Aku malas sekolah. Bukan. Aku malas bukan karena menghindari ulangan harian atau guru .. Aku kehilangan separuh nyawaku. Separuh nyawa ada di sekolah dan separuhnya lagi ada di jepang. Sudah tepat 1 minggu ia meninggalkanku sendiri di sini. Sangat hampa relung hatiku tanpanya. Sungguh. Aku merindukannya. Sangat sangat merindukannya. Bagaimana cara dia tertawa, menatapku hangat dengan senyuman mempesonanya, tangan besarnya yang mengusak rambutku gemas, dan kecupan manis yang selalu ia berikan di pagi hari. Rasanya ingin ku percepat waktu ini agar aku bisa segera menemuinya.
Jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku sekarang. Orang yang selama ini kutunggu-tunggu memasuki kelas dengan satu tangan memegang ranselnya dan 1 nya lagi ia masukan dalam saku sweaternya berjalan santai dengan senyum mengembang di wajah tanpa cacatnya itu. Tanpa sadar ia sudah berada tepat didepanku dengan senyum yang masih sama
"Morning princess~"
Plak
"Auw" Baekhyun terbangun dengan tangan yang memegang kepalanya. Ia sangat kesal, disaat ia sedang membuat fanfic untuk menghilangkan rasa jenuhnya, Kyungsoo malah memukul kepalanya sangat keras dengan buku "Yak! Do kyungsoo! Apa yang kau lakukan eoh?" Baekhyun melempar kyungsoo dengan botol minumnya dan menjambak rambutnya kesal "Kau terlalu serius dengan duniamu sampai-sampai aku yang sedaritadi berbicara tak kau hiraukan byun baek! Aku kesal padamu" Baekhyun menghembuskan nafasnya kesal lalu menatap sahabatnya dengan tatapan malas.
"Aku tidak mood soo, aku— tunggu. Ini sweater siapa yang menaruh?" Baekhyun menghentikan eluhannya dan menatap kyungsoo bingung. Sweater abu-abu brooklyn terpampang jelas di atas mejanya dan itu jelas bukan miliknya. "Ini kan sweater chanyeol, mengapa bisa ada disini?" Baekhyun bergumam dengan pandangan penuh tanda tanya di sweater yang ia pegang itu. "Apa kau yang membawakannya kris?" Tanya baekhyun kepada kris yang berada didepannya "Tidak, aku baru saja masuk kelas"
Baekhyun semakin mengerutkan dahinya dan kembali menatap kyungsoo "Bukankah chanyeol berada di rooftop?" Baekhyun membulatkan kedua matanya kaget "Ia sudah masuk sekolah soo? Jinjja?" Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Chanyeol yang sedari tadi memenuhi pikirannya akhirnya muncul dengan senyum mengembang di wajahnya Blush Baekhyun tersenyum malu dan tidak bisa dipungkiri ia sangat senang sekali karena chanyeol yang satu ini benar-benar nyata. "Kau—"
"Surprise baby~"
Klap
Baekhyun terbangun dari tidurnya dan mengerjapkan kedua matanya pelan. "Mimpi indah tuan puteri?" Baekhyun menoleh dan mendapati kyungsoo disebelahnya yang menyodorkan tissue didepan wajah kusut Baekhyun "Sudah berapa lama aku tidur soo?"
"Lumayan, mulai pukul 2 dan baru saja bel pulang bunyi yang berarti kau tidur sampai jam 3" Baekhyun hanya menganggukan kepalanya dan mengucek malas mata sipitnya "Ayo kita pulang bersamaa kyung~"
"Sebelum kita pulang, Bersihkan dulu wajahmu dengan ini, ada air liur di wajahmu"
Tittle : ChanBaek Love Story
Pairing : ChanBaek, and Others Member EXO
Genre : Drama, Comedy, Romance
Rated : Sementara aman :v
WARNING! TYPO EVERYWHERE, REVIEW AFTER READ, DON'T BE SIDERS^^
ENJOY~~
"Ah aku pusing" Terlihat baekhyun sedang terduduk lemas dengan memijit pelipisnya yang sedikit pusing. Saat ini Baekhyun sedang berada di rumah milik sehun untuk menemui adik sehun, Oh yeri. Tapi karena Yeri tak kunjung datang dari market, maka terjadilah sekarang. Baekhyun curhat kepada sehun.
Sebenarnya ini hanya masalah sepeleh, tapi karna Baekhyun seorang wanita, ini merupakan masalah besar. "Wajahmu sudah kusut, jangan tambah kau kusutkan lagi" baekhyun mengabaikan ucapan sehun disebelahnya seolah-olah itu setan yang sedang bicara. "Baju branded banyak, sepatu juga, sampai-sampai sekali jalan bisa pakai 3 pasang sekaligus" ucap sehun sinis dengan tetap menatap layar laptopnya. "Lalu apa yang harus kulakukan sehun-ah?" Sehun menatap malas baekhyun yang sudah ia anggap sebagai noona nya sendiri dan mendiamkannya.
Sebenarnya ini hanyalah 1 masalah, yaitu Uang. "Cih terserah kau lah, akan ku adukan pada chanyeol hyung" sehun meneguk pelan cola nya dan kembali mengetik sesuatu -tugas sekolah- di laptopnya. "Lakukan saja, dan aku akan membunuhmu setelahnya" Baekhyun terlihat semakin menyedihkan sekarang, rambut lurusnya sudah berubah menjadi tak beraturan dan sediki kusut akibat terus diacak dengan sang empu. Oh wajar saja dia begitu, tiap tengah bulan uangnya selalu habis karena 1 hal. Shopping. Bagaimana tidak, setiap lewat di depan toko apapun, keluar-keluar psti Baekhyun sudah membawa kantong plastik berisi barang yang dijual toko itu. Rahasia umum jika Baekhyun merupakan seorang maniak shopping sejati.
"Apa Yeri lupa arah jalan pulang?"
"Pulang sana, kau mengganggu ku" Bukannya menjawab Baekhyun, Sehun malah mengusir nya dengan tatapan datarnya, omong-omong dia baru saja menyelesaikan tugasnya. "Aku mengantuk hun-ah" Baekhyun mengucek pelan matanya dan menyenderkan tubuhnya di sofa. Sehun menatap jijik tingkah laku Baekhyun yang sok imut itu dan mengambil ponselnya.
"Kau sedang apa?" Tanya Baekhyun menatap Sehun yang sedang mengetikkan sesuatu di ponselnya. "Mengapa kau sangat ingin tau sekali eoh? Apa kau menyukaiku?"
"Menjijikan. Chanyeolie ku jauh lebih tampan daripada kau cadel! Bahkan tikus pun tak sudi berpacaran denganmu"
"Yak! Dasar pendek sialan!"
"Aku tidak pendek, kalian saja yang ketinggian" Baekhyun menatap Sehun tajam dan dibalas dengan tatapan super datar oleh sehun. Jika dia bukan kekasih Chanyeol hyung, maka sudah sedari tadi ku kubur di tanah hidup-hidup, batin sehun kesal. "Sudahlah sana pulanglah, jual saja semua baju, sepatu, dan tas tidak bermutu mu, nanti uangnya kasih saja di aku"
"Tampan sekali kau berbicara seperti itu"
"Akhirnya kau sadar jika aku tampan noona" Sehun terkekeh keras dan mendudukan bokongnya di sofa sebelah baekhyun. Baekhyun mengeritkan dahinya bingung menatap ponsel yang disodorkan sehun untuknya "aku tau kau bodoh noona, tapi setidaknya peka lah sedikit, lihat ini" Baekhyun menurut dan membaca chat sehun dan chanyeol. Tunggu. CHANYEOL?
"Kau gila! Mengapa kau mengadu kepada chanyeol sungguhan ha? Dasar kau anak setan!" Baekhyun memukul sehun dengan brutal, sungguh ia paling malas jika sehun mengadu kepada chanyeol terutama tentang masalah uang, bisa-bisa chanyeol akan memarahinya setelah ini. "Mati kau! Yak! Yak!(?)"
"Stop Noona! Ampun berhentilah" Sehun berusaha melindungi tubuhnya dengan bantal dan bukannya malah berhenti, baekhyun malah melempari sehun dengan apapun yang ada disekitarnya "Apa yang kalian lakukan?" Baekhyun menghentikan acara mari-melempar-sehun, dan menatap Yeri yang menenteng banyak kantong plastik ditangannya "Astaga oh Yeri! Apa kau tersesat dijalan tadi? Mengapa kau seperti siput yang sedang berjalan? Sudah jam berapa—"
"Eonnie, mengapa kau cerewet seperti nenek ku eoh?" Sehun tertawa keras mendegar ucapan sang adik. Dan Baekhyun menatap Oh bersaudara malas. Benar-benar kakak beradik yang kompak, batin baekhyun. "Terserah kalian!"
.
.
.
Aku.. Entah mengapa semakin hari, semakin merasa jika kau menjauh. Apa salahku? Dimana letak kesalahanku? Mengapa kau seperti menjauhiku tanpa sebab? Sudah beribu kali aku menanyakan keadaanmu yang 'sesungguhnya' dan beribu kali juga kau menjawabnya dengan dusta. Aku tidak menuntut banyak darimu. Hanya saja kau sangat berubah. Kau bukan chanyeol yang ku kenal dulu. Dimana chanyeol ku yang sekarang? Hujan mengguyur ibukota seoul sejak sore tadi, dan banyak genangan air yang terkadang melintas ketika ada kendaraan yang melewatinya.
Terlihat Baekhyun sedang terduduk menatap rintikan air yang turun dari balkon apartemennya. Sudah beberapa jam ini ia hanya duduk dan menatap kosong hamparan langit yang sampai saat ini tidak menunjukan tanda-tanda hujan akan berhenti. Malam ini adalah malam yang menggambarkan bagaimana suasana hatinya saat ini. Tak tau mengapa ia menjadi semlakonis seperti ini. Tak ia hiraukan angin dingin yang bahkan sampai menembus selimut tebal yang melindungi tubuh mungilnya. Ia hanya memikirkan satu orang yang jauh disana. Chanyeol. Sudah lama ia tak jumpa dengan kekasih idiotnya.
Bagaimana kabarnya, apa ia sudah makan malam, bagaimana harinya tanpanya sekarang. Menghembuskan nafas berat lalu merapatkan balutan selimutnya. Omong-omong, Chanyeol sedang mengunjungi neneknya yang sedang di rawat di rumah sakit di Jepang. Sebenarnya, neneknya jatuh sakit disaat sedang berlibur bersama kolega keluarga lainnya saat di jepang. Maka dari itu chanyeol beserta keluarganya pergi menjenguk. Tetapi, dari tadi mengapa pesan yang dikirim baekhyun sama sekali tak ada yang di balasnya? Terakhir kali membalas ketika chanyeol telah sampai di bandara incheon. Baekhyun khawatir, takut terjadi apa-apa dengan kekasihnya ini.
Kring
Ponsel Baehyun berdering, ada pesan masuk dari Luhan
'Kau ada dirumah?'
Baekhyun mengeritkan dahinya bingung membaca pesan dari luhan, sepupu dekatnya.
'Tentu saja, ingin mampir?'
Kring
'On the way, 10 menit lagi aku akan sampai'
.
.
.
"Jadi.. Tumben kau mampir?"
Luhan baru saja sampai di apartemen baekhyun, dan langsung di sambut dengan pertanyaan itu. "Apa ada makanan?" Tanya luhan lalu membuka kulkas cepat "jadi kau kesini hanya untuk merampok eoh? Dasar siluman rusa" ucap baekhyun datar dan duduk di sofa ruang tengah
Bruk
Baekhyun menatap luhan malas yang sedang mencomot chesse cake rakus. "Apa kau tak pernah di kasih makan mama mu?" Tanya baekhyun sinis sambil mengganti-ganti channel tv "Kau adalah bank makanan berjalan ku baek~ syukurilah aku ada disini~ memang kau tak merindukanku eoh?" Ucap luhan narsis dan menaik turunkan alis nya menggoda. "Aku ingin muntah" luhan tertawa keras dibalas tatapan sengit baekhyun Luhan menghentikan tawanya saat ponselnya bergetar, lalu menatap Baekhyun yang sedang memainkan ponsel. Merasa di perhatikan, baekhyun menoleh dan menaikan 1 alisnya. "Ada apa?"
"Aku baru sadar jika kau sedari tadi memainkan ponsel"
"Lalu kenapa?" Bukannya menjawab, Luhan malah memberikan ponselnya kepada baekhyun, membiarkannya agar membaca sesuatu yang dikasih taunya. "Chanyeol sedari tadi tak memberiku kabar.. Tapi kenapa kalian saling membalas pesan.. Dan mengapa ia menceritakan hal yang tak pernah ia ceritakan padaku"
"Aku kira kau yang tak membalas pesannya" Baekhyun kembali merenung dan jalan menuju kamar
Tidak bisakah Chanyeol jujur dan terbuka kepadaku? Hanya kepadaku, bukan ke orang lain. Apa sulit baginya untuk itu? Chanyeol terlihat nyaman menceritakan keluh kesahnya di orang yang jelas-jelas tidak memiliki status dengannya, sedangkan di aku tidak sama sekali. lalu kau anggap aku apa? Manequin yg hanya diam saja ditoko baju? Ia mengatakan jika ia sangat cinta kepadaku. Sangat sayang melebihi tingginya langit dan dalamnya lautan. Tapi mana buktinya? Itu semua hanya keluar di mulut manisnya, bukan perlakuanmu padaku. Aku tidak butuh semua ucapan janji-janji manisnya, aku hanya ingin langsung bukti. Chanyeol kan namja, mengapa tidak bisa berlaku seperti namja yang sesungguhnya?
"Kau marah?" Luhan menyusul Baekhyun kedalam kamar, dan melihat sang empu sedang duduk di atas kasur dengan membaca komik. Hening. Tak ada sahutan. Luhan mendekat dan ikut duduk disebelah baekhyun. Menatap sebentar lalu kembali membaca komiknya. Luhan menghembuskan nafasnya pelan dan berdiri dari duduknya
"Maaf jika aku membuatmu marah, tapi ada alasan mengapa aku begitu, aku pulang dulu" Baekhyun memperhatikan punggung Luhan yang menjauh, tetapi tetap tidak mencegahnya untuk pergi. Sebenarnya ia tak marah kepada Luhan, tapi Chanyeol. Mengapa ia begitu tega 'menduakannya'' seperti ini. Menghembuskan nafasnya berat lalu berbaring dalam diam.
Ting tong
Baekhyun mengeritkan dahinya bingung, duduk lalu kembali berpikir. Siapa lagi yang datang? Bukankah Luhan sudah pulang tadi, atau ada yang ketinggalan, Batin Baekhyun lalu berjalan pelan menuju pintu depan "Mengapa aku langsung didepan pintu, harusnya aku melihat siapa yang datang" Baekhyun merutuki kebodohannya lalu membuka pintu depan. Baekhyun kembali ingin menutup pintu, tetapi ditahan oleh 1 kaki dari sesosok yang bertamu hari ini, Chanyeol, semakin mendorong pintu nya dan berhasil.
"Hey" Baekhyun berjalan meninggalkan chanyeol yang saat ini melepas sepatu kets nya. "Ada apa dengan mu?" Mengambil duduk di sofa dan tak sekalipun melirik chanyeol yang sudah duduk di sebelahnya. "Kau tak ingin menjawab?" Chanyeol tetap berusaha mengajak omong baekhyun, karena ia tahu jika saat ini baekhyun sedang marah kepadanya. "Mau apa kau disini?"
"Kau lebih menyukai coklat atau bunga?" Bukannya menjawab pertanyaan Baekhyun, Chanyeol malah balik bertanya dan dibalas dengan keritan bingung dari kekasihnya. Akhirnya Baekhyun menoleh dan disambut dengan senyum sialan -mempesona- Chanyeol. "Heyy jawablah Baek~ Coklat atau bunga?" Chanyeol masih berusaha keras agar sang kekasih mau berbicara dengannya.
"Aku membencimu"
Baekhyun sedikit tersinggung, bukannya kesal, Chanyeol malah terkekeh senang mendengar jawaban asal dari nya. Apa otak idiotnya itu sudah stadium empat? Mengapa Chanyeol begitu idiot, Batin baekhyun kesal. Chanyeol tersenyum hangat lalu berjongkok di depan Baekhyun memegang kedua tangannya erat. "Untuk soal Coklat atau bunga, aku memang tak mebawanya hari ini" Baekhyun sempat melirik Chanyeol yang menurutnya benar- benar idiot, tetapi gengsinya masih terlalu tinggi untuk mengungkapkannya.
"Serius sekali sih melihatnya"
Sret
Baekhyun menatap Chanyeol dalam diam, sadar atau tidak, senyum sedikit terpatri di bibir mungilnya. Bagaimana tidak, baru saja Chanyeol mengatakan jika tidak membawa Bunga / Coklat, tapi ternyata itu disembunyikan di saku jaketnya lalu di berikan kepada Baekhyun. Senyum Chanyeol semakin lebar saat melihat bibir baekhyun yang sudah melengkung ke atas. Berdeham sebentar lalu melanjutkan penjelasannya.
"Aku memang ingin memancing emosimu, apakah kau marah atau tidak jika ku beginikan dengan memanfaatkan Luhan. Maaf jika ini benar-benar mengganggu pikiranmu tapi kesibukanku tidak untuk meninggalkan mu—
—Kemarin aku memulai rencana ini dan sedikit mengabaikanmu, tapi sungguh Baek aku bersumpah aku tak pernah menduakanmu, bahkan berfikir seperti itupun aku tak sanggup. Aku memang mudah tenggelam dalam duniaku sendiri. Tapi Baekhyun, harus kau ketahui, yang mampu membuatku jatuh tenggelam hinga ke dasar cuma kau seorang. Aku mencintaimu"
Baekhyun mempoutkan bibirnya kesal, terlihat pipinya mulai dijalari dengan warna merah -malu-
"Aku tau mengapa kau masih marah sampai sekarang, tapi tolong bicaralah sesuatu, Aku takut kau mendadak bisu karena kedatanganku yang tiba-tiba"
Kupu-kupu yang awalnya berterbangan di perut baekhyun, tiba-tiba hilang sekejap akibat ucapan idiot chanyeol. Dan beruntung, karena amarah baekhyun sudah meluap entah kemana.
"Kau adalah manusia idiot bermulut manis yang paling kucintai"
"Dan aku beruntung karena dicintai oleh wanita sexy yang juga sangat kucintai"
Momen romantis yang awalnya mengelilingi 2 sejoli ini brubah menjadi aura 'mesum' yang keluar dari otak Chanyeol.
Plak
Baekhyun mempoutkan bibirnya setelah memukul keras kepala chanyeol. "Heyy aku benar kan. Lihat saja penampilanmu saat ini. Kau berniat ingin menggodaku Park Baekhyun?" Baekhyun melihat penampilan yang menurutnya wajar saja saat ini. Sweater pink besar sampai separuh paha -hingga menutupi hotpants- ditambah ekspresi nya yang seperti ingin di iya-iya kan. Membuat jiwa mesum Chanyeol bangun seketika.
"Jika kau ingin tau, aku memang selalu 'tergoda' hanya dengan mendengar suaramu Baek~ apalagi melihatmu yang seperti ini— Kau berhasil membangunkan adik kecilku"
Cup
"Aku bercanda"
Chanyeol mencium sayang kening Baekhyun lalu merangkulnya erat seolah-olah ia takut baekhyun akan hilang jika dilepas nanti.
"Apa yang rasanya manis seperti gula, tapi bukan gula, dan selalu saja datang tiap sebulan sekali?" Baekhyun melepas pelukan Chanyeol dan menatapnya bingung "Memangnya apa Chan?" Chanyeol tersenyum hangat dan mengacak surai baekhyun "Kau benar tak tau?" Baekhyun menggelengkan kepalanya. Sungguh, ia benar-benar tak tau.
"Our Anniversary—
Happy anniversary 18 month Baby Baek~"
TBC OR END?
A/N : Heyloo lala back~~ kurang panjangkah ff ini? sudah bosan dengan ff ini (?) monggo untuk kritik, saran, hinaan, cacian dan makian klik kotak review~ Don't Be siders juseyongg^^
