Title: The Break Roses
Rating: M
Main character: France
Characters: Roma-jiisan, fem!Romano, Spain, England
Pairing: actually this is will being France x all
.
.
Pagi yang tampak cerah namun hatiku kelabu layaknya ruangan kamarku yang gelap. Aku berdiri didepan kaca menatap tubuhku yang kotor bekas kecupan paksa oleh pria yang telah mengambil paksa malam pertamaku. Tubuhku penuh bekas cakaran dan hisapan-hisapan bibir Roma, kakek dari wanita yang kucinta, Lovina Vargas. Aku menangis semalaman tanpa henti, menatap tubuhku yang kotor ini, tak bisa kubendung airmataku. Aku tidak pernah membayangkan hal seperti ini terjadi dikehidupanku. Aku tidak dapat berhenti meratapi nasibku. Seandainya saat itu aku tidak mengatakan bahwa aku bersedia menghadapi cobaan dari Roma, mungkin aku tidak akan semenderita ini. Apakah aku salah mencintai Lovina? Kenapa Roma melakukan hal ini kepadaku? Apakah Roma mempunyai dendam kepadaku atau mungkin kepada ibuku, Gallia? Tapi apa yang aku atau ibuku lakukan padanya? Kalau memang tidak mengizinkanku untuk bersama Lovina, seharusnya ia katakan saja padaku, karena aku akan menjauhi cucunya dan mencoba untuk tidak meraihnya.
.
"Francis, kamu kenapa? Matamu sembab?!" tanya Antonio saat melihatku yang masuk ruangan kelas.
Aku hanya tersenyum padanya dan tidak memberitahukan masalahku padanya. Bagiku, ini adalah hal yang memalukan yang pernah kualami. Diperkosa oleh kakek dari gadis yang kusuka. Aku tidak mungkin mengatakan hal ini kepada kedua temanku.
"Ah, tidak ada apa-apa. Aku hanya kurang tidur" ucapku berbohong dan mencoba tersenyum menahan airmataku yang hampir tidak bisa kubendung.
"Benarkah?" tanyanya lagi. "Bukan karena kau dijahili lagi?"
Wajah Antonio begitu mengkhawatirkan diriku, namun aku tidak ingin menyusahkannya. Aku hanya tersenyum dan menjelaskan kebohonganku supaya dirinya tidak terlalu mengkhawatirkan diriku. Tanpa kusadari Arthur yang duduk disebelahku menatapku sedari tadi. Aku begitu fokus kepada Gilbert dan Antonio tanpa menyadari bahwa Arthur melihatku.
"Francis, bisa ikut aku sebentar?" tiba-tiba Arthur menghampiriku yang sedang berusaha tersenyum didepan teman-temanku. Ia menarik tanganku dengan paksa dan membawaku ke suatu tempat yang sepi. Aku hanya terdiam mengikutinya dengan kebingungan.
"Buka bajumu sekarang juga!" suruhnya tegas dan itu membuatku tersentak kaget.
"—Mau apa kau?" ucapku panik dan sedikit ketakutan.
"Sudah, buka saja bajumu!" ucapnya memaksa dan menarik kerah bajuku dengan paksa, namun aku segera mendorongnya agar ia tidak melihat tanda-tanda ditubuhku.
"Me—Mesum!" ucapku panik dan malu.
"Bo—Bodoh! Aku hanya ingin memastikan bahwa apa yang kulihat dilehermu itu benar atau tidak!" bentaknya dengan wajah yang memerah.
Aku terdiam seketika dikarenakan kaget. Mengapa ia bisa tahu bahwa ada sesuatu ditubuhku? Wajahku dibuatnya pucat pasi dan tak bisa berkutik. Tubuhku terasa kaku dan aku tidak bisa berkata apapun. Aku tidak bisa mengatakan apapun tentang kenyataannya. Aku berlari menuju kelas tanpa menghiraukan panggilannya. Tubuhku gemetar dan aku tak kuasa menahan airmataku kembali. Aku panik dan tidak bisa berpikir jernih. Aku takut. Sangat takut. Roma mengancamku untuk tidak bicara. Aku sangat takut akan hal buruk yang terjadi berikutnya. Tubuhku pucat pasi dan nafasku menggebu-gebu tidak beraturan. Antonio dan Gilbert melihat diriku yang pucat tersebut dan memanggil namaku. Aku tidak sanggup datang kesekolah. Aku takut. Aku mengambil tasku dan segera berlari menuju asramaku. Aku sudah tidak bisa memikirkan kekhawatiran mereka padaku. Di pikiranku terlintas wajah Roma yang tertawa bahagia memperkosaku dengan tangannya yang mencengkram leherku.
Aku masuk kedalam kamar asramaku dengan sedikit gemetaran dan ketakutan. Kembali teringat saat-saat Roma menusuk bagian vitalku. Sakit, sangat sakit tak terperi. Ia memasukannya dengan paksa. Aku hanya menangis tanpa henti memikirkan betapa jahatnya pria itu hingga melakukan hal keji ini kepadaku.
.
.
"Kau sampai tidak masuk sekolah, Gallia" tiba-tiba suara Roma terdengar dibelakangku. Aku tersentak kaget dan menatapnya ketakutan. "Apa kau terlena dan menikmati malam pertamamu hingga kamu tidak mengikuti pelajaran?"
"M—mau apa kau?" ucapku gemetar dan bibirku terasa kelu. "Keluar dari kamarku!"
Ia hanya tersenyum dan mengunci pintu kamarku dengan segera. Aku gemetaran ketakutan dan berusaha beranjak dari dudukku dan berlari kebelakang sofa merahku. "Ja—jangan mendekat! Aku akan berteriak!"
"Berteriak? Kau pikir akan ada yang menolongmu di siang bolong ini? Kau tahu anak-anak diasrama ini sedang mengikuti pelajaran di dalam sekolah dan asrama ini terletak tidak terlalu dekat dengan gedung tersebut" ucapnya terkekeh melihatku yang ketakutan itu.
"Kenapa kau lakukan ini kepadaku?" tanyaku rilih. "Kalau dari awal kau bilang jangan mendekati Lovina, aku tidak akan mendekatinya. Tapi kau malah membuat diriku seperti kuman didalam gedung tersebut"
Ia terkekeh melihat airmataku berjatuhan satu demi satu dipipiku. "Kenapa kau bilang? Aku kan sudah mengatakan kau harus mengikuti ujian dariku, maka aku akan memberikan cucuku padamu"
"Tapi ini bukanlah ujian yang kumau, Roma!" ucapku rilih. "Kalau tahu ujiannya akan seperti ini, aku tidak akan pernah mengiyakan kalimatmu"
Ia berjalan mendekatiku dan hendak menyentuhku. Aku tersadar lalu segera berlari kearah pintu keluar dengan ketakutan. Namun ia segera menarikku dan ia mengkecup bibirku dengan paksa dan mendorongku keatas kasur. Aku terhenyak dan menggeliat untuk melepaskan diriku. Aku berusaha untuk mendorong dan memukulnya, namun sebelum tanganku mengenainya, ia menarik rambutku dengan kencangnya sehingga aku merintih kesakitan dan memegang tangannya yang kuat dan kekar itu.
"Ingatlah Francis, inilah nasibmu!" ia menjilati pipiku dan tersenyum seakan bahagia melihatku merilih meminta ampun. "Kau tidak akan bisa kabur dari genggamanku, karena kau adalah milikku"
Ia memegang penisku dan membuka celanaku dengan paksa. Aku tetap menggeliat dan berusaha untuk menepis tangannya. Ia menjilati leherku dan menghisapnya hingga aku mendesah kesakitan. Bahkan ia menelanjangi tubuhku yang sudah rusak ini dan menghisap tubuhku hingga tanda-tanda tersebut makin banyak. Ia menghisap penisku hingga aku dibuat mabuk gairah dan tak kuasa memberontak. Kupasrahi tubuhku dimiliki olehnya hingga ia memasukan penisnya ke lubang uburku. Aku tak kuasa menahan tangisanku. Aku menangis kembali dan mencoba untuk mendorongnya, namun diriku lemah saat tubuhnya menyatu denganku. Aku tak kuasa dan hanya bisa menangis pasrah. Ia melakukannya lagi untuk kedua kalinya. Berkali-kali ia melakukan klimaks didalam tubuhku tanpa peringatan. Aku hanya bisa tergulai menerima nasibku sebagai kelincinya.
Xxx
Aku berbaring dikasurku berhari-hari dan tidak datang ke sekolah. Tubuhku seakan mati rasa dan sakit tidak terperi mendapatkan perlakuan tersebut setiap malam. Ya, Roma datang setiap malam dan memperkosaku seakan itu adalah makanan sehari-harinya. Tubuhku lemas hingga aku tidak dapat berjalan ke sekolah. Gilbert dan Antonio berkali-kali menggedor pintuku dan memanggilku, namun aku tak kuasa menjawab panggilan mereka. Aku tidak siap bertemu dengan mereka dengan kondisiku yang buruk seperti ini. Aku hanya berbaring dikamar yang gelap tanpa cahaya masuk. Kututup jendelaku agar tidak ada yang bisa melihatku. Hatiku sakit dan hancur mengingat setiap malam Roma datang hanya untuk mempermainkan tubuhku.
"Oi, Gitt! Kau didalam?" Arthur mengetuk pintu kamarku dan memanggilku berkali-kali. Aku hanya diam meratapi malam-malamku. "Oi aku tahu kau ada didalam! Mau sampai kapan kau tidak masuk sekolah? Sebentar lagi kelulusan, kalau kau tidak lulus karena kau tidak sekolah, itu tidak lucu!"
Bahkan aku sudah tidak memikirkan diriku akan lulus atau tidak nantinya. Aku hanya diam dan memegang kepalaku menatap kelantai kamarku. aku tidak memikirkan lagi mau jadi apa aku nanti. Lulus atau tidak, aku sudah tidak peduli.
"Frog!" Arthur tidak mau diam juga, ia tetap menggedor pintu kamarku dan tak lama ia membuka pintu yang tidak terkunci itu dan mendapati tubuhku yang sedang terduduk lemas penuh dengan cakaran dan lebam. Aku tersentak dan iapun juga tersentak.
"—Ka—Kau—?!"
"Pergi!" teriakku padanya. Aku meraasa sangat malu ia mendapatkan diriku yang lemah tergeluntai dilantai tanpa busana sehelaipun. Aku tidak berani menatapnya, aku takut. Ia menatapku dengan kaget namun ia segera menutup pintu kamarku.
"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanyanya tegas dan mendekatkan dirinya padaku. Aku menunduk diam namun ia membentakku "Kutanya, siapa yang melakukan ini padamu?"
Aku tak kuasa, aku berusaha untuk tidak menangis namun air mataku kembali jatuh. Arthur memeluk tubuhku dan menarikku kedalam dekapannya. "Francis, kau boleh bercerita padaku! Aku akan diam dan tidak akan mengatakan apapun pada siapapun!"
Aku menangis tanpa menghiraukan bajunya yang basah terkena airmataku. Tangannya yang hangat itu mengelus tubuhku dengan kasih dan membuatku diriku tenang. Tangannya dan tubuhnya membuatku seakan lepas dari masalahku. Aku dibuatnya tenang dan lega bersamaan. Bibirku yang kelu mulai bercerita tentang semuanya kepadanya. Rasa takutku menjadi keberanian dan kuungkapkan semuanya padanya. Hanya padanya aku bisa bercerita.
Mendengar semua ceritaku Arthur begitu marah dan ia segera berdiri dari duduknya. Ia berjanji akan membantuku untuk mengeluarkanku dari Roma.
"Aku akan mencari informasi untuk membuat Roma terdiam dan tidak berkutik lagi" ucapnya menatapku. "Kakek itu harus diberi pelajaran"
Aku tersenyum kecil dan merasa lega dengan kalimatnya. "terimakasih, Arthur"
Kutatap bola matanya yang berwarna hijau itu dengan perasaan senang. Kupikir lebih baik aku segera masuk sekolah lagi agar bisa lulus dan segera pergi dari sekolah tersebut. Apabila aku pergi, aku tidak akan bertemu dengan Roma lagi dan tidak akan sengsara lagi. Aku akan bebas darinya dan tidak akan menderita dengan permainannya.
.
.
Xxx
Kurapikan dasiku yang melenceng tersebut dan kuambil tasku dari atas meja. Aku siap berangkat ke sekolah dan membuang pikiran negatifku dari kepalaku. Hari ini aku siap ke sekolah biar aku bisa lulus dari sekolah tersebut. Aku berjalan kearah gedung sekolah tersebut tanpa menghiraukan pandangan-pandangan orang yang menatapku dengan penuh kebencian. Kupikir aku harus kuat dengan semua ini. Aku tidak sendiri, masih ada Arthur, Antonio dan Gilbert disisiku. Aku harus berusaha dengan semuanya.
Aku berjalan lurus namun seseorang menepuk pundakku dengan mendadak. Aku tersentak dan kulihat kebelakangku. Aku tak dapat menahan perasaan senangku saat kuketahui bahwa Lovina menyapaku.
"Pagi, Bonnefoy" ucapnya sedikit tersenyum. Wajahku memerah padam melihat senyuman kecilnya dipagi yang cerah ini. "Sudah lama tidak melihatmu, kau sakit?"
"—Ah, well, akhir-akhir ini aku tidak enak badan jadi tidak bisa masuk" ucapku berbohong padanya. Aku mencintainya, aku tidak dapat menyakiti hatinya dengan mengatakan bahwa kakeknya telah memperkosa diriku. Aku hanya tersenyum kecil kepadanya.
"Oh, kau harus menjaga kesehatanmu, che palle!" ucapnya dengan wajah memerah. Rona wajahnya begitu imut serasa ingin sekali kupeluk dirinya. Namun aku harus menahan semuanya.
"Oui, aku akan menjaganya, terimakasih" ucapku tersenyum dan mengelus kepalanya. Kami ngobrol sambil terus berjalan kegedung sekolah dan berpisah untuk jalan kekelas masing-masing.
Aku sangat bahagia saat mengetahui bahwa Lovina mengajakku berbicara. Aku dibuatnya melupakan hari-hari kelamku disekolah. Aku benar-benar mencintai wanita itu. Aku rela berkorban demi dia. Aku rela menderita untuk dia. Aku rela.
Aku berjalan ke kelas dengan wajah biasa, Antonio dan Gilbert sudah ada dibangku mereka dan melihatku dengan kaget. Mereka menghampiriku dengan penuh khawatir.
"Francis!" sapa mereka khawatir. "Kau tidak masuk kelas beberapa hari ini, kita panggil kau di asrama tapi kau tidak menjawabnya"
Aku tersenyum kecil pada mereka. "Maaf membuat kalian khawatir, akhir-akhir ini aku kurang enak badan, jadi aku istirahat"
Aku kembali berbohong pada mereka. Aku tidak ingin mereka mengkhawatirkanku dan aku tidak ingin mereka terkena masalahku. Aku menyayangi mereka berdua. Aku berjalan ke bangkuku dan kulihat mejaku tertulis kata "MATI" dengan font yang besar. Aku terdiam menatap mejaku yang banyak tercoret tersebut.
"Dia masuk? Kukira dia sudah mati" seseorang mengatakan dengan suara yang kencang. Aku tersentak dan melihat asal suara tersebut. Mereka melihatku dan mulai berbisik-bisik menjelekkanku.
"Apa?! Siapa yang tadi berkata seperti itu?" teriak Gilbert kesal dan melihat kearah mereka.
"Sudah bagus dia tidak masuk sekolah lagi, liat dia saja sudah membuat bulu kuduk kita berdiri"
"Kalian itu kenapa ngomong begitu tentang Francis? Dia tidak melakukan apapun kepada kalian!" ucap Antonio membelaku.
Mereka tidak menghiraukan ucapan-ucapan Antonio dan Gilbert. Mereka tetap mengejekku tanpa henti. Aku hanya bisa terdiam menunduk berusaha untuk berpikir positif bahwa semua akan berakhir dengan cepatnya.
