.
.
United Babes vs Kopites Boy
.
CHAPTER 2
.
Awalnya aku berpikir menjadikan FF ini dua chapter, tapi sepertinya nggak bisa karena kalau dua chapter langsung alurnya terlalu cepat nanti jatuhnya jadi jelek. Setelah aku hitung matang-matang, kemungkinan besar sampai 4-5 chapter.
para lelaki Koreksi aku jika ada penjelasan yang salah
.
Sebuah FanFiction NaruHina yang lain mungkin bisa dibilang anti mainstream #kepedean. FF ini terinspirasi dari kisahku sendiri dalam berdebat dengan fans Liverpool. Semoga kalian suka FF abal ini
.
.
Naruto tak percaya kalau gadis cantik yang ada di depannya pernah ia bully habis-habisan, pernah ia caci sampai ia puas dan pernah anggap remeh gadis ini. Rasa bersalah tiba-tiba muncul dari lubuk hatinya. Bagaimana ia bisa membully gadis secantik dan semanis ini? Jujur sekarang ia menyesal pernah mengatakan hal-hal yang buruk pada Hinata. Tega sekali dia memperlakukan Hinata seperti itu di group.
"Kalau kau bagaimana? Apa kau juga suka sepak bola?" tanya Hinata ramah. Naruto tak langsung menjawab, ia bingung harus menjawab apa. Jika ia jujur, berani dijamin pertemanannya dengan Hinata sampai disini. Ia tak mau itu terjadi.
"Tentu, aku suka sepak bola. Laki-laki tidak menyukai sepak bola bukan laki-laki namanya. Walaupun banyak juga yang tidak suka. Yang luar biasa, jika seorang perempuan menyukai bola. Mereka terlihat keren. Apalagi ada gadis cantik sepertimu yang menyukai bola," ucap Naruto. Entah kenapa kata-katanya sedikit menggombal tidak seperti biasanya.
"Hahahaha, kau ini ada-ada saja. Ngomong-ngomong, kau suka liga apa? Inggris, Perancis, Jerman, Spanyol?
"Ehhmm…. liga Spanyol," jawab Naruto bohong. Hinata manggut-manggut tanda ia paham dan mengerti apa yang dibicarakan Naruto.
"Kalau boleh tahu apa club favoritmu?" tanya gadis bermata indah itu. Pertanyaan seperti inilah yang paling ditakutkan Naruto dari mulut Hinata. Tidak mungkin kalau dia harus menjawab sejujurnya. Untunglah dari awal ia bilang suka liga Spanyol.
"Oh…club favoritku… Barcelona." Dan untuk kesekian kalinya Naruto berbohong pada Hinata.
"Kau tahu, kalau sebenarnya liga spanyol dan jerman itu membosankan?"
"Membosankan bagaimana?"
"Juara liga dari awal musim sudah bisa ditebak. Kalau tidak Real Madrid ya Barcelona atau Atletico Madrid. Yang masuk tiga besar di liga spanyol hanya itu-itu saja. Di liga Jerman juga begitu, juaranya pasti Bayern Munchen. Persaingan poin mereka tidak terlalu ketat. Coba lihat liga Inggris, sampai akhirpun kau pasti tidak akan tahu siapa yang akan jadi juara, karena perbedaan poin mereka terlalu tipis. Apa kau tahu, di tahun 2012, sampai pertandingan terakhirpun para fans BPL tidak bisa menebak siapa yang jadi juara. Apakah Manchester United atau Manchester City? Pertandingan mereka diadakan dijam yang sama dan hari yang sama. Pada akhirnya juara liga diraih Manchester City karena selisih gol. Mereka menang atas QPR 3-2 itupun dimenit-menit terakhir. Sedangkan Manchester United hanya menang dari Sunderland 1-0," jelas Hinata panjang lebar. Kalau sudah berbicara tentang sepak bola, Hinata seakan lupa dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya.
Naruto tampak takjub dengan pengetahuan bola Hinata yang begitu luaas. Ia tak menyangka seorang perempuan bisa sedalam itu memahami dunia para pria. Jika selama ini Naruto menganggap perempuan menyukai bola hanya karena para pemain yang tampan namun tidak untuk Hinata. Gadis ini menyukai bola bukan karena ketampanan para pemain Manchester United tapi keunggulan, sejarah, dan passion dari club yang memiliki julukan Red Devil itu.
"Wah, hebat sekali. Aku tak menyangka pengetahuanmu tentang bola bisa seluas ini. Benar-benar gadis anti-mainstream hehehe," goda Naruto. Hinata tertawa renyah mendengar pujian Naruto yang agak nyleneh itu. Naruto jadi penasaran apa tanggapan Hinata tentang Liverpool yang sebenarnya.
"Tapi menurutku Liverpool adalah club terbaik di Inggris," tanya Naruto yang berusaha memancing pendapat Hinata. Ia penasaran apakah gadis ini akan marah padanya atau menghina Liverpool secara blak-blakkan.
"Apa? Liverpool club terbaik Inggris?!" Hinata tak percaya Naruto mempunyai pandangan yang menyakitkan baginya. "Iya benar, dia club terbaik Inggris tapi itu sepuluh tahun yang lalu. Entahlah kenapa penampilan mereka semakin lama semakin buruk? Kasihan Steven Gerrad dari awal dia bergabung dengan club tapi tak pernah satupun ia mengangkat trophy BPL ahahaha," Hinata tertawa lepas. Mendengar ucapan Hinata yang begitu meremehkan club favoritnya, ingin rasanya ia menjambak rambut gadis ini tapi ia berusaha menahan emosinya.
"Hei, tapi Liverpool satu-satunya club Inggris yang mendapat gelar Badge Of Honor, jadi kau tak bisa memandang remeh mereka!" nada Naruto mulai meninggi.
"Dan Manchester United adalah satu-satunya club Inggris peraih Treble Winner," jawab Hinata enteng tanpa rasa bersalah.
"Liverpool juga meraih Treble Winner," bantah Naruto.
"Tapi bukan Treble Winner Benua. Liverpool hanya meraih Treble Winner domestik. Mereka hanya meraih piala FA, piala Liga dan piala UEFA. Walaupun piala UEFA juga antar benua tapi levelnya dibawah UCL jadi dianggap domestik. Sedangkan Manchester United, mereka meraih Liga utama Inggris, piala FA dan UCL. Coba buka saja di Wikipedia."
Hinata berjalan mendahului Naruto dengan perasaan bahagia. Sedangkan Naruto tampak uring-uringan. Ia bahkan mengepalkan tangan kanannya di atas kepala Hinata. Naruto berlagak ingin memukulnya walaupun sebenarnya tidak. Hinata tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang. Tanpa sengaja wajah keduanya berdekatan. Hidung mereka saling bersentuhan. Pria berambut pirang itu tampak kaget disertai shock.
"Hic… Hic…. ," Naruto tiba-tiba cegukan. Setiap kali ia terkejut karena sesuatu, pasti akan seperti ini.
Satu detik, dua detik, tiga detik, keduanya menyadari posisi mereka. Hinata dan Naruto saling menjauh, gadis bermata lavender itu kembali membalikkan badan dan meneruskan langkahnya.
"Tapi jujur, aku ingin Liverpool kembali berjaya seperti dulu, agar BPL semakin kompetitif. Sejujurnya banyak fans yang mengharapkan kebangkitan The Reds, agar bisa bersaing lagi dengan kami," ucap Hinata panjang lebar. Mendengar perkataan seperti itu dari Hinata. Amarah Naruto mulai mereda. Lagi-lagi gadis ini membuatnya takjub. "Oh, disana, kita sudah sampai ke kedai ramen Ichiraku," ucap Hinata sambil menunjuk-nunjuk kedai itu.
ooOOoo
Kedai ramen ini tak pernah sepi pembeli. Mulai dari pagi sampai malam, pengunjung selalu berdatangan. Kelezatan ramen ini sudah menyebar diseluruh di Jepang. Bahkan kedai ini memiliki ratusan cabang di seluruh kota Jepang. Tapi banyak orang yang mengatakan, diantara semua cabang hanya di kedai ini mie ramen yang paling enak. Sudah hampir sepuluh menit mereka berdua mengantri tapi pesanan mereka belum datang juga.
"Hic… Hic… ." Naruto tak bisa berhenti dari cegukannya. Semakin lama intensitas cegukan semakin sering.
"Kenapa cegukanmu tak berhenti?" tanya Hinata bingung. "Apa kau sudah minum air?" Naruto menggeleng. "Kalau begitu aku akan minta air."
"Tidak usah …. Hic … Hinata."
Namun sayang, ocehan Naruto tak dihiraukan Hinata. Gadis itu sudah berjalan jauh menuju meja kasir. Ia meminta sebotol air mineral kecil yang dijual terpisah dengan paket mie ramen. Usai membayar air mineral, Hinata kembali ke tempat duduknya. Ia melepaskan pengait plastik di botol mineral itu lalu kemudian memberikannya pada Naruto.
"Minumlah, mungkin cegukanmu bisa berhenti," perintah Hinata. Naruto melakukan semua hal yang dianjurkan Hinata. Ia meneguk sebotol kecil air mineral sampai habis.
"Hic… Hic… Hic… Hic… ." cegukan bukannya berhenti tapi semakin menjadi-jadi. Pemuda tampan itu memukul-mukul dadanya. Hah, kejadian ini benar-benar menyiksanya. "Sepertinya sama … Hic … saja."
Hinata kasihan melihat Naruto seperti ini. Kalau cegukan terlalu lama, efeknya dada akan terasa nyeri bahkan bisa menyebabkan sesak nafas. Ah, ia ingat cara menyembuhkan cegukan paling ampuh ala sepupunya Neji. Sakit memang tapi efeknya luar biasa. Dalam tiga detik cegukan akan hilang.
"Aku punya cara," ucap Hinata. Hinata berdiri dari tempat duduknya. Ia merenggangkan otot-otot dijarinya. Terdengar bunyi kretek disela-sela tulangnya.
"Hic… mau apa kau?" tanya Naruto sedikit ketakutan.
Hinata tak menjawab. Ia menghembuskan nafas pelan sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Hinata berpindah posisi, sekarang gadis cantik itu tepat di belakang Naruto. Ia menghirup udara secara perlahan, lalu menghembuskannya. Terus seperti itu selama tiga kali. Dihitungan ketiga, ia siap melakukan aksinya.
Breeeek
Kedua telapak tangan mulus Hinata mendarat kasar di punggung Naruto. Pria bermata safir itu menahan sakit yang luar biasa. Ingin sekali ia berteriak tapi tidak ditempat umum seperti ini. Otot lehernya menegang, wajahnya memerah serta mata indahnya berair karena rasa sakit yang ia rasakan. Hinata kembali ke tempat duduk dan melihat Naruto secara seksama,
"Satu… dua… tiga…. ," hitung Hinata. Tak ada tanda-tanda Naruto akan cegukan lagi. Hinata bersorak bahagia, cara konyol dari sepupunya ternyata berhasil ia lakukan. "Yes… hahaha, akhirnya kau tak cegukkan lagi."
"Benar, tapi caramu ini menyiksaku!" protes Naruto.
"Setidaknya kau bisa sembuh. Seharusnya kau berterima kasih padaku," sekarang Hinata yang memprotes balik tingkah Naruto yang tak tahu terima kasih.
"Iya, terima kasih!" ucap Naruto geregetan.
Ucapan terima kasih Naruto bersamaan dengan datangnya dua mangkuk besar mie ramen mereka. Air liur keduanya seakan mau tumpah karena menghirup aroma menggairahkan dari ramen pesanannya. Naruto dan Hinata segera menyeruput mie ramen mereka tanpa berdoa terlebih dahulu. Suara slurp, terdengar nyaring diantara mereka. Mereka berhenti berbicara ketika makan dan sibuk dengan urusan perut masing-masing. Kenikmatan Naruto terganggu ketika ia melihat segerombolan pemuda mengenakan jersey Liverpool. Parahnya lagi, Naruto mengenal mereka. Lima pemuda itu adalah anggota komunitas Kopites yang ia dirikan, yang berjumlah dua puluh orang.
"Uhuk… uhuk… uhuk… ."
Naruto tersedak kuah ramen, hidungnya terasa begitu perih dan sakit. Secepat kilat Naruto menyambar air minum yang ada di depannya. Bisa gawat jika Hinata tahu siapa dia sebenarnya. Tidak, lima teman komunitasnya itu tak boleh tahu jika ia ada disini. Naruto menutupi wajahnya dengan daftar menu mie ramen Ichiraku yang tergeletak di meja. Sesekali ia mengintip lima pemuda yang duduk tak jauh darinya.
"Naruto kau kenapa?" tanya Hinata bingung. Naruto tak menjawab, ia malah menutup bibir Hinata dengan jari telunjuknya.
"Hinata lebih baik kita segera pergi dari sini," usul Naruto yang semakin tak nyaman berada di kedai Ichiraku.
"Memang kenapa?"
"Sudah kau diam saja, ayo pergi. Ini uangnya, kau yang membayar dan aku menunggumu di luar," perintah Naruto. Gadis cantik itu menerima uang dengan ekspresi bingung, tak percaya dan terkesan polos. Terserahlah, apa yang dikatakan Naruto ia lakukan.
ooOOoo
"Sebenarnya kau tadi kenapa?" tanya Hinata berkali-kali tapi Naruto tak menjawab. "Apa yang sudah kau lakukan, sehingga membuatmu berlari ketakutan? Kau sudah melakukan tindak kriminal?"
"Hai, jaga bicaramu itu. Siapa yang melakukan tindak kriminal!" sanggah Naruto dengan nada tinggi.
Gemuruh petir tiba-tiba terdengar menggema diseluruh langit Tokyo. Sedetik kemudian hujan deras mulai turun mengguyur segala kehidupan yang ada. Mereka berdua berlari kecil menuju sebuah halte. Tak ada orang lain kecuali mereka. Hujan malam ini begitu deras disertai petir. Setiap ada kilat cahaya, pasti disusul suara petir yang menggelegar. Hinata segera menutup telinganya setiap kali ia melihat kilatan cahaya. Bahkan ia berteriak jika mendegar suara petir. Tubuhnya juga terasa begitu dingin. Benar-benar cuaca yang begitu buruk. Sebuah kilatan dahsyat menerangi kota Tokyo sejenak dengan cahaya kemerahan layaknya suasana di siang hari. Untuk kesekian kalinya Hinata menutup kupingnya sembari menutup mata karena ketakutan. Tiba-tiba, Hinata merasakan seseorang menari lengan tangan kanannya lalu kemudian memeluknya. Tak berhenti disitu, orang itu juga menutup kedua telinganya dengan tangannya. Perlahan Hinata membuka mata, ia melihat sebuah t-shirt putih polos di depan matanya. Ia mengalihkan pandangannya ke wajah seseorang yang bersifat gentleman seperti itu, Tubuhnya yang terasa dingin mendadak menjadi hangat karena dekapan erat Naruto.
"Apa kau sudah tidak takut lagi?" tanya Naruto lembut. Hinata hanya mengangguk malu. Pria berkulit tan itu tersenyum manis kepadanya. Pipi keduanya kembali memerah seperti sebelumnya. Hati mereka berbunga-bunga.
"Naruto!" panggil seorang pria yang berada tepat disampingnya secara tiba-tiba. Saat Naruto mengalihkan pandangannya ke sumber suara masih dengan posisi memeluk Hinata. Ia melihat sosok pria yang ia kenal. Pria bernama Gaara, yang menjadi salah satu anggota komunitas kopites yang ia dirikan.
'Ya Tuhan, aku sudah menghindar dari lima kopites yang lain tapi kenapa aku harus bertemu satu kopites lagi disini.'
TO BE CONTINUE
keterangan
stilah treble (tiga) digunakan di dalam sepak bola untuk menunjukkan sebuah tim yang berhasil mendapatkan tiga piala kejuaraan utama pada satu periode, biasanya satu musim (satu tahun pertandingan). Penghargaan yang dihitung biasanya terdiri dari kejuaraan internasional, kejuaraan benua, kejuaraan piala domestik, dan kejuaraan liga domestik utama. Piala yang diperebutkan dengan pertandingan tunggal atau dua pertandingan (mis. FA Community Shield dan Piala Super UEFA dan Piala Interkontinental) biasanya tidak diperhitungkan sebagai salah satu prasyarat treble.
Badge Of Honor : suatu penghargaan yang diberikan oleh UEFA kepada tim-tim yang berlaga di Liga Champion yang telah memenangkan kompetisi tersebut lima kali. Selain itu juga diberikan kepada tim yang berhasil memenangkan kompetisi elit ini secara tiga musim berturut-turut (hat-trick, seperti Ajax dan Munchen, Liverpool).
