LOVE SICK
Chapter 2
Main Cast : Park Jimin, Min Yoongi, BTS member, other
Genere : Humor, Romance, School, Friendship
YAOI don't like don't read !
"Chim Oppa, ini siapa?"
Suara itu membuatku merinding bukan kepalang. Tentu saja aku mengenalinya. Aku tahu pasti siapa gadis ini, dengan mukanya yang polos dan kelicikannya yang tersembunyi dalam matanya, nampak bingung berdiri di belakang Jimin.
Itu dia! Park Jihyun sang Legendaris!
Udah terlambat kan kalau mau mengirim sinyal betmen buat minta tolong?!
Aku terkejut karena melihat gadis imut ini bagai melihat setan. (Tapi sejujurnya, setan pun lebih baik kalau dalam situasi saat ini.) Sementara itu, nampaknya Jimin berhasil mengendalikan situasinya. (Kayaknya?) Dia cuma mengambil satu napas dalam-dalam sebelum balik badan dan memberikan senyuman ke adik perempuannya.
Woi… Bro. Bisa nggak sih kamu nggak kelihatan 'bahagia' gitu? Aku… ketakutan…
"Lhoo, tadi bilangnya mau tidur?" Aku mengernyit saat suara lembutnya Jimin menyapa adiknya. Pantas, tidak heran kalau gadis-gadis di sekolah khusus perempuan itu, klepek-klepek terhadapnya. Pikiran itu menyeruak masuk kedalam otak saat aku mengangkat alis mataku pas dia menepuk lembut kepala adiknya yang masih SMP. Jimin memang kakak yang baik. Entah kenapa, gambaran keadaan ini membuatku sedikit santai. Aku tidak bisa menjelaskan kenapa.
"Aku tidak bisa tidur, jadi aku turun kesini untuk menunggu Ayah pulang. Tapi kemudian ada kalian." Si kecil pembawa masalah itu menjawab namun terus menatapku dari tadi. Ya kan, aku kelihatan familiar bukan? (Terakhir kali aku melihatnya yaitu saat kompetisi sepak bola tahun lalu. Jihyun datang untuk menemui Jimin, Jimin sedang mengurusi barang-barang. Sementara itu, aku sedang beraktivitas dengan band-ku. Aku sendiri yang memanggil Jimin untuk Jihyun.)
Aku tersenyum lebar dan ramah, sampai berhasil menunjukkan ke-32 buah gigiku. (Aku sempat berpikir akan menyobek gusiku) Aku melihat Jimin berbalik kearahku dan dia ikut-ikutan tersenyum. Rasa dingin langsung menjalar keseluruh tubuhku.
"Oh, ini… 'teman'-ku main kesini." Dia berbalik lagi ke Jihyun. Kenapa kata teman-nya di jelas-jelasin gitu sih? (Bahkan sampai pelan-pelan menyebutnya)
"Teman?" Aku bisa melihat tatapan nakal di matanya Jihyun. Semua rasanya mulai serba salah sekarang bagiku. Apakah dua bersaudara ini sedang ngerjain habis-habisan diriku saat ini?!
"Sebenarnya…" Jimin bicara saat menoleh ke Jihyun, tapi tetap mencuri pandang kearahku disaat bersamaan. Nampaknya dia sama sekali tidak peduli dengan tatapanku yang sedang panik ini!
"Katanya kamu ingin bertemu Yonngi Hyung, jadi aku minta dia datang kesini." Apa-apaan?! Kalau berani, tatap mataku dan bilang sekali lagi! Aku bakal habisi orang ini! Bajingan! Aish! Bocah brengsek! Dia harus hati-hati mulai dari sekarang!
"Aku ingin bertemu Yoongi Oppa?"
"Kamu bilang kan… kalau ingin bertemu dengan pacarku, iya kan?"
Sejak kapan aku setuju dengan semua ini!?
Apakah aku emang amnesia atau kamu cuma mengada-ada saat ini!?
Aku sudah mau berdiri dan memukul kepalanya, tapi dia menarik dan menggenggam lembut tanganku sebelum aku bisa melakukannya.
Jadi inilah takdir hidupku…?
Akhirnya aku diseret masuk ke dalam rumah keluarga Park. (Jangan salah, tadi aku juga sudah mencoba memberontak.) Dua bersaudara ini sama-sama anoying. Sekalinya Jihyun tahu kalau aku bakal jadi kakak iparnya, (Aku udah mulai gila disini!) dia memaksa kakaknya untuk mengambil segelas air untukku. (Kenapa nggak Jihyun sendiri aja sih?) Kalau Jimin, dia selalu mendukung adiknya. Jimin juga bilang kalau diluar nanti digigit nyamuk. (Semuanya bakalan lebih sederhana, kalau kamu membiarkan aku pulang Jimin!)
Jelas, aku selalu kalah kalau beradu argumen. Ada pepatah "Mulutmu tenggelam, kangkungnya hanyut terbawa air.*" Sekarang Aku akhirnya paham apa artinya pepatah itu. (Eh, pepatahnya benar nggak ya?) Jadi sekarang aku duduk manis di sofa ruang keluarga Park. Sementara itu, Jihyun duduk di sofa lain didekat kami. Kalau Jimin… dia duduk dekat sekali denganku, sampai bisa dibilang dia memangkuku.
"Kenapa sih kamu deket-deket gini?! Panas tau!" Aku berbisik ke Jimin agar Jihyun yang sedang melihat Drama Barat tidak mendengarnya. Si bajingan ini memandangku sambil memasang mimik muka mengejek.
"Kamu kepanasan? Suhu AC-nya perlu aku turunin?"
"Nggak! Minggir aja sana!" Kenapa dia tidak bisa berpikir yang lebih sederhana sih? -_-"
Malah dia memberi senyuman licik. "Mana bisa aku minggir? Kita harus 'meyakinkan', Hyung." Meyakinkan apanya!? Dia yang selalu melakukan segalanya diluar kehendakku!
"Kamu ngomong apaan sih? Geseran lah!" Aku mulai sedikit kasar kepadanya. Aku pantang menyerah agar dia mau memberikan jarak dariku. Dia mendengar dan nampaknya kali ini dia mau memenuhi keinginanku.
Aku menghela napas keras-keras karena akhirnya Jimin mau bergeser sedikit (walaupun kami masih duduk bersebelahan satu sama lain). Tapi kelegaan itu tidak berlangsung lama karena Jimin memutuskan untuk mencondongkan badannya ke arahku dan menaruh lengannya di pundakku!
Lo bercanda, men?!
Aku sadar sekarang Jihyun mengamati kami. Matanya bersinar namun ada yang aneh tentang pancaran itu. Nampaknya saat ini dia dipenuhi dengan kehangatan dan kebahagiaan, tapi aku tidak bisa benar-benar menjelaskannya. Tapi apapun itu, tanganku sekarang merinding.
Tolonglah Jihyun, nonton televisinya saja! T_T
"Yoongi oppa, kamu nanti pulangnya gimana? Ini udah terlalu malam." Jihyun meluncurkan pertanyaan kepadaku. Tapi… apakah ada sesuatu yang ganjil tentang pertanyaan itu? Nggak, nggak, nggak. Ini tidak bagus. Aku harus mengubah arah pembicaraannya, agar lebih aman. Aku memeriksa jam tanganku dan sadar sebenarnya ini memang sudah terlalu malam. Saatnya kabur dari neraka level 18.
"Aku naik sepeda motor kesini. Mungkin aku harus pulang saat ini juga. Dah, Jimin." Aku berbalik sambil melambaikan tangan ke kakak dari pembuat-masalah-itu yang juga akan berdiri untuk mengantarkan aku ke gerbang rumah. Tapi nampaknya si adik pembuat masalah itu tidak rela melepaskanku dan membiarkanku bereingkarnasi dengan mudah dari sini.
"Kok kamu tega membiarkan Yoongi oppa pulang malam-malam begini sih, chim oppa?! Kalau ada apa-apa dijalan gimana!? Siapa yang mau tanggung jawab?!" Apa-apaan!? Aku 18 tahun! Aku bisa jaga diri juga, Jihyun!
"Eh…"
"Yoongi oppa, menginap disini saja? Plis? Kamu bisa tidur di kamarnya Chim oppa. Kamu tidak boleh pergi malam ini, bahaya sekali diluar." Apa yang bisa aku lakukan saat anak kucing sedang bergantung di tanganku? -_-" Kalau bisa, aku bakal menendang dan melihatnya terlempar dari arahku.
Bibir kecil itu terus-terusan bergerak dan nampaknya tidak akan berhenti dalam waktu dekat. "Oppa, kamu tidak bisa seenaknya bilang ke aku kalau udah punya pacar dan minta tolong berbicara kepada Ayah. Kalau kamu tidak menjaga Yoongi oppa, aku tidak akan membantu kakak!" Anjir! Apa-apaan ini?! Ada tanda seru di wajahku dengan ukuran 500pt, aku bisa terjatuh karena itu.
"Em, Hyung. Kamu harus menginap disini malam ini. Kalau pulang sekarang… heh… nanti bahaya. Heh… heh…" Coba lihat anak ini. Dia jelas-jelas cekikian. Anjir Jimin, kalau emang nggak mau bantu, jangan buat keadaan makin runyam. Kata-kata jorok apa yang pantas kusebutkan untuknya!?
"Mana mungkin? Besok kami sekolah. Aku tidak membawa seragam ganti."
"Kamu bisa pakai punya Chim oppa, Yoongi oppa."
"Nggak bisa dong. Nanti warna dasinya beda Jimin kan OSIS." Inilah contoh kesia-siaan. Kita lihat siapa yang memenangkan debat ini.
"Nggak papa. Songaenim jarang memeriksa hal semacam itu. Dan kalau memang besok ditanya, bilang aja kemarin kamu menginap di rumahku, jadi kau terpaksa pinjam seragamku." Kamu itu nggak membantu sama sekali, Jimin! Setan alas! Aku benar-benar tersentuh dengan kebaikanmu!
Aku tersentuh!
"…" Lidahku kelu saat ini. Aku akan diam saja. Aku tidak punya bahan sangkalan yang tersisa saat ini untuk melawan mereka.
"Kalian naik dan mandi dulu sana. Kalian berdua. Dan aku akan mencoba berbicara dengan Ayah tentang itu nanti oppa." Jihyun memberi tahu sambil mendorong punggung kami, memaksa untuk segera beranjak dari ruang keluarga sehingga kami bisa pergi menuju ke kamar bulan madu kami(?). Mata Jimin berbinar ketika mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh adiknya. Sementara itu, Aku benar-benar tertekan mengenai semua ini.
Apa maksud adiknya dengan kata 'mencoba'? Sampai kapan aku harus terjebak dalam situasi semacam ini?!
"Jangan khawatir dengan uang untuk klubmu. Aku akan menanganinya untukmu." Jimin berbisik kepadaku. Aku hampir lupa tentang hal itu.
Tapi, apakah hal itu pantas diperjuangkan sekarang?! Jawab yang jujur!
TBC
ok Song gak mau banyak cincong, makasih banget buat yang udah mau revew,, Song terharu banget tapi gak bisa balas review,, Song lagi kesel sama internet nya angker banget gak bisa update dari tadi.. happy reading guys,, maapin Song chap nya limit... besok song bakalan update yang chap nya panjang.. *bow #mewekdipojokan
