fansoulmatefiction(dot)net
.
Wataru Takayama
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
.
Drama Romantika Kosmopolit yang gajelas abis. Ceritanya mengambang dan mengalir sepanjang selokan.
Hahahhaaaa... nggak deng...
Happy reading and thanks to visit...
Cheers,
Wataru
::::
:::
::
Chapter 2
::
:::
::::
Gadis berambut pink mentereng itu hanyut lagi dalam lamunannya. Bersama siraman temaram cahaya bulan yang berpendar diantara awan malam, ia mengunyah bola daging di kedai bakso dekat rumahnya. Pelupuk matanya mencengkram erat bulir air mata yang bersiap terjun membanjiri pipinya. Obat, ia sedang menenggak pil pahit untuk luka hatinya, seporsi jumbo bakso urat spesial.
"Neng? Kok makan bakso kayak mau nangis gitu? Kepedesan apa?" tanya Pak'de Ichiraku, empunya kedai bakso.
"Eung'g e'k, ng'e'k bhabhah khouk (Enggak, nggak pa-pa kok)" jawab Sakura sambil terus mengunyah bakso yang memenuhi seisi rongga mulutnya.
"Neng, mbo' yang pelan-pelan toh makannya. Ngunyahnya jangan buru-buru. Makannya dikit-dikit aja nanti keselek. Sambelnya jangan kebanyakan, nanti sakit per-"
"U'udhagh! Eeeee... Thambhah shahatbu laghei! (Udah! Eeeee[sendawa] Tambah satu lagi!" teriak Sakura memotong kalimat Pak'de dengan mulut yang masih penuh bakso.
"Lah? Kan tadi pak'de dah bilang kalo bakso-nya tinggal seporsi lagi. Kamu toh ndok yang ngabisin semuanya."
Sejurus kemudian, setelah mendengar bahwa baksonya sudah habis, tanpa bisa mengetahui apa yang dipikirkan di dalam batok kepalanya, dia segera merengek-rengek, meronta-ronta, mengemis-emis dengan mata nanar nan berkaca-kaca. Dia menarik-narik baju napkin Pakde hingga sobek tercabik-cabik menjadi untaian benang-benang halus tak terbentuk dan BOHONG!
Sakura hanya mendengus kecewa. Apanya yang kurang? 7 mangkuk bakso super sudah ia taklukkan untuk membunuh rasa sakitnya, gundahnya, galaunya, serta rindunya. Oh, na'as sekali hidupmu Sakura?
"Sasuke... Aku mau makan bakso bersamamu lagi..." bisik Sakura diambang tenda kedai bakso yang mulai tutup itu. Bulan semakin merajai malam dan sekarang tepat pukul 00.00.
"Oh. Yo wis ndo', kapan-kapan ajak pacarmu itu kemari, makan bakso Pakde," sahut Pakde tanpa diundang.
"Ya..." balas Sakura semanis Cadburry. Ia lalu pergi berlalu bersama deru angin malam yang dingin menusuk tulang.
.
.
#Bruukk#
Seonggok jasad gadis berambut kekuningan jatuh tergeletak secara tiba-tiba. Sebagian pengunjung bar yang berada di dekatnya kaget bukan kepalang. Seorang lelaki yang berada paling dekat dengan gadis yang jatuh terjerembab itu segera menggotong tubuhnya meninggalkan hingar-bingar extravaganza club.
"Fyu... F-fyu... Fyu... Fyu? FYU!"
"HUSH! NAMAKU SAI! BUKAN FYU!" sembur lelaki berperawakan dingin itu yang masih menggendong Ino Yamanaka keluar club.
"Kamu.. Kamu Fyu sih... Wlee... Kamu Fyu... Kamu Fyu..." sahut Ino ala anak bocah.
"Terserah!" Lelaki yang bernama Sai itu malas menanggapi gadis yang sedang mabuk seperti ini. Bikin naik darah saja!
"Ma-mau ke-ke-kemana sih Fyu? Aku mau dibawa kemana?" tanya Ino masih merem melek.
"Mau gue expor lo ke Malaysia buat TKI! Ya mau gue anterin pulanglah!"
"Oh... Ya... Tapi aku belum siap... Kita kan belum nikah, Fyu..." jawab Ino sambil tersenyum dan tertawa terkekeh-kekeh dan segera membuat Sai bergidik ngeri.
"HEH! Lo pikir gue mau ngapain lo? Kenal juga kaga! Dan stop panggil gue 'Fyu'! Jelek banget namanya! Nama gue Sai! Dan rumah lo dimana?"
"Ih... Fyu posessive banget deh... Aku suka deh sama Fyu yang kayak gini..."
Sai sudah segan membalas perkataan gadis di gendongannya yang ngelantur ini. Sekarang ia merebahkannya di jok belakang Ford Everest-nya dan ia pun singgah di jok kemudi. "Dimana rumah lo?"
"Mana ya..."
Sai mengerti bahwa alamat gadis ini pastinya ada di tas sang gadis, di dalam dompetnya lebih tepat. Dan... Fush... Menghilanglah mereka dari lahan parkir salah satu club di Jakarta.
.
.
Schneider. Sang putri Hyuga menyebut nama itu berkali-kali dalam lamunannya. Sosok Schneider berlalu-lalang mengisi rute pikirannya sejak kemarin. Hanya tokoh fiksi buatannya yang menurutnya begitu merefleksikan pangeran pujaan.
Schneider baru hidup sekitar 32 jam dalam imajinasinya dan dia telah meletakkan Hyuga dimana kakinya berpijak di atas padang bunga dan di bawah teduhnya langit vanilla. Schneider suguhkan kerlip bintang, senyum bianglala, dan pendaran aurora. Dia mengubah kepompong menjadi kupu-kupu yang menari di tubuh Hyuga dan mengepakkan sayap merpati yang tak pernah ada di punggungnya.
Jemarinya merindukan tuts keyboard. Otaknya meledak-ledak hendak menumpahkan lahar imajinasinya tentang Schneider untuk chapter 2 story-nya: Menggiring cinta, membobol gawang bahagia. Baru 32 jam chapter 1 dirilis dan sekarang sudah mau nambah chapter, alangkah produktifnya author satu ini.
Dan sejurus kemudian, monitor LCD-nya sudah menampilkan perangkat lembut nan halus (software) berupa Microsoft Word. Lalu imajinasinya tersunat seketika! "Apa yang harus kutulis!"
Hilang.
Dan sekarang, "Aku butuh sesuatu untuk menyembuhkan kecelakaan beruntun di dalam otakku, imajinasiku yang saling bertubrukan!" Segera ia larikan kursor menuju icon rubah api dan membuka tab baru untuk tenggelam dalam situs fansoulmatefiction(dot)net.
Apa? Apa? Kata kunci apa? Fairytale! Ya!
Search-story-fairytale-go
Result:
*My Fairytale Prince by NN - complete - 56 reviews.
Romance, T, yaoi.
*Gadis Berkerudung tersesat dalam Fairytale by Hamba Allah - complete - 45 reviews.
Romance & Religion, T, normal.
*My Home is Fairytale Castle by Unknown - 84 reviews.
Romance & Poetry, T, normal.
*Cintaku Selebay Istana Fairytale by Ino Yamanaka - 11 reviews.
Romance & Humour, T, normal.
Semoga humor bisa menyembuhkan. Lalu dia mengklik link story oleh Ino Yamanaka itu.
"Huahahahaahahahahaaa..." seketika tawa Hyuga meledak memecah ruang kubik tempat ia bekerja. Baru kali ini gadis "seanggun" Hyuga mampu tertawa hingga terjungkal-jungkal, terguling-guling, dan ouch, hingga menabrak ember pel cleaning service bernama Rock Lee sampai membasahi pakaiannya.
"Hinata-senpai? Kau kenapa? Hinata-senpai? Kesurupan? TOOLLOOONGG! HINATA-SENPAI KESAMBET SETAN! TOOLL-"
"SHHUUTTT! Saya ga kesurupan Lee-san!" gubris Hinata seraya membungkam mulut Rocky yang menganga lebar. "Yaudah, saya mau kerja lagi."
"Tapi baju Hinata-senpai kan basah kena air pellan."
"Tada!" sahut Hinata dengan gaya pesulap sambil menunjukan sekain pakaian bersih dari dalam tasnya. "Yaudah, kalo gitu saya ganti baju dulu."
"Ya. Nanti Hinata-senpai gatel-gatel lagi."
Beberapa menit berikutnya ia kembali tenggelam ke situs fsfn* yang masih terbuka di layar komputernya. Ia kemudian Log in, membubuhi review untuk story bagus yang telah membuatnya tertawa terpingkal-pingkal itu, dan mengecek traffic story perdananya di fsfn yang berkarakter Schneider itu.
*fsfn: fansoulmatefiction(dot)net
Ada 8 review, padahal sebelumnya hanya 7. Seorang reviewer terakhir itu bernama Naruto Uzumaki dan Hinata tidak mengenalnya. Begini isi review-nya.
Ehm-ehm:
From: Naruto Uzumaki -23 stories
Hi Hinata-chan, salam kenal :-D
Pleased to read your fluffy story...
Itu memang impian kamukah menemukan pasangan seorang football trainer? Atau hanya karya sastra fiksi biasa? Kayaknya itu memang impian pribadi kamu ya?
Ga nyangka bisa ketemu seorang yang punya impian seperti kamu di fsfn...
Nice to know your dream...
Never stop to search him and develop your writting talent...
I'm waiting for next chapter...
Lets update soon...
Bye...
Wow! Punya 23 story? Kayaknya dia lama berkutat di fsfn deh. Dan komennya juga menyegarkan. Ada sesuatu yang unik dari ucapannya, Ga nyangka bisa ketemu seorang yang punya impian seperti kamu di fsfn... , apa impian aku sebegitu langkanya?
Yasudah, segera reply his review as my gratefully respond.
From: Hyuga Hinata
To: Naruto Uzumaki
Hi*sumringah*
Salam kenal juga Naruto-san...
Makasih sudah sudi me-review story pertama saya. Ya, itu memang impian saya...
Kenapa? What's wrong?
Makasih support-nya...
Nice to be ur friend...
Send as private message
.
Berpindah ke sebrang gedung tempat Hyuga bekerja. Gedung dengan gabungan warna hitam mars, french ultramarine, phytalo blue, dan aksen turquose dimana Haruno Sakura bekerja di dalamnya.
Sakura menatap keluar jendela guna melepas penatnya yang masih tersisa. Ia menatap cakrawala Jakarta dalam barisan gedung-gedung pencakar langit yang berlomba beradu angkuh, berharap ada Sasuke terselip diantaranya. Dan hasilnya nihil. Kenari seekor pun seolah enggan hinggap di bibir pegedungan(?) Jakarta, apalagi Sasuke.
Ada pekerjaan galian di sepanjang jalan depan gedung Sakura bekerja. Alat-alat berat dan tanah amber berjejal memakan badan jalan sehingga memperkeruh kemacetan Jakarta. Ada papan peringatan berwarna kuning tercetak dengan huruf terkancing kapital: HATI-HATI! ADA PERBAIKAN ALIRAN LISTRIK BAWAH TANAH! AWAS, TEGANGAN TINGGI LEBIH DARI 15KV!
Sakura memperhatikan satu-persatu pekerja tangguh itu. Ada peluh yang mengalir deras, ada otot-otot yang berkontraksi kuat, dan sesekali decak tawa kebersamaan diantara mereka. Namun, ada satu titik yang menyedot matanya begitu kuat. Sebuah pusat gravitasi yang menarik pandangannya untuk mengamati tiap nanometer wajah seorang yang begitu kecil dari atas gedung berlantai 25. Wajah yang sepertinya ia kenali sedang berdiri di sana terbungkus setelan kemeja dan celana hitam mars. Seorang mandor? Sepertinya.
"Itu? Sasuke-kah?" bisik Sakura seraya mengucek kedua matanya. Hatinya seakan tertohok tapi ia tidak membiarkan dirinya hanyut kepada seseorang yang belum pasti Sasuke itu.
"Hai Sakura. Sudah jam setengah 5 loh. Kok belum pulang?" tanya Temari, teman sekantor Sakura, yang mengagetkan lamunan Sakura.
"Hai! Thanks! Hampir aja lupa!" sahut Sakura.
"Emang lagi bengong ngeliat apa sih?" tanya Temari penasaran seraya menghampiri Sakura dan melihat ke arah tatapan Sakura.
"Nggak. Tadi kayak ngeliat seseorang yang udah lama ga ketemu."
"Maksud lo, kuli?" sergah Temari setelah mengetahui bahwa sedari tadi Sakura memandang proyek galian listrik.
"Bu-bukan! Tadi kayak mandornya gitu. Yah, tapi sekarang udah ilang. Tuh masuk ke sedan itu..."
"Oh... Yuk balik..." jawab Temari seraya menggandeng lengan sahabatnya itu.
"Gue ada janji ama temen baru gue mau makan sore bareng. Tuh, dia di sebrang, di Konoha."
"Ciyyeee... Mau nge-date ya? Akhirnya punya pacar juga," sahut Temari riang sambil usil menyikut lengan Sakura hingga luka-luka(BOHONG).
"Woo! Orang temen gue cewek! Namanya Hinata!"
"Cewek, eh? Maap..."
"Mau ikut?"
"Enggak deh. Kankuro dah jemput. Maaf ya Sakura..."
"Hai! Ati-ati ya... Dah..."
"Dah..."
Sakura pun keluar kantor bersama Temari lalu makan sore bersama Hinata sebagaimana janji mereka kemarin di yahoo! Messengger.
.
"Bude Sizune, semalem yang nganterin aku pulang ke kosan siapa sih?" tanya Ino di teras kosnya sepulang bekerja petang itu.
"Mana bude tau. Orangnya ganteng aja. Putih, tinggi, rambutnya model turun gitu, agak dingin, sama matanya...wuuiiihhh...item-tem-tem! Cool banget deh!" jawab Bude Sizune sambil meremas kucing piaraannya saat mendeskripsikan mata hitam Sai.
"Dia sih ninggalin kartu nama, bude. Apa aku telpon aja, ya?"
"Ya ditelpon lah... Bilang makasih. Lagian pake acara ke bar segala sih kamu."
"Ih! Ga enak bude, orang udah diundang temen. Eh! Sampe sana temen Ino malah pulang duluan."
"Yaudah sana telpon si aden bagusmu itu buat bilang makasih. Oyah, nanti bude minta nomernya, ya? Namanya siapa sih?"
"Iya. Namanya Sai, bude. Yaudah, Ino masuk dulu ya bude," sahut Ino seraya masuk ke dalam kamar kos-nya dan kembali menimbang-nimbang apa yang sebaiknya ia lakukan untuk orang bernama Sai itu.
Dan lebih baik ia tenggelam saja ke fsfn, untuk sekadar melihat traffic story atau membaca karya cinta orang lain.
Ia pun tersenyum bahagia kala melihat satu review baru di story Cintaku Selebay Istana fairytale-nya. Review manis dari seseorang bernama Hyuga Hinata.
.
.
from: 0838xxx
Aku pakai gaun isa safir. Rambutku biru tua dan panjang. Oyah, aku duduk di sisi kanan caffee, dekat jendela.
Hati-hati di jalan ya...
Sending...
Sent
from: 0857xxx
Okeh, aku lagi markir mobil dulu. Maaf membuatmu menunggu...
Sending...
Sent
"Halo, Hinata-chan..." sapa Sakura hangat seraya menjabat dan mengecup pipi kanan dan kiri (RIBET. Bisa disingkat: cipika-cipiki) Hinata. "Wah... Kamu cantik sekali Hinata..."
"Hi juga Sakura-san. Sakura-san juga cantik," jawab Hinata membalas pujian Sakura.
"Ih! Sumpah deh, kamu kenapa pake gaun isa segala? Katanya kamu bawa motor kalo kerja? Gimana coba pakaian kayak gini terus naik motor?"
"Naik motor kalo bangun kesiangan aja, Sakura-san. Kalo ga kesiangan naik mobil pribadi. Tapi... Lebih sering kesiangannya sih. Makanya lebih sering pakai pakaian sekenannya. Jarang pakai serapih ini juga..." jelas Hinata panjang lebar. Jarang sekali Hinata berbicara panjang seperti ini. "Sakura-san sendiri juga mengenakan blazer. Rapi sekali..."
"Oh ah tidak. Ini biasa aja kok," jawab Sakura kikuk. Ya, pakaiannya: blazer maroon, tank top pink, dan rok span setengah paha.
"Pesan makanan yuk," ajak Hinata hendak menyudahi pembicaraan yang /errr.../ agak nonsense ini.
"Iya, ayuk. Laper..."
Beberapa menit berikutnya makanan mereka pun tersaji rapi di atas meja makan. Mereka pun menyantap makanannya masing-masing. Sakura dengan steak sirloinnya dan Hinata dengan fetuchini-nya. Sepanjang makan pun mereka tak henti-hentinya bercakap-cakap tentang banyak hal. Mulai dari kehidupan pribadi mereka, latar belakang kenapa bisa menjadi author di fsfn, sampai akhirnya menjurus kepada tema pujaan hati mereka masing-masing.
"Aku masih menunggu, Hinata..." jawab Sakura seraya menggelincirkan pandangannya ke steaknya yang tinggal beberapa potong lagi. Sepasang tangannya pun mengacak tanpa sadar steaknya itu. "Entah kapan dia akan datang... Yang jelas, aku tetap memegang janji kita..."
"Janji?"
"Iya, Sasuke pernah berjanji kepadaku."
"Maaf Sakura-san, boleh aku tahu?"
"Tentu saja, Hinata-chan. Kau kan sahabatku. Jadi, Sasuke berjanji akan kembali ke hidupku setelah ia sukses. Sasuke ingin menjadi seorang ahli elektro. Itu cita-citanya sejak ia kecil. Setelah ia sukses menjadi ahli elektro, barulah ia akan menemuiku lagi..."
"Tapi... Sakura-san tadi bilang bahwa kalian berdua sudah kehilangan komunikasi. Lalu, bagaimana kalian akan bertemu?"
"Aku juga tak tahu Hinata... Biarlah ini menjadi rahasia Tuhan bagaimana Dia akan mempertemukan kami lagi. Yang jelas, aku tetap percaya, Sasuke akan menepati janjinya."
"Dan selama Sasuke belum menepati janjinya, kau akan tetap sendiri, Sakura-san?"
"Ya... Meski lama aku menanti, tapi kepercayaanku padanya takkan pernah luntur..."
"Aku mengerti hatimu, Sakura. Pasti Sasuke adalah yang pertama, terakhir, dan satu-satunya di hatimu..."
"Ya Hinata... Hanya dia yang aku cintai selama hidupku..."
"Tapi Sakura-san. Bukannya aku bermaksud lancang, tapi aku hanya ingin memberikan saran. Bahwa kau tidak harus seperti ini, Sakura. Kau harus sadar dengan kemungkinan terburuk, yaitu...jika Sasuke mungkin tak akan pernah datang ke kehidupanmu lagi..." Hinata mulai menggenggam jemari Sakura dan menatap sepasang irisnya, ia mencoba menyelami hati Sakura.
"Apa kau akan terus sendiri sepanjang hidupmu sampai kau meninggal, Sakura?" lanjut Hinata dengan intonasi yang amat penuh kehati-hatian.
Sakura pun tertohok. Ia hanya bisa membisu dalam pertanyaan Hinata. Ia diam seribu bahasa.
Sudah berapa tahun ia jalani hidupnya sendiri tanpa seorang kekasih. Dan berbekal janji tak pasti dari Sasuke, hidupnya selama ini pun seperti berjalan di air laut sepanjang pesisir pantai. Ia berjalan terus, berharap laut tak kan melandai, tapi kenyataannya laut terus melandai, membuat air laut semakin tinggi naik ke tubuhnya. Ia hanya bisa berharap agar dataran yang ia pijak menjadi meninggi dan itu mustahil. Air laut terus naik ke tubuhnya hingga suatu saat ia akan tenggelam sepenuhnya. Dan itulah yang tak pernah ia tahu. Sekalinya ia pun tahu, ia terlalu percaya bahwa dirinya bisa berenang, padahal ia belum pernah berenang.
Ia terlalu menanggalkan asanya di puncak tertinggi perasaan manusia yang disebut cinta. Ia terlalu yakin bahwa asanya aman menggantung di sana padahal kapan saja topan bisa berhembus menarik dan menghilangkan (bahkan mencampakkan) asanya. Cinta telah melumatkan semua kerikil tajam dalam penantiannya selama ini. Tapi tak bisa menghancurkan jarum-jarum kecil, jarum-jarum yang dengan perlahan menusuk hatinya, semakin dalam, hingga akhirnya ia tercengang dan mati dalam keterkejutan.
Kembali ia memutar waktu. Ia kenang lagi sosok Sasuke dalam penggalan demi penggalan kisah cinta masa lalunya. Masih lekat bayang sosok yang dingin itu. Semakin ia dingin, semakin dirinya mencintai Sasuke. Apa dia menganggap Sasuke semangkuk ice cream? Ia teramat menggilainya padahal semua orang mengira Sasuke tidak membalas cinta Sakura yang besar itu. Sakura mati-matian berjuang, mencerna tiap cinta yang Sasuke berikan, ia sadar Sasuke mencintainya juga, tapi entah mengapa semua orang tidak mengerti bahasa cinta Sasuke pada dirinya. Inilah gaya cintanya. Yang dingin, jauh dari notabene sebuah cinta yang penuh kehangatan.
Tapi, mungkin saja dia yang teramat bodoh? Dia yang teramat tak sadar bahwa "cinta" dingin Sasuke itu adalah bukan balasan dari cintanya? Ia yang selama ini terlalu percaya diri bahwa Sasuke memiliki perasaan yang sama dengannya. Sasuke yang selama ini hanya berpura-pura mencintainya sehingga hanya hawa dingin yang berhembus diantara gelora cintanya yang hangat. Semua bisa tejadi di balik matanya yang buta, yang tertutup lapisan-lapisan tebal perasaan cintanya.
Dan kembali ia ingat janji manis Sasuke saat Sasuke meninggalkannya. Janji bahwah ia akan menemuinya lagi. Janji bahwa akan membawanya serius ke dalam yang namanya hangatnya cinta. Sasuke pergi ke pusat kota meninggalkannya sendiri bersama cintanya yang meronta-ronta. Dia yang tenggelam dalan lautan cinta. Dia hampir mati karena air hampir mengisi penuh paru-parunya. Dia yang sendiri di desa. Dia yang polos. Dia yang akhirnya hancur. Hingga akhirnya ia meninggalkan desanya juga, menuju Jakarta, menjadi dirinya yang sekarang, tanpa Sasuke, oh bukan, dengan (janji) Sasuke di hatinya.
Ia pun mencoba menerka-nerka kebisuan yang selama ini tak terdengar dari janji itu. Kebisuan sebuah janji yang telah menutup mata dan telinganya selama bertahun-tahun. Apa janji itu hanya klise. Sebuah makna bahwa Sasuke tak pernah mencintainya. Sebuah pernyataan untuk menghindar, untuk lari, untuk lepas dari jeratan cinta Sakura secara halus. Maka dari itu, Sasuke masih jantan. Masih menjaga perasaan cinta Sakura. Meski akhirnya ia dengan sangat terpaksa harus tahu bahwa janji itu sejujurnya hanya untaian yang manis dan pedih dalam sekali ucap.
Ia pernah sakit kala Sasuke meninggalkannya di desa. Dan kenapa ia lupa bahwa ia pernah sakit karena hal itu? Ia pernah lari dari desanya karena kepedihannya. Dan sekarang ia harus kembali sakit lagi. Kembali berkubang dalam getir pilu yang sama. Dalam angan palsu nan tabu dari Sasukenya yang dulu. Sasukenya yang mungkin tak pernah datang lagi.
.
.
Owari
.
.
Gomenasai karena lama update.
Ucapan terimakasih buat semua yang sudah mereview chapter 1. Dan juga Suu Foxie yang ngerequest biar update dari reviewnya di Karena Jika Tidak~. Ada juga Agusthya, Airi Zela, el Cierto, Sabakulatifah, Cherryblossom Sasuke, dan Devil's of Kunoichi, makasih ya kalian semua untuk review chapter 1.
Buat Fathiyah, Shiqie Fujisawa, dan Kanarienvogel, maaf ya, cerminan dari kalian OOC banget saya buatnya. (OOC dari om Masashi Kishimoto dan dari kehidupan nyata kalian /double OOC fanfiction award/ JEGEEEERRR).
Tapi kalian seneng kan? *seringai devil*
Second apology untuk keanehan yang Anda temukan di chapter 1. Sebenernya ada 2 kata yang menghilang karena ffn tidak bisa menampilkannya, yaitu:
1. fansoulmatefiction(dot)net. ; dan
2. haruno(underscore)sakura(at)yahoo(dot)com.
Kesimpulannya, FFN ga bisa menampilkan site adress dan tetek bengek macam itu.
Chapter ini saya nisbahkan untuk Shiqie Fujisawa karena banyaknya porsi "konflik batin" di akhir-akhir (ini cerminan hatimu yang galau kan, nak?). Tapi selebihnya ini untuk kalian bertiga wahai sahabatku (yang resek-resek banget!).
Akhir kata, terimakasih karena sudah membacanya ya minna-san. Sudikah kiranya mereview?
Thanks before and visit my other stories.
