Kadang orang yang kita sayang adalah musuh terbesar yang kita incar selama ini

.

Paralel World

Dedicated for MikoRei week 2015

Day 2 Prompt: Death

A Project K fanfiction by Meongaum!

Project K © GoRa & GoHands

Warning: boy x boy, death chara, AU

.

.

.

[Lapor! Leopard 1 menemukan target Alpha!]

[Bagus! Jangan biarkan Alpha kabur!]

[Damn! kita kehilangan si merah.]

[Hound 2 cepat lacak posisi si merah!]

[Dor dor dor!]

[Terjadi baku tembak di area E-7! Squad terdekat harap memberikan bantuan!]

[Lapor! Wolf 1 dan Wolf 2 melihat Si Merah! Mereka di G-1!]

[Dor!]

[Wolf 1, Wolf 2, apa yang terjad?!]

[Ugh terjadi baku tembak di sini-]

[-Benzai awas!]

[Dor!]

[AKIYAMAAA! KAU! BERANI-BERANINYA-]

[Dor dor!]

[Halo? Wolf 1, Wolf 2, jawab aku... Hei!]

[Bzzz—]

Reishi mematikan radionya. Berusaha menahan gemetar yang terus menyerang tangannya. Kedua rekannya mungkin sudah gugur dan sekarang ia harus segera pergi menuju ke lokasi 'Si Merah'. Memaksakan kakinya untuk bergerak, Reishi berlari menuju lokasi di mana 'Si Merah' itu berada.

Sungguh, Reishi tak ingin pergi ke tempat dimana 'Si Merah' itu. Pasalnya 'Si Merah' itu adalah—

"Suoh Mikoto, berhenti!"

—kekasihnya sendiri.

Mikoto menoleh ke belakang. Melihat Reishi di depannya dengan napas terengah-engah.

Ia mengangkat satu tangannnya, mengintruksikan kepada anak buahnya untuk mundur dan tidak mencampuri urusannya dengan polisi di depanya. Mengangguk, anak buahnya bergegas berlari menuju sebuahkapal feri.

Mikoto menatap Reishi. Ia memasukkan tangannya ke saku celananya dan tersenyum.

"Oh halo kapten, sepertinya kau terburu-buru sekali ya sampai kelelahan seperti itu."

Dada Reishi terasa sesak. Tidak, itu bukan senyum Mikoto yang biasa ia lihat. Senyum Mikoto tak mungkin terasa sejahat itu, pikirnya. Berusaha tegap, Reishi mengacungkan pistolnya ke arah Mikoto.

"Oh tunggu dulu sayang," Mikoto mengangkat kedua tangannya. "Aku bisa jelaskan semuanya."

Tidak menuruti kata Mikoto, Reishi tetap mengacungkan pistolnya.

"Menjelaskan apa lagi, Mikoto? Kau ternyata... selama ini adalah..."

"Seorang bos. Dan aku tak berbohong kepadamu 'kan?"

"Kau tidak pernah bilang kalau kau adalah seorang bos dari sindikat perdagangan narkoba terbesar se-Asia."

"Maaf baru memberitahumu sekarang, sayang. Izinkan aku memperkenalkan diri sekali lagi. Aku, Suoh Mikoto, seorang bos dari sindikat perdagangan narkoba terbesar se-Asia, HOMRA."

Mata Reishi membulat sepenuhnya. Ia serasa ditampar oleh kenyataan. Ia tidak menyangka kekasihnya adalah seseorang yang memegang kendali penuh atas perdagangan narkoba se-Asia. Di dalam hatinya, Reishi tidak mau menerima kenyataan bahwa orang yang dicintainya adalah buronan kelas atas yang akan menerima esekusi mati jika ia tangkap.

Rasa sesak, kecewa, marah, berkecambuk dalam dada Reishi. Berusaha menahan gemetar yang terus menyerang tangannya, Reishi berteriak.

"Suoh Mikoto, kau ditangkap atas tuduhan penyeludupan Morfin seberat 3 kilogram dan perdagangan manusia!"

Mikoto berjalan ke sebelah kanan sembari tertawa.

"Oh Reishi, My Dear," Mikoto menatap Reishi dengan tatapan meremehkan. "Menangkapku? Tolong jangan lontarkan lelucon yang lebih lucu daripada ini."

"Aku serius, Suoh." Reishi mengarahkan pistolnya, bersiap untuk menembak. "Kalau cara damai tidak bisa membawamu ke pengadilan, aku terpaksa menembakmu di sini. Dengan kata lain, membunuhmu."

"Membunuhku? Jangan bercanda, sayang." Mikoto menurunkan tangannya, mengambil sesuatu dari jasnya. "Kau yakin bisa mengenaiku dengan tangan yang gemetaran begitu? Sebaiknya dirimu yang—"

Dor!

"—waspada. Oh sepertinya aku tidak boleh merendahkan kewaspadaan seorang kapten walaupun dia terlihat ketakutan."

Reishi memincingkan matanya. Gemetar di tangannya mulai menghilang. Rasa tidak percaya mulai tergantikan oleh harsat membunuh.

Reishi membulatkan tekadnya. Sudah tak ada gunanya bernegosiasi dengan Mikoto saat ini. Ia harus berani mengambil langkah, yang berarti ia harus membunuh seorang Suoh Mikoto tanpa terkecuali.

Sebuah seringai terlukis di wajah Mikoto. Ia memainkan pistolnya. Berjalan santai dan menyejajarkan posisinya dengan Reishi.

"Reishi, aku punya penawaran untukmu."

Reishi menatap Mikoto. Apa? Penawaran? Oh sungguh Reishi ingin melemparkan sesuatu ke muka Mikoto saat ini. memberikan penawaran di saat seperti ini? Mikoto pasti sudah gila.

"Aku serius, Reishi. Penawarannya adalah, tinggalkan pekerjaan dan statusmu sekarang dan hidup bahagia bersamaku."

Reishi tertawa terkekeh. Apa? Bahagia? Sungguh Mikoto memang benar-benar sudah gila. Dia pikir hidup sebagai buronan internasional itu bahagia? Sepertinya Mikoto terlalu banyak mengisap ganja sehingga bisa berbicara seperti itu.

Merasa tau apa jawaban yang akan diberikan Reishi, Mikoto menghela napas, melontarkan sedikit tatapan kekecewaan ke arah Reishi.

"Sayang sekali." Mikoto menatap remeh Reishi. "Padahal aku tidak ingin menambah manik ungumu itu dalam koleksiku. Aku lebih suka menatapnya langsung di balik bingkai kaca itu daripada harus menatapnya lewat botol kaca berisi cairan pengawet."

Merasa terhina, Reishi menggertakkan giginya. Mengacungkan kembali pistolnya ke arah Mikoto.

"Kau! Memangnya kau pikir kau bisa mengalahkanku hah, Suoh Mikoto?!"

"Of course i do. Aku memang sudah mengalahkan hatimu dan kendali atas tubuhmu tiap malam 'kan?"

Semburat merah muncul di muka Reishi. Malu bercampur kesal membuat konsentrasi Reishi terganggu.

"Sial, bisa-bisanya dia berbicara seperti itu di saat seperti ini." Gumam Reishi

Tanpa berpikir panjang, Reishi menarik pelatuk pistolnya dan menembakannya ke arah Mikoto.

Sayang sekali tembakan itu dapat dengan mudah dihindari oleh Mikoto. Seringai meremehkan terlukis jelas di wajah Mikoto dan membuat Reishi semakin jengkel.

"Oh kapten, apa hanya segitu kemampuanmu? Bahkan tembakan anak buahmu saja lebih baik daripada dirimu. Oh siapa namanya? Akiyama? Tolong sampaikan rasa terimakasihku untuknya karena sudah memberikan sebuah pertunjukkan menarik. Kau tahu, aku paling suka melihat orang lain melindungin orang lain seperti itu, karena..."

Dor!

"Mereka terlihat bodoh."

Dor! Dor!

"Kau! Sekali lagi menghina rekanku, tidak akan kumaafkan!"

Emosi Reishi memuncak. Ia rela Mikoto menghina-hina dirinya. Tapi rekan kerjanya? Oh kali ini Reishi harus menghapuskan kata maaf dalam kamus percakapannya untuk Mikoto.

Reishi berlari ke arah Mikoto. Melontarkan satu tinju penuh tenaga yang dengan mudah ditangkis oleh Mikoto.

Pertikaian pun tak dapat dihindarkan. Mikoto dan Reishi meninggalkan pistol mereka. Berganti menjadi adu tinju yang tak dapat terelakan.

.

.

.

Buagh!

"Ugh..."

Satu tinju dari Mikoto berhasil menghantam wajah Reishi.

Darah segar mengalir di sudut bibir Reishi. Rasa ngilu yang menyerang gusinya membuat keseimbangannya sedikit terganggu.

"Aww sayang sekali, Reishi. Aku harus melukai wajah cantikmu."

Reishi berusaha berdiri. Sial keseimbangannya belum kembali sepenuhnya.

Duagh!

Reishi jatuh tersungkur. Kali ini Mikoto menendang dagunya. Belum puas dengan hanya menendang Reishi, Mikoto menginjak perutnya.

"Ah wajah kesakitanmu Reishi... aku suka sekali..."

"Kh... Mikoto... you bastard—arghhh!"

"Oh Reishi, My Dear... sudah seperti ini kau masih keras kepala hmm...?"

Mikoto menekan dan memutar telapak kakinya. Tertawa penuh kebengisan. Reishi tak berkutik, rasa sakit yang menghujam tubuhnya membuat seluruh tubuhnya lemas.

Memusatkan kekuatan pada lengannya. Reishi berusaha meraih kaki Mikoto. Berharap ia bisa melakukan serangan balik.

Dor!

"ARGGHH!"

"Ups maaf, tapi aku tidak akan membiarkanmu melakukan serangan balik sama sekali."

Darah segar menetes dari lengan Reishi. Tembakan Mikoto mengenai tepat di tulang hastanya. Rasa ngilu bercampur sakit tak tertahankan membuat Reishi meronta kesakitan.

"Reishi... bilang padaku kalau kau ingin menyerah."

"Kh... lebih baik aku mati daripada harus hidup dalam pelarian!"

Senyum mikoto mengilang, tergantikan oleh tatapan dingin tanpa setitik belas kasihan sama sekali. Mikoto mengacungkan pistolnya ke arah Reishi. Tubuh Reishi gemetar, takut, tapi ia tidak bisa bergerak. Seakan ia sudah tidak peduli akan nasib dirinya.

"Sayang sekali, Reishi." Mikoto membungkuk, menatap Reishi sekaligus menempelkan ujung pistolnya ke kepala Reishi. "Padahal pasti indah sekali menjelajahi dunia ini bersamamu. Tapi sayang sekali, aku juga tidak butuh mahluk pembangkang sepertimu."

Mikoto menghela napas. Badannya mundur sedikit sesuai dengan panjang lengannya. Berjaga-jaga agar ia tidak terkena tekanan yang dihasilkan saat pistolnya melontarkan peluru.

"Selamat tinggal, Reishi, tidurlah selama-lamanya dalam rasa penyesalanmu."

Dor!

Sebuah peluru menembus kepala Reishi. Darah segar mengalir deras keluar dari kepalanya. Darahnya memberikan sedikit noda pada tangan Mikoto.

Mikoto bangkit dan berdiri. Menepuk-nepuk kemejanya yang sedikit kotor dan menyisir rambut jabriknya dengan jemarinya.

"Whoa, bos."

Suara tepuk tangan terdengar jauh di belakang Mikoto. Seorang pria tinggi tegap dengan kacamata berlensa ungu bersandar pada satu box container berwarna hijau.

"Rasanya sudah kusuruh seluruh anak buahku kembali ke kapal." Mikoto berjalan menuju orang itu sambil memasukan pistolnya kembali ke sakunya dan mengeluarkan sebatang rokok.

"Karena kau lama sekali, bos. Kupikir kau melupakan tugasmu dan bercumbu dengan kekasihmu di sini. Whoops, turut berduka cita atas kematian kekasihmu, bos."

"Thanks, Kusanagi." Izumo menyalakan pematiknya dan mengarahkannya ke arah rokok yang sudah terselip di bibir bosnya. "Aku sudah selesai di sini. Ayo kembali."

"Lalu mau kau apakan jasad kekasihmu? Tidak kau bawa? Padahal kau sangat mencintainya bukan?"

Tawa renyah meluncur mengiringi kepulan asap yang keluar dari mulut Mikoto. "Negara ini lebih membutuhkan jasadnya ketimbang aku."

"Serius? Kau tidak akan mengambil oleh-oleh darinya? Bola matanya misalnya?"

"Anna tidak akan suka dihadiahi bola mata ibunya sendiri, Kusanagi."

Mikoto membuang puntung rokoknya sembarang lalu menginjaknya. "Ayo kita pergi. Klien selanjutnya sudah menunggu kita. Dan oh aku kangen sekali pada Anna."

Izumo berjalan di samping Mikoto. "Kangen untuk menyuntikkan beberapa jenis narkoba baru kepadanya maksudmu, bos?"

Mikoto melempar senyum ke arah Izumo. Membiarkan pertanyaan anak buahnya itu dan segera masuk ke sebuah kapal feri. Meninggalkan mayat Reishi dan suara baku tembak yang masih terdengar sayup dari arah pelabuhan.

.


Author's Note

.

GYAAAAAAA TELAT SEHARIIIII *selimutan

Duhh maap kemaren gak apdet huhuhu dikirain habis les masih ada tenaga buat ngelanjutin, ternyata...*goleran balada anak kelas 12 sekolah dilanjut les terus pulang malem :"3

Tapi kalau di amrik ini belum telat kan? #digampar

Dan terimakasih untuk mbak ashAksara :3 kyaaaaaa aku dinotis sempaaaay #Hus

Ok jadi silakan yang mau fangirlingan kebengisan Mikoto di sini #heh saya juga guling-gulingan sendiri kok ngebayangin mahluk bersungut yang satu ini mendadak jadi bengis tapi keren.

Sekian Author's Note kali ini~ saya pamit undur diri mau ngelanjutin rangkuman Bahasa Indonesia :"3 sampai jumpa besok atau nanti malam~