Disclaimer:
Kurobasu © Fujimaki Tadatoshi
Pertemuan © AkaKuro815
Warning :
AU, Maybe OOC, Typo's dan ALAY
Pairing:
Lihat saja sendiri kalau ada (?)
Don't like, don't read
"Tetsuna?"
"Ah, jadi benar memang Aomine-kun, hisashiburi."
Aomine hanya mengangguk kecil. "Kau—"
"—Aku sekarang salah satu guru di sekolah ini, Aomine-kun." Sambar wanita bersurai baby blue itu sebelum Aomine menyelesaikan kalimatnya. Ia tahu betul pria berkulit tan di hadapannya sekarang pasti akan menanyakan apa yang sedang ia lakukan berada di tempat seperti itu.
"Souka."
"Ngomong-ngomong, tadi aku lihat kau mengantar Yoichi-kun, Aomine-kun."
Pria berkulit tan itu mengrenyitkan dahi, "Yo- ichi, kah?"
Dengan ekspresi masih sama –datar– wanita itu mengangguk. "Ya, anak yang tadi bersamamu— ah, atau jangan-jangan kau tidak tahu namanya, ne Aomine-kun?"
Pria berseragamkan aparat kepolisian itu menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, sudah dapat dipastikan bahwa tebakan Kuroko itu benar.
"Ahoka, Aomine-kun." Ucap Kuroko dengan ekspresi wajah tak berdosa yang membuat sang mantan Ace Touou Gakuen itu merasa sedikit jengkel. "Aku tidak akan meminta maaf untuk itu, Aomine-kun."
"Oi! Tch— sudahlah, aku memang tidak akan menang jika berdebat denganmu, Tetsuna." Si empunya nama hanya menyunggingkan sedikit senyuman di bibir tipisnya ketika kata tersebut keluar dari mulut sang sahabat lama.
"Sepertinya aku harus pergi sekarang." Ucap Aomine beberapa saat setelah ia melirik arlojinya.
Kuroko mengangguk, "Uhm, aku juga harus segera pergi. Sebentar lagi bel sekolah akan berbunyi."
"Sore jaa,Tetsuna!" pamit pria berkulit tan itu seraya menutup kaca mobilnya dan berlalu pergi.
"Takdir kah?" gumam Kuroko ketika berjalan memasuki gerbang sekolah.
RnR
Ditengah suasana sejuknya pagi di hari minggu seorang pria bersurai dark blue tengah berjalan sambil terus bergumam kesal. Sepanjang langkah kakinya berjalan ia tak henti-hentinya mengutuki si wanita berambut merah jambu yang tidak lain adalah istrinya sendiri, Satsuki. Bagaimana tidak, setelah pekarjaannya selama beberapa hari belakangan ini yang bisa dibilang cukup berat ia sangat ingin mengistirahatkan tubuhnya dengan tidur hingga tengah hari dan bermalas-malasan di rumah. Namun iblis merah jambu itu menghancurkan segala harapannya dengan menyuruhnya berbelanja dengan alasan bahwa ia sedang sibuk beres-beres rumah. 'Lagi pula jalan-jalan di pagi hari itu sehat, Dai-chan.'
"Tch— Satsuki itu." Rutuk Aomine sambil terus melangkah maju. Namun langkahnya terhenti ketika melewati sebuah lapangan basket tempat dimana ia biasanya menghabiskan waktunya dulu. Ia melihat seorang bocah laki-laki dengan lincah mendrible bola oranye menuju ke ring diiringi dengan nice shoot yang dilakukannya.
"Yo!" sapa Aomine seraya melangkah memasuki area lapangan untuk menghampiri bocah tersebut.
Bocah berusia 7 tahun itu pun mengalihkan pandangannya lalu tersenyum. "Paman!"
Aomine tersenyum ke arahnya, "Aku lihat permainanmu barusan. Nice shoot, Yoichi."
Bocah itu mengerjap-ngerjapkan matanya. "Ada apa?" tanya Aomine.
"Tidak, hanya saja aku penasaran bagaimana paman bisa mengetahui namaku? Errr... mengingat aku ternyata belum memberitahukan namaku pada paman."
Aomine menyeringai, "Tentu saja aku tahu, makanya kamu jangan meremehkan paman ya, anak kecil." Ucapnya sambil mengacak-acak rambut bocah tersebut, membuatnya menggembungkan pipi jengkel.
"Atau jangan-jangan paman ini stalker ya? atau pengidap pedofilia yang menyukai anak laki-laki imut macem aku? Berarti paman homo. Hiiiiiy... serem." Ucap anak itu sambil bergidik ngeri.
BLETAK!
Sebuah kepalan tangan pun berhasil mendarat dengan mulus di atas kepala anak tersebut. "Ittai yo." Rengeknya.
"Itu hukuman untukmu karena sudah berlaku tidak sopan pada orang yang lebih tua darimu."
"Ne, wakatta yo." masih memanyunkan bibirnya kesal.
Aomine terkekeh. "Mau temani paman? Nanti paman traktir deh." Yoichi –nama anak itu— menyipitkan matanya. "Nande?"
"Aku curiga paman sedang merayuku lalu menculikku dan meminta uang tebusan sejumlah 1 juta yen pada orang tuaku."
Empat siku pun mencul di kening pria berkulit tan tersebut. Ingin sekali ia kembali menjitak kepala anak menyebalkan di hadapannya itu.
"Aku bercanda, paman." Ucapnya diiringi tawa ringan. "Jadi kita mau kemana?" lanjutnya.
"Sudahlah ikut saja."
.
"Aku tidak menyangka seorang pria dewasa bertubuh kekar seperti paman rela keluar di hari libur hanya untuk berbelanja." Ucap Yoichi dengan nada sedikit meledek diiringi tawa, si orang yang diledeknya hanya bisa mendengus kesal.
"Tch— kau terlalu banyak bicara, anak kecil."
"Tehee—" sambil menjulurkan lidah di pinggir bibirnya.
"Omatase!" seorang pelayan datang dengan membawakan nampan berisi dua gelas minuman dan dua piring makanan.
"Arigatou."
"Eh? Yoichi?"
Manik turquoise si empunya nama menatap sosok pelayan tersebut, sebuah senyuman pun mengembang di bibir mungilnya. "Paman!"
Laki-laki itu hanya membalas dengan sebuah senyuman. Lalu matanya tertuju pada sosok berkulit tan yang duduk di sisi lain meja tersebut. "Eh? Aomine, kah?"
Sedangkan Aomine hanya bisa diam tercengang dengan kejadian tersebut. Di benaknya terus bertanya-tanya siapa anak ini sebenarnya.
TBC
Yosh! Chapter 2 update!
Maaf telat banget, maklum saya mager ngetik. . /jduk
Niatnya sih nggak mau bikin nih FF banyak chapter, tapi liat aja deh kedepannya gimana. Selama masih ada yang respon saya bakal apdet terus. Errr... gak gitu juga sih, saya kan nulis cerita hanya untuk kepuasan diri semata. Hehe.
Thanks to psychoarea, UseMyImagination, NaRin RinRin, MinRisa91, takukai yang sudah review, follows dan fav ff ini. Oh ya, thanks juga buat para silent readers kalau ada. XD
Oke, bingung mau bacot apa lagi. yosh! Makasih buat yang udah mau baca apalagi yang mau meninggalkan jejak di kotak ripiu. owo /dor
See you next chapter!
