Previous Chapter :

"Hwan-ie chagi~ boleh aku masuk?" kataku sambil mengetuk pintu kamarnya.

Tak ada jawaban dari Jaehwan, akhirnya aku buka pintu kamarnya. Tidak terkunci. Terlihat Jaehwan terduduk di pojok sofa dengan memeluk kakinya yang ditekuk dan menaruh kepalanya dilututnya.

"Baby, jeongmal mianhae. Tadi aku tidak bermaksud mengacuhkanmu."

"Apakah kau teringat Hyuk lagi?" Tanyanya dengan terisak.

"Mianhae baby~" kataku sambil mengelus kepalanya.

"Kenapa?! Bukankah aku sudah memintamu untuk melupakannya, eoh?! KENAPA?!" bentaknya dengan memukul dadaku. Aku hanya bisa memeluknya erat agar dia tenang. Lama kelamaan pukulannya melemah dan berhenti.

"Mianhae Hwan-ie chagi. Mianhae~"

"Kau harus benar-benar melupakannya, arra?"

"Ne, jeongmal mianhae. Sekarang kau tidur ya~" kataku sambil menuntunnya ke tempat tidurnya.

"Jaljayo Hwan-ie chagi~" tambahku sambil mencium dahinya dengan sayang. Setelah itu, aku keluar dari kamarnya. Aku berjalan terkulai ke kamarku memikirkan kata-kata Jaehwan tadi. Apakah aku bisa melupakan Hyuk? Tuhan tolong aku menghadapi ini.

Ravi POV end


Normal POV

Esok paginya, matahari bersinar cerah dan sinarnya menerobos masuk ke jendela Ravi. Merasa terusik dengan sinarnya, Ravi pun terbangun dari sleeping beauty-nya.

Dengan otomatis dia berjalan ke kamar Jaehwan. Mengetuk pintunya. Merasa tidak ada jawaban, Ravi membuka kamar Jaehwan. Dia melihat kamar Jaehwan rapi dan kosong, tidak ada orang. Tidak terdengar suara air dari kamar mandi. Sunyi. Terlihat ada sepucuk surat terletak di atas tempat tidur Jaehwan. Ravi mengambilnya kemudian membacanya. Ravi shock saat tahu kalau Jaehwan meninggalkannya pergi. Saat itu juga Ravi mengobrak-abrik benda-benda yang ada di kamar Jaehwan. Stress. Ya, Ravi stress karena ditinggal Jaehwan dengan alasan yang aneh (jangan tanya author alasannya). Setelah itu, dia pergi ke cafe yang kemarin dia kunjungi untuk kencan terakhirnya dengan Jaehwan. (Ingat, Ravi dan Jaehwan sudah berpacaran saat Ravi kuliah di Belanda)

Di cafe...

Ravi terlihat murung di salah satu sudut cafe. Waiter Hyuk melihatnya dan mendekati Ravi,

"Permisi tuan, mau pesan apa?"

"..."

"Tuan."

"... tidak." jawab Ravi dengan dingin.

"Ah~ geurae. Jika tuan ingin memesan, silahkan panggil kami."

Lalu Ravi mendongakkan kepalanya dan melihat nametag Hyuk.

"Han Sang-Hyuk." ucap Ravi lirih tapi masih terdengar oleh Hyuk.

"Ya tuan?"

"Tidak ada apa-apa."

"Baiklah, permisi tuan."

Normal POV end

Ravi POV

Han Sang-Hyuk. Namanya seperti nama Hyuk dulu. Atau jangan-jangan dia memang pacarku dulu? Ah tidak mungkin. Dia tak mungkin kerja disini. Dia kan punya restoran besar di Seoul. Ayolah Ravi, hilangkan pikiranmu dari Hyuk. Sekarang kau baru saja mendapat masalah baru denagn Ken. Huft.

Ravi POV end

Hyuk POV

Yak Hyung! kenapa kau memasang wajah seperti itu. Aku sedih melihatnya kau tahu. Apakah kau tak sadar kalau tadi aku mengajakmu berbicara? Kau membuatku sakit hati lagi Hyung. Selamat.

Tapi aku masih penasaran dengan wajahmu seperti itu. Biasanya kau selalu tersenyum bahagia, tapi sekarang... Kenapa Hyung? Apakah kau baru putus dari Jaehwan Hyung?

Tapi kalian kemarin terlihat seperti pasangan yang cocok dengan perkelahian kecil tentunya.

Kalau kalian putus aku senang, kau tahu. Berarti masih ada kesempatan dan harapan untukku kembali bersamamu.

Hyuk POV end

1 tahun kemudian...

Ravi POV

Sudah satu tahun aku ditinggal Jaehwan. Hidupku hampa tanpamu. Aku kacau. Lihatlah diriku! Baju kumal, lingkaran hitam di mata, pipi tirus, bekas air mata mengering. Keaadaanku benar-benar kacau. Damn it! Kemana perginya kau Jaehwan?! Argh! Kenapa kau meninggalkanku sendiri disini. Apa salahku? Apakah gara-gara aku sering melamun itu? Sungguh alasan yang tidak masuk akal. Begitukah sikapmu? Hm, anak kecil sekali. Kau berbeda dengan Hyuk, kau tahu. (saran author : balikan sana sama Hyuk, Oppa! #nyuruh seenaknya)

Hyuk lagi. Apakah Hyuk masih menerimaku? Ah tak taulah. Aku malas memikirkan kalian berdua, walaupun Hyuk lebih dewasa sedikit dibandingkan dengan kau Jaehwan.

Ravi POV end

Author POV

Terlihat sesosok namja dengan keadaan yang bisa dibilang cukup memprihatinkan. Langkah yang berat dan terseok-seok, dia berjalan menuju ke sebuah kedai soju. Kasihan dia.

(Upin-Ipin : kasian, kasian, kasian. –ini ngapain upin-ipin kesini yak? #ketahuanseringliatupin-ipin | Author : Kembali ke laptop, eh benang merah)

Dan lihat di mejanya, banyak botol soju yang sudah dia minum. Sudah hampir seharian dia minum soju di kedai itu hanya karena masalah kecil. Lalu seorang namja imut datang untuk mengambil pesanan minuman soju ke kedai tersebut. Dan namja imut itu, Hyuk, tidak sengaja melihat sesosok namja yang dia kenal sedang mabuk.

Hm, mirip Ravi Hyung. Benarkah itu dia?Batin Hyuk.

"Ahjumma, kau kenal namja yang duduk di sebelah sana?" Hyuk bertanya kepada ahjumma penjaga kedai soju tersebut.

"Aniyo Hyuk, Wae?"

"A-a-ani ahjumma dia terlihat seperti temanku."

"Dia sudah sering kesini dan yang dia pesan hanya soju, tak pernah yang lain."

"Ah benarkah itu ahjumma? Sejak kapan?"

"Entahlah, sekitar dari 1 tahun yang lalu setiap malam hari."

Hyuk hanya mengangguk lalu mengucapkan terima kasih ke ahjumma tersebut dan secara kebetulan mata namja mabuk itu bertatapan dengan Hyuk.

Author POV end

Hyuk POV

1 tahun lalu? Apakah setelah Ravi Hyung terakhir kalinya datang ke cafeku? Benarkah itu dia? Oh tidak, dia melihat ke arahku. Gotcha! Beneran Ravi Hyung. Ada masalah apa sih sebenaranya sampai Ravi Hyung begini? Apakah kalian benar-benar putus?

Hyuk POV end

Author POV

Hyuk entah mengapa secara otomatis berjalan ke meja Ravi. Hyuk mengambil kursi lalu duduk di sebelah Ravi. Hyuk merasa kasihan melihat mantan pacarnya seperti ini.

"Ravi Hyung~"

"Hyuk-ie~ Kenapa kau ada disini?" jawab Ravi dalam keadaan mabuk.

"Hyung, ada masalah dengan Jaehwan Eonni kah?"

"Menyedihkan bukan. Hahahaha~!" ujar Ravi sambil tertawa miris.

"Hyung~"

"Wae?! Kau mau membuatku sakit lagi, eoh?! Aku sudah tidak pantas di dunia ini kau tahu! Hahahaha! Hiks...hiks...hiks..."

"Hyung, geumanhae~"

Tiba-tiba Ravi pingsan di bahu Hyuk. Hyuk yang reflek segera memeluk Ravi, menggoyangkan tubuhnya agar tersadar.

"Hyung, bangunlah hyung~" Sepertinya tidak ada respon dari Ravi, jadi Hyuk memapahnya keluar kedai dan pamit kepada ahjumma pemilik kedai.

Hyuk memapahnya ke apartemennya. Keringat bercucuran dari tubuh Hyuk karena dia memapah Ravi sendirian dan dia juga membawa pesanan soju yang akan ditaruh di cafe tempat dia bekerja lusa. Lalu Hyuk merebahkan Ravi di tempat tidurnya, melepas sepatu Ravi dan menyelimutinya. Saat Hyuk mau meninggalkan kamar, Ravi tiba-tiba memegang tangannya.

"Hyuk, jangan pergi~ temani aku." ujar Ravi dengan tidak sadarkan diri.

Hyuk hanya menuruti permintaan Ravi dan tidur dengan terduduk di samping tempat tidur.

Esok paginya...

Ravi terbangun dari tidurnya. Pusing yang ia rasakan saat ini karena mabuk kemarin.

"Argh! Hm, dimana ini? Eh~" ujar Ravi saat tersadar dia sedang memegang tangan Hyuk yang tertidur di samping tempat tidur. Ravi segera menarik tangannya dari Hyuk.

Hyuk yang merasakan gerakan dari Ravi, terbangun.

"A-a-a Hyung, selamat pagi." ujar Hyuk tergagap dan segera pergi dari situ menuju ke dapur.

"Kenapa aku bisa ada disini ya? Bukankah aku kemarin ada di kedai soju itu?" batin Ravi. Lalu terdengar bunyi seseorang memasak di dapur. Wanginya sampai ke hidung Ravi.

"Hhmm, baunya enak." kaki Ravi otomatis pergi ngeluyur ke arah dapur.

Di dapur...

"Hhmm, baunya enak sekali. Aku tak tahu kau bisa memasak" ujar Ravi dengan menjaga jarak dari Hyuk.

"Aku bisa memasak Hyung. Sekarang Hyung duduk dulu, sebentar lagi matang." ujar Hyuk. "Memang apa yang kamu tahu tentangku dari dulu?" batin Hyuk miris.

"Baiklah kutunggu."

"Ini Hyung makanannya." ujar Hyuk sambil memberikan masakannya kepada Ravi yang menunggu di ruang makan.

"Hhmm, ini enak sekali. Sejak kapan kau bisa memasak?"

"Sudah dari dulu Hyung, hanya saja kau tidak tahu. Omong-omong, kenapa kau selalu ada di kedai soju itu Hyung? Apa ada masalah dengan Jaehwan Eonni kah?" tanya Hyuk takut.

"Dia meninggalkanku. Dia sudah tidak peduli denganku lagi. Asal kau tahu, aku selalu salah di mata dia. Jangan bahas dia lagi oke? Aku tak mau kehilangan selera makanku." ujar Ravi dingin yang sebenarnya dalam hati dia teriris.

"Mm, baiklah Hyung." ujar Hyuk menurut.

Tik...tok...tik...tok... beberapa saat hanya terdengar suara jam dinding. Mereka berdua terdiam menciptakan perasaan canggung. Hyuk yang tidak tahan dengan keadaan itu langsung berbicara,

"Hyung, aku ke tempat Leo Hyung dulu ya ada urusan sebentar."

"Ani, kau tak boleh pergi. Aku tak mau ditinggal lagi." ujar Ravi dengan sedikit memaksa.

"Tapi Hyung-"

"Jebal... aku tak mau sendiri lagi." ujar Ravi kali ini dengan nada memohon.

Hyuk hanya bisa menurut ke Ravi.

Di cafe tempat kerja Hyuk...

"Aish! Ini anak! Kemana pula dia?" ujar Leo menggerutu.

Ting! bunyi SMS masuk ke handphone Leo.

Hyung, maaf tidak bisa bertemu tiba-tiba ada urusan mendadak. Mianhae~

"Aish jinjja! Kalau ga bisa ga usah bikin janji. Merepotkan saja!" ujar Leo masih dalam keadaan menggerutu sambil menyesap coffee latte kesukaannya.

.

.

.

Berbulan-bulan, Ravi tinggal bersama Hyuk. Hyuk merasa gerah karena dia tidak bisa pergi dengan leluasa. Pernah sesekali dia pergi jalan-jalan setelah selesai dari kerjanya, tapi nasib selalu buruk. Disela-sela perjalanan-menyusuri-mall, Hyuk selalu bertemu dengan Ravi yang setelah itu menyeretnya pulang tanpa berbicara apapun. Hyuk selalu marah kepada Ravi karena sikapnya yang terlalu mengekangnya seperti hewan di sebuah kandang yang besar. Setiap kali Hyuk marah, Ravi hanya membalas dengan tatapan dinginnya. Hyuk sebenarnya tidak benar-benar marah hanya kesal saja pada sikap mantannya ini. Please, dia hanya menumpang di apartemennya dan seenaknya melarang si pemilik pergi walaupun cuma cari udara diluar saja. Nyebelin? Memang menyebalkan. Tapi ya mau gimana lagi, cuma ini kesempatan satu-satunya Hyuk untuk kembali ke pelukan sang mantan terkasihnya, Ravi. (#semangatHyuk)

.

.

.

.

.

25 Desember, hari natal...

Akhirnya hari natal tiba. Hari ini entah Ravi kesambet(?) apa, dia mengajak Hyuk jalan-jalan. Tumben sekali. Ini pertama kalinya Ravi mengajak Hyuk jalan-jalan ke sebuah taman. Taman tersebut berada di dekat apartemen Hyuk. Taman itu juga menyuguhkan pemandangan romantis. Salju putih menumpuk tebal, bintang-bintang mucul di langit malam yang cerah, bulan purnama dan lampu yang sedikit temaram. Benar-benar romantis dan Hyuk menyukai suasana seperti itu. Dan kalian tahu, dari awal mereka keluar apartemen, Ravi selalu menggenggam tangan Hyuk erat seperti takut kehilangan sang pacar di tengah jalanan yang ramai (padahal jalan tuh sepi banget). Setelah berjalan cukup lama, mereka duduk di suatu bangku kosong di dekat air mancur kecil di taman itu. Gemericik air menambah suasana romantis itu.

"Hyung, Air mancurnya bagus~"

"Kau masih saja suka hal-hal beginian." batin Ravi. Ravi membalas perkataan Hyuk dengan senyum tulus.

"Hyuk-ie~"

"Ne Hyung.. ada apa?"

"Aku mau mengatakan sesuatu ke kamu..." ujar Ravi dengan nada yang menggantung.

"...kenapa Hyung?"

Ravi gelisah, kata-kata yang ingin diucapkannya berasa terhenti di lidahnya.

"Hyung~Waeyo?" ujar Hyuk sambil menenangkan Ravi dengan mengelus tangannya Ravi yang sedang menggenggamnya.

Hyung, kau bukan pergi lagi dari hidupku kan? Batin Hyuk. Hyuk merasa takut jika dia ditinggal lagi untuk kedua kalinya.

"N-n-nan..." ujar Ravi gugup.

"Tenanglah Hyung~"

"Nan joaheyo Hyuk-ie"

Blush... pipi Hyuk memerah karena Ravi menyatakan cintanya kembali. Ya, inilah yang ditunggu-tunggu oleh Hyuk sejak Ravi tinggal di apartemennya.

"Hyuk-ie, maukah kau jadi pacarku?"

... Hyuk hanya terdiam karena masih mengatasi pipinya yang merah seperti kepiting rebus.

"Hyuk-ie~~ Baby~~" kata Ravi sambil memegang pipi Hyuk.

Hyuk agak terlonjak kaget. "y-y-ya Hyung? Tadi Hyung bicara apa?"

"Maukah kau jadi pacarku?" kata Ravi sembari tersenyum.

"N-n-n-ne Hyung.."

TBC


Author's note : maap lama updatenya~~ hehehe

Secepatnya akan kuselesaikan ff ini~~

Review juseyo~~ Don't be a silent reader please~~