Pluto111: Yap, emang bener. Bagian Gaia vs Agul yang terbaik. Rival yang takkan dilupakan waktu.
Terima kasih untuk sambutannya :D.
Btw, ente udh beralih jadi reader?
Guest: Ingat serial Mebius? Bisa dibilang selain Gaia, Max, Zero(meski dia sebenarnya tidak perlu form lain selain base form, karena tanpa Strong-Corona dan Luna-Miracle apalagi Shining Ultraman Zero form lalu yang terbaru di Geed ia sudah SANGAT kuat tanpa keempat form itu) dan mungkin Mebius, semua Ultraman dari awal era Heisei sudah memiliki form berbeda sejak serial awal tvnya.
Mengingat Gaia sejak pertama tak memiliki form lain selain V1(sebelum pertengahan cerita) author ingin buat Naruto(Gaia) kuat bukan karena form, tapi karena tekat dan memaksimalkan kekuatan seadanya.
Jadi intinya, meski Naruto sudah menguasai kemampuan Gaia. Bukan berarti ia tidak akan kalah oleh monster atau alien angkasa kuat lain.
Toh, author tahu beberapa monster yang akan "membunuh" Naruto (Gaia) meskipun nantinya akan "dibangkitan" kembali oleh jari jemari author.
Lagipula, saya berencana memasukkan Ultra era Showa dan Heisei (meski sebentar) untuk menolong(Heisei) dan melatih(Showa) Naruto(Gaia) bila monster yang dilawannya kelewatan kuatnya.
Bisa saja pakai Ultraman lain. Malah, awalnya author ingin pakai Dyna(sifat Asuka sama Naruto hampir mirip, sesama heboh) Max(main lempar slugger) Nexus(Konsep yang menarik) dan Ginga(Berburu Spark Doll sambil memerangi DEM? Why not?) X(Naruto menemukan catatan teknologi dari masa depan, membuat cyber monster untuk menjaga para Roh?) Zero(agak Overpowered ultra yang satu ini. Naruto terlempar di 30 tahun lalu, hidup karena ditemukan Zero berkat bantuan perisai baradhi, dan berteman dengan "First Spirit" lalu mengubah alur Date a Live?).
Otak author (sebenarnya) telah memikirkan beberapa kali plot (sinting) di atas sebelum publish fic ini.
Ngomong-ngomong Guest-san, ini hanya pemikiran author. Dan kenapa Gaia? Karena ini fic pertama author di FF, jadi author ingin main "aman" terlebih dahulu.
Sekali lagi. Ini hanya pemikiran author. Bukan karena maksud lain.
Senyum damai :D.
SASHA: Soal Monster Spirit mungkin akan saya pikirkan, tapi gak akan janji pakai yah kalau berbenturan dengan plot line.
Untuk pair, liat aja perkembangannya. Hubungan Kurumi dan Naruto, bisa dibilang (hanya) sebatas "teman".
Terima kasih untuk penilaiannya. Btw, masuk ke buku record gak :D
Member wp juga? Wih, keren atuh.
Indra223: Kalau Kurama, bisa dibilang dia menjadi Monster Arms(kayak senjata tiga ras berbeda di Kamen Rider Kiva) dan kalau gak dibutuhin bisa menjadi astral atau visible(kayak servant di fate series) sesuai kemauannya. Tentunya, dengan tambahan kemampuan lain.
Soal bentuk senjatanya? Tunggu chapter selanjutnya.
ginga-san: Done :D
Syaref664: Begitulah, author hanya buat bumbu(fic) beda dari yang lain.
Dimas Kurosaki: Silakan membaca :D
Ikeda-chan: Ini f gitu? Well *author mengangkat bahu* who care, by the way!
Fahzi Luchifer: Terima kasih untuk reviewnya :D
NameYuki: Just joke ^_^
deadly god: Terima kasih untuk reviewnya :)
Faded Light505: Siapa yang bilang pairnya "itu"? Btw, maksudnya pair yang mana?
Minna-san, terima kasih karena telah memberikan review dari hati terdalam(jujur) kalian.
Tanpa basa-basi, silakan membaca chapter di bawah ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 2: Gadis Mata Aneh Dan Alien Pemberi (Mungkin) Bantuan.
A Song of Light and Heart
Summary: Pindah ke dimensi lain setelah mengalahkan Ibu Pemilik Chakra. Uzumaki Naruto terpaksa hidup dengan situasi aneh dan chakranya yang tiada. Sial atau beruntungnya, dimensi barunya ternyata merupakan 'magnet' bagi para monster dan alien luar angkasa. Dengan bantuan eksistensi cahaya, kekuatan baru, teman baru dan para spirit. Sekali lagi, Uzumaki Naruto bersiap memainkan peran sebagai Pahlawan. [Ultraman Gaia!Naru. Pyrokinesis!Naru. Neutral!Naru].
Disclaimer: Naruto, Ultraman, beserta Date a Live. Dipunyai oleh penciptanya masing-masing.
Chapter 2
–
Gadis Mata Aneh Dan Alien Pemberi(Mungkin) Bantuan.
Bangunlah, Uzumaki Naruto. Bangunlah.
Naruto membuka matanya, ia terkejut dengan apa yang dilihatnya; langit merah, sekelilingnya pun tak jauh berbeda(1). Bangkit, dia melebarkan mata, menyadari dirinya tidak lagi berada di Bumi.
Kemudian, suatu sinar muncul di hadapan Naruto. Menunjukkan sesosok raksasa, dengan seluruh tubuh didominasi merah, garis merah, garis perak, sepasang mata tanpa pupil namun bercahaya, kepala metal, dengan Mebius Brace terletak di tangan kirinya.
Di sampingnya, terdapat raksasa lain. Raksasa ini memiliki wujud menyerupai kakek tua, warna perak mengelilingi sekujur badannya, berjanggut besi, mempunyai dua pasang mata merah, dan berjubah perak-merah-emas.
Naruto melangkah mundur. "Siapa kalian?"
Kurama mengerutkan kening.
"Aneh."
Maksudmu, Kurama?
"Aku tidak merasakan satupun perasaan negatif dari mereka."
Yang benar?
"Ya."
Naruto menengadah, raksasa pertama meleburkan diri menjadi kepingan cahaya, menyusut dan menampilkan diri sebagai seorang pria muda. Pria ini memiliki tampilan orang Jepang pada umumnya, berambut hitam hampir cokelat dengan aura bersahabat di sekitarnya.
"Selamat datang, saudaraku dari dimensi lain," sambut si pria muda, tersenyum hangat kepada Uzumaki terakhir, "namaku Mirai. Dan dia," Mirai menunjuk raksasa kedua, "Ultraman King. Sama sepertimu, kami juga seorang Ultraman."
Naruto mengedipkan mata. "Ultraman? Apa itu Ultraman?"
"Ultraman adalah prajurit alam semesta, Uzumaki Naruto," kata si raksasa berjubah dengan nada bijak, "kami bertugas menciptakan kedamaian di seluruh Galaksi. Dan kau, host Gaia dimensi ini, memiliki tugas yang sama."
Naruto merasa kagum dengan apa yang didengarnya, meski dirinya tidak sepenuhnya paham, entah mengapa mendengar kata Ultraman membuatnya senang bukan main.
Dia bertanya. "Jadi... Gaia, benar?"
Mirai mengangguk. "Gaia. Itulah nama Ultraman yang mendiami tubuhmu."
Naruto mengembangkan senyuman, sebelum ekspresi horror terlihat di wajahnya.
"Tunggu! Bisakah kalian mengembalikanku kembali ke Bumi? Adikku, dia saat ini–"
"–akan menerima takdirnya," Ultraman King memotong kata-kata Naruto, menggelengkan kepala, "kau tidak boleh pergi ke Bumi untuk sementara, Uzumaki Naruto. D dan kawanannya akan menghabisimu hidup-hidup jika mereka tahu."
"D?" kata Naruto.
Mirai meringis. "D, anggota Space Garrison memanggilnya itu. Sebuah entititas yang tercipta dari dua emosi manusia dan emosi Roh Pertama."
"Roh?"
"Akan kujelaskan nanti," sahut Mirai, memunculkan Mebius Brace di lengan kirinya. "Sekarang, kita mulai latihanmu."
Kening Naruto mengerut. "Latihan? Latihan apa?"
"Latihan mengendalikan kekuatan Gaia tentu saja," ujar Ultraman King, "oh, sebelumnya," dia menjentikkan jari.
Naruto melongo, memandang bola emas keluar dari perutnya. Bola itu terbang menuju tangan Ultraman King.
"Selagi kau dan Mebius berlatih, partnermu akan kujaga dan kuberi anugerah setelah latihanmu selesai," katanya.
Sebelum Naruto sempat protes, sebuah sinar merah muncul di hadapannya, kemudian mewujud menjadi Esplender.
"Wow," gumam si remaja pirang, terpesona dengan bentuk alat perubahan yang tengah digenggamnya.
Mirai tersenyum. "Bersiaplah."
Dia meletakkan tangan kanannya pada Mebius Brace, lalu menggeseknya. Mirai pun mengacungkan Mebius Brace ke atas.
"MEBIUS!"
Cahaya merah keemasan membalut ujung kepala hingga sepasang sepatunya, perlahan fisik Mirai membesar dan berubah menjadi raksasa sebelumnya; Ultraman Mebius.
Mebius. Salah satu prajurit Ultra yang dilatih langsung oleh para Ultra Brothers.
Naruto berkedip.
Hello um... Gaia, kan?
Jangan sungkan memanggilku Gaia, Naruto. Mulai dari sekarang dan ke depannya kita adalah rekan.
Oh, oke. Ngomong-ngomong... bagaimana caraku menggunakan benda ini?
Nama benda itu Esplender, alat perubahanmu. Arahkan saja itu ke atas lalu teriakkan namaku.
Terima kasih.
Itu gunanya rekan.
Naruto menghembuskan nafas, mengangkat wajah, dia mengangkat Esplender ke atas dan berseru.
"GAIA!"
Sinar merah tua membalut sekujur badan Naruto, kulit putihnya berganti dengan kulit perak, tubuhnya membesar bersamaan sinar redupnya menjadi terang. Sosok Ultraman Gaia pun berdiri di tempat Naruto sebelumnya.
Ultraman King menerbangkan dirinya ke udara, menyilangkan sepasang lengannya di dada sambil menganggukkan kepala.
Mebius memasang posisi khasnya, sementara Gaia memasang pose asal-asalan.
Mebius berlari, dan diikuti oleh Gaia. Masing-masing mengepalkan tangan. Di luar dugaan, kobaran api menyelimuti Mebius, gerakannya semakin lama semakin cepat di mata Gaia.
BOOM!
Karena belum terbiasa, Gaia(Naruto) terpaksa menerima bogem mentah ditambah api yang dilayangkan Mebius, tubuh raksasanya terhempas ke belakang, punggungnya menabrak tebing dan meremukkan itu.
"Bangun, Gaia," kata Mebius, listrik kuning menari dan mengelilingi Mebius Brace, "pelajaran kesatu; musuh takkan pernah memberikanmu waktu istirahat."
Dia melancarkan pukulan, bukan untuk memukul, melainkan melepaskan aliran listrik tersebut. Serangan itu melesat menuju Gaia. Tidak ingin menjadi raksasa bakar, Gaia berguling ke samping, ledakan besar terjadi di latar belakang.
Gaia berdiri, menegakkan badan, dia melangkah pelan sebelum mempercepat langkah kakinya, Mebius pun melakukan hal yang mirip.
Mereka melompat ke arah yang sama, masing-masing melepaskan tendangan terkuatnya.
"Unggh~"
Cahaya matahari menembus jendela suatu kamar, seorang gadis berambut biru panjang membuka sepasang mata, merasakan perih saat sinar mentari memblok satu-satunya indra penglihatannya.
"Kau ingin susu atau teh, Naomi?"
Naomi menoleh ke samping, matanya membulat melihat seorang laki-laki yang sangat dikenalinya datang mendekat dengan membawa sebuah nampan.
Lelaki itu tersenyum simpul, menaruh nampan di meja di sebelah kasur, ia beralih pada Naomi.
"Aku taruh saja nampan ini disini. Kalau kau butuh apapun, panggil saja aku."
"Onii-chan!"
"Guhu!"
Laki-laki itu hampir terjatuh ketika Naomi menabrakkan dirinya kepadanya. Sang perempuan menangis, mengucapkan "arigatou Kami-Sama" berulang-ulang kali.
Lelaki itu menghela napas, menepuk kepala Naomi beberapa saat sebelum berujar.
"Kau bau. Mandi sana."
"Biarin!"
"Dasar ratu drama," katanya terkekeh.
Merasa lebih baik, Naomi melepaskan pelukannya. Dia mengernyit, heran melihat penampilan fisik kakaknya.
"Naruto-nii, sejak kapan rambutmu itu hitam? Dan kenapa warna matamu ungu?Bukannya biru?"
"Ini untuk penyamaran," jelas 'Naruto', "kau masih ingat kejadian yang menimpa keluarga kita di taman?"
Naomi melebarkan matanya. "M-Maksudmu Otou-san dan Okaa-san–"
'Naruto' menganggukkan kepalanya. "Kita hanya berdua sekarang."
Naomi menangis. Kencang. 'Naruto' pun merangkulnya dalam pelukan hangat.
"Kau tidak perlu risau. Sesuai amanat Otou-san kepadaku, kini giliranku yang bertugas menjagamu."
"Terima *cry* kasih, Naruto-nii."
"Karena kita sedang bersembunyi, aku memutuskan mengganti nama lamaku dengan nama yang baru."
Naomi mengangkat wajahnya, menghadap muka 'Naruto'.
"Ganti nama?"
"Yep," 'Naruto' berseri, "biasakan panggil aku dengan nama Menma untuk ke depannya. Paham, Naomi?"
Naomi mengangguk semangat.
"Uhm."
(Present.)
Di atas sebuah gedung tinggi dengan layar menyala, seseorang dengan kepala ditutupi tudung, yang hanya memperlihatkan sepasang iris ruby tanpa kelihatan muka karena dihalangi bayangan dan mengenakan pakaian serba hitam. Dia mengangkat sudut bibirnya, memandang energi merah Gaia menghabisi Pazuzu sepenuhnya.
"Rupanya aku punya lawan main setara dalam catur. Menarik. Kita akan lihat, sampai mana lawan mainku ini bisa mengimbangiku. Oh! Atau lebih baik, menggagalkan rencanaku, mungkin?"
"Menikmati kembang api, D?"
D beralih pada Isaac, datang dengan Ellen Mathers di sisinya. Ia mengangguk.
"Bukan hanya menikmatinya, kawanku. Tetapi juga gemetar mengetahui ada seseorang di luar sana akan menghalangi rencanaku yang sudah kususun rapi sejak lama."
Ellen menaikkan alisnya mendengar perkataan D. "Apa kau mau aku melenyapkan "seseorang" ini, D?"
"Tidak. Tidak usah." D melambaikan tangan secara santai. "Aku percaya rekan sesama bangsaku akan lebih senang mengalahkannya dari siapapun. Lagipula, dia itu prajurit ultra, jadi serahkan saja ini pada sesuatu yang telah menjadi lawan normal mereka."
Isaac berdiri di samping D. "Kau tahu, salah satu Roh berhasil ditangkap di sebuah tornado di kota tetangga. Selain buas, rupanya T-chan benar-benar mengerikan ketika berkelahi."
"Begitu, jadi kau akan apakan Roh ini, Isaac? Apa kau akan memperlakukannya layaknya Roh Kedua?" tanya D.
Isaac berkedip. "Roh Kedua hanya kukurung loh. 'kan bocah biru dengan senang hati menggantikan tempatnya sebagai objek uji coba."
D menepuk jidat. "Ya ampun, lupa aku. Oh ya, kalau tidak salah Roh ini punya kembaran, bukan?"
"Pancing dia keluar dari persembunyian dengan menjadikan salah satunya baterai penggerak robot kita?" Isaac mengangkat bahu. "Tentu, kenapa tidak?"
"Hey, kemana raksasa itu pergi?"
Origami terdiam mendengar pertanyaan rekan timnya, dia melihat raksasa merah terbang ke langit, lalu mengecil menjadi bola merah dan menghilang di antara awan-awan.
"Entahlah. Tapi satu hal yang kutahu, berkat raksasa itu kota Tenguu selamat," kata Ryouko, memandang Origami, "oh ya Tobiichi. Kau bilang anak kecil tadi diselamatkan oleh seorang lelaki. Apa aku benar?"
Origami mengangguk.
"Antar aku ke tempatnya."
Naruto tersenyum lebar melihat bayangannya di kaca, dia baru saja menyelesaikan tugas pertamanya sebagai Ultraman, dan itu merupakan awal yang baik baginya.
Keluar dari toilet umum, Naruto menaikkan risleting celana dan berjalan mendekati motornya. Memasukkan kunci ke slot, dia baru ingin menginjak gas sebelum...
"Hey! Kau yang disana!"
"Huh?"
Naruto menoleh ke balik bahu, memandang beberapa gadis yang berpakaian semacam robot terbang kearahnya. Turun dari kendaraan roda dua, dia berbalik untuk mendapat tampilan lebih jelas dari mereka.
"Ada yang bisa kubantu?" tanya si laki-laki berkumis.
Ryouko tersenyum lebar. "Nah, orang seperti ini yang kucari-cari sebagai satu-satunya lelaki dalam tim."
"Hah?!"
Origami mengatupkan bibir, sedikit mengerti dengan reaksi rekan setimnya.
"T-tunggu sebentar ketua, coba pikir-pikir lagi sebelum bertindak. Realizer hanya mampu digunakan oleh perempuan, tidak dikhususkan untuk lelaki."
Ryouko melambaikan tangan pada anggotanya yang protes.
"Dengan bantuan tidak datang pada waktunya, anggap saja aku memiliki laporan 'bagus' untuk ditukar dengan desain Realizer yang berbeda," tukasnya, melirik Naruto.
"Siapa namamu?"
"Uzumaki Naruto."
"Nah, Uzumaki. Apa kau berminat untuk masuk ke dalam AMT?"
Origami memandang ketuanya, sorot matanya tersirat kebingungan.
"Bukannya AST?"
"Tobiichi, AST dan AMT itu sama saja. Bagaimana, Uzumaki? AMT dapat menggunakan orang berhati emas sepertimu."
Naruto tahu dia akan mendapat keuntungan dari ini, meskipun ia harus pandai-pandai menjaga rahasianya.
"Aku terima."
Vrom! Vrom!
Memarkirkan motornya ke dalam garasi, Naruto mencopot helm dan turun dari kendaraan pribadinya. Mengacak sebentar rambut kuningnya, dia pun berjalan kearah ruang tamu.
Menghampiri kulkas, Naruto meraih susu dingin, mangkuk berisi sereal, lalu satu kaleng berisi daging sapi. Dia menuangkan susu ke mangkuk, sementara daging ia tumpahkan ke sebuah piring khusus.
"Kurama!"
Partikel emas menyatu dari ketiadaan, menampilkan seorang lelaki berusia di bawah dua puluh, dengan penampilan mirip sekali dengan Naruto tanpa cacat, yang membedakan hanya maniknya berwarna merah gelap.
"Jadi, monster apa yang kau hadapi tadi?" tanya Kurama.
"Pazuzu kalau aku tidak salah," kata Naruto.
Mereka melangkah menuju ruang tamu. Kurama menekan remot untuk menyalakan TV. Keduanya duduk di sofa, masing-masing mulai menyantap makanannya.
"Bukan Eleking?"
Naruto menggeleng.
"Begitu." Kurama memasukkan sendok ke mulutnya. "Mentah memang terbaik! Ngomong-ngomong, apa ada kabar dari Menma?"
"Tidak ada. Padahal dia bilang akan menghubungiku saat aku sampai ke Bumi lewat ikatan mistis Esplender dan Agulator," Naruto mengeluarkan bunyi *glup* *glup* ketika menelan semua susu dalam mangkuk, "anehnya, aku belum mendapat satupun kabar darinya semenjak aku berada di kota ini."
Kurama mengangguk, meski dalam hati ia kesal dengan sikap sang(menurutnya) reverse Naruto.
"Pemirsa! Kita bisa lihat sendiri bahwa monster ini menghancurkan apapun yang ada di hadapannya."
Kurama nyengir. "Ini baru berita."
Naruto mengedipkan mata. "Ya ampun. Mereka melakukan hal ini sampai sejauh itu?"
"Dan lihat–oh! Raksasa itu berhasil mengalahkan monster tersebut! Yang menjadi pertanyaan kita, kenapa dan apa alasan raksasa ini bertarung. Apa dia berada di pihak manusia? Atau ia menunggu waktu yang tepat untuk menaklukkan kita dengan mendapat kepercayaan lalu mengkhianati kemanusiaan setelahnya?"
"Hoorrrrrayyyy," sorak Kurama kering, "kenapa aku tidak terkejut dengan respon semacam itu?"
Naruto tersenyum. "Yang terpenting mereka selamat."
Sang mantan Bijuu mengacungkan jari tengahnya pada layar.
"Oh ya, Kurama." Naruto membawa piringnya dan piring Kurama ke wastafel, memutar kran dan mencuci kedua benda berbahan kaca itu. "Bisa kau tetap terjaga sampai matahari terbit? Aku takut akan ada monster lain muncul ketika aku sedang tertidur nanti."
Kurama mendengus. "Berkat anugerah Ultraman King, aku takut aku tidak butuh tidur untuk selamanya."
"Benar, dan aku bukan seseorang yang selalu mendengkur di siang hari."
Kurama menatap tajam Naruto, sementara si nama kedua hanya nyengir sebagai balasannya.
"Kalau kau bukan temanku, sudah kubunuh kau di tempat!"
"Aku menyayangimu, Kurama!"
Keesokan harinya. Naruto berjalan menuju Raizen High School. Dia tidak menaiki motornya untuk saat ini, karena motornya sedang dipinjam oleh Kurama untuk(bilangnya) patroli keliling.
Kusakabe Ryouko, sang ketua tim, memberitahunya kalau seseorang yang akan mengajarinya dasar-dasar penggunaan Realizer adalah Origami. Oleh sebab itu, mereka membuat perjanjian untuk bertemu di sekolah ini.
Lebih tepatnya Tobiich-san yang ingin ketemuan di tempat ini.
Sampai di depan gerbang, Naruto mengintip sejenak, melihat situasi sepi menandakan semua kelas masih dalam keadaan belajar.
Mungkin menunggu sebentar tidak masalah. Lagipula, waktu luangku banyak mengingat tak ada kegiatan lain selain menggambar Tale of Gutsy Shinobi di kamar.
"Eh? Namikaze-kun?"
Naruto melirik ke arah seorang anak (kecil?) berkacamata. Di tangannya, terdapat beberapa dokumen penting.
Naruto berkedip, "Namikaze? Maaf, tapi itu bukan margaku."
Aneh, dari mana orang ini tahu marga ayahku?
Si anak (kecil?) menggumamkan [ohh] sebelum tersenyum meminta maaf.
"Gomen, etoo..."
"Uzumaki."
"Uzumaki-kun. Habis, wajahmu mengingatkan Tama-chan pada seseorang."
"Pantas kalau begitu," kata Naruto dengan senyum tipis.
"Jadi, apa yang Uzumaki-kun lakukan di gerbang?" tanya Tama-chan-sensei.
"Menunggu seseorang," jawab si lelaki pirang singkat.
Tama-chan-sensei cemberut. "Mou, Uzumaki-kun hanya mengulangi perkataan Tama-chan saja."
Naruto mengangkat bahu. "Aku tidak bohong. Aku memang menunggu seseorang."
"Ya sudah. Tama-chan pergi ke kelas dulu."
Masih dalam keadaan yang sama, Tama-chan-sensei berangkat ke kelas yang sebentar lagi ia ajar.
Bunyi [deg] Naruto dengar dari kantung celananya, merogoh sesuatu, dia terkejut melihat bagian biru Esplender berkedip terus-menerus.
"Baik Esplender. Tunjukkan lokasi monster padaku," gumamnya.
Naruto memutar Esplender ke berbagai arah mata angin. Kedipan sinarnya semakin cepat saat itu diarahkan ke Utara.
Menurunkan Esplender, sang host Ultraman memandang seorang gadis berdiri di atap Raizen. Gadis ini memiliki rambut hitam panjang dengan pita merah menutupi sebagian kepalanya, dia mengenakan gaun gothic hitam, sisi kiri muka terlihat mata kuning bertema jam yang tidak normal, lalu sisi kanan menampilkan mata berwarna merah.
Tunggu. Dia monster? Bukan-bukan. Jangan bilang gadis ini adalah...
Naruto menaikkan alisnya. Gadis ini... tersenyum padanya? Belum cukup, mulut gadis itu bergerak, mengiriminya kode berupa kata.
"Datang."
Menatap sekelilingnya, sang remaja manik langit terburu-buru menaiki tangga, mulai berlari dengan tujuan ke tempat si gadis.
Tokisaki Kurumi kebingungan, bertanya pada dirinya berulang kali mengapa ia pergi ke Raizen High School tempat Shidou-san bersekolah.
Niatnya mungkin hanya mengawasi Shidou-san, kemudian mencari waktu yang pas untuk "memakan"nya. Yah, pastinya itu akan berhasil jika Yatogami Tohka tidak selalu mengikutinya.
Namun, kehadiran seorang lelaki rambut kuning di Raizen, entah kenapa membuatnya merasa "lapar", dan itu tak mampu ia tahan bila ada "mangsa" mendekati lokasinya tanpa perlu bersusah payah.
"Ara ara, apa yang kita punya di sini?"
Kedua mata berbeda warna Kurumi bertemu dengan dua mata biru Naruto, si nama pertama menjilat sudut bibirnya.
Naruto terdiam, cara berbicara gadis di depannya mirip sekali dengan succubus. Dan seperti succubus, gadis ini bisa dengan mudah menjadi salah satu gadis paling cantik yang pernah ia lihat. Berita baiknya, perempuan ini tak perlu memakai pakaian skandal yang biasa digunakan makhluk pemakan hawa nafsu itu untuk menggoda lelaki manapun.
Kurumi memindai sosok Naruto naik turun, dia tertawa kecil, terdengar seolah puas akan sesuatu.
"Fu fu fu, aku penasaran apa yang kau sembunyikan di balik baju ketat itu, ikemen-san~"
Kurumi mengharapkan reaksi malu yang selalu ditampilkan Shidou-san bila dia menggodanya. Tapi, ekspresi Naruto masih sama seperti sebelumnya, tak berubah seinci pun.
"Kau Roh?"
Terus terang, Kurumi terperangah. Dia tidak menduga balasan semacam ini yang didapatnya.
"Ara ara ara, pujianmu terlalu berlebihan," kata Kurumi dengan senyum malu, mukanya memerah dan tangan di pipi.
Pilihanmu, Naruto?
Cara lembut tentu saja. Memangnya cara apa lagi?
Perlu bantuan?
Naruto menahan tawa kering. Dia ini Roh. Bukan Kaiju. Malah terlalu aneh bila menggunakan kekuatanmu sekarang.
Kurumi untuk kedua kalinya bingung. Di hadapannya, manusia bertato kucing ini hanya diam dengan tatapan kosong, sesuatu yang membuatnya sedikit kesal.
Memanggil [Zafkiel]; Malaikat berupa jam emas besar dan sepasang senjata api. Kurumi mengarahkan flintlock gun kearah Naruto.
Zafkiel-Zayin.
Terlalu mudah. Kurumi memandang Naruto yang, tentu saja, terjebak dalam [Bola Waktu] yang berasal dari peluru khususnya. Dia agak kecewa sebetulnya, berpikir akan mendapat perlawanan setidaknya sebentar. Meski di satu sisi, ia tidak mampu menahan rasa senang dan kegilaan ketika tangannya mulai menekan lagi pelatuk senjatanya.
Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Entah berapa kali sang Roh menembakkan pelurunya kearah Naruto, seringai kepuasan terlihat di mukanya.
Setelah percaya korbannya telah mati, Kurumi tidak memiliki alasan untuk menahan Zayin terlalu lama. Dia pun menonaktifkan [Bola Waktu].
Bwoosh!
"Nani?"
Kurumi kaget, melihat semua pelurunya hangus terbakar api yang tiba-tiba muncul di sekitar Naruto. Hanya menyisakan abu berjatuhan di tanah.
Manusia di depannya ini... benar-benar manusia, kan?
"Kuasa atas waktu, hm?" Naruto menengok ke sang Pembunuh, tersenyum simpul. "Hebat juga."
Secepat mungkin mengambil alih kesadaran diri, Kurumi menutup mulut dan tertawa merdu.
"Ara ara, bukan hanya tampangmu saja yang bagus, tapi apa yang kau tunjukkan juga... mengagumkan."
Tawa Kurumi terhenti, bertanya dengan pandangan serius untuk pertama kalinya.
"Apa kau juga Roh, Ikemen-san?"
Naruto mengangkat bahu, berujar.
"Tergantung. Kau senang diburu?"
Kurumi berkedip, memiringkan kepala dalam pose imut, berbanding terbalik dengan seringai yang dibentuk bibirnya.
"Jika yang dimaksud Ikemen-san AST atau DEM sepertinya aku terbiasa. Lagipula, mereka belum sekalipun mampu menangkapku, tidak peduli seberapa keras usaha kedua belah pihak."
Mulut Naruto membentuk "O" dan mengangguk.
"Aku mempunyai proposal untukmu."
Kurumi menutup mulut menggunakan tangan, terkikik geli.
"Ara ara, padahal kita baru bertemu tapi Ikemen-san sudah melamarku di pertemuan pertama."
Si remaja iris biru mengerutkan kening. "Ingin dengar?"
Sang Nightmare mengangguk dengan senyuman.
"Apa proposalmu?"
"Perlindungan dan rasa dihargai."
Kurumi menaikkan alisnya.
"Kau yakin? Aku ini seorang pembunuh."
Naruto tersenyum.
"Kebetulan aku pernah menjadi satu."
Hening.
Kurumi mempelajari Naruto cukup lama, perlahan dia terkikik, kemudian tertawa seraya memegang perut.
"Lelucon yang bagus, Ikemen-san, aku tidak tahu kau memiliki sisi itu di dalam dirimu," ujarnya, tatapan penggodanya berubah menjadi dingin, "kedengarannya menarik. Proposalmu itu. Tapi beribu maaf..."
Dia membidik flintlock gun pada Naruto.
"...kau harus lenyap agar tujuanku terpenuhi."
Naruto berseri dengan mata tertutup.
Shidou terbelalak kaget. Dari speaker yang terpasang di sekolah, dia mendengar alarm mengeluarkan bunyi yang sangat keras.
Alarm gempa angkasa, pertanda roh lain baru saja muncul. Shidou mengeluarkan earphone dari kantungnya, dan memasangnya ke telinga untuk menghubungi Fraxinus.
"Shidou! Lihat itu."
Shidou menengok ke Tohka, lalu beralih pada hal yang ditunjuk olehnya. Bola matanya membulat, melihat lokasi gempa angkasa tidak lain dan tidak bukan adalah hutan yang tak jauh dari gedung sekolah mereka.
Tidak jauh dari keduanya, Origami menatap hal yang sama seperti mereka, sebelum berlari ke luar kelas.
Dua peluru tertembak, terbang bagaikan jet menuju Naruto. Kurumi mengira kali ini dia akan berhasil membunuh Naruto, tapi kenyataan menampar pipinya keras.
Lagi. Api muncul tepat pada jarak dua puluh centimeter sebelum muka Naruto, menghanguskan peluru Kurumi tanpa meninggalkan sisa.
Tidak kehabisan akal, Kurumi menarik pelatuk senjatanya ke kepala. Menggumamkan kemampuan Malaikat [Zafkiel].
Zafkiel-Het
Dari bayangan, empat replika Kurumi tercipta. Empat replika itu mengambil posisi mengelilingi Naruto, dengan senjata api di arahkan pada si lelaki iris biru. Sedangkan yang asli, memilih berada di depan Naruto. Mengirim perintah via telepati, keempat replika dan sang asli melepaskan puluhan peluru.
Naruto membuka mata, mata birunya tergantikan dengan mata jingga membara. Mengepalkan lengan, dia kemudian memukul udara dan rumput, lidah api melesat ke arah Kurumi(asli). Sementara itu, jaringan retak terbentuk dan menyebar di tanah, tiap retakan menumbuhkan api yang mengambil wujud dinding.
Tidak seperti semua replikanya yang langsung lenyap, Kurumi (asli) menghindar dengan berpindah tempat, meski tidak kena serangan langsung, hawa panas masih menyerang kulitnya.
Beruntung, dia sudah "memakan" banyak orang untuk kejadian seperti ini. Jadi, menggunakan Dalet bukan hal sulit untuknya.
Roh Nightmare bergetar, bukan karena takut, melainkan kegembiraan. "Kucing" yang dia ingin makan sebelumnya rupanya adalah "singa" yang baru menampilkan taring aslinya kepadanya.
Bahkan, Kurumi bisa merasakan sesuatu di bawah sana mulai basah. Menyeringai, dia menodong kepalanya lagi.
Zafkiel-Het
Naruto berkedip, melihat ratusan Kurumi menghalangi matanya untuk menikmati pemandangan langit. Mereka membentuk formasi di udara.
Untuk beberapa alasan, Naruto merasa familiar dengan situasi yang dialaminya saat ini.
Oke... sekarang aku paham kenapa musuh di kehidupan shinobiku selalu kesal melihat teknik Tajuu Kage Bunshin.
Dari semua titik, ratusan Kurumi bersiap memulai serangan gencar.
Naruto menghembuskan nafas, melipat celana sampai sebatas lutut, dia menggigit ibu jarinya, membiarkan beberapa tetes darah jatuh ke tanah.
Bunyi bising senjata api dia abaikan sementara. Menggesekkan sepatu ke tanah yang terkena darah, percikan api menggila. Naruto mengacungkan kakinya ke atas, melepaskan api dalam jumlah banyak yang melesat menuju hujan peluru, serangan itu tidak hanya melenyapkan peluru, tapi juga seluruh replika Kurumi.
Naruto mengerutkan kening, dia tidak melihat Kurumi dimanapun. Menandakan kalau apa yang dilihatnya hanya sebatas tiruan.
Dimana dia?
Dor!
Naruto berkedip, memegang pipi, goresan kecil terdapat disitu. Berbalik, ia menatap Kurumi, yang tengah meniup asap dari ujung flintlock gun miliknya.
Kurumi menyeringai. "Terkejut? Fu fu fu, ini hanya hasil dari pertarungan kita sebenarnya. Jika bukan karena 'cara' ini, bisa saja aku kalah. Kemampuan Ikemen-san cukup kuat, mungkin sebanding dengan Roh. Tapi..."
Seketika Zafkiel lenyap dari eksistensi. Sang Nightmare melanjutkan.
"...semakin lama bertukar serangan dengan Ikemen-san, aku merasa adanya keganjilan. Kenapa kemampuan sehebat itu hanya kau gunakan dalam diam, bukan digunakan sebagai strategi jarak dekat. Awalnya kupikir, itu memang gaya khas Ikemen-san. Namun setelah memakai Het aku menyadari sesuatu. Kau, Ikemen-san, hanya bisa menyerang saat musuhmu berada di area indra penglihatanmu. Dengan kata lain, kelemahanmu adalah titik buta matamu. Apa aku benar?"
Naruto meresponnya dengan senyuman.
Tanpa Kurama, kemampuan [Pyrokinesis] milikku rupanya terbatas, huh?
"Uzumaki! Menyingkir!"
Naruto menengok ke belakang. Terkejut melihat beberapa misil terbang kearahnya, dia berguling ke samping, diakhiri ledakan besar di tempat Kurumi.
"Apa kau baik-baik saja?"
Menutup mata untuk mengembalikan warna irisnya, Naruto memutar badan dan melihat Kusakabe Ryouko, Tobiichi Origami, dan beberapa anggota AST lainnya mendarat di hadapannya.
"Y-Ya aku baik-baik saja," kata Naruto.
Origami menatap tempat Kurumi, lalu beralih pada Naruto. Merogoh sesuatu, dia mengambil perban dan memasang itu kepada luka Naruto.
"Uzumaki, kenapa kau nekat?" tanya Origami datar.
Naruto menggaruk rambutnya, tertawa gugup.
"Naluri pahlawan menuntunku?"
Ekspresi Origami tidak berubah seinci pun. Dia berdiri membelakangi Naruto, berkata.
"Mundurlah. Kau belum terlatih untuk hal seperti ini."
Naruto memberi hormat.
"Roger!"
"Mu? Kita ketinggalan, Shidou."
"Aku sadar akan hal itu, Tohka."
Naruto menengok ke belakang, melihat Shidou bersama seorang gadis dengan rambut ungu dan mata kristal berjalan kearahnya.
Shidou terkejut melihat lelaki rambut pirang di hadapannya.
"Tunggu, Naruto? Ngapain kau disini?"
"Aku pun berpikiran sama sepertimu," kata sang host Ultraman.
Shidou panik, dia tidak mungkin membiarkan Naruto tahu soal kegiatan menyegel Roh-nya. Dia orang awam, tidak mungkin Shidou menyeretnya ke dalam itu.
Di lain sisi, ekspresi Tohka menjadi cerah saat menatap Naruto.
"Kamu yang bernama Naruto?"
Naruto mengangguk.
"Ya. Itu nama–"
Naruto menemukan tangannya dipegang erat oleh Tohka. Roh Princess itu sepertinya tidak sadar dengan strength yang dimilikinya mampu meretakkan tulang manusia biasa.
Beruntung, Naruto tidak termasuk dalam kategori itu.
"Terima kasih! Terima kasih banyak karena telah membantu Shidou, Naruto!"
Naruto tersenyum. "Y-Ya, kesenanganku. Ngomong-ngomong, bisa kau lepas uluran tanganmu? Aku sedikit tidak nyaman diperlakukan seperti ini."
Tohka [Ohh] dan melepaskan tangannya dari tangan Naruto.
"Ara? Sayang sekali permainan kita sampai disini, Ikemen-san."
Naruto, AST, Tohka, dan Shidou menengok ke sebuah pohon. Di sana, Kurumi menyeringai tipis.
"Sialan! Lagi-lagi kita dibodohi!"
Para member pembasmi Roh menodong senjata masing-masing kepada Kurumi.
Ryouko mengumumkan. "Nightmare! Kuperintahkan diam di tempat dan mati demi kemanusiaan!"
Bukannya terancam, Kurumi mengembungkan pipinya. "Mou, kenapa sikap kalian sekasar ini? Tidak seperti–"
Dia menunjuk Naruto.
"–Ikemen-san di sana. Meskipun, aku tidak menyesal telah membuatnya terluka."
Shidou melirik Naruto dengan sorot mata tidak percaya. Kurumi berada di tempat ini bersamanya dan dia masih hidup?
Wow, kagum dia.
Ryouko menggeram. "Beraninya kau!"
Kurumi menghela nafas. "Ah, karena kesenangannya telah selesai. Aku permisi pergi."
Dia mengirim kedipan kepada Naruto, sebelum membidik kepalanya sendiri.
Bang!
Tubuh Roh Nightmare melebur dan lenyap ditelan bayangan. Tim AST terlihat sangat kecewa, tidak aneh, mengingat barusan adalah kesempatan emas "melenyapkan" Kurumi untuk selama-selamanya.
"Hanako, bagaimana? Apa masih ada jejak Nightmare di sekitar kita?" tanya sang ketua.
Hanako mengamati perangkat pendeteksi [Reiryoku] di tangannya, menggelengkan kepala.
"Dia tidak ada di radar, Ketua."
"Begitu," gumam Ryouko, menengok kepada anggota AST, ia menambahkan. "Semua, kita kembali ke markas."
Dia melirik Origami. "Dan kau, Tobiichi. Tunjukkan pada Uzumaki bagaimana cara memakai Realizer. Paketnya sedang berada dalam perjalanan ke rumahmu saat ini."
Origami mengangguk tanpa terlihat reaksi protes.
Menyalakan jet pendorong, masing-masing anggota AST (pengecualian Naruto dan Origami) terbang meninggalkan lokasi kejadian.
"Shidou, Fraxinus akan menarikmu dan Tohka ke kapal. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu."
Shidou mengangguk, membalas lewat earphone.
"Lakukan."
Sedetik kemudian, Shidou dan Tohka menghilang ditelan cahaya. Origami tak mempedulikan itu, dia melihat Naruto dan berujar.
"Apa kau bisa bergerak, Uzumaki?"
Naruto menegakkan badan, melakukan peregangan sejenak.
Origami mengangguk. Tanpa banyak bicara dia berjalan menuju Raizen, disusul oleh Naruto dari belakang.
"Karena sekolahku belum selesai, kau tunggulah di ruangan staff."
"Roger!"
On Fraxinus ship
"Apa yang ingin kau tunjukkan padaku, Kotori?"
Kotori memutarkan kursinya, menghadap Shidou dengan chupa chups setia di mulutnya. Dia menunjuk ke layar besar, dengan rekaman video yang mulai dimainkan.
"Shidou, lihat ini baik-baik."
Mata Shidou dan Tohka melebar melihat rekaman itu. Video tersebut menunjukkan Naruto tengah menghadapi lima Kurumi, anehnya, mata biru sejuknya berubah menjadi jingga menyeramkan. Saat Kurumi dan imitasinya menembakkan puluhan peluru. Naruto kelihatan memukul udara dan tanah, melepaskan api berskala besar yang menyambar Roh Nightmare beserta koloninya dalam kedipan mata.
Shidou menelan ludah. "K-Kemampuan itu jangan bilang Naruto adalah... "
Kotori mengangguk. "Tampaknya orang yang membantumu adalah Roh yang tengah menyamar di lautan manusia. Reine, bagaimana?"
Menengok dari balik konsol, Reine menggeleng.
"Dalam data kependudukan Jepang, tak ada orang yang bernama Uzumaki Naruto. Satu-satunya nama yang hampir mirip, hanyalah Kurogane Naruto. Seperti yang kita ketahui, jatuhnya meteor misterius enam tahun lalu menyebabkan kematian seluruh keluarga Kurogane."
"Dari kesimpulan ini," Kotori tersenyum lebar, "Fraxinus telah menemukan Roh keempat yang harus kau tangani. Kau siap, Shidou?"
Shidou pucat, ide berkencan dan mencium Roh berkelamin sama dengannya bukan hal menarik untuk dilakukan. Dia itu lelaki normal!
Demi harga diri kejantanan, sang remaja rambut biru berkata.
"Kotori! Naruto itu laki-laki kau tidak berpikir aku harus mengajaknya kencan, bukan?!"
Kotori memiringkan kepalanya.
"Siapa bilang harus laki-laki yang mengajaknya kencan?"
"Eh? T-Tunggu Kannazuki-san... kenapa kau memborgolku?!"
Kannazuki, dengan mata bersinar, berujar.
"Yosh, Shidou-kun! Aku tahu kau sangat bersemangat untuk yang satu ini. Sekarang diam dan biarkan make-over yang–"
"AKU TIDAK BERSEMANGAT SAMA SEKALI! "
"Shin. Kau suka bra hitam atau bra putih?"
"TOHKA!"
Sepertinya keberuntungan tidak memihak Shidou saat ini, sebab Tohka dengan earphone terpasang sedang menyanyi mengikuti lirik lagu secara riang.
Di atas plaza kota Tenguu, tampak dua figure berpakaian mecha sedang mengadu dua pedang laser berbeda warna.
Figure kesatu mengatur jet pendorongnya ke belakang. Pedang lasernya melebur, digantikan dengan meriam yang perlahan mengumpulkan [Maryoku] lalu ditembakkan ke figure kedua.
Figure kedua menerbangkan dirinya lebih tinggi, berusaha keluar dari jalur tembakan figure kesatu. Figure kedua melesat ke arah figure kesatu, menusukkan pedang lasernya ke depan.
Figure kesatu mengubah meriamnya menjadi pedang laser, kemudian menangkis tusukkan figure kesatu, menghasilkan percikan listrik tiap bersentuhan.
"Sebagai pemula, kau lumayan juga, Uzumaki."
"Benarkah? Aku merasa tersanjung."
Figure kesatu aka Naruto, mengamati Realizer yang dipakainya sekarang. Tidak seperti Realizer lain yang biasa dipakai anggota AST, Realizer ini dirancang khusus sesuai fisik pria. Butuh beberapa jam untuk menyesuaikan diri dengan armor mecha ini, dengan kesabaran, ia perlahan mampu menguasainya.
Figure kedua aka Origami, dengan pakaian pemburu Roh-nya, menambahkan tenaga pada pedang lasernya. Tidak mau kalah, Naruto mengkonsentrasikan [Maryoku] dan menciptakan pedang laser lain, kemudian menghancurkan pedang laser Origami dan menggunakan yang satunya untuk menyerang.
Sejujurnya, [Wizard] terbaik yang dimiliki AST itu terkejut melihat jumlah [Maryoku] yang ditampilkan parameter Realizer Naruto. Jumlahnya banyak, mungkin saja sebanyak Ellen Mathers, [Wizard] terkuat di dunia dan terhebat dari DEM.
Satu hal yang pasti, Uzumaki Naruto mampu menjadi aset bagi AST. Yah, Origami mengangguk pada dirinya sendiri, sekutu untuk melenyapkan para Roh akhirnya bertambah lagi. Berita baik memang.
BZZT!
Origami segera menghindar dari rangkaian serangan serangan pedang Naruto. Dia mengalihkan pandangan pada si lelaki iris biru.
"Menyerang disaat musuh lengah... kau sepertinya terbiasa dengan situasi semacam ini Uzumaki."
Naruto mengangkat bahu. "Keberuntungan pemula?"
Kening Origami mengkerut. "Kau terlalu menjual dirimu kecil."
Naruto nyengir. "Boleh kutahu tinggi badanmu berapa?"
"152 centimeter," jawab si gadis berambut putih kasual.
Naruto sweatdrop.
Ya ampun. Beruntung sekali aku ini.
Interaksi manusia benar-benar menakjubkan.
Jangan mulai Gaia...
Tapi benar, kan!?
Ya.
"Ngomong-ngomong, Uzumaki," kata Origami, "waktu itu, saat monster berhasil dikalahkan sesosok raksasa, apa kau lihat seseorang keluar dari bola cahaya merah?"
Mengetahui apa yang dibicarakan Origami, Naruto menggelengkan kepala.
"Aku sepanjang waktu di toilet umum. Jadi jangan harapkan aku tahu sesuatu yang terjadi di luar."
Naruto melihat kekecewaan di wajah Origami, sebelum ekspresinya kembali seperti semula. Dia mengacungkan pedang lasernya kembali.
"Ayo kita lanjutkan."
Mengangguk, Naruto mempersiapkan diri dan menghunus pedang laser miliknya ke depan.
Ketika malam menggantikan sore. Naruto terlihat di suatu trotoar, dengan tangan sibuk mengetik layar ponsel.
"Sepertinya aku akan lembur malam ini," gumamnya, "siapa sangka penggemar Tale of Gutsy Shinobi lebih banyak daripada jumlah komiknya. Yah, ini berita bagus untuk finansialku jika begini terus."
"Hello, Ultraman Gaia."
Naruto secepat kilat menoleh ke samping, melihat sesosok makhluk bermata biru, berkulit hitam dan perak dengan mulut kuning tanpa rahang. Makhluk ini duduk di atas tiang lampu, dengan tangan menekan analog psp.
Si remaja pirang memasukkan ponselnya ke saku, Esplender muncul seketika.
"Mefilas!"
Mefilas Seijin mengangguk. "Jadi kau sudah tahu tentang rasku? Bagus, mengetahui informasi mengenai apa yang akan kau hadapi adalah kunci untuk memenangkan pertarungan."
Mata Naruto memicing.
"Apa yang sedang kau lakukan di Bumi?"
"Aku kesini untuk memperingatkanmu host pemula," ujar Mefilas, "segera tinggalkan planet ini sebelum D tahu soal keberadaanmu. Aku yakin, Tanah Cahaya merupakan tempat tinggal terbaik untuk bangsamu."
Naruto melipat lengan di depan dada, sorot matanya menajam.
"Kemarin aku telah melenyapkan Pazuzu. Jadi tidak ada gunanya untuk bersembunyi lagi. Ngomong-ngomong, kenapa kau mau repot-repot memberitahuku soal ini?"
Kalau Mefilas punya bibir, dia pasti tersenyum.
"Karena kau dan host Agul menarik perhatianku. Sayang sekali jika kalian berdua mati di usia yang muda."
Entah kenapa aku merasa merinding mendengar kata-katanya.
"Menma katamu? Tunggu, kau tahu dimana dia sekarang?"
Mefilas menepuk tangan. "Ah, kau ingin tahu keberadaan rekan birumu itu, Gaia? Aku bisa saja memberitahumu... tentunya, ada syarat yang harus kau selesaikan terlebih dahulu."
Naruto benci bagian ini. Sejelek apapun sifat dan kelakuan Mefilas Seijin, jika menyangkut informasi, merekalah juaranya.
"Baik," ucap Naruto, "apa syaratnya?"
Mefilas mengangguk puas.
"Sederhana saja, bertahan hidup."
Alis Naruto terangkat. "Huh? Bertahan hidup?"
"Bukan hanya dari ancaman monster, alien, robot angkasa, maupun roh," kata Mefilas, "tapi juga ras yang selalu mengobarkan peperangan; yaitu umat manusia."
Naruto menatap tajam sang alien hitam. "Manusia tidak seburuk itu."
"Benarkah? Aku penasaran sampai kapan kau akan memegang keyakinanmu itu. Lagipula, nasib Ultra terakhir yang melindungi mereka berakhir dengan pengkhianatan. Meski tidak lama sih. Contoh nyata; Ultraseven," kata Mefilas.
Dia melempar psp ke arah Naruto, Naruto pun menangkap alat elektronik itu dengan mudah.
"Simpan psp itu. Kalau sudah waktunya, kau bisa menghubungiku melalui itu. Mengerti, Gaia?"
Naruto hanya mengangguk. Memutar badan, dia berjalan menuju rumahnya.
Mefilas memandang punggung sang lelaki iris biru dalam diam. Menengok langit, dia bergumam.
"Sekarang kau sudah memiliki saingan D. Kita lihat siapa yang akan tertawa dan menangis di akhir. Mengingat musuhmu prajurit ultra, sepertinya aku tahu kepada sisi apa aku bertaruh."
K: Hey, Naruto. Bisa kau ke lokasiku sekarang? Aku butuh bantuanmu disini. Lacak menggunakan GPS.
Naruto membaca pesan dari Kurama dengan alis ditekuk. Mengangkat bahu, dia melangkah ke arah tempat Kurama.
"Ara ara ara, kita bertemu lagi Ikemen-san~"
Naruto menghela napas panjang. Melirik ke samping, dia melihat Tokisaki Kurumi berseri sembari mendekat.
"Kau tidak lari?"
Kurumi [Fu fu fu] lalu berkata. "Lari dari apa? AST? Suka atau tidak suka, aku ini bisa berada 'dimana-mana' sesuai keinginanku tanpa ada seorang pun dapat menghalangiku."
"Begitu," gumam Naruto, "jadi. Apa yang membuatmu datang kemari?"
"Apa proposalmu masih berlaku?" tanya Kurumi (pura-pura) polos.
"Sudah tidak," kata Naruto, mengingat pembicaraannya dengan Mefilas, "untuk saat ini itu pun."
Kurumi mengerucutkan bibir. "Mou, kenapa?"
Naruto memutar bola matanya. "Aku memiliki alasan tersendiri tentu saja. Tapi sayangnya itu bersifat personal. Oh ya, boleh kutanyakan sesuatu padamu?"
Kurumi tersenyum misterius. "Apa yang kudapat sebagai gantinya?"
"Maumu? Tapi jangan yang aneh-aneh."
"Melihat otot dadamu sampai puas."
Naruto menghela nafas. "Terserah. Apa yang kau tahu soal Kurogane Naomi?"
Kurumi mengelus dagu. "Kurogane Naomi-san... oh! Lima tahun yang lalu, aku tidak sengaja menonton konsernya sekali. Nada yang dikeluarkannya tidak seperti manusia pada umumnya, aku sempat berpikir dia itu Roh sebetulnya. Aku pernah berteman baik dengan orangnya. Meski namanya ternyata telah berganti ketika konser pertamanya itu dilakukan."
Naruto mengerutkan kening. "Jadi selama ini dia pakai nama samaran, begitu?"
Kurumi mengangkat bahu. "Samaran atau tidak, dia terkenal sebagai penyanyi terbaik di luar kota maupun di dalam."
"Apa kau tahu namanya yang sekarang?"
Sang Roh Nightmare menyeringai tipis.
"Sebelumnya, Ikemen-san... "
Mencubit batang hidung, Naruto perlahan melepas kaus yang tengah dipakainya. Menunjukkan otot-otot six pack hasil latihan beratnya selama latihan di Tanah Cahaya.
"Puas?"
Kurumi mengangguk dengan apa yang dilihatnya, kedua iris berbeda warnanya bersinar dalam ketertarikan. Mengelap iler yang hampir kabur dari sudut bibirnya, dia berkata.
"Izayoi Miku."
Berdiri di suatu taman, Kurama menghela napas. Sang mantan Bijuu menatap gadis berambut jingga yang sedang tertidur di bangku dekat mesin minuman, merasa geram saat melihat luka-luka seperti bekas tebasan berada di kulitnya.
"Lama sekali Naruto datang," gumamnya.
Beberapa menit kemudian, manik rubynya menangkap muka familiar seorang remaja berkumis. Melambaikan tangan, dia berteriak.
"Disini Naruto!"
Naruto mendekati Kurama, tersenyum lega. Dia mengamati Esplender yang berkedip, mengalihkan pandangan pada si gadis, sebelum kembali ke Kurama.
"Dia Roh," jawabnya kaget. "Kau temukan dia dimana?"
"Jatuh dari langit," balas Kurama.
Naruto menatapnya kering. "Ini bukan waktunya bercanda, Kurama. Kau temukan dia dimana?"
"Aku tidak bercanda! Dia memang jatuh dari langit."
Menyadari keadaan yang dialami si gadis, Naruto menggendongnya ke punggung. Sementara itu, Kurama menyalakan mesin motor.
"Aku duluan, Naruto."
Kendaraan roda dua tersebut melesat di jalanan.
Naruto sweatdrop.
"Rubah sialan!"
On Fraxinus ship
Di sebuah ruangan dengan cahaya hampir redup, Murasame Reine mengamati boneka beruang di tangannya dalam diam. Membalikkan boneka, perlahan ia menarik jahitan merah di punggung itu, mengeluarkan semacam foto dengan tiga orang di dalamnya.
Di kanan, seorang remaja dengan rambut biru tersenyum kepada kamera. Di tengah, seorang gadis rambut abu-abu berseri dengan boneka beruang di tangannya. Di kiri, seorang remaja rambut pirang mengacungkan ibu jari dengan cengiran lebar di wajah. Di bawah foto itu, terlihat beberapa nama.
Shin. Mio. Mina.
Teman selamanya.
Reine tersenyum, mengusap pelan foto tersebut.
"Kau kembali juga, Mina. Itu berarti, tidak lama lagi kita bertiga akan berkumpul bersama."
{Bersambung}
(1). Planet tempat dimana Zero dilatih oleh Leo
A/N: AKHIRNYA AUTHOR BERHASIL UPDATE KEMBALI! WUHU!
Eh maaf, kepencet caps lock.
Oke minna-san. Bagaimana chapter kali ini? Bagus? Ataukah jelek?
Tuliskan unek-unek kalian di review.
Kay, sampai jumpa lagi di chap berikutnya.
Silakan nikmati preview di bawah ini.
Next Time on A Song of Light and Heart
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Naruto menopang dagu, ekspresi sangat serius terpasang di wajahnya.
"Ya."
Elliot mulai berkeringat. Prediksinya ternyata benar! Menghembuskan nafas, barisan giginya terlihat.
"Kapan?"
"Sekarang."
"YUZURU!"
BOOM!
Naruto melompat untuk menghindar dari serangan gadis berambut jingga. Dia beralih padanya.
"Dengar, apapun masalahmu. Bisa tidak kita bicarakan ini secara baik-baik?"
Ekspresi si gadis mengeras seketika.
"KEMBALIKAN YUZURU PADAKU BRENGSEK!"
Naruto mengerang.
"Demi kolor Glenfire-san kesalahanku apa coba?"
"Nah, Izayoi-kun, silakan cari tempat dudukmu sendiri."
"Hai, Tama-sensei."
"Tama-chan-sensei!"
"Tama-chan-sensei, mengerti."
Shidou menaikkan alisnya ketika melihat Menma berjalan menuju tempat Tohka.
"Namamu siapa?"
"Mu? Oh," Tohka tersenyum riang, "Tohka. Yatogami Tohka."
Menma mengangguk, mengembangkan senyuman sebelum mengeluarkan sebuah kotak merah dari sakunya.
"Yatogami Tohka... maukah kau menikah denganku?"
"Itsuka-san mengajakku jalan-jalan?"
"Ya, Shidou-kun sendiri yang bilang begitu kepadaku."
Naruto mengernyit, memandang Shiori yang menunggu cemas di hadapannya.
"Bilang padanya, kalau aku setuju nanti aku akan pergi ke sekolahnya."
Shiori berseri.
"Oke!"
