My Only One
Disclaimer : Tadatoshi Fujimaki
Rate masih T haha XD #plak
AoXKise
Chapter 2: Puzzle
Aomine POV
"Aomine san!" Aku sedang sibuk memasak pesanan pelanggan saat tiba-tiba teriakan haizaki teme membuat gema di seluruh penjuru resto
'Ada apa lagi ini?' Malas, aku malas menanggapi panggilan haizaki, teman tidak tahu diri. Bahkan untuk mengurusi kasir saja dia tidak becus. Biarkan saja dia mengatasi masalahnya sendiri.
"Aomine san. Ada pelanggan yang tidak bisa membayar makanannya, Aomine san!" Bisakah dia diam, suaranya membuat mood memasakku rusak. Padahal dengan wajah segarang haizaki harusnya dia bisa menyelesaikan masalah seperti itu, aku memberinya pekerjaan sebagai kasir untuk itu kuso. Kuselesaikan memasakku dulu.
Selesai menata sajian di piring aku segera bergegas menuju meja kasir.
'Pelanggan macam apa yang tidak bisa membayar di resto murahan seperti ini. Nenek tua? Kakek mesum? Atau preman sinting dari pertigaan lampu merah?'
Aku sampai di meja kasir dan yang kulihat adalah seorang pemuda, dengan penampilan yang 'Norak'. Apa-apaan itu topi bercorak macan juga jaket pink mencolok, dunia ini pasti sudah gila.
Melihat gelagat Haizaki di meja kasir sepertinya aku memang harus turun tangan langsung. Lain kali akan kuberi pelatihan si Haizaki sialan agar bisa menghadapi pelanggan seperti ini.
Tanpa banyak bicara pemuda itu kubawa ke bench chef. Hei tubuhnya ringan sekali, aku jadi terlihat seperti menggeret paksa tubuhnya.
"Hei lepaskan aku, aku bukan tidak bisa membayar. Dompetku tertinggal di rumah" Alasan persetan keberapa kali aku mendengarnya dari pelanggan macam kau tuan.
Semua mata pelanggan terus memperhatikan saat aku menggeret tubuh tuan yang tidak mau bayar ini. Peduli setan dengan tatapan ngeri mereka padaku.
Sampai di bench kudorong tuan yang tidak bayar ini ke kursi terdekat, merepotkan.
"Hei kau sangat kasar" Hah? Aku tidak salah dengar, siapa yang kasar. Aku? Aku hanya membawamu kesini, salahkan tubuhmu yang terlalu ringan sehingga sangat gampang aku dorong dan geret.
Melihat menu pesanan yang menggantung, sepertinya makanan pelanggan harus kuprioritaskan. Aku bergegas menyiapkan wajan kemudian meracik pesanan pada list menu. Tinggalkan dulu tuan tidak bayar ini untuk berpikir apa kesalahannya.
Dan tuan tidak bayar terlihat sangat tertarik dengan kegiatan memasakku.
'Apa teknik memasakku sangat keren hingga dia menatapku seperti itu' ah pikiran sinting mulai masuk ke otakku.
Dan selesai, aku bisa segera mengurusi tuan yang tidak bayar ini. Raut wajahnya berubah saat aku menghampirinya, terlihat seperti yang ketakutan?
"Namamu siapa?" Aku tak suka basa-basi, aku hanya ingin tahu namanya saja untuk berjaga-jaga siapa tahu resto lain juga bernasib sama karena orang ini. Aku bisa buat poster besar jika iya, sebagai blacklist person bagi pengusaha resto. Kubuat dengan fotonya dengan nama yang dicetak tebal.
"Ryota" dia hanya menjawab itu? Apakah benar itu nama aslinya? Peduli setan. Setidaknya aku hafal wajahnya.
Ok kita lihat bagaimana hasil kuabaikan beberapa menit tadi, apa dia sudah sadar kesalahannya itu apa.
"Kau tahu apa kesalahanmu?" kutanyakan dengan nada terendah yang kupunya, kulihat dia sedikit tertekan. Beberapa saat berlalu dan tak ada respon. Hei tuan yang tidak bayar apa kau tuli? Atau bisu?
"Kutanya sekali lagi Teme! Apa kau tahu kesalahanmu?" sepertinya dia tidak mau dengan sikap ramah. Sedikit penekanan tak masalah kan.
"Euh, aku tidak merasa salah. Aku punya uang, hanya saja dompetku tertinggal. Kau bisa lihat disana?" lengannya menunjuk salah satu mobil di parkiran. Dia pikir aku bodoh bisa dengan mudah mempercayai asumsinya.
"Itu mobilku kau bisa menahannya sementara aku pulang kemudian mengambil uang." Tuan tak bayar ini sepertinya keras kepala. Masih saja terus beralasan. Meh
Waktuku akan habis percuma jika meladeni orang seperti dia. Kulihat pesanan semakin lama semakin banyak, aku tak punya waktu. Kulihat lagi tuan tidak bayar ini. Sepertinya aku punya ide bagus
"Apa kau pikir aku percaya? Sudah banyak orang yang berpura-pura sepertimu, dan mereka memang tidak bisa membayarnya. Kau harus membayarnya jika ingin segera pergi." Kuucapkan dengan penuh penekanan. Dan ini dia apa yang kubutuhkan sekarang
"Membayarnya dengan uang? Atau melayaniku." Meskipun tubuhnya ringan sepertinya tenaganya cukup untuk bisa membantu pekerjaanku disini.
Wajahnya terlihat shock mendengar perkataanku. Apa yang salah dengan memintanya untuk membantuku disini.
"Apa maksudmu? Melayanimu. Aku ini laki-laki. Halo tuan kasar" wait, sepertinya dia salah menangkap apa yang kumaksud.
"Hah?" Aku benar-benar bingung apa yang dia pikirkan sebenarnya, bergerak dari kursi kemudian berdiri dengan cepat dia menatap mataku langsung
"Tadi kau bilang melayanimu? Aku juga punya harga diri masa iya aku membayar makanan yang tak seberapa dengan harga diriku. Dengan tubuhku?" well sepertinya dia ini sangat mesum. Tak kusangka dunia ini sudah gila. Mana mungkin aku mau dengan tubuh kecil, ringan, berdada rata dan juga ber batang? Mai chan ku yang berdada besar masih menjadi idaman disetiap imajinasi liarku.
"Otak busuk apa yang kau punya sebenarnya" tak habis pikir aku
"Oh, bisa kau perjelas. Siapa yang kau panggil sebagai otak busuk?" pelanggan yang merepotkan
"Maksud melayani yang kau salah artikan adalah kau yang tidak bisa bayar makanan yang kau makan tadi harus membantuku menyelesaikan pekerjaan merepotkan disini. Di dapur ini. Mulai dari mencuci peralatan, membantuku memasak, juga membersihkan dapur." Karena otak mesumnya aku harus berbicara sepanjang ini, merepotkan.
.
.
.
Kise POV
Apa aku barusan tidak salah mendengar? Oh tuhan kurasa wajahku sudah sangat merah sekarang. Sejak kapan kau mulai bodoh seperti ini kise. Melayaninya kata itu terus menggema di kepalaku barusan dan kupikir dia itu gay? Ok lupakan bagian ini, sekarang hadapi kenyataan bahwa kau sudah salah paham kise.
"Apa maksudmu?" Aku membentaknya setidaknya agar dia lupa dengan kebodohanku tadi
Kulihat dia hanya mendengus, menghela nafas kemudian beranjak dari hadapanku sembari melepas pakaian chefnya. Terlihat tubuh atletis yang sangat kentara dilapis kaus tanpa lengan yang tipis. Ok lupakan hal ini, kurasa otakku benar-benar sedang tidak beres hari ini
'Fokus kise fokus' aku meracaukan ini dalam hati. Oh tuhan aku benar-benar ingin segera pulang hari ini.
Normal POV
"Apa maksudmu? Apa kau gila. Aku juga punya pekerjaan" Kise setengah berteriak, ini teriakan kedua setelah teriakan pertama yang bahkan tidak dihiraukan aomine.
Aomine masih tidak bergeming, pakaiannya sudah berganti menjadi kemeja biru tua melapisi tubuh atletisnya yang hanya berbalut t-shirt tanpa lengan berwarna putih, nampaknya aomine tidak berniat mengkancingkan kemeja itu.
Selesai dengan kemejanya aomine segera berbalik
"Jadi maumu apa?" tatapan menusuk aomine sepertinya membuat kise kehilangan nyali
Kise hanya menunduk.
"Kau tidak bisa bayar, lantas kuberi alternatif untuk membayarnya dengan melayaniku di resto ini. Kemudian kau malah berpikir hal yang tidak-tidak, lantas kujelaskan lagi kemudian kau bilang kau punya pekerjaan, jadi kau ini mau bayar atau tidak. Aku juga punya pekerjaan selain mengurusi pelanggan merepotkan seperti kau. Dan satu hal, pakaianmu norak"
Aomine mengatakannya dengan satu nafas. Kise masih menunduk, ekspresi wajahnya tak terlihat. Aomine mendengus, lagi. Beranjak pergi dari resto melalui pintu terdekat dari bench tempatnya biasa memasak
"Haizakiiii. Aku pergi sebentar ke lapangan basket di persimpangan jalan" Teriakan aomine menggema seiring sosok aomine yang perlahan tak terlihat saat pintu tersebut tertutup perlahan. Meninggalkan Kise yang masih menunduk.
Hening sejenak
"Apa-apaan ini sebenarnya" entah pada siapa kise meracau
Menegakkan wajahnya, kise segera menerjang pintu yang baru saja tertutup kemudian berlari kencang. Terlihat sosok aomine yang berjalan santai dihadapanya, kise mempercepat larinya. Jarak mereka tak lagi sejauh tadi, dengan kecepatan lari yang masih sama lengan kise terjulur menggapai sesuatu, lengan aomine.
"Hei" kebisingan jalan berbaur dengan teriakan seorang aomine yang oleng saat lengannya mendadak ditarik paksa oleh kise yang masih berlari.
.
.
.
Kegiatan berlari dan menarik tadi berakhir di sebuah persimpangan lain dengan layar digital yang sangat besar menempel di sebuah gedung. Mereka terengah, kise mendongkak menatap layar digital yang sedang menampilkan sebuah iklan promosi untuk album salah satu idol grup.
Lengan mereka masih terpaut, mereka masih fokus dengan kelelahan masing-masing. Lengan kise yang lain terangkat ke udara, menunjuk layar digital yang sudah berganti menjadi iklan salah satu parfum terkenal, seorang pemuda terlihat sangat memukau di iklan tersebut.
"Hei, kau mau tahu apa pekerjaanku?" aomine masih sibuk bernafas saat suara kise mencapai pendengarannya. Posisi aomine setengah berjongkok dengan wajah menghadap trotoar, satu lengannya menyentuh lututnya dan lengannya yang lain dalam genggaman kise.
Menegakkan tubuhnya, tatapannya langsung terfokus pada arah yang ditunjuk kise
"Itu pekerjaanku, dan kau lihat pemuda dengan senyuman menyilaukan itu? Itu aku" kise berbalik tepat mengahadap wajah aomine yang masih terpaku pada tayangan di layar digital.
Tampilan iklan telah berubah, deru nafas masih memburu satu sama lain, suara dengung kendaraan di sore hari, tatapan mereka kemudian bertemu. Biru gelap dan coklat terang
Begitu selama beberapa detik, sampai sebuah senyuman menginterupsi kegiatan mereka. Aomine tersenyum. Senyum yang membuat jantung kise berdetak lebih kencang dari biasanya.
Kise masih membeku menatap aomine.
.
.
.
Kise POV
Dia tersenyum. Kukira wajah sangarnya tak akan bisa menunjukkan ekspresi seperti itu.
'Deg deg' dan ada apa denganku, kenapa detak jantungku terdengar sangat jelas. Jelas saja aku sudah berlari sangat kencang tadi.
Kurasa sebenarnya dia bukan orang jahat, aku saja yang keterlaluan tidak bisa membayar masakannya tadi, warna kulit wajahnya sangat lelaki jika kuperhatikan, berbeda dengan warna kulitku yang cenderung sangat perempuan, begitu kata akashi.
'Puk puk'
Kurasakan tepukan ringan dikepalaku, aku sedikit mendongkak melihat benda apa yang sebenarnya berada di kepalaku, dan kutemukan telapak tangan besarnya yang bergeser menjadi menutupi wajahku.
Kulihat wajahnya lagi dan senyumannya masih bertengger disana, telapak tangannya mengusap suraiku saat kulihat mulutnya terbuka mengucapkan sesuatu
.
.
.
Normal POV
"Pekerjaanmu bagus juga ternyata. Ryota sialan" Ucapan aomine menyadarkan kise.
"Kata sialan sepertinya sangat ringan di mulutmu" jalanan sedang sangat ramai, beberapa orang hanya melihat sembari berlalu, mereka bahkan tak terganggu dengan itu
"Dan tidak membayar sepertinya hobimu tuan Kise Ryota. Tak kusangka artis sepertimu, hahaha" aomine tidak melanjutkan kalimatnya melainkan tertawa terbahak
Sadar akan posisi lengannya, aomine melihat lengannya.
"Dan lihat ini" Aomine mengangkan lengannya yang digenggam kise, sehingga otomatis lengan kise juga ikut terangkat.
Kise segera menarik lengannya.
.
.
.
Pukul 10.00 malam, resto sudah kosong dari pelanggan. Pakaian aomine juga sudah berganti dengan gayanya seperti biasa. Haizaki sudah tak terlihat, sepertinya dia sudah pulang duluan.
"Ryota cepatlah pulang, sudah malam. Aku tak mau dimarahi oleh manajemenmu karena menahanmu sampai selarut ini di restoku"
Dan disinilah Kise Ryota, dua hari berlalu semenjak insiden tidak bisa membayar saat dia makan di resto ini. Pada akhirnya setelah tertangkap basah terus menggenggam lengan aomine, terlanjur malu dengan perbuatannya hari itu akhirnya kise memutuskan untuk benar-benar melayani Aomine, melayani dalam arti sebenarnya. Persetujuannya dibuat sembari kise berlari meninggalkan aomine yang masih terdiam di persimpangan. Aomine hanya mendengus ringan mendengar teriakan kise saat itu
"Baiklah aku akan melayanimu besok setelah aku selesai bekerja, tunggu saja" suara kise saat itu bahkan terdengar samar tertutup kebisingan jalan raya. Hari yang cukup melelahkan untuk diingat kembali
Aomine hanya mendengus saat mengingat kejadian itu. Tumpukan piring dengan makanan yang masih tersisa, bau sabun, dan seorang pemuda berambut kuning dengan peluh yang memenuhi permukaan wajahnya, suara decak beling saling beradu menyatu dengan suara ringan gesekan, Kise begitu sangat serius dengan pekerjaannya, Aomine bahkan tidak menyangka seorang artis terkenal sepertinya mau melakukan pekerjaan seperti itu.
Sembari merapikan susunan meja pandangan aomine sesekali teralih pada Kise. Tanpa sadar bibir keringnya tertarik membentuk sebuah ekspresi yang sangat jarang dia lakukan, tersenyum. Aomine mungkin kagum pada keseriusan Kise.
Suara putaran keran mengakhiri semuanya, kise mengeringkan tangan basahnya sembarang pada pakaiannya, saat matanya menangkap sosok aomine terduduk, matanya tertutup
'Mungkin dia sangat kelelahan' kise mendengus
Langkah ringan membawa kise ke hadapan aomine sekarang, tak berniat mengganggu, Kise hanya terpukau dengan wajah aomine yang sedang tertidur. Tarikan nafasnya terdengar teratur.
"Wajahmu lebih baik seperti ini, aku bahkan lupa kalau kau biasanya sangat menyebalkan" Kise berbicara sendiri
Kise masih terpaku saat ponselnya berdering, aomine terbangun.
"Angkat teleponnya teme, ringtonenya mengganggu" dan kise hanya menatap aomine dengan sudut matanya. Nama Akashi tertera di layar ponsel Kise, tangan Kise dengan terampil mengusap layar sentuh ponselnya.
"Yo, ada apa?" sapaan biasa saat Kise menerima telepon
"Apa kau masih di luar Kise?"
"Mmm"
"Kenapa kau sering keluar malam Kise." Kise cukup tahu agendanya, tapi akashi hanya khawatir pada keadannya, Kise sangat tahu itu
"Aku sudah pernah bilangkan tentang kejadian aku yang tak bisa bayar saat makan di sebuah resto. Aku sedang disini membayar semuanya" aomine mendecih saat mendengar ucapan Kise
"Lantas apa hubungannya dengan kau yang sering keluar malam. Ingat agendamu sangat pada besok"
"Iyaaa"
Kise masih sibuk dengan ponselnya, sementara aomine mengambil kunci resto yang tergeletak di atas meja kasir.
Selesai dengan panggilannya Kise memasukan kembali ponselnya. Melihat Aomine yang sudah bersiap meninggalkan resto Kise ikut bergegas mengikuti Aomine dari belakang
"Nee aomine, besok sepertinya aku tak bisa datang kesini. Pengambilan adegan untuk besok sampai malam. Maafkan aku ya" Kise teringat dengan ucapan Akashi barusan, berniat baik Kise meminta izin
"Mmm, tak masalah. Hutangmu sudah lunas kurasa, jadi kalaupun kau tak datang lagi tak akan jadi masalah" Kontrak yang aomine tawarkan hanya sehari, namun Kise masih datang di hari berikutnya, itu sudah lebih dari cukup untuk melunasi makanan saat itu.
"Maksudmu?" Kise sepertinya tidak mengerti
"Ya cukup, kau tak perlu datang lagi kesini." Aomine menepuk pundak Kise ringan
Kise masih terpaku saat aomine mengunci resto.
"Ada apa denganmu Kise?" Kise bergumam pada dirinya sendiri
.
.
Sebuah ketulusan memang tak selalu nampak dengan cantik. Beberapa orang yang berani menjadi dirinya sendiri tak segan mengikuti kata hatinya ketika berprilaku. Kasar, lembut, mereka lakukan seperi tanpa beban. Sebuah ketulusan layaknya sebuah gunung es dalam sebuah samudera, hanya ujungnya yang terlihat.
Sudah seminggu berlalu, Kise memang tak harus ke resto itu lagi tapi jadwalnya tetap padat seperti biasanya. Hari ini hampir berakhir namun nampaknya kise masih tetap harus bekerja keras.
Akashi membawakan segelas vanilla latte instan hangat
"Ini kise"
"Terima kasih"
Setelah meneguknya sedikit kise sibuk dengan lembar-lembar yang dibacanya lagi.
"Ryota" setelah keheningan beberapa saat, sebuah panggilan mengalihkan pekerjaannya lagi. Kise memalingkan wajahnya menuju asal suara.
'Apa lagi? Akashi memanggilku ryota hanya ketika dia sedang serius atau marah?'
Setelah wajah akashi terlihat sepenuhnya, sepertinya kise tahu arti dari panggilan tadi.
'Ekspresi khawatir' Kise tersenyum seadanya, merapikan naskah, menyimpannya di atas meja kemudian menghampiri Akashi.
Posisi kise sekarang tengah duduk bersama akashi di atas sebuah karpet di dalam kamarnya. Menyenderkan punggung tanpa beban pada tepian kasur yang bisa dia jangkau.
"Selalu berlebihan ketika sedang bekerja." Akashi kemudian menyeruput kopi dari gelas miliknya
"Kau mengenalku dengan baik." Akashi mendengus
"Ya ya. Tentu saja. Aku tahu kau itu benar-benar kise ryouta. Si keras kepala yang kesepian"
"Hei!" Kise tidak terima dengan kalimat terakhir akashi
"dulu dan sekarang kau sama saja kise." Kise mendengarkan
"Latihan sendirian setelah tim bubar. Membuat porsi train yang berbeda. Diet yang berlebihan. Itu kau selama SMA kise. Hanya demi performa maksimal ketika bertanding"
"Itu sebuah konsekuensi akashi. Tak ada hal yang instan."
Hening lagi. Gelas mereka telah kosong sepenuhnya dan hari sudah berganti
"aku hanya berharap sifat bodohmu setidaknya bisa menguap sedikit. Hanya sedikit" suara akashi lagi
"Maksudku. Apakah kau tidak ingin fokus dengan apa yang benar-benar kau inginkan?" Kise merayap menuju tempat tidurnya
"Entahlah akashi. Aku masih belum tahu bagaimana caranya. Aku juga belum tahu apa yang sebenarnya aku inginkan"
Setelahnya tidak ada suara lagi, melainkan deru nafas ringan yang teratur. Akashi tertidur dengan posisi masih duduk bersandar, kise meringkuk seadanya berbantal lengan kanannya.
.
.
Next Chapt
Hal tak terkendali selalu mengejutkan
"Kise. Sepertinya aku gay?"
Rasa rindu atau hanya sebuah kebetulan
"Jangan bilang kau tidak bisa membayarnya lagi?"
Kise tahu benar aomine tak pernah berniat buruk, meskipun lisannya cukup buruk.
"Teme! Apa yang kau lakukan padanya?!"
Semoga semua bisa berjalan dengan baik.
Author Note
Ohayou, selamat liburan minna X)
Betewe setahun lebih ya gw gak update fict ini. sorry *bow
Ternyata chapt 2 udah gw buat tapi belum rampung dan nyangkut di FD hahaha alhasil pagi ini gw beresin dan gw poles sedikit. Chapter selanjutnya lagi gw garap, sabar ya.
Daaaan semoga memuaskan hehe
Segitu dulu ya
Selamat membaca, RnR yo
Karena review itu benar-benar moodbooster hehe
See ya XD
