Hola! Ini chapter 2 nya!

Kali ini Vincy masih membuat alur dengan tema friendship dan keadaan masih baik-baik saja. Awalnya mau main pair 1 nya CielEli, tapi setelah dipikir-pikir akhirnya Vincy memutuskan kalau main pair 1 nya AloisNagi.

Oh ya, Hayate akan muncul di chapter ini. :D

Nah, Happy Reading!

Disclaimer Kuroshitsuji © Yana Toboso

Hayate The Combat Butler © Kenjiro Hata

Main Character : Ciel Phantomhive, Elizabeth Middleford, Alois Trancy, Nagi Sanzenin

Genre : Friendship, Romance

Rate : T (Teen)

Warning! : OOC, OC, alur pasaran, Typo bertebaran dimana-mana, dll

Summary :

Nagi! Ayo kita petik bunga yang banyak!|Jangan pernah mengejek sahabatku lagi!|Kau itu sahabat perempuan pertama Elizabeth, jadi wajar kalau Elizabeth begitu senang dengan kehadiranmu|


'KRIIIING!'

"Baiklah anak-anak. Kita sudahi pelajaran hari ini. Silahkan istirahat"

"Yey!" seru semua murid di kelas serempak. Hanya Ciel dan Nagi saja yang tenang. Tiba-tiba saja Elizabeth langsung menarik tangan Nagi.

"Nagi! Ayo kita ke padang bunga di sekolah ini! Akan kutunjukan hasil bunga-bunga indah dan terawat di sana!" seru Elizabeth dengan riang.

Nagi hanya mengangguk pasrah saat Elizabeth benar-benar menyeretnya ke padang bunga. Ciel dan Alois mengikuti mereka dari belakang. Karena untuk alasan 'keamanan' tentunya.

Kini mereka berempat tiba di padang bunga yang tak jauh dari gedung sekolah. Elizabeth menghirup napasnya, berusaha mencari udara segar di padang bunga ini.

"Huaah…segarnya!" seru Elizabeth. Nagi dan Alois tersenyum tipis.

"Lihat Nagi! Kita bisa melihat London Big Ben di sana!" seru Elizabeth sambil menunjuk ke arah menara jam yang bisa disebut 'London Big Ben' dari jauh.

"Iya," ucap Nagi singkat namun dengan senyuman tipis yang terukir di wajahnya.

"Nagi! Ayo kita petik bunga-bunga ini! Lalu kita bikin aksesoris dari bunga!" seru Elizabeth sambil memetik bunga tulip kuning di sampingnya.

"Ta-tapi apa petugas kebun atau pihak sekolah akan marah?" tanya Nagi ragu. Di sekolahnya dulu, memetik bunga di taman sekolah akan dikenakan sanksi dari pihak sekolah.

"Tenang saja! Padang ini aku dan maid ku yang rawat." seru Elizabeth. Nagi mengerutkan keningnya.

"Me-merawat? Merawat padang bunga sebesar ini?" tanya Nagi sedikit tak percaya.

"Dulu, SD ku tak jauh dari sini. Tepatnya disitu" tunjuk Elizabeth di salah satu bangunan besar yang tak jauh dari padang bunga. "Aku selalu merawat padang bunga ini dibantu Paula, maid pribadiku setiap hari. Tentunya juga dibantu Ciel dan Alois" kata Elizabeth.

Nagi mengangguk. Ia memandang kagum pada padang bunga yang menurutnya dangat indah dan terawat. "Bagus sekali" puji Nagi. "Kau hebat, bisa merawat padang bunga sebesar ini, Lizzy."

"Seharusnya kau melontarkan kalimat pujian itu kepada Ciel dan Alois juga" ujar Elizabeth sambil melirik Ciel dan Alois bergantian. Kedua laki-laki itu menghela napasnya.

"Nah tunggu apa lagi? Ayo kita petik!" seru Elizabeth. Ia memetik mulai dari tulip kuning, tulip pink, dan beberapa tanaman merambat di pagar.

Nagi juga tak mau kalah, ia memetik bunga matahari dan bunga daisy. Ia juga memetik beberapa bunga-bunga liar yang indah di sekitar pinggir padang.

Ciel dan Alois hanya menonton. Mereka tak ikut memetik bunga karena mereka merasa itu bukan pekerjaan laki-laki. Elizabeth yang menyadari itu hanya mendengus kesal.

"Ciel! Alois! Ayo bantu kami memetik bunganya! Jangan enak-enak kan berdiri di situ!" sahut Elizabeth dengan sedikit jengkel.

"Aku tak mau, itu bukan pekerjaan laki-laki" kata Alois dengan nada tak berdosa sekalipun.

'BLETAK!'

"Turuti saja keinginan Lizzy atau kucongkel matamu!" kata Nagi dengan nada mengancam. Lalu sesaat kemudian ia kembali mengikuti Elizabeth memetik bunga.

"Hei! Itu kata-kata ku!" jerit Alois tak terima. Nagi hanya menjulurkan lidahnya, tanda mengejek.

"Grrrh! Awas kau!" Alois menggeram kesal. Nagi menunjukan senyum mengejeknya. Sedangkan Elizabeth dan Ciel tertawa kecil.

"Nah, ayo lanjutkan petik bunga nya"


Mereka berempat berjalan disepanjang koridor. Elizabeth tampak memakai bandana bunga bermahkota bunga matahari yang dibuat oleh Nagi. Sedangkan Nagi memakai gelang dan cincin buatan Elizabeth dengan bunga daisy sebagai batu cincin nya.

"Phantomhive! Trancy!"

Merek berempat menoleh. Mata mereka menatap Stela yang terengah-engah mengejar mereka berempat.

"Ada apa?" tanya Alois.

"Kalian berdua dipanggil Yang Mulia Ratu Victoria di ruang Kepala Sekolah" ucap Stela.

Ciel tampak keberatan, "Apa Lizzy dan Nagi boleh ikut?"

Stela menggeleng, Alois dan Ciel menghela napas.

"Baiklah" ujar mereka bersamaan. "Lizzy, Nagi. Apa kalian bisa ke kelas tanpa kami? Atau Aku atau Alois saja yang perlu mengantar kali-"

"Tidak usah" ucap Elizabeth dengan nada teguh. "Aku dan Nagi akan baik-baik saja"

Ciel dan Alois saling berpandangan. Seolah tahu, Ciel berjalan dan mendekatkan mulutnya ke telinga Nagi.

"Tolong jaga Elizabeth" bisik Ciel pelan.

Nagi mengerutkan keningnya. Ia menatap mata biru tua Ciel. Seolah mendapat pesan dari kontak mata, Nagi mengangguk tanda mengerti.

"Baiklah, kami pergi dulu" pamit Alois. Ia dan Ciel berjalan mengikuti Stela dari belakang menuju ruang kepala sekolah.

"Nah ayo" Nagi mengajak Elizabeth berjalan. Elizabeth tampak sedikit ketakutan, ia memegang erat pergelangan tangan Nagi.

Suasana hening menyelimuti mereka berdua. Tak ada yang membuka pembicaraan satu sama lain. Nagi tampak was-was. Perasaan nya tidak enak, ia menoleh ke arah Elizabeth yang dari tadi terus menunduk ke bawah.

"Lizzy…" ucap Nagi dengan nada lirih.

"Hei, kalian yang disana!"

Nagi dan Elizabeth tersentak. Dengan kaku mereka menoleh ke belakang, tempat sumber suara seseorang memanggil mereka.

Yap, yang memanggil mereka berdua adalah Maurice, ketua 'Ciel & Alois Fans Club' di sekolah. Elizabeth menundukan kepalanya, tanda tak berani menatap mereka. Nagi bisa merasakan hawa tak enak dari Maurice dan kawan-kawan nya di depan mereka.

"Ada apa?" tanya Nagi ringan namun dengan nada dingin. Ia merasa harus melindungi Elizabeth yang terlihat meringkuk di belakangnya.

"Oh, ternyata Lady Midford sudah punya 'maid' pribadi baru ya? Yang sok melindunginya dengan badan nya yang kecil itu" ejek Maurice disertai tawa dari kawan-kawan nya.

Nagi mengepalkan kedua telapak tangannya. Ia tak terima diejek Maurice dengan kata-kata seperti itu. Ia tak terima, diejek karena badan nya kecil untuk anak seumurannya. Apalagi dia juga seorang Lady, tentunya Lady keluarga Sanzenin. Tentunya ia juga tak terima dibilang seorang maid. Ia menganggap Elizabeth seperti sahabat, bukan majikannya.

"Hei, bahkan 'maid' yang di depan Lady Midford saja diam terpaku. Tak memperdulikan kalau 'majikan' nya itu meringkuk ketakutan di belakang badan kecilnya" tambah Laurice, adik kembar Maurice yang ikut bergabung dengan geng kakaknya.

"Cih!" amarah Nagi sudah tak bisa dibendung lagi. Mata hijaunya berkilat-kilat marah. Tubuhnya merasa panas. Dalam pikirannya, ia ingin sekali menonjok anak kembar yang berani mengejek dirinya.

"Hiyaaaat!" Nagi berlari ke arah mereka. Tangannya mengepal untuk siap menonjok Maurice. Semua anggota geng Maurice tampak terkejut.

"Kau! Jangan pernah mengejek sahabatku lagi!" seru Nagi. Ia melayangkan tinjuannya ke arah Maurice. Gadis yang bernama Maurice itu terbelalak dan memejamkan matanya. Menunggu sakitnya tonjokan Nagi di pipinya.

'GREP'

Laurice mencegah tangan Nagi mendarat di kakaknya. Tangannya mencengkram kuat pergelangan tangan Nagi.

"Kau! Tak akan kuampuni kau menyakiti kakak ku!" Laurice melayangkan tangannya, hendak menampar Nagi.

Nagi terbelalak. Ia menelan ludahnya. Pikirannya tertuju pada seorang pemuda. Ya, seorang pemuda yang terus melindunginya. Tanpa ba-bi-bu lagi. Ia menjerit,

"HAYATEEEEE!"

Slow motion…

'GREP'

"Eh?"

Laurice membelalakan matanya. Tangannya dicengkram kuat oleh seorang pemuda. Pemuda berambut dan bermata biru yang mencegahnya menampar Nagi.

"Jangan mengganggu Ojou-sama, ku" kata pemuda itu dengan nada dingin dan mencengkram.

"Hiii" semua bergidik ketakutan. Secepat kilat mereka semua kabur, meninggalkan Nagi, Elizabeth, dan pemuda itu di koridor yang sepi.

"Apa Ojou-sama baik-baik saja?" tanya pemuda itu dengan nada khawatir.

"Aku baik-baik saja. Dan…dimana Lizzy?" tanya Nagi. Ia baru teringat pada Lizzy.

"Ah maksud anda Nona Bandana ini?" tunjuk pemuda itu ke arah Elizabeth yang tengah duduk di lantai dengan bersender di dinding. Pandangan matanya tampak kosong.

"Lizzy!" Nagi menghampiri sahabatnya. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Elizabeth pelan.

"Ah!" Elizabeth membelalakan matanya. Ia tersentak kaget melihat Nagi dan pemuda yang tak dikenalinya ada di depannya.

"Ah! Apa-" belum sempat Elizabeth melontarkan kalimat di mulutnya, Nagi sudah mendaratkan telunjuknya di bibir Elizabeth.

"Tenang saja, kita semua selamat kok. Butlerku yang menyelamatkan nya" kata Nagi sambil tersenyum.

"Butler?" kata Elizabeth dengan nada bingung. "Maksudmu…pemuda ini?" tunjuk Elizabeth ke arah pemuda di depan nya.

"Watashi wa Ayasaki Hayate, desu. Hajimemashite, Ojou-san" kata pemuda yang dipanggil Hayate sambil membungkukan badan nya tanda memperkenalkan diri.

"Hah?" Elizabeth tampak kebingungan.

'BLETAK!'

"Ini bukan di Jepang, Hayate!" bentak Nagi emosi. Ia menjitak kepala Hayate dengan keras.

"A-aa ma-maaf, Ojou-sama" rintih Hayate sambil memegang kepalanya. "Nama saya Ayasaki Hayate, salam kenal, nona. Dan saya butler keluarga Sanzenin"

Elizabeth mangut-mangut tanda mengerti. Dengan riang ia memperkenalkan dirinya. "Aku Elizabeth Midford, salam kenal juga, Hayate"

"Lizzy! Nagi!"

Mereka bertiga menoleh ke samping. Tampak Ciel dan Alois yang berlari terengah-engah menuju mereka.

"Kalian baik-baik saja?" tanya Alois khawatir. Nagi dan Elizabeth hanya mengangguk.

"Omong-omong, dia siapa?" tanya Ciel sambil menunjuk ke arah Hayate.

"Ah, dia butlerku, Ayasaki Hayate." jawab Nagi singkat.

'Butler?' batin Ciel dan Alois bersamaan.

'KRIIIING!'

"Nah Hayate, kau boleh pulang. Jemput aku jam 4.00 pm" perintah Nagi pada butlernya. Hayate mengangguk dan mengundurkan diri meninggalkan keempat insan itu.


"Hei tiang listrik" panggil Nagi pada Alois.

"Hm?"

"Tadi aku dan Lizzy dicegat oleh segerombolan siswi perempuan yang aku terka itu kumpulan fansmu dan Ciel. Dan mengapa kalau Lizzy begitu senang dengan kehadiranku sebagai murid pindahan di sekolah ini?"

Alois mengerutkan keningnya. "Kau dicegat segerombolan fans gila itu? Kenapa tidak bilang padaku atau Ciel?"

Nagi mengangguk. "Maaf kalau aku tak bilang pada mu"

Alois menghela napas, lalu bibirnya membentuk sebuah senyuman. "Kau itu sahabat perempuan pertama Elizabeth, jadi wajar kalau Elizabeth begitu senang dengan kehadiranmu" ucapnya sambil memandang ke arah langit.

Nagi terdiam. Mata hijaunya menatap Ciel dan Elizabeth yang tampak mengobrol ringan di depan mereka.

"Sahabat ya…" ucap Nagi. Sesaat ia tersenyum lebar.

"Nagi! Ciel! Alois!" panggil Elizabeth, namun panggilan itu bukan disertai nada riang seperti biasanya. Namun nada itu terkesan…cemberut?

"Ada apa Lizzy? Mengapa kau memasang wajah cemberutmu itu?" tanya Nagi heran. Perasaan dia nggak berbuat yang aneh-aneh deh ke Elizabeth.

"KALIAN SEMUA JAHAT! KALIAN SEMUA PUNYA BUTLER! HANYA AKU YANG NGGAK PUNYA BUTLER! KALIAN JAHAT! JAHAT!" jerit Elizabeth dengan nada sedikit merengek.

Ciel, Alois, dan Nagi sweatdrop. Namun sesaat Ciel menyeringai.

"Oh ya? Siapa yang pernah bilang kalau punya butler itu akan membuat majikan nya jadi manja dan tak disiplin?" tanya Ciel dengan nada mengejek.

Elizabeth bungkam seketika. Matanya menyipit, dan ia menatap Ciel dengan kesal.

"Kau iniii!" geram Elizabeth. Ciel mengambil ancang-ancang, siap-siap kabur. "Awas kau, Tuan Muda Phantomhive!"

Elizabeth mengejar Ciel yang sudah berlari menjauh. Nagi dan Alois hanya bisa sweatdrop melihat kelakuan kekanakan dari mereka.

"Huaaa! Sebastian! Tolong aku dari gadis gila ini!" jerit Ciel berlari ke arah Sebastian yang berada di kereta kuda.

TO BE CONTINUED

Hah, akhirnya selesai juga chap ini. Maaf kalau chapter kemarin dan chapter ini pendek. Di chapter depan Vincy usahaain kalau chapter depan lebih panjang lagi. Dan apalagi di sini banyak banget OC nya =.=

Saatnya membalas review!

Nasumichan Uharu : Hehehe…iya ^^. Tapi belum tentu juga lho kalau selalu AloNagi & CielEli. Nanti ada konflik antara mereka berempat. Yosh! Ini udah update! Yosh! Review lagi ya… ^^

Oke, sekian dari Vincy

Sign,

Ravincy Aloisa Phantomhive