"Oke, Sakura. Aku memintamu untuk berbicara denganku karena aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa yang ingin kau katakan?"
"Aku memiliki Gynophobia."
Disclaimer: Naruto selalu milik Masashi Kishimoto
Namun fanfic ini murni dari pikiran saya, Aiku Midorikawa
Rated: M
Cast: Uchiha Sasuke, Sakura Haruno, and other chara (next chapter)
Warning: Miss typo(s), EYD yang kurang benar dan warning-warning lainnya
.
.
.
.
Chapter 1
Sakura POV
"Gynophobia? Lalu, apa hubungannya fobia milikmu dengan perjodohan ini?" Aku memang tak tahu apa arti fobia yang Sasuke maksudkan. Sasuke hanya melirikku sejenak dan kemudian kembali mengalihkan pandangannya.
"Apa kau tak pernah tahu tentang itu?" Sakura hanya dapat menggeleng, menanggapi pertanyaan Sasuke.
"Gynophobia secara simple dapat kau sebut sebagai ketakutan terhadap wanita" Ujar Sasuke singkat.
"Jadi, maksudmu kau takut terhadap… diriku?" Sakura mulai mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Sasuke.
"Hn. Tapi aku sudah menjalani terapi, fobia itu sudah jarang muncul kembali." Ujar Sasuke tenang dan datar.
"Berarti tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, bukan?" Tanya Sakura.
"Ada. Jangan pernah kau beritahu masalah ini pada siapapun, termasuk kedua orang tuamu maupun kedua orang tuaku."
"Baiklah, itu mudah" Jawab Sakura singkat. Ia memang sudah terbiasa menyimpan banyak rahasia, termasuk rahasia keluarganya, tentu saja.
Sasuke masih nampak tak percaya dengan apa yang Sakura katakan. Ia pun mengambil secarik kertas dan pulpen yang tersedia di meja tersebut dan menuliskan sesuatu. Sakura hanya terdiam memperhatikan Sasuke yang sedang menulis, mengira-ngira apa yang pria itu tulis. Kurang dari lima menit Sasuke menyodorkan kertas yang berisi tulisannya tersebut kepada Sakura.
"Baca dan tanda tangani." Perintah Sasuke
Sakura pun menerima kertas tersebut dan mulai membacanya dengan teliti dan cepat. Ah, surat perjanjian rupanya. Sakura melirik Sasuke sejenak sebelum kembali membaca surat perjanjian tersebut.
Kami, yang bertanda tangan dibawah ini menyetujui bahwa:
1. Tidak akan membongkar rahasia Saudara Sasuke Uchiha dari siapapun
2. Menerima Saudara Sasuke Uchiha apa adanya selama pernikahan ini berlangsung
3. Tidak membantah perkataan Sasuke Uchiha selama hal tersebut tidak menyakiti, secara verbal maupun non-verbal, Saudari Sakura Haruno
4. Bersikap seperti suami-istri biasa selama berada dihadapan orang tua dan/atau kerabat dan/atau orang lain
5. Bila diantara kami merasa peraturan diatas tidak dapat diterapkan kembali, maka perjanjian akan disusun ulang sesuai dengan apa yang telah disepakati.
Tertanda
Haruno Sakura / Uchiha Sasuke
"Um…. Sasuke? Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Hn?"
"Bagaimana…. Jika salah satu dari kita melanggarnya?" tanya Sakura dengan hati-hati.
"Yang memutuskan hal tersebut adalah pihak yang merasa dirugikan," ucap Sasuke.
Sakura terdiam sejenak, memikirkan baik-buruknya perjanjian itu. Tak lama, ia menghela nafasnya sejenak dan mulai menorehkan tanda tangan di atas kertas itu. Sasuke hanya memperhatikan dengan raut datar, entah apa yang ia pikirkan saat ini. Namun setelah Sakura selesai dengan tanda tangannya, Sasuke sedikit menaikkan sudut bibirnya. Setelah itu, Sasuke membubuhkan tanda tangannya tepat diatas tulisan Uchiha Sasuke.
"Hn, ayo pergi dari sini dan temui Tou-san dan Kaa-san di bawah. Aku yakin mereka akan merencanakan hal aneh jika kita tidak turun ke bawah." Ucap Sasuke sembari menggandeng tangan Sakura keluar dari ruang perpustakaan itu.
Sakura POV - End
(**)
"Akhirnya kalian turun juga. Baru saja kami ingin mengecek keadaan kalian" MIkoto tersenyum kecil ketika melihat putranya dan calon menantunya yang nampak mesra menapaki tangga.
"Gomen, Mikoto Baa-san, tadi ada sedikit masalah diatas. Kami tidak melewatkan sesuatu, bukan?" Ucap Sakura disertai dengan senyuman kecil, tanda permintaan maaf.
"Tak ada yang kalian lewatkan. Oh ya. Sakura, jangan memanggilku seperti itu. Panggil aku Kaa-san dan Fugaku-kun Tou-san. Kau juga anak kami setelah menikah dengan Sasuke, bukan?" Pertanyaan retoris Mikoto sedikit membuat hati Sakura tercubit. Namun, ia mengabaikan secercah perasaan itu dan menjawabnya dengan senyum manis.
"Baiklah, Mikoto Kaa-san, Fugaku Tou-san"
Kizashi menepuk pelan pundak Sasuke, seakan memberikan isyarat untuk pembicaraan antar lelaki dengan sang calon ayah mertua dan juga ayah kandungnya. Sasuke pun hanya menanggapi dengan anggukan dan tak lama setelah itu pergi bersama kedua pria dewasa tersebut.
Sasuke tahu, bahwa sesungguhnya ia telah bersalah menerima perintah ayahnya untuk menikahi seorang anak teman ayahnya tersebut disaat dia memiliki ketakutan terhadap makhluk bejenis kelamin perempuan tersebut. Sasuke memang tak pernah dekat dengan perempuan, kecuali ibunya, setelah perpisahannya dengan seorang perempuan yang membuatnya mengidap fobia yang sangat mengganggungya ini.
Sakura yang ditinggalkan pun hanya menatap Sasuke dengan pandangan yang sulit untuk dijelaskan. Satu yang pasti, belum ada pandangan cinta dari segala arti tatapannya. Kedua wanita dewasa disana tahu. Mebuki, walaupun ia tak pernah melihat dan mengurus anaknya hingga dewasa itu pun tahu bahwa Sakura menerima perjodohan ini hanya karena tekanan mental dari ayahnya. Sungguh, nurani keibuannya masih ada hingga sekarang namun rasa itu tertekan oleh hal yang biasa disebut ego.
Akhirnya, hingga para lelaki kembali dari pembicaraan singkat mereka, taka da yang membuka suara di ruangan itu.
(**)
Sasuke tahu, ada yang aneh di dalam hubungan kekeluargaan yang dipimpin oleh Kizashi Haruno itu. Hal tersebut bahkan terlihat jelas di matanya. Ia meragukan pemberitaan di media massa mengenai keluarga ini. Keluarga Haruno yang Harmonis, apa-apaan judul seperti itu. Mereka tak terlalu baik melakukan sandiwara yang selama ini mampu menipu khalayak ramai di depan seorang Sasuke Uchiha yang jenius itu. Bahkan hal tersebut semakin nampak setelah pembicaraan antara dirinya, ayahnya dan Kizashi mengenai perjodohan ini.
Flashback
Setelah mereka sampai di halaman belakang, Kizashi hanya menatapnya datar. Tak ada emosi disana, Sasuke tahu itu. Ayah Sasuke lah yang memecah keheningan diantara mereka bertiga. Ia berdeham cukup keras, berusaha membersihkan tenggorokannya.
"Kizashi, apa yang ingin kau bicarakan? Aku mengenal kau sudah lama dan aku tahu pasti ada yang menganjal di pikiranmu, bukan?" Fugaku mulai membuka keheningan ini, tentunya tanpa basa-basi. Khas Uchiha sekali.
"Fugaku, bisa kau tinggalkan aku dengan anakmu sebentar? Ada hal yang harus kupastikan dengan dia. Setelah itu, kita bicara berdua." Ucap Kizashi, masih dengan pandangannya yang datar. Fugaku pun hanya mengangguk dan langsung meninggalkan mereka berdua.
"Jika kalian telah selesai, aku ada di perpustakaanmu Kizashi"
Kizashi hanya mengangguk sekilas, atensinya tetap terfokuskan pada Sasuke. Setelah tak terdengar lagi tapak kaki Fugaku, Kizashi pun memulai pembicaraan.
"Sasuke, bisakah kau menjawab pertanyaanku sejujur-jujurnya?"
Sasuke pun hanya mengangguk mantap. Melihat Sasuke yang terlihat setipe dengan dirinya membuat Kizashi tersenyum kecil dan ia pun langsung melanjutkan ucapannya.
"Apa kau menyukai Sakura? Apa kau menyayangi Sakura? Apa kau mencintai Sakura?"
Jawaban dari pertanyaan itu tercekat di tenggorokannya. Harus menjawab apa ia? Apa dengan menjawab "ya" dan berbohong disaat sang kepala keluarga Haruno itu memintanya untuk jujur? Atau dengan menjawab "tidak" yang kemungkinan besar akan menghancurkan perjodohan ini?
Kizashi menatap Sasuke dengan tatapan menikam, menuntut jawaban yang mutlak. Akhirnya Sasuke pun menjawab setelah memikirkannya matang-matang.
"Saya tidak – ah, maksudku– belum menyukai, menyayangi ataupun mencintai Sakura, Haruno-san"
Kizashi tersenyum tipis, reaksi yang menurut Sasuke mengejutkan, setelah mendengar jawaban dari bibir Sasuke itu. Tak lama senyum itupun hilang, bergantikan raut serius yang kembali menghujam indra penglihatan Sasuke, dan mengatakan hal yang semakin membuat Sasuke terheran-heran.
"Baguslah, jangan biarkan dirimu memiliki rasa itu terhadap Sakura"
Setelah itu Kizashi pergi dan meninggalkan Sasuke sendirian di halaman belakang itu.
Flashback – End –
(**)
Setelah semua anggota keluarga Haruno dan Uchiha kembali berkumpul di ruang tamu, mereka pun langsung mengumumkan bahwa pertunangan mereka akan diadakan dua minggu lagi. Sedangkan pernikahan mereka akan diadakan sebulan lagi. Tak ada yang membantah keputusan mutlak dari kedua pihak itu. Keluarga Uchiha pun pamit untuk pulang dari rumah keluarga Haruno, setelah merasa tidak ada yang harus dibicarakan lagi.
Setelah semua keluarga Uchiha pergi, keheningan kembali menguasai. Sakura yang merasa tak memiliki urusan lagi, langsung menapaki tangga menuju kamarnya. Ia iterlalu lelah dengan apa yang telah terjadi dan memutuskan untuk memulai tidurnya lebih awal.
Setelah memasuki kamarnya, ia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dir dan berganti baju. Penggalan kejadian tadi kembali merasuki pikirannya ketika dirinya mulai berbaring di tempat tidur dan memandang langit-langit kamarnya. Karena matanya yang sudah mulai memberat, Sakura pun memejamkan matanya dan berdoa agar dirinya diberi kekuatan dalam menghadapi ini semua.
To be Continued
.
.
.
.
Holla, minna. Gomen, update telat pake banget. Maklum, authornya lagi sibuk sama yang namanya ujian dan antek-anteknya. Selain itu, tema fic ini cukup berat sebenarnya. Tapi saya tertantang untuk membuat fic ini walaupun, yah… bentuknya begini._. Semoga kalian suka baca chapter ini. Dan chapter ini didedikasikan buat kalian yang udah mereview, memfollow, memfavourite kan Try to Stop yang merupakan MC pertama saya *menagis haru* dan juga buat teman saya, Wildan Purnama (san, kun, chan, nyan, atau apapun sesukamu deh, Wil) yang telah memberikan saya pencerahan untuk next nya mau seperti apa *hug*
Untuk gynophobia sudah dijelaskan ya, meskipun secara umum oleh Sasu-cakes kita tertjintah *di chidori Sasuke*
Oke, saatnya balas review~
Cherryma : ini udah di next~ maafkan keterlambatanyya *sujud-sujud* semoga makin penasaran ya… *looh?* word nya udah panjang belom ini? ._.
mc-kyan : penyakit? Hmm… apa ya? *ditimpuk* makasih atas koreksinya *kembali sujud-sujud* wah, ternyata selera kita sama^^ *peluk-cium-dan berakhir dengan ditimpukin again*
Kiki Kim : ya… sejenis itu deh, meskipun gasemua pengidapnya 'berbelok' juga sih… Secara umumnya udah dijelasin Cacuke ya… Ini udah dilanjut^^
pinktomato : ini udah dilanjut^^
Yoriko Yakochidan : ini udah dilanjut, walaupun ngaret. Makasih telah menyukai dan menunggu fic saya^^
Guest: hey, temansebangkuane… makasih atas reviewnya. Dan makasih juga buat dukungannya, bro. Kecup rindu dari sini, bro XD
Mohon maaf jika ada yang terlewat maupun salah penulisan *ojigi*
See ya next chapter…
Aiku Midorikawa
