.

Inspired by The Judge 2014

Jiwa yang Terpisah

..


Chapter II

.


Kalau aku berpikir kadang-kadang, serasa makna kata Introvert, Ekstrovert itu tiada arti. Kedua kata itu hanyalah buat-buatan manusia belaka.

Orang, manusia, siapapun dapat membuat dirinya menjadi apa yang ia mau.

Mengubah hidupnya, dirinya seperti apa yang ia suka.

Tidak bergantung pada satu sifat dan watak, karena semua hal bisa kita pilih.

Tapi, sekali lagi.

Itu juga kalau ada kesempatan untuk memilih


Menatap luas Negeri Angin sejauh mata memandang dari atas balkon kastil milik keluarga Kazekage, membuat seorang pria berumur dua puluh Sembilan tahun tersenyum kecil. Terlintas bayangan mengenai tempat yang juga disebut Desa Daun Sembunyi.

Dulu tidak semoderen ini. Tidak ada pohon, tidak ada mall, tidak ada teater, supermarket, stasiun, bandara, tidak ada. Tanah ini bagai gersang dengan hanya terdapat pasir dan angin ribut hampir tiap saat.

Era globalisasi berdampak sampai ke Negeri Angin. Banyak anak-anak muda yang menyumbang ide dan inovasi serta dukungan dari banyak pihak untuk kemajuan Negeri ini, mengubah citra dari 'Tanah Kering' menjadi 'Surga Wisatawan' karena ada di mana tempat padang pasir dan salju bersamaan di sana.

Menyudahi nostalgia, Shikadai, pria itu menoleh saat namanya dipanggil oleh seseorang. "Hai" sapanya, memerhatikan langkah pria berambut merah yang sekarang berdiri di sebelahnya, ikut menempatkan sikunya di pagar batas balkon.

Dengan setelan yang menunjukan identitasnya sebagai seorang Presiden yang disebut Kazekage, ia mulai bercakap-cakap dengan Shikadai, mengikuti arah pandang kemenakannya, melihat jauh ke depan. Menatap banyak rumah-rumah penduduk di bawah.

"Kuperhatikan kau tidak merokok lagi"

Shikadai meresponi ucapan Gaara, pamannya, dengan dehaman pelan namun jelas terdengar.

"Karena gadis itu melarang?" Shikadai mengerutkan alisnya, matanya melirik sebentar lalu membalas ke lain hal setelah terdiam agak lama, "Shinki akan pulang besok, bukan? Atau lusa –kalau tidak salah"

"Dia sudah tiba pagi tadi" Gaara membenarkan.

"Oh" setelah itu mereka berdiam diri lagi. Mencari bahan obrolan atau topik pembicaraan, mungkin.

Sekian menit terlewati dengan keheningan kecuali hembusan angin sedari tadi terus bertiup, akhirnya Shikadai kembali berbicara, "Dari mana dia? Negara Air?" Seperti ada yang salah dalam tebakannya, ia berpikir sebentar. "Maaf, Amerika maksudku"

"Dia dari Negeri Tanah selama seminggu" Gaara kembali membenarkan.

Mengangguk-anggukan kepalanya, agar rasa bersalahnya tersamar sedikit. "Dia mengundang makan malam, besok? Atau aku salah lagi?

"Malam ini"

"Ok, aku jadi paham kenapa kau lebih memilih Shinki daripada aku, karena aku bodoh" ia terkekeh .

Gaara menatap aneh keponakannya sambil memberikan tinjuan kecil di pundak Shikadai. "Yang benar saja" ucapnya kehabisan kata-kata. Mereka tertawa bersamaan sampai akhirnya terhenti akan panggilan masuk yang harus diterima Shikadai. "Aku permisi sebentar" katanya meminta ijin untuk sekedar mengangkat telepon. Ia membalikan tubuhnya sedikit.

"Halo, dengan Shikadai"

Lumayan lama ia terdiam sepertinya mendengarkan kata demi kata dari si penelpon. Gaara melihat raut wajah Shikadai, kadang alisnya bertaut atau ia mengangguk kecil.

"Baik, aku akan ke sana segera" jawabnya seraya mengakhiri panggilan itu.

Ia mengetik sesuatu, tak lama terdengar suara dari handphonenya seperti rekaman ulang percakapan mereka. Dia mengarahkan telepon ke telinga. Mendengarkan untuk mengingat alamat yang harus ia tuju.

Kembali menatap Gaara usai mendengarkan rekaman tadi, Gaara tersenyum singkat. "Kau mendengarkan nasihatku untuk merekam ya" katanya, ia mengacak pelan rambut Shikadai yang terikat.

Shikadai berusaha menghindar namun apa daya rambutnya sudah terlanjur berantakan. "Ya, aku pelupa" balasnya. Ia merapikan sebentar rambutnya. "Aku harus pergi, ada sesuatu yang mendesak"

Gaara mengangguk, ia membiarkan Shikadai membalikan tubuhnya dan berjalan menjauh.

Tetapi tak lama Gaara memanggilnya, membuat Shikadai menghentikan langkahnya untuk menoleh.

"Kau sudah bertemu Ayahmu?"

Pria yang ditanya demikian, berdiam diri sebentar. Kemudian menjawab, "Kau Ayahku" lalu benar-benar pergi.


Hei, bagaimana kalau tidak ada kesempatan bahkan tiada pilihan?

Apa itu artinya kita hidup sepanjang waktu merenung dan membiarkan diri terbawa arus tiap detiknya?


Dengan gelisah, seorang wanita berambut pirang sepunggung, menghentakan kakinya berulang-ulang menunggu kedatangan seseorang yang sejam belakangan berkata bahwa ia akan segera sampai.

"Sera?" wanita yang namanya dipanggil itu menoleh dan menjawab dengan tergagap. Sebentar lagi dia sampai balas Sera. Ia berjalan menjauh dari restoran, biar dia tenang berdiri di situ.

Sekitar sepuluh menit, mobil hitam yang sangat Sera kenal terparkir di dekatnya.

Kedatangan pria itu sepertinya tidak memadamkan amarah Sera karena sekarang matanya masih memicing sedangkan tangan dilipat erat di depan dadanya.

"Hai" sapa Shikadai, sementara Sera masih terdiam. Hingga ia angkat bicara setelah Shikadai menyengkram tubuh gadis itu dengan kencang ke dalam rangkulannya.

"Hari ini kau tak menengok Ibu dan kau malah menemui klienmu!" serunya. Ia memberontak agar dilepaskan. "Itu sama-sekali bukan kebiasaanmu meninggalkan Ibu demi pekerjaan!"

"Gaara memberitahumu, eh?"

"Ini sudah jam sepuluh malam dan bagaimana bisa kau tidak datang tepat waktu!?"

Akhirnya, Shikadai melepas rangkulannya. "Teriak terus, berisik sekali" pria itu melesakan tangannya ke dalam saku celana. Meninggalkan Sera di belakang menuju restoran.

.

.

Melihat kedatangan Shikadai ke meja makan membuat pria berambut cokelat gelap berdiri untuk menyambutnya. Ia memeluk Shikadai, "Apa kabar, bro" Shikadai pula membalas pelukannya dan menepuk-nepuk punggungnya, "Baik, senang bertemu denganmu, bro"

Shinki –pria itu, mempersilakan Shikadai untuk menyantap hidangan yang tersedia.

"Tidak usah buru-buru" ujar Sera sambil mendudukan dirinya di antara Shinki dan Gaara.

Shikadai mengangguk, "Kankuro di mana?" tanyanya usai melihat sekeliling.

"Pulang duluan, kelelahan usai konferensi"

Lagi, ia mengangguk mendengar jawaban dari Gaara. Pria itu menyesap sake lalu kembali bertanya. "Bagaimana cuaca di Greenland, bro?" yang ditanya demikian menautkan alisnya, "Kau meledekku, Shikadai" katanya. Ia menunjuk Shikadai dengan sumpit usai melahap Gyoza. "Aku hanya ke Iwagakure bukan Greenland"

Yang berada di sana tertawa, kecuali Sera yang sekarang menepuk jidatnya.

"Well, cuacanya baik, tapi ada yang lebih baik lagi" Shikadai mendekatkan telinganya mendengarkan Shinki mulai bercerita seraya ia terus memotong daging panggang di hadapannya.

Sera sudah menduga kemana arah pembicaraan dua pria sebaya, sepupu, yang sedari kecil bersama dan yang sudah lama tidak bertemu. Pastilah ini yang akan dibicarakannya:

"Kurotsuchi ckckckck–" Shinki menggeleng-gelengkan kepalanya, maka Sera kembali menepuk dahinya.

"Pasti lebih besar daripada tiga tahun kemarin"

"–aku berani bersumpah, Shikadai"

"Hentikan omong kosong kalian!"

Sedang Gaara sebagai orang tua di sana hanya tertawa kecil berpura-pura dia tidak mendengar semua ini.

Lagipula sudah dewasa, batinnya.'


Kembali ke kediaman keluarga Kazekage, Sera berisikeras menemani Shikadai untuk menjenguk Ibunya.

Apa boleh buat, ia tahu kalau melarang Sera adalah tindakan yang sia-sia.

"Aku tadi menemui seorang yang meminta hak asuh anak kandungnya dari keluarga Istrinya" lama mereka hanya berjalan menyusuri koridor, sampai Shikadai memulai perbincangan yang Sera yakin ini akan singkat.

Gadis itu mengangguk, "Lalu? Kau membantunya, 'kan?"

"Ya, tapi hasil keputusan sidang akan diadakan tiga bulan mendatang"

"Jadi bagaimana nasib anak itu?"

Shikadai mengendikan bahunya. Ia terdiam sejenak ketika matanya menangkap seorang pria sedang berbicara dengan dokter di depan pintu ruangan Temari dirawat secara tiba-tiba.

Pria itu menghentikan langkahnya sebentar dan berkata, "Segera masuk Sera"

"Tidak, tidak, tidak" sangat jelas terdengar getaran nada takut terselip di tiap katanya. Sera menggeleng cepat, debaran pada jantungnya membuyarkan konsentrasi apalagi saat Shikadai memicing padanya.

Matanya bergetar melihat tatapan tajam dari Shikadai. Air mata kembali menetes untuknya, ia tidak bisa lagi menahan lengan Shikadai lebih lama. Maka ia berjalan menjauhi Shikadai sambil memeluk tubuhnya sendiri, melewati Shikamaru dan masuk ke dalam ruangan.

Ia memeluk Temari dengan eratnya sementara wanita itu tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Hingga ia paham, akhirnya, setelah terdengar suara hantaman kencang dari balik pintu.

Teriakan dan bentakan kasar, didengar oleh Temari dan Sera terus saja menangis memeluk Temari.

.

Shikadai menarik kerah pria yang kini hanya terdiam menerima pukulan keras di wajahnya. "Dengar–" Shikadai menggantung kalimatnya untuk melepas cengkraman tangannya dari kerah Shikamaru. Ia mengatur napasnya, memegangi kepalanya tak kuasa menahan pening yang menusuk. "–ini tidak seberapa dibanding sakit yang kurasakan selama ini"

Terhuyung Shikamaru berdiri berusaha menggapai Shikadai, namun tak bisa. Ia mendudukan dirinya di atas kursi sambil terus menatap Shikadai yang masih terbakar emosinya.

"Kau tidak akan mengampuniku, aku tahu, tapi jangan di sini"

Pria itu mendecih mendengar ucapan Shikamaru, ia tertawa sinis.

"Kumohon"

"Kenapa kau masih berani ke sini" Shikadai melontarkan sebuah kalimat tanya, namun karena amarah yang tertahan, ia memelankan suara dan memalingkan wajahnya.

Shikamaru mengatur napasnya sambil menekuk punggungnya. Dia mencoba mengadahkan kepala dan menatap Shikadai. "Aku meminta maaf"

"Bullshit!" teriak Shikadai tertahan. Ia membalikan tubuhnya, tidak sanggup melihat Shikamaru atau dia akan menghajarnya kembali.

"Aku meminta maaf, Shikadai" pria itu tertawa sarkas setelahnya kembali mendecih. Dia membalikan lagi tubuhnya, melihat Shikamaru dengan tatapan memicing, "You fuck my young Mother, memuaskan nafsumu lalu menyampakannya!" ucapnya penuh penekanan. "Dan lihat apa yang terjadi padanya sekarang!" wajah dan mata Shikadai memerah, keringat mengucur dari dahinya.

Dia melonggarkan kancing bajunya berusaha agar napasnya tidak tercekat sebelum berkata dengan sinis, "Kau meninggalkannya, sendirian bahkan setelah kau tahu dia sakit keras

Memang bajingan" Harusnya satu kepal tinju mendarat lagi di wajah Shikamaru, namun tertahan oleh pelukan seorang wanita yang hampir saja terkena pukulan itu jika Shikamaru tidak segera menahannya.

Wanita itu menangis di pelukan Shikadai dan mendorong tubuh Shikadai menjauh dari Shikamaru. Sera, berulang-ulang kali berteriak dalam tangis "Hentikan" ujarnya. Dia memelukmya dengan erat lalu beberapa detik kemudian ia melepas pelukannya dan menatap tajam Shikadai. "Kau tak seharusnya memukul orang tua, Shikadai!" Sera menghentikan tangisannya, "Jangan rusak moralmu hanya karena kau marah seperti pecundang!"

Kemudian dia pergi dari situ meninggalkan Shikadai dan Shikamaru sambil terus menghapus air matanya.

Shikadai hanya diam di situ menyadari bahwa tindakannya sudah terlalu jauh. Ia mengikuti langkah Sera, untuk pergi menjauh dari Shikamaru.

Sedang pria tengah baya itu kini memasuki pintu, melihat wanita yang sekarang terduduk di tepi ranjang. Ia tersenyum melihat Shikamaru, padahal ia tahu bahwa Shikamaru menahan mati-matian air matanya.

Lama Shikamaru hanya bergeming di situ setelah ia menutup pintu dengan sangat pelan.

Dia mengangguk pelan, menahan air matanya. Mendengar ucapan Temari demikian, "Ini bukan salahmu" lalu ia mendekati Temari dan menangis di kakinya. Kepalanya ia letakan di atas paha wanita itu sedang Temari mengelus rambutnya.

"Dia sangat mirip denganmu"

"Maafkan aku Temari, maafkan aku Temari, maafkan aku Temari, maafkan aku Tem–"

"Sudah, kau tidak melakukan kesalahan apapun"

...

Setelah Sera tahu bahwa Shikadai ada di sebelahnya, ia langsung memeluk kakinya. Shikadai menduduki dirinya sejajar dengan Sera segera memeluk tubuhnya, membiarkan ia menangis dalam dekapannya. "Maaf" ucap Shikadai pelan.

Di sela isakannya, wanita itu menjawab "Jangan lakukan hal bodoh itu lagi"


Bunyi alarm berhasil mengganggu tidurnya dengan sekali deringan, ia menyipitkan matanya. Mematikan alarm yang menunjukan pukul enam pagi.

Shikadai bangkit dari tidurnya segera mandi dan berpakaian lalu menuju suatu tempat untuk menemui Temari.

.

Seketika senyuman kecil mengembang di antara pipi Shikadai ketika melihat Temari kini terlelap tenang dengan keadaan semakin baik. Ia menatap sekeliling, tiada seorangpun di sana.

"Shikadai" pria itu tersentak sedikit karena Ibunya dengan tiba-tiba menyadari kedatangan Shikadai.

Ia mendekati Temari, "Aku mengganggu?"

"Justru aku selalu menunggumu" Shikadai tersenyum mendengar jawab sang Ibu. Rambutnya disisir pelan oleh jemari Shikadai, memerhatikan wajah Temari. "Kau cantik seperti biasanya"

"Senang mendengarnya lagi setelah seharian kemarin kau tidak kemari"

"Aku tidak akan lagi beranjak kemana-mana"

Temari membalas tatap anaknya dengan senyuman. Ia membelai tulang pipi yang tegas itu. Tersirat tanya dari mata Temari, akankah Shikadai yakin akan kata-katanya barusan? "Kalau begitu," ia menggantung kata-katanya untuk bangkit mendudukan dirinya. Shikadai dengan cepat membantu Temari, mengangkat punggungnya. "Aku harap kau bersedia kita ambil foto layaknya keluarga besar"

Alis Shikadai bertaut. Ia mengingat akan empat pekan lalu mereka melakukan foto keluarga, membuat pigura besar dan lukisan.

Bahkan kala itu Temari bersumpah serapah tak ingin lagi melakukannya karena lelah berdiri sepanjang hari.

Apakah dia serius –batin Shikadai, namun ia tidak memikirkan hal-hal negatif, maka ia mengangguk setuju. "Aku akan memanggil juru foto"

Buru-buru Temari menyanggah, "Aku sudah meminta Sera mengurusnya, mereka juga sudah bersiap

Hanya kau saja yang baru kuberi tahu, berpakaianlah, aku sudah menyiapkannya"


Kalau saja tadi dia tidak mengangguk akan permintaan Temari, ia sudah beranjak dari studio setengah jam yang lalu.

Apakah Shikadai terlalu tidak peduli dengan keberadaan Shikamaru atau dia sama-sekali lupa? Entahlah, yang pasti Sera selalu saja menggenggam tangannya, berjaga-jaga kalau Shikadai akan kabur.

Kau tahu, Sera terang-terangan berkata demikian.

Setelah lebih dua puluh menit menunggu kamera, pencahayaan dan lain-lain diatur, keluarga besar Kazekage mulai mengambil posisi untuk dipotret.

Temari duduk di tengah dengan gaun merah, berdiri di belakangnya Sera, Gaara, Kankuro dan Shinki. Di sebelahnya kiri Shikadai, di kanan Shikamaru.

"Kau tidak keberatan, 'kan?" sebagai Ibu, nampak ketara sekali anaknya menyembunyikan sesuatu. Sama seperti Shikadai yang sudah tidak nyaman menghentakan kakinya beberapa kali dan menggertakan giginya, berusaha orang tidak melihat kegelisahannya.

Mendengar bisikan Temari, Shikadai menghela napas. Menyesal, ternyata Temari memerhatikan segitu detail.

Ia mengangguk menanggapi pertanyaan Ibunya.

Berapa pose diambil, total ada tiga sesi foto dengan baju tradisional untuk pemotretan yang terakhir. Ketika ia diminta untuk foto yang terakhir kalinya, Shikadai menyadari ponselnya bordering untuk kesekian kali. Ia meminta ijin sebentar untuk menjawab sebentar.

Sera menahan tangan Shikadai sebentar sebelum ia menjauh, "Kau tahu ini sangat penting bagi Ibu, kan?"

Pria itu menatap datar ke arah Sera. Membiarkan si gadis menyadari apa maksud yang tersirat dari raut wajah Shikadai yang masih menggantung panggilan pada handphonenya dengan detik yang terus berjalan.

Sera mengangguk paham akhirnya, melepaskan genggaman tangannya pada lengan Shikadai.

"Lagipula aku tak akan pergi kemanapun dengan baju Kimono Kazegake ini keluar dari kastil, kau tahu itu" agak lega sedikit mendengar ucapan Shikadai, Sera tersenyum simpul.

Setelah ia memalingkan pandangannya dari Sera, Shikadai kembali menatap ponselnya. Dengan alis bertaut ia mulai menyapa si penelpon. Berpikir sebentar bahwa nomor itu lain dari kliennya kemarin.

"Tuan Shikadai, masih adakah beberapa jam bebas Anda untuk bertemu dengan kami?"

Mencerna kata-kata dari sebrang, Shikadai kembali berpikir. Orang itu berkata bahwa mereka berasal dari Negeri Api. Terlintas sebentar wajah Shikamaru Nara dalam benaknya. Dasar makhluk-makhluk Konoha sangat pintar bersilat lidah, dalam hati ia berkata begitu.

"Tidak bisa untuk sebulan ke depan, katakan dengan singkat, maka akan kuatur" ia mulai menekan tombol perekamnya, menunggu pria yang menelponnya merespon.

Namun ini yang dijawab, "Anda sedang sibuk, kami akan menelpon dua jam ke depan"

Inginnya ia mengumpat Terserah, bajingan karena dengan bodohnya membuang-buang waktu dengan percakapan tidak penting.

Kepalanya menggeleng sebentar ketika ia melesakan ponselnya dan berbalik, alisnya terangkat sedikit. Melihat sang Ibu kini dengan cantiknya berpose; rambut emas sebahunya terurai bebas, dengan balutan kimono bangsawan elegan yang bahunya terekspos sedikit. Bibirnya merah pekat, tersenyum sambil membawa kipas angin kecil di tangannya.

Senyum Shikadai mengembang di antara belah pipinya.

Dan tidak lagi ketika kini Temari mengambil fotonya bersama dengan Shikamaru–seperti pasangan Suami-Istri. Oh, terlalu muak mleihatnya maka ia dengan tidak sengaja memutar bola mata dan terkejut sedikit kala Sera memukul pelan bahu Shikadai.

Tatapan gadis itu memicing, membuat decakan dari mulut Shikadai.

Tidak habis sampai di situ keterkejutannya, ia kembali dibuat jengkel karena kini Temari meminta dirinya ikut berfoto, bertiga.

Sekali lagi, bertiga. Temari, dirinya dan si bajingan Shikamaru.

Apa daya, ia sudah berjanji kalau dia tak akan beranjak kemanapun.

Maka jadilah ketiganya berfoto, Temari terduduk di antara kedua pria tegap yang terlihat sangat keren –bagi Sera, memegangi bahu Temari.

Usai sudah sesi pemotretan keluarga Kazekage, Gaara dan Kankuro memutuskan untuk pergi melanjutkan urusan yang tertunda.

Sera dan Shinki akan makan siang bersama, sedang Shikadai menolak ajakan mereka. Lebih memilih menguntit Temari. Tetapi wanita itu menyuruh anak lelakinya untuk ikut dengan Shinki dan meninggalkan Temari berdua dengan Shikamaru, meyakinkan dirinya bahwa Temari baik-baik saja.

Meski rasanya terjadi peperangan singkat antara Shikadai dan Temari, Shikadai akhirnya menyerah dan membiarkan Temari pergi. Dengan sangat-sangat terpaksa berjalan beriringan bersama Shinki dan Sera menuju sebuah restoran serta mengobrol di sana.


"Aku melihat berita kalian berciuman" ujar Shinki sambil menyuap dango, membuat Sera salah tingkah karena ucapan Shinki barusan. "Aku melihatnya di berita online, di linimasa media sosial"

"Hm, banyak papparazi di sana, tadinya akan lebih dari sekedar ciuman jika itu bukan di pantai" Shikadai menanggapi dengan santai kembali menyesap the hijau dan meraih ponsel Shinki yang diberikan padanya.

"Lihat ini, tidak terlalu jelas, tapi mendadak kalian jadi bahan perbincangan cukup ramai"

Sera menghela napasnya, menutup mata merasa wajahnya sangat panas. Apalagi irama jantungnya kini tak beraturan melihat keduanya mengobrol menganggap tidak ada suatu yang penting dalam pembicaraan mereka.

Shikadai mengangguk-angguk, menggeser ke bawah artikel sebagai pencitraan padahal ia sama-sekali tidak peduli.

Namun ada satu yang membuat gerakan tangannya terhenti pada akhir artikel itu. Ketika ada headline di situ, tertulis; Shikamaru Nara menghilang dari Konoha meninggalkan kasus yang tidak dipertanggung-jawabkankeningnya berkerut.

Ia membuka tautan tersebut, membacanya sampai akhir. Mendapat inti bahwa Shikamaru terjerat berbagai kasus yang dituduhkan kepadanya. Tertulis ada kasus korupsi dan membangun rezim kudeta melawan pemerintah.

"Ada apa, bro"

"Hei, siapa Shikamaru Nara di Konoha, dude?"

"Wakil Hokage"

Shikadai mengangguk lagi mendegar jawaban Shinki. "Ada apa?"

Inginnya ia menjawab pertanyaan Shinki dengan singkat, namun ponselnya berdering. Ia melempar pandangan pada Shinki tunggu sebentar dan melihat layar handphone. Nomor yang sama, orang dari Konoha.

Niatan mulanya untuk mengacuhkan panggilan itu terkalahkan oleh hasrat curiganya, ia menjawabnya.

"Bisa kita bertemu dengan Anda, Tuan Shikadai?"

Pria itu menenangkan napas dan pikirannya, Shikadai membalas, "Aku perlu data klien topik permasalahan sebelum kita bertemu, dengan detail"

Agak lama si penelpon tidak merespon perkataan Shikadai.

Ia berpikir kalau yang menelponnya tidak sendiri, mereka sedang berdiskusi.

"Ini sangat rahasia, kita perlu bertemu untuk membahas ini"

Shikadai menghela napas. Dugaannya benar sedari awal. Seorang yang menelpon ini bukanlah calon klien yang sesungguhnya. Ia hanyalah ajudan untuk menyampaikan pesan atasannya.

Kalau sudah seperti ini, kemungkinan ini adalah kasus Narkoba, penyelundupan, atau lebih kejam lagi soal politik. Mereka tidak ingin pembicaraan mereka terjejak oleh pemerintah, itu sebabnya Shikadai diminta untuk bertemu langsung.

Namun, Shikadai bukan seorang dengan bayaran rendah apalagi kasus yang tidak jelas asal-usulnya. Sebelum ia terjebak dengan perjanjian dan kontrak, ia harus mempelajari terlebih dahulu. "Maaf, kau tidak mengatakannya, maka jasaku juga tidak bisa disewa"

"Ini adalah so –Tu-Tuan, Selamat siang Tuan Shikadai" telepon yang direbut oleh seseorang , Shikadai berani menjamin bahwa kini yang berbicara adalah si atasan tersebut.

"Buat cepat, waktuku tidak banyak"

Di sebrang terkekeh sebentar, lalu melanjutkan sapaanya dengan pembahasan yang sebenarnya. "Maafkan asistenku karena terlalu lamban berbicara, aku adalah Danzo dari Konoha, meminta bantuanmu untuk pengadilan yang akan dilakukan sebulan mendatang, Shikadai"

"Jelaskan"

"Seorang koruptor dan pemimpin kelompok penyangkal, Shikadai, aku mau dia benar dinyatakan bersalah dan dipenjara"

Mendengarnya, Shikadai terkekeh kecil. Sudah sangat jelas dugaannya benar terjadi.

"Kau adalah Pengacara hebat, Shikadai, aku yakin kau dapat membalikan ini dengan mudah"

Seringainya ia sudahi, Shikadai kembali menjawab, "Jadi tidak ada bukti dan fakta?"

"Rekayasa, kuharap bisa kau akali. Aku akan memberimu satu juta besok jika kau mau bertemu denganku Kamis ini untuk membicarakan siapa dan bagaimana"

Mendecih ringan tanpa membiarkan Danzo mendengar, Shikadai berpikir bahwa ia sudah mengetahui semuanya. Hanya sedikit tambahan informasi saja, maka dengan cepat ia dapat memenangkan kasus ini. "Segera kukabari"

Panggilan berakhir.

Ia tersenyum singkat, mengembalikan ponsel Shinki kepadanya.

.

.

"Kau sudah berhenti dari kasus kotor, 'kan, Shikadai?"


To be continued

.

.

Hola, Mamacita! Err.. terima kasih sudah mau membaca apalagi mau jadi referensi bagi pembaca lainnya. Sangat mengapresiasi Author yang memfavoritkan dan mengikuti cerita ini, terima kasih.

Salam,

Cristine!


Sesi Jawab Review

Ghiena : Waahhh,, senengnya direview sama kk Ghiena! :) Makasih supportnya, mudah-mudahan bisa lanjut terus, Amin T-T

alieraroses: Masih penasaran ga nih ;) hehehehehe... Stay tuned ya! :D

Guest: Hhihi, ini sih aku tahu siapa wkwkwk.. Makasih supportnya :D

AiTema: Ini chapter selanjutnya ^^ Masih penasaran ga? Xixixixi... Iya.. doakan aja kak biar aku ga malas huhuhuhu..

Real Guest: The Majesty thanks for reading wkwkwkwkwk... ditunggu nilainya ya hahahaha..