Complicated by Mss dhyta

Bleach by Tite Kubo

Warning : AU, OOC

.

.

Pagi itu media kembali gempar, setelah ada salah satu media yang mendapatkan pesan dari kelompok shinigami. Seperti biasanya kelompok itu selalu menghubungi salah satu media secara acak dan memberitahu dimana mereka meletakkan petunjuk, atau pengungkap kasus.

Dan kemarin Karakura Pos lah yang mendapatkan pesan keberuntungan itu, ternyata berada di dalam pot.

"Jadi, bagaimana penjelasanmu Rukia?"

Rukia menatap seseorang bermata hitam denga rambut panjang dan ekspresi datar yang berada di hadapannya, tak lain adalah kakaknya sendiri.

"Maaf, Byakuya-sama kemarin ketika aku sudah berhasil membuat salah satu penjahat tersudut tapi teman mereka mengalihkan perhatianku dan…"

"Cukup, lalu penjelasanmu Renji." Byakuya memotong ucapan Rukia ditengah penjelasannya, hal itu hanya membuat Rukia takut dan semakin segan terhadap kakak kandungnya itu.

"Ketika aku menerima perintah untuk naik ke lantai 2, aku diserang oleh seseorang dengan topeng putih yang bersembunyi dibalik rak buku. Sepertinya dia masuk melalui pintu belakang,"

Byakuya mengangguk mengerti, " Aku harap kalian berdua memberi laporan dan ciri-ciri anggota kelompok shinigami yang kalian lihat itu, dan serahkan malam ini juga mengerti?"

"Mengerti!"

.

.

Rukia dan Renji keluar dari ruangan itu dengan muka pucat, mereka lelah akibat kejadian kemarin malam. Ternyata setelah adegan tembak-menembak dan kejar-kejaran yang mereka alami. Secara tiba-tiba kumpulan media menyerang mereka dan menerobos masuk begitu saja.

Dan parahnya ternyata kelompok itu –kelompok shinigami, berhasil mengabari salah satu media yang beruntung mendapatkan lotre pengungkapan kasus. Dan berhasil menjadi headline hari berikutnya.

"Kenapa mereka begitu menyebalkan." Keluh Renji sembari menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan, sedikit melepas lelah.

"Maksudmu siapa?"

"Shinigami, mereka telah membuat kita repot, aku heran kenapa mereka begitu gencar mengungkap kasus yang tidak begitu penting." Keluhnya lagi dengan kaki yang melangkah ke depan, diikuti dengan Rukia yang menuju lantai 2 tempat ia bekerja.

"Kasus tidak penting bagaimana? Ternyata kasus yang kemarin kita bicarakan benar-benar kasus pembunuhan kan?"

Renji memencet tombol lift dan menunggunya terbuka di depan pintu lift. "Memang sih tapi cara pengungkapan mereka itu terlalu sensasional hanya menimbulkan kerepotan, dan omelan buat kita."

Rukia hanya mendengarkan ocehan Renji dengan malas, terlalu sulit untuk menjelaskan sesuatu kepada babon yang sedang mengeluh. Tapi ia masih tidak mengerti dengan penjelasan yang diungkapkan salah satu anggota Shinigami yang dihadapinya kemarin.

Pintu lift terbuka dan sekilas Rukia melihat beberapa orang yang keluar dari lift salah satunya adalah seorang pria dengan topi yang menutupi kepalanya, tapi sekilas Rukia bisa melihat mata coklat milik pria itu, mata coklat yang indah dan membuatnya sedikit terpaku.

"Hei, Rukia ayo masuk."

Rukia segera melangkah masuk kedalam lift dan membiarkan punggung pria yang membuatnya terpaku itu pergi.

.

.

Malam benar-benar sudah larut, tapi Rukia masih harus terpaku di depan layar komputernya mengetik segala kronologis yang terjadi ketika ia melawan kelompok shinigami itu, ternyata sebagian ucapan Renji benar, mereka telah membuat dia –dan para kepolisian kerepotan.

Rukia menyandarkan tubuhnya di kursi dan memijat sekitar matanya dengan kedua jarinya, sedikit melepas lelah dan menyeruput kopi yang sudah tidak hangat lagi. Ia melirik meja Renji dan melihat pria berambut merah itu telah tertidur dengan cairan –iler, yang menetes di atas keyboard. Mungkin Rukia baru membangunkannya setelah ia selesai.

Rukia mengetik soal ciri-ciri pria yang telah kabur di hadapannya kemarin malam, ia berusaha mengingat semuanya, topeng hitam, matanya, rambutnya dan tinggi badan.

"Topeng hitam, mata coklat, rambut oranye dan tingginya…"

Rukia berpikir sejenak, kadang ia benar-benar merasa terlalu pendek untuk mengira-ngira tinggi seseorang. Walaupun ia tidak mau mengakui soal dirinya yang begitu pendek.

"Sekitar 170 cm."

Rukia berpikir lagi menyandarkan kepalanya dan mengingat sesuatu yang menurutnya sangat penting.

"Mata coklat…"

Dan ia baru menyadari kalau mata yang berwarna sama baru saja ia temui di depan pintu lift.

.

.

"Hei, Ichigo,"

Pemilik mata coklat itu menatap Ishida dengan tatapan bertanya ada-apa.

"Bagaimana dengan laporan yang kau terima dari Hanatarou?" tanya Ishida sembari mengulurkan tangannya ke depan.

"Belum ada."

"Maksudmu, belum ada kasus yang mencurigakan hari ini?" Tanya Ishida dengan ragu-ragu, ia sedikit tidak yakin ketika meminta Ichigo mengambil laporan mingguan dari Hanatarou.

"Sepertinya, aku juga tidak mengerti. Bagaimana dengan usaha kita kemarin ada hasil?"

"Lumayan, setelah Karakura Pos menerima laporan kita mereka langsung menjadikan headline dan jelas itu membuat polisi secara terpaksa menahan Kumoi dan anak buahnya. Lagipula bukti yang kita dapatkan valid." jawab Hitsugaya dengan tenang, ia tetap bersandar pada kursinya dengan remote televisi di tangan kanan.

Ichigo mengangguk. "Baguslah."

Ishida yang sejak tadi menangkap ada sesuatu yang aneh segera melontarkan sebuah pertanyaan. "Ada masalah?"

Ichigo hanya bisa menggeleng, sebenarnya ada sesuatu yang mengganggunya kebetulan yang sangat membuatnya terganggu. "Tidak, tidak ada,"

.

.

Rukia yang masih sibuk dengan beberapa hal yang menurutnya sangat penting berusaha untuk tidak terlalu memikirkan pertemuanny dengan orang yang memiliki mata yang sama dengan mata anggota Shinigami. Terlalu konyol bisa saja orang yang ia temui memakai contact lens atau sebaliknya anggota Shinigami itu yang memakai contact lens.

"Rukia, kau dipanggil Aizen-sama,"

Rukia mengerutkan dahinya, ia tidak mengerti bagaimana bisa seorang kepala polisi memanggilnya, biasanya hal itu hanya akan terjadi bila ia melakukan kesalahan yang sangat besar tapi, Rukia tidak ingin berpikir telalu panjang sebaiknya ia segera menyambut panggilan itu.

.

.

Aizen menunggu di dalam ruangannya dengan tenang, tanpa memperlihatkan ekspresi yang sebenarnya ia terlihat seperti tidak memiliki masalah apapun, walaupun sebenarnya ada suatu hal yang mengganggunya. Matanya jeli melihat beberapa berkas yang ia terima kemarin dari Byakuya, ia membacanya dengan seksama dan mendapatkan sedikit penyelesaian terhadap hal yang sedikit ia cemaskan.

Tok…tok…

Aizen tidak menjawab ketukan pintu itu dan membiarkan si pengetuk pintu masuk, memberi hormat padanya dan menunggu dirinya bicara.

"Jadi, saya dengar anda memanggil saya Aizen-sama." Rukia mencoba memastikan hal tentang berita yang mengatakan kalau ia dipanggil, kurang lebih sebenarnya hanya formalitas belaka.

"Benar, aku dengar dari Byakuya kau telah melihat salah satu anggota shinigami?" tanya Aizen dengan mata yang tersorot tajam pada Rukia membuat wanita itu hanya mampu menjawab tanpa mengelak.

"Saya hanya melihat sebagian wajahnya yang tidak tertutup topeng, karena keadaan waktu itu saya tidak begitu memperhatikannya." jelas Rukia tanpa pembelaan apapun bagi dirinya, jika kepala polisi yang satu ini kejam bisa habis dia karena penjelasannya sendiri.

"Kalau begitu kau yang akan jadi kepala untuk penyelidikan ini." Aizen kali ini membuat Rukia benar-benar nyaris terlonjak kaget.

"Sa…ya?"

"Tentu saja, aku mendengar kemampuan menembakmu sangat bagus, dan dilihat dari kejadian selama ini aku yakin para anggota shinigami penembak yang handal. Selain itu sepertinya kau sedikit tertarik dengan kasus ini nona Kuchiki." Jelasnya tetap memandang mata violet Rukia, dan tatapan itu benar-benar menusuk, membuat Rukia segan untuk berbohong.

"Benar, kalau begitu saya ucapkan terimakasih Aizen-sama." Rukia menundukkan badannya seolah-olah menunjukkan ucapan terimakasih bagi pria itu.

Aizen hanya tersenyum, dan menunjuk pintu keluar dengan tangan kanannya, hanya isyarat yang membuat Rukia tahu apa maksudnya.

"Saya permisi dulu Aizen-sama."

Setelah keluar dari ruangan itu Rukia masih bertanya-tanya dalam hati bagaimana bisa ia ditunjuk sebagai kepala penyelidikan untuk masalah ini, selain itu ia juga masih memikirkan reaksi kakaknya yang mungkin akan sangat mengerikan.

.

.

Black Café adalah sebuah café dengan nuansa gelap yang menyebabkan beberapa orang merasa nyaman di dalamnya. Mungkin bagi pasangan muda untuk berpacaran dan bagi orang-orang seperti Ichigo untuk merasakan ketenangan. Suasananya selalu sunyi dan diiringi dengan musik klasik yang membuatnya tenang.

Sebuah coklat panas telah tiba diatas mejanya, wajahnya serius ketika menghadapi sebuah laptop yang berada di atas mejanya ia sendirian hari itu tak menunggu siapapun dan tak ingin bertemu dengan siapapun.

Tangannya dengan lincah mengetikkan beberapa kata, menuliskan lapoaran tentang hal yang ia dan kelompoknya lakukan semalam. Sebagai sebuah laporan hal yang ia ketikkan tentu saja haru runtut dan tidak boleh kurang sedikitpun.

Blackberry Ichigo bergetar menandakan ada seseorang yang menghubunginya.

"Ah! Ichigo anakku!!! Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apakah baik-baik saja? Kau tidak tertangkapkan?"

Ichigo menjauhkan handphonennya dari daun telinga dan membiarkan orang tua yang ia anggap aneh itu mengoceh sesukanya.

"Bisa kau diam dan berhenti berteriak, orang tua!" sekarang giliran Ichigo membalas dengan suara mengancam yang bisa membuat orang lain bergidik ngeri, tapi untuk orang tua yang ia hadapai saat ini nada mengancam itu seperti makanan setiap ia menelepon anaknya itu.

"…"

"Jadi ada apa?"

"Besok ayah akan mengadakan konfrensi pers untuk memperkenalkan kau sebagai penerus perusahaan Kurosaki."

Ichigo menghentikan tangan kanannya yang memegang cangkir , dan kembali menurunkannya meletakkan di atas meja. "Haruskah secepat itu?"

"Kau tahu media mulai bertanya tentang siapa penerusku, setidaknya aku ingin kau muncul sekali saja, lagipula tidak akan ada yang menduga kau adalah salah satu anggota Shinigami. Mereka selalu berpikir bahwa anggota Shinigami adalah orang melarat yang tidak punya kerjaan."

Ichigo menyeruput coklat panasnya dan menghela nafas. "Terserah, jangan buat acara yang terlalu heboh dan…"

"Baiklah Ichigo!!! Sebaiknya kau jaga dirimu baik-baik dan jangan lupa cari pacar sampai jumpa!"

Ichigo tidak menjawab dan segera membanting handphonenya, menahan rasa kesal ketika ayahnya meminta ia untuk mencari pacar, padahal ayahnya lah yang membuatnya tak memiliki waktu untuk mendapatkan seorang wanita.

"Dasar ayah baka!"

.

.

Hitsugaya melangkahkan kaki keluar dari sebuah minimarket dengan gontai, bersama dengan pacarnya Hinamori. Mata hijau emeraldnya terlihat lelah dan Hinamori sangat mengerti itu.

"Apakah penyerangan kemarin benar-benar membuatmu lelah?" Hinamori berjalan tanpa menatap Hitsugaya yang berada di sampingnya, tangan kirinya mengangkat kantong belanjaan yang berisi bahan makanan untuk beberapa hari di markas.

"Sedikit, sebenarnya bukan itu yang aku pikirkan ada sedikit hal yang menggangguku." Hitsugaya terus melanjutkan perjalanannya dan menuntun Hinamori ketika menyebrangi jalan.

"Masalah apa?"

Hitsugaya hanya terdiam. "Nanti jika sudah benar-benar membuatku yakin baru aku beritahu."

Hinamori hanya mengangguk mengerti, setidaknya ia tahu kalau Hitsugaya bukan orang yang menyembunyikan sesuatu diantara mereka semua, kelompok Shinigami. Tapi Hitsugaya bukan juga orang yang ceroboh mengumbar segala berita yang belum pasti dan membuat mereka panik begitu saja.

"Setidaknya ceritakanlah jika memang ada masalah, kami akan membantu."

.

.

Mata coklat Ichigo melirik pada taskbar laptopnya, menunjukkan pukul 5 dan ia sudah harus kembali ke apartementnya mengurus beberapa hal termasuk persiapannya untuk menghadapi konfrensi pers besok pagi. Ia sudah membayar coklat panasnya dan ia bisa keluar dari café itu dengan tenang.

Tepat saat ia membuka pintu dari kaca untuk keluar dari café itu, terdengar suara teriakan sekaligus tembakan dari dalam bank yang berada di sebelah cafe. Insting Ichigo bekerja dengan cepat ia bisa memastikan bahwa ada sesuatu yang terjadi di dalam dan ia harus bergerak sebelum ada korban.

.

.

Rukia benar-benar merutuk dalam hati, niatnya mengambil uang di bank benar-benar membawa bencana, ia terjebak di dalam bank karena sebuah perampokan, dengan sandera tentunya. Ia jelas terganggu walaupun bagian perampokan jelas bukan porsinya tapi ia adalah polisi ia harus melayani masyarakat, tapi tanpa pistol bagaimana bisa.

"Sial kenapa pistol itu kuletakkan di mobil." Rutuk Rukia dalam hati.

Ia melihat keadaan dan jumlah penjahat, ada 4 orang, yang menggunakan masker hitam dan jaket hitam berada di depan pintu masuk, dan 2 yang lain menyiapkan karung yang akan diisi uang, salah satu diantara mereka berdua memegang pistol yang diarahkan ke pelipis seorang wanita salah satu pegawai bank, sisanya memegang sebuah pistol dan berada tidak jauh dari tempat Rukia merundukkan kepalanya.

Rukia benar-benar kesal, tapi jelas ia tidak bisa hanya diam saja, ia bisa di skors karena hal ini.

Rukia mencari sesuatu dari kantongnya, tas tangannya disita dan diambil isinya oleh si perampok, dan membuatnya tidak bisa menghubungi siapapun.

"Tetap merunduk, atau akan kutembak salah satu dari kalian." Ancam salah satu anggota penjahat yang memakai masker hitam dan jaket serta kaos bertuliskan I Love Japan, terlalu berkebalikan dengan hal yang ia lakukan.

Rukia menemukannya, sebuah pisau lipat, tapi bagaimana ia bisa melakukannya. Rukia melirik wanita disebelahnya yang merunduk dengan gemetar. Rambutnya oranye kecoklatan, dan ia terlihat menggenggam sesuatu ditangannya.

"Hei, apakah itu pisau?" Rukia berbisik pelan dan menarik perhatian wanita itu, ia mengangguk dan menyerahkannya pada Rukia.

"Apakah ini akan berguna?"

"Tentu saja, terimakasih."

Rukia memegang sebuah pisau lipat lagi dan segera menjalankan rencannya, resiko yang ia hadapi adalah ia mati sebagai pahlawan. Ya semoga saja.

.

.

Ichigo menyiapkan segalanya di gank yang bersebalahan dengan bank itu, hanya sebuah pistol, dan untungnya ia memiliki izin memiliki senjata api, maka aman baginya untuk menggunakan pistol tanpa topeng.

Ichigo melihat keluar dan tersenyum puas ketika ada sebuah mobil truk tertutup terparkir manis di depan bank itu, dengan mesin yang menyala.

"Tinggal hajar temannya yang di dalam mobil dan serang yang di dalam bank." Ichigo mulai menjalankan rencana pertamanya.

Tangan kiri Ichigo mengetuk jendela pengemudi dan menunggu orang itu membuka jendelannya.

"Hei, ada apa," kalimat pria dengan kacamata itu tercekat ditenggorokan ketika Ichigo mengacungkan pucuk pistol tepat di kepalanya.

"Keluar dengan damai atau mati?"

.

.

Author Note : Yei!!! Selamat Tahun baru!! Kelihatannya kali ini mss cepet update ya? Lagi ad aide nih hehehe

Dan sekalian buat merayakan tahun baru ^^

Buat balasan review sudah tersedia di PM masing masing

Kecuali beberapa yang gak login…

Namie Amalia males login : hehe kayaknya emang aku bikin kebanyakan romance ya XDD

Ichakuchiki : iya ini fic yang kemarin judulnya Love to Kill tapi udah mss ubah judulnya..

Ruki_ya : Wah bagus deh kalau suka… eh gak papa kan sekali-kali Aizen keliatan baik *dipentung*

RnR? Again?