Aku berpikir bisa melepasmu untuknya, tetapi tenyata aku begitu menginginkanmu, ternyata aku juga begitu ingin mendapatkanmu.
Maaf, maaf untuk segala keegoisanku.
Takano terus mengelus kening Ritsu sambil mengompres dengan handuk dingin guna menurunkan panas tubuh sahabat sekaligus orang tercintanya. Sejak insiden penolakan, Ritsu jatuh sakit dengan begitu drastis. Nao yang sudah menengoknya memberi tahu keadaan Ritsu pada Takano. Karena itulah Takano segera mengungsi, memutuskan menginap beberapa hari untuk merawat tetangganya itu.
"Takano-kun jadi merepotkan kamu," kata Ibu Ritsu sambil membawa camilan. "Tidak apa-apa kok, lagi pula Ritsu udah kuanggap seperti keluarga sendiri," Takano menerima camilan itu dan menyimpannya di lantai. "Ibu bikinin keripik kentang kesukaan kamu, dimakan ya. Sama kalau butuh apa aja bilang oke?"
"Iya, pasti." setelah perbincangan singkat itu Takano kembali berfocus pada Ritsu. Tak henti-henti Takano mengelus sayang dan menciumi tangannya, berharap lelaki tercinta itu segera sembuh. Berharap Ritsu bisa kembali tertawa dan berada di sampingnya lagi.
"Cepat sembuh, bodoh!" katanya, lagi Takano mengganti perasan air di wadah samping meja nakas ranjang Ritsu.
Sebelum selang menit berikutnya akhirnya Ritsu sedikit membuka mata, dia nampak sedikit terkejut tetapi Takano malah tersenyum sambil kembali mengelus dan mengganti kompresannya. "S-senpai.."
"Sssh.. Istirahatlah," kata Takano seraya menarik selimut Ritsu sebatas dada. Lelaki kecil itu begitu terlihat kikuk, detik berikutnya dengan patuh ia mengangguk. Entah karena demam, entah karena Ritsu gugup, lelaki kesayangan Takano itu terlihat pipinya memerah. Namun Takano tidak ingin berpikiran aneh yang nantinya hanya akan membuat rasa diri melambung pada sebuah harapan yang tidak berarti.
'Dia cuma demam! Dia cuma demam!'
Ritsu melirik, menatap senpainya yang sedikit terlihat murung. "S-senpai?"
Tidak tahan dengan gejolak dihati, Takano sesegera mungkin merengkuh Ritsu. Memeluknya dengan penuh hasrat cinta.
Seandainya... seandainya saja Ritsu memiliki rasa sama terhadapnya. Seandainya saja cinta ini tidak bertepuk sebelah tangan.
"Senpai.."
"Kumohon sebentar saja, Ritsu.."
Haitani telah kembali ke rumah meski jam sudah menunjukan pukul tiga dini hari. Sesungguhnya dia tidak segila itu berada di Miharu sampai waktu membelah hari, tetapi lokasi Miharu dengan tempatnya memanglah teramat jauh. Jadi dia akan tetap pulang dini hari setiap harinya.
Rasanya memang melelahkan, rasa ngantuk akan menyerang ketika pagi dia harus sekolah. Pun porsi tidur yang tidak terbiasa, membuat Haitani merasa badannya kurang terasa baik.
Ketika masuk ke kamar Haitani melirik figur di meja belajarnya. Ada potret dirinya, Ritsu, Takano dan juga Nao.
Tangannya terulur menyentuh permukaan wajah Takano. Haitani mencintainya, sangat cinta. Tapi sudah sedari kecil Haitani tahu Takano menyukai Ritsu, karena itulah Haitani memilih memendam rasa, pun karena dia tahu Ritsupun sama mencinta.
Disamping Takano ada Nao, jemari Haitani lalu kembali mengelus. Adik kelasnya yang berisik ini sangatlah sering menceritakan Takano dan Ritsu yang saling malu-malu mengungkap kata cinta. Nao juga sangat bersemangat menyemangati kala Haitani bercerita bahwa Haitani menderita karena cintanya pada Takano, tentunya Nao tidak tahu orang itu siapa karena Haitani tidak pernah memberitahukan. Jika Haitani melakukan ritual bodoh ini dan jika memang hal ini sungguhan tidakah Haitani membuat Nao kecewa? Nao pasti marah, karena Nao sangatlah menyayangi Ritsu pun serupa dengan padanya dan Takano. Bukankah akan fatal jika Haitani meneruskannya?
Di ujung potret itu ada Ritsu yang sedang merangkul lengannya Haitani erat. Lelaki bodoh itu telah menolak Takano, padahal dia sangat menyukai pria idaman Haitani itu. Sekilas teringat perkataannya Ritsu yang berhasil menerka rasa terdalam Haitani untuk Takano. Apakah Ritsu menolak Takano dan membuang perasaannya demi menghargai Haitani?
Ini tidak benar. ini salah. Sahabat-sahabatnya bisa kecewa. Apalagi Haitani hanya memiliki mereka sebagai keluarga.
Lagipula Mengapa Haitani sampai sebegininya, Takano untuk Ritsu. Kenapa Haitani bisa begini bodohnya?
Merasa risau Haitani memilih tidur sejenak sebelum dia harus segera terbangun kembali untuk sekolah.
"Arataa-senpai.. Arata-senpai.." kening Haitani merengut, apa dia sedang bermimpi? Kenapa seperti ada suara Nao di sekitarnya.
"Arata-senpai!"
Dan suara itu memang nyata adanya. Wajah Haitani terasa masam, siapa lagi manusia menyebalkan yang bertamu jam tiga dini hari kalau bukan Nao?
Dengan langkah perlahan karena menahan kantuk Haitani membuka pintu rumahnya. Disana Nao sedang cengar-cengir dengan penuh ketidak jelasan. "Yoo! Arata!"
"Nao.. Kau pikir ini jam berapa?!"
Nao melirik jam tangannya sebentar, "tiga lebih sepuluh hehe."
Haitani menepuk keningnya sendiri. "pulanglah. Nanti juga kita bertemu di sekolah."
"Eehh.. Aku kan sengaja datang biar bisa bareng."
"Meski kamu harus melewati dulu sekolah saat berjalan kemari?" Nao menggaruk pundaknya yang tidak gatal. "Hehe ya begitulah."
"Ishh," Haitani membuka pintunya semakin lebar. "Masuklah. Aku ingin tidur sebentar. Nanti kita pergi bersama,"
Nao mencekal tangan Haitani. Mengarahkan camera lalu memotret wajah lusuh Haitani yang menahan kantuk. "Woah hasilnya bagus!"
Haitani menggelengkan kepala, sahabatnya yang satu ini memang sering sekali begini sampai Haitani bosan dan lelah melarang.
"Senpai, sebentar lagi matahari akan terbit. Ayo kita lihat matahari terbit."
"Kukira orang bodoh saja yang suka menghabiskan waktu demi melihat matahari terbenam. Ternyata ada orang lebih bodoh yang ingin melihat matahari terbit,"
Nao terkekeh, "matahari terbit juga bagus kok. Nanti aku tunjukin deh,"
Haitani sekali lagi dibuat menggelengkan kepala. Dengan penuh rasa kantuk ia berjalan meninggalkan Nao menuju kamarnya. Haitani ingin tidur! Haitani inginkan belaian ranjang yang empuk dan hangat.
Siswa-siswi sekolah Mitsuhashi saling berjalan beriring menuju gerbang, pun serupa dengan Haitani yang terlihat sangat lesu dengan Nao yang tidak berhenti menggerutu karena acara melihat matahari terbit mereka tidak terealisasikan.
Tak jauh dari mereka ada Ritsu sedang di gandeng sayang oleh Takano. Singkatnya Ritsu memaksa sekolah meski orang tua dan Takano melarang. Namun mengenal watak Ritsu sulit di atur akhirnya dengan prasyarat di kawal Takano akhirnya Ritsu bisa mendapat izin.
Haitani melihat mereka dengan raut yang sulit di artikan. Ritsu dan Takano nampak begitu saling mengasihi. Sampai rasanya Arata begitu di buat mendidih karenanya.
"Senpai, ayo ke kantin. Laper nih." Nao menarik tangan Haitani menjauh dari Takano dan Ritsu. Nao sengaja, dia ingin memberi Ritsu waktu agar bisa menyelesaikan masalah dengan Takano.
Seolah seperti kerbau yang di cocok lubang idungnya. Haitani menurut saja kemanapun Nao membawaanya. Setidaknya itu lebih baik dari pada dia harus melihat hal yang saat ini begitu sensitif untuknya.
