Sensei salah paham," jawab Sakura dengan suara yang agak bergetar, "a-aku bukan mau bunuh diri, aku hanya mencari tempat untuk menenangkan diri.."

"Kenapa kau perlu menenangkan diri?"

Sakura terdiam sebentar. Pertanyaan Sasuke barusan bisa menjebaknya kalau ia tidak hati-hati memilah kata. "Bukan apa-apa, sensei.. tidak ada alasan khusus untuk itu," begitulah Sakura menjawabnya.

Namun Sasuke terlalu pintar untuk dibohongi. "Dan pada akhirnya kau selalu menghindar." Tukasnya datar.

Kata menghindar itu menancap tepat di inti hati Sakura. Menghindar sama dengan pengecut. Mengingat kata pengecut, ia jadi terbayang akan suasana di kelas tadi siang. Terutama saat Karin dengan mulut kotornya itu berani menghujat kedua orangtuanya.

Emerald itu menatap lurus onyx Sasuke. Ia bahkan harus mendongak agar sorotnya tepat di kedua manik kelam Sasuke. "Kenapa sensei selalu ingin tahu urusanku?" tanya Sakura setengah ketus.

"Karena aku adalah senseimu." Jawab Sasuke singkat. Memang begitu keadaannya, kan? Sasuke adalah guru Sakura.

Tapi jawaban dari Sasuke itu mengundang tawa dari Sakura. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa miris yang terdengar memilukan. "Di sekolah ini banyak sensei, tapi mereka tidak pernah sibuk bertanya tentang urusanku. Tidak seperti Sasuke sensei."

"Jadi menurutmu aku salah karena bersikap begini?"

"Sensei tidak salah," Sakura menyanggah kesimpulan yang dibuat Sasuke, "aku hanya tidak mau sensei merasa harus berpura-pura menjadi seorang sensei yang baik dengan mengurusi murid yang bermasalah."

Tiba-tiba saja Sasuke merendahkan tubuhnya agar wajahnya sejajar dengan wajah Sakura. Dengan jarak yang terpaut satu jengkal, membuat Sasuke bisa melihat jelas seberapa jernih emerald itu. Dalamnya suara Sasuke mengalun indah di telinga gadis itu. "Tatap mataku, Sakura. Carilah kepura-puraan yang kau katakan tadi."

Dan Sakura seperti tersengat listrik ribuan volt saat senseinya itu menyebut nama kecilnya dengan suara dalam yang indah. Degup jantungnya menggila saat ia sadar telah menyelam di danau hitam tak berdasar milik Sasuke. Mencari-cari letak kepura-puraan yang tadi sempat ia koarkan namun tak ia temukan barang seujung kuku pun pada manik Sasuke.

"S-sensei.." napas Sakura tercekat saat air mata menjebol pelupuknya. Wajahnya lagi-lagi basah oleh air mata. "A-aku harus bagaimana? Hiks.."

Tidak ada hal lain yang terlintas di benak Sasuke selain meraih kepala merah muda Sakura dan menenggelamkannya di dada bidangnya. Tidak ada ucapan penenang yang keluar dari mulutnya. Ia hanya lelaki yang suka bertindak tanpa banyak bicara. Jadi biarlah tangannya saja yang sibuk mengelus mahkota Sakura dengan caranya sendiri.

.

.

.

.

"Kau bisa bela diri, Sakura?" tanya Sasuke saat ia dan Sakura tengah berada di dalam mobil volvonys. Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sang gadis.

"Um, kurasa tidak, sensei.." jawab Sakura gugup. Banyak hal yang menjadi pemicu kegugupannya saat ini. Entah karena habis menangis di pelukan Sasuke, berada satu mobil dengan senseinya itu, Sasuke yang memanggilnya dengan 'Sakura', atau mungkin ketiganya. Sakura merasa mereka agak terlalu jauh dari sekedar guru dan murid.

Sasuke menoleh sekilas pada Sakura. "Akan kuajari kalau bagitu."

"Untuk apa sensei? Apa sensei secara tidak langsung menyuruhku untuk berkelahi seperti para gangster?"

"Bela diri bukan hanya untuk berkelahi. Itu bisa melindungimu dari kejahatan."

Sakura mulai memahami apa maksud Sasuke yang sebenarnya. Pria itu menginginkan agar Sakura tidak melulu menjadi korban kekerasan. Mungkin dengan belajar bela diri bisa sedikit membantunya.

"Turun di sini saja, sensei.." kata Sakura sambil menunjuk pada sebuah halte.

"Aku akan mengantarmu sampai depan rumah. Jangan coba-coba untuk menolaknya."

Sakura tetap keukeuh pada pendiriannya. "Aku harus belanja bulanan dulu, sensei. Jadi cukup turunkan saja di halte itu."

Keduanya saling menatap selama beberapa detik, sebelum Sasuke menepikan mobilnya di bahu jalan. Ia akan mengalah untuk kali ini saja. Lagipula ia kan lebih tua dari Sakura? Jadi anggap saja kali ini ia berperan sebagai sosok orang dewasa yang gemar mengalah.

Sakura segera turun dari mobil. Ia membungkuk sekilas pada Sasuke yang masih bercokol di dalam sana. "Trimakasih atas tumpangannya, Sasuke sensei.. maaf merepotkan,"

"Hn," gumam Sasuke, "Kau berangkat jam berapa?" tanyanya kemudian.

"S-sensei tidak perlu menjemputku.."

"Siapa yang mau menjemputmu?" tanya Sasuke datar. Sakura menatapnya bingung. "Aku hanya bertanya, bukan bermaksud untuk menjemputmu. Besok ada ulangan jam pertama, pastikan kau tidak terlambat lagi."

Sakura tertawa kikuk karena sadar ia telah besar kepala hanya karena pertanyaan Sasuke tadi. Padahal maksud Sasuke itu hanya untuk menegurnya agar ia tidak terlambat masuk kelas lagi. Karena malu yang sudah tak kuasa ia bendung lagi, Sakura lebih memilih untuk kabur dari hadapan Sasuke secepat yang ia bisa. Ia harus menyembunyikan wajahnya yang konyol itu sebelum habis dicemooh Sasuke.

Alasan Sakura untuk berbelanja tidaklah bohong. Karena ia sekarang memang tengah berjalan di antara susunan rak-rak yang menjual bahan makanan. Tangannya meraih sekotak susu dan memasukkannya ke dalam troli. Ia kembali mendorong benda itu menuju rak yang lainnya. Namun suara decakan terdengar mengganggu saat ia hendak memutuskan untuk mengambil camilan rasa ayam atau sapi. Kepalanya menoleh tepat di samping kirinya dan menemukan surai merah bata yang tengah membelakanginya. Sakura mendorong trolinya mendekat ke arah laki-laki berpakaian kasual yang ternyata adalah Gaara itu.

"Gaara-san?" tegur Sakura pelan. Walaupun pelan, tapi ia dapat melihat dengan jelas kalau Gaara sedikit terlonjak di tempatnya. Iris jade milik Gaara melebar saat tahu bahwa orang yang mengurnya tadi adalah Sakura.

"Astaga, kupikir tadi siapa yang menegurku." Kata Gaara tampak lega.

"Memangnya kenapa kalau bukan aku yang menegurmu?"

"Lupakan, Sakura. Tidak usah membahasnya. Kau baru pulang?" tanya Gaara.

Sakura mengangguk ringan. Kemudian matanya bergulir pada barang yang sedang berada di kedua tangan Gaara. Yang kanan pasta tomat sedangkan yang kiri pasta cabai. Tampaknya Sakura sedikit paham akan kondisi Gaara sekarang. "Butuh bantuan?" tawar Sakura saat melihat raut wajah Gaara yang tampak kebingungan. Jarang-jarang ia melihat sosok Gaara yang selalu cool sehari-harinya, kini kelihatan payah hanya karena pasta tomat dan pasta cabai.

Gaara mengangguk tanpa berpikir dua kali. Ia memang benar-benar butuh bantuan, tapi terlalu gengsi untuk sekedar bertanya pada orang lain. "Ibu memintaku membeli bahan untuk membuat pasta entahlah aku lupa namanya. Tapi sialnya, daftar belanjaannya tertinggal di rumah."

Sakura mau tertawa tapi Gaara sudah keburu memelototinya. Jadi ia hanya berusaha meredam tawanya di balik punggung tangannya.

"Puas menertawakanku?"

"T-tidak," sanggah Sakura. Masih tersisa sedikit kekehan dari bibirnya, "A-aku tidak bermaksud menertawakanmu, Gaara-san.. hanya saja, mungkin keadaan seperti ini sangat tidak mencerminkan keseharianmu,"

Gaara mengangkat bahunya acuh, "Yeah, ini juga terpaksa."

"Jadi sudah sampai mana belanjaanmu?" Sakura bertanya sambil mengintip isi troli milik Gaara. Ia langsung menghela napas saat di bawah sana tidak ada satu barangpun yang teronggok. "Kau tidak mencoba mencarinya di internet?"

Gaara mendengus, "Ponselku juga ketinggalan. Jangan tertawa!" tegurnya saat melihat gestur Sakura yang siap meledakkan tawa.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya kencang. Setelah rasa menggelitik di perutnya sudah reda, Sakura kembali bertanya kira-kira apa yang akan dimasak oleh ibu Gaara. Tapi lelaki bertato ai itu hanya menggeleng. Akhirnya Sakura meminta Gaara untuk mengikutinya saja.

"Sepertinya kau suka memasak," gumam lelaki yang sedari tadi mengekori langkah Sakura sambil mendorong troli yang kini sudah terisi.

Sakura mengangguk mengiyakan. "Aku adalah satu-satunya wanita di rumah, jadi aku harus terbiasa memasak, kalau tidak mau mati kelaparan,"

"Kau tidak tinggal dengan orangtuamu?"

Gerakan tangan Sakura tertahan di udara saat hendak mengambil sekotak creamer. Gaara yang berada di belakangnya tidak tahu perubahan di wajah Sakura. Lama berselang, namun akhirnya Sakura menjawab, "Orangtuaku sudah lama.. meninggal," seraya mengambil creamernya dan meletakkan ke dalam troli milik Gaara.

Gaara tidak tahu harus menyahuti bagaimana. Ia tidak pandai dalam berbicara. Salah-salah, nanti ia malah akan menyakiti perasaan Sakura. Jadi ia hanya diam saja sambil memperhatikan punggung Sakura yang mulai bergerak menjauh. Entah kenapa, hanya dengan melihat punggung sempit itu, Gaara seperti terpanggil untuk melindunginya.

Mereka masih diam-diaman, bahkan sampai di depan kasir. Gaara sampai tidak tahu apa saja yang di ambil Sakura dari rak-rak yang telah dilaluinya tadi, karena ia hanya sibuk dengan pikirannya. Ia segera menyusul gadis itu setelah membayar seluruh belanjaannya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat punggung gadis itu berjalan menuju halte.

"Sakura."

Gadis yang dipanggil mendongak. "Kukira kau sudah pulang tadi,"

Gaara mendudukkan dirinya di sebelah Sakura. Kantung kertas berisi belanjaannya ditaruh di sebelah kanannya. Ia melirik pada belanjaan Sakura yang terlihat sedikit di matanya. Ia bisa melihat roti yang menyembul dari dalam.

"Sakura, aku bertrimakasih padamu. Kalau kau tidak ada, mungkin saat ini aku masih berdiam diri di supermarket itu."

"Sama-sama," Sakura tertawa kecil, "aku juga bertrimakasih karena aku jadi punya teman berbelanja."

Suara lalu lalang kendaran di depan mereka tak ada habisnya. Menjadi latar suara bagi keduanya yang kembali sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Sakura, aku minta maaf tentang orangtuamu tadi. Aku tidak tahu." Ucap Gaara dengan pandangan lurus ke depan. Memperhatikan mobil-mobil yang melaju konstan lebih baik daripada menatap manik Sakura. Ia merasa tak akan sanggup mengahadapi seorang gadis yang tengah melankolis.

Namun Sakura sama sekali tidak menunjukkan raut melankolis sedikitpun. Sakura tersenyum sambil melakukan apa yang tengah dilakukan oleh Gaara, memperhatikan kendaraan roda empat. "Tidak perlu minta maaf, Gaara-san. Kau sama sekali tidak bersalah. Kau kan hanya bertanya,"

"Kau tahu? Kalau ada hal yang hanya bisa dilakukan oleh seorang laki-laki, katakan saja padaku."

Sakura mau tak mau tertawa mendengar perkataan Gaara barusan. Untuk sejenak ia melupakan fakta bahwa karena lelaki inilah ia menjadi korban bully di sekolah. "Aku sudah terbiasa melakukan semua pekerjaan seorang diri. Tapi, trimakasih atas tawarannya.."

Gaara menoleh pada Sakura yang tengah mengulas senyum kecil di bibirnya. Senyum kecil yang berarti banyak baginya. Kebahagiaan ada, kepahitanpun juga ada. Gaara sama sekali tak keberatan jika harus membuat gadis itu terus tersenyum. Asalkan itu adalah senyum bahagia.

Dan ucapan 'Kau cantik,' setelahnya, membuat Sakura membeku di tempat. Kepalanya menghadap laki-laki yang mengatakannya.

Gaara tersenyum tipis saat melihat rona kemerahan menghiasi pipi tirus Sakura. Ia menjumput helaian merah muda Sakura, lalu berkata, "Kau cantik. Teruslah tersenyum, Sakura."

.

.

.

.

Shion dan Tayuya berusaha memegangi lengan Karin karena gadis berkacamata itu berjalan sempoyongan saat keluar dari sebuah bar. Mereka terlihat kepayahan memapah temannya itu. Karin terus meracau tentang ini dan itu. Tapi dari sekian banyak racauan itu, nama Haruno Sakura lah yang paling banyak keluar.

"Astaga, Karin-chan! Kenapa kau bisa mabuk begini?" gerutu Shion kesal. Ia sedikit menyentak lengan Karin agar tidak terjerembab.

Tayuya merogoh ponsel dari dalam tasnya, lalu menghubungi supir pribadinya. Setelah sambungan terputus ia ikut mengamati wajah Karin yang sudah sepenuhnya merah. "Ditampar Haruno saja ia sudah mabuk begini, bagaimana kalau Haruno balik membully-nya?"

"Kurasa Karin-chan akan harakiri?" tebak Shion sekenanya. "Tapi mana mungkin itu terjadi. Menatap mata kita saja, gadis itu tidak berani!"

Tayuya memutar bola matanya malas. Namun tak lama kemudian, seringai keji tersungging di bibir merahnya. "Well, aku tahu cara membalas kelakuan si Haruno itu."

Shion yang kebingungan segera mengikuti ke mana arah pandangan Tayuya. Keduanya langsung melempar seringai sebelum melangkah menuju mobil limosin hitam yang terparkir tak jauh dari sana.

.

.

.

.

TBC

Say hello lagi untuk yang sudah nyempetin baca, apalagi mau repot-repot review. Ternyata jadi author baru itu mendebarkan. Deg-degan tiap ada email masuk ke hp. Wqwqwq lebay pula Omeng ini

Nampaknya chp ini kepanjangan ya? Maaf ya kalau ada yang tiba-tiba ketiduran waktu bacanya wqwqwq

Thx a lot for review, follow, or favourite for this story. I just can't explain how much I like it! ^^ see ya!

With love,

Omengski