Not You and Me, But Us


Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Not You and Me, But Us fic © Yuuki Aika

Warning:

AU, typo(s), newbie, and many kinds of weirdness.

Big thanks to:

owned dot by dot indohackz, tohko omiya, Princess NaruSaku, mako-chan

(Reply ada di bawah, fyi.)


Aku menuruni tangga rumah baruku dengan tergesa-gesa. Kulihat sosok laki-laki berumur empat puluh tahunan itu tengah menikmati secangkir teh dan koran paginya di depan televisi sambil duduk bersila.

"Kenapa tergesa-gesa seperti itu, Sakura?" Tanya laki-laki itu tanpa mengalihkan pandangan beliau dari koran paginya. Aku meraih sepasang sepatu yang tertata rapi di rak dengan cepat.

"Aku ada janji dengan Ino untuk keliling sekolah, Ayah. Jadi aku harus berangkat lebih pagi ke sekolah," jawabku sekenanya sambil cepat-cepat memakai kaos kaki dan memakai sepatu. Kemudian, kedua tanganku menarik kedua tali yang ada di samping kanan dan kiri untuk ditalikan.

"Souka," kata Haruno Tsubaki seraya meletakkan cangkir tehnya ke meja kecil yang ada di samping sofa yang beliau duduki. Kulihat kedua sepatu yang terpasang dengan sempurna di kedua kakiku. Perfect!

"Kalau begitu, ayo Ayah antar." Ujar ayahku kemudian. Saat aku menoleh, beliau sudah berdiri, siap dengan kunci mobil. Aku menaikkan sebelah alisku. "Memangnya Ayah nanti tidak terlambat bekerja?"

Ayah tertawa kecil sambil kembali menyesap tehnya yang masih tinggal sedikit di cangkir tadi. "Ayah sekarang dapat jam malam. Jadi, ayah istirahatnya di pagi hari. Malamnya baru kerja." Lanjutnya.

"Ah, ada-ada saja pekerjaan Ayah itu. Ya sudah. Kalau begitu ayo berangkat!" Seruku ceria. Jarang-jarang aku bisa diantar oleh ayahku. Dulu saat masih di Kyoto, aku selalu berangkat sendiri. Pagi-pagi, biasanya ayah sudah berangkat. Sedangkan jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh. Aku harus naik kereta dan berdesak-desakan. Bila tidak, aku akan terlambat. Memangnya aku murid yang mau berangkat terlambat hanya gara-gara tidak mau berdesak-desak dan memilih kereta selanjutnya yang datang satu jam setelahnya? Tapi, sekarang jarak rumahku cukup dekat. Aku hanya perlu naik bus dan berjalan beberapa blok dan sampailah di rumah.

Mobil hitam yang dikemudikan ayahku melaju dengan kecepatan sedang. Aku menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi, memamerkan seberapa modern-nya Kota Tokyo. Aku melirik ayahku yang pandangannya hanya terpacu pada jalanan. Namanya juga sedang mengemudikan mobil.

"Sakura-chan, kamu bawa ponsel 'kan?" Tanya Haruno Tsubaki tiba-tiba.

"Iya," jawabku pendek sambil merogoh saku seragam dan menemukan sebuah benda berbentuk persegi panjang berwarna merah muda yang senada dengan warna rambutku.

"Kalau begitu, mulai sekarang Ayah akan mengantar jemputmu. Ayah khawatir kamu akan tersesat lagi seperti kemarin," ujar ayah sambil terkikik geli mengingat kejadian kemarin. Ah, itu memalukan. Tidak perlu kuceritakan. Argh, baiklah. Kemarin, aku tidak sengaja meninggalkan ponselku di kopor yang kutinggal di rumah. Saat pulang sekolah, aku lupa jalan ke rumah. Aku pun nekat pulang sendirian dan berakhir dengan tersesat karena aku itu buta arah. Untung saja aku segera menemukan telepon umum dan berhasil menelpon ayah untuk menjemputku.

"Makanya, nanti sekolah langsung hubungi Ayah ya." Lanjut beliau. Aku tersenyum senang. Rasanya sudah lama sekali aku tidak diantar jemput oleh ayah, semenjak ibu sudah tiada. Oh iya, ibuku sudah meninggal. Beliau pergi ketika aku masih duduk di kelas lima SD. Saat itu, aku merasa sangat terpukul. Tetapi, sekarang aku pun sudah ikhlas walau terkadang aku sangat merindukannya. Ibuku orang yang sangat baik dan cantik. Beliau memiliki rambut pirang panjang dan bermata emerald. Aku mewarisi warna mata emerald-nya, lho.

Tidak terasa, mobil yang kutumpangi sudah berhenti dengan mulus di depan gerbang SMA Tokyo. Aku pun segera keluar mobil setelah berpamitan dengan ayahku.

Saat aku melewati halaman depan, aku menangkap sesosok gadis berambut pirang yang diikat ponytail.

"Ino!" Panggilku. Gadis itu—Yamanaka Ino, menoleh ke arahku dan melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar. Aku pun mempercepat langkahku.

"Ohayou, Jidat!" Panggilnya. Oh, ayolah. Aku tahu jidatku lebar, tetapi setidaknya jangan memanggilku dengan 'Jidat'.

"Ohayou mo, Ino-pig!" Balasku seraya nyengir.

"Haha. Sudah ah ejek-ejekannya. Ayo cepat taruh tas ke kelas, dan aku akan menunjukkan banyak tempat yang keren di sini," ujar gadis bermata aquamarine yang indah itu. Wajahnya yang seperti barbie itu terlihat sangat bersemangat. Aku pun mengangguk dan mengikutinya.

Ino pun membawaku ke banyak tempat.

"Itu gudang. Di belakang sana tempat membolos yang pas karena kita bisa tiduran. Terus di sana tempat langganan para pasangan di sini. Di sebelah sana itu laboratorium. Sebelah kanan laboratorium Biologi, sebelahnya lagi laboratorium Fisika," jelas gadis pirang itu seraya menunjuk tempat-tempat yang ia maksud. Sesekali, aku diajak ke sana untuk sekedar lewat dan melihat-lihat.

"Nah, sekarang akan kutunjukkan gedung olahraga. Gedungnya ada di sana. Kamu lihat bangunan itu 'kan? Itu gedungnya," jelas Ino sambil menunjukkanku bangunan bercat orange yang bisa kami lihat dari posisi kami sekarang.

Kami pun berjalan beriringan ke sana.

"Tsukurimashou, tsukurimashou,
Sate sate nani ga dekiru ka na.
Hai, dekimashita~!"

Dan tiba-tiba ringtone konyol itu terdengar jelas. Yang kutahu, itu berasal dari ponsel Ino yang ia letakkan di kantong seragamnya. Ia gelagapan mengambil ponselnya yang berwarna biru cerah tersebut.

Kami pun melihat-lihat gedung olahraga tersebut. Dari pintu masuk, kami langsung melihat lapangan untuk sepak bola. Pintu selanjutnya, kami menemukan lapangan untuk basket. Pintu ketiga, kami melihat lapangan untuk tenis.

'Gedung ini tentu sangat besar.' Pikirku sambil terus melihat-lihat dengan terkagum-kagum.

"Sebentar ya, Sakura-chan." Ujar Ino. Aku mengangguk kecil. Ia melangkahkan kakinya agak menjauh.

Tak lama ia kembali mendekat. Wajahnya terlihat sedikit aneh.

"Ehehe, Sakura-chan. G-gomen ne. Aku ada rapat OSIS tiba-tiba. Lee baru saja memberitahuku. Rapatnya sudah dimulai. Maaf aku tidak bisa mengantarmu ke kelas," ujar gadis barbie face tersebut dengan raut wajah menyesal.

"A-ah, tidak apa-apa. Ya sudah. Kamu ikut rapat sana," suruhku. Aku merasa keringat dingin mengalir dari dahiku. Oh tidak. Aku 'kan buta arah—bagaimana ini?

Dengan secepat kilat (tenang ini hanya majasku saja), Ino sudah melesat pergi sambil berteriak meminta maaf.

Aku pun pasrah saja. Tidak, aku tidak menyalahkan Ino. Tak apa. Aku akan menunggu siapa saja yang datang ke sini dan memintanya untuk mengantarku ke kelas. Mudah 'kan? Baik. Ini baru lima menit.

Tujuh menit.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Tiga puluh menit.

Oke, ini lama! Aku segera beranjak dari tempatku dan hendak keluar gedung. Tetapi, sialnya aku tersesat ke ruangan lain.

"Ayolah, aku ingin ke kelas. Pasti pelajaran sudah dimulai sejak tadi," gumamku sambil berusaha mencari pintu keluar.

"Loh, kamu Sakura 'kan?"

Aku menoleh ke asal suara yang menurutku tidak asing itu. Dan situlah aku melihat sosok pirang jabrik dengan mata birunya yang cerah itu.

"Eh, Naruto?"

"Jadi benar kamu Sakura! Ahaha, apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya pemuda berambut pirang tersebut. Ia berjalan mendekat. Ah, sungguh deja vu. Pemuda itu mengapit bola sepak lagi—seperti kemarin saat kami berkenalan.

"A-aku hanya jalan-jalan," jawabku berbohong. Ah, sebenarnya tidak sepenuhnya berbohong. Memang benar 'kan aku tadi ke sini bersama Ino untuk jalan-jalan? Iya, tadi sebelum Ino kabur untuk ikut rapat OSIS. Tidak, aku tidak menyalahkannya kok. Itu 'kan sudah jadi tugas Ino yang merupakan anggota OSIS untuk ikut kegiatan-kegiatan OSIS.

"Hontou ni? Kalau begitu aku keluar d—"

"Ah ayolah! Aku bercanda! Aku buta arah dan tidak tahu jalan kembali ke kelasku!" Seruku sambil berbalik, menutupi wajahku yang mulai memerah menahan malu.

"Eh? Kamu buta arah?" Tanya Naruto. Aku pun menggembungkan pipi kananku.

"Pffft. Ahahaha. A-aduh, perutku sakit. Hehe, ya sudah. Kalau begitu aku antar ke kelasmu," ujar pemuda itu sambil menepuk bahuku. Aku menoleh dan mendapati Naruto tersenyum kecil.

'Akhirnya, terima kasih Naruto!' Jeritku dalam hati.

Aku pun berjalan mengikuti pemuda itu di belakangnya. Saat melewati lorong sekolah, kulihat ada beberapa siswi yang masih di luar kelas melirik ke arahku dan terlihat memicingkan matanya, lalu saling berbisik. Aku berusaha untuk tidak memikirkan mereka. Tapi, kenapa sih?

Piip! Piip!

Tiba-tiba, terdengar suara yang tidak terlalu keras. Kulihat pemuda berambut jabrik pirang itu merogoh ponselnya. Sekilas, aku melihat ia menarik ujung bibirnya saat melihat layar ponsel tersebut.

"Ah, gomen Sakura. Sebentar ya," ujarnya. Aku mengangguk mengerti. Naruto melangkahkan kakinya agak menjauh dan segera mengangkat telepon tersebut. Saat itu, aku salah lihat atau bukan, aku melihat semburat merah muda muncul di pipi pemuda tersebut. Perasaan ini, perasaan yang sama seperti waktu itu. Apa mungkin—?


To Be Continued


Author : Bisa update! Terima kasih atas review kalian. Maaf ending di chapter ini agak nggantung gitu. Gomen ne!

Saa, mind to review again? Need more critics. ^_^ Please, don't forget to tell me where the fault lies. Then, I'll soon fix it.


Area Bacotan Ceria /izin copas/


owned dot by dot indohackz Ah, itu masih rahasia perusahaan. Maka dari itu, ikuti terus fic saya ini. Terima kasih atas review-nya! (:

tohko omiya Tanpa disuruh akan saya lanjutkan. Maka dari itu, saya butuh kritik dan saran. Dan ikuti terus fic saya ya? Terima kasih atas review-nya! (:

Princess NaruSaku Tentu. Ikuti terus ya. Terima kasih atas review-nya! (:

mako-chan Masih rahasia perusahaan. Kalau penasaran, ikuti terus. Hehe. Terima kasih atas review-nya! (: