Judul: Man in Memories

Fandom: Gintama

Disclaimer: Hideaki Sorachi

Genre: Crime

Rating: T

Charas: Okada Nizou & Takasugi Shinsuke

WARNING: Possible OOC-ness

NOTE: Bagi yang tahan baca fic model begini dan tetep baca ampe sini, saya haturkan terima kasih.. *tabur bunga*

Well, enjoy..


Man in Memories


.

Pernahkah kau perhatikan ngengat di malam hari?

Mengepakkan sayap tipisnya ia melayang di udara yang dingin, menembus kegelapan malam.

Apa yang ia cari?

Cahaya yang berkerlip samar dari lampu neon kota.

.


Orang bilang dunia ini terbentuk dari mimpi yang menghampar luas di bumi. Harapan yang bermanifestasi menjadi impian, untuk kemudian bermetamorfosis menjadi kekuatan.

Atau paling tidak, itulah yang tertanam dalam benak Nizou. Deretan kata tanpa makna.

.

.

"Kasus pembunuhan berantai yang dilaporkan hingga saat ini telah mencapai sembilan korban. Lima di antaranya adalah dari golongan Jouishishi, sementara empat lainnya adalah warga sekitar. Perkiraan hingga saat ini adalah 'Tsujigiri'. Tempat kejadian selalu di sekitar sungai Kanda, terutama di jembatan Mishima.

"Dari saksi mata yang melihat dari kejauhan, yang bersangktuan melaporkan bahwa pelakunya adalah seorang pria setengah baya yang mengenakan kacamata berwarna gelap dan berambut kelabu. Di tangannya terlihat sebilah pedang panjang berwarna kemerahan yang memantulkan cahaya rembulan tengah malam. Saat ini—"

Nizou mematikan layar televisi di hadapannya. Kedua tangannya terentang di sandaran sofa merah pekatnya, sementara kepalanya tertunduk dalam.

Senandung lagu klasik yang bergema di udara dari piringan hitam di atas meja kopi di sebelah sofa empuknya, menjadi satu-satunya tanda kehidupan dalam ruangan lengang itu.

"Bukan merah," tiba-tiba ia memecah keheningan dengan suara beratnya. "Ungu. Warna yang paling disukai oleh dia."

Suaranya yang rendah tersapu angin malam yang menerobos masuk di antara celah kusen jendela.

Hening kembali menyesap untuk beberapa saat, sebelum kemudian ia bangkit perlahan dari tempatnya duduk dan meraih sebilah pedang panjang yang teronggok di pinggiran sofanya.

Melangkahkan kakinya dengan langkah terseret, ia meninggalkan ruangan dengan bunyi derit daun pintu.

.


Jalanan gelap bukan lagi pemandangan asing baginya. Bahkan boleh dikatakan, tempat baginya memang jalanan yang gelap dan dingin itu sendiri. Baik dulu maupun sekarang.

Bunyi kepakan sayap tipis tertangkap telinga Nizou yang super sensitif di malam tanpa bulan seperti ini. Perlahan ia membuka kedua kelopak matanya, mencari sumber suara.

Seekor ngengat terbang rendah melewatinya.

Nizou menatap ngengat keemasan yang kini melayang semakin tinggi itu menjauh darinya. Yang dituju ngengat itu adalah cahaya lampu neon jalan yang berkerlip samar.

Tampak terbuai oleh pesona cahaya, ngengat itu menari mengelilingi kap lampu neon dan sesekali hinggap di permukaan kaca neon putih terang itu.

"Malaaam~ berhujan~ mau dibawa kemana~~?" sebuah suara yang terdengar tidak koheren menyeruak keheningan malam.

Nizou terhenti dari langkahnya.

"Hik. Malaaam~ Meraaah~" suara itu kembali terdengar semakin jelas. Dari persimpangan jalan beberapa meter di depan Nizou.

Tampak sekelebat cahaya membayang di permukaan tanah dalam detik berikutnya, diikuti oleh sesosok pria yang berjalan lunglai menenteng lampion di tangannya. Dari bau sake yang tercium pekat, juga dari gerak-gerik sang pria tak dikenal, dapat disimpulkan bahwa pria itu mabuk berat.

"Hm? Siapa kau, hik," pria itu menghentikan langkahnya dan menatap Nizou dengan pandangan mata kaburnya.

Nizou tak menyahut.

"Hei kauu~ hik. Hati-hati…di sekitar jembatan Mishima ada Tsujigiri setiap menjelang tengah malam. Hik."

Nizou menarik sudut bibirnya, "Hoo? Kalau begitu kenapa kau malah berkeliaran di sini?" ia membetulkan letak kaca matanya.

"Ng? Aku? Aku hik? Aku tidak takuuut~ Hik."

Dengan kalimat terakhirnya itu sang pria asing membalikkan badannya memunggungi Nizou, mulai melangkah pergi. Senandung tak koheren kembali meluncur dari ujung lidahnya.

"Merah~ mau dibawa kemana~?"

Tanpa suara Nizou mengendap di belakangnya. Sebilah katana dingin di tangannya tampak seperti logam hitam pekat.

"Malam…hik berhujaaan. Hik. Daraaah."

Satu meter jarak antara ia dan sang calon korbannya itu kini, dan ia mulai mengayunkan katana di tangannya.

"Mau dibawa kemanaaaa—"

"Salahkan dirimu sendiri yang tidak takut pada Hitokiri Nizou," Nizou menyeringai di sudut bibirnya dan menukikkan tajam katana panjangnya tepat ke leher pria malang itu.

"—nyawamuuu—"

CRASH

Cairan kental merah pekat berbau amis semerbak memenuhi atmosfer udara. Suara ambruknya tubuh tambun dan benda bulat yang terbentur ke dinding pemukiman penduduk menjadi penutup dari lantunan melodi derasnya aliran liquid hangat yang menghambur kencang dari sosok di bawah kaki Nizou.

Menatap sosok tanpa kepala itu, Nizou membisu untuk beberapa saat.

"Nyawaku? Akan dibawa iblis."

Awan gelap yang menghalangi bulan tersibak perlahan. Sinarnya yang terang membiaskan cahaya ungu yang berkilau dari pedang besi di tangannya.

.


"Oi, Nizou! Apa isi tempurung kepalamu itu kosong? Jangan kau pikir aku tidak tahu ya, kau seenaknya saja membantai orang di sana-sini asal-asalan hanya untuk menguji Benizakura, apa kau tidak memikirkan konsekuensinya? Jika Takasugi-sama—"

"Tutup mulutmu, betina," Nizou melirik dengan sudut matanya.

"Apa katamu? Berani sekali kau berkata begitu pada seorang keturunan Kijima sepertiku!" Kijima meencabut senapan mesinnya dari sarung pistol di pinggangnya.

"Mari kita hentikan sampai di sini," suara lain menyeruak sebelum menyarangkan pukulan di tengkuk Kijima dengan keras.

"Ukh! Ta-Takechii kau…." terkulai ambruk di lantai, Kijima menggigit bibirnya dalam amarah tak terbendung, sebelum akhirnya kesadarannya menipis dan lenyap.

"Hm, ini bukan gayaku untuk melakukan kekerasan pada wanita. Tapi membiarkan kedua rekanku berkelahi juga bukan sikap seorang gentleman," Takechi berbungkuk dan membopong Kijima.

"Hati-hati dengan kata-katamu, babi busuk," suara rendah Nizou kembali bergema di udara. "Kau tak ada bedanya dengan perempuan jalang itu. Jangan samakan aku dengan makhluk berderajat rendah seperti kalian," ujarnya pelan dan penuh penekanan.

Ujung alis Takechi berkedut. Namun dengan tenang ia menyunggingkan senyum, "Bukan berarti aku senang memiliki rekan sepertimu ataupun Kijima. Tapi sebaiknya kau ingat kembali untuk apa kita berada di sini dan kenapa kita berada di sini. Takasugi-sama tidak akan senang melihat Kiheitai terpecah karena konflik internal yang sebetulnya bisa diselesaikan baik-baik dengan kepala dingin."

Nizou mendecak, "Aku muak dengan gaya bicara sopan dengan senyum palsumu itu. Kelak pasti kutebas lehermu hingga tak bisa bicara omong kosong lagi," ia beranjak melangkahkan kakinya. "Juga si betina itu."

.


Jika ada hal yang membuatmu tidak senang, musnahkan.

Ajaran yang terpatri dalam benak Nizou semenjak dirinya kanak-kanak.

Orang tua yang datang menjelang petang, membawa sekantung uang dengan bau amis mengambang di udara.

Nizou, malam ini kita akan makan malam enak.

.

Bagi dirinya yang hanya mengenal cara untuk menghancurkan, Kiheitai adalah sebuah kesalahan.

.

Jika ada hal yang kau inginkan, rampaslah.

Bunyi remukan tulang yang bersahut-sahutan bergaung menyusup selaput gendang telinganya.

Nizou, hari ini kau dapat apa?

.

Bagi dirinya yang hanya mengenal cara untuk merebut, Kiheitai adalah suatu kesalahan baginya.

.


"Apa kau merasa puas dengan hal kecil seperti ini?"

Sebaris kata-kata yang terucap dengan sangat tenang. Meluncur keluar dari bibir tipisnya yang menyunggingkan senyum samar.

Kimono magenta bercorak kupu-kupu emas melambai dimainkan angin malam, membiaskan cahaya bulan penuh yang tergantung hening di langit kelam.

Rambut hitam pekatnya berdesir perlahan diterpa angin sepoi, membuat helaian rambut yang menutupi sebelah matanya menari perlahan. Tampak balutan perban putih tersembul di balik rambut yang menutupi mata kirinya.

Tanpa sanggup mengalihkan pandangannya sedikitpun dari sosok di bawah rembulan itu, Nizou membiarkan mulutnya terkunci rapat.

"Hitokiri Nizou…pembantai dari klan Okada yang turun-temurun bekerja sebagai pembunuh bayaran…"

Bagaikan suatu ilusi, sosok yang bercahaya di tengah kegelapan malam itu kembali mendendangkan suara baritone-nya yang lembut dan renyah.

"Biar kuperlihatkan padamu. Festival besar yang akan menghancurkan segalanya."

Hanya dengan tiga baris kalimat di malam senyap, jiwa Nizou terbelenggu dalam pengabdian absolut tanpa logika.

.


Namun Kiheitai adalah kesalahan baginya.

Ia tak lagi dapat sesukanya memusnahkan yang tak disukainya, tak lagi dapat sesukanya merampas yang diinginkannya.

Kebebasan yang diberikan Takasugi kepadanya dibayarkan dengan kesetiaannya pada Kiheitai.

Persetan dengan Kiheitai.

Yang ia pikirkan bukan Kiheitai. Yang ingin ia jaga bukan Kiheitai. Yang ingin ia dapatkan bukan Kiheitai.

.

.

Bunyi sirine polisi bergema membelah malam.

Nizou terhenyak dari lamunannya.

Semenjak ia menggunakan Benizakura, pedang itu kerap kali meminta kurban. Seolah dapat ia rasakan denyut kehidupan dari pedang dalam genggamannya itu. Sama seperti malam-malam sebelumnya, pedang itu bergetar merajuk minta dimandikan dengan darah segar.

Yang mengusik Nizou adalah kenyataan bahwa pedang itu membawa bayang-bayang masa lalu kembali dalam ingatannya. Memproyeksikan hal-hal yang membuatnya mual dan tidak tahan. Membuat kepalanya berdenyut keras seperti hendak meledak.

Ia tidak tahu lagi mana yang masa lalu dan masa kini. Segala yang ada di sekitarnya bagaikan ada dan tiada.

"Itu dia! Kejar!" bunyi teriakan dan derap langkah rombongan orang berbalut seragam polisi kota tampak mendekat ke arahnya di kejauhan.

Menegakkan badannya, Nizou mengibaskan pedang hitam bercahaya keunguan itu di udara.

Saatnya mandi darah, Benizakura.

.


"Bansai! Bansai! Aku sudah tidak tahan dengan si Nizou itu! Katakan pada Takasugi-sama untuk membuangnya. Kita tidak butuh dia. Kiheitai tidak butuh dia. Bansai!"

"Benizakura ada di tangan Nizou. Silakan lawan saja dia langsung kalau kau mau."

"Kenapa bicaramu seperti tidak peduli begitu, Bansai? Apa kau tidak keberatan dengan tingkah si Nizou itu? Kenapa takut dengan Benizakura? Lagipula jika pedang itu sehebat itu, kenapa Takasugi-sama malah memberikannya pada Nizou? Kenapa kau membiarkannya?"

"Sudah kukatakan. Tidak ada yang lain yang lebih sesuai untuk Benizakura selain Nizou."

"Kenapa begitu? Sebetulnya… Apa Benizakura itu sebenarnya?"

"…"

"Bansai!"

"Iblis dalam hati manusia. Pedang iblis yang akan menggerogoti jiwamu. Mengoyak tubuhmu hingga ke tulang sumsum, meremukkan tulang-belulang di sekujur tubuhmu. Namun yang habis dimakannya adalah jiwa."

"…?"

"Nyawa dan raga adalah hal kedua yang akan dikuasainya setelah ia menghancurkan jiwamu ke dalam ketiadaan yang tak berdasar. Pedang yang merenggut segalanya darimu hingga tak satupun kau miliki lagi bahkan kewarasanmu. Kau hidup, sebagai boneka perang Benizakura. Dengan kata lain, kau akan mati dalam penderitaan setelah menggunakan Benizakura."

"!"

.


Ketika kegelapan yang teramat pekat membelenggumu dengan begitu kuat hingga kau rasakan tubuhmu membeku dalam dinginnya kehampaan, pada saat itulah titik cahaya akan hadir.

Kegelapan yang sempurna yang melahirkan cahaya.

Dongeng tak nyata pengantar tidur bagi Nizou kecil, yang selalu dipaparkan oleh ibunya di atas dipan tanpa kasur di malam yang dingin menggigit kulit.

"Kelak, sesuatu yang menyenangkan akan tiba, sekalipun jalan yang kita lalui penuh derita."

Dan yang ditemukannya dalam penantian tiada akhirnya adalah kupu-kupu emas yang terpeta di permukaan kimono magenta. Takasugi Shinsuke.

Bukan hal yang menyenangkan yang seperti ibunya pernah janjikan kepadanya. Bukan pula sinar terang yang membuatnya merasa hangat.

Sinar yang begitu kecil, bagaikan sebuah titik cahaya tanpa pelita. Namun dalam kegelapan yang pekat dan tanpa dasar ini, cahaya itu terlihat begitu terang. Walaupun kecil dan jauh, namun cahaya itu ada. Bersinar dengan kuat di ujung sana. Hawa dingin tidak sama sekali mengalihkan pandangannya dari cahaya itu.

Bagaikan ngengat yang berkerumun di sekitar cahaya lampu neon kota, bermacam-macam orang menyerahkan pedangnya bagi cahaya pijar itu. Mempersembahkan jiwa dan raga, seolah terhipnotis oleh cahaya memabukkan yang membuat mereka silau oleh cahaya yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.

Bermacam-macam orang berkumpul di sekelilingnya, melangkah bersamanya menuju lorong bercahaya yang ada di ujung sana.

Walau semuanya paham benar. Bahwa yang ada di ujung sana pun bukanlah kebahagiaan yang menyenangkan dan penuh tawa canda. Melainkan kehampaan.

.


"Katsura Kotarou, benar?" Nizou menyeringai lebar.

"Siapa kau?" pemuda berambut panjang yang berdiri membelakanginya tak jauh darinya itu mencondongkan gagang pedangnya, siap mencabutnya kapan saja.

"Hitokiri Nizou. Pencabut nyawamu."

.

.

Darah mengalir deras merembes di permukaan kimono biru tua dan menggenangi lantai jembatan.

Nizou mengangkat pedang di tangannya—yang sudah tak nampak seperti sebilah pedang lagi—dengan seringai puas di bibirnya.

"Zura sudah mati. Berikutnya Gintoki."

.


"Pertarungan yang hanya memakan waktu kurang dari lima belas menit itu dimenangkan mutlak oleh Nizou, bukan, Benizakura. Dari yang kudengar dari percakapan Nizou dengan Gintoki, sepertinya isu bahwa Nizou telah membunuh Katsura Kotarou malam sebelumnya itu benar.

"Nizou menggengam sejumput rambut panjang yang diikat, dan mengaku bahwa itu rambut Katsura yang dipotongnya. Gintoki marah besar dan langsung menyerang Nizou tanpa basa-basi. Dan seperti yang telah kukatakan, diakhiri dengan kekalahan dan kematian Gintoki."

Takasugi menyesap sake dingin dari cawan keramik di tangannya perlahan. Mendengarkan dengan seksama laporan yang disampaikan tangan kanannya itu.

"Bunyi sirine polisi berkumandang sejenak kemudian, dan Nizou meninggalkan mayat Gintoki begitu saja di pinggir sungai sambil tertawa puas. Aku langsung menarik diri ketika melihat beberapa orang dari Shinsengumi muncul di lokasi," Bansai mengakhiri laporannya.

Takasugi tak menimpali untuk beberapa saat. Kedua kelopak matanya terkatup rapat. Bibir tipisnya menyesap sake perlahan.

Bansai menelan ludah. Ia tahu benar, berita ini sungguh tak menyenangkan bagi pimpinannya itu. Walaupun berada di pihak yang berseberangan, tak dapat dipungkiri bahwa masa lalu antara Takasugi, Gintoki, dan Katsura itu tetaplah ada di sana. Membeku dalam ingatan yang terkunci rapat jauh dalam diri Takasugi.

Ia tahu benar bahwa bukan perasaan tidak tega atau belas kasihan yang melingkupi jiwa Takasugi terhadap mantan rekan-rekan seperjuangannya itu. Melainkan sesuatu yang lebih kompleks, yang ia tak paham.

Sekalipun Takasugi pandai melihat jauh ke dalam diri manusia, namun tak ada seorang pun yang sanggup meneropong isi hatinya sendiri. Berusaha memecahkannya pun percuma saja, semuanya lenyap di ujung teka-teki tanpa sisi lubang kunci.

"Bagaimana peranan Shinsengumi dalam kasus ini?" setelah beberapa saat diam dalam hening, Takasugi mulai membuka suaranya.

"Kepolisian belum punya bukti bahwa kejadian Tsujigiri ini ada hubungannya dengan gerakan Joui. Jadi tidak ada campur tangan dari Shinsengumi. Yang mengusut kasus ini hanyalah polisi kota biasa," Bansai berujar lancar.

"Hm, itu bagus," timpal Takasugi kembali menyesap sake dinginnya.

Bansai menatap pimpinannya itu untuk beberapa saat, sebelum kemudian memberanikan diri untuk bertanya, "Bagaimana selanjutnya? Apa Nizou akan dibiarkan begitu saja dengan tingkah tak terkendalinya?"

Hening sejenak sebelum Takasugi kembali menjawab dengan tenang, "Aku akan menemuinya nanti," dengan seringai kecil di bibirnya.

.

.

TBC