Seduction

(c) 2015 by Ichika Fearbright. All right reserved.

NARUTO FANFICTION

Dipublikasikan di Wattpad ( IchikaFearbright) dan Fanfiction,net

FYI, wattpad akan di update lebih dulu dari pada FFn. Untuk visualisasi karakter bisa cek di wattpad.

Disclaimer: Gambar visualisasi bukan milik maupun hasil karyaku. Source: Google,com

Naruto Pov

Inhale. Exhale. Take a deep breath Naruto, semua akan baik-baik saja. Kau hanya perlu menghabiskan jam sekolahmu dengan mengabaikan apapun yang mereka bicarakan, lakukan atau apapun itu. Kau mengabaikan sampai jam pulang. Kemudian hari ini akan berlangsung dengan lancar tanpa hambatan.

Seharusnya aku bisa melakukam itu. Tapi. Oh-oh, aku benci mengatakan ini, tapi jalan yang mudah selalu penuh dengan 'tapi'. Itu hukumnya. And the problem is, those stares. Mereka melihatku berjalan di koridor seperti melihat Erwin Smith, artis tua papan atas yang terkenal dengan filmnya Attack on Titan.

I'm lied. Mereka menatapku seperti melihat tempat sampah berjalan. Mereka berhenti dengan kegiatan mereka, melihatku dengan dahi mengernyit dan alis bertaut, lalu membicarakanku seolah aku adalah makhluk tak kasat mata. Ck, i swear, those fucker will regret it soon enough.

Sampai ruang loker, aku mengganti sepatuku.

"Hei, orang homo."

Damn. Tidak bisakah hari ini mereka berpura-pura tidak melihatku? Atau kalau mereka benar-benar menganggapku makhluk tak kasat mata, itu terdengar lebih baik.

"Kau tuli ya?!" Aku berbalik, melihat Suigetsu dengan Juugo berdiri seperti bodyguard tanpa ekspresi di belakangnya. Kalau aku jadi Juugo, aku tidak akan berteman dengan orang cerewet dan kekanakan seperti Suigetsu. Troublesome.

Aku tidak menjawab, hanya mengangkat sebelah alisku. Sebagai body language 'what the fuck are you doing here'. Suigetsu tersenyum, membuatku ingin meninju dan meremukan tulang rahangnya sampai menjadi berkeping-keping. Uh kurasa dengan Juugo sebagai bodyguard, itu akan menjadi hal sulit untuk kulakukan.

"Kenapa kau masih ada di sini? Sekolah ini bukan sekolah untuk homo! Menjijikan."

Tubuhku terdorong ke belakang menabrak loker. Benturan punggungku dengan loker sama sekali tidak terasa sakit, hanya saja harga diriku yang tersakiti. "Listen carefully, you shit head. Manusia itu homosapiens. Kalau memang benar sekolah ini bukan untuk homo. Then its mean, you're a fucking animal. The bitchy one." Aku membalas keras-keras agar cukup didengar oleh siapapun yang masih berada di ruang loker. Termasuk dua orang ini.

Dua detik kemudian, tulang pipiku terasa ngilu dan tubuhku kembali terlempar ke belakang saat Juugo meninjuku. Aku melihat Suigetsu tersenyum menjijikan dengan tangan terlipat di dada. Aku berani taruhan kalau dia tidak terlalu paham dengan apa yang baru saja kukatakan.

Mataku kembali ke Juugo, oke, orang ini tinggi, dengan kulit tan sepertiku, pasti dia juga memiliki abs dan tanline yang indah. Unfortunatelly he isn't my type. Maybe he is, but Sasuke is on top one in my list of the hottest boy in the world. My world. "Sexy bastard." Tidak peduli dia akan mendengarku atau tidak, aku mencoba bangkit dari lantai. Tapi Juugo lebih dulu menendangi perut, kaki dan tanganku. Aku mencoba melindungi kepalaku dari amukan tendangannya, perutku mulai terasa mual. Fuck, aku ingin muntah tapi badanku juga terasa remuk, ketika aku coba menggerakan badanku untuk melawan justru semakin terasa ngilu.

Tuhan, kalau kau memang benar ada. Jangan biarkan aku mati, jujur saja aku takut mati. Meskipun aku homo tapi aku orang baik yang tidak tegaan dengan orang lain. Aku juga menyayangi Dad, Shion. Uh aku juga sayang dengan Mom. So, can we have a deal, God?

Sebelum pandanganku benar-benar kabur, aku mendengar Suigetsu berteriak panik. Seperti 'Juugo', 'berhenti', 'sudah cukup' dan apalah itu aku tidak peduli lagi. Aku benar-benar tidak bisa mendengar atau pun melihat apapun lagi saat mataku semakin berat. Aku rasa aku butuh tidur lagi. Great. Aku bisa membolos.

.

Apa aku sudah mati dan sekarang ada di neraka? Tapi kenapa neraka gelap sekali? Jangan-jangan malaikat salah daftar lalu memasukanku ke surga? Sekali lagi, kalau ini memang surga kenapa sangat gelap?

Where the hell am I right now?!

"Naruto-kun."

Yes. Yes. Yeah. Its me! Siapa di sana? Bisa membantuku keluar dari sini?! Tempat ini gelap sekali! Aku bahkan tidak bisa melihat jari tanganku sendiri!

"Naruto-kun!"

Siapapun kau! Cepatlah bawa aku keluar dari sini! Mau membawaku ke neraka atau ke surga aku tidak peduli!

"Naruto-kun! Bangun!"

Tiba-tiba aku merasa ada yang menggoyangkan tubuhku. Sebuah cahaya kecil yang semakin membesar dan semakin silau membuat mataku sakit. Damn you light!

Setelah beberapa kali aku mengerjapkan mata mencoba membiasakan diri dengan cahaya yang tiba-tiba masuk ke retinaku. Aku menemukan seorang gadis berkaca mata. Rambut diikat dua berantakan. Matanya berwarna apa itu? Ungu? Silver? Amethyst? Ow, kepalaku jadi tambah sakit memikirkan apa warna mata gadis ini.

"Kau baik-baik saja?"

Aku menggeleng mendengar pertanyaannya penuh nada khawatir. "I'm dead." Bagaimana bisa orang ini bertanya apa aku baik-baik saja kalau dia bisa melihatku terbaring seperti orang sekarat. Badanku terasa remuk semua.

"Maaf. Maksudku, apa kau sudah merasa lebih baik?"

"Umm." Aku mengangguk sambil mencoba duduk. Dia membantuku dan menaruh bantal di belakang punggungku. Bau gadis ini harum. "Lebih baik dari tadi pagi. Uh, apa aku di rumah sakit?"

"Tidak." Rambut yang terlihat halus itu bergerak lucu ketika pemiliknya menggelengkan kepala. Seperti, um, seperti apa? Oh! Seperti ponytail Shion! "Naruto-kun ada di ruang kesehatan. Tadi pagi aku menemukan Naruto-kun pingsan di ruang loker."

What the- jadi gadis ini yang membawaku ke ruang kesehatan? Menggendongku?! Oh my fucking shit. Aku menatapnya tak percaya. Bagaimana bisa?!

Dia tertawa. Tertawa! Jadi dia menertawakanku?! "Jadi ka-

"Tidak! Hahaha, bukan aku yang membawa Naruto-kun. Aniki yang menggendong Naruto-kun kemari." Syukurlah. Aku jadi lebih lega kalau bukan gadis ini yang menggendongku.

Wait, by the way, who's Aniki? Her lover? A teacher or "Siapa itu Aniki?" Lebih baik tanya langsung saja dari pada menebak-nebak.

"Um, big brother, Naruto-kun."

"Ah, big bro." Aku mengangguk paham, Aniki itu adalah big bro. Jadi kakak gadis ini bernama Aniki? Uh, nama yang aneh. Jangan ingatkan namaku yang juga tidak kalah aneh. Damn you Dad. "So? Who're you?"

"Ah, aku lupa memberitahu. Namaku Hinata Hyuga." Hinata berdiri lalu menundukan sedikit badannya. Aku hampir lupa, ini cara berkenalan orang Jepang. "Naruto Namikaze."

"Aku sudah tahu." Hinata terkekeh, kembali duduk di kursi sebelah ranjang. Di meja ada seragamku yang dilipat rapi dan tas sekolahku. Pasti dokter sekolah yang menaruhnya di sana. "Kau sudah tahu?" Aku kembali menatapnya, penuh tanya.

"Mau mendengarkan ceritaku? Empat bulan yang lalu, waktu Naruto-kun menjadi siswa baru, banyak siswi yang berebut menjadi teman dan pacarmu kan? Walaupun Naruto-kun murid baru, rambut pirang seperti siswa nakal dan mata biru Naruto-kun. Seperti orang dari negeri lain."

Woah woah, aku memang tampan dan aku memang dari negeri lain. Jangan lupakan kewarganegaraanku masih tertulis warga negara Inggris. "Setiap aku mau berteman dengan Naruto-kun, aku selalu keduluan orang lain. Setiap kali aku punya kesempatan untuk berbicara dan mengobrol dengan Naruto-kun, aku malah malu sendiri."

Bukannya sekarang mereka sedang dalam acara membully dan membuat Naruto yang homo mengundurkan diri dari sekolah? Kenapa Hinata malah menolongku? Atau ini salah satu rencana mereka untuk mengerjaiku? Ya Tuhan, kenapa aku selalu ingin menyalahkanmu?! "Wait a minute! Kau tidak mendengar berita kalau aku homo? Gay? Itu sudah jadi rahasia umum satu sekolah!"

Hinata mengangguk, "Aku sudah tahu kalau Naruto-kun gay."

DIA TAHU KALAU AKU HOMO! "Dan kau masih mau menjadi temanku?! Kau gila?! Bagaimana kalau kau juga dibully gara-gara berteman denganku?! Bagaimana kalau kau dibenci satu sekolah gara-gara menjadi temanku?!"

Gadis ini tidak waras! Saat semua orang menjauhiku gara-gara aku seorang homo, dia malah mau mendekatiku?! What the fuck is wrong with her?!

Hinata sudah mau menjawab tapi suara langkah seseorang yang mendekat lebih menarik perhatian kami. Aku dan Hinata menoleh ke arah gorden yang dibuka dari luar.

"Shizune-sensei." Hinata berdiri, menunduk hormat seperti tadi. Aku hanya mengamati tingkahnya yang, uh, terlalu sopan.

"Hi, ma'am."

'Plak'

"Ow! Thats fucking hurt bi-OW! Whats wrong with you!" Shizune memukul dahiku dengan kertas entah apa yang digulung sangat tebal dan terasa sangat menyakitkan. Sangat. Menyakiti. Dahiku.

"Jaga bicaramu saat di sekolah Naruto!" Shizune melotot, sudah bersiap akan memukul lagi kapan saja jika aku kembali membuka mulut. Hinata hanya tersenyum prihatin melihatku.

Aku mengalihkan pandanganku dari Shizune. Kesal. Melihat jam dinding sudah menunjukan pukul empat lebih lima belas menit. Jam pulang sekolah sudah lewat.

Shit! Berapa lama aku tidur? Mereka pasti sudah mulai latihan. Pasti Azuma juga akan menceramahiku lagi kalau sampai aku tidak ikut latihan kali ini. Aku memaksakan tubuhku untuk bangun dari ranjang dan mengambil tas serta kemeja sekolahku. Mengabaikan Hinata dan Shizune yang memanggilku. "Terima kasih Hinata! Shizune! Lain kali aku akan mentraktir kalian!"

Sampai di gymnasium, aku mengatur napasku yang sedikit terengah. Menyiapkan mental untuk diamuk Azuma dan beberapa hukuman. Oke Naruto, now or never.

Saat aku akan membuka pintu, seseorang lebih dulu membukanya dari dalam. Membuat tanganku mengambang diudara. Sedikit mendongak aku melihat siapa yang sekarang berdiri di hadapanku. Melihatku dari bawah ke atas dengan wajah bosan. "Y-yo Shikamaru." Aku memaksakan sebuah senyum, membuat luka yang dibuat Juugo di sudut bibirku kembali berdenyut. "Apa mereka sudah mulai? Azuma mencariku kan? Apa dia bilang dia akan menghukumku lagi? Uh, apa dia tidak bosan menghukumku mengelilingi gymnasium. I hate him."

Shikamaru masih berdiri dan diam sampai aku menyelesaikan kalimatku. Tangannya yang memegang pintu mengerat. Ah, tentu saja Naruto. Dia juga pasti tidak ingin berdekatan denganmu karena jijik. Damnit.

Dengan tahu diri, aku mundur beberapa langkah. Memberi jarak nyaman untuk Shikamaru. "Untuk hari ini latihan ditiadakan. Kau boleh pulang." Aku mendengarnya dengan bingung. Kenapa Shikamaru harus berbohong? Jelas-jelas aku mendengar keramaian dari dalam seperti biasanya setiap kami latihan. Atau memang benar dugaanku? Semua anggota tim sudah tidak membutuhkanku lagi karena aku homo? Dan homo dilarang bermain basket apalagi menjadi bagian tim reguler.

Memikirkan kemungkinan yang akan terjadi membuatku menggenggam erat tas sekolah dan kemejaku di samping kanan dan kiri. Setelah menelan ludah dengan susah payah, aku membalikkan badanku berjalan menjauh dari gymnasium untuk pulang.

You fucking homo! Go die!

Manusia dengan kelainan sepertimu tidak pantas ada di sekolah ini! Pergi kau dari sini!

Aku malu punya teman homoseksual sepertimu! Jangan coba-coba mendekatiku lagi! Dasar homo!

You're disgusting.

Kenapa kau masih ada di sini? Sekolah ini bukan sekolah untuk homo! Menjijikan.

"Ugh.. ghh.." Tanpa sadar aku menggigit bibir di perjalananku menuju tempat parkir. Kenapa mereka tidak mengabaikan orientasi seksualku dan bertingkah seperti biasa saja? Kenapa mereka tidak bisa?

Sampai di dekat mobil, aku melihat Shion berdiri di kap mobil dengan tangan terlipat depan dada. Mata ungunya menatapku dengan berbagai emosi. Aku mematung beberapa langkah di depannya. Dia mengambil langkah maju, detik berikutnya aku berada di dalam pelukan hangat tubuh kecil Shion. Telapak tangannya menepuk punggungku pelan penuh pengertian.

"What should i do?" Gumamku akhirnya menenggelamkan wajahku di bahu Shion. Ini bukan pertama atau kedua kali Shion mendapatiku down seperti sekarang. Dia selalu menemukanku setiap kali aku ditolak dan dibuang. Untuk sekarang, aku hanya punya Shion dan Minato. Adik dan ayahku yang mencoba menerima keadaanku. Tapi aku tahu, mereka juga sempat merasakan kecewa saat aku memberitahu bahwa aku tidak bisa menjalin hubungan lagi dengan seorang wanita.

"Nothing. You shouldn't do anything." Shion balas bergumam. "Semuanya akan baik-baik saja. Aku dan daddy menyayangimu. We're always love you, bro."

Ya, kalian harus menyayangiku. Karena aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kalian.

"So, its my turn to drive."

ATTENTION

Naruto itu pindahan dari England. Wajar bahasanya campur aduk. Ini khusus untuk keluarga Namikaze saja. Karena Namikaze tidak tinggal di Jepang sejak awal. Mereka baru pindah empat bulan. Dan nihongo bukan bahasa keseharian mereka di England dulu. Mohin pengertian karena ini alur yang kubuat. Terima kasih.

Untuk yang gak paham bahasa inggris, bisa buka kamus dan belajar. Walaupun yang aku masukan di sini kebanyakan umpatan dan bahasa kasar. Setidaknya kalian bisa praktek mengumpat dengan sedikit keren. Terima kasih.

Kemudian, untuk GUEST yang review akan masuk ke MODERATE REVIEW. Jadi, jika kalian mau NGEBASH tanpa MENCANTUMKAN PENNAME kalian, itu KUTERIMA DENGAN TANGAN TERBUKA dan dengan senang hati akan KUHAPUS. Dengan kata lain review TIDAK AKAN MUNCUL Kalau mau ngebash, silahkan LOGIN dulu biar review kalian bisa muncul tanpa perlu kesaring di moderate review. Aku tidak peduli dengan jumlah review, aku cuma mau review yang baik, sopan dan membangun.

Seperti biasa, review, fav, foll, itu aturannya guys.

With love,

Ichika Fearbright