Story By: Bekantan Hijau.

Disclaimer: Yuki Midorikawa, Tadatoshi Fujimaki, Kazuki Takahashi.

Crossover: Natsume Yuujinchou & Kuroko no Basuke. Side Yu-Gi-Oh! Duel Monster.

Rate: T

Genre: Romance/Humor/semi-Family/Drama/Parody.

Pair: Harem!Takashi.

Warning: Maybe-OOC, some mistakes EYD, semi-Pedo!Seijuurou, semi-AU, Sho-Ai, BL, typo.

xXx

Senyum Muna

xXx

.

.

.

Episode 2

.

.

.

xXx

.

.

.


Seijuurou membuka mata. Semalam insomnia dan kamarnya sudah terang. Wow, ia bangun telat. Apa debat dengan ayahnya cukup untuk membuatnya gila? Mungkin iya.

Kepalanya pening. Ia butuh aspirin.

Pria itu mengacak rambut, pandangan dilayangkan ke meja di samping ranjang. Ada jam weker digital, cermin kecil, dan bingkai foto. Mula-mula, Seijuurou memperhatikan wajahnya di cermin.

Oooh ... sial. Ada kantung mata di bawah netra merah. Sepertinya Seijuurou terlalu kelelahan akibat banyaknya pekerjaan. Atau mungkin karena terlalu dibuat berang oleh ayahnya.

Muak dengan cermin, Seijuurou beralih ke jam weker.

Um ..., ia melewatkan waktu sarapan. Seharusnya ia sudah sarapan pukul tujuh, tetapi ini hampir pukul delapan. Wow, Seijuurou benar-benar telat bangun dan kepalanya masih pusing.

Terakhir, Seijuurou melihat foto yang terpasang rapi pada bingkai berbentuk stroberi.

Senyum manis malaikat biru muda menjadi fokusnya.

Menyeringai, Seijuurou turun dari ranjang walau tubuhnya berat dan lunglai. Jemari panjang mengusap dagu, ada rambut-rambut halus tumbuh di sana. Ia harus bercukur. Meski kecil, namun tajam, kadang kulit jarinya bisa tergores.

Hari ini ia memutuskan untuk tidak menyentuh laptop, juga tidak membuka mailbox melalui ponsel.

Pria itu membunyikan bel, menyuruh seorang pelayan membuat sarapan selagi ia sibuk di kamar mandi berbenah diri. Kapan terakhir kali ia memakai pisau cukur?


Sekitar tiga hari yang lalu, Seijuurou mendatangi sendiri kantor calon rekan kerjanya.

Sebagai seorang GM, sudah tentu Seijuurou Akashi mendapat pelatihan keras. Hari demi hari, Masaomi mencekoki Seijuurou dengan berbagai macam pelajaran. Mulai dari bahasa, ekonomi, sosial, hingga teknik memanipulasi.

Maklumlah, keluarga konglomerat, tentu saja pendidikannya lain dari anak biasa. Apalagi keluarga Akashi juga terkenal di bidang olahraga. Tak heran sudah usia lansia pun Masaomi masih kuat mengayun stik golf. Sedangkan bola jingga dan kuda putih lebih menarik perhatian Seijuurou.

Semuanya untuk bekal Seijuurou mengembangkan perusahaan sebagai pewaris.

Pribadi yang selalu merasa paling benar dan menjunjung tinggi kemenangan adalah oksigen, namun tetap dilirik kaum adam dan hawa dari segi prestasi hingga penampilan.

Jika kata mantan teman satu tim basket SMP-SMA, diktator manja banyak maunya tapi pendek. Hu-uh, itu hinaan tidak sopan. Bukan mau Seijuurou jadi paling pendek di antara yang lain. Camkan itu, pendek.

Oh, Seijuurou benci sekali kata terakhir.

Dan jika ada hal yang tak terpikir oleh Seijuurou, maka itu adalah saat di mana ia bertemu GM lain yang berkelakuan 11:12 dengannya.

Seto Kaiba dari Kaiba Corp, tak kalah songong atau kalau mau dibilang sinting mendekati gila.

Bukan Seijuurou tidak sopan mengatai orang, tetapi Seto ini memang sinting. Andai dokter langganannya mendengar pribadinya, pasti tak segan bilang pria kolot itu kembaran Seijuurou.

Kaiba Corporation, tadinya dikenal sebagai perusahaan usaha jual beli senjata baik di kalangan pemerintah atau dunia bawah. Masaomi yang kenal ini, bahkan beliau mengaku bahwa direktur terdahulu masuk urutan atas daftar pengusaha 'hitam'. Sekarang saja usahanya beralih ke teknologi tinggi yang dikhususkan untuk beragam jenis permainan.

Kaibaland adalah contoh sederhana, banyak wahana kreatif dan mengagumkan.

Akan tetapi, yang diincar pihak sponsor atau GM seperti Seijuurou bukan permainan yang dikembangkan.

Melainkan teknologi visual canggih yang dikembangkan oleh Kaiba Corp melalui otak cerdas Seto Kaiba.

Tepatnya, proyektor kuat yang bisa membuat ilusi virtual 3D dan digabung dengan komponen mesin berat. Di sini, Seijuurou tekankan, ilusi yang dihasilkan proyektor Kaiba Corp bukan main-main. Berani ia bersumpah bahwa Seijuurou pernah tertipu oleh solid vision di kantor Kaiba Corp.

Tetapi karena pemiliknya berego tinggi dan baperan luar biasa, nyaris tak ada yang mampu bekerja sama di bidang ini. Lantaran, direktur utama Kaiba Corp yang paling tak gentar dengan segala macam ancaman. Sebaliknya, justru situasi bisa berbalik dihantam olehnya.

Setahu Seijuurou, umurnya cuma beda dua tahun dari CEO ini.

Sekretaris yang duduk di balik meja resepsi lobi teratas gedung Kaiba Corp memanggil GM Akashi Corp.

"Kaiba-sachou sudah bisa menemui Anda sekarang. Silakan masuk ke ruangan beliau."

Anggukan tanpa senyum menjadi jawaban. Seijuurou merapikan kerutan samar di dasinya sebelum melangkah tegap menuju pintu oak besar.

Diam-diam Seijuurou bertanya-tanya, sebegitu tidak pentingnyakah topik diskusi mereka kelak sampai sekretaris menyeburkan "sudah bisa", bukannya "sudah menunggu"?

Sialan, belum apa-apa Seijuurou sudah dihina.

Pria itu mengambil napas pendek sebelum membuka pintu ruang. Sama sekali tidak ada niat untuk mengetuk dan menunggu ucapan salam mempersilakan masuk. Untuk apa? Tak sudi Seijuurou bersopan-sopan dari orang yang lebih sombong darinya.

Pintu terbuka. Kapak terayun ke arah Seijuurou.

Andai tak lupa bahwa monster berkapak di depannya ini adalah hologram, Seijuurou sudah pasti menjerit ngeri.

Barusan itu solid vision yang sengaja diaktifkan jika ada tamu. Apabila berteriak ketakutan, maka tak segan ditendang keluar. Alasannya sederhana, calon rekan bisnis pengecut.

Menyeringai, pemuda berambut chestnut dengan wajah campuran memandang Seijuurou remeh di balik kacamata.

"Kudengar dari Gozaburo, kau termasuk layak diperhitungkan."

Pria berambut merah memperhatikan lawan bicaranya, terutama coat putih yang terpasang luar biasa mengembang kaku. Sudah pakaiannya nyentrik, bicaranya tidak sopan, sekarang dia menyebut ayahnya sendiri dengan nama.

Untuk sejenak, Seijuurou bimbang harus merasa jengkel atau tersinggung karena deja vu.

(Terutama jika ingat bawahannya sering membicarakan gosip tidak enak soal dirinya. Seijuurou tidak sopanlah, semaunyalah, tukang suruhlah.)

"Boleh kuanggap itu suatu kehormatan, Tuan General Manajer Seto Kaiba-sama?"

Ada penekanan pada embel-embel "-sama". Seijuurou pastikan itu kentara, Seto pasti menyadarinya.

Dalam beberapa saat, kedua alis terangkat. Seto bangkit dari sofanya ke meja lain khusus untuk diskusi empat mata. Seijuurou mengikutinya.

"Kau baik-baik saja, Seijuurou Akashi? Apa aku perlu meminta sekretaris membawakan cola dengan dua sedotan, dan ... mungkin payung mini di sisi gelas?" Seto bertanya.

Seijuurou duduk di hadapannya. Telunjuk mendorong kacamata. Sekalian memastikan rambutnya masih tersisir rapi ke belakang. "Ya ..., kecuali sinting dan gila, aku baik-baik saja," jawab Seijuurou.

"Mau jawaban lebih menarik, Kaiba? Tambahkan roti jagung bermentega panas."

Sampai di situ, Seto terkekeh geli. Di tangannya ada berkas proposal yang sempat dikirim melalui e-mail, langsung oleh Seijuurou. Di tangan Seijuurou sendiri ada berkas yang sama, namun lebih lengkap dan rinci.

Dengan sikap menghina yang dibuat-buat, Seto membuang berkas ke atas meja seakan cuma plastik bekas air jus jeruk, pemuda itu bertopang dagu. Ekspresi wajahnya sungguh memuakkan.

"Kuperingatkan, Akashi." Seto memandangnya sinis. "Aku bertanya-tanya, kenapa aku tidak ingin kau pergi dengan lapang dada juga pikiran kau sudah melakukan sesuatu yang mulia untuk perusahaanmu."

Seijuurou menyadari bahwa Seto selalu berupaya memberi tinju maut untuk setiap orang yang bernyali mengajukan kerja sama. Bukan menggunting perlahan hingga hancur menjadi kumpulan confetti, tetapi menghempaskan dengan kekuatan penuh hingga orang-orang trauma.

Dengan kata lain, menyadari kerasnya pukulan Kaiba Corp tidak bisa ditandingi.

"Kaiba-sama, aku tak mengerti."

"Aku khawatir kau mengerti. Mau bilang posisimu di Akashi Corp cuma ban serep?"

Ho, ho, memang sesuai yang digosipkan. Tidak dengan lembut memojokkan, tetapi menyerang dengan kekuatan dahsyat hingga lawan terkapar.

"Baiklah, aku mengaku bahwa aku salah mengajukan permintaan. Seharusnya aku mengajukan kesepakatan bisnis yang akan membuat rambut cokelatmu jadi kabel listrik."

"Fantastis. Jika itu bisa kaulakukan, maka untuk apa kau berada di sini?"

Tak ada jawaban.

Sial, ia terbawa masuk permainan CEO ini tanpa sadar. Suasana bukannya tegang, tetapi memang cuma ajang pelepas penat. Sialan ...

Kepala Seto dimiringkan.

"Sepakat."

"Apa?"

Saat itulah Seto berkata padanya, "Akan kupikirkan untuk ini. Tetapi aku tak janji secepatnya mengirim contoh proyektor terbaru."

Seijuurou bertanya-tanya.

Tanpa adanya pembicaraan, dia tiba-tiba menyepakati menjalin bisnis. Hei, bahkan Seijuurou belum mengatakan apa-apa sebagai biaya dana. Apa-apaan orang ini?

Tahu Seijuurou bisa memberinya dana tambahan? Itu tak mungkin. Memang ingin menjalin hubungan bisnis dengan Akashi Corp? Bercanda, sikap CEO tersebut bahkan terlalu dibuat-buat.. Ia tertarik pada Seijuurou? Keparat.

Tepat sekali, Seijuurou sedang dipermainkan. Pastilah Seto sama sekali tak bersungguh-sungguh. Ingin menipu, atau merasa kasihan pada Seijuurou.

"Anda mau tahu pendapatku, Kaiba? Aku mungkin akan mengatakan selamat tinggal dan meminta sekretarisku membeli blackforest. Tunggu, mungkin kue stroberi lebih cocok dihantam ke wajahmu untuk menyelamati bisnis ini."

"Oh, sayang. Aku merasa tidak enak badan sekarang. Mungkin bisa bubar untuk pertemuan ke depan?"

Seijuurou nyaris naik pitam, tapi ditahan. Ia pernah berurusan dengan situasi ini, terutama di rumah. Ya, tenang, ia harus tenang.

Pikirkan, Seijuurou. Ingat ayahmu, ingat watak ayahmu. Tipe seperti ini ...

Satu pelajaran dasar. Kelebihan lawan bicaramu adalah kelemahannya.

"Oh, Kaiba-sama," Seijuurou mengeluh, "jangan permainkan aku seperti ini. Aku tak bawa tisu toilet untuk muntah. Aku takut toilet di sini virtual semua."

Seijuurou Akashi berusaha sekuat tenaga menahan senyum sinis kala melihat bias tak suka muncul dari balik kacamata Seto.

"Yakinkan aku, Akashi, kau mabuk?"

"Mabuk berat. Sebetulnya aku curiga yang di depanku ini hologram."

Ada mesin dispenser khusus di samping. Seto mencabut dua gelas kertas dan mengisinya dengan kopi panas. Seijuurou mengisi paru-parunya dengan oksigen, situasi lebih longgar sekarang.

"Baiklah. Kita bisa bekerja sama."

Babak semi-final. Hasilnya seri, yey!

"Waktuku singkat. Jadi, apa yang kau inginkan?"

Pertanyaan itu bukan pertanyaan bodoh karena Seto sudah membaca e-mail-nya, melainkan bermakna apa yang Seijuurou tawarkan sebagai ganti pembelian solid vision system.

Ini yang Seijuurou tunggu-tunggu.

"Sederhana saja. Tertarik dengan ufo, Kaiba? Bagaimana jika kuberi saran membuat mesin virtual ufo dengan youkai sebagai isinya?"

Memangnya cuma Seto yang bisa main-main? Seijuurou juga bisa. Hei, mereka hanya beda dua tahun.

"Apa itu gagasan bagus?" Seto bertanya.

"Bagaimana jika kuganti dengan rencana menggabung solid vision dengan olah raga?"

Seto tertegun membisu, menunggu Seijuurou melanjutkan.

Perubahan raut wajah Seto mampu menarik sudut bibir Seijuurou. Bagus, situasi ini yang ditunggu Seijuurou. Ayo, pria tangguh, jangan biarkan orang ini mengalahkanmu meski lebih kreatif.

"Selera manusia kian berubah. Sesuatu yang berbau fantasy yang menantang memang selalu menarik, tetapi tidak semuanya." Seijuurou bersandar pada sofanya.

"Dan apakah yang lebih menarik?"

Binar tidak suka berganti ke ketertarikan yang tidak kentara. Ha! Satu kali ayunan gunting lagi, maka terpotonglah semua kepongahan itu.

"Pernah main basket, Kaiba? Aku bisa mengajakmu bermain jika mau. Keluarga Akashi punya tanah khusus berbagai lapangan olahraga. Tertarik untuk melatih calon atlet dengan solid vision?"

Pembicaraan pun terhenti.

Selama lima menit, tak ada yang berbicara.

Saat Seijuurou mencoba mengambil napas, Seto sudah mengulurkan tangan.

Seto boleh kreatif dan ahli pada setiap permainan strategi. Namun, kalau soal permainan fisik, stamina dan kelenturan Seijuurou lebih unggul.

Karena permainan menggunakan proyektor, tidak sama dengan permainan beresiko pinggang encok hingga nyeri lebam.

Seijuurou menjabat tangan Seto.

Keuntungan kedua belah pihak juga menjadi salah satu dari sekian strategi perusahaan.


"Tumben tidak menyuruhku pergi sendiri."

"Mau kupercepat pensiunmu tanpa uang pensiun?"

"Baik, aku diam."

Chihiro mengangkat bahu sebelum melajukan mobil. Sebetulnya ia sadar atasannya sedang gusar sejak bangun pagi, tetapi ia tidak menyangka sampai berinisiatif ikut ke Tokyo.

Karena pekerjaan hobi mengurangi jam istirahat. Biasanya hari sabtu masih ada setumpuk e-mail. Tetapi hari ini dibiarkan saja. Mau cari sensasi jadi maso hari senin?

Ia sedang menunggu perintah di garasi seperti biasa ketika Seijuurou datang berjalan tergesa-gesa dari mansion, masuk begitu saja ke mobil tanpa menunggu dibukakan. Tidak butuh perintah lisan untuk Chihiro sebagai supir di mansion Akashi.

Pandangan sekilas melalui kaca spion membuatnya bergidik. Atasannya tengah suntuk bukan kepalang. Tampang Seijuurou garang sekali, seakan-akan baru saja debat panjang dengan wanita brengsek yang merayu paksa di kantor.

Ingin Chihiro tertawa, tetapi nanti gunting melayang. Beruntung wajahnya dari lahir sudah datar dan termasuk makhluk paling skeptis di dunia. Menahan tawa sudah biasa.

Tak ada percakapan yang terjadi selama dua jam berikutnya. Chihiro bukannya sayang nyawa, tapi sayang pada buku-buku bacaan ringan bergambar lolita-lolita imut–salah satunya bernama Riko-tan. Ia tak rela kalau nanti jadi serpihan serbuk jika Seijuurou makin bete karena salah bicara.

Mendekati tengah hari, jalan raya semakin padat. Nasib baik, mobil sudah keluar dari Kyoto. Chihiro sudah hapal rute terbaik menuju Tokyo, karena nyaris tiap akhir pekan ia Tokyo.

Untuk apa?

"Stop, Chihiro."

Itu perintah. Mata Seijuurou menangkap toko boneka besar dengan merek ternama. Toko kelas tinggi, memang. Chihiro lebih suka mendatangi toko lain kalau boleh jujur.

Mobil diparkir. Oh, apa Chihiro baru saja melihat cafe yang menyediakan berbagai macam kue panggang dengan banyak gula di sebelahnya?

"Boneka yang kusuruh beli itu murahan semua. Seharusnya kau cari yang berkualitas."

Chihiro melenguh, tidak mengiyakan tapi juga tidak membantah. Ia memilih duduk manis menunggu atasan yang keluar dari dalam mobil menuju toko boneka.

Memang yang berkualitas itu bagaimana? Toh, sama saja. Boneka hewan atau benda, luarnya kain berbulu lebat, dalamnya dakron. Yang membedakannya paling; besar, warna, dan harga.

Mata kelabu melirik jam tangan, jarum pendek menunjuk angka sebelas dan jarum panjang ke angka tujuh. Buku novel diambil dari dalam laci mobil. Tak berniat membantu atasan, toh, paling kena omel. Disalahkan terus.

Seijuurou kembali sesaat sesudah jarum panjang melewati angka lima. Ia membawa boneka beruang besar warna merah jambu dan keranjang piknik berisi bergelas-gelas susu kocok vanilla dan seloyang kue stroberi berkrim vanilla yang banyak.

"Hai, Dad." Chihiro iseng bergurau. "Yakin masih ada tempat menyimpan boneka?"

"Akan kubangun rumah baru sebagai rumah bonekanya."

Sinting.

Chihiro tak mau bicara lagi.

Seijuurou merapatkan coat cokelatnya begitu ia duduk nyaman di kursi mobil. Boneka duduk bersisian dengannya, keranjang dipangku.

Baiklah.

Seorang Seijuurou Akashi sekarang dipertanyakan tingkah polahnya. Ia pusing karena belum menyeimbangkan diri usai sidang debat dengan Seto, malamnya dituntut menantu oleh Masaomi.

Hari ini ia Tokyo, bukan menyuruh Chihiro ke Tokyo seperti biasa. Ia sendiri yang membeli boneka dan susu kocok vanilla.

Mau apa pria ini?

Izinkan Seijuurou untuk bernostalgia sejenak. Dimulai dari saat ia masuk tim basket SMP.

Di masanya dulu, mungkin ia dipanggil kapten dari Kiseki no Sedai. Ha! Itu bukanlah suatu kebetulan. Tapi Seijuurou lebih suka menyebutnya sebagai kelompok paling absurd.

Dimulai dari Ace, Daiki Aomine. Diakui pemain basket terlihai dengan kecepatan tidak biasa. Namun juga pencetak rekor bolos paling banyak hanya untuk membaca majalah porno Mai-chan. Mengapa ia bisa lulus, itu masih berupa tanda tanya.

Lalu ada Shintarou Midorima. Sekilas, sih, seperti anak kutu buku biasa yang ahli melempar. Tiap hari rutin menonton Oha Asa dan rajin berkeliling mencari barang aneh yang diakui lucky item.

Kemudian, Atsushi Murasakibara. Bayi besar kesayangan Seijuurou. Cuma sekali ia membantah karena tidak mau latihan, lainnya selalu menurut asal boleh ngemil segunung kue. Diam-diam Seijuurou tak suka perbedaan tinggi mereka dan rajin mengomel jika ketahuan lomba makan dengan Taiga dan Daiki.

Ada pula Ryouta Kise, si model. Kalau boleh jujur, dia yang terpayah. Bakatnya cuma meniru, tak ada yang asli kreasi diri sendiri. Easy going dan tergolong hobi merajuk.

Terakhir, Taiga Kagami. Satu-satunya yang mampu menyaingi anggota lain–apabila main berkelompok. One on one, telak dikalahkan, melawan Ryouta saja tidak bisa. Walau berkemampuan melompatnya luar biasa, tapi temperamental dan cepat naik darah. Tak jarang langganan kursi cadangan bergantian Ryouta.

Oh, nyaris lupa. Manajer tim basket mereka, Satsuki Momoi, yang namanya kini berganti Satsuki Aomine. Menurut orang, seksi dan berdada besar. Menurut Kiseki no Sedai, wanita hobi bikin skandal dan terang-terangan menjunjung homo itu asupan bergizi.

Yang ingin ditegaskan adalah beberapa tahun setelahnya. Begitu Daiki dan Satsuki menikah, tujuh tahun malaikat mungil muncul dengan keterangan tegas, anak bungsu Daiki.

Rambut biru sewarna langit musim panas.

Detik itu juga, Seijuurou telak bersumpah akan mengangkatnya menjadi anak resmi.

Sama sekali tak mengindahkan kacamata retak; burger keju dan keripik kentang jatuh; atau seruan kaget tidak percaya.

Apa barusan dalam hati menyebut kata "pedo"?

xXx

To Be Continue

xXx