Chapter 2
"Cozart kemana?"
Pagi yang mendung itu Giotto mendapati orang yang dikasihinya tidak ada di manapun di rumahnya. Calandra menengok ke arah tuan mudanya. Meninggalkan pekerjaannya di dapur sesaat.
"Tadi pagi dokter menerima telegram dari rekan kerjanya. Dokter bilang dia pergi sebentar untuk menemui rekan kerjanya itu. Karena Tuan muda belum bangun, dokter menitip izinnya pada saya."
"Di mana mereka bertemu?"
"Dokter tidak memberitahu saya. Tapi sepertinya di Lateeya's."
Lateeya's adalah usaha rumah makan kecil dari keluarga Barocci. Memang di desa ini satu-satunya tempat bercengkrama yang enak hanya di sana.
"Begitu…"
Giotto tidak mempersoalkan ke mana dan dengan siapa Cozart pergi kalau sudah urusan pekerjaan. Tapi tetap ada perasaan sedih karena ditinggalkan. Namun Giotto tidak menanam perasaan itu dalam-dalam.
Giotto membalikkan badannya dan berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Langkahnya terhenti di depan pintu kamarnya. Giotto menoleh ke lorong kamar Cozart. Tanpa disadarinya, kakinya telah melangkah ke sana. Giotto berhenti tepat di depan pintu kayu kamar Cozart. Jantungnya berdebar kencang. Rasanya kalau dia masuk, seperti menembus batas privasi orang lain. Tapi Giotto ingin masuk ke dalam. Pintu kamar Cozart berderit ketika Giotto membukanya.
Kamar Cozart. Ruangan yang penuh dengan bau tubuh Cozart dan aroma obat-obatan. Giotto menghirup udara di ruangan itu dalam-dalam. Di kunjungan keduanya ini Giotto lebih memerhatikan interior ruangan dan barang-barang Cozart yang tergeletak di atas meja dan tempat-tempat lain. Rapih. Semuanya tertata. Memang dokter itu seorang yang menyukai kebersihan.
Giotto terduduk di atas ranjang Cozart. Jemarinya menelusuri seprai putih yang menutupi ranjang. Tanpa disadarinya, Giotto sudah membaringkan tubuhnya di sana. Mencium dalam-dalam aroma tubuh Cozart yang tertinggal di bantal dan seprai.
Tiba-tiba saja Giotto berpikir. Dia belum pernah melihat Cozart tertidur. Kalau melihat sikap Cozart sehari-hari, rasanya dia tipe orang yang tidurnya berantakan. Atau mungkin mendengkur. Giotto tersenyum membayangkan Cozart yang tertidur berantakan. Tapi mungkinkah seorang dokter bisa tidur seperti itu? Sepertinya tidak mungkin.
Giotto berpikir semakin jauh. Hingga ke keluarga Cozart. Pekerjaan Cozart di Palermo dulu. Macam-macam. Dia tidak sadar ketika hujan mulai turun. Otaknya sibuk dengan hal-hal yang menyangkut Cozart. Dia juga tidak sadar kapan dia jatuh tertidur.
Rintik hujan di jendela kamar Cozart seakan terdengar seperti lagu nina bobo di telinga Giotto.
-000-
Hidung Giotto mencium wangi cokelat. Matanya yang penasaran dengan aroma tersebut perlahan terbuka dan hal pertama yang dilihatnya adalah sepasang bola mata coklat yang besar milik Cozart. Giotto terkejut, matanya membelalak.
Cozart tersenyum melihat Giotto.
"Sudah bangun? Mau minum cokelat panas?"
Giotto mengangguk. Masih syok karena hal tadi. Giotto melihat ke arah jendela. Di luar masih hujan. Menjelaskan rambut dan bahu kemeja Cozart yang sedikit basah.
"Kamu tidak mengganti bajumu?"
"Tidak. Tidak terlalu basah, sebentar juga kering."
Cozart mengulurkannya segelas cokelat panas. Giotto menerimanya dan mulai menyeruput minuman manis itu.
Giotto yang penasaran membuka percakapan, "Tadi kamu bertemu siapa?"
Cozart membuang napas pendek sebelum menjawab pertanyaan Giotto, "Aku menemui pedagang obat kenalanku dari Palermo. Dia orang Jepang, namanya Ugetsu Asari. Di Jepang beredar obat-obatan manjur dari Tiongkok, jadi kupikir aku bisa menemukan obat untuk jantungmu darinya."
Giotto mengamati gerak-gerik Cozart. Dokter muda itu terduduk di kursi seberang ranjangnya dengan kepala tertunduk.
"Tapi ternyata tidak ada."
Cozart langsung terdiam. Suasana di ruangan itu hening. Giotto memerhatikannya. Cozart terlihat begitu depresi dan kecewa pada dirinya sendiri. Giotto berdiri dari ranjang Cozart. Dia meletakkan gelasnya di atas meja kemudian duduk di lantai tepat di depan dokternya. Giotto meraih tangan Cozart dan meletakkannya di atas dada Giotto.
Cozart bisa merasakan detak jantung Giotto. Stabil. Jantung yang terdengar sehat.
"Aku ada di sini." Bibir Giotto bergetar seraya mengucapkan kalimat tersebut. Giotto tidak tahu sesungguhnya harus berkata apa untuk meyakinkan Cozart bahwa Giotto saat ini baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dicemaskan oleh Cozart. Cozart menatap mata Giotto sungguh-sungguh. Dia segera turun dari kursinya dan memeluk Giotto dengan erat.
Tidak ingin melepasnya. Hanya itu yang dipikirkan cozart ketika mereka berpelukan.
Giotto bisa merasakan jemari Cozart yang semakin erat mendekatkan dirinya sendiri dengan Cozart. Rasanya entah mengapa begitu menyedihkan. Padahal mereka ada sedekat itu. Di antara lengan satu sama lain. Tapi rasanya sangat memilukan. Giotto meraih punggung Cozart. Mengeratkan pelukan mereka. Rupanya dia sendiri tidak mau melepas Cozart. Untuk satu detik pun.
Cozart menghujani Giotto dengan ciuman di rambut, kening, mata dan pipinya. Rupanya bukan hanya pelukan yang hangat, tapi ciuman Cozart juga sama hangatnya. Giotto membenamkan kepalanya di dada Cozart. Terdengar denyut jantung Cozart dari balik kemejanya. Denyutan yang perlahan dan berirama itu begitu menenangkan. Giotto menutup matanya. Melepas semua kerisauannya. Apa lagi pikiran buruk yang harus dimilikinya ketika sekarang dia telah bersama Cozart?
Cozart meraih dagu Giotto dan mendekatkan wajahnya ke pemuda itu. Cozart menyatukan keduanya dengan sebuah ciuman di atas bibir merah Giotto. Ciuman kedua mereka.
Bibir Giotto terasa manis. Mungkin karena cokelat yang diminumnya. Hal itu mendorong Cozart untuk membuka mulutnya sendiri dan mulai menjilat bibir Giotto. Giotto tidak terkejut. Dia sedikit menduga hal ini akan terjadi. Dan dia sendiri tidak keberatan. Giotto juga menginginkannya. Giotto ingin mereka lebih dekat dari hari kemarin.
Giotto mulai membuka mulutnya. Lidah Cozart memasuki rongga mulut Giotto bersamaan dengan sedikit udara. Lidah Cozart menelusuri isi mulut Giotto. Mencicipi segala rasa yang tertinggal di sana. Begitu manis. Begitu membuatnya ketagihan dan terasa tidak akan pernah terpuaskan.
Giotto menerima semua perlakuan Cozart. Tidak melawan Cozart mendominasi atas dirinya. Giotto membiarkan semuanya mengalir di atas kehendak Cozart. Menerima segalanya dari Cozart.
Giotto tidak peduli ketika dadanya mulai terasa sesak karena kekurangan oksigen. Giotto tidak peduli ketika jantungnya mulai terasa sakit karena dia mulai terdorong nafsu. Biarlah sakit ini tinggal. Karena dengan ini dia lebih merasa hidup.
Ciuman itu membuatnya memahami rasa Cozart. Ya. Seperti itulah rasa seorang Cozart. Begitu lembut. Begitu manis. Seakan melelehkan seluruh tubuh Giotto. Giotto begitu terbuai dalam ciuman itu.
Ketika otak dan paru-paru mereka telah kelaparan oksigen, barulah Cozart melepaskan ciuman mereka. Segaris saliva masih menghubungkan bibir keduanya. Cozart tersenyum dan mengecup bibir Giotto untuk menghilangkan bekas itu. Giotto juga tersenyum pada Cozart. Keduanya saling tersipu. Namun mereka bahagia.
Cozart kembali memeluk Giotto. Mendaratkan kecupan di kening Giotto sambil mengusap rambut pirangnya. Giotto tersenyum kemudian mengangkat kepalanya hingga bertemu mata dengan Cozart. Lalu pemuda itu mengecup pipi Cozart.
Sayang.
Giotto begitu menyayangi Cozart.
Cozart begitu menyayangi Giotto.
Seandainya hal ini bisa berlalu selamanya.
-000-
Cozart semakin menghargai waktunya bersama Giotto. Tidak ada satu hari pun dilaluinya dengan membuang-buang waktu. Ketika dia ada pekerjaan atau surat-surat dan telegram berdatangan, Cozart segera menyelesaikannya. Ketika dia harus memeriksa Giotto, dia akan segera memeriksanya. Sisa hari itu dihabiskannya dengan mengajak Giotto melakukan berbagai aktivitas.
Cozart biasanya mengajak Giotto mengelilingi desa. Giotto cukup terkesan ketika menyadari Cozart ternyata sudah banyak mengenal penduduk di desa Mangano. Memang seorang dokter itu cepat akrab dengan orang lain. Giotto tersenyum melihat Cozart yang dikenal banyak anak kecil.
Cozart juga sesekali membawa bekal dan beberapa buku untuk mereka ketika beristirahat di pinggir danau. Giotto akan berbaring di atas pangkuan Cozart sambil menikmati terpaan angin yang lembut. Keduanya akan mulai membicarakan hal-hal apa saja yang terlintas di kepala mereka. Kadang keduanya akan tertawa dalam waktu yang begitu lama sampai terbatuk-batuk. Kadang topiknya juga sedih sehingga keduanya merasa terpuruk. Tapi Cozart akan segera memperbaiki suasana. Bukan Cozart namanya kalau tidak bisa mengubah suasana buruk jadi menyenangkan.
Cozart juga membawa Giotto ke padang lavender. Keduanya berlari-lari kecil di sana. Pernah anak anjing dari keluarga Calari mengejar keduanya. Giotto dan Cozart tidak tahu ada turunan yang landai di padang lavender itu. Keduanya terpeleset dan jatuh berguling. Ketika mereka sudah sampai di tanah yang rata, Giotto ternyata menindih Cozart. Keduanya tertawa keras menyadari kebodohan mereka. Cozart mengusap kepala Giotto, membuat rambut Giotto berantakan. Kemudian Cozart akan membaringkan badannya di atas tanah. Menikmati aroma lavender dan langit biru yang luas di atasnya. Giotto akan mengikutinya. Membaringkan kepalanya di dada Cozart. Mereka saling bergandengan tangan. Jemari mereka mengikat satu sama lain. Cozart akan memeluk Giotto dan mencium keningnya. Sementara Giotto membalasnya dengan kecupan di pipi.
Ketika hari hujan, mereka akan diam di rumah. Terkadang Cozart akan memainkan piano kecil di ruang tamu bersama dengan Giotto. Calandra yang memiliki suara emas akan bernyanyi untuk mereka. Cozart dan Giotto begitu terpesona melihat senyum Calandra ketika wanita itu dipuji memiliki suara yang begitu indah.
Melihat kedekatan tuan mudanya dan Cozart, Calandra tahu mereka telah menjalin hubungan yang lebih dari sekedar dokter dan pasien. Tapi Calandra tidak berkomentar apapun. Meskipun dia tahu itu hal yang salah, tapi apa yang harus diucapkannya ketika dia melihat tuan mudanya begitu bahagia dan terus tersenyum dengan Cozart di sampingnya? Calandra hanya mengutamakan kebahagiaan tuan mudanya. Kalau tuan mudanya merasa bahagia dan tercukupkan, bagi Calandra itu sudah cukup.
-000-
Ternyata tidak cukup bagi Cozart dan Giotto kalau mereka hanya saling bertemu di siang hari. Malam hari pun mulai mereka habiskan di kamar satu sama lain. Lebih sering Cozart ke kamar Giotto. Entah dengan alasan pemeriksaan malam, mengingatkan Giotto untuk minum obat atau hanya sekedar ingin mengobrol dengan Giotto, atau karena ingin melihat wajah Giotto sebelum tidur.
Giotto mengizinkannya.
Cozart akan menarik kursi dan duduk tepat di sebelah ranjang Giotto. Mereka saling bercerita sampai Giotto terlelap. Cozart akan menarik selimut hingga menutupi leher Giotto barulah setelah itu dia akan kembali ke kamarnya.
Tapi hal itu hanya berlanjut untuk satu-dua hari saja. Karena hari ketiga dan hari seterusnya Giotto meminta Cozart untuk tidur bersamanya.
Cozart tidak menduga Giotto memintanya melakukan hal seperti itu. Tapi Cozart menyanggupinya. Mulai saat itu tidak lagi terasa dingin di ranjang. Karena begitu merentangkan tangan, Giotto dan Cozart bisa menemukan satu sama lain dalam gapaiannya. Giotto tersenyum sebelum tidur lebih dulu daripada Cozart. Cozart akan mengamati Giotto semalaman. Merasa waktu di antara mereka masih tidak begitu cukup. Rasanya tidak ingin Cozart menutup matanya karena dia tidak bisa melihat Giotto kalau seperti itu. Mungkin dia bisa menemui Giotto dalam mimpi. Tapi mimpi bukanlah kenyataan. Dan Cozart tidak mau merindukan Giotto yang hanya dalam mimpi. Mimpi hanyalah ilusi semata. Cozart menginginkan yang nyata dan berwujud.
Terkadang ketika Cozart terlalu serius memikirkan hubungannya dengan Giotto di malam hari, dia akan meneteskan air mata. Menangis tanpa suara agar tidak membangunkan orang yang dikasihinya.
Tidak mau.
Cozart tidak mau berpisah.
Mengapa hal ini terasa begitu menyedihkan meskipun Giotto ada dalam pelukannya? Cozart tidak mengerti.
Tidak pernah mendapatkan jawaban untuk hal itu bahkan setelah lewat beberapa tahun.
-000-
Hari-hari mereka kini terhitung.
Frustrasi Cozart melihat kalender dan tanggal yang dilingkarinya dengan penanya. Seratus hari itu semakin mendekat dan kini tinggal tersisa dua minggu untuknya dan Giotto. Semakin dalam perasaan mereka pada satu sama lain, namun waktu bagi Giotto semakin menipis. Hari demi hari jantung Giotto melemah. Terlihat dari gerakan Giotto yang mulai terbatas dan butuh istirahat lebih banyak.
Begitu tersiksa Cozart melihat senyuman Giotto yang semakin lemah. Dia ingin menangis menyerukan kekesalannya. Tapi dia tidak bisa. Justru dia harus lebih kuat daripada Giotto disaat-saat seperti ini.
Seratus hari yang mereka lalui bersama terasa begitu singkat. Detik-detik yang bergulir mendekati jangka waktu itu terdengar semakin kencang. Padahal apalah artinya seratus hari ini? Perasaannya tidak mengenal jangka waktu.
Cinta. Cozart begitu mencintai Giotto. Meskipun tidak ada di antara mereka yang pernah mengucapkan satu kata itu pada satu sama lain, tapi mereka mengerti.
Cinta di antara mereka bukanlah cinta yang bergelora. Namun cinta sederhana yang begitu hangat dan mencukupkan keduanya. Cinta di antara mereka ada dalam tatapan yang mereka berikan pada satu sama lain. Ada dalam nada suara mereka ketika memanggil nama satu sama lain. Ada dalam jemari mereka yang saling terikat. Ada dalam pelukan hangat yang mereka bagikan pada satu sama lain.
Cinta itu ada dalam keheningan mereka. Dalam sentuhan yang menenangkan dan dalam senyuman yang mudah terbentuk.
Cinta itu juga alasan ketika Cozart menarik Giotto ke dalam pelukannya. Atau ketika Giotto yang lebih dulu memeluknya erat-erat. Dan bahkan mencium Cozart lebih dulu untuk pertama kalinya.
Ciuman yang diberikan Giotto untuk pertama kali meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi Cozart. Ciuman itu begitu kaku, namun Giotto berusaha keras mencoba melakukan hal yang sama seperti yang sudah pernah dilakukan Cozart kepadanya ketika mereka berciuman. Giotto terkesan hingga begitu putus asa ketika mencium Cozart. Seakan dia begitu ingin masuk ke dalam diri Cozart dan tinggal menetap di sana. Cozart tertawa di antara bibir mereka.
Giotto akhirnya melepaskan icuman mereka. Cozart tersenyum dan memanggil namanya, "Giotto?"
"Mm." Giotto juga tersenyum pada Cozart. Baru kali ini Cozart merasa tatapan Giotto begitu dalam, begitu menenangkan hatinya.
"Cozart-ku begitu tampan." Gioto tersenyum seraya mengucapkan kalimat tersebut.
Cozart mendekatkan wajahnya ke Giotto. Menempelkan hidung mereka dan menggosokkannya perlahan. Dia berbisik, "Giotto-ku yang indah."
Momen ini.
Cozart berharap satu momen ini adalah momen yang abadi.
-000-
Memasuki minggu terakhir, Giotto mulai kesulitan untuk beranjak dari ranjangnya. Cozart semakin khawatir. Keningnya semakin sering berkerut. Tidak ada satu detik pun dia lalui dengan menghilang dari samping Giotto. Tangan Cozart selalu menggenggam tangan Giotto. Dan Cozart menganggap senyuman Giotto di minggu itu adalah senyuman yang paling indah. Ciuman di antara mereka minggu itu juga yang paling manis dari sebelumnya.
Tidak pernah Cozart berniat melepaskan Giotto. Tidak di saat seperti ini. Dan tidak untuk ke depannya.
Cozart berjanji pada dirinya sendiri ketika dia memberikan obat untuk Giotto. Dia akan membawa Giotto ke kampung halamannya untuk melihat seperti apa tempat Cozart dibesarkan. Giotto tidak pernah menanyakan hal itu padanya. Tapi Cozart ingin menunjukkannya pada Giotto. Kalau dia sembuh. Kalau dia sudah sehat kembali. Karena hati kecilnya masih berharap dia bisa menemui Giotto di hari ke-101.
Tapi hal itu tidak akan pernah terjadi.
Waktu yang kejam tidak pernah berhenti.
Hari keseratus mereka adalah hari yang tidak akan pernah dilupakan Cozart. Cozart terpaksa keluar kamar Giotto untuk mereima surat yang bahkan tidak ada nama pengirimnya. Surat itu tidak dibaca Cozart. Cozart tidak memedulikannya lagi. Dia segera menuju kamar Giotto karena merasa sudah membuang-buang waktu.
Ketika dia membuka pintu kamar Giotto, Cozart mendengar rintihan panggilan namanya dari mulut Giotto. Cozart segera duduk di samping Giotto. Mengamati kekasihnya dengan mimik yang begitu khawatir.
"Cozart…"
Telinga Cozart seperti tersayat mendengar suara Giotto yang begitu pelan.
Cozart menyentuh tangan Giotto. Betapa terkejutnya dia ketika merasakan tangan itu begitu dingin. Tubuh Giotto begitu dingin. Cozart menggenggam Giotto dengan kedua tangannya setelah itu.
"Aku di sini, Giotto."
Giotto merintih kembali. Matanya terpejam, tapi wajahnya terlihat begitu sengsara. Giotto terlihat begitu kesakitan.
"Kenapa? Di mananya yang sakit?" suara Cozart bergetar. Mati-matian dia menyembunyikan itu dari Giotto.
"Seluruh tubuhku sakit…"
Cozart tidak tahu harus melakukan apa. Dia tahu obat apapun tidak akan mempan lagi. Dari awal memang tidak pernah mempan. Cozart menyentuh bibir Giotto. Begitu dingin dan pucat. Dia merasakan sesuatu mulai terdorong keluar dari matanya.
"Apakah ini waktunya?" Giotto tidak bisa menutupi suaranya yang mulai pecah. "Tidak… aku belum… waktu di antara kita masih terlalu sedikit…"
Meskipun matanya tertutup, namun air mata itu menetes juga dari sudut mata Giotto. Pandangan Cozart sendiri mulai kabur karena air matanya.
"Jangan, Giotto. Jangan kaulawan apa yang sedang terjadi ini… bisa berakibat semakin buruk." Cozart mencium punggung tangan Giotto yang dingin, berusaha menghindarkan tetesan air matanya di tubuh Giotto. Dia tidak mau semua ini terasa begitu susah dan berat bagi Giotto dari yang sudah.
"Cozart…"
Giotto kembali memanggilnya dalam nada yang begitu lemah. Giotto berusaha membuka matanya perlahan. Mereka saling bertatapan.
"Maafkan aku… aku tidak bisa menemanimu lebih lama lagi…"
"Jangan, jangan berkata seperti itu."
"Aku berterimakasih karena kamu sudah ada bersamaku selama seratus hari ini…"
Giotto tersenyum pada Cozart, "Aku bahagia bersamamu Cozart… tangisanku ini adalah tangis bahagia. Kamulah… satu-satunya yang membuatku merasa begitu dicintai… terima kasih."
"Jangan pernah lupakan aku, Cozart… kamu boleh mencintai orang lain selain aku, tapi—"
"Tidak akan pernah." Cozart memotong kalimat Giotto. Tidak mungkin dia bisa mencintai orang lain selain Giotto. Tidak akan pernah. Cozart menarik napas dalam-dalam. "Jangan khawatir, Giotto. Kamu… aku tidak akan pernah sekalipun melupakanmu."
Giotto kembali tersenyum lemah. Dia berusaha memeluk Cozart namun gerakannya begitu tidak bertenaga. Cozart semakin tidak bisa menahan tangisnya untuk keluar melihat usaha Giotto yang sia-sia. Cozart mendekatkan dirinya ke tubuh Giotto yang terbaring. Cozart memeluknya erat.
"Aku mencintaimu."
Giotto berbisik di telinga Cozart. Tangisannya terus menetes. "Aku mencintaimu, Cozart."
Napas Giotto yang semakin terputus-putus mendorong Cozart untuk mengutarakan perasaannya.
"Aku juga mencintaimu."
Cozart mengelus pipi Giotto yang dingin dengan telapak tangannya. Dia membungkuk untuk mencium Giotto terakhir kalinya. Meski air matanya terus menetes, Cozart tersenyum melihat Giotto ketika itu.
"Aku sangat mencintaimu, Giotto."
Giotto berusaha tersenyum pada Cozart. Hangat. Semua terasa begitu hangat. Bahkan air mata Cozart yang menetes di bibirnya pun hangat. Air mata itu memasuki celah bibir Giotto. Perlahan Giotto memejamkan matanya.
Melihat Giotto memejamkan matanya entah mengapa sesuatu dalam Cozart bergerak. Seperti sesuatu menghantamnya begitu keras. Dia terus memanggil nama Giotto. Berusaha mengeraskan dan memperjelas suaranya. Tapi Giotto tidak kunjung menjawabnya.
Kemudian Cozart tersadar.
Ketika Giotto tidak lagi bergerak.
Ketika mata Giotto tertutup sepenuhnya.
Selesai sudah.
Giotto telah pergi.
Untuk selamanya.
Kenangan mereka selama seratus hari berputar dalam benak Cozart. Hari-hari di mana keduanya masih menjalani hubungan sebagai dokter dan pasien yang kemudian kian berkembang semakin dalam. Hari ketika Cozart melihat senyuman Giotto pertama kalinya. Ketika Giotto memanggil namanya. Ketika mereka bergandengan tangan/ ketika mereka tidur bersama. Semuanya terputar kembali dalam otak Cozart.
Cozart tidak bisa lagi melihat senyuman Giotto.
Tidak bisa lagi mendengar suara Giotto.
Tidak bisa lagi merasakan lembutnya sentuhan tangan Giotto.
Tidak bisa lagi mendalami kehangatan pelukan Giotto.
Tidak bisa lagi mencium Giotto.
Jemari Cozart menggenggam erat pakaian Giotto. Cozart tertunduk. Keningnya berkerut. Bahunya bergetar. Perlahan mulutnya mulai mengeluarkan isakan.
Giotto telah pergi.
Kini Cozart mengerti bagaimana rasanya kehilangan seorang pasien. Bahkan pasien itu lebih dari sekedar pasien biasa. Kesedihannya begitu kuat. Keberadaannya sangat lekat.
Dan tidak ada apapun yang mampu menggantikannya.
Tidak akan bisa lagi Cozart mencintai orang lain seperti dia mencintai Giotto.
-000-
Beberapa hari berlalu dan masa kerja Cozart di desa Mangano telah selesai. Dia bersiap-siap untuk kembali ke Palermo dini hari. Calandra mengantar kepergiannya hingga di depan pagar desa.
Calandra memeluk Cozart sebagai salam. Cozart membalas pelukan itu. Calandra mengatakan bahwa dia akan kembali ke rumah utama di Palermo ketika rumah di desa ini telah selesai dibenahinya. Cozart menjawabnya dengan anggukan kecil.
Ketika kereta kuda pesanan Cozart tiba, Cozart memberikan salam terakhir pada Calandra. Sesaat sebelum Cozart menaiki kereta kuda itu, Calandra mengulurkan sesuatu padanya.
"Tertinggal di meja ruang tamu. Ini milik Dokter."
Cozart melihatnya sesaat. Sebuah surat. Cozart menerimanya dan mengucapkan terima kasih pada Calandra. Kemudian dia melambaikan tangannya pada wanita itu. Wanita itu tersenyum pedih sambil membalas lambaian tangan Cozart.
Cozart mengamati wanita itu hingga akhirnya kabut menutupi pandangannya. Di atas kereta kuda itu Cozart mengamati sekelilingnya. Masih sepi dan gelap. Dini hari yang begitu dingin. Perhatiannya teralihkan ke sepucuk surat dalam genggamannya. Itu surat yang tidak dibacanya karena tidak ada nama pengirimnya.
Cozart membuka sampulnya dan mulai membaca isinya. Tulisan tangan Giotto.
.
.
.
.
.
'Cozart, aku akan segera pergi. Terima kasih karena kamu telah ada bersamaku dan telah mencintaiku selama ini. Cintamu telah memberikanku kasih yang begitu besar yang boleh kuterima. Ini pertama kalinya aku merasa seperti ini. Ingat, aku sangat mencintaimu. Jangan menangis atas kepergianku. Berjanji padaku kamu akan menjalani hari-harimu dengan tawa seperti biasanya, ya? Karena aku sangat menyukai ekspresimu ketika tertawa. Aku menyukai matamu yang ikut tersenyum seperti bulan sabit itu. Aku berterima kasih karena sudah boleh menjadi orang yang kamu cintai. Aku mencintaimu, kekasihku.'
.
A/N: A Hundred Days selesai sampai di sini. Ehm, pertama-tama, aku ingin menegaskan satu hal pada kalian. Mulai dari bagian tengah hingga akhir cerita, aku berikan kredit untuk Leadernim dalam fanfic 'Absolute Chanyeol'. Tulisannya di fanfic itu begitu indah dan tanpa sadar, rasanya aku menulisnya jadi seperti itu. Memang ada bagian yang kubuang, kutambah, kumodifikasi intinya. Aku hanya ingin menerangkan saja secara jelas tentang hal itu. Kedua, aku mengetik ini di warnet dan terburu-buru, jadi maaf kalau ada typo. Ketiga, maaf kubuat Giotto meninggal.
Tidak banyak yang ingin kubahas dalam fanfic ini, karena… aku sedang merasa cukup down karena berbagai hal. Tapi terima kasih untuk para pembaca yang sudah mengikuti two-shot ini. Em, kuharap Fajrikyoya yang merekues fanfic ini puas dengan apa yang sudah kubuat. Terima kasih untuk reviews-nya.
