Yha
.
.
Naruto Disclaimer : Masashi Kishimoto.
Rated : T
Genre : Romance
Warning : AU, OOC, Typo(s), etc. DLDR!
.
.
Sakura's Pov
Hah...~ Hari ini hari Rabu. Baiklah. Pelajaran hari ini tidak terlalu membosankan. Seperti biasa, aku selalu datang sebagai orang ke-2 di kelas. Yang pertama selalu saja Tata (OC). Tata adalah sepupu jauh Sasuke. Dulu saat kelas X, aku sering berusaha bangun cepat untuk datang ke kelas sebagai orang yang pertama. Bahkan pernah aku datang jam 6. Saat itu pagar belakang sekolah masih tutup dan aku terpaksa berjalan ke pagar depan sekolah. Namun kau tahu apa? Tata sudah duduk tenang memainkan ponselnya. Kalau kau jadi aku? Pasti kau akan sangat kesal. Entah jam berapa anak itu datang.
"Pagi Tata." Sapaku dengan senyum.
Dia membalas senyumanku. "Pagi juga Sakura." Aku tidak mencoba mendekatinya karena ia adalah sepupu jauh Sasuke. Bukan. Tata orangnya memang baik. Dan juga cantik, jika dibandingkan denganku.
Begitu meletakkan tas di kursi, aku segera mengambil buku di loker. Loker? Hmm... setiap mengambil buku di loker, aku selalu teringat awal kelas 10, dimana Sasuke duduk di dekat loker dan setiap aku mengambil buku pasti aku akan salah tingkah. Bukannya terlalu percaya diri, tapi memang benar, dia selalu menatapku saat aku mengambil buku. Apalagi lokerku disebelah kursinya. Dan semenjak itu, aku sering bolak-balik mengambil atau menaruh buku di loker. Maupun itu penting atau tidak.
Tepat disaat aku meletakkan buku di laci meja, Sasuke memasuki kelas. Aku tidak melirik wajahnya, hanya melirik sepatunya. Dan aku tahu itu dia. Dia berjalan menuju kursinya. Dan aku stay cool.
"Sakura, ada PR apa hari ini?" Tanyanya sambil berlalu menuju loker.
Aku menunggunya selesai mengambil buku. Begitu dia balik barulah aku menjawab. "Tidak ada." Jawabku singkat. Dia hanya mengangguk.
Sepertinya kebiasaan kelas kami dari kelas 10 tidak bernah berubah. Padahal sudah pukul 7 pas. Namun kelas masih sepi.
.
.
"Saku, ikut ke kantin tidak?" Tanya Ino saat bel sudah berbunyi dan anak-anak berebut keluar kelas.
Aku sedikit melirik Shion dan Rin yang menatap penuh makna kearahku. "Uhmm... aku rasa tidak." Aku menggeleng pelan.
Ino menagguk. "Kenapa? Padahal aku, Hanabi, Temari, Tenten, dan Hinata ingin mencoba makanan baru di kantin." Aku bisa melihat Ino sedikit kecewa.
Hanabi, Temari, Hinata, dan Tenten datang ke meja kami. "Sakura, kau ikut kan?"
Aku menggeleng sekali lagi dengan ekspresi sedih. "Tidak."
"Mengapa?" Tanya Tenten.
"Aku sudah sarapan di rumah. Jadi, kurasa aku masih kenyang." Aku sedikit menepuk perutku. Hey, aku sangat lapar tahu.
Mereka mengangguk. "Ya sudah, kalau begitu kami ke kantin ya." Kata Hanabi. Aku membalasnya dengan anggukan.
Aku berjalan ke meja Shion, Rin, dan Karin dengan langkah yang sedikit dipaksa. Aku ingin semua ini berkhir dan aku akan mengetahui semua kebenaran. Jadi aku putuskan untuk mendekati Karin, dan aku akan mengetahui kebenarannya dengan cepat. Jujur saja, aku melakukan itu untuk diriku sendiri, bukan karena ingin membantu Rin dan Shion. Che, untuk apa membantu mereka?
"Uhmm... Karin, boleh gabung dengan kalian?" Tanyaku manis.
Karin menatapku bingung. "Tumben. Biasanya sama Ino."
Aku meringis. "Mereka ke kantin atas. Aku ingin ke kantin bawah. Kalian ke kantin bawah kan?"
Mereka mengangguk. "Aku ikut ya?" Tanyaku sekali lagi.
Mereka mengangguk lagi dan kami pun pergi ke kantin bawah. Aku memesan ramen dan air mineral. Bukan karena tidak mempunyai uang. Aku memang tidak selera makan. Padahal tadi aku sangat lapar.
"Hey, aku dan Shion ingin pergi ke toilet. Dan mungkin dalam waktu yang lama. Tidak usah menunggu kami untuk mengobrol." Kata Rin tiba-tiba. Lalu dengan begitu saja menarik tangan Shion. Dan menghilang.
Jujur saja ini sedikit canggung. "Emm... jadi?" Tanyanya.
Aku menaikkan sebelah alisku. "Apanya?"
Dia memutar mata. "Kau hanya ingin hening seperti ini? Canggung tahu."
"Ti-tidak juga. Aku hanya tidak tahu topik apa. Uhmm... biarkan aku berfikir sejenak." Kataku. Sebenarnya aku ragu tapi juga sih. Tapi ini harus kukatakan sekarang juga. Atau tidak selamanya. "Kau... menyukai seseorang?" Tanyaku akhirnya.
Dia menatapku terkejut. Baiklah, entah kenapa aku tidak peduli terhadap dia yang menatapku terkejut. Yang kutunggu adalah jawabannya. Tampaknya dia masih ragu untuk menjawab. Namun lambat laun dia mengangguk.
Jantungku berdetak cepat. Perasaan tak enak makin muncul. "Siapa...? Siapa lelaki beruntung itu?" Tanyaku pelan dengan senyuman. Kulihat pipinya merona.
"K-kau mau tahu saja." Jawabnya cemberut.
Aku menaikkan sebelah alisku. "Oh, kau main rahasia-rahasiaan ya? Baiklah, akan kuberi tahu satu hal dan kau harus memberi tahu siapa nama lelaki yang kau sukai. Bagaimana?" Tawarku.
"Uhmm... tergantung. Jika hal itu tidak penting...?" Katanya ragu.
"Aku yakin seratus persen. Hal ini sangan fenomenal." Kataku mantap. Dia terus memakan makanannya dan menatapku tidak yakin. Aku mendengus. "Beneran. Ini. Fenomenal." Tekanku.
Dia memutar matanya. "Hm. Baiklah, apa itu?"
Baiklah, dia terpancing. Aku melafalkan jawabannya dengan lambat. "Aku suka dengan seseorang."
"Be-benarkah?!" Dia tampak terkejut. Aku mengangguk antusias. "Aku kira kau tidak normal." Lanjutnya sambil mengelus dadanya.
Mataku terbelalak. "A-apa maksudmua?! Sialan. Tentu aku 'lurus'." Apa-apaan dia? Dia saja yang tidak tahu kalau selama ini aku sempat mengagumi beberapa orang dan sekarang aku mencintai seseorang. Salahkan mulutnya yang seperti 'ember anti pecah yang diteriaki para pedagang, namun nyatanya ember itu mudah pecah' Maka dari itu aku malas memberi tahunya.
Dia tersenyum lebar, sampai matanya menyipit. "Habisnya aku tidak pernah mendengar bahwa kau menyukai seseorang sih. Hehehe... dan, apa itu benar?! Siap lelaki itu? Oh ya ampun Sakura." Yayaya... dan sekarang aku bingung. Siapa nama yang harus kusebut? Jujur, jebakan tadi asal keluar dari mulutku.
"Uhmm... kau kasih tahu dulu, siapa nama yang kau suka." Kataku.
Dia cemberut. "Kau saja yang kasih tahu duluan. Baru aku memberi tahumu, siapa nama orang yang kusuka."
Aku menggeleng tegas. Dikiranya aku bisa dibohongi seperti anak kecil apa? "Tidak. Aku tahu kau akan berbohong." Aku menyeringai kecil.
"Kau sok tahu." Dia memukul pelan bahuku.
Aku tertawa kecil. "Nyatanya aku memang tahu. Sudah berapa lama kita berteman? Masa kau sanggup berbohong? Hahaha..."
"Tidak. Aku berjanji, jika kau memberi tahuku siapa orang yang kau sukai, aku akan langusng memberi tahu siapa orang yang kusuka. Janji?" Dia menyodorkan kelingkingnya.
Mati aku. Ayolah... otak bekerja. Bagaimana jika... Sasori-senpai? Ah, iya bisa. "Sasori-senpai!" Seruku refleks.
Karin membelakkan matanya. "Benarkah?!" Tanyanya antusias. Aku mengangguk malas. "Astaga... tapi, wajar saja sih. Dia memang tampan."
"Nah, giliran kau." Tanyaku.
Dia menatapku ragu, khawatir, dan lainnya yang tidak bisa kujelaskan. "Ehmm...-
.
.
TBC
.
.
A/N :
Wihii... fict alaynya apdet.
Makasih, yang udah mau review, fav, follow fitc gaje saya...
Mind to Review? -again-
