Tulisan dan cerita pertama

Karakter bukan milik saya, tapi milik tuhan dan orang tua masing-masing

Banyak kesalahan dan typo, harap dimaklumi ;D masih pemula

Stan NCT (Neo Culture Technology)

Markhyuck (Mark x Donghyuck) - Hyuckhei (Donghyuck x Yukhei) - Nohyuck (Jeno x Donghyuck)

Cerita ini mengandung banyak konten dewasa yang eksplisit, perselingkuhan dan tema dewasa lainnya, nggak suka jangan dibaca

Tag: Boy x boy, Infidelity, Perselingkuhan, Mpreg dll

Peace V Full Sun


Flashback Jeno story

Jeno baru saja keluar dari ruang operasi ketika ia mengetahui kabar tersebut. Jaehyun, rekan sesama dokternya segera menghampirinya ketika ia baru keluar dari ruang operasi.

"Jeno, ada beberapa orang yang ingin menemuimu," ucap Jaehyun terburu-buru. "Persiapkan dirimu Jen, sepertinya ini kabar buruk," lanjut Jaehyun dengan wajah yang terlihat khawatir.

"Dimana?" balas Jeno dengan perasaan yang tak menentu. "Mereka berada di ruanganmu," jawab kakak kelasnya itu. Mereka berdua pun segera menuju ke ruangan Jeno.

"Jaehyun hyung, bukankah kau ada janji bertemu dengan pasien," tanya Jeno heran, melihat hyungnya itu terus mengikutinya. "Aku sudah menyuruh Johnny untuk menggantikanku, lagian aku hanya perlu mengeceknya," ucapnya sembari menepuk punggung dongsaengnya itu.

"Oh ya, barusan aku mendapat telpon dari sahabatmu Mark, katanya dia akan segera kesini sebentar lagi," ujar pria berlesung pipi itu menginformasikan.

Tanpa disadari tangan Jeno bergetar, melihat dari raut wajah khawatir Jaehyun, apalagi sampai hyungnya itu menyuruh sahabatnya Johnny untuk menggantikan menemui pasiennya. Mark yang rela meninggalkan pekerjaannya hanya untuk menemuinya, dia sudah menebak Jaehyun pasti sudah mengetahui apa yang terjadi.

Keduanya pun sudah sampai di depan ruangan Jeno. Ketika akan membuka pintu Jeno menyadari bahwa Jaehyun tidak lagi mengikutinya. "Hyung, tidak ikut masuk," tanyanya.

"Apa boleh?" ucap Jaehyun pelan. "Tentu saja hyung, ayo temani aku." Jeno tersenyum menunjukkan eyesmilenya, apapun yang terjadi dia tetap harus menjaga sopan santunnya.

Dengan tangan bergetar Jeno membuka pintu kantornya, dihadapannya ia melihat dua orang polisi yang sedang duduk di sofa ruangannya.

"Selamat siang, anda pasti tuan Jeno, saya Moon Taeil dari kepolisian Seoul, dan ini Kim Doyoung," ucap pria itu sembari menjabat tangan Jeno. Pria yang diperkenalkan sebagai Kim Doyoung itu juga ikut berdiri dari sofa dan menjabat tangan Jeno.

"Baiklah aku serahkan padamu Doyoung." Moon Taeil menatap rekannya tersebut. "Langsung saja tuan Jeno. Saya ingin menginformasikan berita yang tidak mengenakkan. Pesawat boeing b-02345 yang ditumpangi oleh tuan Na dan keluarganya mengalami kecelakaan di perairan Jepang, seluruh penumpang dalam pesawat tersebut dinyatakan tewas," ucap Doyoung, matanya menunjukkan rasa kasihan.

Seketika itu juga Jeno ambruk, tangisannya pecah, Jaehyun dengan sigap menahan tubuhnya agar tak terjatuh.

"Jeno kuatkan hatimu," bisik hyungnya itu. Kedua polisi itu memandangnya dengan iba. Pintu kantornya terbuka menunjukkan sosok Mark.

Sahabatnya itu segera berjalan kearahnya dan meraih tubuhnya, Mark memeluknya dengan erat, seolah-olah sahabatnya itu juga ingin merasakan rasa sakit yang dialaminya.

"Jeno-ya, kumohon bersabarlah, jaemin membutuhkanmu," ucap Mark pelan sembari mengelus punggungnya. 'Jaemin, Jeno baru mengingat suaminya itu, bagaimana reaksi Jaemin jika ia mengetahui berita ini, ya tuhan hati Jaemin pasti hancur'.

Tangis Jeno semakin pecah ketika ia mengingat Jaemin. "Ya tuhan Jaemin Mark, bagaimana jika ia mendengar kabar ini, apalagi sekarang ia sedang hamil," ucap jeno terbata-bata. Pria yang terkenal dengan eye smilenya itu semakin mengeratkan pelukannya pada Mark.

Mark membawanya duduk di sofa kantornya, sembari terus mengusap punggungnya, seolah ingin mengatakan bahwa ia akan selalu ada untuknya.

Mark memang sahabatnya tapi ia sudah seperti hyung kandungnya, meski sebenarnya mereka tidak memiliki hubungan darah. "Aku akan selalu ada untukmu dan Jaemin, ingatlah hal itu Jeno," bisik Mark berulang-ulang.

"Kami turut berduka atas kehilangan anda dan keluarga," ujar Doyoung memecah keheningan. "Tapi bisakah anda mengikuti kami sebentar, untuk melakukan identifikasi terhadap mayat para korban," lanjutnya.

"Bagaimana jika saya yang melakukannya," jawab Mark. "Apakah anda keluarganya?" tanya Moon Taeil. "Aku sahabat dekat keluarganya," jawab Mark. "Tidak bisa tuan.." Moon Taeil menghentikan perkataannya. "Minhyung, Lee Minhyung," ujar Mark.

"Tidak bisa tuan Minhyung, harus keluarga, karena ada beberapa dokumen yang harus diisi dan ditandatangani oleh pihak keluarga. Atau mungkin ada dari pihak keluarga lain yang dapat mewakili, jika memang tuan Jeno tidak mampu melakukannya," tanya Doyoung.

"Tidak, biar aku saja," ucap Jeno mulai dapat mengendalikan diri, sembari menyeka air matanya. "Baiklah semakin cepat semakin baik, agar anda dapat segera mengurus proses pemakaman," timpat Taeil.

"Mark, beritahu jaemin dan aku meminta tolong padamu untuk terus mendampinginya sampai aku datang," tegas Jeno. Mark mengangguk pelan.

"Dan jaehyun hyung," ujar Jeno pelan berharap hyungnya itu tahu apa yang diinginkannya. "Aku akan menemanimu Jeno" ucap Jaehyun. "Baiklah, terimakasih banyak hyung."

Seperti yang telah Jeno duga, Jaemin tidak dapat menerima kenyataan yang terjadi pada keluarganya. Jaemin benar-benar terkejut dan mengalami syok berat, kejadian ini benar-benar mempengaruhi kandungannya.

Sehingga mereka akhirnya harus kehilangan calon bayi yang dikandung Jaemin. Syok berat akibat kehilangan seluruh keluarga ditambah dengan keguguran membuat Jaemin mengalami gangguan jiwa berat.

Pekerjaannya sebagai dokter telah membantunya bertemu dengan banyak dokter jiwa, namun tidak ada satupun dokter atau terapi yang dilakukan yang berhasil memperbaiki kondisi Jaemin.

Jika dahulu suaminya itu selalu berteriak-teriak tidak jelas dan mulai melempar berbagai barang dan bahkan mencoba menyakiti dirinya, lama kelamaan suaminya itu bahkan malah tidak bersuara dan berbuat apapun.

Disaat-saat sulit itu Mark selalu ada untuknya, sahabatnya itu bahkan sering meluangkan waktunya untuk menemani Jaemin ketika dirinya sedang sibuk. Mark juga turut mencari dokter untuk mengobati gangguan mental yang dialamiJaemin.

Tidak hanya itu, suami Mark, Donghyuck juga senantiasa ada untuk mereka, seminggu sekali lelaki mungil itu akan datang kerumah Jeno untuk mengurusi berbagai keperluan di rumah itu. Mulai dari belanja bahan makanan, memasak, sampai mengecek berbagai hal yang berhubungan dengan kebutuhan sehari-hari Jeno dan Jaemin.

Jeno memang telah merekrut bibi Jiyeon untuk membersihkan rumahnya dan menyiapkan berbagai keperluan sehari-harinya, tapi hal itu tidak menghentikan Donghyuck untuk mengecek semuanya, terutama kondisi Jaemin.

Sebelum kejadian tragis itu, Donghyuck memang sudah berteman dekat dengan suaminya. Kondisi Jaemin sekarang tidak menghentikan Donghyuck untuk terus memperhatikan suaminya tersebut.

Intinya Jeno sangat bersyukur sekali karena telah dianugerahi dua orang sahabat yang luar biasa, dan dia sadar betul dirinya telah berhutang banyak pada keduanya.


Mohon reviewnya karena author ini masih bener-bener penulis pemula, dan ini cerita pertama yang ditulis. Review sangat diharapkan. Untuk membangun konten yang lebih berkualitas. Oh ya kedepan bakalan ada konten-konten dewasa yang eksplisit ya, ini cuman pembukaan aja. Chapter udah hampir selesai, cuman publishnya selow ya, karena masih belajar wkwkwkwk. Ini aja baru bisa publish di ffn, ngakak. See you di chapter selanjutnya.