Ringg... ringg... ringg...
Telepon Yorozuya berbunyi. Gintoki yang sedang asik tiduran di sofa sambil membaca Jump pun dengan ogahnya mengangkat telepon.
"Halo, Yorozuya Gin-san di sini, ada yang bisa saya bantu?"
"Danna..."
"Huh? Siapa nih?"
"Okita Sougo, apa Danna sibuk?"
"Apaan nanya sibuk apa ngga bukan urusan lu kali,"
"Kalau ga ada hal penting, ini mengenai Hijikata-san,"
Gintoki diam sejenak. Ia tahu bahwa kekasihnya itu hari ini sedang bertugas dan ia juga tahu bahwa Hijikata berencana melakukan penyerbuan terhadap teroris hari ini.
Dan baru 5 jam berlalu setelah kepergian Hijikata dari rumahnya tadi pagi.
Tapi ia sama sekali tidak ada bayangan kenapa Kapten Shinsengumi itu sampai menelpon dirinya.
"Ada apa dengannya? Sakit perut keracunan mayones?"
"Hijikata-san disandera, kami Shinsengumi tidak bisa menyelinap masuk dan menyerbu markas mereka karena kalau kami melakukannya Hijikata-san akan..."
"Di mana lokasinya?" Nada suara Gintoki berubah drastis.
"Lokasinya di gudang pabrik besi di dekat pelabuhan..."
Gintoki tidak perlu babibu lagi, ia merasakan getaran yang mengecambuk hatinya.
Perasaan ini, aku tidak menginginkannya.
Si bodoh itu apa yang dia lakukan coba?!
Gintoki mengamuk dalam hatinya, meski yang ia lakukan kebalikannya. Ia bergegas mengambil bokutonya.
"Gin-san, kemana?" Tanya Shinpachi penasaran.
"Aku ada panggilan dari klien lain nih, kalian urusin ini dulu ya. Ja~"
"Oi, Gin-chan jangan lupa bawa oleh-oleh ya!"
"Kagura-chan!" Shinpachi menggetok kepala gadis Yato itu pelan lalu melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Bersama si gadis Yato tentu saja.
"Danna lama sekali ya," keluh Sogo sambil menenteng bazookanya.
"Mungkin lagi kena macet kali, Kapten," ucap Yamazaki asal.
"Hmm jadi bagaimana kalau kita langsung serbu saja.."
"Tunggu!"
"Huh?" Sougo dan Yamazaki menoleh ke arah sumber suara.
Seorang berambut keriting perak sedang terengah-engah akibat berlari sepertinya. Vespanya ia parkir tidak begitu jauh dari sana.
"Yo, Danna! Lama sekali. Faktor usia ya?"
"Berisik, kampret! Di mana Hijikata?"
"Di dalam sana," Sougo menunjuk ke sebuah gedung dengan satu pintu besar di sisi laut. Matahari terik menyilaukan pengelihatan mereka.
Saat Gintoki hendak berlari menuju gedung itu, Sougo menahannya.
"Danna, tidak mungkin masuk lewat pintu depan begitu saja. Nanti anda didor lho," Sougo menunjuk lagi beberapa orang yang berkeliaran, mereka terlihat menyembunyikan senjata api mereka di dalam lengan pakaiannya.
"Lalu aku harus lewat mana, hah?! Lagi pula, kenapa kalian terlihat santai sekali?!" Gintoki kesal melihat wajah Sougo dan Yamazaki yang tenang-tenang saja.
"Danna, maafkan aku. Tapi aku sudah menunggu saat-saat seperti ini tiba, setidaknya aku bisa menikmati waktu tidur si-"
Bugg!
Gintoki menghajar pipi Sougo hingga si rambut coklat itu terjatuh ke jalan.
"Danna! Tenangkan diri anda dulu. Kalau anda emosi gini nanti malah gawat jadinya," Yamazaki berusaha menenangkan si rambut perak.
"Anda bisa masuk lewat pintu belakang, menyusup. Nanti setelah anda menyelamatkan Hijikata-san baru kami menyerbu gudang," ucap Sougo akhirnya.
"Kami tidak bisa menyerbu begitu saja kalau Hijikata-san masih menjadi sandraan mereka, bisa-bisa Taichou... Taichou..." mata Yamazaki mulai berkaca-kaca.
Sougo pun menundukkan kepalanya, menyembunyikan ekspresi wajahnya yang bahkan Gintoki tidak bisa menebaknya.
"Baiklah, aku pergi dulu. Kita tidak bisa mengulur-ulur waktu lagi," Gintoki berlari menuju pintu belakang ketika sudah memastikan tidak ada pemberontak yang berjaga.
"Apa ini akan baik-baik saja, Kapten?"
"Khukhu...tenang saja,"
Gintoki berjalan perlahan menyusuri lorong yang gelap. Lorong itu berbau sedikit menyengat, seperti bau besi yang mengarat.
Di sisi lorong pun terdapat saluran air yang warnanya sudah bisa ditebak tidak bening lagi.
Sampai di ujung lorong, terdapat dua buah pintu besi. Gintoki ragu untuk memasuki pintu yang mana, maka ia mengintip melalui sela-sela pintu tersebut.
Pintu sebelah kiri terlihat kosong dan gelap, sementara pintu di sebelah kanan terlihat begitu ramai. Banyak pria bersamurai berlalu lalang di sana, ada pula pria berpakaian seba putih lengkap dengan penutup wajahnya.
"Apa-apaan mereka itu? Apa tempat ini sekaligus tempat pembuatan senjata?" Bisik Gintoki.
Setelah menimbang-nimbang sejenak, Gintoki akhirnya memutuskan untuk memasuki pintu kiri terlebih dahulu.
Alasannya simpel, karena ruangan tersebut terlihat sepi dan resikonya pun lebih rendah dibanding pintu yang satunya.
Selain itu, siapa yang tau kalau memang Hijikata disandera di sana bukan?
Setelah menlakukan segala cara untuk mencongkel pintu tersebut, akhirnya Gintoki berhasil membukanya.
Shit... gelap banget.
Gintoki berjalan perlahan sambil berusaha mempertajam indera pendengaran dan penglihatannya.
Apaan nih, baja?
Wait... ini bazooka, peluru, misil...
Serbuk besi...?
Jadi ini memang tempat pembuatan senjata terlarang ya, bukan pabrik besi biasa.
Dasar pemerintah itu apa saja kerjaannya?!
Gintoki terus menelaah isi ruangan. Semakin ia berjalan, yang ia temukan semakin banyak senjata tajam hingga senjata berlaras panjang. Bahkan ada bahan peledak di antara tumpukan tumpukan besi tersebut.
Teroris ini apa mereka bekerja di bawah Katsura...?
Tidak, itu tidak mungkin! Si bodoh itu tidak mungkin sampai melakukannya sejauh ini bukan?
Sampai harus menculik Hijikata...
Gintoki mulai tidak tenang akibat pikiran liarnya sendiri.
Kalau memang mereka kelompok Zura...
Gintoki kembali terbayang janjinya pada Senseinya dulu.
Tch bangsat!
Setelah memastikan di dalam ruangan itu kosong dan tidak ada tanda-tanda keberadaan kekasihnya di sana, Gintoki hendak bergegas meninggalkan ruangan sampai akhirnya kakinya menyandung sesuatu.
CLANG!
Crap!
Gintoki cepat-cepat menutup pintu yang kebetulan berada di depannya dan bersembunyi, kalau-kalau ada salah satu dari pemberontak itu yang mengawasi.
"Bangsat...apaan nih?" Bisik Gintoki yang kemudian membelalakkan matanya begitu mendapati benda apa yang baru saja ia tendang.
Pedang milik Hijikata.
Hati Gintoki berdebar semakin kencang. Ia ingin cepat-cepat menyelamatkan kekasihnya itu, tetapi ia juga takut untuk mendapati kenyataan siapa dalang dibalik semua ini.
Gintoki pun menggenggam erat pedang milik Hijikata tersebut dengan tangan kirinya. Dalam beberapa saat ia hanya terdiam dan berusaha membulatkan tekadnya.
Aku harus menyelamatkannya!
Gintoki pun bergegas menuju ruangan sebelah tanpa berpikir lebih panjang lagi.
Dan ia sudah siap menerima kenyataan apapun yang akan ia hadapi, baik itu temannya, atau siapa pun itu.
TBC
