Summary : Senna lari dari rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan putra kurosaki. Karena itu, Rukia harus menggantikan Senna….R&R please…^^

Author: Juzie chan

Disclaimer : Om Kubo lah...Author cuma minjam tokoh om Kubo hingga batas waktu yang terhingga (hingga bleach tidak ada lg di dunia ini...huhuhu)

Pairing : IchiRuki, slight IchiSena, RukiRen, ByakuRuki (ini mudah-mudahan enggak...)

Warning! : banyak Typo, AU, OOC, EYD tidak sesuai, Gaje, Jayus, Abal, penuh kenistaan, membosankan, dan segala kekurangan-kekurangan yang lainnya.

Oh, ya...

Salam kenal semua ya...Juzie adalah author baru belajardan tidak berpengalaman di dunia fanfiction. mohon dimaklumin ya sodara-sodara jika story yang Juzie buat sangat sangat tidak mengundang selera tapi kalau ada yang R&R Juzie akan sangat berterima kasih...

Mohon bimbingannya...

*Tengkyu ya yang udah baca and review di Chapter sebelumnya...Author sama sekali ga nyangka kalau fic ini bakal ada yang baca...^^

CH 2

An Agreement

Di mansion Kuchiki, seorang pria tampan sedang berdiri di hadapan jendela. Rambutnya hitam sebahu dengan hiasan kenseikan menandakan bahwa ia adalah seorang bangsawan. Bukan hanya itu saja, ia sebenarnya sudah menjadi kepala keluarga dari klan bangsawan terhormat di Soul Society, yaitu klan Kuchiki. Ia bernama Byakuya Kuchiki, sang ketua dari klan kuchiki termuda.

Tatapan dingin tanpa ekspresi di wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan bahwa selama ini ia menyimpan kekhawatiran yang besar pada keluarganya. Adik kandungannya bernama Senna Kuchiki sudah sebulan lebih meninggalkannya setelah pertengkaran hebat diantara mereka mengenai perjodohan yang telah lama disepakati antara keluarga kuchiki dan keluarga Kurosaki sejak kakek mereka, Ginrei Kuchiki, masih menjabat sebagai kepala keluarga klan Kuchiki.

Senna yang masih sangat muda dan berpikiran lebih modern menganggap perjodohan tersebut sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa ia akan dinikahkan dengan orang yang tidak ia kenal hanya karena kesepakatan yang dibuat oleh kakeknya ketika Senna sendiri belum lahir. Byakuya sendiri sebenarnya sangat berat mengikuti keinginan kakeknya tersebut tapi karena ia adalah seorang kepala keluarga yang harus taat terhadap aturan dan tradisi keluarga, mau tidak mau ia harus melaksanakan kesepakatan yang telah dibuat kakeknya.

Senna merasa tidak adil dengan sikap kakak satu-satunya itu. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk lari dari rumah sebagai bentuk penentangan keluarga dan untuk memberikan pelajaran pada kakaknya. *scara ya…si Senna itu anak manja….#plak, author ditampar sama Senna…huhuhu*

Kini pikiran byakuya sedang kacau. Seminggu yang lalu pihak dari Kurosaki telah menghubunginya untuk membicarakan perjodohan tersebut. Byakuya tidak tahu harus mengatakan apa pada keluarga Kurosaki. Di lain pihak, ia harus segera menyelenggarakan pernikahan adiknya tapi di sisi lain adiknya telah lama pergi tanpa kabar.

Masih di mansion kuchiki. Nampak seorang gadis duduk di tepi kolam. Ia mengamati ikan-ikan bergerak ke sana kemari tapi hanya sebatas dalam kolam itu. ia merasa dirinya tidak jauh beda dengan ikan-ikan tersebut. Berada di suatu mansion mewah tapi kebebasan malah terenggut.

Ia bernama Rukia Kuchiki. Gadis berambut sepanjang bahu berwarna hitam kemilau bak model sunsilk, sangat kontras dengan warna kulitnya. Ia memiliki mata berwarna ungu, tubuhnya mungil dan memakai dress terusan selutut berwarna kuning, terlihat sederhana untuk ukuran seseorang yang menjadi anggota keluarga bangsawan.

Lima tahun sudah ia berada di keluarga kuchiki sejak Byakuya mengadopsinya sebagai adik angkat saat berada di soul society. Selama itu pula ia merasakan sangat kesepian. Sebelum masuk ke keluarga kuchiki, Rukia bukanlah siapa-siapa bahkan bisa dikatakan ia berada di kelas masyarakat yang paling rendah di rokugai karena tidak memiliki nama keluarga. Oleh karena itu, keberadaan rukia di keluarga kuchiki tidak dianggap sama sekali hanya saja Byakuya sebagai kepala keluarga telah memutuskan untuk mengadpsi Rukia ke keluarga kuchiki tanpa diketahui alasannya apa.

Rukia's POV

Hhhhhh….mendesah dan mendesah….entah sudah berapa banyak aku mendesah selama berada di keluarga kuchiki dan sepertinya mendesah sedih itu sudah menjadi rutinitas dan kebiasaanku sehari-hari. Sudah lima tahun aku berada di keluarga kuchiki, rasanya benar-benar sangat lama, tanpa teman hidupku sangat kesepian. Tuhan…mengapa aku harus diadopsi oleh keluarga kuchiki? Andaikan waktu itu Renji, sahabat yang sudah kuanggap sebagai keluarga, menahanku untuk tetap hidup bersamanya, aku tidak akan menyetujui untuk diadopsi oleh keluarga kuchiki. Tapi, karena si bodoh itu malah mendukung, aku terpaksa untuk menerima menjadi anggota keluarga kuchiki.

Selama berada di keluarga kuchiki aku memang tidak pernah kekurangan apapun. Makanan yang enak, pakaian yang bagus, dan dihormati oleh banyak orang, hal yang tidak pernah aku dapatkan sewaktu hidup di rokungai. Tapi, semua itu harus diganti dengan kebebasanku. Aku bahkan tidak penah lagi tertawa lepas.

"ikan….apakah kamu bahagia berada di sana?" Aku bergumam sambil menatap sedih ikan-ikan cantik itu.

"Rukia!" seseorang memanggilku tapi…suara ini…suara yang benar-benar familiar. Cepat-cepat aku menoleh memastikan apakah suara ini benar-benar suaranya. Ternyata benar, aku sedikit tidak percaya dengan keberadaan dia di sini, di Mansion Kuchiki. Rambut merah panjangnya, tubuh yang tinggi serta tegap. Dia benar-benar Renji. Dia terlihat lebih dewasa sekarang, banyak sekali yang berubah dari penampilannya.

"Renji? Apa yang kau lakukan di sini?"

"Kenapa? Kau heran?" Renji malah bertanya balik dengan nada sinis.

"Tentu saja! Aku seperti tidak percaya kalau kau ada di sini apalagi kau…banyak berubah."

"Memangnya kamu yang tidak ada perubahan sama sekali. Badan tetap kurus dan pendek."

"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi!"

"Kemarin aku diangkat sebagai asisten kepercayaan Byakuya, tentu saja karena aku memliki bakat dan keahlian di atas rata-rata," aku tahu dia mau menyombongkan diri , "dan sebagai asistennya aku diminta untuk tinggal di mansion ini. Jadi, mau tidak mau, suka tidak suka kau akan terus bertemu denganku."

Aku terperangah. Ternyata Renji sudah berkembang sejauh ini…Tapi…dia tidak berubah ternyata…masih selalu bicara sombong.

"Ouw…jadi…karena itu ya kamu membuat tato di alismu?" ku balas saja dia karena sudah berkata sombong di depanku, aku tahu persis bagaimana cara membuatnya marah, "kalau begitu, selamat ya tuan 'bertato alis' yang terhormat," tambahku dengan memberi penekanan di "tuan bertato alis" biar dia emosi sedikit.

"Kau pikir aku tidak tahu penderitaanmu selama berada di keluarga kuchiki?" Renji menyemprotku, benar-benar pemarah sekali dia apalagi dia berteriak sambil menunju-nunjukku, apa dia tidak takut kalau Nii-sama bisa mendengar teriakannya? Aku saja menutup kuping rapat-rapat karena tidak tahan dengan suara kerasnya.

"Ha Ha Ha kau ini hanya orang biasa tapi sangat sok dan sombong!" Renji malah merendahkanku! hei…yang sombong sebenarnya siapa?

"Jika terjadi apa-apa denganmu aku tidak mau perduli biar saja kamu menderita atau mati sekalian. Kau pikir aku tidak tahu kalau kau menderita di sini? Selama berada di sini aku akan sangat sangat menikmati penderitaanmu!" Astaga…aku tidak menyangka kalau dia bisa tega berkata seperti itu. Ah…apa ini? Hatiku sangat sakit, dan rasanya aku ingin menangis dengan ucapan dia barusan. Bahkan ia langsung pergi begitu saja tanpa meminta maaf. Apa dia benar-benar sudah tidak menganggapku lagi?

Sementara di kediaman kurosaki.

Ichigo's POV

"Aku pulang!" seruku sambil membuka pintu.

"Eh, Ichi nii sudah pulang!" seru Yuzu yang masih memakai celemek, kebetulan letak dapur tidak jauh dari pintu masuk. "Ayah, Karin chan, Ichi nii sudah pulang!" terdengar suara lari yang berisik dari dalam.

"WHOOOAAAA…ICHIGO…SELAMAT DATAAAAAAANG!" dengan gerakan cepat aku menghindar dari tendangan melayang yang tidak main-main dari ayahku.

"Very Nice!" ayah berkata sambil mengacungkanku jempol dan mengedip matanya ke arahku.

"APANYA YANG VERY NICE?" balasku protes, "yang tadi itu bisa membunuhku! Dasar ayah tua bangka!"

"HUAAAA….Masaki, kau bisa dengar sendiri kan apa yang putra kita tadi katakan? Mana mungkin seorang ayah yang baik hati dan berhati lembut seperti diriku mau membunuh anaknya sendiri?" Ayah malah menangis Bombay di poster besar ibuku.

Aku, yuzu dan Karin hanya bisa sweatdrop melihat kelakuan lebay ayah.

"Ichi nii, ada oleh-oleh tidak?" Yuzu bertanya.

"Ada, untuk Karin dan ayah juga ada," kataku sambil mengambil duduk di sofa. "Semua ada di koper."

"Lalu bagaimana di Hueco Mundo? Kata orang-orang di sana banyak cewek-cewek cantik dan seksi, pasti Ichi nii dapat pacar di sana!" Karin berkata dengan semangatnya.

Aku jadi teringat dengan Senna. "Yah….di sana memang banyak cewek cantik dan seksi tapi….aku tidak dapat pacar sama sekali. Lagian aku ke sana tidak ada niat untuk cari pacar koq."

"Jangan sedih, Ichigo!" tiba-tiba saja ayah sudah duduk di sampingku, "kau tidak perlu susah-susah mencari pacar lagi….karena….AYAH SUDAH MEMPERSIAPKAN JODOH UNTUKMU! HUAHAHAHAHAHA"

"Jodoh?"

"Begitulah kira-kira…" jawab ayah.

"Ichi nii…Ichi nii bakal tidak lama lagi menikah..." Yuzu menambahi dengan riang gembira

"TUNGGU SEBENTAR! Ini maksudnya apa? Tidak lama lagi menikah? Sejak kapan aku dijodohkan dan memangnya….DENGAN SIAPA AKU DIJODOHKAN?"

"Ckckckck…sudah kuduga kalau kejadiannya akan seperti ini," Karin berkata.

"Hei, kalau begitu cepat jelaskan padaku, Karin!"

"Ayah saja, Ah! Aku mau main game saja di dalam," Karin malah kabur.

"Kenapa kau malah jadi grogi seperti ini Ichigo?"

"Ini bukan grogi Ayah…cepat jelaskan kenapa aku sampai dijodohkan segala?!"

"Baiklah…sebenarnya…kau tahu sendirikan kalau kakek Yamamoto dan Ginrei Kuchiki sangat ingin menjadi satu keluarga…"

"Maksudnya karena mereka ingin menjadi satu keluarga aku harus menikah dengan keluarga Kuchiki, begitu?" sepertinya aku tahu arah pembicaraan ini.

"That's right!"

"Tidak masuk akal!" protesku "kalau mereka ingin menjadi keluarga kenapa tidak sejak dulu mereka kawinkan saja anak-anak mereka, dengan begitu mereka bisa merasakan bagaimana menjadi satu keluarga. Kenapa baru sekarang perjodohan itu dilangsungkan? Toh mereka juga sudah mati sekarang…OUCH?!" Tiba-tiba ayah melempariku dengan pentungan baseball dan aku tidak sempat lagi menghindar.

"Berani sekali kamu mengatakan kedua tua Bangka lapuk itu dengan 'sudah mati'! kau pikir mereka binatang?! benar-benar menghina!"

"Tapi barusan ayah menghina mereka juga…"

"Kau ini lupa atau benar-benar tidak tahu, Ichigo? Kakek Yamamoto dan si Ginrei itu cuma punya satu anak itupun semuanya laki-laki, kemudian ayah dan Byakuya sama-sama laki-laki, masa iya ayah nikah sama Byakuya? Itu namanya jeruk makan jeruk donkzzz, lalu byakuya punya adik perempuan, ayah keburu sudah menikah dengan Misaki dan kau juga sudah lahir!"

"Oh…begitu toh. Aku lupa…" kataku sambil mengelus-elus pipiku yang terkena pentungan baseball tadi. "TAPI TUNGGU DULU! Kenapa bukan ayah saja yang menikah dengan adik byakuya? Kan ayah duda sekarang…."

"Hiks…ICHI NII JAHAT!" kali ini Yuzu yang menangis, "POKOKNYA YUZU GAK MAU PUNYA IBU TIRI YANG MASIH MUDA!"

"Itulah sebabnya Ayah tidak bisa menikah dengan adik byakuya, sebenarnya sih ayah mau mau saja…tapi…" ayah berujar.

"HUAAAAAAAAA" tangis Yuzu malah semakin menggelegar.

"Yuzu…yang tadi itu kakak Cuma bercanda…kakak juga tidak mau punya ibu tiri yang masih muda." Aku berusaha menenangkan Yuzu.

"Berarti kau sudah menerima perjodohan ini, Ichigo?"

"BELUM!" sahutku tegas, "bukannya Ayah masih mempunyai anak selain aku! Lagipula Byakuya kan sekarang duda!"

"HUAAAAAAAAA…tega sekali Ichi nii mau menikahkan Yuzu dengan om Byakuya!" Tangis Yuzu yang tadinya sudah mereda sekarang bangkit lagi.

"Bu…bukan begitu maksudku…adikku kan bukan cuma kamu…masih ada Karin…"

BUG

Tiba-tiba Karin melempariku buku yang tebalnya na'udzubillah.

"Ichi nii sudah gila ya? Masa Karin yang masih sekolah dasar dijodohkan sama om-om…ntar Karin lapor nih ke komnas anak!" karin mengomel dan mengancam sementara aku ngunyah-ngunyah kaca belin.

"Memang cuma kamu yang bisa menikah dengan keluarga Kuchiki, Ichigo! Jadi, terima sajalah! Jangan sok jual mahal begitu…ntar kamu gak nikah-nikah loh."

"Ba…Baiklah kalau begitu," terpaksa aku mengalah, aku sudah tidak bisa lagi mengelak.

"YEAAAAY!" ayah dan Yuzu langsung bersorak-sorak gembira, Karin kembali ke dalam.

"Kalau begitu mana foto adik Byakuya itu, aku tidak pernah tahu kalau Byakuya ternyata punya adik perempuan."

"Aduh…itu dia masalahnya, Ichigo…ayah tidak punya fotonya.."

"Setidaknya ayah pernah melihatnya kan? bagaimana ciri-cirinya?"

"Ayah juga belum pernah melihatnya…"

"MAKSUDNYA? Masa iya ayah tidak pernah melihat adik Byakuya? Kalau begitu, siapa namanya? Biar aku search di google atau facebook," aku mengambil tabletku.

"Owh…namanya ya…hehehehe…sebenarnya namanya…ehehehehe" ayah malah cengengesan tidak jelas.

"Cepatlah ayah! Aku mau melihatnya!"

"Hehehehe…sebenarnya…ayah juga tidak tahu namanya siapa." Kata Ayah tanpa dosa. Aku dan Yuzu langsung tepar di tempat.

"Ayah ini bagaimana sih?! Bisa-bisanya Ayah mau menjodohkanku dengan wanita yang namanya ayah sendiri tidak tahu!"

"Reaksimu tidak perlu seperti itu Ichigo….percayalah…semua anggota keluarga Kuchiki itu ganteng-ganteng dan cantik-cantik…pokoknya oke punya lah, kau tidak akan menyesal…"

Sekarang aku benar-benar ampun deh. "kalau begitu terserah ayah saja, baiknya bagaimana. Aku mau pergi tidur dulu." Ucapku lalu meninggalkan ayah dan Yuzu.

"Ichi nii…Ichi nii tidak makan?"

"Tidak. Aku mau tidur saja." Aku lalu masuk ke kamarku dan menjatuhkan diriku ke ranjang, memikirkan bagaimana nanti model calon istriku. Mudah-mudahan saja calon istriku itu cantik. Semoga…semoga…