REGRET
Chapter 2
.
.
.
"Jadi besok kalian ada pemotretan iklan, mengerti?" ucap Taeyong mengakhiri ocehannya seraya berbalik.
"Yah!" Kesal Taeyong saat mendapati Yuta dan keempat temannya malah asyik sendiri. Yuta sibuk dengan ponselnya, Doyoung tergeletak lemas dilantai sambil melihat-lihat buku resep makanan, Jaehyun dan Hansol sibuk main kertas gunting batu, dan Johnny diam melamun dipojok ruangan.
Taeyong menarik nafas panjang berusaha meredam amarahnya yang mulai memuncak.
"Hey! Aku tanya kalian mengerti atau tidak?!" Bentak Taeyong, membuat semua menoleh menatapnya.
"Mengerti apanya?" tanya Jaehyun polos.
Taeyong menatap Jaehyun shock, jadi sedari tadi ia mengoceh panjang lebar tapi tak ada satupun yang mendengarkan? Keterlaluan!
"Bisa kau ulang, hyung?" ucap Doyoung dengan senyum manisnya.
Taeyong mengacak-acak kesal rambut hitamnya.
"Sebesar itu kah rasa tidak suka kalian padaku, hah?" ucap Taeyong.
Semua terdiam mendengar perkataan Taeyong.
"Yah, Yuta?" Taeyong menoleh menatap Yuta menyuruh laki-laki itu menjawab pertanyaannya, karena dia lah orang yang kemarin menolak Taeyong dengan keras.
Yuta balik menatap Taeyong tanpa berkomentar apapun, karena Yuta sendiri bingung mau berkata apa.
"Kenapa diam? Kenapa kalian tidak jawab?" tanya Taeyong kesal.
"Aku tau aku sangat muda untuk mengatur-atur hidup kalian, tapi semuanya sudah terlanjur. Aku sudah menjadi menejer kalian, jadi bisakah kalian menghargaiku? Setidaknya dengarkan kalau aku sedang bicara, karena ini untuk kepentingan kalian juga."
Yuta masih terpaku menatap Taeyong yang kini sudah tidak menatapnya. Lagi-lagi perkataan Taeyong itu mampu membuat Yuta terkagum, dan lagi-lagi Taeyong berhasil membuat Yuta merasakan sesuatu yang membingungkan dihatinya. Disatu sisi Yuta dapat menerima Taeyong untuk menjadi manajer mereka, tapi disisi lain ada sebuah rasa yang seakan melarang Yuta untuk menerima laki-laki itu. Tapi apa itu? Yuta pun tak tau.
"Heung.. hyung maafkan kami, kami sedang tidak konsentrasi. Kau kan tau kami sangat lelah sepulang dari Jepang, dan aku saat ini sedang lapar jadi tak konsentrasi. Maaf." ucap Doyoung.
Taeyong menghela nafas panjang lalu tersenyum tipis saat mendengar jawaban Doyoung yang terdengar tulus dan tidak mengada-ngada. Ia mengambil ponselnya dari dalam saku celana lalu menelepon seseorang.
Beberapa menit berlalu, dan tak ada satu pun yang bicara. Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Taeyong sibuk membaca berkas-berkas mengenai NCT, Johnny masih tetap melamun entah memikirkan apa, Doyoung masih tergeletak di lantai menahan lapar, Jaehyun dan Hansol sibuk melakukan hal aneh, sedangkan Yuta? Sedari tadi ia terus menatapi Taeyong. Entah mengapa, yang jelas Yuta masih tidak mengerti ada apa pada diri manajer barunya ini yang dapat membuat perasaannya menjadi aneh dan membingungkan itu.
Tok Tok Tok..
Semua menoleh kearah pintu saat mendengar ketukan.
"Akhirnya datang juga." ucap Taeyong senang lalu segera membuka pintu, dan ternyata yang mengetuk adalah seorang pengantar makanan. Taeyong segera mengambil makanan yang dipesannya tadi lalu kembali masuk dan menutup pintu.
"Semuanya ayo kita makan dulu.." Ucap Taeyong semangat seraya meletakkan makanan yang dipegangnya di tengah ruangan.
"Makan?" Doyoung yang sedang tergeletak lemas langsung bangun dengan semangat dan menghampiri Taeyong, Begitupun dengan Hansol dan Jaehyun. Taeyong sibuk menghidangkan makanan saat tiba-tiba ia tersadar kalau Johnny dan Yuta tak ikut bergabung.
"Johnny ayo makan." Ucap Taeyong, yang dijawab hanya dengan anggukan oleh Johnny.
Lalu Taeyong menoleh pada Yuta dan seketika ia langsung membeku saat mendapati Yuta tengah menatapnya tajam. Entah mengapa Taeyong merasa familiar dengan tatapan itu, Taeyong merasa sering melihat tatapan itu.
Tapi kapan?
"Kau tidak makan?" Taenya Taeyong datar.
"Nanti saja." Jawab Yuta singkat seraya mengalihkan pandangannya dari Taeyong.
"Kalian makanlah aku mau keluar sebentar." ucap Taeyong segera melangkah menuju pintu, tapi langkahnya tiba-tiba terhenti.
"Jangan sampai ada yang tidak makan, kalian harus menjaga kondisi tubuh kalian, jangan sampai perut kalian bermasalah!" ucap Taeyong lalu kembali melanjutkan langkahnya.
.
.
"Jangan sampai perut kalian bermasalah!"
Deg!
Johnny terdiam mendengar perkataan Taeyong. Hatinya serasa ditusuk oleh beribu-ribu duri saat mendengar perkataan itu.
Perkataan yang dulu sering ia dengar, perkataan yang dulu sering di ucapkan oleh seseorang. Seseorang yang saat ini ada didalam hati Johnny. Orang yang saat ini membuat Johnny selalu dihantui oleh rasa penyesalan.
"Orang itu.." Johnny tiba-tiba teringat dengan laki-laki yang tadi dilihatnya di ruang latihan artis baru. Sekarang Johnny sadar kalau laki-laki tadi mengingatkannya pada seseorang di masa lalunya, seseorang yang kini membuatnya dihantui oleh rasa penyesalan.
.
.
Taeyong menatap wajahnya dicermin.
"Ada apa ini?" ucap Taeyong saat mengingat tatapan Yuta tadi. Ditambah dengan sikap Yuta yang tak seperti kemarin, marah-marah dan merendahkannya seenaknya.
Tadi, saat ia mendapati Yuta sedang menatapnya, kenapa tiba-tiba ia berdebar? Taeyong menepuk-nepuk dadanya pelan, merasa aneh dengan dirinya yang tadi sebenarnya salah tingkah karena tatapan Yuta.
Tidak mungkin kau menyukainya kan Lee Taeyong? Sadarlah! Ucap Taeyong dalam hati.
Taeyong membasuh mukanya beberapa kali dengan air, berusaha menghilangkan bayangan Yuta yang terus berputar-putar dibenaknya. Saat tiba-tiba..
"Akh!" Taeyong memegangi kepalanya yang tba-tiba terasa pusing. Sesuatu tiba-tiba muncul dibenaknya, kejadian sepuluh tahun lalu. Taeyong memegang dadanya yang tiba-tiba saja menjadi sesak.
Tatapan Yuta tadi kembali berputar-putar dibenaknya, tapi… sekarang kenapa terasa sesak? Kenapa tiba-tiba Taeyong merasakan sesak dihatinya?
Tatapan itu? Aku pernah melihatnya dimana? pikir Taeyong.
"Akhh… omm..a.." Taeyong memejamkan matanya yang mulai terasa panas. Kejadian sepuluh tahun lalu begitu menyakitkan baginya, dan ia tak mampu menahan rasa sakitnya bila mengingat kejadian itu.
Tapi kenapa aku bisa kembali mengingat kejadian itu? Setelah bertahun-tahun aku berhasil melupakan kejadian itu. Kenapa sekarang muncul lagi? Apa tatapan Yuta yang membuatku teringat kembali?
"ARGH!" Taeyong berteriak sekencang mungkin, dadanya semakin terasa sesak.
Benci..
Dendam..
Rasa itu kembali menghantui Taeyong, dan ia tidak suka perasaan itu. Taeyong tak mau memiliki dendam. Ia tak mau membenci siapapun, tapi…, kejadian sepuluh tahun lalu memaksanya untuk memiliki rasa dendam dan kebencian.
"Ya tuhan ada apa ini… sakit sekali.." ucap Taeyong lirih. Perlahan air matanya jatuh, sekujur badannya lemas. Ia terduduk di lantai. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya saat ini.
.
.
Taeyong menatap jam ditangannya. Sudah sekitar setengah jam ia menunggu didepan gedung apartement tapi kelima laki-laki itu tak kunjung muncul. Dan yang bisa Taeyong lakukan sekarang hanyalah menunggu karena ia tak punya nomor telepon member NCT, ditambah lagi dia tak belum tahu dimana letak apartement mereka.
"Kemana mereka ini? Lihat saja nanti akan ku jitak mereka satu-satu.." gerutu Taeyong.
Drrrtt Drrtt…
"Halo?" ucap Taeyong.
"Hyung! Kau ada dimana?"
"Doyoung? Dari mana kau tau nomor ponselku?"
"Dari Irene noona. Kau dimana sekarang? Kami sudah berangkat dari tadi."
"Apa?!" Kaget Taeyong. Jadi dari tadi ia melakukan hal bodoh? Menunggu setengah jam didepan gedung apartement sedangkan mereka sudah pergi dari tadi.
"Iya. Tapi, ada satu masalah.."
"Apa?" tanya Taeyong.
"Yuta hyung masih ada di dorm, bisa kau jemput dia? Lantai lima nomor 5102.."
Taeyong terdiam mendengar nama Yuta. Tatapan laki-laki itu kembali terngiang di benaknya.
"Hyung?"
"Eh ya, ya aku akan menjemputnya," ucap Taeyong.
"Terimakasih hyung, sampai bertemu di lokasi pemotretan, bye!"
"Bye.."
Taeyong kembali terdiam menatap kosong ponselnya saat tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Taeyong menoleh dan sedikit kaget saat melihat Yuta sudah berdiri dihadapannya, "Yuta?"
"Ayo berangkat." ucap Yuta yang langsung masuk kedalam mobil Taeyong.
.
.
Mark menatap tajam sebuah poster di tangannya.
Nakamoto Yuta..
Mark menatap wajah Yuta diposter itu dengan penuh amarah. Tangannya perlahan meremas poster itu.
Nakamoto Yuta.. kau tau kebodohanmu menerima hyung ku sebagai menejer grup mu? Kau.. dan grub mu.. akan hancur ditangan menejermu sendiri. Mungkin saat ini memang tak ada apa-apa karena hyung masih tak tau apa-apa, tapi suatau saat, cepat atau lambat hyung akan menyadari semuanya dan kau…, kau akan mendapatkan takdirmu..
Kebencian Mark terhadap Yuta telah membutakan seluruh perasaannya. Sejujurnya Mark tak pernah mau seperti ini, membenci Yuta atau siapapun. Tapi lagi-lagi kejadian di masa lalu memaksanya untuk membenci Yuta. Kejadian sepuluh tahun lalu telah memaksanya untuk memiliki dendam pada Yuta.
Pintu mobil terbuka. Mark dengan cepat meremas poster ditangannya dan memasukkannya ke dalam ransel.
"Maaf membuatmu menunggu lama.."
"Tidak apa-apa hyung." Mark tersenyum tipis.
"Kita berangkat sekarang?"
Mark menggangguk, lalu Ten menyalakan mesin mobil dan segera melesat pergi.
-To Be Continue-
…
Akhirnya chapter 2 selesai juga. Membingungkan kah? Ya.. memang itu tujuanku, membuat para readers bingung dan penasaran muahaha. Kalau gak bingung ntar gak rame hehehe^^
Ditunggu chapter 3 nya ya!
Jangan lupa tinggalin jejak kalian.. maaf gak bisa kubalas satu-satu tapi aku baca sambil tersenyum bahaagia kok, percayalah hehe.. ^^
