Darah segar dari boneka porselen itu membasahi sarung tangan bedah pemuda itu. Kengerian terjadi saat pemuda itu terdiam untuk beberapa detik, sebelum dia memutar kepalanya perlahan dan berkata,
"Kau..."
"Melupakanku?"
"ARGHH!"
©Characters; Masashi Kishimoto
©Story; coldheather
Aku terbangun dari mimpi burukku. Mimpi itu benar-benar seperti nyata. Selalu seperti itu. Pemuda yang tidak ketahui siapa itu terus menerus menerorku di dalam mimpi burukku. Mimpi yang sama. Semua yang dilakukan pun sama. Dimulai dengan ruangan gelap yang mencekam hingga diakhiri dengan pertanyaan yang sama dan dengan senyuman tipisnya yang dingin itu.
Ckrek.
Suara pintu kamar mandi terbuka. Kepala pemuda pirang itu menyembul dari dalam sana. "Oi, Sasuke kau tidak apa-apa?" tanyanya padaku.
"Nah. Aku baik-baik saja." jawabku seadanya.
Pemuda pirang itu adalah Uzumaki Naruto, sahabatku sejak sekolah menengah atas sekaligus teman sekamarku. Kami berdua dan beberapa mahasiswa lainnya tinggal di asrama kampus kami. Beberapa tinggal di asrama karena ingin hidup mandiri, dan beberapa karena jarak yang cukup jauh dari rumah kami masing-masing. Aku sendiri memilih tinggal di asrama karena rumahku sangat jauh. Aku tinggal di Osaka sebentar kampusku di Tokyo. Dan untuk Naruto, dia memilih untuk mandiri. Tapi sebenarnya bukan itu alasannya. Dia hanya tidak mau tinggal di rumah bibinya yang berada di Tokyo karena bibinya sangat galak dan cerewet. Bisa dibilang dia memilih untuk tinggal di asrama agar aman dari omelan bibinya.
Naruto kini berdiri di depan lemari kami, mengambil pakaian yang hendak dipakainya untuk perkuliahan nanti.
"Hari ini jadwal cekmu. Segera mandi agar nenek Tsunade tidak memarahimu." suruhnya.
"Hm." aku mendehum mengiyakan. Aku bangkit dari tempat tidurku, hendak beranjak ke kamar mandi.
Hari ini aku akan melakukan pengecekan rutin. Sejak pindah ke Tokyo aku merasakan sakit yang luar biasa di perutku. Aku bahkan sampai memuntahkan darah. Nenek- ah, maksudku dokter Tsunade mengatakan tidak ada yang aneh pada tubuhku. Semua organku sehat. Aku tidak banyak meminum alkohol, bahkan lebih banyak meminum susu dan air putih. Aku tidak merokok. Dan aku juga rajin olah raga. Tapi, ada apa dengan tubuhku? Kenapa terasa menyakitkan?
"Sasuke."
Aku menghentikan langkahku, meresponi panggilan Naruto. "Hm?"
"Soal mimpimu itu-"
"Aku tidak mau dengar." potongku. Aku tahu apa yang sahabatku ingin katakan. Tapi, aku tidak akan mempercayainya. Otakku masih terlalu sehat untuk menerima hal-hal hal di luar logika.
"Sasuke, dengar." Naruto membalikkan tubuhnya yang sudah berpakaian lengkap. Kini kami saling berhadapan meski jarak kami cukup jauh. "Mimpi yang kau alami itu sudah pasti bukan dari dunia ini. Ada seseorang dari dunia sana yang mengganggumu."
Aku menggeleng, menolak untuk mempercayai ucapan Naruto. "Yang sudah mati tidak ada urusannya dengan yang masih hidup." tegasku.
"Lalu, bagaimana kau menjelaskan mimpimu itu?"
Aku terdiam beberapa detik, sebelum aku melanturkan jawabanku. "Itu hanya efek film horor yang kutonton dengan kalian." setelah kujawab pertanyaan Naruto dengan jawaban asal-asalanku, aku segera memasuki kamar mandi kamu sebelum sahabatku memberikan pertanyaan lanjutan.
Klinik Tokyo.
Aku menunggu wanita di hadapanku untuk membacakan hasil tesku. Ekspresinya sama seperti biasanya. Tidak ada kegiatan keterkejutan dan semacamnya. Kupikir, kondisiku sama baiknya seperti kemarin.
"Jadi.. Bagaimana?" tanyaku membuka percakapan.
"Hmm." dokter Tsunade meletakkan hasil tesku di atas meja, lalu memutarnya agar aku bisa melihatnya.
Aku membaca hasil tesku. Seperti yang kedua, sama seperti sebelumnya.
"Tidak ada yang berubah. Kondisimu tetap sama sehatnya seperti sebelumnya. Saya sendiri bingung dengan keluhan yang kau rasakan." ucap dokter Tsunade.
'Ya, seorang dokter saja bingung apalagi orang biasa sepertiku.' sinisku dalam hati.
"Sasuke-kun."
"Hm?"
"Mungkin ini sedikit tidak sopan. Tapi, apa kau pernah mersakan sakit di perutmu saat kecil? Kemungkinan ini sudah ada sejak lama di tubuhmu."
Aku mengerutkan dahi. Sejak kecil? Aku tidak pernah merasakan sakit di perutku saat aku masih kecil.
"Aku tidak pernah merasakan sakit seperti ini saat kukecil." jawabku tenang.
"Apa kau yakin? Coba kau ingat-ingat terlebih dahulu."
Aku berdecak kesal di dalam hati. Kenapa memaksa sekali? Sudah kubilang aku tidak pernah merasakan sakit seperti itu. Aku anak yang sehat. Orang tuaku selalu memberikan makanan yang sehat dan berkualitas tinggi. Aku tidak mungkin sakit saat masih kecil. Apalagi menumpuk penyakit.
"Aku benar-benar tidak pernah merasakan sakit seperti ini saat kecil. Aku merasakannya saat aku pindah kesini 3 bulan lalu."
"Hmm. Begitu ya? Tidak ada jawaban lain. Penyakitmu ini aneh."
"Aneh?" aku kembali mengerutkan dahi.
"Ini pertama kalinya saya menemukan penyakit yang tak terlihat seperti ini. Jantung, hati, ginjal, dan organ lainnya sangat sehat. Tapi kenapa dengan penyakitmu itu? Aneh sekali."
Aku menggigit bibir bawahku. "Apakah tidak ada jawaban lain? Semua penyakit pasti ada sebabnya."
"Maaf, penyakitmu ini aneh. Saya tidak bisa menemukan apa-apa di dalam tubuhmu."
"Hhhh." aku menghela nafas pelan. Aku sudah pasrah dengan keadaanku.
"Baiklah aku pulang saja." ucapku sambil menggendong tas selempangku.
"Tolong diingat-ingat apa kau pernah merasakannya saat kecil. Mungkin itu bisa membantumu." dokter Tsunade mengingatkanku.
"Hm." dehumku dingin. Setelah mengucapkan terimakasih, aku segera meninggalkan ruangan.
Aku sedang dalam perjalanan menuju kampusku dengan kereta. Selama perjalanan aku terus memikirkan ucapan dokter Tsunade. Apakah aku pernah merasakan sakit seperti ini sebelumnya?
Aku menundukkan kepalaku, melihat perutku yang saat ini masih dalam keadaan normal. Aku tidak mengerti dengan perutku sendiri. Terkadang terasa sangat sakit seperti seseorang tengah meremas isi perutku. Tapi terkadang saat dalam keadaan normal perutku terasa baik-baik saja seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
Aku berusaha mengingat masa kecilku. Dulu aku pernah merasakan sakit di perutku yang jauh lebih menyakitkan dari yang kualami sekarang. Tapi ibu bilang aku hanya terkena sembelit. Aku tidak yakin jika sembelitku dulu ada pengaruhnya dengan penyakitku sekarang. Tapi sebaiknya aku beritahukan saja pada dokter Tsunade. Mungkin saja ada jalan keluarnya.
Aku sudah tiba di kampusku. Masih ada setengah jam sebelum pelajaran dimulai. Hari ini aku hanya mempunyai 2 mata pelajaran saja, sedangkan Naruto 3 pelajaran.
Aku sedikit berlari menuju kantin kampusku. Kulihat Naruto telah menungguku dengan beberapa teman kami.
"Hey, lihat! Brand ambassador kita telah datang!" seru Kiba, pemuda yang sama hiperaktifnya dengan Naruto.
"Hah. Gay." sinisku. Aku tidak suka dipanggil seperti itu. Menjijikkan.
Aku segera duduk di kursi kosong, Disebelah temanku Neji. Dia adalah pemuda yang cukup serius. Sangat berbeda dengan teman-teman kami lainnya. Dia sangat susah diajak bercanda.
"Ada apa hari ini?" aku membuka pembicaraan.
"Tidak tahu." sahut Shikamaru, pemuda berambut nanas sambil menghisap jus jeruknya.
"Kerjaanmu tidur saja seharian. Mana mungkin kau tahu apa yang hangat hari ini." sindir Naruto.
"Diam saja kau, Naruto. Lagipula memang tidak ada yang bagus." Shikamaru membela diri. "Lagipula obrolan kalian hanya seputar wanita dan segala keindahannya." Shikamaru balas menyindir.
"Hey! Memangnya salah jika kita membicarakan wanita? Kita semua sudah 21 tahun, bung!" protes Kiba.
"Hah, merepotkan sekali." Shikamaru menatap Kiba dengan tatapan malasnya. "Dengar, ya. Tidak ada makhluk di dunia ini yang lebih merepotkan daripada seorang wanita. Mereka hanya bisa menuntut, mengomel, tapi tidak mau berbuat apa-apa."
"Oi, oi, kalian.. " Naruto mencoba menengahi. "Jangan berkelahi hanya karena prinsip kalian masing-masing!"
"Tck." Shikamaru menyilangkan kedua tangannya. "Merepotkan." lanjutnya.
"Nah. Terus? Apa sekarang?" tanya Kiba. Dia terlihat sedikit kesal.
"Hmm." Naruto tampak berpikir- tidak, lebih tepatnya mengumpulkan tekad untuk mengutarakan isi pikirannya. "Sebenarnya ada sesuatu yang kupikirkan beberapa hari ini."
Huh? Apa? Apa yang ingin Naruto utarakan? Aku menatap Naruto dengan intens. Dia tampak serius. Aku tidak tahu apa yang ingin dia bicarakan. Biasanya dia selalu memberitahuku sebelum memberitahukannya pada yang lainnya. Tapi ini, entahlah. Aku tidak mengerti.
"Apa itu?" Neji akhirnya angkat bicara.
"Apa kalian percaya dengan dunia roh?"
Kami berempat terdiam dengan pertanyaan Naruto. Dunia roh? Hal semacam itu tentu tidak ada! Apa yang Naruto pikirkan? Aku tahu Naruto memang menyukai hal-hal mistis. Tapi, tak kusangka dia akan menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu.
"Ah.. Apa yang kau bicarakan, Naruto?" Kiba mengernyitkan dahinya.
"Kau pasti bercanda. Tidak ada yang namanya dunia roh." Neji menimpali.
"Naruto. Yang sudah mati tidak mempunyai urusan dengan yang masih hidup." aku mengulang ucapanku yang tadi pagi.
Naruto tampak kecewa. Aku mengerti dia menginginkan seseorang yang memiliki ketertarikan yang sama dengannya. Tapi, sayang sekali. Diantara kami berlima, tidak ada yang percaya dengan roh, arwah, ataupun hantu selain Naruto. Hidup kami sudah cukup sibuk untuk sekedar memikirkan urusan yang telah mati.
"Begitukah? Baiklah." Naruto terkekeh kecil. "Sasuke benar. Yang sudah mati tidak ada urusannya dengan kita yang masih hidup." masih terkekeh. Tapi aku tahu Naruto hanya menyembunyikannya. Dia sedang kecewa. Dan sedih.
Maaf, Naruto. Aku tahu kau sedih. Tapi, aku tidak bisa membantumu kali ini. Aku sendiri tidak percaya dengan dunia roh. Mau dipaksa sekeras apapun, aku tetap tidak akan percaya. Mungkin suatu saat kau akan menemukan temanmu sendiri.
Aku melilitkan handuk putih di sekitar pinggangku. Tubuhku sangat segar. Mandi air hangat memang ampuh menghilangkan rasa penat di tubuh. Aku membuka pintu kamar mandi. Kuliah Naruto tengah sibuk memainkan ponselnya.
Aku berdiri di depan cermin besar yang menyatu dengan lemari kami. Aku menatap pantulan tubuhku sambil sesekali melirik ke arah Naruto. Apa dia masih kecewa dengan kami? Kuharap tidak. Karena sejak obrolan tadi pagi kami berdua tidak bicara sama sekali.
"Naruto, giliranmu." ucapku setelah mengenakan pakaianku.
Naruto tidak menjawab. Dia masih sibuk dengan ponselnya. Aku merapikan rambutku. Poniku yang selalu menutupi mata kiriku kini kujepit. Wajahku menjadi tanpa poni.
"Sasuke."
"Hm?"
"Apa perutmu masih sakit?"
Aku menghentikan aktifitasku. Pertanyaan Naruto terdengar aneh di telingaku. Entah kenapa aku merasa Naruto menyembunyikan sesuatu.
"Tidak." jawabku singkat. "Memang kenapa?"
"Tidak apa-apa." Naruto kini menoleh ke arahku, lebih tepatnya punggungku.
"Lalu, bagaimana tesnya?"
"Sama seperti biasa. Tidak ada kemajuan."
Aku melangkah menuju tempat tidur kami, lalu duduk di tepinya. Aku menyilangkan kedua tanganku, sambil menyandarkan punggungku di sandaran tempat tidur.
"Dia tidak menemukan sesuatu yang aneh di tubuhku. Tidak ada organ yang rusak. Semua sehat." aku menambahkan. "Tapi, tetap saja. Penyakitku tidak diketahui."
Naruto terdiam setelah mendengar jawabanku. Hanya beberapa detik sebelum dia kembali berbicara.
"Sasuke, aku ingin menolongmu. Tapi kau tidak mempercayaiku."
Naruto menatapku. Dia memberikan tatapan serius yang seolah-olah ingin membuatku percaya padanya. Maaf, Naruto. Aku benar-benar tidak bisa. Aku masih memakai logika.
"Sasuke, dengar. Penyakitmu itu memang tidak akan terdeteksi dan tidak akan terobati. Itu semua karena kau tidak sakit!"
Aku terkejut mendengar ucapan Naruto. Aku tidak sakit? Lalu, apa yang terjadi dengan perutku selama ini? Aku merasa seperti seseorang merobek perutku dan mengocok isi perutku. Sangat sakit hingga aku muntah darah.
"Kalau aku tidak sakit, lalu kenapa perutku terasa perih seperti orang lain mengocok isi perutku?" aku memberikan pertanyaan yang dingin.
"Seseorang pasti tengah mempermainkanmu." jawab Naruto, masih terdengar serius.
"Seseorang? Yang tak terlihat, maksudmu? Huh." aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Pasti akan menyinggung dunia mistis lagi.
"Bisa tidak terlihat, bisa terlihat."
Aku mengerutkan dahi. "Maksudmu?"
"Kau itu, Sasuke."
Naruto semakin mengintenskan tatapannya, membuatku sedikit bergidik.
"Apa pernah melupakan seseorang?"
TBC.
