Nuansa hening bertahan. Kedua sosok sadar itu tak bergeming, hanya sorot tak terdefinisi yang mengarah pada sosok terbaringlah yang terlihat jelas. Baru saja setelah wanita yang sejak tadi menjadi objek perhatian keduanya terbangun, ruangan itu terkesan hidup dengan adanya suara. Kini kebisuan kembali membungkam ruangan khas berbau obat setelah wanita merah muda itu kembali memasuki alam tidurnya.

.

.

Tuk

Tuk

Tuk

Suara heels bergesekan dengan lantai terdengar di sepanjang lorong rumah sakit. Suaranya terdengar semakin dekat hingga mencapai titik lenyap ketika wanita berperawakan tinggi ramping itu memasuki suatu ruangan.

''Bagaimana keadaannya?'' tanya wanita itu tanpa basa-basi.

''Seperti yang kau lihat.'' Sasuke melirik teman tunangannya sekilas. Wanita itu tampak berbeda sekarang. Raut jahil dan keceriaan yang dulu biasanya terpampang kini nihil. Hanya raut iba dan cemas yang kentara dari wajah cantiknya. Sasuke cukup mengerti. Bagaimanapun juga Sakura adalah sahabat Ino dari dulu. Ia sangat tahu kedekatan mereka.

Ino melirik wanita di samping kiri ranjang. Dahinya mengerut. Terlihat matanya bergerak-gerak.

''Kau, Hinata kan?'' Ino menghampiri Hinata tepat di sampingnya. Seketika itu senyumnya merekah. Ia lekas memeluk wanita yang sudah lama tidak ia jumpa.

''Astaga Hinata. Kau tambah cantik saja. Sampai-sampai aku hampir tak mengenalimu.'' seloroh Ino.

Hinata tersenyum.

''Bagaimana kabarmu Ino? Lama sekali tidak bertemu.'' Tak hanya Ino yang pangling. Hinata pun demikian. Itulah mengapa ia tidak bersuara ketika Ino tiba-tiba datang.


Wanita yang Kunikahi, Wanita yang (selalu) Kusakiti (?)

Part II

.

.


''Masih ingat rumah ternyata. Kupikir kau sudah lupa dengan tugasmu sebagai is- tri.'' suaranya tajam menusuk, namun agak tersendat di akhir.

Rasanya tidak enak sekali disambut dengan tatapan tajam dan perkataan pedas. Hinata menghela napas lelah. Memang salahnya karena ia malah menetap di Rumah Sakit berjam-jam sementara suaminya di rumah. Ia sudah mengerti apa yang dilakukannya salah. Tetapi ia memang sengaja melakukakannya. Awalnya Hinata hanya belum siap dimarahi Naruto nantinya jika tadi ia ikut pulang bersama suaminya itu. Tapi sekarang, setelah pulang ia justru merasa bersalah. Naruto benar. Hinata nyaris melupakan tugasnya sebagai seorang istri. Tapi sungguh, apa yang ia lakukan tadi tidak tanpa alasan. Sebentar saja ia hanya ingin lepas dari beban kesehariannya.

''Maafkan aku. Tadi aku menjenguk Sakura.'' jelas Hinata. Suaranya tetap terdengar lembut.

Mendengar nama wanita itu disebut tak pelak membuat Naruto terkesiap. Dadanya Tiba-tiba bergejolak. Ada perasaan aneh yang menyeruduknya.

''Sakura, bagaimana keadaannya?'' tanpa ia sadari pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya.

Mulut Hinata bergerak-gerak tak pasti. Ia ingin menjawab namun lidahnya kelu. Kata-kata yang hendak ia keluarkan tercekal di tenggorokan dan hanya bisa kembali tertelan.

Safir Naruto sayu. Perasaannya tak tentu. Ia antara khawatir, marah, benci. Semuanya campur aduk. Entah kenapa, tapi yang pasti ia merasa tak nyaman dengan semua itu. Bahkan rasa muak yang biasanya nomor satu ada di hatinya sekarang ini tak terasa adanya.

''Hinata, kenapa kau diam saja?'' suara Naruto terdengar lemah, tidak seperti biasanya.

Hinata meringis, sebegitu pedulinyakah Naruto dengan Sakura?

''Sakura... Dia baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.''

Naruto menunduk, dahinya ia pijit pelan. Perasaannya benar-benar tidak enak. Ia tidak bisa memahami perasaan sejenis apa yang sedang mengganjalnya ini.

Manik lavendernya menatap pilu pria itu. Walaupun ia sangat dibenci oleh Naruto. Walau ia selalu disakiti olehnya. Tapi Hinata juga tidak bisa melihat suaminya, pria yang begitu dicintainya terpuruk seperti ini.

Nalurinya sebagai seorang istri sepintas menggerakkan tubuhnya untuk mendekap pria itu. Pria yang entah kenapa terlihat sangat rapuh. Namun keinginan itu ditepisnya jauh-jauh. Hinata cukup tahu diri untuk tidak menyentuh tubuh yang memang bukan miliknya. Tubuh itu hanya milik Naruto seorang. Entah milik wanita lain juga atau tidak.

''Hinata.. Aku punya satu permohonan. Bisakah kau mengabulkannya?''

''Apapun yang bisa aku lakukan.''

.

.

.

Dan di sinilah ia. Di apartemen Sakura. Hinata benar melakukan apa yang dimintai suaminya. Kendati merasa iri Hinata tetap melakukannya. Hanya saja, sebenarnya siapa yang istri Naruto? Ia kan? Tidakkah Naruto tahu bagaimana sakitnya perasaan Hinata saat ini? Bagaimana bisa Naruto menyuruh ia yang merupakan istrinya untuk merawat wanita lain? Rasanya Hinata sudah benar-benar tidak berharga. Atau memang ia tidak berharga dari awal?

Seorang istri yang merawat wanita yang dicintai suaminya. Huh. Seolah-olah ialah penghalang diantara keduanya. Tanpa bisa dihalau hal itu menambah luka baru lagi pada dirinya.

Hinata menghela napas. Barangkali egonya harus dibuang sementara.

Hinata tidak membenci Sakura. Sama sekali tidak. Tapi.. sekali lagi ia sedikit... iri. Ia istri Naruto. Ia wanita yang dinikahinya. Kenapa sekali saja tak pernah Naruto menganggapnya? Hinata menggigit bibir bawahnya. Air matanya bisa saja meluncur tiba-tiba jika ia terus berkelut dengan sesuatu yang sangat menyesakkan ini. Satu hal terlintas di benaknya, "apalah arti sebuah status." Barangkali Sakura terlalu beruntung sehingga dicintai dua pria sekaligus. Sementara ia, mencintai satu pria saja sakitnya tak terkira.

Namun inilah yang harus ia lakukan, tugasnya sebagai seorang istri. Hinata harus menurut pada suaminya. Sesaat ia termenung. Jika Naruto memang begitu peduli dengan Sakura di saat seperti ini, apa dia juga akan peduli padanya ketika ia rapuh?

"Bodohnya aku. Tentu saja tidak mungkin."

Naruto peduli dengan Sakura karena dia mencintainya. Sedangkan Hinata? Ia tetap harus bersyukur hanya dengan kebencian Naruto padanya. Mungkin ini sudah yang terbaik.

Ino sudah berkali-kali berteriak frustasi melihat Sakura. Bukan hanya marah, tetapi ia murka dengan orang yang sudah membuat Sakura seperti ini. Baik Hinata maupun Sasuke, apalagi Sakura tidak memberitahu Ino perihal peristiwa itu.

Sakura belum begitu pulih. Fisiknya memang tak apa. Tapi hatinyalah yang sakit tiada terobati. Sakura depresi. Sedari tadi ia terus menggumam kata tidak jelas seraya menjambak rambut merah mudanya keras-keras. Air mata pun tak ketinggalan menghiasi wajah cantik yang sekarang terlihat nelangsa. Ia tak sanggup menumpu beban kehinaan yang ada pada dirinya. Apa yang harus ia lakukan? Sakura bahkan merasa jijik dengan dirinya sendiri. Saat ini ia tak ubahnya wanita hina yang tidak bisa menjaga apa yang harus ia jaga untuk calon suaminya. Sakura sudah tidak punya muka untuk tetap bersanding dengan Sasuke.

''Ya Tuhan... Hinata, siapa sebenarnya bajingan yang sudah membuat Sakura begini? Siapapun dia aku bersumpah Tuhan akan mengutuknya."

Ino menatap sahabatnya miris. "Benar-benar tidak bisa dimaafkan. Aku yakin, hanya orang brengseklah yang mau menyakiti perempuan sebaik Sakura.'' ia menumpahkan semua amarahnya yang tak tertahan. Bagaimana bisa ditoleransi? Sakura adalah sahabatnya. Ino sedikit banyak merasakan apa yang dirasakan Sakura. Seberapa pedih hatinya sekarang.

Hinata diam dalam kekalutan. Kenapa masalahnya jadi sepelik ini? Kenapa Naruto harus melakukan itu pada Sakura? Kenapa dia tidak puas dengan menyakitinya saja? Hinata bisa menerima jika ia yang Naruto sakiti, karena ia istrinya. Tidak apa. Sungguh, Hinata sama sekali tidak mengerti. Cinta seperti apa yang Naruto rasakan sehingga dia sampai buta langkah?

Andai Ino tahu jika orang yang tadi ia sumpahi adalah suaminya. Apa dia akan menarik sumpahnya? Atau bahkan makin menyumpahi Naruto dengan kutukan yang lebih menyedihkan?

Andai Ino tahu orang brengsek yang ia katakan itu adalah suaminya. Apa dia akan memaafkannya? Hinata tidak bisa membayangkan kejadian paling buruk apa yang bisa menimpa Naruto. Ia tidak bisa membayangkan Naruto akan dibenci banyak orang. Terlebih jika orang-orang tahu bahwa Naruto yang telah beristri dirinya telah menodai gadis yang merupakan sahabatnya sendiri. Gadis yang adalah tunangan sahabatnya juga. Setelah hal itu diketahui semua orang akan tahu bagaimana rumah tangga mereka dan bagaimana kelakuan Naruto kepadanya selama ini. Apa kata orang-orang itu?

.

.

.

''Bagaimana Hinata, apa dia sudah kembali seperti semula?''

"Dia masih trauma.''

Naruto menunduk. Safir yang semula berbinar menanti kabar gembira redup seketika. Ia lemas hanya mendengar pernyataan itu.

''Kenapa Naruto-kun melakukannya?''

Alis Naruto bertaut.

''Malam itu, kenapa Naruto-kun melakukannya?'' isak Hinata sedikit keluar meski sudah mati-matian ia tahan. Padahal ia sudah memasang ekspresi tegar. Tapi pikiran itu, ketidakmengertian dirinya akan alasan Naruto melakukan hal yang tidak pantas membuat ketegarannya goyah. Ia tidak bisa berpura-pura. Naruto harus tahu perasaannya. Perasaan seorang istri yang kecewa.

Rahang Naruto mengeras. Tubuhnya yang tadi lemas tiba-tiba saja menegang. Ia menatap tajam wanita di depannya.

''Terang saja karena aku mencintainya. Hal yang tidak akan pernah bisa kau dapat dariku.'' beberapa saat setelah mengatakan itu Naruto beranjak dari sofa. Meninggalkan wanita yang masih terdiam tanpa mampu berpikir apa-apa. Selalu begitu! Sudah terbiasa baginya seperti ini. Naruto yang meninggalkannya sendiri.

Sedetik kemudian Hinata tersentak.

Naruto tidak meninggalkannya. Benar. Dia tidak pernah meninggalkannya karena-

Naruto memang tidak pernah benar-benar bersamanya.

Naruto bukan suami yang menikahinya karena cinta.

Dan senyum pilu mengembang serasa mengejek dirinya. Hinata, wanita bodoh yang mau terluka karena cinta.

.

.

.

Hinata risih tatkala dilempari tatapan tajam Ino saat ia memasuki apartemen Sakura.

''I-Ino, kenapa kau menatapku seperti itu?'' tanyanya hati-hati. Mendadak perasaan Hinata tidak enak. Jangan-jangan..

''Hinata...'' suara Ino terdengar dingin. Bahkan walaupun cuaca sedang panas sama sekali tak terasa. Suara Ino tetap dingin.

Hinata susah-susah menelan ludah. Ia takut jika hal yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Ia takut Ino sudah mengetahui semuanya.

Sekejap Hinata memegang lengan Ino. Ia harus menjelaskan. Ia tidak mau Ino sampai membencinya dan Naruto.

''Ino. Maafkan aku. Kumohon jangan membenciku. Terlebih Naruto-kun. Dia tidak salah apa-apa.''

"..."

?

''Hinata, apa yang kau lakukan? Kenapa kau aneh begini?''

Hinata meneliti sorot mata Ino. Pancaran matanya tegas. Ia baru menyadari bahwa Ino memiliki aura yang membuatnya tak nyaman. Mungkin karena sekarang kondisinya begini.

''Aku heran denganmu Hinata. Kenapa bibirmu agak bengkak? Apa terjadi sesuatu?"

Eh?

Hinata mengernyit. Bibir? Sontak ia meraba bibirnya sendiri. Bibir yang telah Naruto cumbui semalam. Tidak! Lebih tepatnya yang telah Naruto sakiti. Ia tidak mau mengambil konklusi sembarangan. Lagipula tanpa Naruto berkata pun Hinata sudah tahu. Semua hal intim yang Naruto lakukan padanya hanya sekadar memuaskan nafsu birahinya saja. Bodohnya ia yang mau dijadikan pemuas seks suaminya.

Mau berapa kalipun dikatakan bodoh tidak mampu menjelaskan kebodohan wanita ini. Hinata bahkan terlalu bodoh untuk dikatakan bodoh.

Kenapa tidak cerai? jawabannya mudah dan sudah pasti. Semua tahu bahwa Hinata sangat mencintai suaminya. Terlepas dari kenyataan bahwa cintanya tak pernah terbalaskan. Tidak. Cintanya terbalas, tetapi bukan cinta pula yang diperuntukkannya. Tetapi..

Kebencian. Kebencian tiada tara. Cintanya terbalas oleh kebencian.

Hinata hanya perlu menjadi istri yang berguna bagi suami yang dicintainya. Itu yang ingin ia lakukan. Ia tidak mau lebih egois lagi dengan meminta balasan cinta Naruto. Hinata sudah cukup egois untuk mempertahankan Naruto sebagai miliknya. Ia telah egois dengan tetap memaksakan hal yang jelas-jelas membuatnya menderita.

''ini.. aku jatuh di toilet.'' jawab Hinata asal.

Ino mengerling jahil. ''Kalian main kasar ya?''

Mendapat tuduhan seperti itu tak ayal membuat Hinata merona. Walaupun kenyataannya memang tidak seperti itu tapi tetap saja ia malu. Bagaimana bisa Ino berpikiran seperti itu? Tapi sedikit banyak ia bersyukur karena Ino justru membahas perihal bibirnya.

''Haha...'' Hinata tertawa kaku. Tidak tahu harus menanggapi bagaimana.

.

.

.

Hubungan ini tidak ada harganya sama sekali. Dipertahankan ataupun dilepas sama saja tidak ada untung ruginya baginya. Tidak untukku. Aku adalah orang yang dari awal mempertahankan semuanya. Walaupun aku sendiri tidak yakin seberapa lama aku bisa bertahan dengan keadaan yang sedemikian menyakitkannya, tapi aku tak akan menyerah. Aku akan selalu setia kepadanya. Aku ingin menjadi wanita yang melihat kebahagiannya meski dari jauh.

Aku hanyalah manusia biasa. Memang. Aku tidak mengelaknya. Katanya manusia biasa memiliki keterbatasan. Benar. Aku pun demikian. Aku bertahan bukan karena kesabaran yang tidak terbatas. Tapi karena cinta. Hanya hal sederhana yang seringkali menjadikan persoalan menjadi rumit.

Cinta seperti apa yang aku miliki? Mungkin hanya cinta biasa seperti yang kebanyakan orang rasakan. Entahlah. Aku kurang mengerti. Yang jelas, cinta ini seperti..

Sebuah komponen dasar dalam hidupku. Aku tidak bisa menjabarkan lebih, yang sedikit kupahami bahwa cinta ini, cinta yang aku miliki tidak menyakitkan. Cinta ini justru mampu membuat aku bertahan dalam getirnya rumah tangga yang sejak awal aku sangga dengan keikhlasan.