Pesisir, Musim Panas 1996
Seseorang pemuda muncul dari dalam air laut, ia mengambil nafas sebanyak-banyaknya kemudian berusaha sekuat tenaga menyeret satu orang yang berhasil ia selamatkan. Riak air terbelah untuk dua orang yang sedang menuju ke bibir pantai.
Orang yang ia selamatkan tak sadarkan diri, pemuda itu menyeret dan meletakkannya di pinggir pantai begitu saja, bahkan ombak kecil masih menerpa tubuh tak sadar itu. Merasa tugas kemanusiaannya terselesaikan, pemuda itu begitu saja meninggalkannya. Orang yang ia selamatkan masih bernafas dan ia tahu itu artinya masih ada kehidupan disana. Tak jauh melangkah, ia merasa janggal. Sesuatau telah hilang dari-nya. Sebuah Pager.
.
Bagian I
"Kau tidak apa-apa?"
"Kami mencarimu kemana-mana, apa yang kau lakukan disini?"
Laki-laki muda itu spontan terbangun, memuntahkan air dari dalam perutnya.
Pandangan jijik terlihat dari muka salah orang-orang yang sedang mengerumuni Do Kyungsoo. Kyungsoo, nama pemuda yang baru saja terselamatkan dari kecelakaan renang-nya itu juga memuntahkan benda yang seperti lumut yang berwarna hijau pekat.
Merasa tak beres, ketiga temannya ikut berjongkok dan memeriksa keadaan Kyungsoo.
"Urgg, aku tidak tahu. Aku mengalami kram." Kyungso mengerjapkan matanya, masih setengah sadar.
"apa kalian yang menyelamatkanku?" Tanya-nya lagi.
Teman-temannya tidak fokus, ya ini adalah liburan musim panas anak sekolah di pantai kapan lagi ada kesempatan melihat gadis anak kelas sebelah berbikini? Ditambah kelas renang telah ditutup sejak semester lalu karena alasan lama, dana.
Kyungsoo masih pening, sementara ketiga temannya sudah seperti orang lapar menatap beberapa gadis yang berkelompok tak jauh dari mereka.
Liburan telah usai, musim panas masih mendominasi bahkan liburan berhenti di tengah-tengah bulan musim panas.
Masih berseragam sekolah, Kyungsoo mengerem sepeda nya setelah sampai didepan rumah lawas yang bertuliskan 'PENGURUS PEMAKAMAN"
Kyungsoo menoleh. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Tidak ada siapa-siapa di depan teras rumah itu. Keningnya mengernyit heran. Kemudian ia masuk kedalam, sepasang mata bulatnya memperhatikan isi dalam rumah tersebut. Ia meninggalkan tas ranselnya di lantai, lalu berjalan melewati tumpukan peti mati kayu berbagai ukuran.
"Kakek?" sapanya.
Kyungsoo masih heran tak biasa Kakeknya tak di tempat seperti ini.
"Ahhh!" Kyungsoo memekik kaget. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Dihadapannya muncul seorang pria tua dari dalam peti mati, meregangkan sedikit ototnya.
"Aish, " Kyungsoo membuang nafas, tangannya masih memegang dadanya.
"Jangan muncul tiba-tiba dengan cara seperti itu! kakek membuatku kaget!" sesalnya sembari duduk diatas balai-balai.
"Oh itu kau. Ini terlalu sempit ngomong-ngomong." Sang kakek memperlihatkan alat ukur kepada Kyungsoo.
Kakek Kyungsoo adalah penyedia jasa pemakaman sekaligus perlengkapannya. Kyungsoo sering pergi kesana, kalau tidak disuruh ibunya mengantar jatah makan siang untuk kakek ya dia hanya sekedar bermain kesana seperti yang ia lakukan sekarang.
"Oh-Apakah peti mati itu untuk kakek?" seloroh Kyungsoo.
Kakeknya memandang Kyungsoo dengan tatapan sebal. "Yah, Kau ingin aku cepat mati? Kita akan tua bersama jadi jangan sembarangan bicara!"
Sedikit menyesal membuat kakeknya kesal, kyungsoo mengulum ludahnya.
"Lalu, untuk siapa peti ini?"
"Tuan Park."
"Ayah dari tetangga yang rumahnya diujung itu?"
Sang kakek hanya membalasnya dengan deheman kecil, masih sibuk dengan 'acara' ukur-mengukurnya.
Kyungsoo memperhatikan tutup peti mati lainnya yang bergerak-gerak, ia kembali dibuat kaget oleh sosok yang muncul dari dalam peti tersebut.
"aaa!"
Kyungsoo kembali menenangkan detak jantungnya.
"Aku suka yang ini." orang tua itu berkata pada kakek Kyungsoo.
"Yang itu harganya mahal."
"Kalau begitu beri aku diskon."
"Terserah kau." Jawab Kakek Kyungsoo.
"Kami membuat sup kacang merah. Mampirlah." Kata orang tua yang bernama Tuan Park tersebut sebelum ia melipat tangannya kebelakang dan berpamit pulang.
Kyungsoo paham betul dengan semua ini, kata orang tua jaman dahulu orang baik akan tahu kapan dia meninggal, sementara Tuan Park salah satunya.
Kyungsoo berjalan menuju jendela besar di salah satu rumah kakeknya. Ia menjulurkan kepalanya, melongok ke arah jalanan yang berdebu musim panas. Kakek menghampirinya dan menyerahkan sekaleng bir dingin untuk Kyungsoo.
"Ahh cuaca ini pembunuh." Kata Kyungsoo sambil jemarinya menekan pembuka kaleng.
Kakek menatapnya aneh, kemudian mendaratkan pukulannya dikepala Kyungsoo, "Jangan gunakan kata itu disini."
Kyungsoo mengusap kepalanya dan menanyakan alasannya "Kenapa?"
"Tak seorang pun terbunuh disini, mereka datang sebelum mati." Jawab sang kakek, sebelum ia meminum bir dingin miliknya.
Kyungsoo menenggak birnya. Ini hanya bir dingin biasa tidak akan mabuk sekali minum, pikirnya.
"Aigo... ini bir pembunuh."
"Kakek menyebalkan." protes Kyungsoo, "Ternyata Kakek juga mengatakan hal itu."
Suara gemerincing furin terdengan sayup-sayup diantara percakapan mereka, keduanya masih menatap jalan berdebu dari jendela rumah.
"Kakek, apakah Tuan Park akan meninggal?" Tanya Kyungsoo.
"Semua orang akan mati, cepat atau lambat."
"Biarkan saja." Kyungsoo setengah mengejek kemudian menenggak habis bir dinginnya.
"Beristirahat dengan tenang, maksudmu."
Keduanya tergelak.
Suasana sekolah daerah pesisir sama seperti biasanya, sayup sayup lagu Magnolia Tree terdengar dari ujung kelas musik. Hari ini adalah jadwal kelas musik untuk Kyungsoo. Ia tampak begitu serius menyanyikan lagu tersebut bersama dengan teman-teman sekelasnya. Lagu itu diiringi oleh dentingan piano yang dimainkan salah seorang teman berbakat mereka. Ditengah-tengah konsentrasinya menyanyi, Kyungsoo menangkap sesuatu yang aneh. Seseorang menatapnya. Kyungsoo agak heran ia melihat sekelilingnya tak ada yang menatap ke arah pria yang tengah menatapnya.
Siapa? Apakah aku? Batin Kyungsoo bingung.
Pria itu kembali ikut bernyanyi. Kyungsoo juga kembali menyenandungkan nada-nada yang hilang dari bibirnya.
"Ah, bagaimana ini. Aku harus berkonsentrasi belajar." Kata gadis yang duduk di depan Kyungsoo setengah berbisik.
"Apa?" Kyungsoo menjawabnya tanpa sadar.
Gadis itu menempelkan punggungnya pada sandaran kursi, berusaha agar suaranya didengar Kyungsoo.
"Kim Jongin menatapku terus di kelas." Ia menoleh cepat kearah Kyungsoo sebelum guru memergokinya, masih berbisik.
Kyungsoo hanya diam mendengarnya.
"Kurasa ia akan mengajakku berkencan satu minggu lagi." Lanjutnya.
Kyungsoo akhirnya ikut melirik ke arah Jongin, karena gadis didepannya itu terus menatap Jongin.
Kelas usai, jam istirahat diberlakukan.
Kyungsoo menguap lebar dan berjalan di koridor, malas. Ia berpapasan dengan Kim Jongin dan menghentikan langkahnya, karena posisi mereka tepat berhadapan berlawanan arah. Kyungsoo minggir ke kanan sedangkan Jongin minggir ke kiri, dengan cepat kyungsoo minggir ke kiri, Jongin juga ikut minggir ke kanan. Posisi vice versa ini membuat Kyungsoo pasrah.
"Baiklah, kau berjalan duluan." Kyungsoo berhenti melangkah.
"Tidak, Kau duluan." Jongin menjawabnya.
Kyungsoo kembali melangkah minggir ke kiri, Jongin ke kanan (lagi?)
"aku ke kanan dan kau ke kiri." Kyungsoo berusaha mengakhiri.
"Maksudmu ke kiri mu?" tanya jongin.
...
Kyungsoo memegang bahu Jongin dan berjalan menyamping di sebelah kanan dengan hati-hati. Jongin menatap keanehan yand dilakukan Kyungsoo. Setelah berhasil melewati Jongin, Kyungsoo berlalu begitu saja.
"Hey." Sapa Jongin yang sukses membuat Kyungsoo berhenti.
"Belikan aku kroket."
Kyungso penasaran, ia membalik tubuhnya kembali berhadapan dengan Jongin.
"Kenapa?"
"Belikan saja."
Ini begitu cepat bagi Kyungsoo. Bagaimana bisa ia membelikan roti isi daging itu untuk Jongin. Jongin siswa paling tampan dan kaya di sekolahnya. Bagaimana nanti jika siswa-siswi lain menganggap ia diintimidasi oleh Jongin?
"Tidak. emm-maksudku jika kau kubelikan kroket akan sulit bagi kita."
"Kenapa?"
"Sulit saja." Jawab Kyungsoo.
Suasana kantin sekolah sangat ramai seperti biasanya. Kyungsoo muncul berdesakan ditengah-tengah para siswa yang sedang berebut untuk mendapatkan kroket, sesekali ia tenggelam kebawah karena tingginya yang tak seberapa itu.
"omo, kau menginjak kakiku!" teriak Kyungsoo masih dengan beberapa lembar uang di tangannya.
Namun ia tak lagi mempedulikannya, uang telah ditukar dengan dua buah kroket dan ia berusaha keluar dari kerumunan itu.
Ia tersenyum lebar dan mengangkat tinggi-tinggi kroket itu. Jongin menunggunya dengan santai, tak jauh dari kerumunan. Kyungso dengan sedikit gugup menyerahkannya pada Jongin. Si penerima hanya membalasnya dengan senyuman hangat.
Kyungsoo menundukkan wajahnya, hanya mendengar suara bungkus kroket dibuka cepat-cepat oleh Jongin.
Suara ribut kerumunan mendadak berhenti. Mereka semua menatap ke arah Kyungsoo dan Jongin.
Jongin menatap mereka, kemudian Kyungsoo.
Merasa biasa saja, Jongin pun memakan kroketnya. Sementara Kyungsoo sudah was-was tidak karuan menanti reaksi selanjutnya dari para siswa yang melihatnya membelikan kroket untuk sang bintang sekolah.
Kyungsoo menatap Jongin yang masih mengunyah, Jongin menatap balik kali ini dengan senyuman yang lebih lebar membuat matanya sedikit menyipit.
Kyungsoo salah tingkah.
Sekolah telah usai. Kyungsoo mengayuh sepedanya dengan santai namun tiba-tiba ia dihentikan oleh tiga temannya.
"Kyungsoo! Kyungsoo!" temannya berhasil menghentikannya. Kyungsoo berhenti dan menjejakkan kaki ke tanah.
"ada apa?"
"Bodoh, kau dipermainkan." Kata Sehun, ia merupakan salah satu teman dekat Kyungsoo di kelas.
"Apa maksudmu?" Kyungsoo bertanya malas.
"Menurutmu apakah ini normal? Kenapa anak sombong itu mendadak menyuruhmu membelikannya kroket?"
Kyungsoo menggeleng malas.
"Dia pasti bosan dengan segala hal yang dimilikinya. Dia bosan menyuruh maid di rumahnya sehingga di sekolah ia berlagak menyuruhmu seperti pembantu."
Kyungsoo tampak malas dengan perkataan Sehun yang menurutnya berlebihan.
"Mungkin Sehun benar, Kyungsoo kau harus berhati-hati dengan dia." Chanyeol ikut menimpali, sementara Baekhyun hanya menganguk setuju.
"Kau tahu Amber yankee nomor satu di sekolah ini? aku dengar dia menyukai Jongin. Kalau dia sampai tahu matilah kau." Lanjut Chanyeol.
"Bodoh, apa hubungannya dengan gadis yang menyukainya? Perkataanmu terdengar seperti Kyungsoo telah merebut Jongin dari-nya." Sehun melirik kearah Chanyeol.
"Apakah kalian mau membully aku dengan lawakan 'gay' lagi? Aku bosan. " Kyungsoo makin acuh tak acuh.
"Aku hanya membelikannya koroket! Kenapa banyak sekali spekulasi yang muncul huh?"
Kyungsoo menghentakkan kakinya, meluncur kearah turunan dengan sepedanya.
"Kita tunggu saja. Kroket hanya permulaan!" teriak Sehun.
Kyungsoo sudah menjauh di depan mereka.
"Kyungsoo! Kau dipermainkan, ia akan mencampakanmu setelah ia mendapatkan apa yang ia inginkan!" seru Chanyeol.
Baekhyun memukul kepala Chanyeol kesal.
"Kau mencemaskan Kyungsoo atau cemburu?" Baekhyun mendekat kearah Chanyeol.
"Siapa yang cemburu? Aku normal." Kata Chanyeol setengah mendengus.
"Apa Kyungsoo tadi berkata gay? Soal apa?"
Sehun menatap Chanyeol dan Baekhyun.
Berita tentang Kyungsoo yang 'diperbudak' oleh Jongin menyebar dengan luas melalui mulut ke mulut. Hingga berita ini sampai pada Amber.
Kyungsoo menundukkan wajahnya selama Amber dan anak buahnya menyuruh mengikutinya ke belakang sekolah.
Amber berdecak kesal, ia memutar langkahnya namun naas, kepalanya berbenturan dengan Kyungsoo. Keras.
"Aaah! Sial." Rutuk amber pada Kyungsoo.
Kyungsoo mengelus dahinya perlahan.
"Kau si brengsek yang berusaha mencari perhatian Jongin kan?"
Kyungsoo membulatkan matanya, satu spekulasi paling aneh muncul dari pemikiran ketua preman di sekolahnya itu.
"Aku?"
"Memangnya ada orang lain disini? kau tahu kan." Bentak amber sambil bersungut menahan emosi.
"Aku tidak mencari perhatian Jongin."
"Aku benci pengecut sepertimu. Kuhajar kau." Amber menarik kerah Kyungsoo, membuat pria mungil itu tercekik.
"T-tunggu, kau tidak bisa-"
"Tunggu apa huh? Tunggu sampai kau berhasil memanfaatkannya?Dia kaya dan tampan, kau pasti ingin mendekatinya supaya terkenal kan?" amber makin mengeratkan tangannya. Meskipun ia seorang gadis, tapi tenaganya sama seperti laki-laki berbadan besar.
"Uhuk, ini menyakitkan tolong lepaskan aku."
Tiba-tiba Jongin datang, ia berjalan menuruni tangga taman belakang sekolah dengan santainya.
"oh! Itu Jongin! Kim Jongin!" seru Kyungsoo ditengah rasa kesakitannya.
Amber sedikit meregangkan cengkramannya, ia memasang senyum di wajahnya yang sangar untuk Jongin.
"huh?" Jongin menatap Kyungsoo dan Amber.
"Kim Jongin, kita tidak ada hubungan apa-apa dan tidak saling kenal, kan? Tolong aku." Kyungsoo memastikan.
Jongin menatapnya heran, amber kembali mengeratkan cengkeramannya dan menyeret Kyungsoo di depan Jongin.
"hai, Jongin." Sapa Amber. "Apa kau merasa dirugikan karena dekat dengan tikus kecil ini?"
"Tidak, hubungan kami makin dekat setiap harinya." Sahut Jongin mantap.
Kyungsoo memejamkan matanya, ia tahu Amber akan membantingnya dalam hitungan detik.
Dan ternyata benar, punggung Kyungsoo menyentuh tanah dengan kerasnya.
Buk!
Jongin menatap tidak percaya,
Kring kring!
Bunyi bel sepeda menyadarkan mereka semua.
"Kyungsoo! Ayo cepat pergi!" Chanyeol datang bersama Baekhyun dengan dua sepeda.
Tanpa berpikir panjang, Jongin meraih tangan Kyungsoo dan menariknya bangkit.
Amber menggigit bibirnya tanda sebal.
Jongin membonceng di sepeda Chanyeol, sedangkan Kyungsoo pada Baekhyun.
"Kecepatan penuh!" seru Jongin.
"Yak! kejar mereka!" perintah Amber pada anak buahnya. Mereka berlarian.
Sesorang bersepeda menabrak Amber dari belakang.
"Kejar sepeda itu! cepat!" perintah Amber tanpa mengindahkan siapa yang sedang ia tumpangi.
"Ya, tapi aku ini gurumu."
Amber frustasi, ia kehilangan kesempatan menghajar Kyungsoo lebih lama.
Chanyeol dan Baekhyun mengayuh sepeda dengan kecepatan penuh, menuju turunan dan merusak barisan latihan drum band. Tapi mereka terlihat bahagia bisa kabur.
Jongin terus melihat Kyungsoo yang dibonceng Baekhyun, mereka tertawa bersama. Kyungsoo menyombongkan diri karena dia dan Baekhyun berhasil menyalip sepeda Chanyeol. Chanyeol tahu hal itu, ia mengayuh lebih cepat dari Baekhyun dan berhasil melewatinya. Jongin mengarahkan jarinya seolah-olah sedang menembak Kyungsoo. Baekhyun mendekap dadanya, berpura-pura mendapat tembakan dari Jongin. Sepeda melaju kencang diantara kendaraan lain yang lewat. Sebuah bus melintas dan membunyikan klakson kencang, keduanya berhasil melewati samping bus tersebut. Sementara Dari dalam bus, Sehun melihat Kyungsoo dan Jongin sedang bersama. Ia menggigit koran yang ia bawa sambil berteriak ke luar jendela bus.
"Kyungsoo-ah!" teriaknya.
"Kalian tega sekali!"
Orang orang dalam bus menahan Sehun yang akan melompat dari dalam bus.
Entah bagaimana caranya, kini Kyungsoo berada dalam boncengan Jongin. Mereka melewati jalanan yang sedang ditumbuhi bunga.
"Apa aku lebih berat dari yang kau kira?" tanya Kyungsoo sambil menarik tas ransel jongin.
"Tidak, kau seperti yang kukira." Jawab Jongin senang.
Mereka tertawa bersama lagi.
Tebing jalanan yang mereka lewati sangat indah, dengan pemandangan lautan luas di bawahnya. Daerah pantai yang indah.
Kyungsoo tak langsung pulang, ia dan Jongin mendatangi area mercusuar dan duduk di salah satu pagar pembatasnya, melihat lautan yang luas.
"Lautnya biru sekali." Kata Jongin takjub.
"Laut selalu begitu." Jawab Kyungsoo acuh.
"Lihatlah, itu seakan bisa membuat tanganku menjadi biru jika aku menyentuhnya." Jongin menampakkan telapak tangannya kearah Kyungsoo.
"ya, tapi itu tak bisa." Kyungsoo masih terlihat gugup, entah apa yang ia pikirkan.
"Kau bisa berenang?" tanya Jongin.
"tentu saja, lihat." Kyungsoo memperagakan caranya ia berenang dengan gaya seolah-olah ia atlet renang profesional, hal ini mengudang tawa renyah jongin.
"Apa? Kenapa menertawaiku?" Kyungsoo menghentikan aksinya, ia tahu kelakuannya barusan aneh.
"apa kau baik-baik saja?"
"Huh?"
"Apa kau terluka?" tanya Jongin.
"aish, Si Amber itu menyebalkan sekali! Dia-dia... ah tidak. Mereka menyelamatkanku." Kyungsoo menoleh kebelakang dan melambaikan kedua tangannya kearah Baekhyun dan chanyeol yang sedang menuntun sepedanya untuk pulang ke rumah masing-masing. Mereka juga membalas lambaian Kyungsoo.
"apa kau bermain sepak bola?" tanya jongin setelah Kyungsoo puas melambaikan tangan.
"yah, saat masih SMP tapi sekarang tidak lagi." Jawab Kyungsoo sedikit malu, mengingat prestasi Jongin di bidang olah raga berbanding terbalik dengannya.
"Apa kau penjaga gawang?"
"hehe, Iya. Itu tidak akan membuatku berlari dan berbenturan dengan pemain lainnya."
"Tapi bagaimana kau bisa tahu?" Kyungsoo menatap Jongin.
"Aku sudah menduganya, tipe pria kecil sepertimu pasti tidak berbakat olah raga. Apa kau mengikuti klub merangkai bunga?"
Kyungsoo mem-pout kan bibirnya tanda tak setuju.
"Apa tidak ada hobi lainnya seperti makan atau main game?"
"Kau punya video game? Bukankah itu harganya sangat mahal?" Jongin memandang Kyungsoo takjub.
"Iya, bahkan aku memiliki Playstation atau apalah itu namanya."
"Oh, itu terdengar keren. Jarang ada orang tua yang mau membelikan anaknya barang mahal seperti itu." Jongin mengerjapkan matanya lucu.
"Sebenarnya tidak juga, Pamanku menemukannya di tempat pembuangan sampah dan memperbaikinya untuk hadiah ulang tahunku tahun ini." Jelas Kyungsoo.
"Baiklah, itu akan lebih menarik kalau kita memainkannya berdua. Kapan-kapan ajak aku ke rumahmu ya." Jongin tersenyum, kemudian menatap Kyungsoo.
"Kita pernah sekelas." tambahnya.
Kyungsoo makin menatap Jongin intens, kali ini Jongin yang kalah ia membuang pandangannya ke langit yang kemerahan.
"ah, iya benar." Kyungsoo ikut membuang pandangannya kearah langit senja.
"Rumah kakekmu dekat dengan rumahku kan?" tanya Jongin.
"ah kau tau soal itu juga." Kyungsoo merasa aneh sekarang, keringat dinginnya menetes.
"Kau ingat tidak ketika kita ditugaskan membersihkan ruangan kelas bersama? Apa kau ingat apa yang kau tanyakan dariku?" Tanya Jongin lagi.
"em, apa?"
"Apa kau ingat apa arti Jjong dalam Jongin?" tanya Jongin terus memburu.
"ah! Jjong berarti kehidupan bukan? Dan Soo dalam namaku berarti hebat." Kyungsoo tampak gembira akan ingatannya bersama Jongin dulu.
"Iya! Apa kau sudah mengingatnya , Do Kyungsoo?"
"Uhm." Kyungsoo menganguk mantap.
Jongin meraih tangan Kyungsoo dan membalik telapak tangannya. Kyungsoo sedikit terkejut dengan tindakan Jongin.
Ia menuliskan sebuah huruf diatas telapak tangan Kyungsoo, membuat si empunya merasa sedikit geli.
Kyungsoo kemudian juga menarik telapak tangan Jongin dan menuliskan sesuatu disana. Mereka terus tertawa setelahnya.
"Belikan aku pager."
Kyungsoo menghentikan tawanya setelah mendengar apa yang Jongin katakan meski ia tak dapat mencerna maksud dari perkataannya.
"Pagerku hilang saat aku menyelamatkanmu. Jadi kau harus membelikanku." Lanjut Jongin tanpa basa-basi.
Kyungsoo masih bingung, otaknya yang kecil tentu susah untuk me-loading kalimat ambigu dari Jongin.
Jongin terlihat sebal dengan kelemahan Kyungsoo menangkap kata-katanya, meski-itu-memang-tidak cukup jelas untuk dimengerti.
"Karena aku?"
"Pabbo."
Jongin mengatai Kyungsoo kemudian beranjak dari tempatnya duduk, dan meninggalkan Kyungsoo. Ia melambaikan tangannya untuk Kyungsoo agar mengikutinya pergi naik ke atas menara.
Mereka berdiri diatas menara paling ujung, bersama menatap langit kemerahan.
"Lautnya merah sekali." Kata Jongin.
"Biasanya memang begitu disaat-saat seperti ini." Kyungsoo mengadahkan tangannya ke langit.
"Apa yang kau lakukan?"
"Ketika hujan laut akan berubah menjadi hijau. Sayang hari ini tidak hujan, jika tidak kita bisa melihat tiga warna air laut dalam sehari."
"Benarkah? Kalau begitu Tuhan sangat ahli menggambar lautan." Jongin ikut mengadahkan tangannya keatas mengikuti Kyungsoo.
"Laut yang merah... apa ada hubungannya dengan wajahmu?" Jongin mulai mengerjai Kyungsoo.
"Huh?" Kyungsoo mengusap wajahnya yang memang tidak memerah karena goresan tinta atau spidol ketika bercanda dengan Chanyeol dan Baekhyun tadi di sekolah.
"Apa kau akan menjawab selalu seperti itu jika berduaan dengan teman?"
Kyungsoo menjadi kikuk, ia menggaruk bagian belakang kepalanya. "Apa itu? aku tidak akan mengatakan begitu."
"Kyungsoo ah..."
"hm?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin memanggil namamu."
An. Bersambung,
adakah review? yg sudah membaca tinggalkan pesan ya. Thank you,
NB: no plagiarism.
