Revenge

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Hurt, Romance

Rating : T

Warning : AU! Typo(s), mental issue/?

.

Enjoy guise~

.

.

"Ayolah Ino, ceritakan padaku."

Ino menatap jengah pada Tenten yang terus menerus membuntutinya sejak dari kelas, perpustakaan, hingga kantin seharian ini. Namun, tepat setelah meletakkan menu makan siangnya, Ino menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan si teman baru yang belum berubah sejak tadi.

"Kenapa tidak mau cerita? Cinta sepihak ya?" Tanya Tenten menyelidik.

"Memang apa hebatnya sih kalau aku suka Kiba atau tidak? Apa pengaruhnya untuk kampus ini?"

Tenten melebarkan matanya. "Tentu saja ada."

Ino sendiri hanya mengerutkan dahi di sela-sela menyendok nasi.

"Kalau kau ada apa-apa dengan Kiba, pasti orang yang mengejar dia akan berkurang."

Ino mengendikkan bahu. "Yang mengejarku juga banyak kok, tapi aku biasa saja." Ujarnya kelewat percaya diri, membuat Tenten bergidik geli.

"Siang, Ino."

Sebuah suara rendah milik Inuzuka Kiba baru saja membuat dua orang yang sedang asyik berdebat sama-sama menoleh. Ino dan Tenten sama-sama melongo ketika orangnya mengerling satu kali lalu berjalan menjauh.

"Hei, dia menyapamu."

Ino mengangguk kaku, jantungnya berdebar kencang.

.

.

.

"Pagi Ino,"

Ino yang sedang menatap pantulan wajahnya dari layar ponsel lantas terlonjak. Di balik punggungnya ada Kiba yang sama-sama baru saja sampai di kampus.

"Tidurmu nyenyak?"

"Err... ya."

"Kau belum menjawab sapaanku tadi." Kiba nyengir.

"Ah, iya. Selamat pagi juga. Kau ada kelas?" Ino berusaha menyembunyikan rasa malunya namun gagal. Ia menggaruk tengkuk sejak tadi.

"Ada, di ruang 208."

"Eummm, Kiba-"

"Ya?"

"Kenapa kau menyapaku terus sejak kemarin?"

Kiba menatap Ino tidak mengerti. "Memangnya kenapa? Kau tidak suka?"

Ino menggeleng. "Temanku mungkin akan berpikir yang aneh-aneh, karena kita tidak sedekat itu."

Mendengarnya membuat Kiba tertawa. "Kalau begitu aku ingin dekat denganmu."

Dekat?

Apa maksudnya?

Dekat yang seperti itu?

Tolong jelaskan kenapa jantung Ino berdebar kencang saat ini.

"Eumm, Ino..."

"Iya?"

"Kau ada kuliah sampai jam berapa?"

"Jam berapa ya? Sebelas sepertinya, memangnya kenapa?"

Kiba berdehem singkat. "Nanti mau makan siang denganku?"

.

.

.

Dengan kedua tangan yang penuh lima modul tebal, dan langkah yang terhuyung karenanya. Ino beberapa kali hampir jatuh kalau saja ia hilang kesadaran diri. Kulitnya yang pucat jadi makin pucat gara-gara semalaman tidak bisa tidur. Ia kepikiran sesuatu.

Tahun ajaran akademik baru saja berganti, yang mana artinya sudah satu tahun sejak perkenalan singkatnya dengan Kiba. Tapi status mereka tidak kemana-mana, alias masih di tempat yang sama meski intensitas pertemuan mereka makin sering.

Telepon? Berkirim pesan?

Tidak, mereka tidak sering berkomunikasi digital. Memang pada dasarnya setiap hari sudah bertemu, dan kadang satu kelas juga. Tapi agaknya, baik Ino maupun Kiba terlalu menikmati kedekatan mereka sebagai teman biasa hingga lupa bahwa waktu berjalan sangat cepat.

Kadang Ino merasa seperti perasaan ini hanya miliknya saja, tapi kadang ia juga sedikit yakin bahwa Kiba juga menyukainya.

Dan semua hal, termasuk makan di kantin, kerja tugas, pergi saat malam minggu, dan menjajali tempat makan baru, yang mereka lakukan bersama selama ini tidak akan berbuah apa-apa kalau Ino tidak segera bertindak. Oleh karena itu, meski harus dilanda pusing hari ini, ia sudah membuat rencana lain yang akan membuat hidupnya sedikit lebih berwarna.

'Bruk'

"Hati-hati," Ujar si tinggi menjulang yang baru saja Ino tabrak tanpa sengaja.

"Maaf." Ino kembali menunduk.

"Kau pucat sekali, sini aku saja yang bawa bukunya." Kiba tersenyum sekilas dan menarik seluruh buku dalam dekapan si perempuan yag sudah jadi teman baiknya ini.

Ino sih oke-oke saja selama itu meringankan bebannya.

"Ino, kenapa kau pucat sekali? Belum makan? Atau kau sakit?"

Ino diam saja, hanya sibuk memandangi langkah kakinya sendiri.

"Kenapa memaksakan berangkat? Lebih baik istirahat saja di rumah."

Mendengarnya, Ino makin mengeratkan cengkeraman tangan di ujung kemejanya. Perkataan Kiba jelas berefek besar pada dirinya, terbukti dari debar jantung yang tak mau berhenti sejak tadi.

Ino ingin melakukan sesuatu, makanya ia rela berangkat hari ini. Tapi hal ini tidak mungkin ia katakan dengan gamblang di depan orang yang ia sukai.

"Atau kau ingin melihatku ya? Hehe." Kiba terkekeh, bermaksud mencairkan hening yang terlalu kentara.

Tapi sialnya, Ino tidak menolak perkataan itu.

Baiklah harga diri, jangan menampakkan diri dulu hari ini.

"Kau benar, aku memang benci meski hanya satu hari saja tidak melihatmu."

Kiba hanya meresponnya dengan tawa.

.

.

.

Sebuah kotak kado tiba-tiba saja ada di depan Kiba yang sedang menikmati makan siangnya di kantin. Kaget, ia menoleh ke samping kiri hanya untuk mendapati Ino dengan senyuman malu-malunya.

"Ini apa?"

"Hadiah. Ku dengar dari temanku kau ulang tahun."

"Wah, siapa temanmu sampai mengenalku sebaik itu?"

Ino menggaruk tengkuk. "Yah, ada lah, teman satu jurusan kita."

Bohong.

Ino bahkan harus begadang semalaman demi memantau semua akun sosial media Kiba, mencari tanggal ulang tahun pemuda itu.

"Tapi terima kasih hadiahnya, boleh ku buka?"

"JANGAN!" Ino menyeru, yang mana membuat Kiba langsung terlonjak, hampir tersedak.

"Kenapa?"

"Nanti saja kau buka saat sedang sendiri, pokoknya jangan buka di depanku."

Kiba lagi-lagi hanya bisa tertawa lebar. "Kenapa sih? Seperti mau menyatakan perasaan saja kau ini."

Senyuman tipis di wajah Ino luntur.

Iya memang. Sebotol origami bintang yang ia berikan di dalam kotak kado itu punya pesan istimewa.

Benar kok, hadiah yang ia berikan mengandung surat cinta di dalamnya. Di atas bintang-bintang kecil itu, ada satu bintang paling besar yang mana di dalamnya ada pernyataan cinta milik Ino. Ia sudah memikirkannya semalam, ia pikir akan lebih baik kalau sebuah kalimat sederhana namun menampung seluruh perasaannya itu punya tempat sendiri. Karena itulah Ino menyisakan sedikit tempat kosong untuk menaruh si bintang paling besar diantara bintang-bintang yang lain.

Sayangnya, Ino sendiri lupa memberitahu Kiba tentang bintang yang paling besar itu, bahkan ketika hari sudah berganti.

.

.

.

Ino berdebar, ia tidak bisa tidur lagi tadi malam. Meski harapannya kecil Kiba akan membaca surat dibalik bintang yang paling besar, tapi Ino tidak putus asa. Ia yakin si tinggi itu pasti akan menyempatkan waktu untuk menelisik isi toples itu lebih dalam.

Malam ini juga sama saja, ia masih belum bisa tidur. Ponsel juga ia taruh di samping ranjang, karena siapa tahu Kiba akan segera menghubunginya dan bicara empat mata esok hari.

Sesuai dugaan, ponselnya benar-benar berdering singkat. Sebuah notifikasi pesan masuk.

Tapi Ino mengerutkan dahi.

Itu bukan Kiba.

"Konohamaru? Siapa ini?"

Konohamaru. : Salam kenal kak Ino. Aku fans beratmu sejak masuk kuliah. :)

Ino Y. : Siapa ini?

Konohamaru : Konohamaru, arsi semester 1.

Ino Y. : Darimana dapat nomor teleponku?

Konohamaru : Kak Kiba.

Konohamaru : Kak, mau makan denganku tidak?

Read

Konohamaru : Atau nonton film?

Read

Konohamaru : Aku ingin bisa akrab denganmu.

Read

Konohamaru : Kalau mau, jawab ya. Aku tunggu.

Read

Inuzuka Kiba Sialan.

.

.

.

TBC :D

Lin Xiao Li : Huhu, iya tadinya ini mau dibikin Gaahina, jadi ketauan deh xD makasih atas dukungannya yang tiada henti ya, fanfik ini tanpamu hanyalah butiran rinso. :")

Guest : makasih ya udah mampir. Aku tidak gemes tp. ._.