"Sweet As Sugar"

Chapter 2 : Stick Together

By : Fanlady

Disclaimer : Boboiboy © Monsta

Warning : Kumpulan drabble, tiap chapter tidak saling berhubungan, TaufanxYaya, fluff, OOC, typo(s), etc

.

.

.

"Argh, kakiku pegal sekali. Tanggung jawab, Taufan!" Yaya mendelik kesal pada pemuda yang berjalan santai di sebelahnya. Taufan menoleh dan memandangnya heran.

"Kok aku, sih? Emang aku salah apa?"

"Gara-gara kamu kan kita sampai ketinggalan bus dan haru spulang jalan kaki!" omel Yaya.

"Yeee... salah sendiri. Aku kan udah bilang lebih baik kita nunggu bus selanjutnya aja. Tapi kamu malah bersikeras mau langsung pulang," kata Taufan kalem.

"Kalau kita menunggu bus berikutnya, bisa-bisa kita pulangnya habis magrib nanti. Aku bakal dimarahi sama ayah ibu, tau!"

"Iya deh, iya, aku yang salah," Taufan akhirnya mengalah. Tak ada gunanya juga berdebat dengan teman masa kecilnya ini, yang ada mereka malah adu mulut sepanjang jalan nanti. "Kalau gitu sini ..."

Taufan berdiri di depan Yaya dan menawarkan punggungnya. Yaya menatapnya heran. "Apa?"

"Kau bilang capek, kan? Sini aku gendong biar nggak capek lagi," tawar Taufan sambil nyengir.

"Huh, nggak perlu. Paling kamu cuma mau ngambil kesempatan dalam kesempitan," Yaya mendengus sebal. Wajahnya sedikit merona, namun ia berusaha sebaik mungkin menjaga ekspresinya tetap normal.

"Kau itu ya, kenapa sih selalu saja meragukan kebaikanku? Aku ini tulus, Yaya, tulus. Hatiku lebih suci daripada bayi baru lahir," kata Taufan dengan kepala menggeleng sedih.

Yaya memutar bola matanya bosan. "Sudahlah, tak ada gunanya aku mendengarkan ocehan menyebalkanmu itu," ucapnya. Ia kemudian melanjutkan kembali langkahnya, meninggalkan Taufan sedikit di belakang.

"Hei, hei, tunggu aku, Yaya!"

Taufan berlari kecil untuk menyejajari kembali langkahnya dengan Yaya. Cengiran lebar terpampang di wajahnya saat melihat wajah Yaya yang cemberut dengan bibir manyun karena kesal.

"Jangan cemberut gitu, dong. Nanti aku cium, nih," goda Taufan. Yaya memukulinya dengan tas selempang merah muda miliknya. "Aw, aw, aw! Sakit, Ya!"

"Rasain!" ketus Yaya. Ia mempercepat langkahnya sambil terus menggerutu sebal. Kenapa sih Taufan tak pernah serius? Pemuda itu selalu saja bercanda dan menggodanya. Dan yang membuat Yaya kesal, kenapa wajahnya harus memerah setiap kali Taufan melakukan itu? Padahal ia sudah terbiasa dengan gombalan atau godaan konyol dari Taufan, tapi tetap saja ia tak bisa mengontrol detak jantungnya setiap kali itu terjadi.

"Yaya, awas!"

Karena terus tenggelam dalam pikirannya sendiri, Yaya tak sadar ada sebuah mobil yang melaju kencang dan hampir menyerempetnya. Beruntung sekali sepasang lengan dengan sigap menariknya menjauh hingga ia tak harus tertabrak.

"Ya ampun, Ya. Kalau jalan jangan melamun dong. Kalau kamu kenapa-napa nanti siapa yang sedih? Aku juga, kan?" Taufan menggeleng-gelengkan kepala seraya menghembuskan napas lega. Tapi Yaya tak punya waktu untuk mengkhawatirkan dirinya yang hampir terserempet mobil, karena kini nyaris tak ada jarak antara dirinya dan Taufan.

'Terlalu dekat!' batin Yaya panik. Tangan Taufan yang masih memeganginya menahan Yaya sehingga ia tidak bisa bergerak menjauh. Yaya yakin wajahnya sudah merah sekali sekarang, apalagi jantungnya kini kembali menggila di dalam dadanya.

"Kamu nggak apa-apa kan, Yaya?" tanya Taufan khawatir. Ia membungkukkan badannya sedikit agar bisa melihat wajah Yaya lebih jelas. Yaya menahan napas melihat wajah Taufan yang hanya berjarak beberapa senti darinya.

"A-aku nggak apa-apa, kok!" kata Yaya gugup. Ia memandang ke mana saja asal bukan wajah Taufan. Hembusan napas hangat pemuda itu di wajahnya membuat bulu Yaya meremang. "Ta-Taufan! Jangan makin dekat dong, jauh-jauh sana!" Yaya memukul dada Taufan dengan kepalan tangannya, membuat pemuda itu mengaduh kesakitan.

"Aduuh... Kenapa aku dipukul lagi, sih? Aku baru saja menyelamatkan hidupmu lho. Harusnya kan kau memberiku hadiah atau apa gitu, bukannya malah pukulan," Taufan menggerutu.

"Heh, beli aja hadiah sendiri sana!" Yaya berseru jengkel. "Dasar, nolong orang itu harus ikhlas, nggak boleh pamrih."

"Iya, iya, dasar nona cerewet," Taufan mencubit pipi Yaya gemas.

"Hei, jangan seenaknya mencubit pipiku!"

"Kalau gitu aku cium aja, gimana?"

Yaya langsung memasang kuda-kuda untuk bertarung, dan Taufan segera berlari terbirit-birit untuk menyelamatkan diri.

Tanpa disadari Yaya, Taufan mengelus dadanya dan menghembuskan napas panjang sembari berlari. "Tadi nyaris sekali ... Aku benar-benar tak bisa menahan diri kalau sudah berhadapan dengan Yaya," gumamnya pelan.

"Sabar, Taufan. Tunggu lima tahun lagi sampai kau selesai mengucapkan ijab kabul dan resmi mempersunting Yaya sebagai istrimu ..." Taufan kembali melanjutkan gumamannya. Sampai kemudian sesuatu yang keras menghantam kepalanya dan membuat langkahnya sedikit oleng. Ternyata Yaya melemparinya dengan sepatu.

"ADAW! SAKIT, YAYA!"

Yah, biarkanlah mereka tetap seperti ini selama beberapa tahun ke depan. Yang penting, asal bersama Yaya, Taufan pasti akan bahagia seperti apa pun keadaannya.

.

.

.

End

Makasih banyak yang udah menyempatkan diri membaca~ Ditunggu reviewnya~~ XD