Afa-ssi
.
.
Uri Sunbae My Everything (Chapter 2)
.
.
Perhatian! ada tokoh OC yang muncul di chapter ini dan cast tersebut berasal dari otak lelah afa...
.
.
Flashback ON~
Luhan berjalan malu-malu di kawasan sekolah sambil mencari keberadaan Baekhyun dan Kyungsoo, mata Luhan terlalu sibuk menelusuri kanan dan kiri untuk menemukan kedua temannya itu ketika Luhan tak sengaja menabrak seorang gadis cantik yang nampaknya menjabat sebagai salah satu senior yang bertugas menguji setiap siswa baru atau yang sering disebut dengan Ospek.
"Hey! Kalau berjalan lihat sekelilingmu, dong!" Ia menghardik Luhan dengan keras.
Luhan hanya bisa menunduk sambil menggumamkan kata maaf berulang-ulang. "Hey. Tatap aku, gadis culun! jangan menatap ke bawah, tidak ada apapun disana keculi kaki indahku" gadis itu menatap Luhan jijik seolah Luhan adalah cacing penuh lumpur yang terdampar sehabis hujan.
Luhan pun memberanikan diri untuk menatap wajah gadis itu. Kulit putih, rambut panjang berwarna hitam dan ujungnya berwarna kecoklatan yang dibiarkan tergerai bebas menambah kesan Gadis modis dengan aura penguasa yang memancar dari tubuhnya.
Gadis itu menatap luhan sinis "kau mengagumiku, anak kecil? temui aku di sebelah selatan patung kepala Einstein sehabis ospek. Aku akan membuat suatu kejutan untukmu dan aku memaksa." senior perempuan Luhan itu berkata dalam nada yang terdengar misterius sebalum ia meninggalkan Luhan yang masih merasa serba salah karena ia bahkan barusaja masuk ke sekolah ini dan sudah mendapat tindakan yang membuat siapapun siswa baru yang belum mengenal lingkungan sekitar merasa aneh.
.
.
Kegiatan pertamanya sebagai siswa baru berjalan lancar dan menyenangkan bagi Luhan. Dia mendapat banyak teman baik karena memang drinya kategori anak yang mudah menyesuaikan diri. Hal tersebut sampat membuat Luhan lupa akan seniornya yang meminta untuk bertemu dengan Luhan seusai ospek, saat teringat akan hal itu, Luhan mendapatkan kembali rasa takutnya.
Saat kegiatan ospek hari itu telah benar-benar selesai, Luhan menolak ketika Baekhyun mengatakan ingin pulang bersamanya dan akan mentraktir Luhan di sebuah Cafe, karena tentu saja Luhan berniat unntuk menemui senior perempuannya yang mungkin telah menunggu di tempat yang telah ditentukan. Luhan tidak ingin dicap sebagai pengecut karena dia akan meminta maaf (lagi) pada kakak kelasnya.
.
.
Saat Luhan sampai di tempat yang dikatakan oleh Gadis beraura penguasa itu. Luhan menunggu beberapa menit sampai 3 sosok perempuan datang mendekatinya. Luhan tak mengenal 2 sosok perempuan itu. Tapi yang jelas, Luhan mengenal salah satu dari mereka. Dia adalah Siswi yang ditabrak oleh Luhan tadi pagi! tapi tunggu dulu, sepertinya mereka membawa sesuatu...itu seperti kotak berukuran sedang, ah..jangan-jangan..
"Hai gadis kecil, sudah lama menungguku?" Dia membuka pertemuan canggung ini dengan kalimat yang terdengar agak ramah. "Ah, belum lama, Sunbae. Aku kemari bertemu Sunbae ingim meminta maaf atas kejadian pagi tadi. Saat itu aku tidak sengaja menabrak Sunbae, aku sedang mencari kedu.."
"Shh.. Aku tau maksudmu untuk menemuiku. Kau gadis yang baik, tapi kau tetap berbuat suatu kesalahan. Maka aku harus menghukummu" Ia berkata disusul sebuah seringai di wajah cantiknya. Seringai itu membuat Luhan bergidik dan ia menyadari ada yang tidak beres dengan seringai itu.
"Kemari, duduk di dekatku agar aku bisa melihat wajahmu" Gadis itu tersenyum pada Luhan yang terlihat was-was
"eng.. Sepertinya aku harus pulang, Eomma akan mencariku" Luhan membungkuk pada gadis itu dan belum sampai tiga langkah ia berjalan gadis tadi sudah membentaknya " Siapa ynag menyuruhmu pergi, HAH?!, kemari kau anak culun!"
Itu merupakan awal dari pembullyan yang dilakukan terhadap Luhan.
.
30 Menit kemudian~
"Nah, sekarang kau sudah menjadi gadis cantik. Tinggal kau pakai Baju ini, maka kau akan terliha lebih cantik lagi" Kata Lee Nia, teman dari Perempuan yang mempelopori aksi pembullyan terhadap Luhan.
" Tapi, aku lelah. Aku ingin pulang" Luhan memelas
"Aku belum menyuruhmu pulang, sekarang lekas pakai baju itu!" Luhan hanya bisa menahan tangisnya saat dia dipaksa untuk memakai dress biru dongker selutut dan tak berlengan yang menurut Luhan itu sangat terbuka. Ditambah lagi polesan make-up tebal yang membuat Luhan sekilas terlihat seperti 'jalang'. Mengingat itu Luhan semakin ingn menangis dan berlari pulang.
"Hey, lihat dirinya. Cantik bukan?tentu saja. Bukankah aku sendiri yang mendandaninya? sekarang dia siap untuk berjalan di atas lantai Catwalk!" ketiga gadis itu tertawa terbahak-bahak melihat tampang Luhan dengan hasil karya mereka yang menjijikan.
"Bolehkah aku pulang sekarang? ini mulai sore dan eomma pasti mengkhawatirkanku" pinta Luhan masih memelas dan disambut tatapan rendah dari ketiga permpuan yang telah mempermalukannya
"kau boleh pulang setelah kami mengajakmu jalan-jalan di sekitar sini" mata Luhan memanas tanpa kacamata mengahalanginya karena mereka telah merebut barang tersebut saat mereka mendandani Luhan. Hatinya menjerit meminta tolong pada tuhan agar ia bisa cepat pulang dan terbebeas dari mereka.
.
.
Setelah dipermalukan di khalayak umum, Luhan diijinkan pulang walau masih dengan make-up tebal melekat di wajahnya. Luhan hanya boleh mengganti dress sialan itu dengan seragamnya yang sudah tak terbentuk. Setelah sampai dirumah Luhan disambut wajah khawatir dan heram dari ibunya, namun setelah Luhan membersihkan diri dan menceritakan semuanya pada Eommanya, beliau mengerti dan berjanji tak akan mengatakan hal ini pada siapapun.
Flashback OFF~
.
.
"Woy, Luhan, kau melamun? Luhan... LUHAN, SADARLAH!" Teriakan Baekhyun cukup untuk membuat Luhan kembali ke masa kini dengan teman-teman di sekitarnya yang memandangi Baekhyun ynag barusaja berteriak. Mungkin mereka pikir Baekhyun adalah siswi yang mempunyai suara dengan oktaf yang tinggi.
"Baek.. Jangan berisik, nanti orang berpikiran aneh tentang mu" Luhan mau tak mau juga akan terkena tatapan orang-orang karena dialah ynag duduk di samping Baekhyun. "Masa bodoh dengan pikiran mereka, aku memang aneh dan itu sudah terjadi sejak dulu jika perlu ku ingatkan, nona Xi" Baekhyun berbicara dengan bahasa formal yang dibuat-buat kepada Luhan. Namun Luhan sepertinya tidak mendengarkannya karena sibuk dengan segelas jus melon yang dipesannya dari ibu kantin. Ya,mereka sedang menikmati jam istirahat saat Luhan kembali teringat bagaimana kronologi pembullyan yang pernah didapatnya saat masih menjadi siswa baru disini.
"Hey Lu, dari tadi kau melamun. Ada masalah? ceritalah pada kami" kali ini kyungsoo ambil suara sejak kentang gorengnya habis. Zhera bahkan juga memajukan letak duduknya untuk mendengarkan cerita yang mungkin sebentar lagi akan mengalir dari bibir tipis Luhan.
"Entah lah teman-teman, aku sedang banyak pikiran"
"Apa kau memikirkan tentang pembullyan itu?" Ujar Baekhyun santai sambil memasukan sepotong keripik kentang yang dibelinya.
"Hei, bagaimana kau bisa tau? apa kamu mempunyai sebuah chip yang kau pasang di otakku untuk mengetahui apa yang sedang aku pikirkan?" Luhan menatap Baekhyun curiga. Namun yang ditatap malah memutarkan bola matanya sambil mengatakan bahwa sahabat yang saling menyayangi bagaimanapun akan tau apa yang sedang menjadi masalah seorang dari sahabatnya, Walau ia tidak mengatakannya secara langsung.
Luhan tidak berpikir Baekhyun sedang membual, karena menurut Luhan itu memang benar. Teman-temannya selalu ada saat Luhan membutuhkan mereka. Dan Luhan pun berusaha untuk selalu ada saat teman-temannya sedang butuh kehadiran Luhan. Tapi bagi Luhan tak masalah jika ada orang yang menyebut Luhan adalah kawan yang tidak mempunyai komitmen karena Luhan hanya datang saat dia membutuhkan orang lain, tapi Luhan tidak seperti itu. Dia kadang terlihat menjauh dari teman-temannya karena dia khawatir kehadirannya akan menggangu kawan-kawannya. Tapi ya memang itu Luhan, Luhan yang Istimewa, Luhan yang tidak bisa dibandingkan dengan Luhan-Luhan lain di dunia. Pikiran Luhan mulai melantur hingga...
"Kalian membicarakan apa sih? pembullyan apa yang dialami Luhan? aku tidak tau, seseorang ceritakan padaku ayolah..." Zhera yang sejak tadi diam mulai angkat bicara. Ketiga trio berisik itu berpandangan dan akhirnya Luhan berkata "Baek, ceritakan pada Zhera"
"Mwo? kenapa harus aku? Kan ada Kyungsoo" Baekhyun menunjuk Kyungsoo dengan keripiknya yang sedari tadi belum habis jua
"karena kau tak pernah lelah bicara baek"
'Tapi aku butuh makan" Baekhyun mengelak dan disusul delikan Luhan dan Kyungsoo serta tatapan memelas Zhera. "Oke.. akan kuceritakan nanti sepolang sekolah Zhe. Kau puas?"
"Hohoho terimakasih Bekhyun-ah" Zhera bertepuk tangan dan berhigh-five dengan Luhan dan Kyungsoo.
.
.
Luhan POV
Saat itu, sekilas aku melihat seseorang berperawakan tinggi menyelinap di kantin yang penuh. Ini perasaanku saja atau itu memang Sehun-sunbae? Ah, paling bukan, ada banyak orang dengan perawakan tubuh mirip dengan Sehun-sunbae. Lagipula kalau itu memang Sehun, bukankah wajar karena ini kantin sekolah dan Sehun pasti juga butuh makan, Ya kan? dan kenapa aku menjadi terobsesi dengan Sehun? 'Ah, Jangan mengada-ada Luhan. Tak ada yang bisa kau banggakan pada Sehun' suara di kepalaku menyuruh untuk melihat siapa diriku. Dan memang benar, aku hanya seorang Luhan.
Luhan POV end~
.
.
KRINGG...KRINGG...KRINGG...
Bel sekolah seolah bicara pada siswa dan siswi di sini untuk kembali ke habitat mereka masing-masing, sekaligus mengingatkan Luhan untuk bertemu dengan Sehun. Saat sang guru Matematika keluar dari kelas X-IPA-1 semua murid berhamburan kesegala arah. Tetapi tdak dengan Luhan, Ia hanya menuju satu arah ketika Kyungsoo memanggilnya
"Luhan, mau pergi kemana kau? ayo pulang"
"Aku ada keperluan sebentar Kyung, pulanglah dahulu, nanti aku akan pulang lebih siang" Kyungsoo menatap Luhan curiga. Namun akhirnya dia percaya dan berlari menyusul Baekhyun dan Zhera.
.
.
Tidak ada orang di sana saat Luhan datang. Ia seperti mengalami Deja Vu, Luhan pernah dalam keadaan seperti ini dan berakhir buruk. Tapi untuk saat ini Luhan meyakinkan dirinya bahwa Sehun orang baik-baik. Dan hal itu benar karena Sehun dengan tas hitam yang bertengger di pundaknya datang kurang dari 5 menit setelah keberadaan Luhan di bawah pohon bodi yang melindunginya dari terik matahari.
"Halo, apa aku terlambat? maaf tadi aku harus menjalankan piket kebersihan kelas dahulu" Pria ini, yang tadi pagi membuat Luhan gugup saat menatap mata elangnya. Pria ini juga yang sempat membuat Luhan berpikir bahwa dirinya terobsesi dengan Sehun.
Luhan menggeleng. "tidak masalah. Aku belum lama sampai di sini, kok"
Setelah Luhan berkata begitu. Sehun mulai mengajukan beberapa pertanyaan soal insiden pembullyan kepada Luhan. Ia juga menanyakan ciri-ciri tersangka, Kronologis kejadian, Perkiraan modus kejadian, TKP, dan masih banyak lagi. Dan saat mengobrol itu pula, Luhan merasa nyaman di dekat Sehun. Mungkin ini terlalu cepat, tapi Luhan memang merasakannya.
Oke, sekarang Sehun dan perbincangan ini terdengar seperti Introgasi dalam suatu tindakan kriminal tingkat tinggi yang dilakukan seorang mafia. Tapi, ayolah.. ini hanya kejadian pembullyan. Namun Sehun bersikap seolah dia adalah seorang agent dari FBI.
"Jadi hipotesisku untuk saat ini adalah, orang yang melakukan itu padamu ialah murid kelas 12, karena hanya murid kelas 12 yang berani mengecat rambut mereka di sini. Dan ku sarankan, kau tetap waspada karena mungkin mereka masih ingat padamu dan menaruh dendam untukmu. Well, penjahat adalah orang pendendam. Kau tahu itu" Luhan menganggukan kepalanya tanda mengerti dan melihat jam tangannya. Sehun juga melakukan hal yang sama dan sadar bahwa mereka telah bericara selama hampir 2 jam.
"Oh, sudah hampir sore. Maaf aku terlalu banyak bicara dan bertanya. Kau bisa pulang sendiri?" Sehun mengatakan hal itu dengan muka bersalah dan kedua kristal yang memandang kearahnya. Hal ini membuat Luhan kehilangan dirinya untuk beberapa detik.
"Eng... Te..Tentu, aku bisa pulang sendiri, dan apa ini sudah cukup? aku merasa sedikit lapar" Luhan sempat berpikir mengapa dia harus mengatakan bahwa dia lapar?. Itu hal yang tidak perlu Sehun ketahui. Tapi sejurus kemudian jantungnya berdegup lebih cepat.
"Kau lapar? mari kutraktir makan di cafe milik orang tua temanku, itu tak jauh dari sini jika kau mau. hitung-hitung sebagai penebusan kesalahanku telah menahanmu cukup lama" sehun mengatakannya sambil membuat tatapan memohon kepada Luhan. Luhan sendiri yang kikuk membalasnya dengan tatapan bimbang karena dia tidak terbiasa makan siang dengan seorang lelaki. Apalagi seperti Sehun yang baru dikenalnya tadi pagi.
"ya, baiklah terserah kau saja" Luhan berusaha menghentikan jantungnya yang meloncat-loncat tidak tahu diri di dalam sana. Setelah mendengar itu Sehun meminta Luhan menunggunya di gerbang depan dan Sehun berlari untuk mengambil sepeda motornya di parkiran.
.
.
Cafe tersebut terletak tak jauh dari sekolah, seperti kata Sehun tadi. Pegunjungnya juga kebanyakan dari kalangan pelajar. Saat barusaja memasuki cafe itu Luhan dan Sehun disambut dengan teriakan seorang laki-laki memakai kaos berwarna merah dan celana selutut "Hei!Sehun, siapa yang kau bawa ini? bukankah dia gadis tadi pagi?" Chanyeol datang dan menyalami Luhan
"Halo, aku Chanyeol. Aku sahabat si albino ini, senang bertemu deganmu, apa kau pacar Sehun?" perkataan Chanyeol barusan mendapat balasan tatapan horor milik Sehun
"Aku Luhan, Xi Luhan. Aku bukan pacar Sehun, senang bertemu denganmu" Luhan melirik sehun yang bersiap mendamprat Chanyeol kalau saja Luhan tak bicara dulu
Sehun terlihat lega saat Chanyeol menggangkat alisnya dengan tidak adil. "kau bukan? lalu kenapa kau mau diajak oleh Sehun kemari? atau mungkin kau baru akan menjadi pacar Sehun?"
"AH,TIDAK" jawab keduanya serempak dan membuat Chanyeol terkikik geli. "ah, baiklah terserah kalian saja, sekarang mau pesan apa?" Luhan membaca daftar menu yang menempel di dinding dam berkata ia ingin roti bakar rasa coklat dan segelas bubble tea rasa vanila. Sehun memesan hal yang sama dengan Luhan, namun dia memesan Ice tea.
.
Saat pesanan datang, Chanyeol kembali dan menanyakan ini-itu pada Sehun dan Luhan. Dari situ dia tahu bahwa Sehun ingin menolong Luhan. "memang sudah seharusnya kau begitu, Hun. Pembullyan sangat rentan terjadi di sekolah dan kau semestinya menjalankan tugasmu"
'Tugas' apa yang dimaksud Chanyeol? dari tadi pagi Luhan mendengar sehun juga menyebut tentang tugas. Apa tugas Sehun begitu penting? Luhan merasa penasaran, tapi ia enggan bertanya langsung karena pikirnya nanti juga terkuak 'tugas' itu.
"Luhan, apa kau sudah selesai? Jika sudah, kau boleh pulang duluan atau menungguku karena aku masih ingin bicara dengan Chanyeol" Sehun membuyarkan lamuan Luhan
"aku akan menunggumu saja Sehun-sunbae, akan tidak sopan bila aku mendahului pulang"
"Tapi pembicaraan ini mungkin akan lama, Luhan. Kau harus pulang, Ibumu pasti sudah mengkhawatirkanmu" Chanyeol turut menyuruh Luhan pulang. Mendengar kata 'ibu' sudah cukup bagi Luhan untuk mengubah keinginannya untuk menuggu Sehun.
"Baiklah, aku akan pulang. Sampai jumpa Sehun-sunbae. Sampai jumpa Chanyeol-sunbae" Luhan berpamitan dan keluar dari cafe tersebut. Lalu ia bergegas ke halte bus untuk pulang.
Di dalam perjalanan,Luhan masih memikirkan tentang tugas yang selalu disebutkan oleh Sehun dan Chanyeol. Apakah ini juga melibatkan dirinya?
.
.
TBC...
Budayakan Review.
haeeee Sebelum cuap-cuap, Afa mau ngucapin
"HAPPY CHANYEOL DAY! HAPPY BIRTHDAY URI CHANYEOL" *Kecup-kecup
"SELAMAT HARI GURU JUGA BAGI SEMUA GURU DI INDONESIA"
Time for cuap-cuap
Maaf karena di chapter ini banyak flashback, itu disengaja untuk memberitahu kepada readers tentang pembullyan terhadap Luhan. Jika ada saran untuk meningkatkan kualitas cerita ini, silahkan hubungi saya lewat PM.
Dan Afa nulis ini malem-malem sambil nunggu jam 00.00 buat ngucapin HaBeDe ke CeYe, ditemeni my bantet, schehana. (oke ini ngga penting -_-)
BIG THANKS TO
Schehana, Geo, Lilis, Elisa, Maryanti De eL eL
kak Arthur Kim
Semua readers yang udah ngedukung cerita ini dan nge-follow/ nge-favorite cerita ini.(aku ngga nyangka sampe ada yang repot-repot nge-favorite cerita yang amatiran ini)
