Moshi-moshi minna….! Arigatou bagi yang sudah meripiew chappie 1: Rieechan Lieebie21, Yukari Hyuu-Kei, undine-yaha, dan sasoyouichi, udah di-PM. Ini dia… chappie 2 sekaligus chappie terakhir fic award pertama bulan ini…! :D Semoga suka mas bro!


Maki memanggil-manggil nama kekasihnya, di dalam hati. Di pikirannya hanya ada Kakei. Dan Maki semakin mempunyai perasaan tidak enak, mengarah ke arah kekasihnya.

"Shun…,"


"Winter Pink"

[Kamulah yang Kucintai]

2nd Down

Disclaimer: Eyeshield 21 belong to R. Inagaki and Y. Murata

Story by: Yunna Michi

Written by: Yunna Michi

Summary:

For Eyeshield 21 Award Month August/ Karena kamulah yang kucintai, seperti bunga Arbutus ini./ My second Kakei/Maki/ Mind to RnR or CnC?

Warning(s)!:OOC(banget), semi AU, typo(jaga-jaga), kurang air eh? Ide!, maksa, pas-pas-an, gajhe, nggak nyambung, di sini Maki kuliah di Saikyoudai :D, dan bagi panitia yang baca, harap buang alat yang digunakan untuk membaca fic ini(?) ke comberan terdekat(?)!

Don't Like? Don't Read!

~Happy Reading~


-Winter Pink-


Shibuya Maki terus berlari keluar gerbang kampus Saikyoudai. Gadis tersebut terus berlari menuju rumah sakit dimana Kakei sedang dirawat. Iris emerald-nya sudah basah oleh air matanya. Tidak dipedulikannya peluh bercucuran dan kaki jenjangnya yang meronta-ronta untuk berhenti. Rumah sakit tersebut memang tidak begitu jauh dari Saikyoudai, tapi cukup melelahkan bagi seorang—gadis—yang—berlari.

Keadaan yang sungguh membuat Maki resah. Sakit di kakinya dan napasnya yang mulai tidak beraturan lebih kecil dibanding rasa takut yang ia rasakan sekarang.

Kenapa harus terjadi? Ini terjadi begitu cepat…

Setelah beberapa menit berlari, gadis ini pun sudah sampai di depan bangunan Rumah Sakit Kyoto, tempat yang tadi diberitahukan Mamori. Air mata yang sejak tadi mengalir ia hapus. Maki pun masuk ke bangunan tersebut dan langsung 'menghambur' ke tempat resepsionis.

"Permisi, di kamar nomor berapa pasien yang bernama Kakei Shun dirawat?"

"Oh nona. Kakei-san dirawat di kamar nomor 3-9,"

"Oh ya, terima kasih,"

"Nona?"

"Iya, ada apa?"

"Batas waktu menjenguknya 10 menit. Jadi, dimohon untuk sebentar saja. Kakei-san masih dalam kondisi kritis,"

"Ah… Hai,"

Sebegitu parahkah kondisi Shun?

Sebersit pikiran sibuk berkecamuk di benak Maki. Hanya ada Kakei. Gadis ini kembali jatuh ke dalam jurang kegelisahan. Inikah pertanda…? Tidak, tidak. Ia tidak boleh berpikiran negatif. Maki tidak pernah membayangkan orang terdekatnya mati, dan ia tidak sekalipun mengharapkan orang terdekatnya mati! Pemuda itu, kekasihnya, jangan sampai mati. Harus bertahan, sampai benar-benar waktunya…

Mencoba membayangkan penderitaan Maki? Silakan bayangkan, jika orang yang begitu kamu sayangi meninggalkan kalian dalam waktu yang lama, dan saat ia kembali dan kamu belum menemuinya, mati begitu saja. Bagaimana? Sakit, bukan?

Setelah lift berhenti, Maki pun keluar dan berjalan mencari kamar nomor 3-9. Kamar yang terkutuk. Setelah ini, pasti ia akan sangat membenci angka 39. Setelah 5 menit mencari, Maki berhenti di depan kamar 3-9. Ia terdiam, sejenak. Perasaan tidak enak semakin menjadi-jadi. Maki pun menelan ludah, lalu membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.

Setelah berada di ruangan dan menutup pintu, rasanya Maki ingin keluar lagi. Ia tidak tahan, dan juga pemuda itu, yang dirawat di sini, harus cepat-cepat keluar. Atau tepatnya, harus keluar. Now or never. Keputusan Maki yang tetap berada di ruangan ini, dan kalaupun ia keluar sekarang, lega memang. Tapi takkan lega berkepanjangan. Jadi, ia tidak mau ambil resiko —resiko rasa gundah-gulana yang memuakkan.

Iris emerald-nya terpaku menatap sosok pemuda yang terbaring di ranjang. Pemuda dengan rambut dark blue dan iris aquamarine-nya yang tertutup. Sosok yang begitu Maki rindukan. Kakei tertidur dengan tenang, berkebalikan dengan dirinya yang 'bangun' dan diliputi rasa gundah-gulana.

Untuk kesekian kalinya, Maki kembali menitikan air mata. Sudah berapa kali ia menangis hari ini, tidak dipedulikannya. Meskipun ia tahu, menangis berkali-kali dalam sehari itu tindakan orang yang seperti tidak punya harapan lagi.

Maki berjalan mendekati ranjang Kakei. Ia mengambil kursi kecil dan duduk di atasnya. Iris emerald 'basah'-nya menatap sosok pemuda di depannya. Seakan tidak akan melepas pandangannya lagi.

Maki tidak bisa menahan keinginan untuk menangis kembali. Jemari lentik dan tangan mungilnya mengelus lengan kekar Kakei. Ibarat saat itu sedang perang, Maki diposisikan sebagai korban yang terkena panah dari pihak lawan. Menyesakkan.

"Shun… Tahukah kamu, aku begitu merindukanmu? Aku, aku begitu galau, karena mengingat janjimu? Dan tahukah? Tahukah kamu, aku begitu perih saat ini juga, melihat kamu yang terbaring di ranjang rumah sakit? Tahukah…?"

Maki mengucapkan rangkaian kata dan kalimat yang berisikan curahan emosi dan keadaan hatinya yang selama ini ia pendam. Maki ingin —sangat—, Kakei mendengarnya. Tapi, itu mungkin hal gila.

Maki memohon kepada Tuhan, dirinya diberikan waktu lagi dengan Kakei, kekasihnya. Ia ingin mendengar jawaban Kakei. Janjinya. Dan satu yang penting, ia ingin Kakei sembuh. Hanya itu, beratkah? Terlalu muluk-mulukkah?

Gadis ini pun menyerah. Ia sudah tak kuat. Ia berusaha mengobati luka hati yang menganga dengan air mata. Meskipun itu sama saja dengan 'menabur garam di atas luka baru'.

DEG!

Maki terbelalak ketika seseorang menggenggam tangannya. Ia menoleh kepada pemilik tangan itu, Kakei Shun. Apa yang ditangkap mata Maki dan masuk ke dalam otaknya, membuatnya seperti mimpi. Curahannya tadi, seperti kata-kata penyindir sekaligus penyemangat seperti yang dilakukannya dulu, saat Maki menjadi manajer Kyoshin dan Kakei yang tidak lain linebacker sekaligus ace tim mereka.

Kakei menerawang iris emerald milik gadis di hadapannya. Ia tersenyum kecil. "Shibuya, bukankah aku berpesan kepadamu, jangan pernah menangis? Tindakanmu seperti orang bodoh, tahu,"

Maki yang masih terkejut, langsung merespon dengan kesal, "Masih parah begini, sudah bisa mengejek orang. Dasar…,"

Kakei kembali memasang wajah stoic-nya. Tapi, dalam hatinya berkebalikan. Ia senang bertemu manajernya yang dulu. Tidak berubah. Sosok gadis yang begitu dirindukannya. Gadis yang begitu disayanginya. Dan gadis yang begitu dicintainya.

Di pihak Maki pun begitu. Ia sangat sangat bersyukur bisa bertemu Kakei lagi. Rasa senangnya tidak dapat ia sembunyikan lagi. Senyum manis menghiasin wajahnya —yang juga manis.

Hening. Keduanya sibuk dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya, Maki memecah keheningan di antara dirinya dengan Kakei.

"Kamu tidak apa-apa, Shun? Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Kurasa, aku tidak perlu menceritakannya," Maki kembali gelisah karena Kakei menolak menceritakan apa yang menimpanya(pagi tadi). Kakei tidak mau menceritakannya adalah, karena ia takut kekasihnya terpukul, dan ia sangat tidak mau. Cukuplah dengan keadaannya sekarang yang membuat Maki menangis terus.

Maki merasa matanya mengeluarkan air hangat itu lagi. Ia sekarang begitu membenci dirinya sendiri, karena seharian menangis seperti orang bodoh dan tidak punya harapan lagi. Saat ia akan mengusap air matanya, tangan Kakei mendahuluinya mengusap air bening yang jatuh dari mata Maki tadi.

"Sudah kubilang, jangan menangis,"

Bukannya berhenti menangis, Maki melakukan yang sebaliknya. Ia semakin terisak. Kakei yang agak kaget(tapi tetap disembunyikan oleh wajah stoic-nya) dengan reaksi gadis di sampingnya, menarik kepala Maki ke dadanya. Maki —dengan refleks— menenggelamkan wajahnya dan menangis terisak. Kakei pun membiarkan gadis ini menangis, toh, wajar saja sebenarnya.

Sinar dan cahaya matahari sore yang berwarna jingga menjadi saksi biksu pelepasan kerinduan antara Kakei Shun dengan Shibuya Maki. Sinar dan cahaya yang hangat tersebut menerpa keduanya. Seakan menghilangkan perasaan itu, dan diganti oleh euforia yang membuat keduanya tenang. Seakan-akan memberi ucapan, 'Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja'.

Selang beberapa menit, merasa hatinya sudah tenang kembali dan sudah terobati, Maki mengangkat kepalanya —sehingga Kakei melepas 'pelukan'-nya.

"Ah… Shun, gomen…,"

"Tidak apa-apa,"

Hening sesaat. Dengan tumbennya(*), kini Kakei-lah yang memecah keheningan. Ia tertarik dengan sesuatu digenggaman Maki.

"Shibuya, kamu masih menyimpan bunga dariku?"

Maki melihat tangan kirinya yang masih menggenggam bunga Arbutus pemberian Kakei, yang tadi sempat ia jatuhkan(di atap Saikyoudai). Ia terdiam sejenak, "Ya, tentu. Bunga darimu sangat berharga dan berarti, Shun…,"

Suara Maki yang merendah membuat Kakei ingin menghiburnya lagi. Tetapi kemudian, ia menyernyitkan dahinya karena kepalanya —yang masih dibalut perban— terasa sakit. Tangannya pun refleks memegangi pelipisnya.

"Shun? Kamu tidak apa-apa? Kenapa dengan kepalamu?"

Sontak, Maki bereaksi, setengah melonjak dari kursinya. Kaget karena melihat kondisi Kakei.

Ada apa? Apakah…?

Tidak, tidak. Ia tidak boleh berpikiran seperti itu. Maki harus optimis, Kakei pasti sembuh. Ya, kekasihnya harus dan pasti sembuh.

Kakei merasakan sakit yang menjalar di kepalanya. Berat. Ia terus memegangi pelipisnya, menahan rasa sakit yang menjadi-jadi. Kakei berusaha memasang wajah stoic seperti biasanya, menyembunyikan rasa sakit yang ia rasakan di hadapan kekasihnya yang menatap cemas. Kakei berusaha melupakan sakit itu, "Aku tak apa-apa,"

Maki masih tidak percaya —ralat, memang tidak akan percaya. Ia begitu tahu Kakei, jadi, masih saja ada sesuatu yang mengganjal. Maki tahu, Kakei selalu menyembunyikan sesuatu yang ia anggap tidak penting, seperti emosi dan perasaan. Ia begitu pintar menyembunyikan sesuatu dengan wajah datarnya. Tapi itu tidak berlaku bagi Maki.

Hening kembali menyelimuti. Kakei maupun Maki memilih diam dan sibuk dengan dunianya sendiri. Kakei yang berkali-kali menghela napas karena berusaha melupakan rasa sakit di kepalanya, dan Maki yang terus mencemaskan Kakei dalam diam.

"Shibuya?"

"Ng? Ada apa Shun?"

Berusaha terus melupakan rasa sakitnya, Kakei mengalihkan dengan kembali memecah keheningan. "Apa kamu masih mengingat janjiku?"

Maki terhenyak. Ia tersenyum pahit, "Bodoh, aku selalu mengingatnya. Aku tidak bisa melupakannya…,"

Kakei tersenyum kecil. Ia tertawa kecil —dan datar—, "Pasti, aku sudah menduganya,"

"Aku takut kamu tidak mengingat janjimu. Tapi, semuanya berkebalikan…,"

"Aku tak mungkin melupakan janjiku sendiri. Aku akan menepatinya, aku bukan orang munafik," Kakei menghela napas. Kemudian, ia melanjutkan, "Shibuya, aku sangat menyayangimu. Aku mengingat janjiku sendiri, tidak mengingkari janjiku, karena kamulah yang kucintai,"

Maki terharu. 4 kalimat terakhir, persis yang dikatakan Kakei waktu di taman 2 tahun yang lalu. "Shun…, kamu sudah menepati janjimu. Aku menghargai itu. Aku merasa terhormat…,"

Tanpa basa-basi, Kakei menarik kembali Maki ke dalam pelukannya. Ia mengelus-elus rambut cokelat terang gadis di pelukannya. Maki yang diperlakukan istimewa seperti itu, blushing dan euforia meluap begitu saja.

Maki sangat bahagia. Kekasihnya, Kakei, menepati janjinya. Janji yang dibuat 2 tahun yang lalu. Janji di taman itu, Kakei tidak melupakannya. Maki sangat lega, kegalauan dan rasa gundah-gulana yang membelenggunya sudah hilang. Kandas. Inilah yang diharapkannya. Janji yang ditepati, membuat Maki seperti meraih puncak dari kelegaan dan kebahagiaan setelah berlama-lama di jurang kesedihan dan kegalauan memuakkan. Ia sudah muak, dan inilah akhir dari kesedihannya.

Kakei melepas pelukannya terhadap Maki. Pemuda itu mengangkat dagu gadis yang dicintainya itu. Tanpa basa-basi, Kakei mengecup dahi Maki. Persis yang dilakukannya 2 tahun lalu di taman itu. Maki kembali blushing.

"Shun?"

"Hmm?"

"Arigatou Domou arigatou, Shun!"

"Douitta, bukan apa-apa,"

Kakei merasa dirinya sembuh. Sakit di kepalanya hilang begitu saja. Gadis inilah, Shibuya Maki, menjadi obat manjurnya. Lebih dari obat-obatan sekalipun.

"Aishitteru yo, Maki,"

"Aishitteru mo, Shun…,"

Sejenak, Maki terbengong. Kakei memanggil nama kecilnya? Sejak awal, meskipun sudah ada hubungan istimewa, ia tidak memanggil nama kecilnya. Hanya imbuhan –san yang hilang(?). Dan kini, ah… hati Maki pasti sudah berbunga-bunga.

Kakei pun begitu. Akhirnya, ia bisa juga mengucapkan nama kecil kekasihnya dengan lancar, tanpa ragu sekalipun. Ia begitu lega, entah karena apa. Karena euforia atau apa. Dan sebersit pikiran terlintas di otaknya. Brilliant, pikirnya.

"Maki?"

"Iya?"

Kakei tertawa kecil, membuat Maki penasaran, "Ah… mungkin kuberitahu nanti saja."


-Winter Pink-


Author's Dictionary:

(*) tidak seperti biasanya


~The End~

.

.

.

Minna! Itulah dia fic award saia! *tebar confetti*

Kerasa ndak? Run to Win-nya itu lho…! *nunjuk-nunjuk papan festival(?)*

Kakei: woy, itu apaan sih?

Yunna: eh ada kamu, EH? SEJAK KAPAN KAO DI SINI?

Kakei: author gendeng, siapa yang jadi chara di fic ini, eh?

Yunna: kamu ya? Tapi kok bisa masuk ruang kerja(?)ku?

Kakei: gak penting.

Maki: itu yang di atas apaan?

Yunna: eh, ada kamu juga. RHS ah…

Maki: apa? RSJ? Siapa yang ke sana?

Yunna: kao… :P

Kakei: yang cowok cuma aku aja di sini… dah, ah, dasar author bego.

Maki: ikut woy!

Yunna: eh kabur ya, 2 chara gendeng ntu! Heh Kakei, gue nggak bego! Elo kali yang bego!

Yunna: Ya udah minna, abaikan yang di atas! Yang penting, RnR or CnC please? Flame tidak diterima! GET OUT KAO!

RnR or CnC onegai?


Omake

.

"Nona Shibuya?"

"Iya, ada apa?"

"Soal desain pakaian anda yang akan dimunculkan dalam film sukses dari perusahaan Jari Pro. Tolong ditanda tangani!"

Seorang wanita umur 28 tahunan dengan kacamata yang berbingkai tipis tengah menyerahkan map yang berisi surat keterangan. Yang dimaksud untuk menanda tangani, Shibuya Maki, menanda tangani dengan wajah yang sangat senang.

Ya, 3 tahun telah berlalu. Maki yang telah lulus dari Saikyoudai, memulai karirnya sebagai desainer pakaian. Sejak SMU, ia memang sudah tertarik dalam hal busana dan kosmetik. Dan sekarang, Maki telah sukses di bidangnya.

Bahkan sekarang, desain bajunya akan dipakai oleh aktor dan aktris yang akan main di film perusahaan Jari Pro, yang tadi disebutkan oleh wanita tersebut. Dengan aktor ternama Sakuraba Haruto; yang dulu pernah bekerja di sana dan mantan receiver Ojou White Knights dan Ojou Silver Knights. Yang kedua, seorang pria tampan dan atletis; Yamato Takeru, mantan runningback Teikoku Alexanders dan Saikyoudai Wizards, temannya dulu. Yang ketiga; pria yang tampak seperti gitaris dengan rambut dan iris scarlet, Akaba Hayato. Mantan tight end Bando Spiders dan Saikyoudai Wizards. Sama seperti Yamato, Akaba juga teman 1 aktris cantik seperti malaikat; Anezaki Mamori, sahabat sekaligus 'kakak' Maki saat di Saikyoudai. Mantan manajer Deimon Devil Bats dan Saikyoudai Wizards. Disutradarai oleh mantan komikus wanita —yang banting stir ke dunia hiburan—, yang sukses dengan komiknya yang berjudul 'Prince Eyeshield 21'; Koizumi Karin. Mantan quarterback perempuan Teikoku Alexanders.

Semuanya Maki kenal. Mereka adalah kenalannya. Dipertemukan lewat amefuto. Bicara soal amefuto, kebanyakan atlet dream team Japan banting stir menjadi profesi yang lain. Orang-orang Saikyoudai kebanyakan ke dunia hiburan, Enma kedokteran dan kejaksaan, dan lain-lain. Akuma Saikyoudai —atau mungkin seluruh Jepang—; Hiruma Youichi, juga sukses di Jepang dan Amerika sana. Pemain poker sekaligus wakil pemimpin perusahaan komputer ternama, yang dipimpin oleh Clifford D'Lewis.

Mungkin cukup penjelasan profesi para lulusan amefuto dulu. Mengingat betapa sukses dan tidak terduganya para atlet dulu, membuat Maki tersenyum-senyum sendiri. Bahkan, ia sempat tertawa geli, mengingat sekarang Mamori yang menjadi aktris cantik papan atas, padahal dulu tidak begitu suka dunia hiburan. Semuanya kocak.

Drrtt…drrtt…

Maki melirik ke sampingnya. HP flip-flop-nya bergetar, menandakan ada e-mail masuk. Ia pun meraih HP-nya dan membaca isi e-mail tersebut.

From: Kakei Shun

To: Shibuya Maki

Subject: none

Maki, temui aku di café Italia yang biasa itu, kamu tahu, 'kan?. Kalau kamu bisa, sekarang juga, ya.

Maki tersenyum. Ia mengiyakan dalam hati. HP-nya ia masukkan ke dalam tas yang ia bawa, lalu menutup risleting-nya. Maki berdiri —tanpa membawa tasnya—, lalu keluar dari ruang kerjanya menuju tempat tujuannya; café Italia yang biasa ia kunjungi bersama Kakei, kekasihnya. Bicara tentang Kakei, ia kembali ke Jepang setelah menamatkan kuliahnya dan bekerja di sini. Pemuda itu merintis karirnya di bidang sains, sama seperti Kaitani Riku —lulusan Universitas Enma, mantan runningback Seibu Wild Gunmans dan Enma Fires.

Tak terasa, Maki sudah sampai di café tersebut. Dilihatnya pemuda itu sudah ada dan duduk di meja nomor 9. Untungnya bukan 39, angka yang dibencinya sejak kejadian itu. Sudah, sudah. Bukan saatnya mengulang masa lalu yang menyakitkan itu.

"Shun, ada apa?"

"Maki? Duduk saja dulu,"

Maki pun duduk di meja yang sama —tentunya— dengan Kakei. Kekasihnya itusudah memesan minuman duluan, dan Kakei pun sudah memesan untuk Maki. Cappuccino untuk Kakei dan Caramel Coffee untuk Maki.

Keduanya menyeruput minuman masing-masing. Maki berhenti dan diam sebentar, "So, ada apa, Shun?"

"Nothing," Kakei diam sebentar dan menurunkan cangkir kopi yang dipegangnya, "But, I will ask you some…request,"

"Permintaan?"

"Yep," Kakei menghela napas, dan memasang senyum. Senyum yang jarang diperlihatkannya. Senyum yang… keren.

Maki pun diam dengan rasa bingung, tentunya. Ia pun menunggu Kakei mengatakan permintaannya. 'Memangnya aku genie pengabul permintaan?' Pikirnya.

Kakei mengambil sesuatu dari saku celananya. Ia pun memperlihatkan benda yang itu kepada Maki. Yang diperlihatkan sangat terkejut. Maki kaget dan suatu rasa tidak percaya menyelimuti hatinya.

Benda itu, sebuah kotak. Kotak beludru berwarna biru muda. Kakei pun membuka kotak itu. Kini, ia merasa sangat profesional di bidang ini. Dimana seorang pemuda bisa menarik perhatian gadis yang disukainya, yang dulu merupakan kelemahannya. Kakei tersenyum dengan profesional juga, menerawang iris emerald milik Maki. "Do you want to be my wife? Marry me, please…"