Musik berirama EDM berhentak keras memekikan telinga. Namun, siapa yang peduli? Karena itulah tujuan mereka datang kemari, bersenang senang. Namun disekitar orang yang sedang menikmati suasana itu terdapat lelaki mungil yang sedang terduduk menunggu pekerjaanya sambil menatap miris kearah dompetnya.
Disana, terdapat foto pernikahan dengan mantan suaminya dulu. Ya, itu dulu sebelum seseorang merusaknya. Saat itu dia benar hancur. Bagaimana tidak? Ia melihat dengan mata kepala sendiri bahwa mantan suami tercintanya membawa masuk seorang wanita kedalam rumah kecilnya. Dia paham wanita itu bukan sekedar tamu suaminya. Bayangkan saja, apakah ada wanita 'biasa' yang berkunjung kerumah dengan menggunakan dengan pakaian yang seksi? Bahkan ia melihat sendiri bagaimana wanita itu rela membuka paha untuk suaminya. Awalnya ia hanya bungkam karena ia benar mencintai mantan suaminya tersebut. Namun apa yang terjadi? -suaminya lah yang membawa surat perceraian kepadanya. Dengan alasan bahwa ia tidak pernah membiarkan mantan suaminya tersebut menyentuhnya. Tentu saja Baekhyun memiliki alasan atas penolakanya tersebut. Sang mantan suami juga mengaku bahwa ia bukanlah seorang gay, melainkan seorang lelaki straight ia mengatakan semua itu tepat didepan keluarga besar Baekhyun.
Pernyataan mantan suaminya malam itu benar menohok batin-nya. Harga dirinya benar hancur. Bahkan, ia sempat frustasi hingga membuat semua orang disekitarnya merasa bingung. Pasalnya, ia enggan keluar dari kamarnya untuk waktu yang tidak singkat. Percobaan bunuh diri pun sudah berkali kali dilakukanya. Ia menyerah, hatinya terlalu rapuh untuk disakiti. Menurut psikiater yang dipanggil oleh keluarga Byun, anaknya menderita Kakorhaphiophobia, yaitu kelainan pada seseorang yang takut akan kegagalan. Menikah diusia 19 tahun bukalah sesuatu yang mudah, selain harus merelakan masa belajar, ia pun harus mengurus kebutuhan jasmani dan rohani suaminya juga. Ia nyatanya masih tak percaya bahwa semua tentang mereka telah berakhir.
"Aku benar bodoh untuk memikirkanya. Tapi aku merindukanmu." Monolognya. Setetes bulir airmata jatuh kearah gravitasi bumi. Menurutnya ini sungguh tidak adil. Ia paham masa lalu tidak perlu untuk diingat. Namun, masa lalu adalah sejarah. Bagaimana seseorang dapat melupakan sejarah? Terlebih lagi dia adalah salah satu pemeran utama dalam kisahnya itu.
"Byun Baekhyun! Kemarilah antarkan ini ke meja dekat ahjussi berambut coklat itu!" suara ibunya berhasil meleburkan lamunanya. Ia segera bangkit dan menerima meja beroda yang diatasnya terdapat satu ember esbatu beserta satu botol wine mahal diatasnya.
"Aku akan mengantarkanya" jawabnya seadanya.
"Belajarlah untuk melupakan itu, sayang" ucap Seulbi -ibu Baekhyun sebelum Baekhyun mengantarkan pesanan kepada pelanggan mereka. Baekhyun hanya membalas dengan senyum kecil tak minat. Iya tentu sudah berusaha. Tapi, siapa yang mengerti hatinya?
Baekhyun berjalan kearah segerombolan ahjussi yang ibunya maksud tadi. Setelah sampai pada tujuanya, dia langsung menaruh pesanan yang diinginkan sang ahjussi tersebut.
"Selamat menikmati, tuan." ucap Baekhyun sambil menunduk sopan pada pelangganya itu. Tanpa Baekhyun sadari seorang ber-coat coklat yang duduk dikursi tak jauh dari segerombolan ahjussi tadi memandanginya penuh kesedihan. Setelah Baekhyun kembali ke tempatnya, air mata sang pria terjatuh perlahan.
'Bisakah aku memutar kembali waktu? Kau terlihat begitu lemah. Maafkan aku Byun Baekhyun.' ucap pria itu.
.
.
.
Spagethyy
Present
SWEET CATASTROPHE
Rate
Mature
Cast
Byun Baekhyun (20), Park Chanyeol (31), and others
PERINGATAN!
All cast belong to god. Disini saya hanya pinjam nama. Karakter dalam cerita hanyalah fiksi belaka. Age gap! maybe Mpreg!
.
.
.
Baekhyun berjalan seorang diri melewati sebuah toko buku berdinding kaca dan tepat disaat itu televisi di dalam toko buku sedang menyiarkan berita tentang kerja sama antar dua perusahaan basar di Korea. Disitu terlihat jelas para petinggi perusahaan sedang berjabat tangan tanda mengikat sebuah kontrak. Namun, fokusnya hanya pada satu titik, salah satu pria di televisi tersebut. Raut kesedihanya kembali. Kenapa begitu menyakitkan? Melihat wajahnya sama saja dengan membuka luka lama -menurutnya. Ia membenci ini, ia merasa bila dunia begitu sempit. Bahkan ia juga merasa bahwa Tuhan sedang mempermainkan dirinya. Perasangka seorang Byun Baekhyun.
Baekhyun melanjutkan perjalanan menuju halte. Ia tidak sedang menunggu bus, ia menunggu hyung-nya. Sudah terlalu larut untuk menunggu bus. Jika Baekhyun diizikan pun, ia kan memilih naik taksi dari pada merepotkan hyungnya itu. Baekhyun juga bisa saja pulang bersama ibunya. Namun bila dibiarkan seperti itu Baekhyun akan pulang lebih larut. Lagi lagi dia tidak diizikan. Jujur saja, Baekhyun benci di kekang, itu sangat menyebalkan. Namun Baekhyun harus mengerti kenapa keluarganya bisa seperti ini. Itu karena keluarganya sangat khawatir terhadap lelaki paling lemah di keluarga mereka. Akhirnya ia tiba di halte. Baekhyun hanya memainkan ponselnya untuk membuang kebosanan.
"Hey, mau kemana?" Baekhyun mengernyit, melirik sedikit orang yang baru saja duduk disampingnya. Terlihat orang itu berpakaian sangat formal menggunakan masker dan topi yang menutupi bagian wajahnya. Semuanya serba hitam. Ia tidak pernah mengenal suara ini sebelumnya. Baekhyun hanya diam, tak berniat membalas karena memang ia tidak mengenal pria tersebut.
"Dimana orang tuamu? Anak kecil tidak boleh keluar dimalam hari. Berapa umurmu? Apa kau 15 tah_"
"Aku 20" Sanggah Baekhyun cepat. Tapi matanya masih tetap fokus pada layar hpnya. Mencari berita yang sempat ditayangkan ditelevisi toko buku tadi.
"Hah, tapi kenapa?"
"Apa kau akan bilang bahwa wajahku tidak pantas untuk seorang 20 tahun?" Pria itu menyerah, ia hanya mendengus akan sifat bocah disampinya ini. Sekarang ia memilih bungkam, namun mata si pria misterius itu sedikit melirik ke arah ponsel Baekhyun. Dan tanpa Baekhyun sadari, pria itu tersenyum dibalik maskernya.
"Apa kau tertarik dengan dunia bisnis?" tanya si pria lagi.
"Tidak, aku benci bisnis." pria itu hanya bisa membatin
'apa yang salah dengan dunia bisnis'
"Kalau begitu, apa kau mengenal salah satu dari mereka?" ucapnya sambil menunjuk kearah ponsel Baekhyun yang menampilkan dua petinggi perusahaan yang sedang berjabat tangan.
"Aku mengenal satu bajingan diantaranya."
'Bajingan? bukan aku kan yang dia maksud?' batin pria tersebut.
"Hyung! Kau sudah datang" ucap Baekhyun girang tanpa mempedulikan pria asing tadi. Ia lari lalu merangkul tangan hyungnya sampai didepan mobil, setelah itu Jongin -kakak Baekhyun membukakan pintu mobil untuknya. Jongin merasa tak asing dengan pria tersebut, tapi entahlah. Pria tadi hanya menatap kedekatan kakak beradik itu tanpa reaksi.
'Ah itu adikmu? Ternyata menyenangkan menjadi orang sok misterius' kekeh pria itu.
.
.
.
"Dia siapa, Baek? Apa dia berbuat macam?" Baekhyun hanya menggeleng samil menyenderkan kepalanya pada seat mobil. Mobil mereka pun melesat memecah keheningan malam.
"Tidak, aku tidak mengenalnya. Yak! Pelankan mobilnya!" teriak baekhyun garang.
"Ngehehe, lakukanlah aegyo lebih dahulu"
"Ah molla!" iya tak mengerti, mengapa hyungnya seperti itu. Baekhyun bukan anak kecil lagi yang harus melakukan aegyo untuk mendapatkan sebuah permen. Baekhyun hanya mencurutkan bibirnya. Jongin yang melihat hal itu hanya terkekeh sambil mengusai surai adiknya.
"Baiklah tuan putri yang cantik. Perintah dilaksanakan!"
Hening
"Baek? Apa kau melihat berita didepan toko buku yang biasa kau lewati? Jika iya, bagaimana menurutmu? Aku takjub denganya. Kenapa dia masih bisa tersenyum seperti itu. Benar bajingan tidak tau malu. Apa kau menginginkanku untuk membunuhnya? Aku akan melakukanya jika kau mau, Baek." merasa tidak di respon, Jongin mengernyitkan dahi sambil melirik pada seat penumpang disebelahnya. Ternyata adiknya sudah tertidur memunggunginya. Adiknya benar imut. Seperti anak anjing, pikir Jongin.
"Jaljjayo" ucap Jongin sambil tersenyum.
Jika yang ada di samping Baekhyun adalah Seulbi, maka ia akan tau bahwa anaknya tidak sedang tertidur. Ia tidak tertidur dengan posisi meringkuk dengan lutut yang dijadikan tumpuan wajah manisnya, itu posisi yang sangat . Ia menatap apapun yang lewat didepan netranya. Pelupuk matanya mulai penuh, ia tidak bisa menahanya lagi. Baekhyun menangis, entah yang keberapa kalinya hari ini. Ia mengutuk dirinya yang mudah sekali menangis. Ia bersyukur karena hyungnya tak akan tahu karena musik didalam mobilnya cukup untuk meredam suara tangisannya itu.
'Jangan bunuh dia, hyung' batinya sebelum jatuh kealam mimpi karena ia terlalu lelah untuk menangis.
.
.
.
Park Company 09:30
Siluetnya mulai terlihat di kantor. Penampilan pria itu dapat menarik perhatian siapa saja yang melihatnya. Badanya yang tegap proporsional terbalut dengan kemeja berwarna putih dibalut dengan jas berwarna biru dongker yang terlihat mewah serta cocok dengan tubuhnya. Kakinya yang panjang berbalut celana yang pastinya tak kalah mewahnya. Rambut hitam pekatnya yang tersirir rapi kebelakang menampilkan dahinya yang mana semakin membuatnya terlihat seksi dimata siapa saja yang melihatnya. Mata tajamnya tetap fokus ke arah jalan didepanya. Tak jarang matanya bertatapan dengan para karyawan dikantor. Para karnyawan yang lewat didepanya pun langsung menudukan badan tanda hormat. Pria tampan tersebut hanya tersenyum sebagai balasanya. Kakinya terus membawanya kearah ruangan yang akan ia tuju. Ia mulai belok ke arah dimana terdapat pintu dengan design yang cukup apik dari pintu lainya. Lalu ia masuk ke pintu yang terdapat tulisan 'CEO PARK CHANYEOL'. Chanyeol masuk kedalam ruangan itu. Menaruh tas kulit berwarna hitamnya lalu mendudukan dirinya dikursi yang terlihat cukup nyaman. Ia mulai membuka dan membaca sedikit demi sedikit dokumen yang berada diatas mejanya tersebut.
"Tidakkah kau ingin merayakanya? Sahammu benar naik. Ayolah traktir aku sebagai sekertarismu!" ucap orang yang disamping yang barusaja masuk keruangan Chanyeol.
"Setidaknya bicara lah dengan sopan padaku, ini kantor Jongin" balasnya sambil memutar bola matanya malas.
"Persetan dengan itu, ayo kerumahku, ibuku ingin melihatmu sekalii saja. Jika kau tidak ingin kerumahku, maka datanglah ke bar milik ibuku! "
"Ucapkan saja salamku pada ibumu" ia benar tak mengerti akan sikap sahabatya itu. Chanyeol dan Jongin dekat bukan hanya sekedar mitra kerja. Mereka telah mengenal satu sama lain sejak SMA. Namun walaupun dekat mereka benar belum mengenalkanya pada keluarga masing. Sungguh ironi bukan?
"Sialan, kita sudah berteman sejak SMA tapi kau tidak pernah mengujungi orangtuaku. Bahkan, ibuku sempat mengira bahwa kau hanya teman imajinasiku." sergah Jongin.
"Aku sibuk kau tau? Ah ponselku berbunyi" buru Chanyeol mengangkat ponselnya.
Makan malam bersama, tidak ada penolakan' ucap orang disebrang telepon, Chanyeol tau bahwa ini suara ayahnya.
"Apalagi ini ayah?" ayahnya menutup panggilan sepihak tanpa menjawab pertanyaan Chanyeol. Ia sangat membenci itikad pemaksa ayahnya itu.
Restoran mewah bergaya Eropa dengan perpaduan arsitektur yang indah dapat membuat siapa saja kagum melihatnya. Netranya tak berhenti mencari sosok yang mengajaknya untuk makan malam tadi.
"Mencari siapa, tuan?" ucap pelayan restoran yang sepertinya menyadari wajah Chanyeol yang sedang kebingungan.
"Antarkan aku ke tempat dengan nomor reservasi 056" balas Chanyeol. Sang pelayan mengambil sebuah note kecil dan membacanya secara cepat.
"Ah, atas nama Park Junsu. Kemari tuan" Chanyeol mengikuti langkah pelayan itu. Kaki jenjangnya memasuki sebuah lift. Pelayan itu menekan tombol '5' yang mana berada pada posisi paling atas diatara angka yang lain.
'Sebenarnya apa yang akan kau lakukan diatas sana Park Junsu' dengus Chanyeol dalam hati.
Chanyeol adalah anak tunggal dari sebuah Persdir pemilik perusahaan game ternama. Menjadi anak pertama bukanlah hal yang mudah bagi Chanyeol. Jujur saja, menjadi CEO disebuah perusahaan game itu bukanlah keinginan Chanyeol. Pada masa SMA dulu Chanyeol mempunyai cita cita menjadi atlet basket. Kemanpuanyapun sudah tidak bisa diragukan lagi. Namun naas, karna tabiat pemaksa ayahnya itu ia harus mengubur cita cita yang sudah dia banggakan dahulu.
Namun dibalik sifat menjengkelkan ayahnya itu, seorang anak tetaplah seorang anak. Chanyeol sangat menyayangi ayahnnya. Ditinggal seorang ibu sejak sekolah dasar membuatnya sangat bergantung pada ayahnya.
Tungkainya terus berjalan mengikuti sang pelayan. Sampai pada saat maniknya menemukan sang ayah yang sedang duduk bersama wanita cantik yang tak ia kenal. Raut wajah Chanyeol berubah. Ia mengerti akan sampai mana pembahasan ini.
"Ahh anakku, kau sudah datang" sambut ayahnya saat dirinya menduduki kursi yang telah disediakan.
"Apa ini ayah?" tanya Chanyeol dengan ekspresi datarnya.
"Jung Yerin, kenalkan ini anakku Park Chanyeol. Maaf bila kesan pertama anakku adalah anak yang dingin. Namun sebenarnya hatinya sangat hangat. Dia sangat tampan, bukan?" ucap Junsu terkekeh membanggakan anaknya. Chanyeol hanya memutar bola matanya malas mendengar pernyataan ayahnya tersebut.
"Halo Park Chanyeol-ssi. Senang bisa mengenalmu" ucap Yerin sambil tersenyum manis.
"Dia sangat cantik bukan? Aku sendiri yang memilihnya. Haha" ucap Junsu dengan tawa khasnya yang menyebalkan.
"Iya, dia sangat cantik_" ucap chanyeol menjeda ucapanya ketika ia melihat rona merah pada pipi Yerin.
"_tapi tetap saja aku tidak menyukainya." lanjut Chanyeol. Chanyeol-pun berdiri dari kursinya. Bersiap meninggalkan mereka berdua.
"YAK BOCAH SIALAN! APA KAU INGIN MELIHAT AYAHMU MATI SEBELUM KAU MENIKAH?" Chanyeol hanya menyibakan bibirnya meniru nada ayahnya ketika mengucapkan itu. Chanyeol pun melenggangkan kakinya menjauhi kedua orang tersebut. Ketika ia sampai pada lantai dasar, Chanyeol mengambil ponselnya dibalik jas mewahnya. Menekan panggilan cepat pada nomor 6. Memulai panggilan kepada 'Bastard Kim'.
'Ad_'
"Bawa aku ke bar milik ibumu sekarang juga!" Chanyeol menutup panggilan itu cepat.
Sebenarnya Chanyeol sangat membenci bar. Menurutnya bersenang senang disini sama saja melakukan hal bodoh. Orang akan menghabiskan waktunya untuk hal tidak penting seperti mabuk mabukan, berjoget tanpa tau tempat dan yang lainya. Namun harinya ini benar buruk karena ayahnya tersebut. Sehingga ia mengindahkan ajakan Jongin untuk bersenang senang di bar ibunya. Setelah menyapa ibu Jongin, Chanyeol buru mencari tempat duduk untung sekedar merenggangkan pinggangnya yang lelah karena bekerja seharian. Ia memilih duduk disebuah sofa yang cukup luas. Jongin hanya menyusul dibelakangnya.
"Perjodohan lagi?" ucap Jongin sambil menunjukkan gesture wajah meledek Chanyeol.
"Apa kau tidak bisa diam? Sekarang aku VIP-mu" ujar Chanyeol dengan wajah datarnya.
"Oke, apa yang kau inginkan"
"Aku ingin makan sesuatu. Dan, apa kau punya wine dengan kadar alkohol paling rendah?"
"Tentu saja. Tunggu sebentar aku akan memesankanya" ucap Jongin lalu meninggalkan Chanyeol.
.
.
.
Jongin berjalan kearah adiknya -Baekhyun yang sedang terduduk disudut bar seperti biasanya. Jongin hanya menatap miris kearah adiknya tersebut. Lagi, ia sedang menatap kearah foto yang ada didompetnya. Jongin kesal karna dulu ia sempat mengizinkan Baekhyun mengencani seorang bajingan. Namun apadaya, nasi telah menjadi bubur, dan Jongin pun tidak bisa memutar kembali waktu.
"Baek?" panggil Jongin sambil mengusak sambut adiknya guna memecakan lamunan Baekhyun.
"Ah hyung! Sejak kapan kau kemari? Kau tidak sedang menjemputku kan?" jawab Baekhyun sambil memasukan dompetnya buru buru -takut takut hyungnya melihat.
"Tidak Baek, kau darimana saja, eoh? Hyung bahkan sudah menyapa eomma tadi. Bisakah kau melayani pesanan ini heum?" tanya Jongin sambil memberikan catatan pesanan.
"Tentu saja, hyung! Apa kau membawa seseorang?"
"Aku membawa temanku. Aku ingin kau yang mengantarkanya, ok?" ucap Jongin kembali mengusak rambut adiknya sebelum meninggalkanya.
.
.
.
Baekhyun berjalan kemeja hyungnya sambil membawa troli pelayan. Dia hanya tersenyum melihat hyung-nya yang sedang tertawa lepas. Ia akui hyung-nya adalah orang yang paling tampan dikeluarganya. Kulitnya yang gelap membuat siapa saja jatuh hati saat melihatnya.
"Hyung, ini pesanan-mu" ucap Baekhyun lirih. Chanyeol yang sedang menatap kearah ponsel- mengganti perhatian-nya.
Ah, anak yang ada di halte' seringainya dalam hati.
"Baekhyun kemarilah. Duduk disini" perintah Jongin sambil menepuk sofa disebelahnya, memberikan isyarat untuk duduk. Jongin hanya tidak ingin bila adiknya kembali memikirkan bajingan itu saat menunggu pesanan. Baekhyun pun menuruti apa yang diperintahkan hyung-nya itu.
"Annyeonghasseo, Byun Baekhyun imnida" ucapnya sambil membungkukan tubuh kearah Chanyeol.
"Hai, aku Park Chanyeol" sapa Chanyeol kepada adik Jongin. Namun Baekhyun merasa janggal dengan suara yang ia dengarkan ini. Suara bariton ini, ia pernah mendenarnya. Tapi dimana? Wajah dan namanya pun terdengar tidak asing.
"Ada apa dengan wajah bingungmu itu Baek? Apa kau pernah melihatnya?" Baekhyun mengangguk ragu. Sangat imut.
"Apa kau pernah muncul di televisi? Apa kau seorang artis? Aku seperti pernah melihatmu sebelumnya, Chanyeol-ssi" ucap Baekhyun polos. Entah mengapa Chanyeol merasakan hal yang berbeda. Baekhyun terlihat sangat polos dan bersih itu dan itu sangat lucu dimata Chanyeol.
"Dia orang yang bersanding bersama bajingan itu di televisi malam itu, Baek" ucap Jongin menjelaskan.
"Benarkah? Tapi aku tak melihat wajahnya"
"Itu karna kau hanya fokus pada si bajingan itu" ucap Jongin malas. Adiknya hanya mencurutkan bibirnya lucu. Chanyeol hanya menatap interaksi keduanya dengan gemas.
"Sudah sudah. Apa kau sudah boleh minum baek?" tanya Chanyeol.
"Sud_"
"Tidak, dia tidak boleh minum" sergah Jongin cepat
"Hyung!" ya, mood Baekhyun benar benar rusak karena hyung-nya ini.
"Apa? Aku tidak ingin melihatmu mengamuk seperti orang gila malam itu Baek. Demi apapun kau menjambak rambutku cukup keras didepan kenalanku saat kau mabuk. Mau kau apakah aku setelah ini?" papar Jongin panjang lebar. Ia benar benar membenci kenyataan bahwa adiknya tidak bisa mabuk sedikitpun.
"Aku akan bertanggung jawab akan itu" ucap Chanyeol guna melerai pertikaian kedua kakak beradik ini. Sungguh kepalanya sudah sangat pening memikirkan perjodohan yang dibuat ayahnya.
"Yey!" ucap Baekhyun girang.
4 jam kemudian
"Kau harus jujur Kim Jongin! Kau yang mengambil celana dalamku kan? Padahal aku dangan sengaja membeli celana dalam berwarna merah muda agar kau tidak pernah mengambilnya lagi secara diam diam. Tapi tetap saja!" ucap Baekhyun yang sedang mabuk. Kedua pria disana hanya memijat pening mereka. Chanyeol menyesal telah mengizinkan Baekhyun untuk minum, padahal kadar alkohol pada winenya tersebut sangat rendah. Tapi kenapa Baekhyun bisa mabuk seperti itu?
"Aku sudah bilang sebelumnya, Chanyeol" ucap Jongin masih menutupi wajahnya dengan tangan menahan malu.
"Apa kau benar benar memakai celana dalam berwarna merah muda?" tanya Chanyeol sambil memegangi tengkuknya -merinding.
Kau laki laki yang men-ji-ji-kan" ucap Baekhyun sambil menunjuk pada Jongin.
Chanyeol menahan pinggang Baekhyun yang hendak berdiri diatas kursi. Namun Baekhyun malah menolaknya dengan kasar dengan memukul mukul kepala Chanyeol. Jongin yang melihat itu pun langsung memegang kedua tangan Baekhyun. Ia berucap pada Tuhan bahwa ia menyesal telah membuat Baekhyun mabuk. Ibu kedua kakak beradik itupun melihat kekacauan yang dilakukan anaknya. Sang ibu segera menghapiri sumber keributan itu.
"Ommo, Baekhyun! Sadarlah. Siapa yang mengizinkan dia minum!" Chanyeol berdeham masih dengan kondisi memegangi Baekhyun yang tetap mengamuk. Ibunya menepuk nepuk bokong Baekhyun kasar. Diharapkan anaknya bisa segera sadar. Tapi siapa yang menyangka bahwa itu akan berhasil? Baekhyun melemah lalu tertidur. Dengan sigap Chanyeol menahan tubuh Baekhyun.
"Jongin, bawa dia pulang" perintah Seulbi. Jongin pun hanya mengangguk mengiyakan. Chanyeol-pun pamit dengan posisi Baekhyun yang masih ada digendonganya.
Mereka bejalan menuju parkiran. Chanyeol tak henti hentinya mencuri pandangan kearah orang yang sedang tertidur digendonganya tersebut. Perasaan apa ini? Ia sungguh tidak mengerti.
"Tidurkan dia di belakang, kau duduk didepan" perintah Jongin.
"Tidak, aku akan duduk dibelakang bersamanya." Final Chanyeol. Chanyeol-pun mendudukan Baekhyun di kursi belakang disusul denganya yang duduk disamping Baekhyun.
.
.
.
Selama perjalanan Baekhyun terus tertidur. Gerakan yang terjadi didalam mobil membuat kepala Baekhyun terompang amping kesana kemari. Awalnya Chanyeol diam, namun saat Baekhyun mendesis sambil memegangi kepalanya, Chanyeol merasa iba. Ahirnya ia membawa kepala Baekhyun kearah pahanya, menjadikan pahanya sebagai bantal untuk Baekhyun. Namun, tindakanya ini sepertinya salah lagi. Gerakan yang ditimbulkan saat mobil berjalan membuatnya mendesah pelan.
Bagaimana tidak?
Kepala Baekhyun yang berada dipangkal pahanya itu bergerak kesana kemari karena gerakan mobil tersebut. Perlu diingat, kepala Baekhyun bergerak bebas di daerah intimnya. Chanyeol mendesis. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Kepalanya mulai pening akan gairah. Genitalnya pun mulai menegang. Chanyeol mengumpat dalam hati.
Otak iblisnya pun datang karena gairah tersebut. Tanpa ia sadari tanganya telah berada pada pantat Baekhyun yang masih dilapisi celana jeans. Baekhyun tak sadar akan perbuatan Chanyeol karena ia tertidur sangat pulas. Dan Jongin juga tak sadar karna ia hanya terfokus pada jalanan didepanya. Chanyeol meremas bongkahan pantat Baekhyun secara bergantian. Perlahan tanganya mulai menyelinap dibalik celana jeans milik Baekhyun.
"Cha! Kita sudah sampai, bisakah kau menggotong Baekhyun sampe kamarmya?" ucap Jongin mengembalikan kesadaran Chanyeol. Chanyeol menyumpahi dirinya atas perbuatanya tersebut. Ia berharap Tuhan mengutuknya sekarang juga.
.
.
To Be Continued
Maapin upnya lama, bener bener gabisa moveon dari kabar Jonghyun. HUHUHU biaskuuuu. Apa cuma aku yang ganyangka? Nangis darah aku:')
SELAMAT JALAN UNTUK
KIM JONGHYUN
1990-2017
