Malam ini tampak begitu cerah dengan bintang yang bertaburan dan bulan sabit yang menghiasi langit malam sepertinya sayang jika dilewatkan, dan Kibum termasuk dalam sekian banyak orang yang tak ingin melewatkannya. Gadis itu berdiri di beranda kamarnya. Suasana malam yang cerah berbanding terbalik dengan suasana hati Kibum saat ini. Sepertinya Kibum menepati kata – katanya untuk memikirkan rencana perjodohannya dengan Changmin. Pandangannya menerawang jauh ke depan seolah sedang menerawang masa depannya.
Jung Changmin, sudah bukan nama asing lagi dalam hidup Kibum. Dia sudah sangat mengenal teman kecilnya itu. Kibum terus memikirkan alasan orang tuanya menjodohkan dirinya dengan Changmin. Alasan yang cukup bisa diterima Kibum. Alasan yang seharusnya membuat Kibum berkata "ya" untuk perjodohannya. Namun ada sesuatu yang menghalanginya.
Choi Siwon. Namja nyaris sempurna yang sempat menjadi pasiennya itu terus saja ada dalam pikirannya. Namja yang belakangan ini sedang dekat dengannya, namja yang membuatnya terjerat oleh pesonanya. Membuat seorang Kim Kibum jatuh hati dan mencintainya. Ya, Kibum mencintai Siwon. Dia merasa apa yang ada pada diri Siwon begitu cocok dengannya. Kepribadiannya, karakternya, terlepas dari latar belakang keluarganya, Kibum menyukai semuanya. Kedekatan mereka membuat Kibum sedikit banyak belajar tentang Siwon. Dia adalah namja yang hangat namun juga serius dan tak main – main dengan apa yang dilakukan. Mengingat bagaimana dekatnya mereka membuat seulas senyum manis terpatri pada wajah cantik Kibum. Selama ini Kibum merasa diperlakukan istimewa bak tuan putri oleh Siwon. Bergandengan tangan sudah menjadi hal wajar jika mereka sedang bersama. Kibum tak bisa menampik jika perlakuan Siwon untuknya membuat hatinya melambung jauh. Mereka sudah seperti sepasang kekasih. Tapi sayangnya mereka bukan. Itu hanya akan terjadi jika saja Siwon mengungkapkan perasaannya. Mereka tidak akan terus terjebak dengan status 'hanya teman'. Lalu kenapa Siwon tidak juga mengatakan perasaannya? Mungkinkah hanya Kibum saja yang merasakannya? Sadar dengan pemikirannya, senyum itu menghilang dari wajah ayunya. Bisa saja 'kan hanya Kibum yang memiliki perasaan itu. Hanya Kibum yang mengalami cinta itu seorang diri tanpa ada balasan dari Siwon.
"Haaahh"
Kibum merasa sudah cukup waktu yang dia gunakan untuk menikmati malam di beranda kamarnya. Wanita itu lalu masuk ke kamar dan menutup pintu beranda. Berdiri sambil memikirkan hal itu ternyata cukup membuatnya merasa lelah.
.
.
.
Kibum akan kembali ke kamarnya setelah meneguk segelas air dingin di dapur ketika dia akan melewati kamar orang tuanya, Kibum tiba – tiba teringat ibunya. Kibum ingat bagaimana ibunya begitu bersemangat dengan perjodohan ini. Akhirnya Kibum menghampiri kamar orang tuanya. Entah kenapa dia ingin memeluk ibunya. Selalu seperti itu setiap kali hatinya sedang tak tenang.
Kibum yakin orang tuanya masih terjaga. Terbukti dari pintu kamar yang masih sedikit terbuka dan lampu yang masih menyala terang.
Tok tok tok
"Eomma."
Kibum membuka pintu perlahan. Dilihatnya sang ibu masih terjaga, seperti dugaannya. Leeteuk cukup terkejut mendapati Kibum ada di kamarnya. Ini sudah cukup larut namun Kibum masih belum tidur, tidak biasanya, batin Leeteuk.
Yeoja paruh baya dengan wajah bak malaikat itu menutup buku yang sedang dia baca, meletakkannya di meja nakas, lalu menyuruh putrinya duduk di hadapannya. Tak perlu disuruh dua kali, Kibum langsung duduk dan memeluk Leeteuk. Jika sudah seperti ini Leeteuk yakin ada sesuatu yang mengganggu putrinya.
"Kau belum tidur, sayang?"
Kibum menggeleng
"Tidak bisa tidur, eomma. Appa kemana?"
"Appamu masih di ruang kerjanya."
Kibum mengangguk. Dia mengerti jika terkadang ayahnya bisa sangat sibuk. Dan Kibum tau alasan ibunya masih terjaga, menunggu ayahnya.
"Lalu kenapa Kibumie belum tidur, eum?"
Usia Kibum dua puluh tujuh tahun namun terkadang kedua orang tuanya memperlakukan Kibum seperti seorang anak tujuh tahun.
Kibum melepaskan pelukkannya. Mungkin dia harus menceritakannya, bertukar pikiran dengan ibunya tentang perjodohan itu.
"Eomma, menurut eomma bagaimana dengan perjodohanku dengan Changmin?"
"Heum? Jadi itu yang membuatmu tak bisa tidur?"
Kibum mengangkat bahunya.
"Dengar sayang, kami hanya orang tua yang menginginkan kebahagiaan untuk anaknya, layaknya orang tua pada umumnya. Eomma akan sangat senang jika kau menerimanya. Eomma dan appa tak perlu khawatir jika kau bersama Changmin. Bukankah kita sudah sangat mengenal baik keluarga Jung? Tapi kami tak memaksa jika kau tak setuju atau bahkan punya namja pilihan yang lain."
Kibum melihatnya dengan jelas ada binar penuh harap dari manik angelic milik ibunya. Kibum tau jika Leeteuk begitu menginginkan dirinya menikah dengan anak dari sahabat ibunya. Kibum yakin ibunya akan sangat senang jika dia menerima perjodohan ini. Kebahagiaan ibunya juga adalah kenahagiaannya, bukan? Kibum menatap manik milik Leeteuk, mencari keyakinan hatinya di sana.
"Ne, eomma, aku bersedia."
Kibum sudah menetapkan pilihannya. Jung Changmin adalah pilihan Kibum. Itu artinya dia harus melupakan perasaannya terhadap Siwon. Dia tidak akan membiarkan hatinya jatuh terlalu dalam.
.
.
.
"Jadi menurut mu bagaimana, hyung?"
"Ne?"
Siwon tampak tak mengerti.
"Kau tak memperhatikan ku, hyung? Jadi dari tadi aku bicara kau tak menyimaknya?"
"Maafkan aku, Kyu. Memangnya kau membicarakan apa tadi?"
"Astaga! Aku membicarakan Sungmin, hyung. Aku berencana melamarnya."
Sepertinya Kyuhyun bisa meledak sebentar lagi. Dari tadi dia memaparkan rencana melamar kekasih hatinya pada sang kakak. Tapi Siwon – sang kakak – malah tidak memperhatikannya. Siapa yang tidak kesal?
"Sebenarnya kau kenapa, hyung? Akhir – akhir ini kau sering tidak focus. Ceritakanlah."
Meskipun sedang kesal namun tuan muda Cho itu tetap berusaha peduli. Dia memang merasa beberapa hari ini kakaknya menjadi berbeda.
"Apa ini tentang dokter Kim?"
Yang dimaksud Kyuhyun adalah Kim Kibum. Siwon tak menjawab hanya menghela nafas. Membuat Kyuhyun semakin yakin jika ini karna dokter cantik itu.
"Entahlah, Kyu. Sudah tiga hari ini aku seperti kehilangan Kibum."
Siwon benar. Terakhir kali mereka bertemu adalah ketika Siwon mengantar Kibum pulang, tiga hari yang lalu. Setelah itu Siwon seperti tak bisa menemui Kibum. Wanita salju itu tak membalas satupun pesan yang Siwon tinggalkan ataupun mengangkat panggilan dari Siwon. Ditambah pekerjaan Siwon yang belakangan ini begitu banyak membuat mereka benar – benar tak bisa bertemu. Siwon terus berpikir tentang Kibum. Ada apa dengan Kibum-nya? Apa Kibum sakit? Tapi terakhir kali mereka bertemu Kibum terlihat baik – baik saja bahkan cenderung tampak bahagia. Pemikiran – pemikiran tentang Kibum benar – benar mengisi seluruh kepalanya.
"Hyung, bukankah kau sudah menyatakan cinta padanya?"
"Belum."
"Apa?! Belum?! Kali ini kenapa lagi, hyung? Bukankah kau sudah sangat yakin dengan perasaanmu?"
Kyuhyun benar – benar frustasi menghadapi kakaknya. Berbeda dengan dirinya yang langsung menyatakan cinta pada Sungmin ketika dia merasa tertarik begitu dalam oleh pesona bunny-nya. Dengan alasan "dia sangat menarik, aku tak ingin pria lain mendapatkannya.", Kyuhyun yang saat itu baru tiga hari mengenal Sungmin langsung menyatakan cinta dan mengajaknya berpacaran. Tapi kakaknya ini benar – benar. Seolah memiliki saribu satu alasan untuk menunda pernyataan cintanya.
"Hey, bukannya aku tak mau mengatakannya. Waktu itu aku sudah akan mengatakannya tapi ibunya menelpon lebih dulu dan menyuruh Kibum cepat pulang. Jadi aku terpaksa menundanya."
Siwon sedikit tidak terima karna Kyuhyun terkesan menyalahkannya.
"Kalau begitu pergi dan temui dia. Katakan padanya, sekarang."
"Kau benar, Kyu."
Tak ingin menunda lebih lama lagi, Siwon bergegas memakai kembali jasnya, mengambil ponsel, dompet dan kunci mobil dalam laci meja kerjanya. Dan setelahnya Siwon berlalu begitu saja meninggalkan Kyuhyun namun belum sampai pintu langkahnya terhenti. Dia berbalik dan menatap Kyuhyun yang ternyata memperhatikan kepergiannya.
"Eoh, aku mendukungmu melamar Sungmin. Lebih baik kau segera melamarnya sebelum dia sadar akan kesalahannya bersama mu dan mencari namja lain. Good luck, boy."
Siwon segera keluar dari ruangannya sebelum Kyuhyun buka suara dan berteriak padanya.
"Yak! Hyung!"
Tepat, sesuai dugaan.
.
.
.
"Aku tak percaya kau sudah ada di sini. Bahkan kau tak bilang pada ku kalau kau akan pulang."
Sang lawan bicara hanya terkekeh melihat wajah kesal Kibum yang justru terlihat lucu.
"Jangan tertawa, Jung Changmin! Tidak ada yang lucu."
Kibum menatap semakin kesal pada Changmin.
Jung Changmin memang sudah pulang ke Korea sejak kemarin. Tanpa memberitau Kibum, lelaki berbadan menjulang itu datang ke rumah sakit – ruangan Kibum – untuk mengejutkan Kibum. Dan sekarang mereka sadang berada di dalam mobil Changmin yang terparkir cantik di depan rumah sakit. Mereka baru pulang dari makan siang.
"Kau tak senang aku pulang, ya?"
"Tidak."
Kibum menjawab ketus.
"Kau pergi begitu lama dan pulang tiba – tiba tanpa membawakan oleh – oleh untukku? Tega sekali kau."
Kibum masih dengan merajuknya justru membuat Changmin semakin geli. Lalu namja itu mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya dan menarik pelan salah satu tangan Kibum yang dilipat di dada.
"Ini untukmu."
Kata Changmin sambil memasukkan cincin ke jari manis Kibum.
"Apa ini?"
"Cincin. Apa lagi?"
"Aku tau ini cincin. Tapi untuk apa?"
"Kau bilang minta oleh – oleh. Dan itu oleh – oleh untuk mu. Aku mendapatkannya dari seorang teman ketika aku di Bali."
"Wah..ini cantik sekali. Temanmu pengusaha perhiasan, ya?"
Kibum mengamati baik – baik cincin yang terpasang di jarinya.
"Bukan. Dia seorang pengrajin emas perak di Bali. Eum…sebenarnya aku sudah ingin pulang bersama eomma dan appa tapi aku membatalkannya dan main sebentar ke Bali."
Namja itu memberikan penjelasan sambil mengusap kepalanya, merasa gugup. Dan Kibum, yeoja salju itu sudah mendelik marah.
"Kau! Pergi ke Bali tanpa mengajakku?! Keterlaluan kau, Jung Changmin!"
"Hey, aku melakukannya karna aku takut kau menolak perjodohan kita. Jadi aku memilih menenangkan diri sebentar sebelum pulang. Lalu aku mendapat kabar dari eomma kalau kau menerima perjodohan kita. Saat itu aku ingat temanku yang seorang pengrajin emas perak. Aku memintanya membuatkan sebuah cincin untuk ku berikan padamu."
Changmin menjelaskannya panjang lebar. Dia tak mau gadis di hadapannya ini mengamuk.
Changmin meraih kedua tangan Kibum dan menggenggamnya. Menatap yeoja itu dengan tatapan teduhnya.
"Terimakasih telah menerimaku. Aku akan berusaha membahagiakanmu. Nanti aku akan mengganti cincin itu dengan cincin pertunangan kita. Dan ketika kita sudah menikah nanti aku akan mengajakmu bulan madu ke Bali. Kau pasti akan suka."
Entah bagaimana Kibum sudah ada dalam pelukkan Changmin. Mendengar laki – laki itu berkata demikian membuat hatinya merasa tak enak. Kibum merasa pilihannya sudah benar tapi kenapa hatinya malah tak menentu seprti ini.
'mianhae.'
Lirih Kibum dalam hati.
.
.
.
Siwon sudah ada di ruangan itu sejak tiga puluh menit yang lalu. Salah seorang perawat bilang dokter Kim sedang keluar makan siang. Padalah niatnya datang juga untuk mengajak Kibum makan siang. Akhirnya Siwon memilih menunggu dokter cantik itu di ruangannya.
Siwon sedang asyik dengan ponselnya ketika pintu ruangan itu terbuka, menampilkan sosok yang sudah ditunggunya sedari tadi. Mereka tampak terkejut dengan keberadaan satu sama lain. Kibum sendiri belum siap bertemu Siwon. Hatinya yang belum siap. Namun mau bagaimana lagi, cepat atau lambat mereka tetap akan bertemu, kan?
"Choi Siwon-ssi, eoremanieyo."
Kibum menyapa Siwon terlebih dulu, berusaha mengendalikan rasa gugupnya. Namun sapaan itu justru membuat Siwon mengerutkan alisnya.
'Choi Siwon-ssi? Kenapa Kibum memanggilku seformal itu. Lalu kemana perginya Siwonie?'
Inner Siwon bingung.
Mereka sudah duduk saling berhadapan.
"Maaf jika aku mengejutkan mu. Tadi seorang perawat mengatakan kau sedang makan siang. Padahal aku juga ingin mengajakmu makan bersama. Ya sudah, aku menunggumu di sini. Apa kedanganku mengganggu?"
"Tidak. Kenapa tidak memberi kabar kalau kau akan datang? Kau pasti sudah menunggu lama."
"Jika aku menelpon mu dan mengatakan aku akan datang, apa kau akan menjawab telponku? Atau jika aku mengatakannya melalu pesan, apa kau akan membalasnya?"
Siwon mengatakannya dengan datar. Membuat Kibum merasa tertampar. Belakangan ini Kibum memang sengaja menghidari Siwon demi misi menghapus perasaannya terhadap namja tampan di hadapannya.
"Sebenarnya ada apa, Kibumie? Aku merasa kau sedang menjauhi ku. Katakan pada ku ada apa?"
Siwon meraih jemari Kibum dan menggenggamnya.
"Aku hanya sedang sibuk. Maaf."
Kibum mengatakannya sambil membuang muka, merasa tak enak pada Siwon.
"Kau sedang tidak berbohong, kan?"
Sepertinya Siwon tidak puas dengan jawaban Kibum. Sedangkan yeoja itu masih memalingkan wajahnya, tak menjawab.
Siwon masih menggenggam tangan itu ketika sadar ada sesuatu di salah satu jari Kibum. Karna merasa hening, Kibum memberanikan diri menatap Siwon. Dia melihat namja itu sedang menatap cincin yang tadi diberikan Changmin.
'Terakhir kali kami bertemu, Kibum belum memakai cincin apapun. Jadi sejak kapan cincin itu ada di jari manis Kibum?'
Pertanyaan itu bersarang dalam hati Siwon.
"Sejak kapan kau memakai cincin, Kibumie? Apa sikapmu belakangan ini ada hubungannya denga namja pemberi cincin ini?"
Pertanyaan Siwon cukup mengintimidasi. Kibum sendiri ingin sekali menjawab 'iya, Siwonie. Maafkan aku.' Tapi tak mungkin dia sampaikan.
Dengan agak kasar Kibum menarik tangannya dari genggaman Siwon.
"I..itu bukan urusanmu, Siwon-ssi. Sekarang katakan apa yang membawa mu kemari?"
Siwon menghela nafas sebelum memulai bicara.
"Aku kemari ingin bicara dengan mu. Aku ingin mengatakan apa yang ingin aku katakan tempo hari."
"Tentang apa itu?"
"Ini tentang perasaanku, Kibumie. Ini tentang aku yang menyukai mu. Ani ani ini tentang aku yang mencintai mu."
Deg
'Ya Tuhan, bagaimana ini?'
Kibum benar – benar dibuat terkejut dengan pernyataan Siwon. Tapi bukankah Kibum sudah menentukan pilihannya? Dia akan menyakiti banyak pihak jika dia goyah dengan pilihannya.
"Aku tau. Gomawo. Tapi maaf, kau tidak bisa menyukai ku. Kau tidak boleh mencintai ku. Aku tidak ingin kau menyimpan perasaan itu pada ku. Kau harus menghapusnya, Siwonie."
'Jadi, apa aku ditolak? Seperti inikah rasanya?'
Siwon terkejut dengan kenyataan bahwa Kibum menolaknya. Dia sudah sangat yakin dengan perasaannya terhadap yeoja di hadapannya.
"Tapi bagaimana dengan kebersamaan kita selama ini? Aku pikir kita – "
"Lupakan. Lupakan semuanya. Lupakan apa yang pernah kita lewati. Aku mohon lupakanlah."
Ada rasa mengiba dari setiap kata Kibum. Ada tatapan sedih dari manik indah Kibum ketika mereka saling menatap.
Tak lama mereka saling diam, telepon di meja Kibum berbunyi.
"Baiklah, aku akan segera ke sana."
Kibum mengakhiri pembicaraannya di telepon dan Siwon tau itu tandanya Kibum akan pergi, yang secara tidak langsung meminta Siwon untuk pergi juga.
"Pasienku sedang membutuhkan ku. Aku harus memeriksanya. Terimakasih sudah mau datang kemari. Aku pergi."
Blam
Dan pintu itu tertutup meninggalkan Siwon di ruangan itu sendirian.
.
.
.
Ini terhitung hampir dua minggu sejak Siwon menemui Kibum. Sekarang namja tampan itu sedang sibuk – atau mari kita katakan menyibukkan diri – dengan pekerjaannya. Siwon masih tak percaya dengan sikap Kibum, dengan perkataan Kibum yang melarangnya mencintai yeoja menawan itu. Parahnya, hingga meminta Siwon melupakan semua kebersamaan mereka. Semudah itukah?
"Imo~"
Namja itu berusia dua puluh enam tahun namun kadang kelakuannya tak ubahnya seperti anak enam tahun.
"Kyuhyun-ah"
Kyuhyun langsung masuk ke ruang tengah begitu memasuki rumah besar keluarga Choi bersama seorang yeoja yang mengikutinya, menemui imo kesayangannya yang sedang duduk bersantai bersama sang samchon. Kyuhyun mengambil duduk di sebelah Hankyung – sang samchon – setelah berpelukan ringan dengan Heechul.
"Dengan Sungmin juga ternyata. Apa kabar, sayang?"
"Kabar baik, imo."
Dan kedua wanita beda generasi itu saling berpelukan, lalu mendudukkan diri mereka masing – masing di sofa single.
"Hyung dimana, samchon?"
"Hyungmu di perpustakaan."
"Sedang apa di sana? Ini kan weekend."
Kyuhyun sepertinya tidak setuju dengan Siwon yang memilih mengurung diri di perpustaan rumah dari pada berkeliaran di luar.
"Ck. Hyungmu itu akhir – akhir ini agak berbeda."
"Maksud imo?"
"Dia jadi lebih suka bekerja. Imo tau dia memang suka bekerja tapi belakangan ini dia bersikap seperti seorang workaholic. Dia akan berangkat lebih pagi dan pulang larut. Atau jika dia pulang lebih awal dia akan membawa pulang pekerjaannya dan mengurung diri di perpustakaan. Hari ini saja dia sudah ada di sana sejak pagi setelah sarapan. Sebenarnya ada apa? Apa kau tau sesuatu, Kyu?"
Akhirnya Heechul mengeluarkan keluh kesahnya pada Kyuhyun. Siwon memang dekat dengan Kyuhyun jadi Heechul pikir keponakannya itu tau sesuatu. Dia sudah bercerita pada sang suami, mungkin saja sedang ada masalah di kantor. Tapi Hankyung bilang kantor baik – baik saja. Lalu ada apa? Biasanya jika akhir pekan Siwon akan menghabiskan waktu dengan keluarganya meskipun sekedar duduk bersantai sambil mendiskusikan apa saja. Tapi kali ini tidak biasa. Heechul pernah bertanya pada Siwon tapi putranya akan selalu menjawab 'aku baik – baik saja, eomma.'.
"Begitu, ya. Terakhir aku bertemu dengan hyung…"
Kyuhyun menggantungkan kalimatnya sambil mengingat pertemuan terakhir mereka. Waktu itu dia datang pada Siwon dan menceritakan rencananya melamar Sungmin lalu Siwon malah bercerita tentang Kibum. Tunggu. Kibum? Jangan – jangan…
"Ada apa, Kyu?"
Tegur Sungmin yang juga ikut penasaran dengan cerita namjachingunya.
"Ani. Imo, aku akan coba bicara dengan Siwon hyung."
"Ne. Cobalah bicara dengannya. Hyungmu ada di perpustakaan. Sungminie, kau bantu imo menyiapkan makan malam, ya?"
Sungmin mengangguk untuk ajakan Heechul, sedangkan Kyuhyun sudah melesat ke perpustakaan di kediaman keluarga Choi. Ya, perpustakaan itu berubah menjadi ruang kerja Siwon beberapa hari terakhir ini.
.
.
.
Siwon sudah ada di ruangan itu sejak pagi. Ruangan yang penuh dengan ber-rak-rak buku koleksi anggota keluarga Choi, yang beberapa hari ini menjadi tempat Siwon menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Meskipun bayangan Kibum tak pernah bosan mengganggunya. Meskipun setiap kata yang Kibum ucapkan terngiang jelas di telinganya.
Siwon belum pernah merasakan perasaan cinta hingga seperti ini. Dia bukan namja polos yang tak pernah memiliki petualangan asmara. Tapi dari semua kisah cintanya hanya Kibum yang mampu membuatnya seperti kehilangan jati diri, bahkan sebelum memulainya.
Ceklek
Pintu kayu bercat coklat itu terbuka, menampilkan sosok adik sepupu yang kadang menyebalkan. Siwon tak kaget dengan keberadaan Kyuhyun yang memang sering datang berkunjung dan mungkin saja ibunya sudah menceritakan sikap Siwon beberapa hari ini pada Kyuhyun
"Hyung, kau sedang apa?"
"Kau ini. Pertanyaanmu basa basi sekali."
Siwon menjawab Kyuhyun tanpa berpaling dari laptopnya dan Kyuhyun hanya terkekeh menerima jawaban Siwon. Kyuhyun mendudukkan dirinya di depan Siwon sambil mengamati apa – apa saja yang ada di meja itu.
"Ku pikir kau tidak di rumah. Bersenang – senang, mungkin. Ini kan weekend, hyung, tapi kau malah mengurung diri di tempat seperti ini. Apa kau tak bosan? Imo bilang kau sudah ada di sini sejak pagi tadi."
"Aku sedang tak ingin keluar. Lagipula pekerjaanku banyak, kyu. Aku bukan seperti kau yang punya Sungmin untuk diajak menghabiskan waktu."
"Ya, kau benar, hyung. Kau memang tak seperti aku yang punya Sungmin tapi kau punya Kibum, kan?"
Kyuhyun mencoba menggoda Siwon. Dan reaksi yang didapatnya cukup mengejutkan. Tatapan yang Kyuhyun terima sempat membuatnya bergidik. Sorot mata kakaknya itu tajam dan Kyuhyun tak tau bagaimana mengartikannya.
"Jadi benar, hyung seperti ini karna dokter Kim?"
Berdasarkan reaksi yang ditunjukkan Siwon, Kyuhyun dapat menyimpulkan satu hal. Ini berhubungan dengan Kim Kibum.
"Ceritakanlah, hyung. Sebenarnya ada apa? Jangan bersikap seperti ini. Kau membuat imo khawatir, kau tau?"
Kyuhyun benar. Dia tidak bisa terus – terusan membuat ibunya khawatir dengan sikapnya.
Adik sepupunya itu meskipun kadang menyebalkan namun dia adalah teman bicara yang baik. Maka dengan sedikit ragu Siwon menceritakan semuanya pada Kyuhyun.
.
.
.
Setelah Siwon menyelesaikan ceritanya, mereka terdiam larut dalam pemikiran masing – masing.
'Kenapa kisah asmaramu bisa serumit ini, hyung?'
Monolog Kyuhyun dalam hati. Merasa kasian pada hyungnya yang mengalami kisah seperti itu. Tidak seperti dirinya yang kisah cintanya denga Sungmin terbilang mulus.
Kring kring
Di tengah keheningan itu laptop milik Siwon yang ada di meja itu berbunyi, notifikasi email masuk. Siwon segera membuka dan membaca email tersebut. Posisinya sebagai orang penting di perusahaan membuat Siwon tak bisa mengabaikan setiap email yang masuk.
"Kau juga dapat undanga dari Tuang Jung, Kyu?"
Siwon bertanya pada Kyuhyun sambil menunjukkan isi email yang dia dapat. Ternyata itu adalah undangan dari konglomerat Jung yang baru pulang dari 'rantauannya'. Siwon maupun Kyuhyun sudah sangat biasa mendapat undangan semacam itu. Entah sekedar undangan peresmian, undangan jamuan malam, atau hanya sekedar undangan pesta penyambutan. Seperti yang dilakukan konglemerat Jung, pesta ini akan menjadi semacam ajang nostalgia keluarga Jung dengan rekan bisnisnya. Dan secara tidak langsung menegaskan eksistensi keluarga Jung di dunia bisnis tanah air.
"Aku juga dapat, hyung. Aku kenal anaknya."
"Maksudmu Jung Changmin?"
Siwon tampak tidak mengerti pasalnya kelurga Jung menghabiskan hampir separuh dari hidupnya di negeri orang, dan Siwon yakin Jung Changmin bukan salah satu dari teman sang adik.
"Ne. Kau bingung kenapa aku bisa kenal dengan anaknya? Aku mengenalnya dari game online. Jadi tak selamanya bermain game itu buruk, hyung. Kau juga bisa mendapat teman dari sana. Tapi kau dan Sungminie tak pernah mengerti bagian itu."
Kyuhyun mencibir, mengingat bagaimana dua orang itu memarahinya karna terlalu sering bermain game. Siwon memutar maniknya malas, selalu seperti itu jika sudah membicara game.
"Jadi sekarang kau sudah menemukan partner yang sepadan?"
"Kau benar, hyung. Selain partner dia juga lawan yang tangguh."
Siwon hanya menggelengkan kepalanya, merasa ajaib dengan 'kecanduan' yang dialami Kyuhyun.
"Kau datang atau tidak, hyung?"
"Appa pasti akan menyuruhku datang, jadi ya aku datang. Kau sendiri?"
"Aku akan datang bersama Sungminie."
"O iya, bicara tentang Sungmin, bagaimana acara melamarmu? Diterima tidak?"
"Itu sebabnya aku datang kemari, hyung. Aku ingin minta bantuanmu."
"Wae? Apa kau ditolak? Atau kau belum mengatakannya?"
"Aish, hyung! Aku kemari sebenarnya ingin meninta bantuanmu menjadi pengiring pengantin di upacara pernikahanku, karna aku dan Sungminie akan segera menikah."
Kyuhyun mengatakannya dengan sangat girang. Membuat Siwon sempat mengira yang di hadapannya adalah anak enam tahun yang baru saja mendapat permen. Walau begitu dia tetap merangkul dan memeluk Kyuhyun.
"Selamat ya, Kyu! Wah, sebenarnya apa yang dipikirkannya ketika menerimamu? Aku jadi penasaran. Padahal dia bisa mendapat yang berkali lipat lebih baik dari mu. Ck."
"Hyung! Aku adalah yang terbaik untuk uri Minie begitu juga sebaliknya."
Mereka sudah melepaskan pelukkannya. Kyuhyun yang melepas lebih dulu karna tidak terima digoda oleh Siwon.
"Aigo, adik kecilku sudah akan menikah. Sudah besar rupanya."
Siwon sepertinya belum puas menggoda Kyuhyun, kali ini ditambah dengan mengusak rambut Kyuhyun.
"Aish, kau ini, hyung! Jadi bagaimana? Mau tidak jadi pengiringku?"
Kyuhyun merapikan rambutnya yang dibuat berantakan oleh Siwon.
"Tentu saja aku bersedia, dongsaeng-ah."
Setelahnya mereka saling berpelukan kembali.
.
.
.
Sesuai perkiraan, pesta itu begitu meriah dengan dihadiri orang – orang penting dunia bisnis, ada juga dari kalangan politikus bahkan kalangan selebritipun turut memeriahkan acara yang digelar di salah satu hotel bintang lima dengan fasilitas ballroom berkapasitas tiga ribu orang untuk ukuran standing party itu. Mereka seolah – oleh sedang berlomba mencari perhatian tuan Jung Yunho untuk menanamkan sahamnya atau untuk menjalin kerja sama. Tak jauh beda dengan Yunho, sang nyonya – Jung Jaejoong – pun juga menjadi pusat perhatian para wanita kalangan sosialita. Wanita paruh baya itu terlihat cantik dan anggun dengan long dress merah marun berlengan pendek, rambutnya digelung rapi memamerkan tengkuk putihnya, dan juga satu set perhiasan – hadiah ulang tahun dari sang suami – yang menghiasi kedua telinganya, leher jenjangnya, pergelangan tangannya dan juga jari lentiknya.
Siwon sudah ada di sana sejak tiga puluh menit yang lalu. Sudah ada beberapa nama yang sudah dia sapa selama itu. Kini fokusnya tertuju pada sang pemilik acara, Jung Yunho. Dengan langkah pasti Siwon menghampiri pria paruh baya yang malam itu terlihat semakin tampan dan berkharisma.
"Annyeonghaseyo, tuan Jung."
Sontak perhatian Yunho tertuju pada pria muda yang baru saja menyapanya.
"Nde, annyeonghaseyo. Jika aku tidak salah ingat, kau adalah pengusaha muda yang belakangan ini sedang naik daun itu, kan?"
"Anda berlebihan, tuan. Saya Choi Siwon."
Siwon membungkuk hormat setelah memperkenalkan diri. Dalam hati dia merasa tersanjung atas pujian Yunho.
"Choi Siwon?"
Yunho mengulang kembali nama Siwon sambil memperhatikan pemuda itu. Garis wajah itu…dia seperti pernah mengenalnya.
"Apa hubunganmu dengan Choi Hankyung?"
Yunho ingat. Garis wajah itu mirip dengan teman lamanya. Seorang teman lama berdarah Korea-China, Choi Hankyung.
"Beliau ayah saya, tuan."
Rasanya seperti bertemu teman lama meskipun dia adalah anak dari teman lamamu.
Yunho menjabat tangan Siwon lalu memeluknya ringan.
"Apa kau datang bersama ayahmu? Dimana dia? Aku belum bertemu dengannya."
"Eum… maaf, tuan. Appa tidak bisa hadir. Siang tadi beliau berangkat ke Busan bersama eomma."
"Ah sayang sekali kalau begitu."
Dan selanjutnya percakapan itu mengalir begitu saja. Mereka tampak akrab satu sama lain. Yunho menyuruh Siwon tidak memanggilnya 'tuan' karna dirinya dan Hankyung adalah teman lama yang sudah seperti saudara sebelum mereka sukses dengan usaha mereka masing – masing. Tak hanya itu, Siwon juga mendapat masukkan untuk mengembangkan sayap Dynasty Group ke kawasang Asia Pasifik. Yunho yakin Siwon akan sukses di sana dengan membangun beberapa property seperti hotel atau mungkin resort.
Ketika sedang asik berbincang, seorang pelayan menghampiri Yunho dan memintanya naik ke atas panggung memberikan sedikit sambutan.
"Sayang sekali, Siwon-ah, aku harus meninggalkan mu. Ada yang ingin aku sampaikan pada kalian semua. Nikmatilah acaranya."
Tak butuh waktu lama untuk melihat tuan Jung menghilang di antara kumpulan tamu undangan.
.
.
.
Siwon masih di tempatnya ketika dia melihat tuan Jung juga nyonya Jung ada di atas panggung.
"Selamat malam, para hadirin. Peretama – tama saya ucapkan banyak terima kasih telah berkenan meluangkan waktu yang begitu berharga untuk datang di pesta kecil yang saya gelar malam ini."
Pesta kecil. Bagi konglomerat Jung acara seperti ini adalah bagian dari pesta kecil.
"Pada kesempatan yang baik ini saya akan memperkenalkan anda sekalian pada satu – satunya pewaris kami, putra kebanggaan kami, Jung Changmin."
Setelah namanya disebut, laki – laki berbadan menjulang itu naik ke atas panggung lalu membungkuk hormat pada seluruh tamu yang hadir.
"Mulai besok Changmin akan membantu saya mengurus perusahaan. Besar kemungkinan anda sekalian akan lebih sering berurusan dengan putra kami dibanding dengan saya. Jadi saya mohon bantuan untuknya karna dia masih tergolong baru dan masih perlu banyak belajar dari anda yang sudah sangat berpengalaman."
Changmin sekali lagi membungkuk hormat, sedang kedua orang tuanya menatap bangga padanya. Dan suara tepuk tangan mengisi ruangan besar itu.
"Selain itu saya ada kabar gembira yang ingin saya bagi dengan anda sekalian."
Yunho memberi jeda pada kalimat yang akan dia katakan.
"Putra kami, Jung Changmin, akan bertunangan dengan putri dari sahabat kami, putri tunggal dari keluarga Kim, Kim Kibum."
Seperti Changmin, Kibumpun naik ke atas panggung setelah namanya disebut.
Seketika ruangan itu menjadi gaduh. Mereka berbisik akan sebesar apa perusahaan mereka jika milik keduanya digabungkan, mereka akan menjadi pasangan serasi dan memiliki anak yang luar biasa tampan dan cantik jika kedua orang tuanya saja begitu rupawan. Namun ada juga yang mendesah kecewa karna gagal menjodohkan putra putri mereka dengan kedua keluarga itu.
Tak seperti yang lain, Siwon masih mengamati sosok cantik yang kini tengah menggamit lengan Changmin. Memastikan jika yeoja itu adalah Kim Kibum yang dia kenal. Wanita yang dia cintai, wanita yang menolaknya beberapa hari yang lalu.
'Jadi inikah alasannya?'
Siwon dengan cepat menenggak tequila yang tersisa setengah di gelas yang dia genggam.
T B C
Lhoh kok TBC sich, thor? katanya cuma twoshoot
heheheee maafkan saya. cerita ini terpaksa saya bikin tbc soalnya halaman nya uda panjang jadi saya takut temen2 bosen.
tapi chap depan insyaallah lastchap.
Yang nunggu OPM, maaf bikin kalian nunggu lebih lama lagi tapi tetap akan saya selesaikan.
Terimakasi supportnya
Untuk cerita ini silakan tinggalkan kritik saran di kotak review ya
Many many many thankyuuu ^^
