"Hinata-sama..."
"Aaa... Hai' Yugao-san"
"Hinata-sama harus segera bersiap. Sepertinya Hiashi-sama tidak akan menunggu lama"
"Baiklah..."
Kedua gadis bergender sama namun berbeda spesis -peri dan manusia- itu berjalan agak tergesa menuju kamar sang putri. Dari sikap mereka yang melakukan semua dengan cepat, terlihat sekali bahwa sang peri akan mengikuti acara penting.
"Yugo-san, tidak perlu terburu-buru"
"Demo Hinata-sama, Hiashi-sama pasti akan marah jika anda tidak bergegas"
"Yugo-san, acaranya akan dimulai jam 2. Jadi tenanglah... Jujur saja, aku merasa sakit saat kau menyisir dengan tergesa" tak lupa bibir yang dikerucutkan ke depan menambah kesan bahwa sang peri sedang kesal.
"Aa-aa.. Gomennasai Hinata-sama" penyesalan jelas terlihat di raut sang pelayan.
"Iie.. daijobu"
Dengan lihai, pelayan bernama Yugo itupun menata rambut sang hime. Menyanggulnya sedikit ke atas dan memberikan sedikit ornamen berbentuk mahkota cukup besar di depan sanggulnya. Beberapa helai indigo sang hime di bagian depan dibiarkan tergerai apik di sisi kanan dan kiri membingkai wajah imutnya. Ini masih rambut, belum lagi gaun yang baru terpasang di tubuhnya. Gaunnya memang sederhana meski kesan glamour masih menguar dari sana. Warna violet lembut dari gaunnya seakan bersahabat dengan dua sayap pelangi di punggungnya. Benar-benar mencerminkan seorang Ojou-sama.
"Uhm.. Hinata-sama, bukankah anda akan menghadiri sebuah acara pernikahan?"
"Hai'.. Ini adalah pernikahan Ino-san"
"Aaa... Bukankah Hinata-sama sering bermain dengan Yamanaka-sama dulu?"
"Hm... Sejak kami berumur 5 tahun. Bahkan kami sering berlatih bersama untuk menjadi seorang Ojou-sama yang baik"
"Sou-desuka... Masa-masa yang menyenangkan, ne- Hinata-sama?!"
"Yugo-san benar... Semenjak Inoichi-sama bersekutu dengan Kerajaan Shi, Ino-san tidak diizinkan lagi untuk keluar dari istana. Ino-san bilang kalau dia akan belajar menjadi pemaisuri dari pangeran kerajaan Shi. Yah, seperti yang kita tahu... Ino-san akan menikah hari ini" wajah Hinata berbinar saat mengatakan kalimat penuh bahagia itu.
"Ne... ne... kapan Hinata-sama akan menyusul?" sedikit godaan dilakukan oleh Yugo kepada Hinata yang kini tersipu.
"Na-nani? Aku belum berfikir untuk me-menikah sekarang Yugo-san"
"Ne... seorang Ojou-sama dilarang tergagap. Lagipula, usia Hinata-sama sudah sangat matang untuk menyusul Yamanaka-sama"
"Hai' hai'... Wakarimashita senpai. Aku akan menikah setelah menghadiri pernikahan Kakashi-san" senyum geli ditunjukkannya kepada sang pelayan.
"Na-nani? Kami tidak berencana untuk menikah dalam waktu dekat"
"Aa... Memangnya calon istri Kakashi-san siapa? Jangan-jangan Yugo-san..."
Satu sama. Kini keadaan berbalik dengan Yugo yang kalah dari sang Ojou-sama. Godaan demi godaan mereka lontarkan agar mendapatkan keunggulan dari lawan masing-masing. Dan terus berlanjut hingga seorang pengawal istana memperingatkan sang peri untuk bergegas. Tak lupa geraman kesal dari sang Raja karena dibiarkan menunggu lama.
Sedang Hinata hanya bisa menundukkan kepala. Bukan karena takut kepada Tou-sama nya, melainkan karena mengingat percakapan konyolnya bersama sang pelayan.
Yare-yare...
.
Chapter 2
~^ Kesadaran ^~
Disclaimer : Masashi Kishimoto Sensei yang punya chara
Pairing : (Sudah terlihat) SasuHina
Mungkin akan banyak terjadi OOC dari chara yang saya pinjam
Typos bertebaran disana-sini...
Dan sepertinya OC ikut andil dalam pendeskripsian
Meskipun gak jelas, fanfic ini butuh untuk dibaca oleh reader semua...
Butuh banget kritikan...
Jadi, mohon bantuannya ^_^
.
.
Kabut asap nan dingin memenuhi area pandangnya. Meski tipis, kabut yang berkoloni itu cukup mahir membutakan kedua kelereng manusia itu. Gelap. Kelam. Dingin. Begitu terasa menusuk kulit. Beruntung kesadarannya masih mengambil alih. Dia ingat apa yang terjadi sebelum ini. Pengusiran. Iya, dia diusir dari istana tepatnya dari Kerajaan Kunshu. Celotehan aneh dengan bahasa dan logat yang tak dimengerti olehnya. Tangisan dan teriakan dari sang putri yang tak ingin didengarnya. Dan yang dilakukannya hanya diam.
Belum lagi keadaan mereka yang terpisah. Dia tak tahu keadaan sang putri yang tidak bersamanya saat ini. Kekhawatiran memenuhi benaknya. Dia kenal Hinata sebagai peri manja yang sering merengek. Jika keadaan Hinata sama sepertinya bagaimana? Bagaimana jika hutan tempatnya sadar penuh dengan hewan buas? Bagaimana jika dia ditemukan oleh seseorang dalam keadaan belum sadar? Bagaimana jika seseorang tahu dia seorang peri kemudian melaporkannya kepada publik massa...?
Publik...
Massa...
TIDAK!
Hal seperti itu tidak boleh terjadi. Keberadaan peri merupakan sebuah rahasia. Sebagai salah satu manusia yang mengetahui keberadaan peri, jelas dia sangat tahu apa yang akan dilakukan manusia tak bertanggungjawab terhadap peri layaknya Hinata.
Wushhh...
Tiba-tiba bulu kuduknya meremang akibat rangsangan angin dan cahaya kemilauan merah yang datang bersamaan.
Beberapa detik selanjutnya, bayangan manusia berbadan tegap terlihat di hadapannya. Siluet itu semakin jelas seiring memudarnya kabut akibat kepakan sayap yang ternyata berasal dari sosok dihadapannya.
"Sasuke..." sosok itu bersuara.
"..."
"Hiashi-sama memberikanmu satu kesempatan untuk hidup. Percayalah bahwa ini yang terakhir! Tapi, dengan satu syarat..."
"..."
"...Jauhi Ojou-sama!"
Diam. Yang dilakukan Sasuke hanya diam. Dia benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia tak bisa berbuat banyak.
Alih-alih menunggu jawaban dari lawannya, sosok itu menghilang. Begitu cepat seperti saat dirinya datang. Diiringi dengan angin kabut dan cahaya kemilauan merah, sosok bersayap itu menghilangkan diri tanpa jejak seakan tak pernah ada dirinya di tempat itu.
Ah Sasuke, sepertinya kau salah menganggap sosok itu menghilang tanpa jejak...
Tuk
...karena kenyataannya sebuah gulungan kecil yang permukaannya bermotif huruf kanji berada dihadapanmu saat ini.
.
.
.
"Eunghh..."
Lenguhan lirih terdengar dari sebuah ruangan bernuansa putih yang ditutup dengan pintu bertuliskan angka 'XII-1227'. Dengan aroma yang tidak jauh dari bahan-bahan medis, jelas siapapun tahu itu di rumah sakit.
Perlahan jemari -pemilik lenguhan- itu bergerak menunjukkan adanya kesadaran. Kedua kelopak matanya mengerjap menyesuaikan dengan cahaya lampu.
"Hinata..."
Enam sosok yang berada di kursi dekat dinding lekas beranjak mendekati ranjang. Beberapa dari mereka bahkan ada yang nekat menatap sosok sang pasien tepat di atas wajahnya.
"Hinata..."
"Hinata-sama..."
"...hey, sadarlah"
"...bangunlah"
"Hinata-chan..."
.
Hinata POV
"Hinata..."
"Hinata-sama..."
"...hey, sadarlah"
"...bangunlah"
"Hinata-chan..."
Suara-suara itu berdengung di telingaku menambah rasa pening di kepalaku. Kedua mataku mencoba untuk terbuka. Namun seketika yang kulakukan hanya terkejut melihat beberapa wajah kabur yang berada di atasku. Begitu lama terdiam, sampai akhirnya aku dapat dengan jelas melihat mereka. Yah, ada empat sosok di atasku dan dua orang lainnya berada di ujung kakiku. Tiga orang perempuan, dan sisanya adalah lelaki. Berbagai ekspresi kekhawatiran dan kelegaan bisa kulihat dari raut mereka. Yang jelas...
"Hinata, yokatta... kau sudah sadar"
...aku tak mengenal mereka semua.
End POV
.
"Yakumo... Panggilkan Kabuto-sensei. Cepat"
"Hai'..." diiringi anggukan kepala, gadis berambut coklat sepinggang itu melenggang pergi keluar melalui pintu coklat itu. Sejenak tatapan lima orang yang berdiri disana mengiringi kepergian gadis mungil itu.
"Hinata... merasa lebih baik?" tanya seorang laki-laki paruh baya berambut coklat.
"Da-dare..?"
"Hm?"
"A-anata wa dare...?"
"Eh, kau tak mengingatku?"
Hinata menggeleng.
"Kalau aku Hinata-chan?" kini seorang gadis berambut pirang yang bertanya sambil menunjuk dirinya sendiri.
Namun jawaban Hinata tetap sama. Dia... tidak mengingat mereka. Bahkan untuk mengenal...
"Ja-jangan–jangan... kau tak mengingat kami semua?" ucap gadis itu lagi dengan wajah tak percayanya.
Diamnya Hinata seakan membenarkan. Dia memang tak mengingat sesuatu tentang mereka di benaknya. Yang dia ingat, dia hanya seorang gadis. Bernama Hinata. Itu saja. Tak ada sedikitpun ingatan lain yang muncul mengenai kehidupannya. Tak ada kabut, tak ada bayangan putih, tak ada bayangan samar. Itu jelas menandakan bahwa Hinata tak memiliki kenangan apapun di kepalanya.
Ah Hinata, jangan terlalu cepat menilai...
...
...
...maa~ suatu saat kau akan mengerti.
Srek
"Kabuto-sensei..."
"Aaa biarkan saya memeriksa Hinata-san terlebih dahulu" seorang dokter berkacamata bulat itu berucap seraya berjalan agak tergesa mendekati pasiennya diikuti seorang suster berseragam hijau. Berbekal stetoskop yang tergantung di kedua telinganya, dia memulai pemeriksaan. Memeriksa denyut jantung, cek. Memeriksa bagian lambung, cek. Memeriksa suhu tubuh, cek.
'Sepertinya tak ada yang buruk.." batin sang dokter.
"Jadi?"
"Hinata-san baik-baik saja secara fisik. Denyut jantungnya sudah mulai stabil. Suhu tubuhnya juga normal. Kita harus menunggu hasil lab untuk melihat perkembangan otaknya mengingat benturan yang cukup keras terjadi disana" papar Kabuto sambil sesekali membaca kertas yang menjadi pekerjaan suster -asistennya-
"Sou-desuka. Mungkin itu alasan mengapa Hinata-sama tidak mengenali kami" ujar seorang pemuda berambut hijau.
"Tidak mengenali? Separah itu ya? Baiklah, saya akan mempercepat proses lab supaya lekas mendapat hasilnya. Begitu selesai dianalisis, saya akan segera menghubungi Hotarubi-sama mengenai perkembangannya. Summimasen, ada pasien yang harus saya tangani"
"Arigatou, sensei..."
Setelah menjawab dengan seulas senyum, dokter itu segera keluar diikuti asistennya.
.
.
'Benturan keras? Memangnya apa yang terjadi padaku? Dan kenapa mereka bersikap seolah-olah mengenalku sejak lama? Aku bahkan tak ingat pernah memiliki kenalan seperti mereka. Menganggap aku baru lahir juga anggapan yang sangat mustahil. Tak mungkin kan aku lahir dalam keadaan remaja seperti ini? Lantas, mereka siapa? Keluargaku? Saudaraku? Temanku? Arrrghh... semua ini membuatku pusing. Berharap ini hanya mimpi kurasa tidak buruk. Sebaiknya aku tidur dan bangun esok paginya...'
.
.
"Sepertinya Hinata benar-benar lelah saat ini" Natsuhi berkata seraya mendekati suaminya, Hotarubi.
"Benar. Biarkan dia tidur dulu. Sembari menunggu Hinata terbangun, biarkan anak-anak juga istirahat"
"Baiklah anata..."
Setelahnya dia sudah berada diambang pintu seraya berbicara dengan empat anak muda disana.
"Sumaru, Hinata sudah tidur. Mungkin dia kelelahan. Jadi sebaiknya kalian juga beristirahat. Kembalilah ke rumah. Yakumo, Ino, dan Naruto juga boleh menginap disana" ujar Hotarubi sembari menyerahkan kunci rumah yang langsung diterima oleh Sumaru.
"Ah tidak ba-san. Sebaiknya kami pulang ke rumah masing-masing. Besok pulang sekolah kami pasti akan kesini melihat Hinata" ujar Naruto.
"Baiklah. Terima kasih ya sudah mau menjenguk Hinata"
"Tak apa ba-san. Lagipula Hinata adalah sahabat kami" kali ini Ino yang menjawab.
"Hm. Kalau begitu hati-hati ya"
"Uhum. Oyasuminasai ba-san..."
"Oyasuminasai..."
"Jaa kaa-sama..."
"Jaa..."
Keempat remaja itupun melenggang pergi meninggalkan rumah sakit.
.
.
.
.
.
Sang surya kembali memberikan penerangan dan kehangatannya saat ini. Kokokan ayam terdengar seakan memberikan dukungan bahwa ini telah pagi. Sasuke yang saat itu sedang meringkuk di sebuah akar pohon pun mau tak mau harus terbangun akibat gangguan-gangguan itu. Sejenak matanya mengerjap diikuti gerakan punggung tangan yang mengusap kedua matanya. Raut wajahnya begitu letih khas orang bangun tidur.
Di genggaman tangan kirinya yang bebas terdapat sebuah gulungan yang bahkan belum dibukanya sejak tadi malam. Sebenarnya dia cukup penasaran dengan isi gulungan itu. Namun akibt rasa letihnya yang mengambil alih, mau tak mau membuatnya harus beristirahat. Lagipula, dibutuhkan beberapa ritual untuk membuka segel gulungan itu. Yah, dia hanya harus berharap semoga kekuatan spiritual-nya tidak hilang.
Menyimpan gulungannya di balik saku celana, lantas lekas berdiri mencari mata air. Dia ingin membersihkan diri sekaligus menuruti kebutuhan manusiawi-nya akan jasmani. Iya, dia lapar. Sejak kemarin dia belum mengisi perutnya dengan makanan. Mungkin menangkap beberapa ikan tidaklah buruk.
Begitu lama mencari, akhirnya dia menemukan sebuah sungai dangkal yang alirannya cukup deras. Berbekal bambu yang dipotongnya tadi, dia mengisi air untuk perbekalan. Setelah dirasa cukup dan meletakkannya di dekat bebatuan, kain lengannya disingkap sebatas siku tak lupa juga celananya agar tak basah saat berburu ikan.
Byurr
Dan diluar dugaan, dia terpeleset saat menginjak salah satu batu di dasar sungai.
Haha, Sasuke sepertinya kesialan selalu ada padamu. Seharusnya kau menggunakan energi spiritualmu...
...maa~ mungkin kau belum menyadarinya.
"Tch, sial..." gumam Sasuke menyadari keadaannya yang jauh dari kata kering. Dia basah seluruhnya. Meski dangkal, cipratan yang dihasilkan akibat tubuhnya yang terjatuh mengenai kepalanya. Bahkan rambut yang biasanya jabrik itu kini berubah klimis akibat percikan air itu. Lupakan sakit yang kini didera bagian pinggangnya.
Kepalang tanggung, itulah yang ada di fikirannya. Tanpa fikir panjang, lantas dia segera menenggelamkan diri seraya menajamkan penglihatannya. Dengan lihai Sasuke menangkap satu persatu ikan penghuni sungai. Beruntung dia sudah biasa hidup seperti ini, jadi bukan hal sulit baginya menangkap banyak ikan dalam waktu singkat. Setelahnya dia segera menepi.
Sedikit mengeringkan diri, mungkin?
.
Berbekal pengetahuan saat mengikuti pramuka dulu di sekolah –ah, maaf Sasuke tidak sekolah. Cek, coret.
Karena terbiasa hidup sendiri, membuat api menggunakan kayu bakar tidaklah sulit baginya. Api yang dibuat juga cukup besar. Selain untuk membakar hasil tangkapan, dia juga bermaksud mengeringkan dirinya. Baju atasnya dijemur di ranting pohon terdekat sehingga dadanya ter-ekspos dengan jelas tanpa cela. Sesekali tangan kanannya membolak-balikkan ikan yang mulai matang itu.
Setelah dirasa cukup, ia mulai memakan ikannya. Satu... dua... empat ikan sudah habis dilahapnya. Menyisakan beberapa ikan yang cukup untuk makan seharian ini.
Usai memakai pakaiannya kembali, dia berencana untuk mencari tempat tinggal di dekat sini. Selain karena lebih dekat dengan mata air, dia merasa bahwa ini tempat teraman untuk tinggal di hutan.
Sesekali badannya menunduk untuk mengambil beberapa kayu yang mungkin bisa untuk membangun sebuah gubuk.
Maa~... kita tinggalkan pemuda yang satu ini. Biarkan dia berkreasi membuat tempat yang nyaman bagi dirinya sendiri.
.
.
.
Hinata POV
"Konnichiwa Hinata..."
Suara yang baru kukenal kemarin kini terdengar lagi. Aku hanya tersenyum membalas sapaan mereka. Memangnya aku harus apa? Sejujurnya aku masih bingung dengan sikap mereka yang seolah mengenalku sejak lama. Aku benar-benar tak ingat pernah mengenal seseorang.
"Genki desu ka?" tanya seorang gadis -yang seumuran denganku- berambut coklat.
"A-aku baik..." jawabku.
"Souka... apa kau masih tak mengingat kami?" ujarnya lagi.
Aku menggeleng seraya menunjukkan raut bersalah.
"Hmm baiklah. Aku akan akan memperkenalkan diri. Namaku Kurama Yakumo. Kau bisa memanggilku Yakumo"
"Aku Yamanaka Ino. Kau biasa memanggilku Ino-chan loh..." ujar gadis berambut ekor kuda berwarna pirang.
"Nah, kalau aku Uzumaki Naruto. Kau biasa memanggilku Naruto-kun dan aku memanggilmu Hime. Kau tahu, kita kurang sedikit... lagi pacaran loh. Sayang waktu itu kau harus mengalami kece- aw... ittai!"
"Omong kosong. Percaya diri sekali Hinata akan menerimamu jadi kekasihnya. Jangan percaya dia Hinata, dia playboy" sekarang gadis bernama Ino itu yang berbicara. Setelah memberikan 'sedikit hadiah' pada Naruto tentunya.
Aku hanya bisa terdiam. Apa benar aku menyukai pemuda itu? Pemuda yang terlihat err... agak bodoh itu? Tidak tidak... itu jelas tidak mungkin. Tidak mungkin aku menyukai pemuda itu kan? Bahkan dia lebih pantas dengan gadis pirang itu. Kurasa mereka lebih cocok. Daripada denganku... kan?
"Yamette kudasai... kalian lupa Hinata sedang hilang ingatan? Biarkan dia mengistirahatkan otaknya. Lihat, dia pasti sedang bingung melihat ada dua makhluk bodoh di depannya" ujar Yakumo. Kurasa aku lebih cocok dengan yang satu ini. Entah kenapa, sepertinya hanya dia satu-satunya orang normal diantara mereka bertiga.
"Lihat... ini semua salahmu Naruto"
"Hey, kau yang salah. Kau yang lebih dulu memukulku"
"Aku memukulmu agar kau berhenti bercerita masa lalu, baka"
"Aku kan hanya memperkenalkan diri"
"Tak usah bilang pacaran segala..."
"Hey, kau cemburu ya?"
"Untuk apa cemburu pada orang bodoh sepertimu..."
"Kau cemburu..."
"Tidak!"
"Iya..."
"Tidak"
"Iya Ino. K-A-U C-E-M-B-U-R-U"
"IE' BAKA NARUTOOOO!"
Hah... kepalaku pusing. Sepertinya aku benar-benar harus istirahat total setelah ini. Dua makhluk ini...
...benar-benar...
...bodoh.
.
.
.
.
.
To be continued...
.
Saya kembali dengan chapter dua...
Entahlah sepertinya banyak typos dan kalimat penuh gaje disini. Hfft... saya benar-benar merasa gagal dalam membuat sebuah fanfic. Tapi entah kenapa saya gak mau berhenti buat fanfic, hehe... Banyak ide yang dateng soalnya XD
Dan maaf baget buat reader yang nyaranin buat hapus ff ini. Saya benar-benar gak bisa memenuhi keinginan anda. Maaf... sekali. Karena saya sudah bilang bahwa ini keisengan saya... Lagipula saya juga masih dilema karena SH jauh dari Cannon. Hiks.. Hitung-hitung saya ingin menambah jumlah ff SH yang semakin menurun.
Yah, anggap saja angin lalu ya... maaf sekali...
Arigatou Gozaimashita ^_^
