Disclaimer: Masashi Kishimoto

AU, OOC, bahasa non baku dan baku, miss typo, little bit incest, etece nyoo.

Hope you like it ...

.

.

Hujan tak henti-hentinya mengguyur bumi sejak pagi, hingga kini sang raja siang telah kembali ke peraduannya, padahal saat ini di Konoha tengah musim panas. Seorang pemuda yang telah menghuni bumi sejak dua puluh dua tahun lalu, nampak menggeram kesal ketika macet memperlambatnya sampai di apartemennya. Oh ayolah, waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam, namun akibat hujan, ia terjebak macet sejak tiga jam lalu. Terlebih masalah skripsi-nya yang tak kunjung usai akibat sang dosen yang selalu menolak tema yang ia usung: percintaan antara manusia dan ramen, membuatnya kian kesal saja.

Dengan pasrah pemuda itu, Naruto, menyandarkan kepalanya pada kepala jok mobil yang ia kendarai. Pandangannya sejenak menerawang keluar dari jendela mobilnya, hanya kendaraan yang terlihat oleh mata sebiru langit miliknya, dan ketika pandangannya beralih pada trotoar, terlihat seorang gadis berpayung berjalan dengan tergesa di tengah beberapa orang yang berlalu lalang di sana. Tetapi bukan itu yang menarik perhatian Pemuda Pecinta Ramen ini, perawakan gadis tersebut yang teramat mirip dengan mantan kekasihnya saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas―ditambah keindahan yang semakin menguar dari tubuhnya, tentu saja―membuat Naruto tanpa sadar menggumamkan nama sang mantan. "Hinata."

Tidak, ia tidak boleh mengingat lagi gadis yang sudah ia sakiti itu. Ya, semua telah berlalu, kini ia ingin berjalan bersama masa depannya, tak pernah terpikir olehnya untuk kembali pada masa lalunya. Toh, mungkin saja Hinata sudah ada yang punya saat ini. Ya, tentunya seseorang yang lebih baik, lebih tepat menjaga Gadis Lavender itu ketimbang dengan dirinya.

Lama berkutat dengan pikirannya, Naruto tidak sadar jika jalanan telah kembali lancar, namun nyaring klakson dari mobil di belakangnya menyadarkannya untuk segera melanjutkan laju mobilnya.

.

oORMOo

.

"Tadaima," seru Naruto ketika memasuki apartemennya. Dan sebuah sahutan dari arah dapur, membuat pemuda itu langsung melenggang ke sana.

Di sana, seorang gadis berambut pirang sebatas punggung―yang digelung ke atas―terlihat sedang berkutat dengan masakannya. Dan tiba-tiba saja sang gadis, Shion, dikejutkan dengan sebuah lengan yang melingkari pinggang rampingnya dari arah belakang, namun bibirnya perlahan menyunggingkan seulas senyum kala merasakan deru napas hangat menyapu tengkuknya. "Naruto-kun?" lirihnya sambil berbalik dan membalas pelukan dari tunangannya itu.

Naruto hanya diam sambil menaruh kepalanya di bahu mungil Shion. Di dekat telinga gadis bermanik violet itu, Naruto berbisik pelan. "Tadi aku melihat Hinata."

Deg

Shion membulatkan matanya. Lagi-lagi nama Hinata keluar dari lisan Naruto. Sebagai wanita yang sebentar lagi akan menjadi istri dari pemuda bermarga Uzumaki itu, tentu saja Shion sebal karena pemuda tersebut belum dapat melupakan sang mantan, namun mengingat kabar yang ia dengar tentang Hinata, membuat gadis itu kini mengernyit heran. "Hinata sudah lama tiada, Naruto-kun."

Bagai diterpa badai besar, itulah yang sedang Naruto rasakan saat ini―setelah mendengar ucapan Shion tadi. "Tidak mungkin, lalu siapa yang kulihat tadi? Jelas-jelas dia Hinata."

"Tapi ... dia memang telah tiada, Naruto-kun. Mungkin yang kau lihat tadi hanya sebatas ilusimu saja." Naruto melepas pelukannya. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia berlalu menuju kamarnya ―sedangkan kamar Shion berada di depan kamarnya.

.

oORMOo

.

Naruto sama sekali tidak fokus pada apa yang sedang dosen terangkan mengenai referensi skripsi di depan kelas sana. Di benaknya terus terngiang segala asumsi tentang: bagaimana mungkin Hinata telah tiada. Ya, walau di tengah hujan, namun ia yakin yang semalam ia lihat itu benar Hinata, karena perawakan gadis itu, Naruto masih sangat mengingatnya.

Setelah seluruh penghuni kelas keluar, kini hanya tinggal sang dosen, Neji, yang tengah membereskan beberapa berkas di mejanya. Dan juga Naruto yang perlahan berjalan mendekati Neji, berniat menanyakan tentang Hinata.

"Apa benar Hinata telah tiada?" tanya Naruto setelah ia berdiri di depan meja Neji. Suara baritone-nya yang khas membuat Neji menengadah untuk menatap Naruto, namun tak ada sepatah kata pun yang Neji keluarkan sebagai jawaban.

Karena diamnyalah, Naruto mengiyakan jika Hinata memang benar telah tiada. Lagi, sesuatu seakan menghujam tepat di jatungnya, menimbulkan nyeri yang ia yakini tak sebanding dengan apa yang Hinata rasakan akibat ulahnya dulu, begitu pikir Naruto. Namun entah mengapa, kini pemuda itu mulai sadar jika sebersit perasaan masih tersimpan untuk Gadis Lavender tersebut.

"Jika Hinata masih ada, pasti dia sudah menjelma menjadi gadis incaran banyak lelaki. Bukan begitu, Neji?"

"Kau merindukannya?" sinis Neji sambil kembali pada pekerjaannya membereskan berkas-berkasnya di meja.

"Ya, aku sangat merindukannya," tutur Naruto sambil menatap atap kelas, membayangkan gambaran sosok yang ia rindukan sedang tersenyum padanya di sana.

Neji berkutat sejenak dengan pemikirannya. Dengan ragu ia melirik Naruto, sedetik kemudian ia berujar pelan. "Sebenarnya..."

.

oORMOo

.

Di sinilah Naruto sekarang, pemuda itu mulai menjejakkan kakinya ke perkarangan sebuah rumah minimalis yang ada di pinggir perdesaan, letak yang tepat untuk kau yang menyukai ketenangan, karena memang daerah pinggir desa jarang dilalui kendaraan, bahkan bersebelahan dengan hutan rindang.

Naruto mulai mengulurkan sebelah lengannya untuk mengetuk pintu di hadapannya. Namun sebelum itu, ia sempat menghembuskan napas beberapa kali, mencoba menenangkan dirinya.

Merasa pintu rumahnya diketuk oleh seseorang di luar sana, sosok yang tengah duduk di balkon kamarnya sambil merajut itu mulai beranjak menghampiri pintu yang terbuat dari kayu mahoni tersebut―tentunya setelah menaruh rajutannya. Setelah memutar ganggang pintu, tampaklah seorang pemuda yang sudah tak asing lagi untuknya. "Neji-nii?"

Disaat yang bersamaan, seorang Gadis Musim Semi terlihat menghampiri pintu rumahnya dengan tergesa. Pasalnya seseorang di luar sana terus mengetuk pintu rumahnya sendari tadi. "Kau siapa?" Gadis bubble gum itu, Sakura, mengernyit heran ketika melihat tamunya malah memperlihatkan cengiran lebar padanya.

"Boleh aku masuk?" tanya dua orang pemuda di tempat yang berbeda secara bersamaan.

"Ah, tunggu dulu. Apa kau ada perlu sesuatu denganku?" Sakura merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, pandangannya menyelidik penuh tanya pada Naruto yang mulai kebingungan dengan reaksi Sakura.

"Kau Sakura Haruno, bukan? Dokter yang menangani Hinata saat dia mengalami kecelakaan? Aku Naruto."

Sakura memutar otak berkapasitas medium-nya cepat, mengingat-ingat pasien bernama Hinata yang pernah ia tangani, dan matanya sukses membulat sempurna kala mengingatnya. Dengan raut sendu, Sakura pun mempersilahkan Naruto masuk.

Setelah menghempaskan dirinya di ruang tamu beraroma mint itu, Naruto kembali menatap Sakura bingung, Ia tak tahu harus memulai dari mana.

"Hinata gadis yang kuat." Seolah mengerti maksud kedatangan Naruto, Sakura mulai bercerita. "Dan juga bodoh." Naruto memberi death glare andalannya pada Sakura saat mendengar kata 'bodoh' itu. "Hhh ... inilah dampak globalisasi, siswi Senior High School saja sudah mengenal cinta. Untung dulu aku tidak seperti itu, sehingga nasibku tak semalang dirinya," racau Sakura melenceng dari topik utama. Melihat Naruto yang mulai memanas, cepat-cepat Sakura menyambung ucapannya. "Apa yang mau kau tahu dariku?"

"Hinata ... apa dia benar sudah tiada?" Naruto menundukkan kepalanya, entah mengapa ia tak sanggup menatap manik emerald yang memandangnya pilu usai mendengar pertanyaannya.

"Kejadian itu sudah cukup lama, ada beberapa yang kulupa tentangnya, tetapi dia memang sudah tiada."

"Sou ka..." Naruto mulai merenung, ia bahkan tidak tahu menahu tentang apa yang menimpa Hinata jika tidak diberitahu Neji tadi, dan lelaki itu menyuruhnya untuk memastikan ketiadaan Hinata pada Sakura.

Sambil menghela napas panjang, Sakura kembali melanjutkan ucapannya. "Setidaknya ... Hinata yang dulu memang telah tiada. Dan kini ia hidup sebagai sosok yang berbeda, itu disebabkan karena amnesia yang dia derita." Sakura tersenyum tulus pada Naruto yang duduk di hadapannya, wajah pemuda itu nampak sumringah seketika kala mendengar Hinata masih hidup. Tapi tunggu dulu, dia amnesia? Berarti dia tak mengingatku? Batin Naruto bertanya. "Ada yang salah dengan perkataanku?" Bingung Sakura melihat Naruto murung.

Naruto menengadah, ia menatap Sakura sembari tersenyum masam. "Berarti dia sudah melupakanku, bukan?"

"Tidak hanya melupakanmu, sebentar lagi dia pun akan meninggalkanmu―meninggalkan semua yang dia miliki di dunia ini." Raut wajah Sakura kembali terlihat sendu.

Bingung, kaget, tidak percaya, sedih, dan marah pada dirinya sendiri, itulah yang sedang Naruto rasakan saat ini. "Kenapa bisa begitu?" lirihnya dengan suara parau.

"Selain amnesia, sejak sebulan sebelum Hinata mengalami kecelakaan, dia telah didiagnosa mengalami kanker darah, mungkin saat ini sudah mencapai stadium akhir."

"Kau tahu di mana dia tinggal sekarang?" Naruto menarik napasnya dalam, memperkuat pertahanan dirinya.

"Aku tidak tahu, yang kutahu hanya dia sekarang telah menjadi seorang guru taman kanak-kanak di Ame―desa terpencil di perbatasan Suna-Konoha."

.

oORMOo

.

Neji menarik kursi di hadapan sepupunya ―yang mulai kembali pada pekerjaannya semula: merajut― dan duduk sambil menatap kegiatan yang tengah dilakukan sepupunya itu. "Bagaimana kabarmu, Hinata?" Neji membuka suara setelah menyesap secangkri teh yang dihidangkan Hinata di meja.

"Seperti yang kau lihat Niisan, aku baik." Angin sore berhembus menerpa wajah ayu Hinata. Sejenak pandangan gadis itu teralih pada dedaunan yang melambai-lambai di samping teras belakang rumahnya.

"Kau semakin terlihat kurus." Mendengar nada khawatir dari ucapan Neji, sontak Hinata menatap pemuda itu dengan senyum manis andalannya. Bibirnya yang pucat, terlebih akibat semalam berkeliaran di Konoha untuk mencari bahan merajut, tampak tak mengurangi pesona Hinata. "Shal yang kau rajut itu untuk siapa?" Tak mau membuat Hinata kembali teringat akan penyakit yang ia derita, Neji mencoba mengalihkan pembicaraan.

"A-aku tidak tahu, ini hanya sekedar menuangkan hobi untuk menghabiskan waktu liburan mengajarku." Neji mengangguk paham.

"Barangkali kau berniat memberikan shal itu untuk sepupumu yang tampan ini," gurau Neji. Mendengar tak ada nada humor sama sekali dalam gurauan Neji tadi, membuat Hinata terkikik geli. "Ada yang lucu?"

"Ah, tidak ada." Hinata menggeleng pelan, sedangkan Neji memekik tertahan ketika melihat darah segar keluar dari lubang hidung Hinata. Dengan sigap Neji bangun dari duduknya dan menghampiri Hinata, ia mengambil sapu tangan di saku celananya, lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Hinata, setelahnya ia menggunakan sapu tangan itu untuk menyeka darah tersebut. Hinata nampak bersemu merah kala menyadari jarak wajahnya dan Neji hanya tinggal beberapa senti saja, bahkan deru napas hangat Neji terasa menggelitik wajahnya. Sama seperti Hinata, semburat merah terlihat singgah di wajah Neji.

"Ayo masuk, di sini tak baik untuk kesehatanmu." Mengabaikan wajahnya yang memanas, Neji membantu Hinata bangun dari duduknya, dan memapahnya masuk ke dalam rumah.

.

oORMOo

.

"Biarkan aku menembus dosaku." Naruto memandang rembulan dari bingkai jendela kamarnya. Di sisi tempat tidur Naruto, terlihat Shion tengah memeluk guling sembari menenggelamkan wajahnya di sana.

"Dia bahkan tak mengingatmu. Toh, yang kau lakukan dulu pun demi kebaikan dirinya. Kau harus tegas dalam memilih, Naruto-kun," racau Shion sambil mengintip punggung Naruto dari celah guling yang menutupi wajahnya. Gadis itu telah mendengar apa yang terjadi pada Hinata dari penjelasan Naruto tadi, ketika pemuda itu pulang ke apartemen mereka dengan penampilan kacau. Gusar, Shion pun melepas dekapannya pada guling yang ia peluk dengan mesra sendari tadi, dan menaruhnya di sebelah tempatnya duduk. Setelahnya, ia mengikuti arah pandangan Naruto menatap rembulan.

"Kali ini saja, Shion. Izinkan aku membahagiakannya sebelum ajal menjemputnya."

"Kau hanya akan membuka lembaran lamanya, Naruto-kun." Menghela napas pajang, barulah Shion menyambung perkataannya. "Sekarang pun, mungkin saja ia telah bahagia dengan kehidupan barunya. Kau hanya akan menjadi batu sandungan untuknya meraih ketenangan, karena dengan kau kembali padanya sama saja kau mengusik kehidupannya lagi."

Naruto berbalik, ditatapnya manik violet yang kini menatap permata sebiru langitnya pilu. Dalam hidupnya, hanya Shionlah yang tak pernah lelah menatap matanya, tak pernah -lagi- berpaling dari dirinya, itulah yang membuat Naruto tertarik pada gadis itu, sehingga membuat hatinya dulu bercabang menjadi dua, antara Shion dan Hinata. Mereka berdua punya tempat tersendiri di dalam hatinya, namun dirinya tetaplah manusia yang terkadang salah menentukan pilihan, dan juga salah mendengar apa yang dikatakan nuraninya.

"Ini seperti dulu, bukan?" Naruto terkekeh pelan. Kaki berbalut celana panjang berwarna hitam itu mulai melangkah mendekati tempat di mana Shion duduk, setelah sampai empunya kaki itu pun mencondongkan tubuhnya, membuat wajahnya kini tinggal beberapa senti saja dari wajah Shion. "Beri aku kesempatan untuk kembali menentukan pilihan. Jika memang kita berjodoh, aku akan kembali lagi padamu."

"Jika takdir berkehendak lain, maka aku harus merelakanmu, begitu?" Shion menyahut cepat, genangan air mata mulai terlihat di pelupuk matanya.

"Kau yang terbaik, Shion. Kau tak selemah ini hingga tak sulit untukmu melepasku." Sebuah cengiran Naruto sunggingkan, secara perlahan sebelah lengannya terulur untuk menyeka cairan bening di sudut mata Shion, lalu ditangkupnya wajah gadis itu.

Tak lama, sudut bibir Shion melengkung menciptakan seulas senyum. "Berjuanglah, dan aku akan ada kapanpun kau ingin kembali." Setelah Shion menyerukan hal itu, Naruto lekas memeluk tubuh mungil di hadapannya sebagai salam perpisahan.

.

oORMOo

.

Desa Ame tidaklah seluas yang terlihat dipeta, oleh karena itu saat ini Naruto telah berhasil menemukan tempat Hinata mengajar. Suara nyaring khas anak-anak terdengar menggema di sekeliling koridor yang kini tengah Naruto lalui. Dengan semangat empat lima Naruto membuka pintu kelas di hadapannya, sehingga menampilkan sesosok Sensei yang sedang menerangkan mengenai gambar buah-buahan di samping sebuah papan tulis.

Mendengar decitan pintu yang dibuka, Gadis Lavender itu, Hinata, sejenak berhenti dari pekerjaannya, dan menoleh ke arah pintu masuk kelas. Semburat merah samar nampak singgah di wajah ayunya kala melihat sosok yang masih berdiri di luar pintu masuk sana. Mengerti maksud kehadiran pemuda berambut pirang jabrig tersebut, sekilas Hinata pun mengangguk, mempersilahkan lelaki itu masuk ke dalam kelas.

"Anak-anak, perkenalkan dia..."

'Suara lembutmu masih sama seperti dulu, Hinata. Kini, aku akan memulainya dari awal lagi, perkenalkan aku...'

"Uzumaki Naruto."

Bersambung...

.

.

.

Balas riviu nyoo!

Diella: Hahaha Hinata nggak meninggal kok. Wah, NaruShion hanya slight lho, pair utamanya kan NaruHina ^^ makasih untuk riviunya, ya, Say! X)

mitsu-tsuki maaf gak login: Haii, salam kenal juga, Tsuki-chan/-kun ^^ #SKSDkambuh. Hahaha sudah nasib Hinata seperti itu #slap. (Tapi ntar Naru pasti nyesel dong, udah mutusin Hinata, ya kan ya? hehehe) Pastinya bakal ada penyesalan dong, Say #noeldaguTsuki. (Apa nanti ada pihak ketiga cowok yang akan suka sama Hinata selama Hinata hilang ingatan itu?) Yupz, ada Neji kan tuh yg suka sama Hinata, hihi. Osh! Ini udah apdet, terima kasih untuk riviu dan support-nya, ya, Tsuki #hugs

ramdhan-kun: Entah kenapa saya nebak kalo ini cowok, hihi #abaikan. Osh! Ini sudah dilanjut, makasih untuk riviunya, ya, Say! X)

Akari Yuka: Amiin, semoga saja ending-nya begitu, hihi ^^. Kyakya senang deh kalau kamu suka, ini sudah dilanjutkan. Terima kasih untuk riviunya dan sudah mau menunggu chapter selanjutnya, ya. #hugs :D

koneko: Sou ka? *peluk Neko nyampe sekarat*. Setuju, Naruto emang baka! #plakk (Jadi Naruto selingkuh ama Shion?) wah kamu peramal, ya? kok bisa tau, hehehe. Ah, terima kasih banyak untuk riviunya dan sudah mau menunggu chapter selanjutnya, ya. #hugs

Love NH: Ckckck, kenapa harus NH yg kaucinta, kenapa bukan aku? Kenapa harus dia #abaikan ^^. (Apa nanti Hinata mengalami amnesia yah?) Kau pasti dukun, benar sekali sih tebakannya, hehehe. Yeps ini sudah dilanjutkan :D-an terima kasih banyak untuk riviunya dan penungguannya, ya. #terharu

A/N: A-ano nyoo, gomen apdetnya ngaret nyoo, rencananya biar kengaretan itu jadi ciri khas nyoo #dipanggang. Nambah mirip sinetron ya? hihi. Osh, no more bacot -lagi. Saran, kritik, concrit, atau bahkan ada yang mau bertanya, (jika berkenan) silahkan tuangkan di kotak review. Supaya saya dapat memperbaiki diri di ch mendatang, hehe. Terima kasih sudah mau mampir, ya #hugs.