Disclaimer: Kalau Naruto punya saya, maka semua tokohnya akan jadi psikopat.
Warning: banyak kesalahan dan kacau. All chara in DARK mode. Kurang sadis dan kurang kejam pembunuhannya dan butuh banyak koreksi dari minna-san.
Pair: belum ditentukan… mau NejiHina, NejiSaku, GaaHina atau NaruHina? Siapapun asal jangan SasuHina, soalnya kalau nulis soal SasuHina kebayangnya adegan romantis, bukannya sadis.
Rated: M untuk Gore bukan untuk lemon.
.
.
.
Normal POV
Neji memijat kepalanya beberapa kali untuk meredakan sakit kepala yang menderanya sejak tadi pagi. Tak dipedulikannya pelajaran dari sang guru yang memiliki bekas luka melintang di bawah matanya. Siapa peduli dengan aritmatika jika kepalamu serasa sedang dibombardir dengan HK416 buatan Jerman?
Well, mungkin masih ada orang yang peduli. Namun Neji Hyuuga jelas bukan orang yang termasuk dalam kategori itu.
"Hyuuga, kau tidak enak badan?" tanya sang guru dari muka kelas dengan wajah cemas karena melihat anak didiknya yang selama ini selalu rajin dan tertib membaringkan kepalanya di atas meja dengan wajah seperti mayat hidup.
"Tak apa-apa, Iruka-sensei. Saya baik-baik saja," jawab Neji sambil menegakkan kembali kepalanya dan memasang senyum kecil.
Umino Iruka, guru matematika di sekolah itu hanya tersenyum pelan. "Jangan memaksakan diri, Hyuuga. Istirahatlah saja di ruang kesehatan. Kembalilah ke mari jika kau telah merasa baikan."
Mendengar kata-kata gurunya, Neji hanya mengangguk pelan. Tak ada gunanya berdebat dengan guru bercodet itu sekarang. Toh, tawaran yang diberikannyapun tak merugikan dirinya sendiri. "Baiklah Sensei," jawabnya sambil bangkit berdiri dan mulai berjalan ke pintu kelas dengan langkah yang sedikit limbung akibat pandangan matanya yang sedikit tak stabil.
"Jangan sungkan. Istirahatlah di sana hingga tubuhmu terasa lebih ringan," katanya dengan nada lembut keibuan yang selama ini menjadi ciri khas darinya. Namun senyum itu segera lenyap digantikan sebuah senyum sarat enigma yang terukir di wajahnya. "Kau pasti masih lelah karena pekerjaan semalam."
Neji menghentikan langkahnya dan menoleh. "Eh? Maaf?"
Iruka kembali tersenyum seperti semula. "Tak ada apa-apa. Kudengar Jiraiya-sensei memberimu tugas khusus sebagai pelatihan untukmu mengikuti lomba yang biasanya hanya diikuti oleh mahasiswa bukan? Kau pasti lelah. Aapalgi Jiraiya-sensei terkenal suka memberi tugas yang banyak dan sulit."
Bisik-bisik kagum yang mendewakan kecerdasan Neji mulai ramai terdengar di antara para siswa. Namun kata-kata tajam yang mencelapun sama banyaknya, ditujukan untuknya oleh para siswa yang cemburu karena kesempurnaan yang dimiliki sang Hyuuga.
"Mm, ya. Saya permisi Sensei," Neji langsung pamit dan berjalan ke ruang kesehatan sekolahnya malas menghadapi sang guru bercodet ataupun teman-teman sekelasnya. Otaknya serasa semakin sakit saat memikirkan kata-kata gurunya. Namun dia hanya menggelengkan kepalanya. "Hanya orag bodoh yang berprasangka tanpa ada bukti yang jelas. Lagipula, itu hanya mimpi."
Pemuda itu memasuki ruangan bernuansa putih dengan hiasan tengkorak sebagai penghias ruangannya. Namun sayang, di ruang yang telah difasilitasi dengan dua ranjang single itu tak ada seorangpun yang menunggui.
'Kemana perginya dokter sekolah itu? Kabur dari pekerjaannya lagi? Dasar, pemakan gaji buta!' makinya dalam hati sambil mengambil sendiri aspirin dan segelas air untuk diminumnya, berharap agar sakit kepalanya segera lenyap.
Dia membaringkan tubuh atletisnya di salah satu ranjang, namun tak ada niatan untuk tidur dalam dirinya. Ingatannya kembali melayang menuju kejadian tadi malam. Gedung sekolah tua itu, para kriminal itu, lautan darah itu dan terutama Hinata yang liar dan sadis. Semuanya terasa sangat nyata, sangat real.
Namun masalahnya tak ada satupun benda yang dapat membuktikan jika itu semua adalah sesuatu yang nyata.
Neji mengerang kesal karena sakit kepalanya terasa semakin menusuk bersamaan dengan otaknya yang dipaksa untuk berfikir lebih keras lagi. Dipukulnya dinding di sampingnya dengan emosi. Matanya menatap nyalang pada kekosongan yang menakutkan.
"Brengsek! Tak mungkin itu semua hanya mimpi. Tidak… itu bukan mimpi. Itu nyata! Aku yakin itu nyata!"
Flash Back
KRRRRRIIIIIINGGG!
Pagi itu Neji terbangun akibat deru jam beker yang terasa menusuk-nusuk otaknya. "Ugh!" geramnya saat merasakan kepalanya seperti baru saja dipukul dengan benda berat. Dia mengangkat jarinya dan memijit pelipisnya ringan, sekedar berusaha menghilangkan rasa sakit yang merajainya.
Dengan malas dia membuka matanya, namun pemandangan buram dan tak jelaslah yang kini merajai matanya. Dia menggosok netra bulannya dengan punggung tangan, mencoba menjernihkan pengelihatannya yang kabur.
Sebuah kejanggalan dirasakannya. Dia ada di kamarnya sendiri dan sedang terduduk di meja komputernya. Di samping layar komputer, secangkir kopi yang telah habis isinya terguling sehingga menimbulkan bercak-bercak kotor di taplak meja hijau miliknya.
"Apa yang terjadi?" tanyanya pada diri sendiri sambil mengamati seluruh kamarnya. Dengan langkah berat dia berjalan menuju meja di samping ranjangnya dan mematikan beker yang telah sukses membuat kepalanya serasa ditusuki seribu jarum.
Disandarkannya tubuhnya di dinding sambil mencoba mengingat kejadian semalam.
Ya, dia membuntuti Hinata dan mendapati gadis itu sedang membunuh, ah tidak, lebih tepat jika dikatakan membantai para kriminil yang bermarkas di sebuah gedung bekas sekolah yang sudah nyaris dirobohkan. Lalu dia terpaksa melompat ke gedung di sampingnya akibat jebakan terakhir yang dibuat oleh pemuda tambun yang mati dengan tubuh terbelah dua. Namun saat dia mendekati Hinata mencoba melihat seberapa parah luka gadis itu, tiba-tiba saja Hinata memukul lehernya dan…
Semua buram
Neji terpaksa mendudukkan badannya di atas ranjang supaya tubuhnya tak langsung jatuh terjerembab ke lantai. Dilihatnya sekeliling kamarnya dengan teliti. Kamarnya tampak normal, semua masih pada tempatnya kecuali cangkir kopi yang sebelumnya tak ada di samping komputer. Dia memang berniat mengambil kopi untuk menahan kantuknya semalam, namun karena melihat ada yang menyelinap, dia membatalkan niatnya.
"Argh! Tugasku…" gerutu pemuda itu sambil kembali mendekat ke meja komputernya. Dihidupkannya komputer yang ternyata hanya dalam mode sleep itu. Dihadapannya terpampang jelas tugas sekolahnya yang sudah hampir selesai.
Neji hanya mengernyitkan alis sambil membaca sepintas dua puluh halaman terakhir. Baik dari gaya bahasa ataupun isinya nyaris identik dengan yang akan dia tulis. Namun dia tak pernah merasa menulisnya.
"Apa yang semalam itu memang hanya mimpi?" tanyanya pada diri sendiri sinambi menutup wajahnya dengan telapak tangan. "Mungkin semalam aku memang ke dapur dan membuat kopi lalu aku mengerjakan tugasku dan tertidur di dalam kamar. Ya, pasti begitu. Mungkin karena sudah terlalu mengantuk, aku jadi tak sadar jika aku sedang mengerjakan tugasku," pemuda itu membuat sebuah spekulasi. Lalu dengan suara tertahan dia tertawa. "Pasti seperti itulah kejadiannya. Aku tak pernah mengikuti Hinata ataupun pergi ke luar rumah ataupun membunuh…" bisiknya ragu sambil menatap sedikit cermin di sudut ruangan. Tak ada satupun bekas luka di tubuhnya.
Jika yang semalam memang benar kenyataan, seharusnya masih ada bekas luka yang tersisa di tubuhnya. Namun buktinya? Tubuhnya mulus tanpa luka ataupun lebam!
Tak ada satupun manusia yang dapat menghilangkan luka dan lebam hanya dalam kurun waktu beberapa jam saja. Kecuali jika luka dan lebam itu hanya merupakan sebuah mimpi yang terasa berubah menjadi delusi yang nyata.
"Nii-san! Apa Nii-san sudah bangun?" seorang gadis bertanya dari balik pintu geser kamar Neji membuat pemuda itu sedikit terkejut.
Pemuda bersurai coklat itu menoleh ke arah pintunya. "Ya, Hinata. Aku sudah bangun."
Gadis bersurai indigo panjang itu membuka sedikit pintu kamar Neji dan masuk ke dalamnya. "Suara Nii-san sedikit serak. Apa Nii-san sakit?" tanyanya lembut.
Neji mengamati penampilan gadis di hadapannya. Hinata menganakan rok panjang dengan motif bunga-bunga dan sebuah blus biru pastel sebagai atasannya. Rambutnya diurai bebas dan diberi sebuah jepit rambut sebagai hiasannya.
Ya, ini Hinata yang dikenalnya. Hinata yang selalu dilihat dan dipujanya sebagai Yamato Nadhesiko selama tujuh belas tahun terakhir. Hinata yang lembut, anggun dan ramah. Bukan seorang gadis sadis dengan pakaian ketat yang dilihatnya semalam.
Neji menggelengkan kepalanya untuk mengusir tiap pikiran buruk yang menghantuinya. Dia mengerang pelan merasakan kepalanya sedikit berdenyut kembali. "Tak apa, Hinata. Aku baik-baik saja," katanya lirih.
"Jika Nii-san sakit, aku bisa menelpon pihak sekolah untuk mengizinkan Nii-san," kata Hinata sambil mendekat ke arah Neji dan menyentuhkan dahinya ke dahi Neji. "Tubuh Nii-san sedikit panas. Aku akan membawakan sarapan dan obat Nii-san ke sini. Hari ini Nii-san istirahat saja."
"Mengukur suhu tubuh dengan kulit itu tidak akurat, Hinata," bantah Neji sambil bangkit berdiri dan menuju keluar kamarnya. "Aku hanya sedikit lelah, lagipula aku memiliki tugas penting hari ini. Jangan perlakukan aku seperti orang sakit, Hinata. Aku tak bisa membolos hanya karena sakit yang tak seberapa parahnya ini."
Hinata mengangguk. "Baiklah," dia mengalah. "Nii-san mandi saja dulu. Aku akan menunggu di ruang makan."
Neji sudah hendak melanjutkan langkah kakinya ke kamar mandi. Namun dengan ragu-ragu dia menoleh ke arah sepupunya yang sedang membersihkan kamarnya. "Em, Hinata. Apa semalam kau keluar?" tanyanya sekedar memastikan.
"Semalam? Tidak, kok. Setelah makan malam, aku bicara dengan Hanabi lalu pergi ke kamar untuk belajar dan tidur," jawab Hinata dengan senyum lembut tersungging di wajahnya. "Mengapa Nii-san menanyakannya?"
Satu hal lagi yang menegaskan jika kejadian semalam itu memang hanya mimpi. "Tak ada apa-apa. Aku hanya ingin bertanya saja."
Pemuda itu melanjutkan langkahnya ke kamar mandi sambil mengurut kepalanya supaya arum-jarum yang menusuk kepalanya menghilang. Dia merasa aneh, biasanya selelah apapun dia, tidur selalu dapat membuatnya segar kembali. Tak seperti kali ini, tubuhnya terasa seperti tubuh orang yang baru saja mabuk atau diberi anestesi secara paksa agar dia terlelap.
Dia menghentikan langkahnya.
Anestesi? Apa mungkin itu memang benar? Bukankah orang-orang yang dengan mudahnya membunuh orang lain dapat dengan mudah pula menidurkan orang lain dengan obat bius atau semacamnya dan memanipulasi keadaan?
Apakah Hinata telah mencoba membuatnya melupakan kejadian semalam dengan memanipulasi kamar dan kondisinya sehingga membuat kesan seolah-olah dia tak pernah meninggalkan rumah dan mengerjakan tugas?
Neji mengerang pelan. "Terlalu mengada-ada. Tampaknya menonton film bertemakan spionasme tak terlalu baik untuk kesehatan mentalku," gerutunya sambil masuk ke kamar mandi dan membersihkan badannya.
Berharap air yang segar itu mampu menjernihkan kepalanya.
Flash Back Off
Neji membuka matanya. Dilihatnya jam di ruang kesehatan telah menunjukkan pukul dua siang. Bel tanda berakhirnya jam sekolah hari ini tampaknya pasti sudah berbunyi beberapa menit lalu. Dia tak menyadari jika dia telah tertidur selama itu.
"Kau sudah bangun ya? Maaf, tadi aku pergi dan baru menyadari jika ada seseorang di sini," kata seorang wanita cantik yang Neji perkirakan usianya belum lebih dari dua puluh lima tahun yang tak dikenalinya. "Aku dokter baru di sini, Namaku Suzune. Aku baru saja selesai mengurus dokumen-dokumen kepindahanku menggantikan Sarutobi-sensei yang sudah pensiun. Kau sudah lama di sini? Sudah minum obat kan? Kalau tidak salah jumlah aspirinnya sudah berkurang, berarti kau sudah minum kan?"
"Ya." Neji hanya menatap bingung wanita itu sambil menggaruk tenguknya yang tak gatal. "Saya sudah baikan, sensei. Terimakasih."
Wanita itu mengamati wajah murid di hadapannya dengan tatapan menyelidik.
"Ada apa?" tanya Neji sambil bangkit dari tempat tidurnya dan merapikan seragamnya yang sedikit berkerut. "Apa ada yang salah dengan saya?"
Suzune hanya menggeleng kecil sambil tertawa saja. "Ah, tidak. Aku hanya menduga-duga mengapa kau ada di sini. Kupikir kau mungkin saja membolos dengan alasan sakit seperti di tempat praktikku sebelumnya, namun wajahmu terlihat jujur. Meski tak akan ada yang tahu jika ituadalah acting yang menunjukkan sisi gelapmu."
"Sisi gelap?" pertanyaan yang sebenarnya merupaakan beoan dari kata-kata terakhir sang dokter muda terlontar tanpa bisa dicegah oleh Neji. Mau tak mau dia membuat opsi-opsi tak logis yang dikaitkannya dengan kata-kata Iruka-sensei di dalam kelas. Namun sekali lagi, dia hanya menepis pikirannya sendiri dan menggerutu dalam hati. 'Betapa paranoidnya aku! Gara-gara mimpi sialan itu, aku jadi berfikir yang macam-macam!'
Suzune memalingkan wajahnya dan menata beberapa obat yang ada di mejanya. "Begitulah, terkadang seseorang menekan sisi gelapnya dan memerangkapnya dalam sudut hati. Tak akan pernah ada seseorang yang tahu bahwa dibalik wajah polos seseorang, mungkin saja tersimpan pikiran busuk dan segala sumpah serapah yang mengerikan. Atau bahkan lebih buruk lagi. Hasrat ingin menghancurkan."
Neji merasakan tubuhnya merinding sekaligus bersemangat mendengar kata-kata dokter itu. Dia menelan ludah terpaksa saat melihat wanita itu tersenyum misterius, seakan dia mengetahui suatu rahasia besar yang tak diketahui oleh orang lain.
"Dan jika kau tak melepaskan hasrat itu maka kau akan menjadi gila dan akhirnya mati," wanita itu masih tetap berbicara. "Masalah utama yang harus kita hadapi adalah masyarakat kita yang tak membiarkan adanya sarana untuk melepaskan emosi gelap itu dan memaksa kita untuk tetap menggunakan topeng manusia suci untuk memberikan kesan bahwa kita adalah orang baik-baik. Namun tanpa mereka sadari, merekalah yang telah membunuh kita perlahan-lahan dan menyiksa kita dari dalam."
Neji menatap nanar wanita itu, Suzune seolah sedang membicarakan dirinya sebagai objek bukan manusia secara umum. Dokter cantik berusia dua puluhan itu seakan dapat membaca pikiranya dan menilik hatinya. Apapun yang dikatakannya sesuai dengan apa yang dipikirkan Neji mengenai dirinya sendiri.
"Mengapa anda mengatakannya pada saya, sensei?" tanya Neji dengan hati-hati, tak ingin memberi kesan buruk dirinya pada sang dokter.
Suzune hanya tertawa mendengarnya. "Kau benar. Mengapa aku mengatakannya padamu ya? Mungkin karena kau terlihat jauh lebih pandai dan dewasa dibanding anak lain yang seusiamu." Wanita itu menoleh pada Neji dan tersenyum lembut. "Kebanyakan remaja biasanya masih naif dan menganggap aku hanya membual, namun kau berbeda. Aku merasa kau akan mengerti kata-kataku."
Neji hanya diam tak menjawab.
"Ah, kau kan masih sakit, ya? Kalau begitu kau harus cepat pulang dan beristirahat," wanita itu kembali berbicara sambil membuka pintu ruang kesehatan mempersilahkan Neji pergi. "Maaf aku telah membuatmu tinggal lama di sini karena mendengarkan ceritaku yang membosankan."
Neji menggeleng cepat. "Tidak apa-apa, sensei. Saya permisi," dia pamit sambil menutup pintu ruang kesehatan itu.
Sayang, dia tak sempat melihat sebuah senyum mengerikan yang tercetak di wajah sang dokter muda nan cantik itu, senyum yang muncul bersamaan dengan bisikan lirih parau yang ditujukan untuk dirinya sendiri.
"Misi telah selesai. Neji Hyuuga, kau memang seorang anak yang cerdas. Namun kau harus menerima kenyataan jika dirimu tak sadar jika saat ini kau tengah didoktrinasi olehku. Fufufu…"
…*…
Sekolah masih dapat dikatakan cukup ramai saat Neji keluar dari gedung sekolah dengan gaya arsitektur yang terlalu kaku dan membosankan itu. Dia memasang senyum ramah tatkala ada orang yang menyapa atau menanyakan kondisinya karena dia telah menghabiskan waktu seharian di ruang kesehatan dan tak kembali mengikuti pelajaran.
Mengesalkan. Neji tahu bahwa di balik pertanyaan-pertanyaan sopan mereka, anak-anak itu menjelek-jelekkannya di belakang dan mengatakan jika dia sebenarnya membolos. Namun meskipun dia muak pada sikap sok peduli mereka, pemuda bersurai coklat itu tetap bersabar dan tersenyum mengatakan jika dia hanya sedikit kelelahan dan badannya sudah jauh lebih baik sekarang.
Neji menyesapi tiap-tiap kata yang diucapkan leh Suzune, sang dokter muda aneh penggemar psikologi tadi. Ternyata setiap orang memang menggunakan topeng. Baik dirinya ataupun orang-orang yang menyapanya itu hanya sekedar berbasa-basi dan memasang wajah anak baik baik sebagai upaya agar imagenya tak jatuh ataupun hancur. Menggelikan.
Kini dia sadar. Dia hidup di dunia yang dipenuhi kebohongan. Dunia gelap yang terus-menerus ditutupi dengan cahaya putih yang hanya setengah hati bersinar.
Menjijikkan!
Begitu melewati gerbang, matanya tak sengaja menangkap sosok gadis yang mengenakan pakaian bebas bernada casual berdiri di dekatnya bersama dengan adik kelasnya yang memiliki alis setebal dosa. Bukannya gadis itu sangat cantik atau apa, hanya saja Neji merasa sedikit familier dengannya.
Diamatinya lagi gadis itu dengan seksama. Tingginya tak lebih dari seratus enam puluh satu centi, kulitnya kuning sedikit kecoklatan, dia mengenakan cropped jaket berwarna merah gelap dan rok lipit di atas lutut dengan warna senada. Di balik jaketnya dia mengenakan atasan bergaya ruffle berwarna pink muda. Wajahnyapun cukup cantik meski tanpa make-up, matanya hijau besar danlang pipinya tinggi. Namun bukan gaya berpakaian ataupun wajahnya yang membuat Neji tertarik. Melainkan warna rambut sang gadis. Pink.
Tanpa bermaksud menggombal atau semacamnya, Neji yakin jika sebelumnya dia pernah mengenal gadis itu.
Gadis itu meloneh ke arah Neji dan tersenyum lebar. "Neji-kun!" panggil gadis itu riang sambil meninggalkan teman bicaranya yang kini sedang memasang wajah kecewa.
'Ok, berarti aku memang mengenal gadis itu,' Neji mengambil kesimpulan dalam hati. Dia bersyukur, tak banyak gadis bersurai pink cerah yang terlahir di bumi, dan salah satu gadis bersurai pink itu adalah teman satu SDnya yang sudah lama tak ditemuinya, Haruno Sakura.
"Sakura Haruno?" Neji memastikan.
Sebuah senyum lebar ditunjukkan gadis itu sebagai jawabannya. "Aku tak menyangka kau masih akan mengingatku setelah sepuluh tahun berlalu."
"Sebenarnya aku sedikit ragu tadi. Kau telah banyak berubah. Siapa sangka gadis yang dulu senang menghajar anak lelaki manapun yang mengejeknya dengan sebutan tomboi kini telah berubah menjadi gadis yang sangat anggun dan feminin seperti ini."
"Kau terlalu memuji, Neji. Di dalamnya aku tak terlalu banyak berubah. Masih brutal dan senang menghajar orang," timpal sang gadis sambil tersenyum senang. Meski menyangkal, Neji yakin di dalamnya gadis itu merasa tersanjung juga karena telah dipuji. Hanya saja harga diri tak memperbolehkan gadis itu menunjukkannya secara langsung. Munafik.
"Kau sedang apa di sini, Sakura. Bukankah kau pindah ke Amerika karena mendapatkan beasiswa di sana saat masih SD?"
Gadis bermata bak emerald itu hanya mengangkat bahunya tak peduli. "Memang. Namun aku sudah menuntaskan sekolahku di sana. Sejak tiga tahun lalu aku sudah kembali ke Jepang dan memutuskan untuk bekerja di sini. Namun baru setahun terakhir aku bekerja di Konoha setelah sebelumnya bekerja di Tokyo."
"Kau sudah bekerja? Mengagumkan," puji Neji setengah hati. "Sebagai model, artis atau desainer?" tanya Neji sambil mengamati busana yang dikenakan gadis di hadapannya. Cukup modis.
"Dokter sebenarnya," koreksi Sakura sambil tertawa renyah.
Dengan senyum tetap bertahan di wajahnya, Neji berkata, "Sudahkah aku berkata seberapa mengagumkannya dirimu?"
"Kurasa sudah tadi."
Pembicaraan terhenti, Neji menghabiskan waktu dengan mengamati gadis di hadapannya. Rambutnya dipotong pendek tak sepanjang punggung lagi, mungkin karena pekerjaannya sebagai seorang dokter mewajibkannya tak memiliki rambut panjang yang dapat mengganggu proses pemeriksaan. Di bawah matanya ada kantung mata yang sedikit tersamar, efek menjadi orang jenius.
Samar-samar dia mengingat masa-masa ketika dirinya masih SD dulu, memang menggelikan jika diingat sekarang, namun dulu dirinya yang masih sangat polos dan lugu sempat menaruh hati pada gadis beriris green emerald ini. Dia bahkan sempat syok saat mendengar berita kepindahan sang gadis yang tiba-tiba.
Jika dipikir-pikir lagi, sebenarnya dia tak menemukan suatu kekhususan pada diri Sakura yang dapat membuatnya jatuh cinta sekarang.
Gadis itu memang cantik, namun masih banyak gadis yang lebih cantik daripada dirinya. Dia juga ramah dan anggun, namun Neji tahu jika itu hanyalah acting yang dilakukan oleh gadis di hadapannya. Dia juga cerdas, buktinya dia dapat menjadi doter di usia yang masih sangat belia. Namun ayolah, siapa sih cowok yang mau berpacaran dengan gadis yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan virus-virus dan bakteri mematikan dibanding kekasihnya?
Tunggu dulu. Gadis yang telah memiliki profesi sehebat itu tak mungkin berada di depan sekolah menengah atas tanpa alasan bukan?
"Hm, Sakura, kurasa kau belum menjawab pertanyaanku tadi," kata Neji mengingatkan sang gadis. "Mengapa kau ada di sini? Seorang dokter muda berbakat pastinya tak memiliki banyak waktu luang sampai tersesat ke sebuah SMA di tepi kota bukan?"
Gadis itu hanya tersenyum simpul menanggapi pertanyaan Neji. "Apa kau marah jika aku mengatakan aku datang mencarimu?"
"Tidak. Tapi darimana kau mengetahui alamat sekolahku?"
"Well, sekitar sebulan yang lalu tanpa sengaja aku melihatmu dari kafe saat sedang istirahat sore. Sebenarnya aku ingin menyapamu saat itu juga, namun kau sedang bersama dengan teman-temanmu. Jadi akumengurungkan niatku. Saat aku menanyakan tentang seragam sekolah yang kau kenakan pada salah seorang senior di rumah sakit, dia mengatakan jika itu adalah seragam di sekolahnya dulu. Dari dialah aku mendapatkan alamat sekolahmu," sakura mengambil nafas panjang sebelum kembali melanjutkan, "Namun aku baru mendapatkan jatah liburku sebulan kemudian, jadi aku baru bisa datang menemuimu hari ini."
Mendengar kisah yang dituturkan Sakura, Neji mengernyit sedikit, cerita yang terlalu mengada-ada, namun tak menghapus kemungkina n jika itu memang kisah yang sebenarnya.
"Ada alasan khusus mengapa kau menemuiku?"
"Yeah, sebenarnya aku ingin bernostalgia dengan cinta pertamaku. Lagipula… aku sedikit penasaran denganmu," kikik Sakura mengingat masa ketika ia masih belia. "Kau punya waktu? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
Waktu hampir satu menit penuh dihabiskannya untuk mempertimbangkan ajakan Sakura. Ajakan itu tampak menarik, apalagi mengingat kepalanya sudah tak lagi berdenyut seperti beberapa jam yang lalu. Dan mungkin acara jalan-jalan dengan seorang gadis menawanlah yang dibutuhkannya untuk mengalihkan perhatian dari segala macam kejadian yang terasa menjadi beban di pikiran.
"Baiklah. Asal kau tak keberatan jalan bersama dengan cowok yang masih menggunakan seragam," Neji mengambil keputusan.
Sakura tertawa pelan menimpali celetukan neji lalu memeluk tangan sang pemuda mesra sinambi berkata, "Kau terlihat luar biasa tampan menggunakan seragam itu, Neji-kun. Pasti sepanjang perjalanan akan banyak gadis yang melayangkan pandangan tak menyenangkan kepadaku."
…*…
Sebuah cafe bergaya neo classical indah adalah tempat pilihan Sakura untuk mengajak Neji menghabiskan waktu. Letaknya yang sedikit tersembunyi di antara gang-gang membuat kafe ini tak terlalu ramai pengunjung meskipun rasa masakan dan minumannya dapat diandalkan. Suasananya yang berkesan romantispun memberi nilai sendiri bagi para tamu yang sedang memadu asmara.
Secangkir capucino dan ice cream strawberry adalah menu yang dipesan oleh Neji dan Sakura begitu seorang pelayan yang mengenakan pakaian maid mendatangi mereka. Seolah bernostalgia, mereka membahas segala hal yang pernah mereka alami bersama sebelum kepindahan Sakura ke Amerika.
"Aku tak menyangka bisa kalah darimu, Sakura. Bagaimana kisahnya hingga kau bisa menjadi seorang dokter dalam usia semuda ini?"
Sakura hanya mengangkat bahunya tak peduli. "Seperti yang kau tahu, sistem pendidikan Amerika tak sekolot di sini. Mudah saja bagi siswanya untuk lompat kelas jika memang dinilai mampu," gadis itu menyuap sedikit pesanannya sebelum kembali berkata, "Dan sialnya, aku termasuk salah satu anak di dalamnya. Mereka bilang aku berbakat di bidang kedokteran. Padahal aku hanyalah si bodoh yang entah beruntung atau malah sial."
"Apa kau tak menyenangi pekerjaanmu sekarang?"
Sakura tertawa miris mendengarnya. "Kau hanya tahu pekerjaanku adalah dokter, Neji-kun. Kau tak tahu detail-detail pekerjaanku."
Neji mengamati gadis di hadapannya lagi. Gadis ini tampaknya menyimpan suatu misteri yang jauh lebih besar dibandingkan misteri kedatangannya hari ini. Di balik tubuh kurus dan langsing itu, Neji melihat kekuatan yang cukup besar. Ucapkan terima kasih pada pekerjaannya menjadi asisten sang paman di dojo keluarganya, berkat itu dia dapat mengetahui kemampuan beladiri seseorang hanya dengan melihat tubuhnya saja.
Dan gadis ini memiliki kemampuan yang dapat dikatakan cukup mumpuni.
Tidak, bahkan lebih dari sekedar mumpuni. Dia mungkin dapat menyebunyikannya dengan berpura-pura sebagai gadis lemah, namun Neji tahu, gadis itu dapat meretakkan tulang seorang pria dewasa hanya dengan sekali pukul saja jika dia menginginkannya.
Gadis yang mengerikan.
"Mengapa kau menatapku seolah kau ingin menelanjangiku begitu?" canda Sakura sambil terkikik pelan melihat tingkah Neji yang mengamatinya dengan intens.
"Aku hanya sedang berusaha menerka apa detail pekerjaanmu saja, kok."
"Kau tak akan dapat menebaknya, Neji-kun. Belum pernah ada seorangpun yang dapat menebak spesialisasiku dengan tepat," tantang gadis itu sambil menjilat setetes es krim yang mengalir dari sudut bibirnya dengan gaya yang terkesan erotis.
Neji tersenyum. "Kau menantangku? Baiklah, akan kuterima," jawab sang pemuda percaya diri. "Mungkin dokter anak jika dilihat dari penampilanmu. Atau dokter umum jika dilihat dari kesibukanmu selama ini," terkanya.
"Maaf, kau salah, tuan sok tahu!" jawab sang gadis sambil menjulurkan lidahnya mengejak.
"Kalau bukan, lalu apa?"
Sakura kembali bersikap serius. Dia menyuapkan beberapa sendok es krim ke mulutnya sambil menegakkan punggungnya. "Yah, sebenarnya aku bisa saja menjadi dokter anak atau dokter umum, seperti kebanyakan pilihan dokter lain. Sayangnya aku tak tertarik," gadis itu kembali memulai kisahnya dengan tenang. "Aku lebih senang menjadi seorang dokter ahli forensik dan autopsi."
Mendengar kata-kata yang dengan santainya diucapkan sang gadis, mau tak mau Neji sedikit bergidik. "Pekerjaanmu terdengar mengerikan."
"Tidak terlalu. Lagipula aku senang bertemu dengan mayat-mayat itu," jawab Sakura sambil tersenyum aneh. "Aku menikmati saat pisauku mengiris tubuh mereka tanpa adanya resiko mati. Yah, karena mereka memang sudah tak hidup, bukan? Aku senang melihat jantung yang sudah berhenti berdetak dan dingin, terlihat sangat menawan. Namun yang paling aku suka adalah melihat Mayat yang tubuhnya sudah tak lengkap. Sungguh memiliki nilai estetika."
Saat itulah Neji melihat sisi gelap seorang Haruno Sakura.
"Kau terdengar seperti seorang psikopat gila, Sakura," dengus Neji sambil menyesap sedikit capucinonya. Ingatannya sedikit melayang pada beberapa pembicaraan dengan sang ayah selama setahun terakhir. Kalau tidak salah, adik sang kepala keluarga itu pernah mengatakan jika ada seorang gadis muda yang telah beberapa kali turut berpartisipasi dalam mengidentifikasi kematian para korban. Selama ini dia menganggapnya sebagai percakapan biasa yang tak bermakna, namun sekarang, mungkin sang dokter muda yang dimaksud ayahnya adalah Haruno Sakura.
Sakura terkikik mendengarnya. "Bukan penggambaran yang terlalu buruk, Neji-kun. Tak masalah bukan jika aku menganggapnya sebagai sebuah pujian?"
"Aku tak dapat mencegahmu jika kau ingin menganggapnya seperti itu."
Tiba-tiba suara instrumen musik klasik terdengar dari dalam tas kecil Sakura menghentikan pembicaraan itu.
Chopin, Neji menggaris bawahi nama seorang maestro musik ternama sebegai penggubah musik menawan itu. Dia memang sudah sering mendengarkannya, terutama sebagai salah satu sarana penunjang ketika dia tengah belajar. Namun mendengarkannya di saat suasana hati sedang gelisah seperti ini, entah mengapa musik itu terdengar… mengerikan.
"Halo, Tusdane-sama. Ada apa?" Sakura bertanya dengan nada lirih pada sang penelpon di sebrang sana. "Sekarang? Baiklah. Aku mengerti. Aku akan datang secepatnya ke sana… tak apa, aku mengerti jika ini adalah keadaan darurat. Ya, Tsunade-sama. Setengah jam lagi saya akan tiba di rumah sakit."
Neji yang tak mendengar kata-kata sang penelpon langsung bertanya kepada Sakura setelah gadis itu menutup teleponnya. "Ada apa?"
Sakura menghela nafas panjang. "Polisi menemukan sangat banyak mayat siang ini. Dokter kepala memintaku untuk datang membantu karena kami kekurangan tenaga ahli," gadis itu menjelaskan sambil membereskan barang-barang bawaannya. Dengan wajah menyesal dia menatap Neji dan berkata, "Maafkan aku, Neji-kun. Padahal akulah yang mengajakmu kemari, namun aku harus pergi sekarang. Maaf."
"Tak usah kau pikirkan, Sakura. Lagipula aku juga cukup menikmati hari ini," jawab Neji sambil tersenyum pelan dan ikut bangkit berdiri.
Sakura yang masih merasa tak enak langsung berkata, "Kalau begitu, biar aku saja yang membayar pesanan kita. Anggaplah itu sebagai ucapan maafku karena harus pergi secepat ini?!"
"Maaf, aku tak bisa menerimanya," kata Neji sambil berjalan ke counter untuk membayar pesanan mereka. Ditaruhnya beberapa ribu yen di atas kasir sebelum sang penjaga mengatakan biaya total mereka. "Sebagai laki-laki aku harus memperlakukan wanita sebagai seorang Lady. Mana bisa aku mendapatkan traktiran dari seorang Lady. Harga diriku sebagai seorang gentleman bisa terluka nanti," candanya.
Sakura hanya menunduk mendengar kata-kata Neji. "Kau masih belum terlalu banyak berubah, Neji. Selain tubuhmu yang semakin tinggi dan tegap, kau masih sama seperti dulu. Baik hati namun… naif."
"Penilaian yang sangat baik, Sakura. Akupun merasa diriku begitu." Neji kembali mengingat mimpinya semalam. Terlalu banyak darah yang mengalir, terlalu banyak mayat yang bergelimpangan dan terlalu banyak kengerian yang tak lagi dapat digambarkan dengan kata-kata. Namun entah mengapa, dia menikmatinya. Menikmati tiap harmonisasi malam yang berpadu dengan suara jeritan kesakitan. Keindahan musik yang sempurna. Dan diapun tak dapat melupakan sensasi saat dia menancapkan pipa besi ke kepala orang berpakaian hitam itu. Ya, otaknya yang berwarna abu-abu dan darah yang muncrat dipadu dengan tatapan horor akan kematian yang menjemput terlihat sama indahnya dengan pahatan Michelangelo di matanya. Hasrat ingin membunuhnya yang terlahir terasa menyenangkan.
'Polisi menemukan banyak mayat siang ini…' kata-kata Sakura bergaung seperti mantra di otaknya membuat kepalanya terasa berdenyut menyakitkan lagi. Banyak mayat, ya, banyak mayat. Deskripsi yang sama dengan kejadian semalam. Rasa ingin tahunya membuncah saat mereka mulai keluar dari café dalam keheningan. Dia harus bertanya! Harus!
"Hm, Sakura. Tadi kau mengatakan Polisi banyak menemukan mayat siang ini. Apa kau tahu kondisinya?"
Sakura menoleh seolah sudah menunggu pertanyaan ini terlontar dari Neji. Sebuah seringai puas terbentuk di wajah cantiknya. Namun cepat-cepat ia singkirkan senyum itu sebelum Neji sempat melihatnya.
"Tentu saja aku tak tahu kondisinya, aku kan belum melihatnya secara langsung," pancing Sakura sambil melirik sepintas wajah Neji yang mengekspresikan kekecewaan. "Tapi kata Dokter Kepala, mereka ditemukan di bekas sekolah yang terbakar semalam dengan kondisi tubuh yang mengerikan dan tanpa ada tanda pengenal yang tersisa. Salah satunya bahkan terbelah menjadi dua dan ada juga yang mati dengan…"
"…pipa besi menembus kepalanya."
…*…
Setelah melambaikan tangan pada sang pemuda Hyuuga yang menjadi targetnya, Sakura membelokkan tubuhnya ke sebuah gang gelap di mana sebuah mobil sedan hitam telah menunggunya. Dia mengetuk kaca samping mobil itu yang tak memungkinkan orang luar melihat ke dalamnya. Jendela kaca itu terbuka menampilkan sosok seorang wanita pirang yang sepintas tak terlihat jika umurnya sebenarnya sudah berkepala lima. Dia mengangkat jempolnya sebagai tanda jika dia telah berhasil.
"Masuklah," perintah wanita itu tegas. Sang gadis bersurai pink hanya mengangguk dan mematuhi peritahnya. Setelah memasang safety belt, wanita pirang itu kembali berkata, "Tak rugi aku memberimu cuti, Sakura. Kerjamu sungguh baik. Mulai dari menyingkirkan Number Six dan mencari penggantinya sangat sempurna."
Sakura menatap rekaman video saat dia sedang berbicara dengan Neji yang terpampang di layar datar di hadapannya. Sebuah senyum misterius mengembang di wajahnya. "Bukankah dia orang yang sangat menarik, Leader Dewan Besar? Tampaknya dia sudah mulai menyadari kegelapan yang ada di hatinya sendiri. Tak akan makan waktu lama hingga dia siap menjadi Six berikutnya."
Wanita pirang itu mengangguk mengerti. "Masalah Number Six kuserahkan padamu sepenuhnya,"putus wanita itu dengan tegas. Dia mulai menjalankan sedan hitam itu keluar dari gang sempit yang gelap dan melajukannya ke gedung Rumah Sakit Konoha. "Bicara soal Six, di mana kau meninggalkan jasad tanpa ingatan Houzuki Suigetsu itu?"
"Anda tak perlu cemas, Tsunade-sama. Saya meninggalkannya di tempat sampah dekat lokasi bar-bar kumuh di sisi lain kota. Siapapun yang melihatnya pasti akan mengira dia menjadi korban pemerkosaan yang sadis. Dan anda tak perlu khawatir, meskipun saya membencinya. Namun saya masih tetap membiarkan si gigi tajam itu hidup, bagaimanapun dia adalah mantan anggota dari The Emperor. Aku harus bersikap baik kepadanya."
"Baik soal Houzuki ataupun Neji Hyuuga, semua berjalan lancar. Mengagumkan," puji wanita itu puas.
"Terima kasih, Leader."
"Bagaimana dengan Queen? Apa dia tak akan memberontak jika sepupu kesayangannya terlibat?" tanya seorang pria yang duduk di belakang bersama dengan wanita berambut pendek yang sedang memangku seekor babi.
Sakura tersenyum. "Clover Queen tak akan berani berkata apapun. Hukuman yang diberikan Black Joker akan cukup membuatnya bungkam beberapa waktu ini."
"Memang tak salah aku memilihmu sebagai Red Joker. Kemampuanmu memang patut dibanggakan. Kalian setuju bukan, Suzune, Iruka?" tanya wanita itu pada sepasang pria dan wanita yang duduk di bangku belakang mobil.
Mereka mengangguk setuju sambil tersenyum aneh. "Ya, Red Joker memang gadis yang mengagumkan."
…*…
Ehem, chap 2 mulur sampai beberapa hari. Alasannya? Oh hanya karena saya lupa menyimpan cerita ini di mana. #BUAGH ditinju Reader
OK, bagi yang sudah review nanti saya balas lewat PM ya? Makasih banget sudah menyempatkan diri membaca FF tak berdasar ini. Aku terharu!
Sayangnya belum ada yang benar menebaknya. Sekarang sudah jelas kalau Red Joker itu Sakura kan? Hehehe, saya memang berniat membuat kisah ini berdasarkan kartu Remi
Maaf di chap ini nggak ada adegan sadisnya, malah berkesan romance. Kenapa? Kenapaaaaaa? Ya, karena saya keasyikan nulis sampai lupa panjangnya. #DUAGH ditendang Reader. Malahan pairnya sekarang condong ke NejiSaku. -_- duh, bagaimana dengan Hinata ya?
Bocoran untuk chap depan:
Hinata masih dapat merasakan saat kaki-kaki mungil itu menggerayangi tubuhnya sementara makhluk-makhluk melata menjalar di sekitar kakinya. Tubuhnya memucat. Black Joker memang tak pernah main-main dalam memberi hukuman! Bahkan kepada seorang wanita seperti dirinya.
…
"Fufufu, kau tak akan dapat mengerang saat pisau ini mengoyak kulitmu. Kau tak akan dapat mengeluh tiap tanganku menyentuhmu. Dan kau tak akan dapat lagi berteriak tiap kujamah organ-organ tubuhmu. Atas nama keadilan dan kebenaran aku menghancurkanmu," nyanyi seorang gadis di kamar khusus yang digunakannya tiap mengidentifikasi mayat. "Pergilah ke neraka dan nyanyikanlah lullabi penderitaanmu di sana, senangdungkan bait-baik kejahatan yang terbalut dalam sebuah keindahan."
…
Prenasaran? Makanya baca lanjutannya ya!
