"RETURN"

Author : Choi Chanhyun

.

Cast :

Park Chanyeol as Park Chanyeol

Byun Baekhyun as Byun baekhyun

Xi Luhan as Xi Luhan

And Another Cast

.

Pairing : Chanbaek / Baekyeol

.

Disclaimer : Chanbaek belongs to themselves.

.

Copyright : Cerita ini merupakan hasil pemikiran otak author sendiri.

© Choi_Chanhyun

DO NOT COPY!

.

Warning : Yaoi, Boys Love

DO NOT FORGET TO RnR!

.

Happy reading yeorobun! ^^

.

.

.

Previous Chapter :

"Saranghae, Byun Baekhyun!" lirihnya tepat di depanku.

"Emm. Nado saranghae, Park Chanyeol." jawabku tanpa keraguan sedikitpun.

Tak salah kan jika tadi berdoa agar namja ini selalu ada disisiku?

.

.

.

.

2 weeks later…

"BAEKHYUN-AH! BYUN BAEKHYUN! KAU DIMANA?" teriak orang itu.

Luhan hyung, seseorang yang selama ini tinggal bersamaku pagi itu tiba-tiba saja berteriak tak jelas. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Apa dia menang lotre semalam?

"NE HYUNG! AKU DISINI!" teriakku tak mau kalah.

Sedari tadi aku masih di dapur. Mencoba mencari beberapa makanan kecil sekedar untuk mengganjal perutku di pagi hari. Dan kemudian kudengar langkah kaki Luhan hyung yang begitu terburu-buru seolah ia baru dikejar monster pemakan manusia. Hihi… Entahlah…

"Ada apa hyung? Kau tidak pulang semalam dan sekarang kau berteriak pagi-pagi seperti orang gila?" ujarku saat kurasa dirinya sudah berada di dekatku.

"Jangan mengataiku seperti itu!"ucap Luhan hyung sedikit kesal.

"Baiklah… Jadi ada apa sebenarnya?" tanyaku pada namja yang sudah kuanggap sebagai hyungku sendiri itu.

"Ada kabar bagus untukmu!" ucapnya semangat kemudian segera menghampiriku yang tengah duduk di salah satu kursi disana.

"Kabar apa hyung?"

"Appaku baru saja memberiku kabar bahwa ada donor mata untukmu. Dan appa memintamu untuk segera operasi!" ujarnya makin semangat.

"Jinja hyung? Kau tidak bercanda kan?" tanyaku tak percaya.

Sungguh ini diluar dugaanku. Kukira Luhan hyung hanya akan memberiku kabar tentang pekerjaannya atau sekedar ia menang lotre. Namun ternyata ini jauh lebih membahagiakan.

"Tidak sayang! Aku tidak bercanda. Percayalah, kau akan bisa melihat nae Baekkie!" ucapnya girang sambil memelukku.

Tak terasa bulir air mataku mulai jatuh. Kau tahu, ini terlalu membahagiakan. Aku telah menanti hal ini sejak 7 tahun lalu. Sejak aku dan Luhan hyung mengalami kecelakaan itu. Kecelakaan yang membuatku kehilangan penglihatanku. Kecelakaan yang membuat hidupku kelam. Terlalu suram hingga akhirnya aku bertemu dengan Chanyeol dua tahun setelahnya. Seseorang yang aku yakini sebagai cahaya hidupku. Meski aku tak dapat melihatnya.

Aku masih tersenyum dalam pelukan hangat Luhan hyung. Sepertinya dia juga bisa merasakan kebahagiaanku. Dan tak lama kemudian ia melepas pelukan itu kemudian menangkap pipiku. Hemm… Mungkin agar mataku hanya tertuju padanya.

"Kau pasti bahagia kan Baekkie?"

"Tentu saja. Lalu operasinya akan dilakukan kapan hyung?" tanyaku antusias meski aku tahu lelehan air mataku sendiri masih tampak jelas dipipiku.

"Sekitar enam bulan dari sekarang. Tapi sebelumnya kau harus berangkat ke Jepang." ucapnya.

Eh?

Tunggu. Apa maksud Luhan hyung?

"Jepang?" tanyaku tampak bodoh.

"Emm. Operasimu akan dilakukan di Jepang sayang. Sekaligus kau akan menjalani terapi disana!"

DEG!

Apa ini?

Aku harus ke Jepang untuk operasi itu?

Itu berarti aku harus meninggalkan Korea dan meninggalkan…

Park Chanyeol!

Seketika senyumanku menghilang. Entah, ini sedikit tak bisa kuterima.

"Waeyo Baekkie? Ada masalah?" tanya Luhan hyung. Sepertinya ia melihat wajah kagetku.

"A-ah, aniyo hyung. Aku baik-baik saja." dustaku singkat.

"Baiklah. Akan kubantu kau membereskan barang-barangmu besok! Kau akan berangkat minggu depan, arra? Tersenyumlah menyambut kebahagiaanmu yang sebenarnya!" ucap Luhan hyung kemudian meninggalkanku.

'Benarkah ini kebahagiaanku yang sebenarnya, hyung? Mengapa rasanya masih tak rela untuk melakukannya?' batinku dalam hati.

.

.

Malam harinya Chanyeol kembali datang ke apartemenku. Yap, kukira ini adalah saat yang tepat untuk memberitahu kabar itu padanya. Meski aku sangat berat untuk mengatakannya. Jujur saja, aku tak pernah mau meninggalkannya asal kau tahu.

"Kau mau aku mendengar apa, Baek?" tanyanya kita kami duduk di salah satu sofa.

Sedangkan Luhan hyung sengaja meninggalkan kami berdua. Ia lebih memilih berdiam di kamarnya dan berkutat dengan smartphonenya. Bersyukurlah diriku memiliki hyung sepertinya yang sangat mengerti diriku.

"Yeollie, kau tahu kan aku sangat ingin melihatmu?"

"Tentu saja. Memang ada apa?"

Awalnya aku ragu untuk mengatakan ini. Kemudian aku menghela napasku pelan dan kemudian mencoba untuk mengatakannya sedikit demi sedikit.

"Aku akan bisa melihatmu, Yeol. Aku mendapat donor mata." lirihku.

"Jinja? Wuahh, daebak Baekkie!" serunya sambil memelukku bahagia.

Tidak Yeol. Aku tidak bahagia!

"Ne…" jawabku lemah.

Chanyeol melepas pelukannya padaku. Ia mulai mengecup kedua mata dan pipiku pelan.

"Kau bahagia kan, Baek?" tanyanya sambil menangkap kedua pipiku.

"Ani." Jawabku tegas. Aku memang tak sebahagia itu, Park Chanyeol!

"Eh? Wae?" kudengar suara Chanyeol heran.

"Operasi itu akan dilakukan di Jepang. Dan minggu depan aku akan berangkat kesana untuk terapi terlebih dahulu." jawabku lemah.

Chanyeol kini terdiam. Entah kemana dirinya. Tangannya pun tak lagi di pipiku.

Sepi. Bahkan ia tak bergerak sedikit pun. Ia tak berkata sepatah kata pun. Suatu hal yang kini berhasil membuatku takut.

"Yeollie, mengapa kau diam?" tanyaku takut.

Dan ia pun masih terdiam. Masih tak mau menunjukkan keberadaannya padaku. Ada apa ini? Kumohon jangan menakutiku…

"Yeollie, kumohon jangan marah. Kumohon jangan membuatku takut. Hiks…"

Tak terbendung lagi. Air mataku keluar begitu saja. Kumohon, ini sungguh membuatku takut.

Kemudian yang kurasakan selanjutnya adalah pelukan hangatnya lagi. Sangat erat. Sampai aku pun merasa sangat nyaman berada dalam pelukannya.

"Tentu saja aku tidak marah, sayang! Aku bahagia akhirnya kau akan bisa melihat lagi!" ucapnya sambil masih memelukku.

Namun kini kurasakan bahuku menghangat dan... basah. Aku yakin, Chanyeol pun menangis saat ini. Entah apa yang dirasakannya. Aku tak pernah tahu.

"Mianhae. Aku ingin bersamamu. Aku ingin disini, Yeol." ucapku pelan masih dengan isakan yang keluar dari mulutku.

Kemudian Chanyeol melepas pelukannya dan menggenggam tanganku erat. Seakan ia ingin memberiku kekuatan.

"Ada apa denganmu? Kau bilang kau ingin sekali melihatku kan? Pergilah Baek…" ujarnya menguatkanku.

Aku tak mengira Chanyeol akan mengatakan hal ini. Aku tak mau munafik, aku sedikit tak rela ia melepasku saat ini. Namun mau bagaimana lagi. Aku memang ingin sekali melihatnya. Melihat seorang Park Chanyeol yang hanya ku kenal melalui suaranya.

"Gomawo Yeollie… Saranghae…" ucapku sambil menggenggam tangannya lebih erat.

Selanjutnya ia kembali memelukku. Sangat lama hingga degup jantungku kembali normal. Hingga aku bisa merasakan kasih sayangnya padaku.

"Berjanjilah kau tak akan melupakanku ketika aku kembali." ucapku lirih saat ia masih memelukku.

"Tak akan. Tak akan pernah…"

.

.

.

Author POV

.

Osaka,

November 27th, 2014

Baekhyun masih terduduk di tempat tidurnya yang ada di salah satu ruangan di Healthy Life Hospital, Osaka. Rumah sakit milik keluarga Luhan yang merupakan cabang dari rumah sakit yang ada di Seoul. Luhan memang bukan siapa-siapa Baekhyun. Dulu ia hanyalah seorang sunbae di sekolahnya. Hingga suatu saat kecelakaan parah menimpa keduanya.

Lebih tepatnya 7 tahun lalu. Saat itu Luhan sedang mengendarai audi R8nya di perjalanan dari Gyeoggi menuju Seoul. Ia bersama Baekhyun disana yang duduk di sebelah kursi pengemudi. Namun sialnya, tiba-tiba saja Luhan kehilangan kendali dan harus membating mobilnya ke sisi kiri jalan. Luhan hanya patah tulang di beberapa tempat dan Baekhyun, yah… dia harus kehilangan penglihatannya. Baekhyun tak pernah menyangka kecelakaan itu akan terjadi. Ia sama sekali tak siap. Tak seperti Luhan yang akan tahu betul bahwa kecelakaan mengerikan itu akan terjadi karena dirinyalah yang ada di kursi kemudi. Luhan sendiri tak menyangka kondisi baekhyun akan separah itu. Karena baru satu minggu setelahnya ia baru tahu bahwa Baekhyun terpental dari mobilnya saat kecelakaan itu terjadi.

Sejak saat itu, Luhan berjanji akan menjaga Baekhyun dan bersedia menjadi hyung bagi namja manis yang selama ini hidup tanpa ibunya yang telah meninggal dan tanpa ayahnya yang telah menikah lagi itu. Bahkan keluarga Luhan menyambut baik kehadiran Baekhyun. Hingga akhirnya mereka lebih memilih tinggal berdua saja di sebuah apartemen dengan alasan 'sudah dewasa'.

Terlepas dari hal itu, kini Baekhyun masih menikmati kesendiriannya di dalam ruangan berbau obat itu. Sudah berpuluh kali ia mencoba menelfon Chanyeol sejak pagi tadi. Namun tak ada jawaban sama sekali. Semua panggilannya pasti terhubung ke mailbox ke nomor milik Chanyeol. Padahal ia hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun padanya.

Tentu saja Baekhyun menjadi gusar. Ia kembali menekan speed dial 1 yang sudah sangat ia hafal itu. Ini mungkin sudah ke tiga puluh tujuh kalinya ia mencoba menelfon Chanyeol. Dan akhirnya pun pasti sama. Pada akhirnya Baekhyun menyerah dan hanya menggenggam smartphonenya lama.

Sebulan belakangan memang sangat sulit bagi Baekhyun untuk menghubungi Chanyeol. Bahkan jika dirinya tak menelfon namja itu terlebih dahulu, Chanyeol juga tak akan menelfonnya. Dalam sebulan itu hanya tiga kali Chanyeol menelfonnya. Selebihnya adalah Baekhyun yang melakukannya. Dan kini malah Chanyeol benar-benar menghilang. Suatu hal yang sangat ditakutkan Baekhyun. Chanyeol terasa jauh dari jangkauannya.

"Ada apa Baek? Kau terlihat resah?" tanya Luhan yang saat itu baru saja datang sambil membawa beberapa kimchi.

Sengaja Luhan membawa makanan itu. Karena keduanya pasti tak akan menemukannya di Jepang.

"Ani… Mengapa Chanyeol susah sekali dihubungi?" tanya Baekhyun resah.

"Sudahlah Baek. Dia pasti baik-baik saja." ucap Luhan memberi saran.

"Hyung, kau pasti mengerti bagaimana aku sangat merindukannya." ujar Baekhyun nada merendah.

"Dan jika aku boleh bertanya, memang sebenarnya apa hubunganmu dengan Chanyeol?" tanya Luhan sarkastik.

Memang sebuah pertanyaan telak bagi Baekhyun. Dirinya dan Chanyeol bukanlah sepasang kekasih. Bahkan mereka tak pernah ada kata berpacaran atau sejenisnya. Yang mereka tahu hanyalah bahwa mereka saling mencintai. Hanya itu saja dan itu cukup untuk mempersatukan mereka. Luhan pun sangat tahu akan hal itu. Hanya saja ia terlalu takut namja bernama Park Chanyeol itu hanya akan mempermainkan Baekhyun mengingat kondisi Baekhyun yang tidak sempurna.

"Hyung…"

"Dia bukan namjachingumu, bukan begitu?" ucap Luhan meyakinkan.

"Tapi hyung…"

"Baekkie, aku tak mau seseorang menyakitimu. Jujur saja, sejak kau bilang Chanyeol sulit dihubungi, aku sama sekali tak bisa menghargai namja itu lagi. Apalagi sekarang kau benar-benar lost contact dengannya." ujar Luhan menjelaskan keraguannya.

Kini Baekhyun tampak mengernyit. Ia tak mengerti mengapa seolah hyungnya benar-benar telah membenci Chanyeol. Seakan Chanyeol telah melakukan hal yang tak bisa dimaafkannya.

"Hyung, jangan berpikiran buruk padanya." ucap Baekhyun.

"Mengertilah Baek. Bisa saja di Korea sana ia sudah punya kekasih. Ingatlah, kalian ini tak ada ikatan spesial. Bisa saja hal itu Chanyeol manfaatkan untuk mendapatkan kekasih disana."

"Cukup hyung! Aku… Aku percaya Chanyeol. Ia tak akan seperti itu." ucap Baekhyun lirih. Meski tak ayal ia sedikit mempercayai perkataan hyungnya itu.

"Baiklah. Baiklah… Terserah kau saja. Kuharap kau jangan terlalu banyak pikiran. Kau tahu seminggu lagi kau akan menjalani operasi." ucap Luhan mengakhiri.

Baekhyun hanya dapat menghela napasnya. Ia memang tak mau bertengkar dengan hyungnya itu. Ia bersyukur perbedaan pendapat itu akhirnya diakhiri.

"Ne hyung…" lirinya.

"Mianhae, hyung menyayangimu. Istirahatlah. Aku akan menemui appa dulu." ujar Luhan sambil mengecup kening Baekhyun singkat. Kemudian ia segera keluar dari ruang rawat Baekhyun dan menuju ruang kerja ayahnya.

Inilah salah satu penguat Baekhyun saat ini. Rasa sayang yang besar dari hyungnya. Ia selalu nyaman dengan semua perlakuan Luhan padanya. Meski kadang mereka selalu berdebat hanya karena mereka selisih pendapat. Namun selebihnya, Luhan hyung adalah pelindung terbaik baginya saat ini.

.

.

.

TBC

.

.

Chapter 2 kkeeuut!

Maaf updatenya lama... Author lagi coba bikin cerita yang bagus buat kelanjutan FF ini...

So, REVIEW nya tetep ditunggu ya chingudeul!

Gomawooo ^^