Pairing : Naruto x Sakura

Rate : T

Genre : Friendship, romance, humor, hurt/comfort (maaf jika banyak typo, hehe)

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto (kalau punya chibi, udah dari awal kale naruto pacaran sama sakura, hehe) *di gampar readers

WARNING : 00C, alur gaje cerita buatanku, lebay (mungkin), author masih pemula (maklumi), untuk yang sengaja maupun yang tidak sengaja membaca fanfic abal-abal ini tolong komen ya *0* (plak).

.

.

.

.

Don't like ? Don't read!

Itadakimasu ^^

.

.

.

.

"Tu-tunggu!" panggil Sakura saat menyadari kalau sasuke akan menghilang dari hadapannya.

Sasuke menolehkan wajahnya, menatap sakura datar. "Hn?" tanya Sasuke.

"I-ini, untukmu." ujar Sakura memberanikan diri untuk memberikan syal rajutannya yang telah di bungkus kado pada sasuke.

Alis sasuke bertaut saat melihat kotak yang beraksen pita blue dongker itu. "Apa ini?" tanya sasuke.

"I-ini hadiah ulang tahun untukmu, Sasuke-kun." Jawab sakura tergagap.

'Ternyata aku masih bisa mendapatkan hadiah itu eh? tapi tak apa lah kalau cuma satu.' batin sasuke, lalu tangan sasuke menerima hadiah itu dari sakura.

Sakura sangat senang karena ternyata Sasuke mau menerimanya. Di sisi lain Sasuke melihat sesuatu di jari manis sakura, itu sebuah 'cincin'.

"Terima kasih atas hadiahnya, err…" ujar Sasuke.

"Sakura, namaku Sakura." jawab Sakura girang, sungguh, ternyata tidak sia-sia sakura menolong ino untuk berada di atap sekolah, ternyata dia bisa bertemu dengan sang pujaan hati.

"Ya, terima kasih Sakura, dan…" ujar Sasuke menyeringai. "Salam untuk tunanganmu." Sambungnya seraya melenggang pergi. Meninggalkan Sakura yang terdiam membatu di tempat.

Otaknya kembali mengulang perkataan Sasuke barusan. "E?"

"Salam untuk tunanganmu."

Perlahan mata Sakura beralih pada cincin yang ia kenakan, saat itu pun dia menyadari sesuatu.

"EEEEEHHH?"

.

.

.

.

Ring Chapter 2

.

.

.

.

Kicauan burung dipagi hari tentu membuat siapa saja tenang mendengarnya, apalagi dihari libur seperti ini. Pagi yang sempurna akan dirasakan jika kita merasakannya langsung untuk pergi keluar rumah dengan udara yang masih jernih ini. Namun siapa sangka jika ada juga orang yang tidak memperdulikan hal itu.

Terbukti dari sosok yang ada dalam kamar ini, sinar matahari yang menyeruak masuk melalui jendela tak kunjung membangunkannya dari alam mimpi. Keadaan tidurnya sama dengan kacaunya keadaan disini. Kamar yang begitu berantakan dari seorang pemuda tampan. Ya, kini yang tengah tidur diatas KingSize yang serupa dengan warna matanya, Bluesapphire dan bertuliskan, Namikaze Naruto. Naruto?.

KRIING!

KRIING!

KRIING!

Suara alarm terdengar begitu nyaring, namun tak begitu terdengar karena kini sang empu menenggelamkannya dibawah bantal yang ia kenakan. Namun sayang, hal itu tetap mengganggu acara tidurnya karena getaran dari bawah bantal.

"Ck, berisik! aku masih ngantuk!" Decaknya seraya melempar alarm tak berdosa itu .Ia sendiripun langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

"Naruto, cepat bangun." Ujar suara feminim dibalik pintu kamar Naruto.

Naruto menggeliat dibalik selimutnya, "Masih ngantuk bu, lagipula sekarang kan hari libur." Jawabnya malas.

"Baka, sekarang kan kau harus menghadiri acara pertunanganmu dengan Hinata!" bentak sang ibu sebal.

Naruto menyingkirkan selimutnya dengan kasar, "Iya, iya, dasar bawel." Jawabnya asal seraya melenggang masuk kekamar mandi.

"Pakai Tuxedo yang ibu belikan kemarin, jangan lupa pakai dasinya, dan ingat, bagian lengannya jangan dilipat." Cerocos sang Ibu tanpa henti.

Naruto mendesah kesal, "Tenang saja! aku akan pakai kaos dengan bawahan boxer, memakai dasi pita, aku akan tampil sejelek mungkin!"

"NARUTOOO!"

.

.

.

.

"Sebal! sebal! sebal! Sebaaaaaaal!" teriak gadis bersurai merah muda ini. bantal yang menumpu kepalanya ia lemparkan kesembarang arah, dan kembali mengacak kasur nan manis itu. ada apa sebenarnya?

Pasalnya tentang kejadian kemarin siang disekolah. Saat ia memberikan hadiah ulang tahun pada sang pujaan hati ~Uchiha Sasuke. Awalnya berjalan lancar meskipun pertemuan mereka disebabkan oleh Ino, tapi tentu Sakura sangat senang. Dan masalahnya adalah, benda yang kini bertengger manis dijari manisnya. Benda bulat nan indah, setiap ukirannya pastilah mengikat kaum hawa.

Namun tidak dengan Sakura, karena benda itulah yang membuatnya setengah mati malu dihadapan Sasuke. bagaimana tidak? jika dirimu memberikan hadiah pada pujaan hati dan terjadi kesalahpahaman, memakai cincin dijari manis dan pastilah tentang statusmu yang dianggap sudah bertunangan? memalukan. apa ada wanita yang nekat melakukan itu, rendahan. Dan Sakura berpikir Sasuke pasti mengecapnya seperti itu.

"Tidaaaaaaaak!" Teriaknya frustasi.

Sakura kembali menggeram, "Ini semua karena penjual sialan itu!" Ia bangkit dan berdiri diatas kasurnya dengan mengepalkan kedua tangan. "Naruto, itu namanya."

Dan yup! siberengsek itu ~menurut Sakura. yang memberikan jaminan sang pujaan hati akan jatuh cinta padanya saat memakai cincin ini, tapi ternyata malah menimbulkan mala petaka. Dan Sakura akan menjamin, selanjutnya dialah yang akan membuat Naruto menyesal, sama seperti dirinya.

"Sakura, tolong belanja ditoko kimichisou yang kemarin baru dibuka, Ibu yakin sekarang adalah masanya diskon besar-besaran." Ujar sang ibu dibalik pintu kamar Sakura.

Sakura mendesah sebal, oh ayolah, sekarang kan hari minggu. Kenapa ia harus bangun sepagi ini. pagi menurutmu? Ayo lihat jam didinding itu, pukul sembilan. "Eh? tumben aku bangun siang sekali." gumam Sakura.

"Sakura, kau dengar tidak?" tanya Ibunya lagi

"Iya bu, aku dengar."

.

.

.

.

Suasana hening tergambar didalam mobil mewah ini, Limousine. Pemuda tampan dengan kemeja putih yang dibalut tuxedo hitam, membuatnya semakin mempesona untuk dilirik. Blueshappirenya memandang datar pemandangan sekilat dari kaca mobil. Ia kembali mendesah tak kala melihat jam dilengannya.

"Kapan kita sampai?" tanya Pemuda itu bosan.

Wanita paruh baya yang duduk disebelahnya pun menoleh, "Sabar Naruto, kediaman Hyuga ada diperbatasan Konoha dengan Oto." Jawabnya lembut.

Naruto mendengus, "Kenapa jauh sekali sih, bukankan clan Hyuga masih sedarah dengan Konoha? kenapa kediamannya seperti berpihak pada dua kota saja."

"Jangan bicara seperti itu, Naruto. bagaimanapun juga Hyuga akan menjadi bagian keluarga kita." Ujar sang Ibu sedikit kesal dengan cara bicara anaknya itu.

"Ck! aku haus, aku ingin membeli minum dulu." ujar Naruto yang mulai bosan.

Sang sopir hanya menunggu persetujuan dari nyonya besarnya, untuk memberhentikan mobil sesuai keinginan tuan muda. Ibu Naruto pun hanya bisa mengangguk pasrah, ia tidak bisa terlalu keras pada anak satu-satunya itu. Limousine itupun berhenti tepat disebuah toko swalayan dipinggir kota tersebut. Naruto segera keluar dan memasuki swalayan itu, baginya berlama-lama berdebat dengan sang Ibu hanya akan membuat masalah dengan sang Ayah. Jadi dia memilih untuk menjauh barang sebentar saja.

Tangan kekarnya mengambil sekaleng Juice dari mesin minuman itu, dan mencari beberapa camilan. Matanya melihat sosok familiar didepannya. "Pink?" herannya saat melihat rambut wanita itu.

Seakan tak sadar diperhatikan, wanita itu kembali memilih jenis sayuran yang tertera dikertas belajanya. Naruto sedikit tersentak saat ingat siapa wanita itu ~Haruno Sakura. yang kemarin menjadi korban penitipan cincin tunangannya dengan Hinata. Tunggu dulu, cincin?.

"Cih! aku lupa mengambilnya kembali, sedangkan sekarang adalah acara pertunangannya." Decaknya frustasi.

Karena kecerobohannya menitipkan cincin itu pada Sakura, kini ia lupa mengambilnya kembali pada gadis itu. dan apakah Naruto tahu, jika Sakura bahkan tidak tahu kalau Naruto ternyata hanya 'menitipkan' cincin itu padanya, bukan menjualnya.

.

FLASHBACK ON

Pemuda tampan beriris Onyx ini menatap tajam pada lawan bicaranya sekarang, bagaimana tidak? ia hanya diabaikan dan lawan bicaranya ini lebih memilih menyimpan benda ditangannya keberbagai tempat yang telah ia acak. Namun sedari tadi hasilnya tetap sama, benda itu masih ada digenggamannya. Dan hanya membuat kamarnya berantakan saja.

"Kau buang saja benda itu," komentar Pemuda beriris Onyx itu bosan.

"Kau gila, Sasuke! cincin ini akan menjamin hidupku saat berhadapan dengan Ayahku nanti." Bentak pemuda beriris Blueshappire itu.

Sasuke memutar bola matanya bosan, "Naruto Baka, lalu kenapa kau ingin menyembunyikannya?"

Naruto menghempaskan tubuhnya dikingsize bluedongker itu, "Ayahku menyuruhku untuk membeli cincin pertunangan sendirian, katanya sih jika ukurannya pas ia akan menjadi calon tunanganku." ujar Naruto bercerita.

"Ck, mitos." decak Sasuke.

"Tapi karena terlalu banyak model dan berbagai merk terkenal yang dijelaskan padaku, aku jadi bingung setengah mati." Lanjutnya lirih, "Aku kan bukan lelaki yang mengerti fashion wanita."

"Hn," tanggap Sasuke.

Tangannya terangkat untuk melihat cincin itu dari dekat, "Tapi kata pelayan itu, ada satu cincin legendaris yang terkenal ampuh dalam mempersatukan cinta yang sempurna, cincin yang dimaksud adalah yang kupegang ini." ujar Naruto memperhatikan cincin itu.

Sasuke menoleh pada Naruto, "Legendaris? apa maksudmu?"

"Entahlah, sekarang aku hanya harus menyembunyikan cincin ini sampai acara pertunangannya dimulai," jawab Naruto bangkit.

"Itu inti masalahnya, kenapa kau ingin menyembunyikan cincin itu?" tanya Sasuke.

Naruto menoleh, "Ibuku maniak fashion, jika ia tahu cincin ini aku beli untuk pertunanganku nanti, dia akan merampasnya dan pasti ingin memilikinya."

GUBRAK

Sasuke sweetdrop?. Naruto gila! hanya karena hal sepele seperti itu dia rela mengobrak abrik seisi kamar Sasuke?. pemuda emo itu menatap tajam Naruto saat Naruto memelas meminta tolong padanya.

"Baiklah, bagaimana kalau kau berikan pada sisiwi sekolah kita saja. hanya menitipkanya sementara lalu kau ambil kembali." seringai Sasuke.

Naruto bergidik, "Ide gila! aku tidak mau tubuhku remuk karena serangan mereka."

"Itu cara satu-satunya bodoh, jika kau tidak ingin rugi, kau hanya perlu menyamar menjadi orang lain dan lakukan." ujar Sasuke datar.

Naruto nampak berpikir, ada bagusnya ide gila Sasuke. tapi bagaimana caranya ia menyamar. Dan terpintas sebuah cara yang sebenarnya akan membuat Naruto terjatuh dalam permainan cinta sesungguhnya.

"Baiklah, aku lakukan saja itu." Ya, seperti yang kalian pikirkan apa yang terjadi selanjutnya.

FLASHBACK OFF

.

Bagaimana ini?. itulah pertanyaan dibenak Naruto. tidak ada cara lain selain menghampiri Sakura dan meminta kembali cincin itu, toh ia akan mengembalikan uang Sakura yang tidak seberapa itu. tapi masalahnya, ia tidak tahu resiko apa yang akan ia terima setelah melakukan itu.

Mengingat sang Ayah yang akan mengamuk jika keinginannya tidak terpenuhi, membuat niat Naruto semakin besar untuk mengambil kembali cincin itu. kini ia melangkahkan kakinya menghampiri Sakura, mencoba mengangkat tangan dan menyentuh bahu gadis itu.

"Tomat, selada, timun, kentang, yup! semua sayurannya sudah." ujar Sakura melihat daftar belanjanya. "Tinggal membeli bu~" kata-katanya terpotong saat membalikkan badan dan melihat Naruto tengah berdiri dihadapannya.

Naruto hanya nyengir ala kuda, "Hehe, ~hai?" sapa Naruto ragu.

"KAUUUUUU!"

"Ah? suara apa itu?" tanya Ibu Naruto pada sang sopir yang menunggu Naruto didalam mobil.

Sang sopir hanya menggeleng, "Sepertinya dari dalam toko yang dimasuki tuan muda, nyonya." Jawabnya tidak yakin.

Meski suara teriakan itu ~teriakan Sakura, dinilai sangat keras. Namun tetap saja mobil limousine ini kedap suara. Jadi hanya seperempat nada diluarnya terdengar kedalam (?). Pindah kenasib Naruto. kini pemuda itu tengah menutup telinganya kuat-kuat, sunguh kuat teriakan Sakura. bahkan para pembeli didalam hampir pingsan semua.

"Jangan berteriak seperti itu ~BUAGH!" Naruto terhuyung kebelakang akibat serangan berbagai sayuran yang dilempar Sakura ke kepalanya. Mulai dari kentang, kol, tomat, dan timun yang ukurannya lumayan besar.

"KARENA KAU, AKU JADI MENANGGUNG MALU DIHADAPAN SASUKE-KUN KEMARIN!" teriak Sakura penuh emosi, tangannya tak kunjung berhenti melemparkan berbagai sayuran yang bertengger dilemari sayuran itu.

Tunggu dulu, Sasuke katanya?. Apa mungkin lelaki yang akan diberi hadiah olehnya adalah Sasuke?. kini Naruto bagaikan ada didrama kehidupan yang mulai rumit. "Hei, berhenti dulu." pinta Naruto saat Sakura akan melemparkan sayuran itu padanya.

"APA LAGI? KAU INGIN AKU MENGHAJARMU SEKARANG?" teriak Sakura semakin kesal.

Naruto mendesah, sepertinya ia benar-benar membuat Sakura kesal setengah mati padanya, baru sadar eh?. "Aku akan menjelaskan yang sebenarnya padamu, sungguh." ujar Naruto coba meyakinkan Sakura.

Namun nihil, Sakura semakin liar dan mengamuk akibat kekesalannya. Hei jika begini caranya seisi swalayan ini akan berantakan tak tersisa. Bahkan para pembeli kini sudah berhamburan mencari tempat yang aman (?).

Sial, ia harus bagaimana untuk menenangkan gadis ini?. oh ayolah, ia tak berpengalaman menenangkan seorang gadis selama hidupnya.

"Karena kau aku pasti dicap murahan oleh Sasuke-kun, karena kau Sasuke-kun akan benci padaku, karena kau aku menanggung malu yang besar pada Sasuke-kun, hiks." Ujar Sakura yang mulai mereda emosinya, namun diganti dengan tangisan.

Naruto tersentak, Sakura menangis begitu memilukan. Ia merasa sangat bersalah kali ini.

"Setelah kejadian itupun, aku tidak tahu apakah aku bisa melihat dan bertemu Sasuke-kun kembali, aku begitu malu padanya." sambung Sakura lirih.

'Hentikan, rasanya sakit jika aku yang disalahkan hanya karena ia suka pada siTeme itu.' batin Naruto berontak.

"Kau tahu? aku membuatkan syal pada Sasuke hampir satu minggu lamanya, dan itu membuat tanganku memar." ujar Sakura melepaskan berbagai sayuran yang ia pegang itu. "Tapi aku terus bersemangat karena yakin, Sasuke-kun pasti akan menerimanya." Sambungnya dengan tangis tanpa henti.

'Hentikan, aku mohon.' batin Naruto lagi.

"Tapi kenyataannya, aku malah menanggung malu karena cincin bodohmu i ~GREB!" perkataan Sakura terpotong saat Naruto memeluknya, dengan tiba-tiba.

"Hentikan, aku mohon." pinta Naruto yang sadar dengan apa yang ia lakukan saat ini.

Mata Sakura terbelalak saat menyadari perlakuan Naruto padanya, entah apa yang ia rasakan saat ini. kesal? sudah pasti, tapi apa ini?.

Beberapa saat Sakura mencerna apa yang sebenarnya terjadi, dengan Naruto yang masih memeluknya. Ia kembali sadar saat sudah banyak orang yang tak lain adalah para pembeli sedang memperhatikan mereka berdua dengan tatapan aneh, dan bisikan-bisikan yang tak masuk akal.

"Psst, ternyata mereka suami istri yang romantis ya," Ujar salah satu dari mereka.

Deg. Suami istri katanya? Sakura benar-benar pusing, otaknya tak mampu lagi menampung segala keanehan ini. karena itulah, ia beringsut dalam pelukan Naruto. Naruto hanya memanggil namanya khawatir. Tapi tetap tidak ada jawaban, Sakura pingsan.

"Naruto lama sekali, sedang apa dia didalam?" tanya Ibu Naruto khawatir.

"Biar saya yang melihatnya, nyonya." Ujar sang sopir hendak membuka pintu mobil, namun sang nyonya membuatnya menghentikan niatnya.

"Biar aku saja yang melihat, lagipula sepertinya Naruto lupa membawa dompetnya." Ujar sang Ibu tersenyum maklum dengan sifat pelupa anaknya, dengan dompet yang berada ditempat yang diduduki Naruto tadi.

"Baiklah, nyonya."

#Sementara itu

"Sakura, kau kenapa?" tanya Naruto khawatir saat Sakura tak kunjung bangun. Haruskah ia membawanya kerumah sakit?. Tapi jika Ibunya tahu, masalahnya akan lebih rumit.

"Naruto."

Deg!

.

.

.

.

.

To bE CoNtiNueD.

.

.

.

.

.

A/N : Bingoo, chapter dua kawan ^^. Hehehe sepertinya kependekan ya? tapi syukurlah sudah selesai. Bagus tidaknya, pas tidaknya, nyambung tidaknya, enak tidaknya (?), nyaman tidaknya (?), ok mulai gax nyambung. Semuanya bagaimana minna-chan ^^.

Gomen ne sudah mengecewakan kalian, karena sangat telat publishan.a (_ _). Selanjutnya aku akan usahakan pem-publishan seminggu setelah chapter terbaru. (Kalau bisa ya)

Hanya bisa bilang R&R pleace, hihihihi.

Arigaotu gozaimasu buat yang sudah baca dan review, chayang semuaaaa ^^.

Dewa Mata Nochi Hodo ^^