:) Untungnya fict saya tidak keluar dari tema Dream. Ah senangnya. Terimakasih yang sudah menyempatkan membaca. Dan seorang Guest yang menyempatkan Review
Selamat menikmati.
.
Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki & Yusuke Murata
Aku Kamu dan Impian kita © Saitou senichi
.
Perhatian! AU, Kekurangan disana-sini, OOC (kuharap tidak terlalu), bukan SARA, setting tempat diambil dari jaman perang dunia ke II. No Pairing just relationship of Family. And Rush plot!
Kritik, saran, Kesan diterima dengan senang hati.
.
Dijaman yang seperti ini. Mimpi-mimpi anak kecil seperti kami sudah tidak ada harganya. Jangankan mimpi, bahkan nyawa anak kecil seperti kami pun sudah tidak memiliki harga. Ah mungkin hadir dipangkuan Tuhan lebih menyenangkan dibandingkan hidup di dunia dengan penuhnya keserakahan.
.
Suzuna terbangun dengan senyum yang mengembang. Aku senang sekaligus dibuat takut oleh senyumnya. Kami masih dipinggir sungai. Dan matahari tidak terlalu terik lagi. Aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
"Kakak."
"Iya? Suzuna," aku memperhatikan tangannya yang memetik bunga tapopo. Terlihat giginya yang ompong ketika ia tersenyum lebar lalu menyodorkan aku bunga yang tadi ia petik.
"Ini untuk kakak," ia kembali memetik setangkai. "Dan ini untuk Suzuna."
Aku mengambil bunga yang ia petik. Kemudian ia memasukan bunga itu ke dalam kantung kecil yang selalu ia bawa dibalik baju usangnya. Alisku bertaut, bingung akan apa yang tengah ia lakukan. "Kenapa dimasukan kedalam kantung?" tanyaku.
Dia mendongak lalu kembali tersenyum. "Oleh-oleh untuk Ibu," suaranya yang serak membuat kalimat yang tadi ia ucapkan tidak begitu terdengar. Ah iya, Ibu menyukai rangkaian bunga. Dan Suzuna ingat akan hal itu. Ternyata ia berencana membuat rangkaian bunga dari semua bunga yang kami temukan disepanjang jalan.
"Semoga tidak layu," aku bergumam sembari tersenyum.
.
Jika ada jalan menuju impian disebut usaha. Kami sedang melewatinya.
Ya... Kami rasa...
.
Berhari-hari aku berjalan menyusuri jalan setapak ini. Berkali-kali aku melihat desa yang lain telah porak poranda. Aku harap desa kami tidak hancur.
"Kakak. Aku lapar," Suzuna bergumam digendonganku. Suaranya begitu lirih.
"Ya. Jika kita menemukan sungai, akan kakak ambilkan ikan."
Beberapa hari ini kami sedikit kelaparan. Mungkin karena mendekat kearah peperangan atau apa? kami tidak tahu. Yang pastinya disepanjang jalan ini, pepohonan hangus. Tanah menjadi gersang. Tidak ada buah. Meski tadi kami melewati perkebunan semangka, aku tidak pernah menyesal untuk tidak mencuri buah yang sudah matang itu tanpa penjaganya. Aku tidak mau membebani kedua orangtuaku dengan dosa. Oh Tuhan, kuharap Engkau melihat kami. Memberikan solusi untuk kami.
Telunjuk mungil Suzuna mengarah kesana. Kearah sungai kecil yang mengalir. Aku segera berlari. Tidak peduli dengan kulit kakiku yang sudah mulai menebal. Ketika berada di tepian sungai, senyumanku hilang.
"Kakak. Itu ikannya banyak sekali," ucap Suzuna dengan nada riang.
Disana, disungai itu memang banyak sekali ikan. Tetapi ikan yang sudah mati, mengambang. Dalam hati aku tidak ingin mengambilnya, tapi aku takut jika sungai ini memiliki limbah yang membuat ikan-ikan itu mati. Sembari menengguk ludah aku berbisik, "Suzuna. Kita tahan sebentar lagi ya?"
"Aku tidak mau! Aku lapar kakak!" Suzuna menangis sembari mengguncang-guncangkan tubuhku. Isakannya melemah karena lapar.
Ingin sekali aku marah. Bukan hanya kamu saja yang lapar, tapi aku juga! Namun segera kutepis pikiran itu. Dia masih kecil, wajar saja Suzuna terkadang merengek. Aku turunkan Suzuna, lalu mulai turun ke dalam danau. Mengambil beberapa bangkai ikan yang mengambang. Mengambil pisau yang berada di dalam tas aku mulai membersihkan ikan.
"Biar aku bantu! Biar aku bantu!" ucapan riang Suzuna membuatku tersenyum.
Kami makan ikan bakar. Rasanya hambar namun nikmat, ujung mataku menatap Suzuna yang beberapa kali tersedak. Mataku panas, sebegitu tidak bergunanya kakak sepertiku. Membuat anak kecil kelaparan. Ketika malam tiba dan Suzuna tengah terlelap. Aku menangis... aku hanyalah anak berusia sebelas tahun. Harus menghadapi ini sendirian. Setiap detiknya saat perjalananku, keyakinan akan kembali bersama dengan Ayah Ibu semakin menipis. Bagaimana jika kedua orangtua kami meninggal?
.
Ketika kita berjalan menuju Impian, terkadang kamu terjatuh lalu berpikir keras;
"Akankah mimpiku terwujud?"
Ketika kita berada dititik terbawah didalam kehidupan, ketika semua terasa tidak mungkin. Percayalah pada satu hal.
Entah dimana atau siapa, seseorang masih memperhatikanmu.
Berharap kamu menjadi salah satu manusia yang mampu menggapai Impian.
Jangan kecewakan mereka. Maupun dirimu sendiri.
.
Siang itu menjadi siang yang terik. Beberapa kali kami berteduh. Ini sudah hari ke empat belas, tapi mereka belum juga sampai. Apakah kami tersesat? Tiba-tiba suara debuman keras diiringi angin kencang melewati kami. Dengan gerakan cepat aku berbalik lalu memeluk tubuh Suzuna. Kami terpental sembari berteriak. Rasa panas menjalari seluruh tubuh. Ketika aku mendongak disana dilangit terlihat awan berbentuk jamur raksasa.
Tubuhku gemetar hebat. Kakiku tak bisa digerakan, adikku masih berada dibawahku dan beberapa kali terbatuk. Mereka menjatuhkan bom disana.
"Kakak. Dadaku sesak."
Aku melihat keadaannya. Debu hitam menutupi wajah kami. Tiba-tiba aku merasakan gejolak didalam perut. Seakan-akan ingin seluruh isi perut hancur dan ingin keluar didalam rongga mulut.
"Hueeekkk. Hueeekkk."
Kami berdua muntah. Tak kunjung berhenti, membuat seluruh tubuhku melemas. Suzuna beberapa kali menangis tak kuat terus menerus muntah. Kami berbaring disana, dekat reruntuhan pohon. Aku mengelus-elus kepala Suzuna. Terasa panas ditanganku. Dia demam. Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Tubuhku lemas. Aku mulai menangis dihadapan Suzuna.
"Ma..maafkan kakak," isakan tangis membuat kalimatku terbata-bata, "kakak tidak bisa."
"Kakak.. hiks," Suzuna pun menangis. "Ja...jangan menangis."
Aku putus asa. Impian kami sudah tidak bersisa, bagaimana cara kami pulang jika tubuh tidak bisa digerakan. Dan bagaimana jika bom itu mengenai desa kami? Rumah kami? Ayah? Ibu? Entah kami menghabiskan waktu berapa jam hanya untuk menangis sembari terbaring begini. Perlahan namun pasti, suara Suzuna mulai menghilang. Dia tidur.
Aku memandang langit, tidak ada bintang disana. Hanya hitam dan bebauan busuk yang menyesakan dada. Tenggorokanku kering. Rasa panas itu masih ada, seperti melepuh.
"Ketika matahari terbit, cahayanya menembus bilik-bilik jendela. Terdengar pula suara gemerisik di dapur, disanalah Ibu."
"Ketika bulan datang, menaungi malam. Terasa angin dingin menembus kalbu. Kami dan Ibu terduduk dihadapan pintu, menunggu sesuatu... ketika pintu terbuka, disanalah Ayah."
Aku menyanyikan lagu yang selalu Ibu gumamkan ketika hendak tidur maupun saat menunggu Ayah pulang. Suaraku seperti cicitan tikus, sedikit sumbang. Air mataku kembali turun. Aku tertidur.
.
.
"Mamori... Peganglah tangan Ibu."
.
.
Aku bermimpi tentang Ibu lagi. Ingin sekali aku genggam tangan Ibu. Tapi ketika ingin kugapai tiba-tiba tangan ibu berubah menjadi debu. Begitu juga Ayah.
"Kakak.."
Suara lirih Suzuna membangunkanku. Mataku terbuka, ini siang atau masih malam? Aku tidak mengetahui waktu karena dilangit masih terlihat gelap. Ketika aku menoleh kearah Suzuna, hatiku semakin miris. Lekukan cekung terlihat dikedua pipinya yang dahulu tembam. Mata violetnya terasa redup. Namun dia masih tersenyum. Dengan kekuatan yang tersisa aku bangun lalu terduduk. Dengan perlahan-lahan aku meletakan kepala Suzuna didalam pangkuanku.
"Iya."
"Terimakasih."
Aku ketakutan dengan kalimatnya. Namun dengan sekuat hati aku tersenyum, membalas senyumannya. Terdengar gemuruh diatas langit. Sepertinya akan hujan.
"Kau haus Suzuna? Sebentar lagi hujan," Suzuna mendongak.
Ketika titik air turun membasahi kami. Entah mataku yang salah atau memang hujan itu berwarna hitam? Lidahku terjulur begitu pula Suzuna. Merasakan tetesan air hitam itu. rasa aneh mendera lidahku. Rasa pahit terasa. Namun aku tetap mengecapnya, rasa haus itu membuatku otakku tidak berpikir panjang.
.
Ketika hati tak mampu lagi berharap.
.
Aku rasa sudah berhari-hari kami seperti ini. Aku terduduk dan kepala Suzuna berada dipangkuanku. Semakin lama Suzuna semakin kurus. Terkadang ia tertidur lama sekali, dan keetika bangun ia selalu berkata; kakak. Apakah masih belum sampai? Hatiku miris sekali. Hingga hari itu tiba.
Suzuna membuka matanya dengan perlahan. Aku hanya tersenyum melihatnya. Dengan suara serak ia berkata:
"Kakak..." aku mengelus dahinya. "Tadi aku bertemu Ayah dan Ibu," aku menangis. "Mereka mengajakku..." air mataku membasahi dahi Suzuna. "Tapi aku bilang 'sebentar' karena kakak belum datang."
Sembari terisak aku berkata; "Suzuna... jangan tinggalkan kakak."
Suzuna tersenyum. Tangan kurusnya merogoh sesuatu dibalik baju, mengeluarkan bungkusan itu. Bungkusan yang selalu ia isi dengan berbagai macam bunga. Kemudian ia mengeluarkan bunga tanpopo dan memotong batangnya. "Aku... mau merasakan... permen bunga lagi."setiap kalimat ia ucapkan dengan suara rendah. Aku mengambil bunga yang disodorkan itu. Aku tahu ini bukan bunga yang waktu itu. Tapi setidaknya mungkin rasanya akan sama.
Ketika aku akan memberikan bunga itu lagi. Matanya terpejam. Suzuna tertidur?
.
Hanya mampu menangis. Hanya bisa menyalahkan orang lain, lalu diri sendiri.
'
Hujan hitam itu kembali membasahi bumi hangus. Seorang gadis kecil menangis terisak sembari menggali tanah disampingnya. Tangannya lecet memerah.
.
Impian kami tidaklah muluk. Kami ―Aku dan adikku hanya ingin bertemu Ayah Ibu, lalu berkumpul dan makan bersama.
.
Meski sudah lewat dari beberapa minggu. Anak itu masih hidup, dengan wajah kotor. Ia duduk dengan kedua lutut yang didekatkan dengan dada. Ia minum dari tetesan air hujan. Ia makan dengan kelopak bunga yang ada dalam bungkusan. Tidak memungkinkan untuk bertahan. Namun kenyataannya ia masih hidup.
Suara deru ban menggema disekitar anak itu. Namun ia sama sekali tidak terusik. Mata langitnya masih menatap tanah datar dengan satu buah bunga layu dengan sayu. Hingga sebuah kendaraan berhenti disampingnya. Suara hentakan sepatu mendekatinya. Ia tidak bergeming.
Mata emerald jendral itu menatap sosok anak kecil dengan pandangan pongah, lalu kearah tanah dengan bunga layu diatasnya. Namun ia tidak mengatakan sesuatu.
"Jendral Hiru?" seseorang dengan mata merah mendekati jendralnya. Lalu menatap anak kecil itu, "korban yang masih hidup? Hebat sekali."
"..."
"!" mata prajurit itu membulat ketika melihat jendralnya menggendong anak perempuan bermata langit itu. "Jendral! Mungkin saja radiasi Nuk―"
"Kau terlalu banyak bicara Akaba."
Jendral itu berjalan menuju kendaraan itu dengan anak bermata langit― Mamori di pangkuannya. Mamori hanya diam dengan tatapan kosong. Begitu pula yang membawanya― jendral Hiruma. Mereka berjalan meninggalkan tanah yang menjadi kuburan Suzuna. Langit mendung tertiup angin. Melesakan sinar matahari yang menerpa tanah itu. Ketika kendaraan itu pergi meninggalkan tempat Mamori tadi. Sebuah bayang transparan terlihat. Anak kecil dengan mata violet. Ia melambaikan tangan kearah kendaraan yang menjauh.
.
Ketika kamu merasa impian tak bisa digapai. Tuhan selalu tahu usaha apa yang telah kamu lakukan selama ini.
Dan Tuhan akan memberikan balasannya.
Mungkin mengabulkan Impian yang terbaik untukmu. Ya semoga saja.
.
"Jadi, Mamori... meski kamu tidak berkumpul dengan kami... kamu masih bisa berkumpul dengan keluargamu yang kamu buat."
.
.
.
.
― The End
.
A/n : Selesai dengan hasil yang kurang memuaskan (frustasi) maafkan saya reviewr. Maafkan saya penduduk fandom ini. Maaf kalau saya hanya nyampah. Well akhir kata terimakasih yang sudah membaca dan mereview.
Terimakasih.
―Saitou senichi―
