Rewrite The Stars

Erehisu Fanfiction | By Prominensa

Suatu hari, kau akan bertemu dengan seseorang yang berpengaruh besar dalam kisahmu. Seperti sebuah bintang dan supernova; saat waktunya tiba, ia akan meledak dan sangat menawan. Berkesan. Tragedi. Tak bisa hilang dari memori.

Disclaimer: Karakter pada animanga Attack on Titan adalah milik Hajime Isayama | Penulis tidak mengambil keuntungan dalam membuat fanfiksi ini

Warning: Sifat pada karakter di dalam fanfiksi ini disesuaikan dengan imajinasi penulis. Pun plot dan settingnya. Merupakan alternate universe dan berpotensi out of character.

P.s: Eren berusia 27 tahun dan Historia berasal dari 8 tahun ke depan.

[]

Selamat Membaca

((Chapter 2))

[]

Aku memaksa bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Mencuci wajahku dengan air dingin, sekaligus mandi. Kemudian berendam sebentar di bath up dengan air hangat. Meninggalkan perempuan aneh itu dan berharap ia pergi saat aku keluar dari sini. Kerena ini aneh. Sangat-sangat aneh. Bagaimana mungkin ada yang bisa menjelajah waktu. Semua itu hanya ada di film. Ini bukan sedang syuting film Narnia atau Interstellar. Omong kosong dengan si Pirang itu. Aku tahu dia cantik, tapi aku tidak akan tertipu. Ngomong-ngomong, aku curiga dengan Zeke. Pasti dia menbayar perempuan ini untuk datang kemari. Merencanakan omong kosong ini. Mengerjaiku dalam keadaan setengah mabuk. Ini curang.

Terlalu banyak pikiran yang membuatku semakin kesal dan tidak sabar untuk bertanya kepada Zeke. Sambil membelit handuk di pinggul, aku berjalan keluar dari kamar mandi dan mencari ponselku. Kulihat ia sedang berada di dapur. Mungkin menyiapkan sarapan. Aku tidak peduli. Meskipun samar-samar aku mencium aroma bacon dan buah-buahan.

Setelah lama mencari ponselku, segera aku mencari nomer telepon Zeke dan menghubunginya. Cukup lama menunggu si Bangsat itu mengangkat telepon. Aku pun sempat mengumpat di sela-sela dering karena tidak sabaran. Dan akhirnya, kotak pesan suara yang menyambutku. Sial.

"Dengar, Zeke! Kau benar-benar brengsek. Apa yang kau lakukan, huh? Mengerjaiku dengan membayar seorang perempuan. Hei, Bung! Itu sama sekali tidak lucu." Aku menjeda lima detik sebelum meneruskan, "kau harus menjelaskan semuanya. Hubungi aku setelah kau mendengar pesan ini. Aku tidak ada waktu untuk hal aneh yang kau rencanakan."

Kulempar ponsel itu ke atas ranjang. Aku merasa kesal karena Zeke tidak bisa dihubungi di saat-saat seperti ini. Mungkin dia sibuk atau memang sengaja melakukan ini. Sungguh tak bisa diandalkan. Aku berdecak. Kemudian mengenakan pakaian dan berjalan menuju perempuan itu. Aku lupa dia ada di sana. Tidak seharusnya aku berkeliaran sambil bertelanjang dada seperti barusan. Bagaimana jika dia bergairah dan mau memperkosaku? Mengingat aku masih perjaka. Apalagi dunia terasa semakin aneh akhir-akhir ini. Semuanya bisa saja terjadi. Seperti penipuan dengan kedok 'istri di masa depan' tentunya.

"Hei, siapa namamu?" tanyaku ketus. Aku mengambil gelas dan membuka pintu kulkas. Menuang air dingin dan mereguknya dalam beberapa detik. "Apa Zeke menyuruhmu melakukan ini? Apa kau dibayar olehnya?"

Dia menoleh sambil tersenyum. Ekspresinya seperti tidak peduli bahwa aku sedang kesal. "Namaku Historia Reiss. Profesor Zeke tidak membayarku, Eren."

Aku melotot dan hampir saja menyemburkan air. "Profesor? Kau mengenal Zeke di kampus?"

"Ya, selain sebagai kakak ipar yang baik. Zeke adalah profesor yang mengajar di tempat aku kuliah."

"Kau mengenalnya. Mungkin kau juga bersekongkol dengannya." Kuputar bola mataku untuk memandang pancake di atas piring yang ia pegang. Terlihat lezat dan menarik. Perutku berbunyi pelan, tapi aku tak yakin Historia mendengarnya.

"Aku tidak bercanda saat bilang dari masa depan. Begitu juga tentang Zeke. Dia tidak membayarku untuk ini." Historia meletakan piring itu di atas meja. Menatanya dengan sangat rapi. Ada secangkir madu di dekat piring. Semakin membuatku tidak sabar untuk mecicipinya. "Kau sudah tidak mabuk, 'kan? Lebih baik kita sarapan sekarang. Waktunya tidak banyak."

To be continue

Author note:

Terima kasih atas reviewnya. Mohon maaf jika tiap chapter akan ditulis dalam jumlah words yang sedikit.