Yaaa! Ini adalah Chap pertama setelah prolog kemarin. Disini masih belum muncul Ace atau pun Luffy. Michan ga yakin kalo ini jadinya seperti apa. Selamat menikmati.

Summary : Kehidupan kelam yang menimpa Sanji sempat membuatnya putus asa. Tapi pertemuannya dengan dua orang bernama tengah D membuatnya berharap pada mereka agar membawanya pergi dari neraka ciptaan Doflamingo. Bisakah dua orang itu membebaskan Sanji dari penjara Doflamingo?

Rate : M for rape or violate meski Michan juga gak yakin. Semoga saja nanti Michan bisa bikin smut atau semacamnya di chap depan

Pairings : AcexSanji & LuffyxSanji

Warning : Live sex. Maafkan Michan bila disini banyak OOC nya. This is Modernlife. And Only For Fujoshi. If you like and read it just REVIEW now! But, if you Don't like Don't read it okay!


One Piece © Eichiro Oda

Take My Life © Michantous

Happy reading!

Xxx

Sanji membuka matanya perlahan. Pertama kali yang dapat ia lihat hanyalah 'gelap'. Ia juga mendengar suara berisik yang sangat ramai di luar ruangan. Ia mencoba untuk bangun secara perlahan. Merintih pelan saat nyeri menyerang pergelangan kaki kanannya. Kembali teringat akan kejadian yang telah menimpanya, si pirang langsung turun dari tempat tidur, dan berdiri cepat— tapi malangnya ia terjatuh ketika kakinya yang terkilir kembali terasa nyeri.

Masih belum menyerah, ia mencoba bangkit berdiri dengan berpegangan pada sisi ranjang tersebut. Suara langkah kaki mendekat terdengar ditelinganya. Namun, karena ruangan itu begitu gelap Sanji jadi tak bisa melihat apapun.

"Fufufu.. Kau sudah bangun rupanya" sebuah suara familiar, membuatnya kesal bukan main. Ia menggertakan giginya serta memaksakan kakinya untuk berdiri secepat mungkin.

"Kau... Kau si bajingan Doflamingo itu kan! Katakan dimana—" belum sempat Sanji menyelesaikan kata-katanya sebuah tangan tiba-tiba mendorongnya ke dinding, lalu mengangkat dagunya. Bersamaan dengan itu lampu pun menyala. Sanji didesak oleh Doflamingo. Ia merasakan punggungnya dingin karena bersentuhan dengan tembok. Terlihat Doflamingo mengunakan satu tangannya untuk menghidupkan saklar lampu yang berada di samping kepalanya. Sedangkan tangan satunya lagi masih memegang dagu si pirang. Doflamingo mendekatkan wajahnya, memperlihatkan seringaian liciknya.

"Kau itu kasar sekali ya..."

"Jangan berani macam-macam denganku. Atau aku akan membunuh mu!" Ia menepis tangan besar itu dari dagunya. Sedangkan yang di tepis lagi-lagi hanya melebarkan seringaiannya.

"Heh? Kau mengancam ku? Lucu sekali. Apa kau tahu alasan mengapa kau ada disini?" dengan lancangnya, si rentenir meletakan tangannya di pinggul si pemuda, membuat Sanji dengan reflek menepis nya lagi dan memberikan pandangan sakartis padanya.

"Tak ada alasan untuk ku mendengarkanmu. Doflamingo"

"Hee... begitukah? Tapi kau akan bekerja untuk ku"

"Aku tidak pernah sudi bekerja pada bajingan sepertimu!"

"Kurasa kau tidak akan bisa menolaknya. Khukhukhu.." tangan-tangan nakal Doflamingo kembali beraksi, ia mengelus-elus dada pemuda keras kepala di depannya. Sanji tersentak, merasa jijik atas tindakannya. Lagi-lagi ia menepis tangan si bajingan lalu menatapnya tajam. "Apa maksudmu?" Doflamingo kembali memasang cengiran liciknya.

"Jika kau melarikan diri dari sini. Ku pastikan, bahwa Baratie serta Pak tua itu akan musnah"

Mendengarnya, Sanji menjadi geram. Tanpa pikir panjang tangannya meninju wajah Doflamingo sekuat tenaga. "Bajingan! JANGAN PERNAH KAU BERANI MELAKUKAN ITU!"

Doflamingo terdiam, ekspresinya wajahnya mengeras. Meski bajingan itu mengenakan kacamata berlensa ungu, Sanji dapat merasakan bahwa sekarang Doflamingo menatapnya tajam. Sang Rentenir pun mengusap ujung bibirnya yang berdarah lalu menatap pria didepannya dengan dingin.

Sanji terlonjak, saat tiba-tiba saja Doflamingo menarik tangannya lalu menghempasakan dirinya ke ranjang. Merasa ada yang salah dengan itu Sanji segera bangkit berdiri. Tapi sayangnya Doflamingo mendorongnya lagi dan menahan kedua tangannya.

"Gaahh! Apa yang kau lakukan!" rontanya, mencoba menendang Doflamingo dengan satu kakinya yang sehat, namun hal itu hanya sia-sia.

Melihat perlawanan Sanji yang tidak berdaya, Doflamingo segera memposisikan tubuhnya di tengah-tengah kaki jenjang Sanji.

"Biar ku beri kau sedikit pelajaran. Perlu kau ketahui, belum pernah ada seorangpun yang berani memukul wajah ku. Aku sudah cukup menahan kesal atas tindakan semena-mena mu itu" seringai bengis terukir di wajahnya. Ia menggunakan satu tangannya untuk membuka kemeja Sanji, membiarkan tangan kiri si pemuda pirang bebas dari cengkramannya. Lalu, tanpa di duga—

BUGH

Bocah Baratie itu kembali melayangkan tangannya yang bebas untuk memukul pipi kanannya. "Apa yang kau lakukan bajingan!" Sergahnya. Ia melihat Doflamingo yang tengah menggertakan giginya dengan kesal.

"Sepertinya kau ingin bermain kasar" sang Joker menjilat ujung bibirnya yang berdarah, lalu— mengunci kedua tangan Sanji dengan satu tangannya.

"Tidak! Apa yang kau lakukan! Hentikan!" Sanji meronta-ronta agar terlepas dari kuncian si bajingan, tapi sepertinya ia tidak beruntung. Karena Doflamingo sudah menggunakan tangannya yang bebas untuk merobek kemeja yang dikenakan olehnya.

Sanji kehabisan kata-kata. Sedangkan Doflamingo tertegun sejenak. Memperhatikan tubuh pria di depannya yang sangat indah dan menarik untuk dicabuli. Ia menyeringai. Matanya menelusuri lekuk tubuh Sanji. Dari leher jenjangnya, turun ke dada memperlihatkan dua nipple merah muda yang menggoda, lalu pandangannya semakin turun melihat perut dan pinggang ramping yang juga kencang itu. Oh... betapa menakjubkan, saat ini Sanji terlihat begitu seksi dan menggoda.

Kini mata Doflamingo tertuju pada celana hitam Sanji. Karena risih, Ia pun tanpa ragu mulai membukanya. "Ja-Jangan lakukan itu! Brengsek kau!" Sanji benar-benar panik. Dia masih meronta-ronta, menggerakan tubuhnya kekiri dan kekanan, berharap Doflamingo tidak melanjutkan aksinya.

"BAJINGAN! HENTIKAN! SIALAN KAU" ia terus mengeluarkan kata makian dan cacian dari mulutnya. Walau ia tahu semua hal yang dilakukannya hanyalah sia-sia, karena sekarang si rentenir brengsek itu sudah berhasil melepaskan celana hitamnya dan melemparnya sembarangan.

"Heh... Kau beruntung. Aku tidak akan memukulmu" Doflamingo mengulum dua jarinya. Mencoba membasahi jari-jarinya itu dengan air liurnya sendiri.

Melihatnya, Sanji merasa jijik. Ia merasa seakan-akan hidupnya seperti di ujung tanduk. Dia tidak bisa membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi. Baginya ini seperti sebuah mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Dia benar-benar tidak menyangka, kalau nasibnya akan berjalan tak mujur seperti ini.

"Jangan berani kau menyentuhku. Doflamingo!" gertaknya sembari memberikan tatapan tajam. Terselip nada pesimis dari kalimatnya.

Si bajingan yang diteriaki tidak sedikitpun mengindahkan ucapan Sanji. Ia malah memasukan kedua jarinya yang sudah ia basahi tadi kedalam lubang sempit milik pria didepannya. Membuat rintihan keluar dari dua bibir tipis si pemuda karena rasa perih yang menjalar dibagian selatannya.

"Ah! Apa yang kau.. akh lakukan.. Bajingan... haa—ah!" Sanji menggeliat. Tubuhnya menggelinjang saat merasakan jari Doflamingo memasukinya. Ia benar-benar merasa tidak nyaman.

Doflamingo tidak menjawab, ia malah melanjutkan aksinya dengan menggerakan kedua jarinya keluar masuk. Membuat rasa perih itu bertambah.

"Argh.. K―kumohon. Hentikan—Arh!" Sanji melengkungkan tubuhnya ke atas merasa semakin tidak nyaman dengan perlakuan kasar itu.

"Ah—" ia tersentak, ketika merasakan sesuatu yang basah melumat nipplenya. Merasakan sensasi aneh muncul saat Doflamingo menghisap puting sensitif itu. "Hen―hentikan haa... kau Bajinganhh..." tanpa sadar Sanji mendesah, membuat si rentenir makin menaikan tempo keluar masuk jarinya.

"Akh.. Brengsek! Tidak! Berhenti! Sa―sakit! Nggh" Sanji terus merintih. Semua kata makian dan cacian yang tadi ia lontarkan kini berganti menjadi rintihan memohon. Ia menggigit bibirnya untuk menahan Sakit. Ingin sekali dia meninju wajah Doflamingo, kalau saja tangannya tidak di tahan oleh si keparat itu. Ia merasa jijik dengan dirinya yang saat ini tidak berdaya! Ia jijik merasakan sentuhan-sentuhan dari si rentenir ditubuhnya! Ia juga kesal dengan semua yang telah terjadi padanya!

Tiba-tiba saja Doflamingo mengeluarkan jarinya. Membuat Sanji sedikit lega karena rasa sakit itu menghilang. Tapi, baru saja Sanji bernapas lega, Doflamingo sudah mau memulai sesuatu yang lain.

"Bersiaplah. Aku akan masuk" setelah mengatakan itu, Doflamingo mencoba memasukan kejantanannya ke lubang sempit milik Sanji dengan perlahan. Membuat Sanji membelalakan matanya merasakan sesuatu— yang lebih besar— mencoba menerobos masuk pada kediamannya.

"ARGH! JA—JANGAN LAKUKAN ITU! HENTIKAN!" Sanji berteriak. Tapi lagi-lagi Doflamingo tidak menanggapinya, melainkan malah terus mendorong kejantanannya agar memasuki lubang sempit yang akan memberinya rasa nikmat luar biasa itu.

"TIDAK! BAJINGAN! HENTIKAN! INI MENYAKITKAN!" Sanji masih meronta dengan gelisah akan benda yang mencoba memasukinya itu, tak tahan dengan rasa perih yang menjadi-jadi, tanpa sadar, ia meneteskan buliran air matanya.

"BRENGSEK KAU! DOFLAMINGO—AGH—!" matanya melebar, merasakan seluruh kejantanan Doflamingo telah masuk seutuhnya. Ia benar-benar shock. Bagaimana bisa ia bernasib buruk seperti ini? Kesalahan apa yang telah ia perbuat sehingga ia menerima ini semua? Sanji hanya bisa memejamkan matanya dan menggigit bibir agar dirinya tidak menangis. Namun, lagi-lagi hal itu tiada guna, ia tidak bisa membendung air mata kepedihan yang kini telah mengalir meskipun ia memejamkan matanya.

"Kheh, kau beruntung. Sanji. Itu nama mu kan?" Doflamingo melepas cengkraman tangannya pada si pemuda pirang, membiarkan kedua tangan Sanji bebas. Ia tahu bahwa Sanji tak akan memukulnya lagi meski tangannya sudah terbebas.

"Bajingan. Masih bisa kau berkata seperti itu—Ugh!" tanpa berniat mendengarkan ocehan Sanji lebih lanjut, Doflamingo mulai memaju-mundurkan kejantanannya, perlahan.

Sanji menggigit pergelangan tangan kirinya, guna menahan rasa perih yang lagi-lagi melanda bagian selatannya. Satu tangannya meremas seprai sekencang-kencangnya. Ia juga menahan suaranya agar tidak keluar. "keparat..." gumamnya dalam hati. Betapa sialnya dia sekarang.

Melihat pemuda didepannya seperti itu, Doflamingo segera menyingkirkan tangan Sanji dari mulutnya. Ia berniat untuk melumat bibir merah muda Sanji— yang sungguh di sayangkan tidak berhasil, karena Sanji segera menolehkan kepalanya kesamping. Tapi, hal yang dilakukannya justru membuat leher jenjangnya terekpos, memudahkan si rentenir brengsek untuk menyerang lehernya. Sanji ingin memberontak, tapi Doflamingo malah mempercepat tempo gerakan maju mundurnya. Membuatnya lagi-lagi berteriak kesakitan.

"Hentikan! Agh! Brengsek...Ah.."

Doflamingo makin mempercepat tempo mainnya. Ia mendorong kejantanannya semakin dalam, dalam, dalam, dan...

"Ahnn!" Sanji memekik nikmat. Doflamingo menyeringai, ia merasa menang karena sudah menemukan titik kenikmatan si pemuda pirang. Serasa berada di atas angin.

Sanji membelalakan matanya merasakan sensasi yang luar biasa nikmat itu. Sensasi yang berhasil membuat miliknya tegang. Ia merasa bodoh karena tidak sengaja mengeluarkan suara menjijikan seperti sebelumnya. Sungguh, ia benar-benar tidak bisa memungkiri rasa nikmat yang baru saja ia temukan. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar jijik dengan dirinya sendiri.

"Kau beruntung. Karena kau termasuk orang yang akan... ku istimewakan" masih dengan 'aktivitasnya' yang semakin lama semakin cepat, Doflamingo bicara pada lawan mainnya. Sedang keadaan Sanji sendiri... Jangankan menjawab, berkata satu katapun dia sudah tidak bisa. Karena sekarang, Sanji sudah benar-benar mabuk, terbawa oleh nikmat yang semakin menjalar pada dirinya. Ia bahkan tidak mendengarkan ucapan Doflamingo barusan karena dirinya hanya fokus menikmati setiap genjotan yang diberikan oleh sang Joker yang bergerak semakin cepat.

Tubuhnya semakin lama semakin terasa panas. Ia juga merasa bahwa saat ini wajahnya memerah,tenggorokannya mengering, serta nafasnya mulai memburu. Ia berusaha menelan ludahnya, tapi kini ludahnya pun terasa sangat kental. Kristal safirnya kembali menatap Doflamingo dengan nafas yang mengalun berat. Tanpa memikirkan harga dirinya lagi, Sanji memberanikan diri meraih kepala si rentenir brengsek, lalu menciumnya. Tidak merasa keberatan atas tindakan pria di depanya, Doflamingo membiarkan saja, dan malah membalas ciumannya dengan agresif.

Sanji semakin di buat mabuk, karena Doflamingo menciuminya dengan brutal. Ia membuka mulutnya untuk memberikan akses agar lidah si brengsek itu bisa masuk. Mereka saling bertukar saliva. Tak lama, kenikmatan yang saat ini sedang melanda Sanji, seperti ingin meledak sebentar lagi.

"Ah! Ce-cepat!" pintanya, terengah-engah setelah melepas ciumannya. Tanpa menjawab, Doflamingo segera mempercepat tempo gerakan pinggulnya.

Semakin dalam...

dalam...

dalam...

dan..

"A-aku— Hyaaaahh— Ah—Hhnnn~" Sanji orgasme lebih dulu, baru disusul dengan cairan milik Doflamingo yang keluar dalam liang sempitnya. Sanji benar-benar menikmatinya, ia merasakan cairan hangat yang mengalir dalam dirinya. Tubuhnya bergetar sesudah mencapai puncak. Napasnya terengah-engah, baru kali ini ia merasakan hal yang benar-benar menyenangkan dalam hidupnya.

"Keh, luar biasa..." pria rentenir itu menyeringai seraya menyingkir dari tubuh Sanji. Ia berdiri lalu menutup resleting celananya. Menatap puas kearah Sanji yang masih mengangkang dengan cairan putih susu yang merembes keluar dari analnya.

Sanji sendiri malah terdiam menatap kosong ke atas langit-langit ruangan setelah sadar sepenuhnya. Ia benar-benar masih belum bisa mempercayai apa yang telah ia dan Doflamingo lakukan. Ia meredupkan tatapannya perlahan, lalu mengusap sudut matanya ketika air matanya kembali mengalir. Ia memutuskan untuk berdiri dan mengambil pakaiannya yang sudah tidak utuh lagi, karena sebelumnya telah di robek paksa oleh Doflamingo. Ia ingin keluar dari tempat itu sekarang juga untuk melupakan segala hal yang telah ia lakukan bersama si bajingan tengik.

Setelah memakai pakaiannya, Sanji beralih pada Doflamingo yang kini sedang meminum winenya. Ia berjalan ke arah pintu keluar di ruangan itu tanpa melihat Doflamingo yang sedang mengawasi gerak-geriknya. Langkahnya terhenti saat sampai di depan pintu.

"Aku ingin keluar, sebentar" jelasnya tanpa disuruh saat hendak memutar kenop pintu.

" ... "

Merasa tidak menerima respon dari Doflamingo Sanji pun melanjutkan kata-katanya.

"Aku tidak akan kabur"

Dia tahu konsekuensinya bila ia berani pergi dari sana, Sanji tidak mau kalau Doflamingo menghancurkan restoran Baratie. Biarlah dia yang berkorban. Lagi pula dengan adanya dia disini, ia bisa mencari cara untuk menghancurkan Doflamingo dengan mudah, bukan begitu?

"keh, aku percaya pada mu" setelah mendapat respon dari si Joker, Sanji pun keluar dari sana. Seandainya dia melihat kebelakang, ia akan mendapati bahwa Doflamingo tengah menyeringai dengan liciknya.

Sanji melangkah melewati koridor yang di masing-masing dindingnya memiliki pintu. Ia terus berjalan mengikuti sumber suara berisik yang ada disana. Betapa terkejutnya ia, saat mengetahui tempat seperti apa yang telah di datanginya ini. Pikirannya melayang jauh. Apakah ia akan bekerja disini nantinya? Sebagai seorang pria penghibur? Dan melayani para pria hidung belang di tempat ini? Ia pikir ia hanya akan bekerja sebagai pelayan Doflamingo. Tapi ternyata...

"Ck! Kuso..."

Ia berlari, masih dengan kakinya yang sakit, menuju pintu keluar dari tempat kotor dan hina itu. Tidak dipedulikannya orang-orang yang menatapnya heran. Persetan dengan pikiran buruknya! Persetan dengan Doflamingo! Persetan dengan orang-orang yang menatapnya lapar saat ini! Dan persetan dengan semua yang telah terjadi padanya! Yang ia inginkan sekarang hanyalah menenangkan pikirannya dan berpamitan dengan Zeff— kakek tua yang telah berbaik hati mau menampungnya sejak ia kecil sampai sekarang, agar orang tua itu tidak mencemaskannya.

~ToBeContinue~

Ayo! Bagi yang baca, Review Please~~

*Author maksa*

Jangan hujat Michan ya kalo chap ini jelek. Ampuni Michan yang telah menistakan Sanji. Michan juga doki-doki jduar saat membuat chap ini. Michan sengaja bikin Sanji ga perawan dulu. soalnya, banyak ff tentang Violate tapi ga jadi karena sebelum di rape udah di ditolongin duluan. Jadi, Michan ingin bikin yang beda. Ingat! Jangan Hujat Michan! Nanti Michan akan pundung dan mungkin gak akan berani ngelanjutin fic ini lagi. hontou ni gomennasai!

Oh ya, mungkin untuk beberapa minggu kedepan, michan akan sibuk karena michan udah kelas 3 smp. Kalian tahu kan gimana sibuknya. Jadi maafkan bila agak telat update apalagi minggu kemarin michan baru selesai try out. Huhuhu...