Chapter 2: Naruto, Pein, Sasuke…
O-chan meluncur dengan mulusnya membelah jalan besar Konoha. Pein –sang pengendara bersiul-siul, santai. Ia terkadang nyengir sendiri mengingat pertemuannya dengan Konan, dan tiba-tiba saja berubah cemberut mengingat Naruto. Lalu ketika mengingat Konan –lagi dia cekikikan lagi, itulah yang ia lakukan sepanjang jalan, sampai suara handphone menginterupsi kegiatan gajenya….
Tuliiiiiit Tuliiiiit
"Ha. Ada apa Kimimaro?" kata Pein –datar.
"Boss. Cepat ke markas sekarang. Ada hal yang penting yang harus kita bicarakan," kata Kimimaro. Suaranya terdengar cemas.
"Ya… ya. Santai bro…" sahut Pein sembari memutar bola matanya. Ia mematikan telfonnya, lalu meluncur dengan kecepatan tinggi menuju Markas Preman Konoha (MPK).
Lima belas menit kemudian Pein telah sampai di parkiran MPK. Puluhan motor, mobil, serta sepeda memenuhi ruang parkir yang tak seberapa luas itu. Karena tidak ada lagi tempat parkir, akhirnya Pein memarkirkan O-chan di depan gerbang markas.
Kebisingan segera mengganggu pendengarannya ketika berdiri tepat di depan pintu utama markas. Segera saja dia membuka pintu itu. Seketika ruangan menjadi sunyi dengan kedatangan Pein. Semua berdiri dan memberi hormat pada sang ketua. Namun wajah mereka menyiratkan kekhawatiran dan kemarahan.
"Ada apa ini?" tanya nya –tenang.
"Begini Boss. Kita mendapat surat tantangan dari preman Kabupaten Iwagakure. Lihat!" jawab Kimimaro sembari menyerahkan secarik kertas berlumuran darah ke Pein. Pein membaca tulisan itu dengan seksama, "waw. Tulisan orang ini rapi sekali, ada nomor teleponnya pula," puji nya.
Semua anggota preman Konoha ber-gubrak ria. "Ini bukan saatnya memuji lawan Boss. Lihat! lima belas anggota kita terluka parah di bantai mereka. Mereka sangat penasaran dengan kekuatan kelompok kita, dan yang membuat mereka paling penasaran adalah kekuatan Boss," Kimimaro melirik Pein.
"Ya! Mari kita berperang Boss! Mari kita tunjukkan siapa yang berkuasa! Balas dendam! Kita bunuh mereka semua!" teriak salah satu anggota preman tersebut, dan di sahuti dengan antusias oleh preman-preman lainnya. Ribut.
Pein melihat ke anak buahnya yang terluka. Salah seorang dari mereka kehilangan dua jari tangan. Ada juga yang tangan dan kaki-nya yang tampakknya di tusuk dengan kayu, sehingga darah keluar meresap kedalam kemeja putih orang itu. Ada pula yang kehilangan sebelah mata-nya. Sisanya mendapat luka lebam di sekujur tubuh.
"Kenapa tidak langsung di bawa keruang rawat? Kalian kira apa guna uang kas kita selama ini?! Mana orang-orang yang berstatus mahasiswa Kedokteran di sini! Lalu apakah pembantaian ini terendus polisi atau wartawan?!" tanya nya dengan suara meninggi.
"Begini Boss. Ruang rawat kita kemalingan. Sepertinya ada orang dalam yang menyusup. Kami ingin menunjukkan pada Boss terlebih dahulu tentang hal ini, baru di bawa ke rumah sakit. Dan untungnya hal ini tak di ketahui wartawan," terang Kimimaro, sang wakil.
BRUAGH!
Pein meninju rahang Kimimaro hingga pemuda berambut putih itu terpelanting. Salah satu gigi gerahamnya tanggal. Darah mengucur dari mulut nya.
"B-boss…" bisik para anggota preman tersebut ngeri. Pein berdiri. Menatap mereka nyalang. "Kalian kira ini permainan! Mereka ini manusia! Kalau tak segera dirawat maka mereka bisa mati! Di mana otak kalian yang sangat kalian banggakan itu!" raung Pein.
"CEPAT BAWA MEREKA KE RUMAH SAKIT BERBEDA! SEKARANG JUGA! BERIKAN ALASAN KECELAKAAN ATAU APA PUN TERHADAP PIHAK RUMAH SAKIT!" Teriak Pein lantang. Semua mematung. Kaki mereka menggigil.
"CEPAT SETAN! ATAU AKU PATAH KAN TANGAN KALIAN!" Pein mengamuk. Dia melempar meja besar dan kursi-kursi ke anggota-nya.
Dengan terbirit-birit mereka mengangkat tubuh teman-teman mereka yang terluka. Mereka bergegas pergi sambil memikirkan alasan yang di buat untuk pihak rumah sakit. Sebagian anggota preman Konoha yang masih tinggal termasuk Kimimaro mengembalikan meja yang di lempar Pein beserta kursinya dengan takut-takut.
Pein kembali duduk. Raut wajahnya berubah tenang. "Jujur saja, aku tak punya banyak waktu untuk melakukan hal seperti ini sekarang," katanya kemudian. Ia meremas kertas di tangannya. "Sebentar lagi aku akan pergi selama dua bulan. Kukerta. Kalian tahu kan? Kalian semua mahasiswa dan tamatan perguruan tinggi. Semua tanggungjawab ku sebagai pemimpin untuk sementara ku limpahkan pada Kimimaro," Semua mengangguk pelan. Raut kekecewaan terlukis di wajah mereka.
"Mana Shino?" tanya nya. Ia mengedarkan pandangannya ke kumpulan orang-orang itu.
"A-aku di sini, boss," jawab Shino sembari keluar dari kerumunan.
"Kau dan Kimimaro ikut aku ke kost ku. Bantu aku mendesain baju untuk tim Kukerta yang ku pimpin," perintahnya.
"Lalu bagaimana dengan tantangan ini, Boss?" tanya Kimimaro. Ia meringis sambil memegang wajahnya yang lebam.
"Malam besok akan kita selesaikan. Tapi aku hanya akan membawa beberapa orang untuk meminimalisir jumlah korban. Sasuke, Shino, Neji, Tayuya, Hinata, dan aku sendiri yang akan menghacurkan mereka," jawab Pein. Matanya berkilat. Semua mengangguk dengan antusias.
"Baik. Sekarang kalian boleh bubar, kecuali orang-orang yang ku tunjuk." Ketika semua berlalu meninggalkan markas, Pein memanggil mereka kembali. "Tunggu. Aku lupa sesuatu. Mulai sekarang kalian tidak boleh lagi memanggil ku Boss. Kalian harus memanggil ku…" Pein menahan kata-katanya, seraya tersenyum angkuh, "Leader."
.
.
.
Kini markas mendadak sepi. Orang-orang telah pergi, kecuali mereka yang di tunjuk Pein. "Jadi… begitu lah rencananya…" kata Pein sembari tersenyum. Mereka semua menyeringai setan. "Kami siap, leader…"
Naruto © Masashi Kishimoto
Hanatsabita : Kukerta Ala Akatsuki
Rate : M
Genre : Crime, Friendship, Romance, Gore, Humor
Pairing : PeinxKonan, PeinxNaruto, dan banyak Pairing lainnya.
Warnings : OOC, Aneh, bahasa kasar, bahasa vulgar, Humor garing, Straight, Yaoi, Rape, Lime, Kriminalitas yang tak boleh di tiru, Typo, EYD yang berantakan, bikin mulas, banyak kesalahan disana-sini.
.
No Like Don't Flame
Kemiripan cerita atau judul atau yang lainnya hanya kebetulan.
TIRIRIRIRIRIRI TIRIRIRIRI!
Bunyi alarm di kamar Pein melengking memekakkan telinga. Namun Pein beserta kedua bawahannya –Shino dan Kimimaro- yang baru saja menyelesaikan desaign seragam Kukerta itu masih dengan indahnya bergelung di balik selimut putihnya. Korban dari keganasan alarm itu ternyata tetangga kamar kiri dan kanan Pein, membuktikan bahwa alarm tersebut bunyinya memang sangat kencang. Di sinyalir kencangnya alarm itu melebihi kencangnya suara alarm Spongebob.
Alhasil para tetangga di sebelah kamar Pein berbondong-bondong mendemo kamar nomor 9 tersebut. Namun mereka tak berani menggerebek secara brutal, karena mereka sendiri segan dan tahu kekuatan Pein seperti Gorilla.
Tok tok…
Salah satu teman Pein mengetuk pintu.
Cklik!
Suara kunci pintu diputar. Pintu terbuka. Pein menampakkan diri dengan wajah yang ngantuk.
"Kalian ngapain tiap pagi datang kesini?" tanyanya malas. Teman-temannya saling pandang.
"Err.. itu.. tolong matikan alarmnya Pein, hari masih pukul empat subuh." Kata salah seorang temannya mewakili –takut-takut. Pein memiringkan kepalanya. Masih mencerna ucapan temannya.
"Ohh… iya deh… maaf ya," jawab Pein sambil tersenyum. Hal itu membuat teman-temannya saling pandang –heran.
'Tumben sekali dia minta maaf… ada apa dengan pria jahanam ini?' bathin teman-temannya sembari mencaci Pein. Untung saja abang pierching tercinta kita tak mendengar.
"Ya sudah, aku matikan dulu alarmnya. Selamat tidur kembali," lanjut Pein sembari menutup pintu.
Ahh… mereka tak tahu mood Pein sangat baik karena cinta-nya pada orang yang di kaguminya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Hihihi…" Pein cekikikan nista mengingat Konan. Ia menyambar alarm yang diberi nya nama 'Albert' tersebut, mematikan bunyinya.
Ia kembali bergulung dengan selimut, menutup matanya sembari berbisik, "Konaan."
Lalu –pria bertindik itu lelap kembali ke alam mimpi.
.
.
.
Pukul 16.00.
Pein memarkir O-chan nya di parkiran taman kampus. Ia telah mengontact seluruh teman kukertanya tadi siang.
Pein berjalan menyusuri taman sambil senyum-senyum sendiri. Ia menenteng satu kantong plastik besar gorengan dan 10 cup air mineral kemasan. Ia sengaja tampil rapi dan wangi hari ini. Kemeja hitam kotak-kotak dengan dua kancing paling atas sengaja dilepas agar terkesan seksi, lengan panjang kemeja tersebut dilipatnya se-siku. Sangat pas menutupi tubuh atletisnya. Ia mengenakan celana jeans hitam yang sudah di setrika serapi mungkin, tanpa robek-robek yang biasa di pakai-nya selama ini. Dan ia memakai sepatu sport putih, bukan sandal jepit yang biasanya ia pakai bahkan meski ke kampus. Di bahunya tersampir ransel hitam, benar-benar berkesan akan kuliahan.
Namun tindiknya masih saja di pakai, seakan-akan ia akan mati kalau tidak ada benda tersebut. "Supaya muka ku yang tampan ini tambah tampaan..." katanya narsis banget ketika ditanyai teman kost nya tentang tindik tersebut.
Dari kejauhan, di lihatnya salah seorang temannya melambaikan tangan. Itu adalah Tobi. 'semangat sekali anak itu,' bathinnya. Ia mendekat ke dekat pohon besar tempat teman-temannya berkumpul.
Ia mengedarkan pandangannya, mencari sesosok wanita yang akhir-akhir ini membuatnya di sangka orang gila. Namun perempuan itu tampaknya belum muncul. Sedikit raut kekecewaan terlukis di wajahnya yang baru saja di beri bedak baby.
"Kenapa, leader? cepat duduk. Kau mengganggu pemandangan," kata Itachi sambil tersenyum setan. Ia menatap Pein dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kau rapi sekali, ada apa dengan mu?" lanjutnya penuh selidik.
"Bukan urusanmu," balas Pein ketus. Ia segera duduk. "-Ini aku bawa gorengan. Ayo dimakan." Pein menaruh gorengan dan air mineral di tengah-tengah. Mata Akatsuki members langsung blink-blink.
"Uaah… gorengan…!" kata mereka serempak. Layaknya anak kecil mereka segera berebutan memasukkan tangannya ke dalam kantok plastik tersebut, mencomot gorengan yang beragam. Termasuk si Uchiha yang ternyata doyan banget sama bakwan. Pein hanya menatap anggotanya miris. Sambil duduk bersila ia menekuk dagu pada tangannya, memandang para anggota yang sangat-sangat rakus itu.
"Huuuft.. kalian ini. Seperti tak makan setahun saja. Pelan-pelan kalau makan," ceramahnya seperti seorang Ayah yang mengajari anak-anaknya. Ia memiringkan bibirnya ketika melihat Itachi yang makan paling rakus di situ.
"Uhuk-uhuk!" Itachi akhirnya tersedak. Seketika Pein menyambar air mineral dan menyodorkan pada si Uchiha. Kisame menepuk-nepuk punggung Itachi.
"Woi Chi… di kunyah Chi, di kunyah!. Kau ini Uchiha, masa main telan aja," Ejek Pein. Tak pelak seluruh anggota Akatsuki tertawa serempak.
Yaah- sepertinya gorengan ini membawa dampak baik. Mereka merasa ikatan persahabatan mereka telah terjalin, dan tidak canggung lagi.
.
.
"Siapa yang belum datang?" tanya Pein pura-pura tak tahu. Yang lain hanya mendengus malas.
"Maaf aku terlambat." Konan menginterupsi. Semua terkejut. Hampir saja mereka tersedak gorengan (minus Pein yang dari tadi memang tidak makan. Ia telah merasa kenyang melihat anggotanya makan seperti ikan Piranha).
"Kau ini seperti hantu saja. Tiba-tiba sudah berdiri di sini. Kapan kau sampai, un? Kenapa tak ada suara langkahmu?" cerocos Deidara.
"Kau lupa ya dia ini 'Frea'. Wanita sangar yang langkah-nya sangat cepat," jawab Kisame sambil memasang wajah sok horror.
Pletak!
"Aku tidak sangar bodoh!" Konan menjitak kepala Kisame. "Apa yang kalian ma- WUAHH GORENGAAAN!" teriaknya edan. Konan langsung mendudukkan pantatnya di antara Itachi dan Pein, mencomot gorengan yang tersisa tiga biji. Langsung saja di lahapnya dengan buas.
Pein senyum-senyum mesem.
"Baiklah langsung saja. Konan, keluarkan catatanmu. Kita akan berangkat besok malam dengan bus. Jadi sekarang aku mau kalian menyebutkan proker yang akan kita lakukan, beserta alasannya, silahkan. Mulai dari kau, Tobi."
"Sebelumnya hilangkan dulu senyum aneh mu itu, kau membuat aku takut." Kata Hidan sarkatis. Secepatnya Pein merubah mimik wajahnya menjadi serius.
"Baik, leader! Proker usulan Tobi ada dua! Pertama sesuai dengan jurusan Tobi, PAUD. Jadi bagusnya kita mengajar anak-anak baca tulis. Demi masa depan yang ceraaah!" Kata Tobi semangat. Ia mengangkat ubi goreng di tangannya tinggi.
"Biasa aja kali-" Sindir Hidan, "-lagi pula profesi mu sebagai maling itu pastinya akan menyesatkan anak-anak. Aku yakin yang akan kau ajarkan cara maling BH-nya Konan," tuduhnya tak berperi ke BH-an. Tobi mewek seketika. Sementara telinga Pein langsung panas membara mendengar barang sakral Konan di sebut-sebut. Untung orang yang di bicarakan sedang tak memperhatikan.
"Huweee!"
"EEHH! Kenapa kau mewek… kau itu mahasiswa, un!" teriak Deidara.
"Habisnya Hidan jaat sekali, hiks." Rajuk Tobi. Ia mengelap air mata buaya-nya. Hidan hanya memutar bola matanya-cuek.
"Lagi pula, Tobi tak akan mengajarkan cara maling BH. Tobi hanya akan mengajarkan anak-anak cara meretas jaringan keamanan gedung-gedung tempat menyimpan perhiasan, kemudian teknik mencuri perhiasan tanpa jejak sedikit pun. Semakin ketat penjagaan perhiasan itu –semakin menantang… khua hahahaha! Itu lah proker kedua Tobi, leader," tawa laknat tersembur dari mulutnya. Yang lain cengo.
"Ja-jadi kau maling perhiasan yang sering masuk koran itu?!" tanya Sasori sedikit meninggi.
"Uwah… ku kira kau itu hanya maling kutang. Berarti kau kaya sekali yaa…" kata Hidan –takjub.
Plok! Plok! Plok!
Anggota Akatsuki bertepuk tangan. Mereka berdecak kagum pada maling terkenal satu ini.
"Ehhem!"
Suara Pein menghentikan tepuk tangan yang sangat meriah itu. "Orang maling kok di kasih tepuk tangan. Dasar gila kalian semua," sergahnya. "Sudah kau catat proker Tobi, Konan?" tanya Pein. Namun tak mendapat respon.
"Ko-ˮ
"Aku lagi makan Pein…" jawab Konan. "Sabar!" sambungnya dengan suara meninggi.
Glek!
Konan menelan Tahu Isi nya yang terakhir. Lalu mengeluarkan tisu dari tas-nya. Ia me-lap tangan sambil minum.
"Baiklah- aku catat. Namun proker kedua Tobi aku tak akan pernah setuju. Proker macam apa itu?!" Protesnya. Ia menatap Tobi sinis. Yang ditatap langsung melihat ke arah lain sambil beriul-siul.
"Kau catat dulu, baru nanti kita seleksi." Sahut Kakuzu datar.
Konan mengulum mulutnya."Cuih." Ia meludah ke samping.
"Hem… lanjutkan. Sekarang giliran mu, Itachi." Kata Pein.
"Proker ku hanya satu. Penyuluhan ikatan pernikahan." Jawab Itachi pelan.
"HA!" Akatsuki –Itachi membelalakkan matanya.
"Maksudmu apa?" tanya Pein.
"Yang ku tau dari di sana hanya mengenal sistem kawin. Tanpa ikatan pernikahan, dengan siapa pun mereka kawin terserah mereka. Jadi kita harus menyuluhkan ikatan pernikahan pada mereka." Jelas Itachi panjang lebar.
"Be-benarkah!" sahut semuanya serempak. Itachi hanya mengangguk.
"Baik, itu menarik. Sekarang kau, Kisame." Kata Pein sembari menunjuk Kisame.
"Ahh- proker ku adalah…"
.
.
.
"Bagus. Telah terkumpul beberapa rencana proker. Sekarang mari kita seleksi. Uhm…" Pein membaca tulisan di kertas milik Konan.
"A-B-CE… Apa nih! Tulisan mu seperti cakar ayam! Tak bisa ku baca!" teriak Pein.
"Salahkan pak Naruto yang menjadikan aku sekretaris. Dan salahkan juga diri kalian masing-masing yang main setuju-setuju aja," sahut Konan –cuek.
"Dan juga, aku sangat meragukan pria bercadar ini menjadi bendahara. Kalian lihat saja matanya yang bersinar hijau itu, nampak sekali kalau dia mata duitan. Mengerikan… aku takut sekali kalau uang kita di korupsi," kata Konan kemudian –menghasut anggota yang lain.
Tampak raut tak suka dari wajah Kakuzu. "Oh, ya. Setidaknya aku bukan orang yang tak bisa menulis dengan rapih, cuih. Cewek tulisannya jelek amat," hina Kakuzu.
"Kau mau bermain-main dengan ku, cadar buluk?"
"Silahkan, cakar ayam…"
Hening.
SRETT
Bersamaan dan secepat kilat. Kakuzu menodong kepala Konan dengan selaras Handgun, dan Konan menodong Kakuzu dengan pisau belati bergerigi. Suasana menjadi tegang.
"Uah… ku kira kau hanya sekedar penjual senjata, Buluk…" ucap Konan –remeh.
"Kau tenang saja, bukan hanya kau yang jago berkelahi dan membunuh orang," jawab Kakuzu.
"Ah! di sini tak ada acara laga, sayang ku, dan bendahara ku. Waktu kita telah banyak terbuang. Jadi sekarang bagaimana kita akan menyeleksi proker kalau tidak bisa membaca tulisan ini?" sahut Pein yang berada di antara kedua orang itu –malas. Ia mengedarkan pandangannya ke teman-teman lain.
"Siapa sayang mu?!" seru Konan.
"Siapa yang tadi malam setelah rapat di gudang peluk-peluk aku dari belakang?!" seringai Pein. Muka Konan memerah. Anggota Akatsuki melotot plus ternganga.
"Ahh. Ya ampun seharusnya aku bisa menjaga mulut ku, oops. Sudahlah, mari kita lanjutkan. Sekarang silahkan kalian berdua duduk, atau aku akan menggunakan kekerasan," lanjut Pein dengan nada sing a song.
"Kemarikan kertas itu, leader. Tobi akan memindainya." Kata Tobi sembari mengeluarkan alat pemindai dari tas nya.
"Wuah kau hebat sekali punya alat yang bisa memindai tulisan sejelek ini, kau ini memang maling professional. Sekali-kali ajaklah aku untuk ikut misi mu, Tobi, pasti alat-alat mu canggih," kata Kisame takjub.
PLOK! PLOK! PLOK!
Semua bertepuk tangan –lagi. Heboh.
"Woi! Serius woi!" seru Pein menghentikan lagi aksi tepuk tangan tersebut. Pein segera menyerahkan kertas tersebut ke Tobi. Dengan teliti Tobi segera memindai dan membaca satu persatu tulisan tersebut.
"Emmm… mengajar anak baca tulis, meretas jaringan keamanan, penyuluhan ikatan pernikahan, bercocok tanam, pengupayaan pemasangan listrik dari negara, sosialisasi tindak kejahatan, lomba-lomba sederhana sebagai pemeriah, penyuluhan kesehatan, penyuluhan berpakaian yang baik, pembuatan nomor rumah warga, penyuluhan anti penebangan hutan liar dan penembakan hewan yang di lindungi, pencarian bakat, dan pembuatan jembatan." Terang Tobi.
"Baik, sekarang kita seleksi. Meretas jaringan keamanan tolong di coret. Apa lagi yang perlu di hilangkan?" tanya Pein sembari memandang ke teman-temannya.
"Tunggu sebentar," kata Deidara. ia merogoh kantung tas nya, lalu mengeluarkan sebuah dokumen tipis. "Lihat ini, leader. Misi utama yang diperintahkan universitas kepada tim kita adalah membasmi kelompok penjahat yang bersarang di desa itu. Nama geng-nya 'Cells'. Tadi malam sebelum ku pulang pak Naruto memberikan ini, un," lanjutnya sembari menyerahkan dokumen kepada Pein.
Pein membolak-balik halaman dokumen itu.
Ahh!
Tiba-tiba matanya melebar. "Setengah dari total populasi penduduk itu adalah anggota dari Cells?! Dan mereka ini yang harus kita basmi?!" teriak Pein tiba-tiba. Akatsuki member bergantian melihat isi dokumen itu. Dan hampir semua-nya ikut membolakan mata.
"Kabupaten Kirigakure terdiri dari 26 pembagian wilayah. 10 daerah perkotaan, yang dikenal dengan A sampai J. Sisanya adalah desa, K sampai X. sementara daerah Y dan Z telah hilang dari peta, artinya tempat tersebut telah musnah. Kabupaten itu menamai daerahnya dengan alphabet. Dan yang lebih unik lagi, tingkat kemakmuran masyarakatnya beruntun dari A sampai X. A adalah ibukota Kirigakure. Tempat yang sangat hebat dan makmur. Tingkat kemakmuran kota B dibawah kota A, begitu seterusnya. Dan untuk masalah desa, desa K adalah yang paling maju, desa L di bawah desa K, dan desa X paling terbelakang," terang Sasori membaca dokumen itu.
"Hanya kita yang mendapat misi rahasia ini, leader, un. Kelompok kukerta lain seperti biasa saja," ringis Deidara, lalu ia melanjutkan, "berarti…"
"Sepertinya kita memang sengaja di kumpulkan oleh universitas untuk menjalankan misi ini," sambung Hidan disertai anggukan yang lain.
"Miris sekali… penjahat menangkap penjahat," sahut Konan ditimpali tawa mereka.
"Baiklah sekarang mari kita susun rencana. Begini saja. Penyergapan kita jalankan pada pertengahan bulan pertama kita di sana. Pengupayaan pemasangan listrik kita lakukan di awal bulan, karena kita sangat butuh listrik. Lalu berturut-turut kita lakukan semua sosialisasi seminggu sekali, pembuatan nomor rumah berangsur satu kali seminggu, pencarian bakat dan pembuatan jembatan kita jadikan proker cadangan, karena tak terlalu penting," terang Itachi.
"Bakat itu sangat penting, Uchiha. Dengan mengumpulkan mereka yang berbakat, kita ikut membantu warga disana untuk maju," jawab Sasori.
"Ada lagi yang ingin memberikan pendapat tentang rencana Itachi?" tanya Pein.
Semua menggeleng.
"Bagus. Berarti kita jalankan semua berurutan sesuai yang Itachi katakan, lalu mengenai pencarian bakat tetap kita masukkan dalam proker yang akan di laporkan pada DPL. Berarti proker cadangan hanya pembangunan jembatan," lanjutnya.
"Sekarang masalah perlengkapan. Aku akan menunjuk perlengkapan yang harus kalian bawa, Konan, kau catat –errr, kali ini tolong rapikan sedikit tulisan mu ya," Pein cengengesan.
"Huh!" dengus Konan sembari memanyunkan bibir.
"Ahaha, jangan ngambek dong. Baik, pertama, masing-masing kita membawa ember, tiga piring, tiga sendok, tiga garpu, satu mangkuk, dua gelas, dan jangan lupakan selimut dan bantal. Kalian wajib menandai bawaan kalian agar tak tertukar saat kita pulang besok." Pein sekilas melirik kertas yang di tilis Konan, lalu menatap teman-temannya satu-persatu.
"Aku membawa panci, kipas angin, dispenser, dan gallon. Kakuzu membawa stock kontak, blender dan sapu. Hidan membawa tiga tikar besar dan tiga kelambu besar. Sasori membawa kompor, dua kuali besar, beserta seperangkat alat memasak lainnya. Deidara membawa mesin print, laptop, tali dalam jumlah besar dan terpal. Kisame, kau juga bawa kipas angin, dan mesin diesel. Itachi membawa penanak nasi, tv, batu domino, dan PS3. Konan, kau membawa hanger yang sangat banyak, paku, palu, lakban hitam, dan laptop. Jika ada yang belum ku sebutkan silahkan kalian bawa saja, dan kalau ada yang kelupaan, kita beli saja di desa itu. sementara belum ada listrik dari negara, kita gunakan diesel," terang Pein.
"Baiklah…" jawab mereka –kompak.
"Dan untuk misi utama kita, kalian bawa benda-benda yang selama ini biasa kalian gunakan untuk bertarung, terserah apa saja. Parang, pedang, senjata api, pisau, dan lain sebagainya," lanjut Pein.
"Nah. Sekarang aku mau lihat baju tim kita, leader, un," kata Deidara tak sabar.
"Oh iya aku sampai lupa," Pein mengeluarkan sehelai pakaian, membentangnya.
"Woa… norak, tapi lumayan lah," hina sekaligus puji Hidan.
"Enak saja kau bilang norak. Lihat saja. Ini jubah warna nya hitam, dengan gambar awan merah, biar kita nampak sangar gitu, hehe," jawab Pein sembari mengibas-ngibaskan jubah tersebut.
"Jubah ini pakai hoodie, atau tudung kepala. Bahannya terbuat dari kain berkualitas premium yang anti air. Jadi sangat cocok di gunakan di daerah hujan seperti Kirigakure, harganya empat ratus ribu ryo," terang Pein lagi –lebih tepatnya promosi.
"Bagaimana?" tanya nya antusias.
"Aku sih setuju saja, nampaknya ini cocok dengan ku, khukhu," Sasori menimpali.
"Ya sudah, sekarang tulis di kertas ini tinggi badan kalian, dan untuk sayang ku Konan, maukah abang ukurkan tinggi badan mu? Eheheh," seringai Pein sembari menaik-turunkan alisnya. Konan serta merta menunjuk Pein dengan jari tengah.
"Sudahlah jangan malu-malu…" iseng Pein menarik Konan dengan cepat sehingga gadis biru itu masuk dalam pelukan Pein. Tanpa di sangka, di depan semua orang yang cengo, Pein tak sengaja menyetuh dada Konan.
Nyut Nyut…
'Apa ini? Struktur nya seperti dada wanita dewasa yang biasa ku lihat saat pratikum,' inner Pein. Ia meremas benda itu lagi.
Nyut Nyut…
"KYAAAAAAAA!" teriak Konan dengan lantang. Ia segera melepaskan diri-nya dan menampar Pein dengan kekuatan seratus badak hingga lebam. Ahh. Untuk pertama kalinya ada orang bejad yang membuat Konan, gadis yang dikenal sangat bengis dan pendiam itu berteriak sekencang itu.
'Ya ampuuun' bathin mereka –miris.
Akhirnya mereka telah mencatat tinggi badan masing–masing.
"Sudah sangat sore. Aku ada pertemuan yang sangat penting. Kita cukupkan sampai disini," Kata Pein sembari memegang pipinya yang ungu –lebam. "Silahkan bubar…"
.
.
.
.
Pukul 19.00
Pein telah sampai di Kost. Mukanya kusut dengan pipi berwarna ungu. Pein membuka seluruh pakaiannya lalu bercermin. Ia meringis melihat dirinya di cermin, terbayang kembali di benak nya bagaimana Konan menamparnya dengan sangat kuat tadi, sampai seluruh bagian rongga mulut nya ngilu sekali. Ia merasa sangat jelek dengan wajah seperti itu. Segera di ambilnya perban dan bersiap mandi.
.
.
.
Segar.
Itulah hal yang dapat Pein rasakan saat ini setelah mandi dan berganti pakaian. Ia menyambar handphone nya, mengetikkan tinggi badan teman-teman kukerta nya dan mengirim ke nomor handphone Shino. Tak berapa lama ada sebuah panggilan masuk.
"Halo…"
'Halo juga, sayang…'
Pein membola kan mata nya, "Na –Naruto…"
.
.
.
Pukul 20.15. Pein telah berdiri di depan sebuah rumah sederhana milik dosen sekaligus junior-nya. Ia merasa kesal, ragu, sekaligus takut. Kesal nya karena ia memang sedang tak ingin bertemu orang itu, terlalu banyak yang di sembunyikan Naruto dari nya selama ini. Ragu nya karena sebentar lagi dia harus segera menyelesaikan operasi besar bersama anak buah nya. Dan takutnya…melihat tingkah Naruto yang sangat gila akhir-akhir ini, jangan-jangan si Naruto akan menjebak dan memperko-ah! Pein menggeleng-gelengkan kepala nya.
'Jangan mikir macem-macem Pein, nanti kejadian…hiiiii!' bathinnya edan.
Tingtung tingtung
Pein akhirnya memencet bel rumah dengan sedikit takut. Muka nya sudah seperti habis di tampar seseorang dengan kekuatan seratus badak #emang iya kaliii#. Pein menelan ludah berkali-kali.
Kriiiieeeeett
Seseorang mengiterupsi lamunan Pein. Seketika Pein merubah raut wajahnya yang kacau itu menjadi angkuh dan dingin.
"Ah. Selamat datang Boss! Ayo masuk," sapa Naruto dengan ceria.
Pein melangkahkan kakinya ke tempat yang mulai sekarang di cap nya sebagai jurang neraka itu.
.
.
Pein telah duduk di sofa panjang. Ia menaruh ransel nya di lantai dekat sofa. Pein mengedarkan pandangannya, 'tidak ada yang berubah dari tempat ini,' bathinnya.
"Mau minum apa?" tanya Naruto.
"Jangan basa-basi Naruto. Langsung saja. Aku akan melaporkan-"
"Ah! Jangan begitu. Aku akan ambilkan air sirup orange kesukaan mu Boss. Tunggu sebentar yaa," kata nya seenak hati memotong perkataa Pein.
Pein hanya diam menatap kepergian Naruto.
Beberapa saat, Naruto telah datang membawa se-teko sirup orange dingin dengan sebuah gelas.
"Ayo di minum, Boss," Naruto tersenyum. Ia duduk di hadapan Pein. Melihat sirup itu Pein menjadi takut. 'jangan-jangan di kasih obat perangsang…Hiiiiiii! Kira-kira apa yang di masukkannya ya? Gamma-hydroxybutryric acid, Ketamin…emmm' bathinnya. 'eh. Sejak kapan aku jadi parno gini?' Pein segera menuang minuman itu kedalam gelas, dan meminumnya sampai habis.
"Hm. Sebenarnya ada apa dengan mu? Langsung saja jawab. Kau ini siapa?" tanya Pein dingin.
"Errr… dari mana memulainya ya? Emm…" Naruto tampak berfikir, lalu sesaat memejamkan matanya. Setelah membuka mata nya kembali, Pein agak terkejut melihat perubahan ekspresi Naruto yang tadi nya ceria menjadi serius, walaupun senyum masih terpasang di wajahnya, Naruto jadi kelihatan liar. Persis seperti Naruto yang di lihatnya di gudang dulu.
"Aku Namikaze Naruto, 26 tahun. Aku lulus S2 setahun yang lalu pada fakultas teknik, lalu langsung di angkat menjadi dosen tetap," katanya mengawali pembicaraan.
"Lalu, apa maksud mu menjadi anak bodoh yang berkeliaran di kampus ku setap hari dengan memakai jas dokter?" tanya Pein panjang lebar.
"Hmm… sebenarnya dulu aku berniat mengunjungi nenek ku, Tsunade, dosen di fakultas Kedokteran. Namun tanpa sengaja aku melihat kau yang berlatih sekaligus mengajar karate di gedung olahraga," Naruto berdiri dan berjalan perlahan di belakang Pein.
Naruto memegang pundak Pein pelan, "aku jatuh cinta pada mu sejak pandangan pertama, kau yang membuat aku menjadi gay, Pein…" desah Naruto. Dari belakang Ia perlahan mengalungkan kedua tangannya di leher Pein, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga pria bertindik itu.
"Nggh… aku benar-benar tergila-gila pada mu Pein, akhirnya aku memutuskan pura-pura menjadi mahasiswa di fakultas itu agar dekat dengan mu…kau tau kan siapa pemiliki universitas itu …" bisik Naruto di telinga Pein. Ia serta merta meniup telinga itu pelan. Pein merinding disko.
"Ah…" Naruto menjulurkan lidah nya.
Sluuurp
Ia menjilat daun telinga Pein, perlahaaan sekali.
'Hiiiiiiiiiiiiiiii! Tuh kan beneeeerrr! Aku mau di per-akh! Matilah aku… matilah akuuu!" inner Pein teriak gaje, namun wajahnya yang angkuh itu seakan mampu menutupi perasaannya yang sudah ketakutan setengah mati sekarang.
.
.
.
Sasuke, Shino, Neji, Tayuya dan Hinata telah berdiri di sebuah gudang kosong sudut kota. Mereka telah menunggu setengah jam.
"Chk! Mana sih si Boss eh- leader… biasanya dia tidak pernah telat," rutuk Tayuya.
"Perasaan ku tidak enak sekali…" Sasuke menimpali. Sedari tadi ia hanya memperhatikan handphone dan jam tangannya.
"Co-coba telfon lagi, Sasuke…" kata Hinata.
"Ini sudah yang ke sepuluh kalinya, Hyuuga! Dia tak mengangkat atau membalas pesan ku," sahut Sasuke dengan suara meninggi.
"Jadi… bagaimana operasi kita?" Neji menginterupsi. Semua orang memandang pada nya.
"Aku akan cari leader dengan GPS. Kalian hubungi Bang Kimimaro," perintah Sasuke. Ia segera men-starter motor nya, lalu pergi meninggalkan teman-temannya yang tampak masih kebingungan.
'Dimana kau Pein…' bathin Sasuke sembari melihat tanda merah berkedip di layar handphone itu menunjukkan lokasi yang tak begitu jauh, namun juga tak begitu dekat dengan lokasi Sasuke sekarang. Ia memacu motor nya kencang.
.
.
.
"Ah, apa ini, Pein? Di pipi mu ini?" tanya Naruto sembari mengeluskan tangannya pada perban di pipi Pein. "Aku buka yah…" perlahan Naruto melepas perban itu, lalu membuangnya ke sembarang arah.
"Sayang sekali wajah mu yang tampan ini. Kenapa ini lebam sekali. Di tampar cewek, eh?" Naruto menangkat kedua sudut bibirnya -mengejek.
"…"
"Kenapa kau diam saja dari tadi?" tanya Naruto sembari menarik dagu Pein kesamping. Bermaksud memberi sentuhan pada bibir tipis situ.
GREP!
Pein dengan cepat berbalik arah dan mencekik leher Naruto. Lalu melemparnya ke lemari berukuran sedang.
BRAKKK!
Naruto terhempas dengan punggung menghantam lemari. Kini lemari kesayangannya hancur.
"Akkkhhh!" rintih Naruto menahan sakit. Ia berdiri dengan cepat. Naruto lalu merogoh saku celananya yang lebar, menyembunyikan suatu benda di balik punggungnya.
Pein yang menatap Naruto dengan nyalang tiba-tiba merasakan tubuhnya amat panas.
'Ke-kenapa tubuh ku… ah! Panas sekalih! Pasti dia memasukkan obat perangsang! Tuh kan dugaan ku tepat lagiiiii!' jerit bathinnya.
"Kenapa… badan mu panas yah, sayang…" Naruto menyeringai.
'Ini ironi sekali aku yang perjaka ini akan diperkosa laki-laki… ugh! Bagaimana ini ya… aduuuh!' bathin Pein makin menjerit nista.
"Wajah mu itu tetap angkuh walau pun dalam bahaya yah sayang…" Naruto memiringkan kepalanya.
"Taraaaa, ini hadiah dari kuh… karena kau sudah berani mencuri hati ku," desah Naruto. Ia mengeluarkan borgol yang di sembunyikannya.
'Mayday mayday!… siaga satu Pein! Jangan sampai kau di perkosa si pirang itu…' kata hati Pein memberi semangat. Pein berancang-ancang kabur.
SYUUUUT!
Secepat kilat Pein menyambar tas nya dan berlari sekuat tenaga. Namun-
BRAAAK!
Si ketua preman yang sangat di segani itu tersungkur keras di lantai. "Akh!" ringisnya. Lalu di dengarnya langkah kaki mendekat.
"Kau ini memang kuat sekali…padahal aku telah memasukkan obat perangsang dalam dosis yang tinggi dan obat pelumpuh sementara. Lagi pula kau ini dokter, tapi tak mampu membedakan mana air yang di beri obat perangsang. Atau kau sengaja meminumnya agar aku bisa melakukan hal ini pada mu? Kau pemalu sekali, " ucap Naruto sembari menaikkan sudut bibirnya dengan lebar. Naruto kini jongkok di samping Pein yang telungkup.
'Sebenarnya tadi kefikiran sih, tapi benar juga… Padahal aku ini mahasiswa seksologi, ukh! Padahal feeling ku tadi sudah berteriak jangan di minuuum! Jangan di minuuum! gitu. Pasti obat ini milik nona Tsunade, ' Pein dengan polos nya bergulat bathin sambil mangut-mangut –tak nyadar situasi.
GREP!
Naruto menarik rambut Pein hingga Pein mendongak.
BRUAK!
Naruto membating kepala Pein, lalu menarik rambutnya lagi.
"Mmuach!" Naruto dengan sengaja mengecup bibir Pein dengan suara keras. Dengan cepat Naruto memborgol kedua tangan Pein.
"Hmph! Biasanya borgol seperti ini akan dengan sangat mudah kau rusak Pein, namun nampaknya sekarang kau benar-benar kehilangan tenaga mu ya?" bisik Naruto, lalu ia melanjutkan, "sekarang aku bebas, khukhukhu, malam ini kau milikku…" Naruto membopong tubuh Pein ke kamar nya, lalu menghempaskan pria bertindik itu di kasur.
Dengan gerakan erotis dan perlahan Naruto membuka kancing kemeja-nya satu persatu, lalu membuang kemeja itu sembarang arah.
Melihat mata Pein yang terpejam, wajah nya yang memerah, nafas nya yang tak beraturan, bibirnya yang setengah terbuka, tubuhnya yang gemetar, dan 'miliknya' yang menggembung di balik celana, membuat Naruto semakin kehilangan akal sehat. Dengan tergesa Naruto membuka celana panjangnya, lalu segera duduk di perut Pein.
"Hei Boss. Kau ini masih perjaka ya?" tanyanya sembari membuka kancing kemeja Pein perlahan. "Sepertinya kau memang menanti untuk ku perkosa… buktinya kau datang dengan kemeja begini, aku kan jadi mudah sekali membukanya, hehehe," lanjutnya.
Kancing kemeja Pein telah terbuka seluruhnya. Pein masih menutup matanya. "Kau ini ternyata benar-benar polos Pein, padahal ku kira orang yang terkenal mesum seperti mu pernah berhubungan intim dengan wanita. Jangan-jangan onani saja kau belum pernah, eh?" seringai Naruto sembari memiringkan wajahnya.
JLEB!
Perkataan Naruto menancap tepat di jantung Pein. Meskipun Pein pernah mimpi basah, Pein sebenarnya sangat polos, dan belum pernah onani. Se usil-usil nya Pein hanya sebatas menepuk bokong dan dada wanita, paling jauh yaaa… berciuman dengan Konan di gudang (itu ciuman pertama Pein lho readers) *polos apanyaaa!*. Tapi jangan tanya jika menyangkut melihat kelamin wanita dan pria. Itu sudah sangat sering. Yaa bagaimana lagi. Pein kan mahasiswa seksologi.
Naruto perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Pein, lalu mencium bibir nya dengan ganas. Kesadarannya Pein telah hilang. Naruto menggerayangi tubuhnya, menyentuh dada nya, menyusuri perutnya, dan….
BRAK!
Seseorang menendang pintu kamar Naruto.
"Lagi asyik yaaa…"
Naruto menengok ke arah pintu. "Cih. Pengacau."
Sasuke si pelaku melipat kedua tangannya di dada, "seharusnya kau membeli pintu yang terbuat dari baja, Dobe. Kalau pintu kayu begini aku jadi mudah mengganggu acara privasi mu."
"Apa mau mu… dan kau siapa, brengsek?"
"Aku yang tanya kau siapa? Berani-berani nya kau menculik pimpinan kami dan memper-uke eeeeh!" Sasuke kaget dengan ucapan-nya sendiri.
"Berani-beraninya muka anak-anak seperti mu melecehkan pimpinan kami yang macho!" seru Sasuke OOC.
"Pergilah, aku sibuk, brengsek. Lagian pria ini adalah pacar ku," kata Naruto. Ia kembali melumat bibir Pein. "Buka mulut mu, sayang," Naruto menggigit kuat bibir Pein dan memasukkan lidah nya. Tak peduli dengan si pantat ayam yang telah benar-benar di buat emosi.
GREP!
Dengan cepat Sasuke mencengkram leher Naruto, mencekiknya, dan membantingnya ke lantai. Naruto segera menendang dagu Sasuke hingga tubuhnya oleng. Naruto berdiri, lalu menjambak rambut Sasuke ke belakang dan menendang perut nya. Sasuke terpental ke belakang.
"Kau kira dia menurunkan ilmu nya hanya pada mu, brengsek? Kau tak tahu aku murid terbaik nya di kampus, eh?" Naruto menginjak kepala Sasuke. Dengan cepat Sasuke mencengkeram pergelangan kaki Naruto dengan tangan kanannya. Tangan kiri Sasuke segera menopang tubuhnya, lalu kakinya mengayun ke kepala Naruto.
BRUK!
Naruto tersungkur di lantai. Sasuke segera berdiri dan melempar Naruto keluar jendela.
Dengan tergesa-gesa Sasuke menggotong tubuh Pein yang telah kehilangan kesadarannya. Menuju ruang tamu, Sasuke sempat-sempatnya menyambar tas dan sandal jepit Pein. Segera ia kabur dengan motornya, tak peduli apakah pria pirang yang di lemparnya tadi mati atau tidak.
.
.
.
Tiiiit… Tiiiit….
'Ya Bang Kimimaro…'
"Sasuke, bagaiman? Mana Pein?" tanya Kimimaro khawatir.
'Tenang saja, bang. Leader baik-baik saja. Tapi dia sepertinya tak bisa melakukan operasi malam ini, sekarang aku akan mengantarnya ke kost,'
"Wo… memang kenapa dengan dia?"
'Besok aku cerita kan.'
Tut Tut Tut.
Sasuke mematikan teleponnya sepihak.
.
.
"Ba-bagaimana bang?" tanya Hinata –gagap.
"Kita tunggu intruksi Pein, baru kita bergerak. Jadi malam ini operasi kita tunda," desahnya.
"Hem. Me-memang apa yang terjadi dengan leader?"
"Entahlah –besok Sasuke akan menceritakannya pada kita, sekarang kalian boleh pulang," katanya.
.
.
.
Sasuke telah sampai di kamar Pein. Ia membaringkan sang leader di kasurnya, mengganti pakaiannya, melepaskan tindik yang bertebaran di tubuh nya, lalu membuka paksa borgol di tangan Pein.
Sasuke menatap wajah Pein yang masih memerah.
Glek!
Ia menelan ludah melihat wajah erotis itu.
"Argggh!" Sasuke menggelengkan kepala nya.
"Shhhhh! Hah! ah!" desahan tertahan keluar dari bibir Pein. Serta merta Sasuke memasang tampang horror. Dengan sangat ia sadari 'miliknya' menegang.
Sasuke menatap wajah Pein lagi. Wajah yang tampak tersiksa. 'Pasti si pirang itu memberi obat perangsang dalam jumlah besar', bathinnya sembari menempelkan punggung tangannya ke kening Pein.
"Panas…." gumam Sasuke. Perlahan dia mengelus wajah Pein, dan mendekatkan wajahnya…dan….
TBC
Chapter depan petualangan tim Akatsuki akan benar-benar di mulai.
Supaya Author semangat meng-update, Review yang banyak ya readers yang baik…
Berikan masukan dan saran yang membangun
terimakasi yang sudah me-review, follow dan favorite :)
