Naruto © Masashi Kishimoto

.

Dulu hingar bingar lagu yang ia nyanyikan, dan permainan music yang mereka perlihatkan, sungguh mampu membuatnya tenggelam dalam euphoria, bahkan ia tidak akan pernah memperdulikan teriakan dari para wanita itu. Tapi sekarang, semua itu tidak lagi sepenuhnya membuat Madara senang. Hanya karena gadis iblis itu membuang muka. 'Ya, membuang muka', Madara mendecih dalam hati. Jelas-jelas pandangan mereka saling bertemu, dan seharusnya gadis itu menyadarinya. Tapi dengan lancang ia membuang muka dan menganggap kejadian tadi hanyalah angin lalu.

Hanya satu kesimpulan yang didapat Madara; gadis iblis itu tidak tertarik padanya.

Rahangnya mengeras, matanya menyipit. Egonya sebagai pria dewasa sungguh tersinggung. Diibaratkan seperti harga dirimu yang tinggi setinggi layangan yang membumbung, dianggapnya tidak lebih dari sebuah kain keset yang mampu di injak. Katakanlah ini berlebihan, tapi memang dalam kenyataannya Madara tak akan pernah menoleransi orang-orang yang telah melukai egonya. Meskipun dari keluarganya sendiri. Tatapan tajam Madara sengaja terfokus pada gadis itu, gadis yang kini tengah membelah kerumunan penonton, memilih keluar dari wilayahnya.

'Setidaknya ia menyadari kehadiranku', Madara membenarkan dalam hati.

"―And I want you now, I want you now…." Berkali-kali bibirnya mengucapkan lirik itu dengan pandangan yang tak beralih pada gadis yang kini hilang di telan kerumunan manusia itu.

.

The Uchihas © Saitou senichi

Part Madara : Burning Up

Warn! AU, rate T semi M

.

Jemarinya yang panjang memegang ujung gelas berisikan cairan kuning lembut dengan batu es. Menggoyangkan benda itu perlahan agar teraduk. Madara tengah duduk santai di sofa ujung ruangan khusus untuk bintang tamu, tidak lupa wanita penggoda bersurai jingga tengah duduk di pangkuan dengan jari terampil mengusap dada bidangnya. Jika ada yang bertanya apakah Ia bereaksi? Tentu saja! Well ia seratus persen pria dewasa lajang yang memukau, tentu kelebihan ini tidak akan disia-siakan begitu saja. Terlebih bisikan-bisikan manja yang keluar dari bibir tipis wanita itu.

"Minggir-minggir!" Naori mengusir wanita yang tengah duduk di pangkuan Madara dengan kasar.

Tidak terima dengan perlakuan Naori, wanita itu hendak mengeluh. Namun lidahnya kelu ketika melihat tatapan acuh Madara yang terang-terangan terlihat tak peduli. Tanpa berkata apapun ia segera hengkang dari ruangan itu. Bersimpangan dengan Izuna yang baru saja melangkahkan kaki kedalam ruang khusus itu.

"Wow," pandangan Izuna masih mengikuti gerakan wanita itu, lalu menoleh pada kedua saudara kandungnya, "kenapa keluar dengan cepat?"

"Wanita murahan tak pantas dengan Uchiha," tandas Naori sembari memainkan ponsel silvernya.

"Kalau kau begitu terus, kakak kita akan menjadi bujangan selamanya―minggir!" Izuna mendepak bahu Naori yang menempel Madara.

"Apa aku tak menarik?"

"Hah?" Baik Izuna dan Naori saling berpandangan satu sama lain.

"Kakak ini bicara apa?" Tanya Izuna yang lebih dulu terlepas dari kebingungannya.

"…"

"…"

"…"

Tak perlu menunggu kiamat datang untuk melihat raut wajah Madara yang sungguh-sungguh—innocent, di hari ini pun mereka berdua sudah melihat raut wajah kakaknya yang seperti itu. Mata mereka berdua membulat sepenuhnya, bahkan mulut Izuna menganga dengan tidak elitnya. Apa yang sebenarnya membuat sang kakak yang memiliki kepercayaan diri setara Adam Levine mampu bertanya tentang penampilannya yang sebenarnya tidak usah diragukan. Buka saja bajumu lalu tunjukan kemampuan musikmu di atas panggung, hanya perlu melakukan itu, mungkin para wanita akan menggila.

"Ughh… Well," Izuna hanya mampu bergumam sembari menggaruk ujung alisnya, "mungkin… Gaya kakak sudah seperti SlanderMan."

Sebelah alis Madara berkedut. Naori tertawa.

"Kurasa, pembagian honor manggung harus diatur ulang," Madara berkata itu dengan nada datar namun penuh pesan tersimpan disana yang membuat Izuna bergidik ngeri.

"Mungkin gaya rambut kakak membuat beberapa gadis ketakutan," jari-jari ramping Naori menyusuri rambut liar Madara.

"Harus 'kah dipotong?"

"Kurasa itu bukan hal yang buruk," timpal Izuna pun sedang menggenggam kunciran rambutnya yang panjang.

.

.

'Pandanganku serasa lebih jelas.'

Beberapa kali Madara bergumam disela memeriksa dokumen penting yang di berikan Fuu sang sekertarisnya. Sungguh potongan rambut baru—sebenarnya potongan rambut sewaktu remajanya, mampu membawa dampak besar. Bukan hanya pandangan matanya yang lebih jelas karena sebelah matanya yang biasa tertutupi rambut kini mulai dihilangkan, akan tetapi seluruh wajahnya bisa terlihat dengan jelas oleh orang lain.

Ah iya, kalian pun harus tahu beberapa reaksi pegawai Susanoo Corp, ketika melihat sang Direktur turun dari mobil dengan model rambut pendeknya. Ada yang menyipit aneh, ada pula yang memasang pandangan; Oh-Man-dia-terlihat-lebih-muda, atau siapa-dia, bahkan Boss-apakah-kau-mau-menjadi-One-Night-Standku, untuk tatapan yang terakhir itu mampu ditoleransi bila seorang wanita yang menginginkannya, tapi bahkan beberapa pria pun, memandang dengan cara seperti itu.

"Pak, sudah waktunya istirahat."

"Hm."

Untuk kali ini, rasanya ia butuh jalan-jalan keluar, pekerjaan hari ini sungguh membuatnya penat. Menanggalkan jas dan dasinya, ia segera keluar ruangan. Pakaian kantoran memang sebenarnya tidak cocok untuknya, tapi apa mau dikata. Madara memilih membuka beberapa kancing kemeja teratasnya saat lift menuju ke lantai dasar.

Ia akan berjalan-jalan sebentar di pinggiran toko-toko itu, mungkin dengan begitu ia mampu menulis lirik lagu baru. Tenggelam dengan dunia musik hingga mampu melupakan gadis iblis i―. suara dentingan pintu lift membuatnya tersadar dari pikirannya.

Mata hitamnya terpaku pada sosok lembut itu. Gadis itu yang akhir-akhir ini membuat dirinya bercermin, membuat dia menanyakan hal tabu bagi seorang Madara.

Mata unik gadis iblis itu beberapa kali menatapnya dengan pandangan hati-hati. Apakah ia masih mengenal Madara? Benaknya melayang jauh. Ketika pintu lift tertutup, mereka berdua di telan keheningan. Gadis sialan itu berada di sampingnya, dan seharusnya ia mampu membuatnya tertarik, tapi yang lebih terpenting dari semua itu, kenapa ia berada disini? Berada di lift khusus pejabat Susanoo Corp?

Tidak itu tidak penting.

Pertanyaan aneh yang seharusnya ia ketahui adalah; kenapa tubuhnya menjadi kaku begini?

'I really need to know, why you make me shudder?'

Sialan!

Bahkan ketika pintu terbuka dan gadis itu pergi. Madara tetap terdiam di tempat dengan wajah datar, namun pandangan tak berhenti memandang punggung bahkan pinggul gadis itu bergerak dan menghilang disana. Madara mendengus sembari menyeringai ironis, sebelah telapak tangan kanannya menutup wajah bagian atasnya. Lihat pertemuan tidak terduga ini benar-benar membuatnya terpuruk sekaligus panas di daerah sana. Dia kalah bahkan sebelum bertarung, dia kalah 1-0 dengan pesona gadis itu. Tapi ada satu hal yang akhirnya ia ingat―dan bahkan karena alasan ini ia merasa idiot―warna mata gadis itu ternyata benar-benar mirip dengan Hiashi Hyuuga. Atau ia memang salah satu dari keluarga Hyuuga.

Madara berjalan keluar lift dengan perasaan yang tak mampu terdefinisikan.

Bahkan beberapa karyawan melihat postur tubuh Madara yang tak biasa― lengan kiri yang dimasukan kedalam saku celana, telapak tangan kanan yang ditarik ke atas―ke arah surai hitam liarnya dan diam diatas sana, seakan mencoba menghalau beberapa helaian rambut yang menutupi pandangannya yang lurus menuju pintu keluar. Seringai menakutkan seperti seorang syco terpampang disana.

"Aku rasa direktur kita mirip seperti Yuuki Terumi di BlazBlue…" bisik ngeri salah satu dari mereka.

Tidak tahukah mereka. Madara lebih licik dari salah satu karakter itu. Ia akan bertindak licik untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya.

Dia… gadis iblis itu, adalah kelemahannya..

.

.

A/n : haah, banyak kekurangan. Terimakasih banyak untuk review dan fav.

Part ini aku kerjakan sembari denger "Stutter" dari Maroon 5. Dan mungkin beberapa ada yang kecewa dengan Madara dengan rambut pendek (lihat anime/manga Naruto waktu episode Hashirama & Madara sewaktu kecil, rambutnya pendek seperti gitu)

Permohonan maaf untuk Okami child yang membuat dia ber-kolaborasi dengan Author 'semaunya' seperti saya. Tengok pada akunnya, setelah ini.