DON'T GO!

Part 2

By : Ichizuki Takumi

Pairing : Sekai/Kaihun, HunHan/Hanhun, Krishun, slight Chanhun

Pairing bisa bertambah seiring berjalannya cerita

Disclaimer: EXO milik Tuhan, orang tua, dan agensinya. Saya hanya meminjamnya sebagai karakter tokoh saja.

Rated : T

Genre : Romance, Angst

WARNING: Pair yang ditulis di awal bukan berarti pair utama. Dan pair utama bukan berarti harus bersama. Yaoi. BL. BoyxBoy.

Happy reading~

.

.

.

Sehun membuka koran yang dibawanya. Dia membaca halaman yang bertuliskan 'lowongan pekerjaan'.

Kris yang sedari tadi duduk disebelahnya hanya dapat mengernyitkan alis. Mereka disini untuk bermesraan, bukan untuk melihat Sehun yang berkutat dengan korannya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Kris sambil mendekatkan dirinya.

"Aku sedang mencari lowongan kerja," jawab Sehun. Dia tidak mengalihkan perhatiannya sama sekali dari halaman yang dibukanya.

"Pekerjaan? Untuk apa?"

"Aku harus membayar kontrakan bulan ini," jawab Sehun singkat.

"Kenapa kau tidak bilang padaku? Aku bisa membayarnya untukmu," kini Kris melingkarkan tangannya di pinggang Sehun.

"Benarkah?" tanya Sehun antusias. Namun senyuman itu segera dihilangkannya. "Tidak usah, hyung. Aku tidak ingin kau berpikiran buruk tentangku," lanjutnya dengan wajah menunduk.

Kris mendekatkan bibirnya di ceruk leher Sehun, menghembuskan napas hangat disana. "Kau itu pacarku, akan kulakukan apapun untukmu."

Sehun menggeleng. Dia bersikeras untuk tidak menerima penawaran Kris.

"Aku tidak ingin mendengar penolakan darimu."

"Bolehkah?" tanya Sehun ragu.

Kris memang pernah mendengar gosip tentang kekasihnya yang hanya memanfaatkan pacar-pacarnya. Dan sekarang dia percaya kalau semua itu hanya gosip belaka setelah mengenal Sehun yang sesungguhnya. Baginya Sehun adalah sosok namja manis yang polos. Tiap tatapan yang diberikan Sehun padanya, selalu bisa membuat namja yang lebih tinggi itu meleleh. Hal itu membuatnya ingin melindungi dan menuruti semua permintaan Sehun. Mungkin hal ini juga yang dirasakan oleh mantan-mantan Sehun, tetapi malah mendapat persepsi yang berbeda dari orang lain yang melihatnya.

"Tentu. Apapun untukmu."

Kris ingin mencium bibir merah muda di hadapannya, tapi Sehun kembali berkutat dengan koran ditangannya.

"Sekarang apa lagi?" tanya Kris sambil menghela napas pelan.

"Aku juga harus membayar uang semester bulan depan."

"Aku akan membayarnya."

"Aku juga harus membayar uang semester untuk Kai," jawab Sehun. Dia dan Kai memang berada di jurusan yang berbeda. Kai di jurusan seni, sementara dirinya di jurusan sastra.

"Aku juga yang akan membayarnya."

Sejak awal Sehun sudah memberitahu Kris kalau dia tinggal bersama sahabatnya di apartemen kumuhnya.

"Semua kebutuhanmu katakan padaku, aku akan menanggungnya. Aku tidak sanggup melihat namja semanis dirimu berkerja di pertokoan dan digoda oleh namja lain."

"Jinjayo, hyung?" setelah mendapat anggukan, Sehun segera memeluk kris dengan erat. "Saranghae, hyung!"

"Nado."

Dengan itu terjadilah ciuman panas antara mereka berdua. Ditengah ciuman itu Sehun menyeringai. Hanya sebuah koran dan kau bisa mengendalikan segalanya. Ingin sekali dia tertawa sekerasnya, tapi tidak sekarang. Dia ingin tertawa bersama sahabatnya.

Satu hal yang tidak mereka sadari, seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka menatap dengan pandangan yang sulit diartikan.

.

.

.

Sehun tersenyum puas saat mendapati jumlah angka di rekeningnya bertambah lima kali lipat dari jumlah awal. Dia tidak sabar ingin memberitahukan hal ini pada sahabatnya.

Saat mendengar pintu depan terbuka, Sehun segera berlari dari sofa dan melompat-lompat di depan Kai. Dia menghentikan tingkah bodoh itu saat Kai berjalan melewatinya tanpa memberi perhatian sama sekali.

"Kai... aku punya kabar baik untukmu," ujar Sehun dengan nada manja.

"Apa? Kau mendapat kupon Bubble tea selama satu minggu?"

"Bukan, tapi tabungn kita sudah bertambah lima kali lipat," Sehun memamerkan kertas yang tidak terlalu besar di tangannya. Ia tak bosan menampilkan cengiran konyolnya yang membuat Kai risih.

"WOW, aku terkejut!" Kai membuat ekspresi wajah terkejut, namun sedetik setelahnya wajahnya kembali ditekuk.

Sehun merengut mendapat respon seperti itu dari sahabatnya.

"Aku tahu kau marah karena melupakanmu saat makan siang tadi," Sehun menundukkan kepalanya tanda menyesal. "Mianhae..." kini pundaknya sedikit bergetar.

Kai menghela napasnya, dia segera menarik Sehun ke dalam pelukannya. Sebenarnya dia tahu kalau ini hanya akting belaka, tapi dia tetap tidak bisa melihat air mata Sehun meski itu hanya palsu.

"Mana mungkin aku bisa marah padamu," ujar Kai sambil mengelus rambut lembut Sehun.

"Sekarang bisa kita makan? Aku lapar," Sehun mendongakkan kepalanya. Raut sedih yang baru saja diperlihatkannya hilang seketika, digantikan oleh cengiran khasnya.

Andai namja di hadapannya ini bukan orang yang dicintainya, mungkin Kai akan menenggelamkan Sehun ke dasar sungai Han saat itu juga.

'Tuhan, beri aku kesabaran untuk tidak membunuh namja ini.' Rapal Kai dalam hati.

.

.

.

Saat ini mereka bertiga, Sehun, Kris, dan Kai sedang berada di kantin gedung sastra. Sehun sering menceritakan tentang sahabatnya pada Kris. Hal itu membuat Kris penasaran pada Kai. Dan ini adalah kali pertama mereka bertemu langsung.

Kris menatap tak suka pada Kai di hadapannya. Dia tidak menyangka kalau sahabat yang sering dibicarakan Sehun akan setampan ini.

Kris tahu kalau dirinya sangat tampan, tapi dia juga tidak bisa memungkiri kalau sahabat kekasihnya itu juga tampan. Tidak heran jika suatu hari Sehunnienya akan meninggalkan dirinya dan berbalik menyukai sahabatnya.

Sehun menolehkan kepala saat tangannya digenggam posesif oleh Kris. Dia memberikan raut wajah bertanya namun Kris segera menyuapinya dengan es krim yang tadi dipesannya. Dengan senang Sehun membuka mulutnya untuk menerima suapan kekasihnya.

"Kau menyukainya?" tanya Kris dengan suara lembut.

"Emm..." Sehun menganggukkan kepalanya imut.

Kris mengusap sudut bibir Sehun yang terkena es krim dengan lembut.

Sementara itu, Kai hanya mendengus geli melihat pemandangan dihadapannya. Apa namja bodoh itu tidak melihat tingkah sahabatnya yang dibuat-buat?

Justru tingkah Sehun yang dibuat manis malah membuat Kris semakin lengket pada sahabatnya.

Dan Kai cukup peka untuk merasakan tatapan tidak suka yang diberikan Kris padanya.

.

.

.

Kai merapatkan jaketnya dan beranjak dari meja kasir. Hari ini pekerjaannya sudah selesai. Dia mengambil empat jam kerja part time di sebuah kafe tak jauh dari apartemennya. Memang gaji untuk empat jam tidaklah banyak, tapi lumayan untuk menambah isi tabungan.

Semenjak mendapat pekerjaan, Kai berpikir kalau hobinya sekarang bertambah satu. Selain dance, dia juga suka saat menerima gaji, apa lagi kalau uang tipnya banyak.

Jangan menertawakannya. Ini berbeda dengan saat kau mendapat uang dengan cuma-cuma. Mendapat uang dengan kerja kerasmu sendiri itu sangat memuaskan.

Kai menghentikan langkahnya. Jalanan memang sudah sepi, tapi dia merasa ada seseorang yang berjalan di belakangnya. Dia menolehkan kepalanya. Tak ada seorangpun disana. Mungkin ini hanya perasaannya saja. Tanpa ambil pusing dia kembali melangkahkan kakinya menuju apartemen.

.

.

.

Dua minggu berlalu dan pasangan Krishun malah semakin mesra. Hal itu membuatku bosan memandangnya.

Kris sering memaksa Sehun untuk tinggal di apartemennya dari pada di apartemen kumuh kami. Untunglah Sehun selalu menolak ajakan namja dingin itu. Sebenarnya dia hanya dingin padaku. Pada Sehun, jangan tanya lagi. Aku sampai ingin muntah melihat kemesraan mereka. Ugh, jangan ingatkan aku.

Kau tanya apa aku tidak sakit melihat mereka?

Tentu saja sakit. Bayangkan saja orang yang kau sukai di grepe-grepe di depan matamu. Namja mana yang tidak siap mengeluarkan bogem mentahnya saat melihat hal itu. Aku bahkan ingin mengubur namja sombong itu hidup-hidup.

Utunglah Sehun selalu mengatakan kalau memanfaatkan namja kaya itu sangat mudah, seperti membalikkan telapak tangan. Dan itu membuatku sedikit tenang. Setidaknya aku tahu kalau Sehun tidak benar-benar menyukai namja sialan itu.

Pernah suatu hari Kris menginap di apartemen kecil kami. Aku tahu alasannya hanya sebuah modus untuk mengawasiku saat tinggal bersama Sehun. Tanpa perlu dilihatpun seharusnya dia tau kalau di apartemen itu kami selalu berciuman, berpelukan, dan tidur bersama. Ah, sebenarnya itu hanya ada dipikiranku, karena kenyataannya kami tidak melakukan apa-apa. Hanya sekedar hubungan sahabat yang sudah seperti adik kakak.

Waktu itu Kris ingin tidur bersama Sehun karena apartemen kami hanya mempunyai dua kamar tidur dan ruangannyapun sangat minimalis. Aku menentangnya dengan keras dan berkata aku yang akan tidur dengan Sehun. Jelas saja, hal itu mendapat glare mematikan dari Kris. Aku sempat gentar melihatnya. Akhirnya Sehun mengusulkan aku dan Kris untuk tidur bersama, dan mendapatkan penolakan telak dari kami berdua. Setidaknya untuk hal ini Kris mempunyai pemikiran yang sama denganku.

Malam itu berakhir dengan kami tidur bertiga di ruang tamu, dengan memindahkan sofa yang ada disana. Sehun berada di antara aku dan Kris. Kami saling melempar glare. Dan berakhir aku yang harus membalikkan badanku memunggungi mereka. Karena dalam tidurnya, Sehun memeluk Kris dengan erat. Aku sempat melihat seringai yang muncul di sudut bibir Kris. Sedangkan aku hanya dapat meremas dadaku yang berdenyut nyeri.

.

.

.

Aku melihat Kai yang duduk di sudut kantin. Aku segera menghampirinya dan duduk di depannya.

"Menikmati makananmu?"

Kai mendongakkan kepalanya. "Kau mau?"

Aku menggeleng. "Aku akan memesannya sendiri."

Semenjak berpacaran dengan Kris kebutuhanku tidak pernah kekurangan. Bahkan sekarang aku dan Kai lebih sering makan di luar atau memesan layanan antar dari pada harus menghemat seperti sebelumnya. Lagi pula tabungan kami masih cukup banyak. Di tambah tabungan Kai yang aku tidak tahu berapa nominalnya. Karena memang itu tabungan pribadi miliknya. Ia mendapat uang itu dari kerja kerasnya sendiri.

"Kau nanti ada klub?" tanyaku setelah memesan makanan.

Kai mengangguk. "Aku nanti pulang agak malam karena harus lembur."

Aku tersenyum. Dia terlalu bekerja keras.

"Aku tidak tau kau begitu mencintai pekerjaanmu."

"Tentu saja. Karena itu sudah menjadi hobiku sekarang."

"Kai yang dewasa. Aku kagum melihatnya," cibirku.

"Aishh..." Kai meminum minumannya dan kembali berkata padaku. "Kemana pacar raksasamu itu? Beberapa hari ini aku tidak melihatnya menempel padamu."

Aku tahu hubungan Kris dan Kai tidak baik. Jadi aku bisa memahami nada suara Kai yang terdengar tak suka saat menanyakannya.

"Dia sibuk dengan perusahaan ayahnya. Katanya ada masalah disana," jawabku sambil mengunyah makananku. Sekarang aku tahu kenapa Kris hyung mengambil jurusan ekonomi. Dia mengambil jurusan itu bukan karena hobi belaka. Berbeda dengan Kai dan aku.

"Sepertinya sahabatku ini terancam miskin lagi," sindir Kai.

Aku mendengus mendengar sindirannya. Perkataannya tepat sasaran. Aku memang takut kalau nanti perusahaan Kris bangkrut dan dia jatuh miskin. Kalau itu terjadi, tidak akan ada namja sempurna yang bisa kumanfaatkan lagi. Juga, akhir-akhir ini Kris jarang mengirim uang ke rekeningku.

"Aku akan mencari namja kaya lain," jawabku enteng. "Lagi pula namja kaya bukan hanya Kris hyung saja."

Tetapi namja sempurna, baru Kris saja yang pernah kutemui.

"Kenapa kau tidak mencari namja kaya juga?" kali ini aku tersenyum karena dapat memojokkan Kai dengan pertanyaanku.

"Aku tidak butuh orang seperti mereka," dia mendengus menjawabnya.

Aku tau dia tidak suka dengan apa yang kulakukan selama ini. Memanfaatkan namja kaya dan menguras hartanya. Tapi dia juga tidak bisa melarangku, karena hanya dengan cara ini kami dapat bertahan hidup sampai sekarang.

"Kau akan menyesal mengatakannya," balasku.

"Tidak akan."

Aku tertawa melihat wajah Kai yang semakin ditekuk. Dia sangat jelek kalau wajahnya seperti itu.

Sementara Kai hanya mendengus melihatku yang menertawakannya.

.

.

.

Aku berjalan sendirian melewati parkiran. Biasanya akan ada mobil yang menghampiriku dan memberi tumpangan. Tapi kali ini aku hanya dapat menatap deretan mobil mewah yang terparkira rapi disana.

Aku juga tidak bisa pulang bersama Kai. karena sekarang dia ada klub dan setelahnya dia lembur bekerja. Aku tidak mau menghabiskan waktuku untuk melihat kegiatan Kai seharian. Pasti ada banyak hal menarik yang bisa kulakukan saat ini.

Tiba-tiba dari belakang aku merasakan seseorang yang menabrak pundakku sedikit keras. Tapi tidak membuatku sampai terjatuh. Tubuhku hanya terdorong ke depan dan hampir menabrak mobil yang terparkir di depanku. Dan itu sangat berbahaya. Menurutku.

"Joesonghamnida," kataku pada namja berkacamata hitam yang menabrakku. Dia sempat menatapku dan langsung berlari menjauh tanpa meminta maaf padaku.

Sombong sekali orang itu. Harusnya dia yang meminta maaf.

Aku langsung merapatkan badanku pada badan mobil saat mendengar teriakan dari arah belakang. Rupanya namja tadi dikejar oleh segerombolan gadis centil. Pantas saja namja itu terlihat tergesa.

Aku berdecih kagum saat melihat namja itu memasuki mobil paling mewah diantara deretan mobil mewah lain. Dan melajukannya dengan cepat meningglkan parkiran.

Pantas saja banyak yang mengejarnya. Ternyata dia orang kaya.

"Siapa dia?" tanyaku pada seorang yeoja yang sedari tadi histeris mengiringi kepergian namja itu.

"Kau tidak mengenalnya? Ah, tentu saja kau belum mengenalnya, dia baru pindah ke kampus ini kemarin."

Sepertinya aku harus memberi jempol pada namja itu. Baru kemarin masuk, dan sekarang punya banyak fangirl. Aku jadi iri.

"Dia Luhan, putra keluarga 'Xi' pemilik Seoul Hospital. Sebenarnya dia orang Cina, tapi harus pindah kesini karena harus mengurus rumah sakit yang ada di Korea."

Cina? Korea?

Yang ada dalam pikirkanku saat ini adalah dua negara yang terpisah oleh lautan.

Aku juga mendengar namja itu harus mengurus rumah sakit yang ada di seoul. Dan pesan tersirat yang dapat kusimpulkan adalah namja itu tidak hanya memiliki rumah sakit di Korea, tapi juga di Cina. Aku berani bertaruh kalau namja bernama Ruhan- atau siapapun itu pasti sangat kaya.

Tidak heran aku berada di jurusan sastra. Hasil analisaku sangat menakjubkan.

"Ngomong-ngomong, kau siapa?"

Senyum di wajahku langsung lenyap saat yeoja tadi menanyakan pertanyaan yang tidak perlu.

Geez, merusak fantasiku saja.

.

.

.

Sekarang pukul sembilan, dan aku baru pulang dari kerja lemburku.

Melelahkan sekali. Tadi itu pelanggan terbanyak yang pernah kulayani. Pantas tuan Lee memintaku untuk lembur hari ini.

Aku menatap jalanan sepi yang ku lewati, dan aku merasakan seseorang yang berjalan di belakangku. Aku menolehkan kepala, namun tidak siapapun disana. Bahkan kendaraanpun sangat jarang melewati jalan ini, mengingat hari sudah gelap.

Aku kembali melangkahkan kakiku. Kali ini sedikit lebih cepat. Dan aku segera berbelok di tikungan. Aku tidak terus berjalan, melainkan berdiri dibalik tembok tinggi itu untuk menunggu sesuatu.

Ternyata dugaanku benar. Ada orang yang mengikutiku. Aku sudah merasakannya selama dua minggu ini. Dia berjalan dengan cepat di tikungan itu tanpa menyadari aku yang berdiri di balik tiang listrik. Dia terlihat mendesah saat kehilangan jejakku.

Aku segera mengunci pergerakannya dari belakang saat namja itu lengah.

Dia sangat terkejut saat menyadari aku berada dibelakangnya. Terlihat dari tubuhnya yang terjengit dan matanya yang melebar.

"Siapa kau?" tanyaku yang masih mengunci pergerakannya.

.

.

.

TBC

.

.

.

Chapter dua sudah jadi, dan aku tidak sabar untuk mempublishnya.

Sebenarnya aku ingin mempublishnya beberapa hari kedepan, karena aku sama sekali belum menulis untuk chap tiganya. Takutnya nanti akan ada jarak yang lama antara chap dua dan tiga. Tapi aku juga tidak mau PHP, jadi akhirnya chap ini ku publish sekarang. Do'akan aku agar tidak terkena WB.

Berhubung sebentar lagi lebaran, ichizuki sekeluarga mengucapkan; Minal aidzin wal fa'idzin, mohon maaf lahir dan batin. Maafkan semua kesalahanku baik yang disengaja maupun yang tak disengaja.

Special thanks to:

/ Keepbeef Chiken Chubu / paladinmode / nin nina / destyrahmasari / krsyl / tiikaaa / askasufa / Kim Mika / Dazzling kpopers / alcici349 / Cho Ai Lyn / Putri meirizka / rinie hun / xxx / chuapExo31 / baby reideer / evilfish1503 / hunnie13 / chiisalma / Jjongie Chaca Yixing / alivia ayounaulia / HunHan Baby / Mir-acleKim / anonstalker / ChickenKID / sehunkai / park chanhun / nelf thehunnie / wonkyuhae / taryfeb /

Apakah ada nama yang terlewatkan?

Terimakasih atas masukannya. Aku akan lebih berusaha ke depannya. Maaf kalau kali ini masih ada typo. Mohon koreksinya.

Untuk sudut pandang di atas, aku sengaja tidak memberi 'POV'. Aku yakin tanpa itupun kalian bisa menebaknya sendiri ^^

Untuk Kris dan Suho, aku membuat sifat mereka berbeda dengan aslinya disini. Aku bahkan tertawa saat melihat gif yang bilang kalau Suho itu menghabiskan banyak uang untuk mentraktir member lain, sementara di gif yang satunya ada Kris yang sedang menawar helikopter angry bird.

Untuk masalalu Sehun dan Kai, mungkin nanti di chapter depan akan dijelaskan. Karena aku juga tidak tahu bagaimana nantinya *plak*. Mian, karena aku benar-benar belum menulisnya... T.T

Untuk alivia ayounaulia, terimakasih banyak karena sudah memberi tahuku tentang ff ALF yang berjudul love needs reason. Aku sempat frustrasi karena prolognya sangat mirip dengan ff ini. Karakternya juga sama, hanya saja ff ALF-shi karakter utamanya Baekhyun, dan ff ini karakternya Sehun. Aku sempat ragu untuk melanjutkan ff ini, nanti dikiranya copas atau meniru. Tapi setelah baca chap satu, aku jadi yakin untuk melanjutkan ff ini. Karena alur ceritanya berbeda. Dan tentu saja cara penulisan ALF-shi jauh lebih bagus dariku. Ku rekomendasikan untuk membaca ffnya. Sekali lagi terimakasih sudah memberitahuku.

Sepertinya warning diatas sedikit membingungkan. Aku juga bingung sendiri saat membacanya *plak*. Maksudnya, pair utama belum tentu Kaihun, bisa jadi Hanhun, Krishun, atau malah Chanhun. Untuk pair lainnya, mungkin nanti menyusul. Dan 'tidak berakhir bersama' maksudnya... pair utama tidak selalu bersama kan *senyum* #plak.

Terimakasih semuanya... sudah membaca dan mereview ff ini. Termakasih juga sudah mem-follow dan mem-fav ff ini. #bow#

.

MIND TO REVIEW ^^