The Red String.
A/N : Sesuai janji, Aku membuat lanjutan dari TRS (The Red String). Ga nyangka juga bakalan ada yang baca dan review. Rencanannya berakhir pada chapter 5. Tapi… yah namanya juga rencana.
Warning : Typo ga nahan karen angerjain sambil ngebut dan begadang :V
Francis menyibuuki dirinya dengan mengelap gelas-gelas kaca yang basah. Ia lap gelas itu satu persatu dengan telaten sampai seorang pria berkulit cokelat masuk membuka pintu cafenya yang disengajakan akan membunyikan bel kecil yang sudah diletak diatas pintu tersebut. Pria itu langsung duduk dikursi bar dan memasang senyum manis sebagai sapaan untuk Francis.
"Yang biasa saja Antonio?" Tanya Francis percuma. Tentu saja, karena dia tahu kebiasaan pesanan pria didepannya. Antonio mengangguk sebagai penanda 'iya'. Francis tanpa basa-basi langsung pergi kedapur cafenya, membuat roti sandwich dan es jeruk dengan cepat. Setelah jadi, segera ia meletakan makanan itu diatas meja tepat didepan Antonio.
"Gracias" Gumam Antonio setelah melihat pesanannya diatas meja. Tidak seperti biasanya nada bicara Antonio terdengar lemah. Tentu sebuah senyum manis terpampang di wajahnya. Namun dengan nada suara yang tidak sesemangat biasanya dan mata yang terlihat redup, tak butuh waktu lama bagi Francis untuk menyadari kalau sahabatnya itu dalam masalah.
"Mon Ami, ada masalah?" Tanya Francis dengan kahwatir. Sahabat periangnya itu tiba-tiba menjadi muram tentu saja membuat pria Prancis itu panic. Antonio tertawa kecil, tawa yang terdengar hambar bagi orang yang mengenalnya dekat. Tawa itu hanya bertahan beberapa detik sampai akhirnya dia memeluk pinggang Francis dan mulai merengek sedih seperti anak kecil yang meminta permen.
"Lovino sama sekali tak menghiraukanku Francis! Aku sudah mengikuti semua saranmu, memberikan seluruh rayuan yang kau ajarkan padaku tapi dia sama sekali tak menggubris!" Antonio memperkuat pelukannya pada Francis. Francis sendiri hanya bisa mengelus rambut cokelat ikal Antonio dengan perasaan prihatin. Sahabatnya yang satu ini entah kenapa begitu terobsesi pada pria Italia kasar. Padahal banyak orang yang menginginkannya.
"Aih, Mon Ami…" Hibur Francis dengan nada tenang, "Kau tak boleh menyerah, kalau kau memang mencintainya kau harus terus berjuang!". Tentu ada alasan kenapa Francis mengatakan hal itu. Andaikan dirinya tak pernah melihat benang merah yang terhubung diantara Antonio dan Lovino, Francis pastinya tak akan rela menyemangati sahabat Spanyolnya itu. Bagaimana tidak? Sudah berapa kali Antonio di pukul oleh Lovino dalam masa PDKT? Francis sendiri tak mampu menghitungnya. Dan lagi, apa yang salah dengan Antonio? Apakah dia Masochist?
"Tapi aku sudah berusaha dan dia selalu memukulku, itu sakit~"
Baiklah Francis mengerti, syukurlah Antonio bukan M. Dia hanya bisa menghela nafas pendek lalu menghentikan mengelus kepala Antonio. "Kalau begitu cari saja orang lain. Kau itukan tampan, banyak orang yang rela mati untuk berpacaran denganmu. Untuk apa kau mengejar satu orang kalau ribuan orang dimuka bumi ini menginginkanmu?" Tanyanya dengan nada sedikit tegas. Dia tahu Antonio bukan orang yang mudah menyerah jadi dia memperingatkan pria Spanyol itu dengan ucapan sarkasme. Lagipula ia tak ingin Antonio berakhir seperti dirinya, dibodohi oleh seutas benang merah dan dihukum oleh Tuhan.
Antonio melepaskan pelukanya dan menatap mata violet Francis dengan tajam, berniat membalas ucapan Francis. Namun baru saja ia membuka mulut, niatnya itu dipotong oleh suara bel dari pintu, menandakan seseorang memasuki café. Suara bel itu disusul oleh tawa aneh yang Francis dan Antonio kenal.
"Kesesese! Kau hanya bisa berbicara Francis! Tapi kau sendir terjebak pada seseorang yang amat membencimu. Padahal seluruh dunia menginginkanmu!" Ujar pria albino, Gilbert dengan cadas. Ia berjalan mendekati kedua sahabatnya. Antonio mengangguk setuju pada ucapan Gilbert sedangkan Francis menatapnya dengan pandangan kesal. Gilbert sendiri tak peduli, dia malah duduk disamping Antonio dengan santai.
"Ucapanmu sama sekali tak relavan mon ami," Francis tak setuju dan melipat tanganya didepan dada, "Aku tak mengejar seorang pun! Dan sebagai bukti aku selalu mengencani mademoiselle berbeda tiap minggu!" Jelasnya dengan senyum dingin.
Gilbert tak gentar dengan ucapan maupun senyum Francis yang dingin itu. Malah senyum nakal melebar dibibirnya yang pucat. "Yeah Right! Seperti kami tak tahu kalau kau terus berpindah pasangan karena berusaha mengalihkan hatimu yang sakit!" Ucapan Gilbert menusuk hati Francis tanpa ampun. Seberapa sering Francis mendengar hinaan Gilbert pada dirinya, ucapan barusanlah yang berhasil melukai hati miliknya. Bersamaan dengan itu hujan membasahi kota dengan deras. Bagus sekali, cuaca yang cocok untuk mengembalikan hatinya. Sungguh Tuhan benar-benar membencinya.
"Lihat! Lovino manis sekali kan?!" Seperti biasa, Antonio tak bisa membaca suasana. Alih-alih merasa canggung dengan ketegangan yang dibuat Gilbert, pria berkulit cokelat itu ternyata sedang bahagia mencium foto Lovino yang pastinya dia ambil diam-diam. Melihat kebodohan sahabatnya dan aura menyenangkan yang keluar dari tubuhnya, mau tak mau Gilbert dan Francis ikutan tertawa dan meulupakan apa yang barusan terjadi. Sang pria albino akhirnya memesan secangkir kopi hitam pada sang pemilik café. Francis dengan cepat menuangkan kopi hitam kedalam gelas keramik dan meletakanya didepan Gilbert. Selanjutnya mereka mengobrol santai. Dari pekerjaan sampai kegiatan sehari-hari dan hal-hal tak berguna maupun penting. Beberapa ejekan dan candaan selalu terselip di obrolan mereka, menghasilkan tawa renyah. Tiba-tiba tawa Francis terhenti ketika menyadari sesuatu berwarna merah melingkar di jari kelingkingnya. Awalnya samar, namun lama-lama semakin terlihat jelas. Membuat mata violetnya melebar.
'Dia disini…' Batin Francis panik. Hal ini membuat kedua sahabatnya ikutan berhenti tertawa dan mulai memfokuskan mata masing-masing kearah pria pirang tersebut. Kelihatan tahu apa yang akan terjadi. Dalam hitungan detik, seorang pria berambut pirang dengan mata hijau zamrud memasuki café. Ia gantung mantel cokelatnya di gantungan yang berada disamping pintu sambil menggosok rambutnya yang basah karena hujan. "Bloody Hell!" Umpatnya lalu duduk di kursi tepat disamping pintu masuk sedikit jauh dari trio berada. "Hei Kodok!" Panggilnya kesal, alisnya yang tebal bukan main itu lebih turun dibandingkan biasanya, menandakan kalau dirinya sedang kesal. "Jangan hanya berdiam diri saja! Layani pelangganmu dengan baik!" Tambahnya kasar.
"Kadang aku heran kenapa Francis bisa tahu kalau Arthur berada didekat kita" Bisik Antonio pada Gilbert.
Gilbert hanya mengangkat bahu, "Mungkin karena aura pembawa hujannya dapat dirasakan oleh Francis" Jawab Gilbert asal. "Makannya Arthur mengatainya kodok". Tentu, ucapan Gilbert mendapat jitakan manis dari Francis.
"Oh sore Arthur" Sapa Francis setelah selesai menjitak Gilbert. Pria albino itu hanya mengumpat 'dasar tidak awesome' pada Francis dan tidak dipedulikan. "Bagaimana caraku melayanimu jika kau sendiri belum memesan?" Tanyanya dengan senyum jahil. Arthur terlihat tidak suka dengan jawaban pemilik café tersebut. Maka ia mengeram, "Jangan berlagak bodoh kodok! Kau tahu apa yang selalu kupesan! Aku sudah menjadi pelanggan disini dari awal kau membuka café ini! Jadi gerakan pantatmu itu dan berkerjalah!"
"Ah… kelihatanya harimu sedang buruk ya?" Tanya Francis basa-basi, Arthur makin mengeram. "Ah, oui! Aku akan membuatkan pesananmu dengan cepat" Kata Francis cepat ketika melihat Arthur sudah memegang garpu tajam yang pastinya akan segera dilemparnya pada Francis. Sementara Francis menyiapkan pesanan pria Inggris tersebut, Arthur menyibuki diri dengan handphonenya. Dia memasuki digit nomor dan menghubungi seseorang berkali-kali. Tapi entah kenapa orang yang dihubungi Arthur tidak mengangkat panggilanya. Kesal, Arthur nyaris melempar handphonenya itu namun tak jadi ketika mengingat berapa nol yang harus dia keluarkan untuk membeli benda elektronik canggih itu.
Tak perlu waktu lama untuk Francismenyiapkan pesanan Arthur. Hanya 5 menit, secangkir teh earl grey dan kue kering hambar tersaji didepan pria Inggris tersebut. Francis membperhatikan Arthur dengan seksama ketika ia menyajikan pesanan milik sang 'pelanggan' terutama dibagian alisnya yang tebal itu. Betapa lucunya melihat kedua alis itu menukik tajam membingkai mata hijau pelanggan setuanya tersebut. Terlihat seperti ulat bulu hitam. Sebuah godaan sebenarny ingin ia lempar pada Arthur namun dia lebih memilih menggosok rambut Arthur dengan selembar handuk bersih yang ia bawa dari dapur. "Kau bodoh sekali, menerobos hujan bisa membuatmu sakit!" Peringatnya tegas.
"YOU GIT!" Pekik Arthur kesal, tanganya berusaha menjauhkan handuk Francis dari kepalanya namun gagal. Pria Prancis itu jauh lebih kuat darinya. "Apa yang kau lakukan?! Hentikan!" Lanjutnya tak kalah tegas.
"Ah lihatlah! Ulat bulu yang kau tempelkan dialismu juga ikutan basah! Kasihan mereka!" Ujar Francis dengan wajah polos. Sungguh dia tak tahan untuk menggoda pria dihadapanya, terutama ketika dia tahu Arthur akan segera marah. Dan dia tahu rona merah akan segera muncul di kedua pipi Arthur, membuat pria itu makin menggemaskan di mata Francis.
"ASSHOLE! Berhentilah mengangguku dan enyahlah dari pandanganku!" Murka Arthur dengan wajah memerah, seperti yang diharapkan oleh sang pemicu api. Francis langsung berbalik pergi dan tertawa puas, meninggalkan Arthur yang sudah memegang garpu dengan erat, bersiap-siap menusuk Francis kalau-kalau dia kembali.
"Cara merayu yang tidak awesome!" Gumam Gilbert ketika Francis sudah kembali berdiri dibalik meja bar.
"Aku sama sekali tak menyukainya" Desis Francis.
"Mi amigo, kenapa kau selalu menganggunya? Lagipula kau tahu dia sedang kesal kan?" Tanya Antonio dengan berbisik. Tumben.
Francis mengankat kedua bahunya tanda tak peduli, "Aku hanya bosan". Jelasnya bohong. Mana mungkin dia memberitahu alasan yang sebenarnya kalau dia senang melihat wajah manis pria Inggris itu ketika marah. Bahwa dia ingin Arthut menatapnya walau dengan tatapan benci. Bahwa dia diam-diam mencintai Arthur. Bah! Gilbert dan Antonio pasti bakalan habis-habisan mengejeknya. Francis mencuri pandang pada Arthur, takut-takut kalau pria itu mendengar percakapan mereka. Syukurlah Arthur sudah mengenakan earphone-nya dan membaca novel tebal, sibuk dengan dunianya sendiri.
Gilbert menggulirkan matanya ketika mendengar penjelasan Francis. "Hallah! Bilang saja kau hanya ingin mencuri perhatianya. Dasar pengecut!" Katanya cuek.
"Honhonhon mon ami…" Francis tertawa palsu namun terdengar meyakinkan, "Untuk apa aku mencari perhatian dari alis ulat bulu itu? Sungguh membuang waktu mengingat banyak orang yang justru berusaha mencuri perhatianku" Jelasnya bangga.
"Yeah, itu memang benar" Ujar Gilbert sambil menyeringai, "Tapi kau tak bisa membuat 'si alis ulat bulu' itu memperhatikanmu. Oh… kau bahkan tak bisa membuatnya menoleh padamu!"
"Aku bisa!" Francis menaikan nadanya kesal. Tentu saja dia tak terima dikatakan seperti itu, walau kenyataanya benar. Ternodai sudah gelarnya sebagai perayu nomor satu. Apalagi dia merupakan pria Prancis, Negara yang selalu membangga-banggakan cinta.
Gilbert menaikan sebelah alisnya dan melipat tanganya didepan dada, masih menyeringai, merasa menang telah membuat teman Prancisnya emosi. "Oh ya? Lalu kenapa kau tak melakukanya? Menarik perhatianya? Katanya kau ingin mencari orang yang sulit didekati karena kau bosan dengan yang biasa-biasa saja kan? Salah satu alasan kenapa hubunganmu selalu singkat".
Francis kembali melirik singkat pada Arthur lalu kembali menatap Gilbert, "Karena dia memiliki pacar Gilbert! Dan aku bukan pria tak bermoral yang mencuri kekasih orang lain!"
"Membuat Arthur memperhatikanmu bukan berarti kau merebutnya dari Alfred" Kata Antonio antusias. Dia sudah lelah menjadi penonton. Lagipula sudah saatnya dia yang mendorong Francis untuk menjadi pemberani. Paling tidak bersikap jujur! Dirinya dan Gilbert tahu kalau sahabat mereka yang berambut pirang panjang itu mencintai Arthur tapi tak pernah berani berterus terang. Jangankan jujur, bersikap manis saja susah karena Francis selalu kehilangan kata-kata manisnya ketika berhadapan dengan pria Inggris tersebut. Francis pasti akan selalu terfokus pada tangan kiri Arthur dan terlihat pucat. Hal itu bermula saat Francis berumur 13 tahun. Aneh, padahal dulu Francis dekat dengan Arthur, entah kenapa mereka mulai sering bertengkar dan menghidar dari masing-masing.
"Argh! Kau jangan ikut-ikutan Antonio!" Geram Francis sambil mengacak rambut panjangnya.
"Ayolah mi amigo, kemana pria romantic yang pernah berkata dapat membuat seluruh manusia dimuka bumi ini jatuh berlutut mencitaimu?" Goda Antonio. Gilbert terkekeh mendengarnya lalu menyeruput kopi hitamnya yang sudah dingin. "Tentu! Semua orang kecuali Arthur!" Sindir Gilbert.
Francis memijit pangkal hidungnya, bermain dalam pikiranya. 'Kalian tak tahu apa-apa! Andai saja kalian yang dihukum oleh Tuhan dengan penderitaan ini kalian juga tak akan bisa melakukan apapun! Cinta yang tak dapat digapai! Tuhan membenciku makanya dia mempermainkan benang merah milikku!" Pikirnya. Susah sekali memiliki sahabat seumur hidup yang tahu segalanya tentang dirimu kecuali 'Kutukan' yang dia dapatkan. Salah sendiri kenapa dia dulu menjadi pria Asexual dan terlalu percaya diri! Ini yang dia dapatkan akhirnya.
"Fine!" Akhirnya Francis menyerah dikarenakan kedua sahabtnya menatapnya dengan tatapan yang bisa dikatakan 'kau-harus-melakukannya'. Antonio dan Gilbert bersemangat dengan jawaban Francis yang jelas-jelas terpaksa. Sebelum mereka benar-benar merasa menang, Francis menatap mata mereka satu-satu. "Karena aku menerima perintah kalian, kalian juga haru melaksanakan perintahku!" Ucapnya tegas. Wajah bahagia Antonio dan Gilbert berubah.
"Kau Antonio!" Francis menunjuk hidung salah satu sahabatnya yag berkulit cokelat tersebut, "Kau harus menjauh dari Lovino! Jangan pernah berbicara atau mendekatinya! Sekali saja aku melihatmu berada 3 meter disekitarnya, aku dengan senang hati berhenti mendekati Arthur!" Pandangan Francis berlalih ke Gilbert dan gentian mengacungkan jari telunjuknya pada pria Prussia tersebut, "Dan kau Gilbert! Kau harus mendekati Elizaveta! Kau pikir aku tak tahu kalau kau menyukai wanita mengerikan itu tapi tak berani berkata jujur heh?!" Ujarnya dengan seringai kemenangan. Pembalasan.
Gilbert dan Antonio jelas mengomel. Namun Francis sama sekali tak peduli. Tentu saja dia punya alasan kenapa memberikan perintah seperti itu. Selain balas dendam, Francis hanya ingin tahu bagaimana nasib benang merah jika dua orang yang seharusnya berjodoh dipisahkan dan bagaimana jika dua orang yang tidak terhubung benang didekatkan?. Kalau Antonio akhirnya berhasil mendapatkan Lovino, Francis merasa dirinya memiliki kesempatan. Kalau Gilbert berhasil mendapatkan Elizaveta… kemungkinan benang merah itu hanya pengelihatan aneh yang tak jelas. Ah tentu dilubuk hatinya yang paling dalam dia berharap kalau Tuhan tak menghukumnya, malah membantunya menemukan jodohnya dan memiliki keberanian berkata jujur. Memiliki keberanian menerima kenyataan dan sanggup membuat 'kutukan' itu menjadi 'berkah'.
Merasa terganggu dengan keributan yang dibuat trio tersebut, Arthur cepat melepaskan earphone-nya dan memandang mereka dengan tatapan tajam. Tentu, Arthur sama sekali tak dapat mendengar apa yang mereka ucapkan karena dia memasang lagu dengan cukup keras tapi melihat mereka yang begitu heboh dan menarik perhatianya dari buku yang membosankan tentu saja membuatnya kesal. "Hei, aku tak bisa mendengar kalian tapi kalian berhasil membuatku kesal! Tak bisakah kalian bersikap tenang?! Gerak-gerik kalian mencurigakan!" geramnya. Antonio dan Gilbert saling berpandang-pandangan, lalu dengan bersamaan mereka megangguk dan berkata, "Kami terima!". Tentu hal itu membuat Francis kaget, tak menyangka mereka memiliki keberanian menerima tugasnya, terutama Antonio. Francis tahu kalau pria itu tak mampu melepaskan pandanganya pada Lovino walau cuma sedetik. Pisah dari Lovino dalam jangka waktu yang lama? Itu pasti bisa membuat Antonio menggila.
Beberapa detik kemudian handphone milik Arthur berbunyi cukup nyaring, menandakan sebuah panggilan masuk. Arthur dengan cepat mengangkat panggilan tersebut ketika melihat siapa yang memanggilnya.
"Kau baru meneleponku setelah 30 menit terlambat dan berhasil membuatku kelelahan menunggumu selama 30 menit di depan stasiun?!" Bentak Arthur tanpa basa-basi pada seseorang disebrang sana. Wajahnya terlihat begitu kesal.
"Aku berada di café Francis! Kau dari mana saja?!" Suara Arthur kali ini sudah terdengar lebih tenang. Sepertinya dia member pengampunan pada orang disebrang sana.
"Ya… aku mengerti" Saat ini suara Arthur sudah jauh dari nada marah. Francis menatap Arthur dengan pandangan sakit, apalagi setelah ucapan selanjutnya yang berawal dari jeda panjang, kata yang ingin dia dengar dari Arthur.
"…love you…"
Tidak perlu ditanya, Francis tahu siapa pria berutung yang mendapat kata manis dari Arthur. Hatinya sakit, terluka amat dalam. Kalau Arthur jodohnya kenapa pria itu malah bersama orang lain? Kalau Arthur memang jodohnya kenapa dia malah membenci Francis dan terus berkata kasar padanya? Apa yang sebenarnya Tuhan dan benang merah itu inginkan darinya? Mempermainkanya karena mereka senang melihat Francis jatuh terpuruk pada hal yang amat dia percayai? Cinta sejati.
Ah… benar…
Kalau dia memang ingin tahu jawaban yang sebenarnya sudah saatnya dia menjadi pria sejati dan merebut hati Arthur. Menjadikan miliknya hingga akhirnya dia tak perlu lagi memikirkan kalau Tuhan menghukumnya.
A/N : Inilah hasilnya kalau memaksakan diri membuat prequel dari cerita drabble yang seharusnya one-shoot. Gaje dan membosankan kan? Gilbert terlihat begitu OOC bagi saya. Ah… kalau masih ada yang tertarik dengan chapter 2 ini, saya bakalan membuat chapter 3 dengan lebih baik. Bakalan ketahuan gimana nasib Antonio dan Gilbert. Dan perlahan-lahan jawaban Francis bakalan terjawab. Review? Ada yang niat #Wink.
