私たちは一緒に運命 ( Kita ditakdirkan bersama )

Kali ini, Chie-chan ngelanjutin cerita yang judulnya.. ah, pasti kalian tahu. Oke cekidot aja.

.

.

.

Terinspirasi dari film Barbie®a fashion Fairytale.

Ying Yaya Movie©Boboiboy®Animonsta


Chapter II: Yaya Holiday in Indonesia

"Perhatian Pada seluruh penumpang. Harap mengembalikan posisi kursinya seperti semula. Karena pesawat akan segera mendarat." Terdengar suara dari dalam pesawat.

"Hm.. sebelum aku ke rumah bibi sebaiknya aku beli makanan dulu, plus beli hewan peliharaan." Pikir Yaya

"Kepada para penumpang, harap bersiap-siap turun, karena pesawat akan turun 4 menit lagi." Suara pemberitahuan lagi.

Yaya segera mengecek tas kecilnya "Hm.. HP ada, dompet, buku kecil, dan.. ah, apa ini? Sebuah kalung?" Yaya mengambil kalung itu dari dalam tasnya. "Oh, Ying, kuharap kau memaafkanku." Ya, kalung itu, kalung persahabatan Ying dan Yaya. Yaya mendesah. Ya, dia tidak pernah membayangkan persahabatan mereka hanya sampai sini, "Ying, apakah secepat ini kita akan berpisah?" gumam Yaya.

Tak terasa, sekrang pesawat telah mendarat di Bandara Abdul Rahman Sale, Malang, Indonesia. Yaya turun dari pesawat. Ia segera mengambil tasnya, setelah itu dia berjalan menuju sebuah kafe`. Enjoy Café` ya, itulah namanya.

"Saya pesan burger satu, special chochochips ice creamnya juga satu." Pesan Yaya. Sambil menunggu makanan datang, Yaya membuka Hpnya, di sana banyak sekali kenangan saat dia dan Ying bersahabat. "Ah, sudahlah, jangan lihat ini, lebih baik aku makan makanan yang aku pesan." Yaya melahap burgernya, taklupa pula eskrimnya.

"Sebaiknya aku pergi ke bibi dulu, atau beli hewan peliharaan dulu?" Yaya bertanya pada dirinya sendiri. "Hm.. baiklah, aku akan beli hewan dahulu, kebetulan di depan sana ada toko hewan peliharaan.." Yaya mengamati toko hewan peliharaan itu, tampak sederhana tapi manis. Toko itu memang kecil, tapi dekorasinya membuat senang mata memandang.

"Pak, kucing ini berapa harganya?" Yaya menunjukkan salah satu kucing lucu berwarna coklat putih.

"Oh, itu anak dari perkawinan antara kucing Persia dengan kucing lokal, harganya hanya Rp. 375.000. Umurnya baru 3 bulan, sudah divaksin kok, dik." Jawab bapak penjual itu.

" Oh, kalau yang ini?" Yaya menunjukkan kucing anggora coklat.

"Itu Kucing Anggora Hasil Perkawinan dengan Kucing Lokal, harganya Rp. 350.000, umur 3 bulan, sudah divaksin" Sahut bapak itu. "Oh, ya sudah, saya membeli kucing anggoranya saja, ini uangnya," Ujar Yaya sambil menyodorkan empat lembar uang seratus ribuan." "Baik, ini kucingnya, terimakasih,"Bapak itu mengambil kucing anakan itu lalu memberikannya pada Yaya. "Sama-sama pak," Yaya tersenyum, kucing idamannya itu, sekarang telah berada di tangannya. "Ini kembaliannya,"

"Oke, kau akan kuberi nama Britty. Lucunya kau.."Yaya memuluk kucing miliknya, kucing itu memang langsung akrab dengan Yaya.

"Miaw…" Britty mengeong kesenangan.

"Britty, sekarang kita ke rumah bibi, ya…" ajak Yaya, ia menggendong Britty menuju rumah bibinya yang tidak jauh dari situ.

"Hm.. benar kata bibi, di sini adalah kawasan kuliner, banyak sekali restoran dalam kompleks ini.." gumam Yaya sambil manggut-maggut.

"Assalamu'alaikum, Bibi!" sapa Yaya , membuka pintu dapur restoran bibinya, (Oh ya, nama bibi Yaya adalah Bibi Zapsi )

"Hai! Wah, keponakan bibi datang, selamat datang, Yaya!" Bibi Zapsi keluar dari dalam kamarnya yang berada di sebelah dapur,

"Hm.. bibi, kenapa bibi tidak memaak untuk pelanggan?" tanya Yaya heran, ya, bibi Zapsi sangat santai,

"Oh, rupanya kau belum tau sayang, lihat, restoran ini sudah dibeli seorang penjual spagetti, jadi, aku dan salah satu pelayan setiaku akan segera pindah ke daerah perumahan sayang," Bibi Zapsi menjelaskan,

"Tapi, kenapa itu bisa terjadi bi? Bukankah bibi lebih senang menjadi koki yang mempunyai restoran paling terkenal?" Yaya tidak percaya restoran milik bibinya yang manis itu akan menjadi café` yang menjual spagetti

"Em.. bu Zapsi, yang ini bagaimana?"seorang gadis seusia Yaya keluar dari salah satu ruangan belakang restoran,

"Ouh, Yaya, perkenalkan, ini Arisa Hirase, aku biasa memangggilnya Arisa, dan Arisa, perkenalkan, ini keponakanku, Yaya." Bibi menyuruh mereka untuk saling bersalaman,

"Hm.. ya, salam kenal, Bibi, bolehkah aku bantu embereskan?" Izin Yaya,

"Tentu saja, kalian bereskan dapur, dan bibi yang bereskan ruangan belakang restoran," Bibi Zapsi berjalan meninggalkan Yaya dan Arisa. "Hm.. hai! Mari kita bereskan dapurnya," Ajak Arisa sambil tersenyum manis,

"Apakah kau suka memasak? Kalau aku, aku sangat suka sekali memasak," tanya Yaya di sela-sela kesibukan mereka membereskan dapur yang agak berantakan itu,

"Hm.. aku juga suka memasak," "Aku tidak percaya restoran ini akan dibongkar, dulu aku sangat suka bermain di sini, rasanya seperti ada di dapur istana kerajaan yang sangat makmur," Yaya duduk di kursi dapur untuk melepaskan rasa lelahnya, sambil membayangkan masa kecilnya ketika bermain di dalam restoran yang paling besar di kawasan kuliner ini, ya, restoran bibinya.

"Ya, aku juga suka bermain di sini, rasanya ada keajaiban jika kita memasak di sini," Arisa menyetujui kata – kata Yaya, "Ikut aku," ajak Arisa sambil menggandeng tangan Yaya menuju sebuah kamar.

"Wah! Indahnya! Ini kamarmu?" Yaya menari-nari di dalam kamar itu, dindingnya yang berwarna pink membuat suasana nyaman. Di dalamnya ada kompor, oven, dan peralatan masak lainnya, di sisi lain, ada tempat tidur dan perlengkapan tidur lainnya.

"Bisa dikatakan begitu," Ujar Arisa, menghempaskan tubuhnya ke kasur empuk miliknya

"Indah sekali, di sini, aku juga merasakan keajaiban, sungguh, indah sekali!" Puji Yaya, "Mau memasak bersamaku?" tawar Arisa sambil memakai celemek kuningnya, "Tentu! Kita mau masak apa?" Yaya menghampiri Arisa yang memberinya celemek biru "Biskuit, aku sangat suka membuat biskuit," sorak Arisa sambil mengambil sebuah mangkok(Heh! Untuk apa bawa mangkok segala? Terserah Arisa dong! Oh, okelah)


Ying POV

"Lihat foto itu, seenaknya nongkrong di dinding kamarku!" Aku mengambil foto itu dengan kasar, yup! Pastinya, itu fotoku dengan Yaya, sejenak aku berpikir, "Hei! Ying! Kenapa kau begitu cepat memutuskan persahabatan kau dengan gadis lembut itu! KAU HARUS SEGERA mencarinya!" Ya, tiba-tiba aku mengutuk diriku sendiri, aku benar, aku harus segera pergi mencari Yaya secepat mungkin. "Mungkin Boboiboy tau," Segera ku berlari menuju kedai Kokotiam Tok Aba, Fiuh, untung Booiboy, Gopal, dan Fang ada di sana, "Hei! Fang! Boboiboy! Gopal!" panggilku seraya berlari mendekati mereka


Yesss! Sampai sini dulu, Chie-chan capek ngetik, maaf kalo dikit-dikit, oke, BYE! . . . Mind to RnR