If I Love You Too (REMAKE)

Part 1 Bagian 2

Written by : Rieyo / Rie Nakamaru

Remake by : The Silmarill2196

Pair : Lee Jeno x Hwang Renjun

This story is belong to Rie Nakamaru and This story I dedicated to myself.

.

.

.

Mataku mulai agak memberat ketika kusadari sudah hampir satu jam aku duduk di sini dengan buku ensiklopedia terpampang dihadapanku.

Aku menggerakkan tubuhku, sedikit menggeliat untuk menghilangkan pegal, kemudian seperti biasa aku menyibakan rambut depan ku kebelakang yang sudah mulai menutupi mata. Pertanda aku mulai bosan.

"Ya, Lee Jeno?" sapaan seseorang yang cukup kukenal membuat ku tak jadi menguap. Aku menoleh dan mendapati Seo Herin teman ku yang berjalan mendekatiku.

Perempuan itu memandangku takjub sekaligus mengejek. Aku tahu, dia pasti tak percaya melihatku ada di perpustakaan disaat jam kuliah telah selesai seperti ini.

"Eoh, Seo Herin," ujarku sambil menutup buku ensikopedia yang sebenarnya daritadi tidak kubaca. Hanya melihat gambarnya saja untuk membunuh waktu.

"Apa aku tidak salah melihatmu disini? Di perpustakaan?" ujar Herin.

Benarkan yang kubilang tadi? Dia tidak percaya aku ada di perpustakaan.

Herin duduk didepanku dan masih mengamatiku dengan aneh. Aku hanya memutar bola mataku.

"Memangnya kenapa? Aku juga berhak membaca buku disini," sahutku tak acuh.

Herin tertawa pelan. Dia mengulurkan tangannya dan merapikan rambut depanku yang tidak beraturan.

"Aku yakin kau hanya tidur disini," Herin meledekku.

Kami memang berteman cukup akrab. Aku mengenal Herin sejak masa orientasi mahasiswa kami dimulai. Kami satu kelompok pada saat itu. Dan nyatanya kami berada dikelas yang sama. Jodoh memang tidak ada yang tahu.

"Apa yang kau lakukan disini?" Herin akhirnya bertanya karena aku tidak menggubris ledekkannya.

"Membaca." Lagi-lagi aku menjawab pendek saja.

Herin mulai mengeluarkan buku catatan dan pulpennya.

"Apa yang kau kerjakan?" aku balik bertanya karena penasaran.

"Aku sedang menyalin tugas dari buku catatan Hwang Renjun," jawab Herin sambil tersenyum tanpa dosa, dia menunjukan sebuah kertas yang telah di photocopy.

Buku tugas Renjun memang selalu di photocopy oleh teman-teman sekelas kita, Renjun biasa mengerjakan tugasnya setelah kegiatan pembelajaran selesai.

"Kapan kau akan cerdas jika kerjaanmu hanya mencontek, Herin-ah?" Aku balas mengejek, padahal aku juga berencana untuk menyalin tugas dari kekasihku itu nanti malam.

Benar, aku sudah mempunyai kekasih lagi sejak seminggu yang lalu. Tapi tak ada yang tahu. Hanya aku dan Renjun saja yang tahu. Aku jelas tak siap jika semua orang tahu bahwa aku sekarang kekasish seorang Hwang Renjun. Aku masih tak bisa membayangkan bagaimana keterkejutan mereka.

Pasti tak akan ada yang menyangka jika seorang Lee Jeno, yang selama ini mereka tahu biasa dekat dengan para gadis, sekarang menjalin hubungan yang spesial dengan seorang laki-laki. Sudah pasti mereka akan men judge ku bahwa aku juga adalah seorang Gay. Dan apakah aku ini seorang Gay atau bukan? Sial!

Jujur saja, sejak seminggu yang lalu aku meng iyakan keinginan Renjun untuk menjadi kekasihnya, aku merasa menjalani hidupku seperti mimpi. Setiap hari Renjun akan mengrimi ku pesan singkat yang penuh dengan perhatian dan semangat, bahkan terkadang kami bertelepon hingga larut malam.

Aku tidak risih, tapi aku masih merasa.. aneh. Mungkin aku perlu bicra pada seseorang yang juga sedang menjalani keadaan sepertiku, tapi siapa?

Aku hanya punya beberapa teman dekat yang bisa kuajak untuk berbagi cerita tentang apa yang aku alami. Salah satunya adalah perempuan didepanku ini, tapi apa aku bisa bercerita pada Herin tentang hubungan ku dengan Renjun?

Walau selama berteman aku tak pernah canggung menceritakan apapun padanya, tapi aku merasa hal ini akan sangat beresiko.

"Yya! ponselmu bergetar," sebuah sentilan kecil dikening, membuatku tersadar, aku jadi termangu dengan dagu diatas meja dan mataku keasikan mengamati gerakan tanga Herin yang sedang menyalin.

Aku nyaris tak merasakan ada getarandari ponsel yang aku simpan diatas meja. Herin sudah akan mengambil nya, tapi beruntung aku lebih cepat.

Aku membuka kunci ponselku dan melihat ada pesan dari Renjun tentu saja.

Sender : Hwang Renjun

Aku menunggu diparkiran. Kau dimana?

Cepat-cepat aku beranjak dari kursi sambil membawa tasku. Herin berhenti menulis dan melihat ke arahku

"Kau mau kemana?" Tanyanya

"Pulang."

"Kenapa kau tak menungguku? Aku ingin pulang bersamamu."

"Wae? Kau biasa pulang bersama dengan Jinyoung kan?"

"Tidak mau. Aku pulang bersama denganmu saja hari ini. Tunggu sebentar Jeno-aah~ sebentar lagi~" dia menampilkan Aegyo nya dan terlihat risih ketika aku menyebutkan nama lelaki yang aku tahu beberapa minggu ini sedang dekat dengannya.

Dan aku belum mengetahui kenapa Herin sudah tak tertarik lagi dengan Jinyoung.

"Aku sedang terburu-buru. Bye, Herin-ah"

Aku mengacak poni dikeningnya sebelum berlalu dari sana. Dia sepertinya ingin meneriakiku, tapi karena ini perpustakaan, Herin pun hanya melihat kearahku dengan sebal.

Mianhae, Herin-ah.. aku sudah tidak sendiri lagi...

Aku ke parkiran. Tunggu sebentar.

Send.

Delivered

Aku menyimpan kembali ponselku kedalam saku celana stelah mengirimkan balasan singkat pada Renjun.

Aku melangkahkan kakiku kearah parkiran fakultasyang berdada di samping gedung fakultas kami. Dari kejauhan, aku sudah melihat Renjun sedang menunggu disamping motorku. Beruntung, parkiran motor fakultas kami memang selalu sepi. Jarang ada mahasiswa yang menikmati waktu luang mereka disini karena tempat ini tidak begitu luas.

"Hey." Aku menyapanya setelah mendekat.

"Kau sudah selesai?" tambahku, menanyakan tentang rapat yang tadi dia jalani.

Benar, selama sejam aku di perpustakaan memang untuk menunggunya yang sedang rapat bersama dengan para senat mahasiswa. Entah apa yang merasukiku, tapi untuk pertama kalinya lagi aku mau berkorban untuk seseorang seperti ini.

Menghabiskan waktu sejam di perpustakaan, sungguh itu bukan tipe seorang Lee Jeno, tapi demi menunggunya, aku mau melakukannya. Lucu sekali, kan?

"Aku keluar duluan," jawabnya. Wajah manisnya terlihat lelah dan tak tampak senyum seperti biasanya.

"Kenapa? Kau diizinkan untuk keluar lebih dulu?'

"Ah, Masa bodoh dengan rapat itu. Aku lelah memperhatikan mereka mendebatkan hal yang tak perlu didebatkan," ujar Renjun.

"Ayo pulang." Ajaknya pula, lalu memakai helm yang sejak tadi dipegangnya.

Aku tak banyak bertanya lagi, tampaknya dia sedang dalam keadaan perasaan yang buruk. Tapi itulah, kenapa aku juga tak mau terlibat dalam urusan senat mahasiswa.

Mereka terlalu banyak bergaya dan malah mendebatkan hal yang tak penting. Aku cukup jadi mahasiswa biasa saja, paling aku hanya mengikuti unit kegiatan Basket untuk mengisi waktu luangku.

Aku baru menstarter motorku, Renjun sudah melingkarkan tangannya dipinggangku dan aku merasakan perlahan badannya medekat dan merapat pada punggungku. Aku jadi mengedarkan pandanganku kesekitar parkiran. Thanks God, tak ada siapapun. Akupun segera memacu motorku keluar dari area parkiran dan terus keluar menjauhi kampus.

.

.

.

Kening Renjun masinh mengkerut, dan tangannya masih memainkan kaleng Cola yang tadi aku belikan di minimarket. Wajah manisnya benar-benar terlihat kusut. Aku mendekat dan berdiri disampingnya, ikut menyandar pada pagar taman di belakang kami.

"Minumlah," kataku, stelah meneguk minumanku sendiri. Renjun tidak menyahut dan hanya melirikku sekilas.

Akupun menawarkan minumanku yang sudah terbuka dan ternyata Renjun menerimanya dan meminumnya perlahan. Ciuman tak langsung.

Itu memang bukan hal yang luar biasa, aku sudah biasa berbagi minuman dan makanan dengan teman-temanku yang lain, tapi kasus ini berbeda dan disini posisi kami bukan hanya sebatas teman. Rasanya canggung. Aku jadi salah tingkah sendiri setelah Renjun mengembalikan kaleng minumanku.

"Mianhae, Jeno-ah. Aku membuat suasana diatara kita jadi canggung dan buruk seperti ini," kata Renjun akhirnya mau berbicara.

"Hmm.. Tidak juga. Jika kau perlu orang untuk berkeluh kesah, ceritakanlah padaku. Yaa.. meski aku tidak bisa memberikan saran padamu. Apalagi soal organisasi kampus," sahutku.

Renjun memandangku beberapa detik hingga dia mengulas senyuman manisnya yang sejak tadi belum aku lihat. Dia juga menggelangkan kepala pelan.

"Aku hanya ingin menceritakan hal-hal bahagia saja padamu, Jeno-ah." Katanya manis.

Aku balas tersenyum. Dalam hati aku gugup, tapi mati-matian aku menutupinya. Aku mengalihkan perhatian dengan meminum minumanku lagi, menghabiskan minumanku begitu saja.

"Ehm.. Kau ingin menonton bersamaku?" Tawarku setelah minumanku habis. Mendadak terbersit ide mengajaknya refreshing.

Renjun agak melebarkan mata jernihnya.

"Kau mengajakku berkencan?" katanya, tampak gembira sekaligus tak percaya.

Dengan gugup aku pura-pura minum padahal kalengku sudah tidak berisi. Aku sama sekali tidak sadar jika ajakanku bisa disebut kencan. Dan memang selama satu minggu hubungan kami, kami belrum pernah berkencan berdua, jika bukan pulang kuliah bersama.

"Aku ingin menonton bersamamu. Sabtu besok kan?" tambah Renjun cepat.

"oke." Setelah berhasil menenangkan dan mengendalikan diri

Renjun lalu mengembangkan senyumannya, ia kemudia menoleh kesekitar taman, sebelum tiba-tiba melancarkan satyu kecupan manis ke pipi kiri ku. Aku terkejut lagi, dan disitu aku baru merasakan debaran aneh yang menyenangkan...Namun agak menyesakkan.

Argh!

To Be Continue...

.

.

.

Chitchat corner:

hallo kembali lagi sama saya theSilmarill2196 si tukang remake fanfik heheh

Aku dateng ngasih lanjutan cerita ini wkwkwk

seneng ih.. walaupun gada yang riview tapi ada yang favorit dan follow cerita ini :')) makasih loh wahai kalian yang udah follow, favorit dan baca cerita ini :')). Kalem aja.. aku bukan orang yang pamrih kok wkkwkwk kalian mau baca aja udah seneng wkwkwk

Oiya, sebenrnya chapter ini masih masuk ke chapter 1. Karena kemaren mau pos semuanya part 1 tapi tuh kepanjangan :') jadi aku bagi 2 dan aku belum edit lagi sih ini.. pasti banyak typo heheh maafkan aku yang bukan ahli ini :"))

so..

maaf atas kekurangan dan kesalahanyaa..

terimaksih atas waktunya dan supportnya untuk fiksi iniii...

Love

The Silmarill2196

(13 November 2017)